jump to navigation

Pengalaman pertama naik kereta tercepat di dunia (Katrok version) September 24, 2013

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 10comments

dsc00479

Saya mulai dari pengalaman naik pesawat jarak jauh yang rasanya ternyata tidak terlalu luar biasa (katroknya) mungkin karena sudah sering naik pesawat murah-meriah di Indonesia. Yang terkenang adalah Airport tax 150 ribu. Beberapa tahun yang lalu sewaktu pertama datang ke Perancis pakai pesawat Etihad. Etihad agak ketat dengan beban bagasi jadi harus memperhatikan berapa maksimum berat bawaan. Transit di Abu Dhabi tengah malam. Pada saat transit ada pemeriksaan X-ray lagi. Setelah melewati counter X-ray harus lihat tiket untuk memastikan di lobby mana atau di pintu /gate nomor berapa yang tujuan ke Paris. Gate-nya agak jauh jadi terpaksa harus jalan agak cepat. (lumayan olahraga dini hari). Di bandara, sepanjang perjalanan menuju lobby ada banyak yang dilewati, hiasan interior mentereng, patung onta dll. Sekitar 4 jam menunggu di lobby, lumayan ada internet gratis, toilet ada di lantai bawah.

Akhirnya pesawat yang ditunggu-tunggu muncul di papan boarding. Tiket dan passport kembali dicek petugas sebelum masuk pintu garbarata pesawat. Transit selesai, saatnya menikmati perjalanan 6 jam sebelum tiba di Paris.

Tiba di Paris terminal kedatangannya adalah terminal 2A. Di Paris CDG (Paris-Charles-de-Gaulle) ada tiga terminal, terminal 2 yang paling banyak cabangnya yakni 2A sampai 2F. Di bandara tersebut ada kereta navet otomatis bernama CDGval yang berjalan tanpa awak menghubungkan tiap terminal dengan cuma-cuma.

Ketika pintu pesawat terbuka penumpang bersegera keluar dari pesawat, sebelum sampai di Counter cap imigrasi saat ini biasanya langsung ada pemeriksaan Polisi. Pemeriksaan petugas dari counter cap imigrasi sudah di depan. Saya ingat waktu itu paspor saya tidak dicap kedatangan karena petugasnya berhenti bertugas pas giliran saya mau cap, alias jam kerjanya sdh habis jadi pintu imigrasi lewat begitu saja (hmm, negara yang aneh).

Lanjut saja segera jalan lagi ambil bagasi tas koper. Kemudian lanjut jalan kaki menuju pemberhentian bus, maklum saat itu tidak pesan TGV yang langsung berangkat dari bandara. Intinya pada saat selesai mengambil bagasi, ikuti tanda2 petunjuk bergambar bus yang ada di dinding. Bus le cars airfrance atau kita sebut saja bus line 4 datang setiap sejam sekali. Saya ikuti tanda-tanda petunjuk yang ada di dinding, sempat bingung alias ingin lebih yakin tanpa ragu bertanya ke petugas dimana posisi pemberhentian bus line 4. Tidak pede pakai bhs perancis bertanya saja pakai bhs Inggris biar tidak nyasar. Maklum ada banyak line dan tiap line sudah ada posisi mangkalnya masing-masing.

Harga tiket bus 17 Euro. Keluarlah uang cash pertama, bayar ke sopir, sekalian minta tolong ke sopirnya agar diturunkan di Gare de Lyon. Ini penting karena bus akan berhenti beberapa kali, gare de Lyon adalah salah satu pemberhentian karena tujuan akhir bus adalah gare Montparnasse. Bagi org baru mungkin bisa membingungkan karena semua pemberhentian akan terlihat sama. Tapi biasanya nanti ada banyak org di bus yang turunnya juga di Gare de Lyon. Ketika busnya  datang tidak lupa tanya dulu ke sopir tentang tujuan ke Gare de Lyon supaya pasti. Meskipun sudah jelas-jelas tertulis di bus pede saja sambil masukkan tas koper ke bagasi. Ketika sampai di gare de Lyon saya turun dari bus dengan segera tetapi rupanya ada orang yg bantu mengeluarkan tas koper dari bagasi, itu adalah petugas bus (boleh dikasih tip boleh tidak). Setelah koper diambil siap lagi menyeretnya jalan kaki menuju stasiun (gare) de Lyon tempat mangkalnya kereta cepat.

Train à Grande Vitesse (disingkat TGV) adalah kereta cepat Perancis yang operasinya meliputi wilayah Eropa. Dikembangkan oleh Alstom dan SNCF, dan dioperasikan oleh SNCF, Perusahaan rel Nasional Perancis. Kereta TGV bisa diperpanjang dengan rangkaian dua TGV yang lain secara bersama-sama, dengan menggunakan coupler (perangkai) tersembunyi yang berada di hidung kereta TGV tersebut. Panjang satu rangkaian bisa mencapai lebih dari 200 m dengan kapasitas angkut antara 400 hingga 700 penumpang.

Gare de Lyon adalah salah satu stasiun KA paling sibuk di Eropa. Masuk ke dalam gedung utama langsung menuju papan pengumuman besar (blackboard) berisi jadwal TGV. Tujuannya adalah untuk melihat nomor Quai (platform/jalur) TGV sesuai tiket. Cocokkan info yg ada di tiket seperti nomor kereta, jam kereta, Quai (platform TGV nya) Jika jadwal kita tidak ada tertera di blackboard utama (hall 1) maka kemungkinan harus jalan lagi (sekitar 200m) menuju bagian lain yakni hall 2/hall 3. Bisa tanyakan ke petugas yang biasanya banyak mondar-mandir disitu agar lebih pasti. Lihat layar monitor ataupun blackboard di Hall. Cocokkan info yang tertera di tiket seperti nomor kereta, jam kereta, Quai (platform / jalur TGV nya. Tujuan (depart) TGVnya Dijon, tapi tdk ada masalah kalau tujuannya tertulis bukan Dijon yg penting jam dan nomor keretanya sudah betul. Nomor/posisi Quai biasanya muncul 15-20 menit sebelum jam berangkat.

Pada saat menunggu kereta, tiket biasanya di composte (di cap) sendiri di mesin kecil berwarna kuning (ikut saja orang yang composte depan mesin itu dan nikmati bunyi kriuk-kriuk-nya, voila cest composte). Bisa di composte pakai cap manual oleh petugas yang ada di pinggir kereta jika kepepet tidak sempat ke mesin composte. Tapi untuk tiket print international biasanya tidak butuh di-composte. Ketika nomor quai muncul, tarik koper segera menuju ke platform tsb dengan sigap. Kebetulan keretanya belum parkir disitu jadi bisa jalan saja menyusuri platform mencari papan petunjuk posisi gerbong kareta. Papan tersebut menginformasikan posisi gerbong terhadap platform.

Kereta pelan2 masuk, semua mata mengawasi nomor gerbong yang terletak di setiap pintu kereta. Masuk gerbong TGV pertama-tama cari dulu tempat bagasi untuk meletakkan koper (ada tempat khusus untuk koper di dekat pintu masuk), setelah itu baru cari tempat duduk. Tempat duduk sudah tertulis di tiket `place assisse`, biasanya ada yg di lantai atas `haut` ada juga lantai bawah `bas`. Di TGV ada toilet pada tiap sambungan gerbong (2 lantai). Penumpang bisa menelepon pakai HP tapi diluar kompartemen maklum dilarang berisik di dalam. Mau nekad ngobrol dgn teman duduk disamping `Hello atau Bonjour he3..(tapi tidak pede pakai bhs perancis ).

Badan capek dan pegel tapi tidak boleh ketiduran. Maklum keretanya sangat cepat sehingga cocok untuk tidur. Kereta yang jenis ini antara 200-300 km/jam. Untuk tujuan keluar negeri bisa lebih cepat lagi tergantung tujuannya. TGV POS bisa mencapai 400 km/jam. Bahkan untuk keperluan pencatatan rekor pada 2007 kereta bisa dipacu mencapai 574,8 km/jam. Saat ini TGV masih merajai kereta cepat versi steel-wheels-on-steel-rail. Saingannya adalah kereta shinkansen di Jepang, namun kereta ini sudah menggunakan maglev technology alias magnet karena merasa bahwa tipe rail dengan conventional wheel telah mencapai batas limitnya. Pesaing kuat lainnya adalah kereta cepat Korea yang notabene adalah asuhan dari TGV sendiri.

Diatas kereta ada controller, petugas pemeriksa tiket, tapi kadang juga tiket tidak diperiksa. Satu gerbong disiapkan untuk bar, penumpang bisa beli makanan dan minuman atau makan disitu. Nanti keretanya berhenti di Dijon transit tidak lama, hanya beberapa menit kereta akan jalan lagi menuju tempat lainnya. Jadi harus siap-siap di depan pintu dengan koper pas sudah mendekati tujuan. Sampai di Dijon sdh bisa santai, jalan menuju lobby Gare, keluar gedung untuk sambung naik bus kota.

see more article : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

dari masjid ke masjid di Paris December 30, 2012

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments
dsc00430
Kisah seputar pengalaman di awal kedatangan dirantau (bagian pertama) ini menguraikan sebuah ide  berlibur yang menjadi kisah panjang. Petualangan yang bergulir diluar dugaan dan menjadi pengalaman baru yang akan selalu membekas. Guratan memori ini berawal dari keinginan mengunjungi Paris disela-sela libur `vacance` musim dingin di akhir tahun. Gagasan untuk keliling Paris sambil ibadah adalah prakarsa seorang kenalan di Asrama kampus, orang Maroko mahasiswa Ecole Nationale Supérieure d’arts et Métiers (ENSAM) tahun terakhir. Awal perkenalan saya dengan orang ini cukup unik. Saat itu saya baru sehari masuk asrama Ensam ParisTech di Cluny. Ensam adalah kampus teknik cukup tua dulunya merupakan cikal-bakal Univ. Sorbone, tersebar dibeberapa kota besar di Perancis dan dikenal oleh orang perancis sebagai sekolah para insinyur dan inventor. Posisi sekolah kami di Cluny berada di region Bourgogne, provinsi yang terkenal dengan kebun anggur terbaik ditengah-tengah wilayah Perancis.
Untuk sementara saya harus tinggal di asrama karena menunggu pembenahan kamar apartemen yang dijanjikan belum rampung. Musim gugur di penghujung oktober cukup memberi suasana asing ditengah kota tua peninggalan jaman medieval. Bangunan asrama yang cukup modern terkesan angker karena menjadi bagian dari situs bangunan tua Cluny Abbaye yang berumur 1000 tahun.
Ditengah atmosfir kejayaan kathedral tentu saja masjid sangat jarang ataupun jauh di kota lain. Di asrama saya menempati sebuah kamar di lantai 3, ruangannya cukup luas biasanya ditempati sekaligus oleh 4 mahasiswa, kamar A101. Sore itu sehabis pulang dari kampus saya bersiap untuk istirahat, tiba-tiba terdengar di luar kamar ada suara orang yang sedang mengaji. Kaget dan agak percaya tidak percaya saya lalu mencoba meyakinkan telinga saya dengan mendekat ke pintu kamar dimana suara itu berasal. Setelah yakin bahwa dikamar sebelah itu benar ada orang mengaji. Ditengah nuansa situs bangunan kathedral raksasa peninggalan abad 11 ada orang mengaji. Dengan penasaran saya memberanikan diri untuk menghampiri. Kamar itu tidak bersebelahan dinding langsung akan tetapi berada di depan kamar, diantarai oleh km/wc dan wastafel bersama, kamar A103. Saya mengetuk pintu sambil mengucap salam.
Pintu terbuka dan tampak seseorang berkulit putih berseri-seri tinggi besar memakai pakaian gamis memegang Quran. Refleks saya langsung menjelaskan siapa saya dan mengapa saya harus berkenalan dengan orang itu. Tanpa canggung lagi ia langsung menyambut, menjabat tangan dan menawarkan untuk shalat lima waktu berjamaah setiap hari. Saya belum bercerita banyak tentang diri saya tapi ia dengan sangat yakin menunjukkan keramah-tamahan seorang sahabat muslim.
Namanya Yassinne El Yousoufi. Saat bertemu pertama itu dia sedang melakukan kebiasaanya mengaji sambil menunggu shalat dengan baju gamis khas Maroko. Orangnya ramah, pemberani, tegas, agamis dan cerdas, kadang agak keras mungkin karena umurnya yang masih muda. Ia menguasai 3 bahasa: Arab, Perancis dan Inggris dengan baik dan senang matematika-fisika. Perkenalan diri berlangsung singkat karena sudah masuk shalat Isya. Ia mengajak untuk selalu shalat berjamaah apakah di kamarnya atau di kamar saya. Sejak saat itu kami selalu berusaha bersama-sama untuk melakukan ibadah dan menjadi saudara senasib dirantau orang. Kisah persaudaraan dan perjuangan dengan Yassinne yang unik bahkan berlanjut dibeberapa kota hingga akhirnya ia menikah saat ini dan InsyaAllah akan dibuat tersendiri terpisah dari tulisan ini.
Kami berangkat bertiga bersama adik Yassinne bernama Zakaria yang pada saat itu sedang berlibur juga dari kampusnya. Zakaria adalah mahasiswa di Republic Czech, bebas datang ke Perancis karena masih dalam wilayah uni-eropa. Ia memiliki karakter yang sama dengan kakaknya, cerdas, menguasai banyak bahasa, hanya saja orangnya lebih luwes seperti seniman dan senang bergurau.
Salju turun sangat tebal di penghujung Desember 2010. Suhu sekitar sembilan derajat dibawah nol. Kami bertiga berangkat dari Cluny ke Paris dengan menggunakan mobil covoiturage. Covoiturage adalah sistem menumpang mobil orang yang hendak bepergian pada tujuan yang sama dengan memberi ongkos yang sangat murah sekedar pengganti bensin. Sistem ini terkelola secara baik lewat internet dan sangat efektif bagi orang yang ingin bepergian dengan ongkos lebih murah dibanding jika naik TGV dan terutama jika ada keperluan sangat mendadak. Sistemnya adalah dengan mencari teman seperjalanan lewat daftar di internet kemudian mengadakan rendezvous dengan calon sopirnya.
Salju turun meradang namun mobil Renoult kami tetap melaju kencang diatas 120km/jam dalam kegelapan malam. Kami cukup beruntung karena pemilik mobil ini adalah muslim juga, seorang insinyur muda keturunan Aljazair, sehingga diperjalanan diwarnai dengan perbincangan dalam bahasa Arab dan Perancis. Saya masih baru jadi kurang memahami 100% tapi saya menangkap perbincangan itu sangat akrab dan sang sopir muda sangat menghargai niat/ide liburan kami. Ide yang belum terbayang sama sekali di kepala saya akan seperti apa nantinya.
Tidak terasa sudah pukul 21.30, akhirnya sampai juga di Paris dan memutuskan turun di stasiun subway terdekat untuk melanjutkan perjalanan naik metro (kereta bawah tanah Paris) menuju masjid pertama. Dalam metro terlihat wajah-wajah kelelahan, terlebih kami sendiri tapi karena baru pertama dan haus akan pengalaman saya kuatkan hati sehingga tetap antusias. Yassinne berkata ini akan menjadi pengalaman hidup tersendiri. Dia dan adiknya memang sudah berpengalaman dengan perjalanan dari masjid ke masjid ini. Ketika perjalanan dalam Metro menuju St. Denis ia berpesan agar kita meluruskan dahulu niat sebelum sampai di masjid. Setelah 30 menit kami lalu turun dari metro dan harus melanjutkan perjalanan ke Masjid. Malam semakin larut dan salju pun semakin tebal. Bawaan beberapa koper berisi selimut dan bantal sangat ingin segera dibuka buat menghangatkan badan. Masjid sebenarnya masih jauh, hujan salju dan dingin sangat menguras stamina kami. Alhamdulillah ada seseorang jamaah berbaju gamis kami temui di jalan yang bersedia mengantarkan hingga dekat ke masjid tujuan.
Sepeninggal orang itu kami berbelok dan lanjutkan berjalan diatas ketebalan salju 10 cm. Disebuah jalan kecil kami berhenti. Disebuah sisi jalan yang remang dan sunyi kami terpaku pada sebuah pintu sebuah bangunan yang tidak ada tanda apapun disitu. Yassinne yakin bahwa pintu kecil yang disisi sampingnya ada rolling door ala ruko itu adalah Masjid Al-Rahma di Rue Porte de Paris seperti yang pernah ia masuki dulu. Kami sempat ragu apakah ini tempatnya karena jalannya begitu sepi sehingga perlu berdiskusi sejenak untuk memutuskan. Yassinne lalu mengetuk pintu itu, nothing to lose.
Pintu terbuka, seseorang berpakaian gamis memegang tongkat muncul dan Yassinne pun dengan sigap melontarkan pertanyaan dalam bahasa Arab. Orang itu yang tidak lain adalah penjaga pintu bertongkat. Ia menjawab bahwa benar tempat itu adalah masjid yang kami tuju. Alhamdulillah. Kami lalu mengucapkan salam dan menjelaskan asal serta maksud kedatangan. Spontan mendengar semua itu sang penjaga dengan ramah mempersilahkan untuk masuk dan beristirahat. Rupanya kami masuk lewat pintu belakang masjid. Sang penjaga lalu kembali berjaga di belakang pintu tadi menunggu kalau-kalau ada orang yang mengetuk pintu.
Kami naik keatas lantai 3 untuk mencari tempat istirahat. Disitu rupanya sudah banyak juga orang yang tidur. Mereka orang-orang yang punya tujuan yang sama dengan kami. Dalam keremangan yang dingin setelah melihat situasi kami segera menggelar ponco dan selimut yang kami bawa ditempat yang masih kosong. Harus bersegera menggelar alas tidur dengan sigap tapi tidak boleh berisik dan komunikasi harus berbisik. Cuaca dingin bersalju masih terasa di ruangan ini karena tepat dibawah atap. Rasa lelah dan semangat petualangan menutupi semua kesulitan dan dingin. Kami harus turun lagi ke lantai dasar untuk berwudhu dan shalat Magrib-Isya. Di ruang utama masjid masih ada satu dua orang yang mengaji.
Pukul 12 malam, setelah shalat kami langsung menuju ke lantai atas untuk segera memejamkan mata karena sangat penat sementara besok harus bangun pagi-pagi. Namun tiba-tiba ketika baru menaiki tangga ada seseorang yang datang mencegat kami. Ia adalah orang yang serius membaca buku sedari tadi ketika kami shalat. Ia tampak sudah berumur, mengenakan pakaian putih dan antusias ingin mengenal kami. Sambil berdiri di tangga ia lalu menceritakan tentang sejarah Islam dan tentang tauhid. Setelah berpanjang lebar ia lalu menanyakan asal saya dan ketika saya jawab berasal dari Indonesia ia kemudian mengubah bahasa Arabnya ke bahasa Inggris sedikit Perancis dan mulai bercerita tentang sejarah awal masuknya Islam di Indonesia. Ia bercerita dengan lancar dan seolah mengingat setiap detail peristiwa. Malam sangat dingin, mata dan badan sebenarnya sudah sangat letih tapi orang tua ini tetap bercerita. Ia rupanya paham benar tentang sejarah Islam khususnya tentang bagaimana bisa sampai menyebar ke Indonesia, riwayat pedagang yang membawanya, bagaimana pedagang dari India itu menarik simpati pribumi dengan keislamannya dan sekelumit kisah detail lainnya yang sebenarnya adalah ilmu yang luar biasa untuk disimak tapi apa daya otak sudah letih. Menarik tapi otak mulai sulit untuk bisa menangkap lengkap cerita sejarah ini. Orang tua berjubah putih itu masih sangat antusias melanjutkan cerita sejarahnya, tiba-tiba sang penjaga pintu berteriak menegurnya supaya segera membiarkan kami pergi, melepaskan kami beranjak naik tangga untuk beristirahat karena terlihat sangat lelah. Sang orang tua minta waktu sejenak tetap melanjutkan ceritanya sedikit lagi. Tambahan waktu 5 menit berlalu. Teguran sang penjaga yang kedua kalinya akhirnya menyudahi ceritanya. Ia sangat senang bisa membagi ilmu sejarah Islam yang ia ketahui kepada kami.
Subuh menjelang, semua musafir telah siaga dari sleeping bag masing-masing sebelum azan subuh. Seluruh ruangan mulai terang dan ramai orang berlalu-lalang untuk ke kamar kecil, mandi dan wudhu. Kesibukan akhirnya semua tertuju untuk turun ke lantai dasar yakni ruang utama masjid untuk bersiap shalat subuh dan mendengarkan tauziah. Saat itu ruangan shalat hampir penuh, dengan tambahan pertemuan disisi kiri masjid ini dapat menampung sekitar 3oo orang. Interior masjid yang sederhana, hiasan kaligrafi dan jam waktu shalat terpampang rapi. Shalat berlangsung dengan khidmad dan pada akhir tauziah panitia menjelaskan bahwa pertemuan berikutnya akan diadakan jam 10 pagi. Ia juga berpesan agar para musafir sebaiknya tetap tinggal di dalam masjid dan jika ingin keluar maka harus minta ijin.
Kami kembali lagi naik ke lantai 3 untuk beristirahat. Setibanya disana rupanya sudah ada gelaran karpet vinyl untuk persiapan sarapan pagi. Orang-orang yang semalam tidur bersama kami di lantai 3 ini mulai jelas wajah-wajahnya. Ada yang brkulit putih, hitam, kuning, berwajah kaukasia, India, afrika dan lain-lain. Kami makan bersama diatas gelaran karpet vinyl panjang yang berisi sekitar 40an orang sambil berkenalan menguatkan silaturrahim. Setelah sarapan pagi yang cukup mengenyangkan meskipun seharga 2 euro kami beristirahat sejenak dan saya memilih untuk mandi air hangat agar mengurangi kepenatan.
Tepat jam 10 pagi.
Pertemuan besar dimulai. Semua orang berkumpul untuk mendengarkan tauziah dari beberapa imam dalam bahasa Arab. Sebelumnya panitia menganjurkan agar orang yang berbahasa Perancis dapat bergabung mendengrakan translate disisi belakang dan yang berbahasa Inggris juga ada di beberapa sisi. Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 60an orang. Mereka datang dari berbagai negara dan dari berbagai region dalam Perancis sendiri. Mereka rata-rata adalah para juru dakwah, alim ulama, guru-guru agama dan pendatang baru pencari ridho Allah. Pertemuan pagi ini adalah pembekalan awal sekaligus konsolidasi pembagian group untuk segera bertugas mendakwah dari masjid ke masjid.
Saya kemudian teringat akan suasana tabligh di Indonesia. Khuruz ini serupa dengan jamah tabligh, sebagai gemblengan jam terbang bagi para pendakwah untuk melakukan tabligh sesuai kemampuan dan waktunya.
Saat istirahat jam 11, saya dan Yassinne memutuskan untuk keluar sejenak dari masjid. Tidak mudah keluar dari masjid karena harus dipastika bahwa urusannya memang penting. Masjid memegang tanggung jawab penuh atas keselamatan jamaah, maklum jamaah terdiri dari beberapa orang asing yang tidak mengenal Paris. Kami keluar setelah menjelaskan ke penjaga pintu bahwa kami harus mengambil uang di ATM. Jarak ATM terdekat sekitar 400 m. Kami menyusuri beberapa pembatas proyek bangunan dan melewati stadion utama Stade de France tempat Perancis memenangi piala dunia 2008.
Dalam masjid semua tampak sibuk dengan pencarian teman kelompok dan pencatatan administrasinya. Untuk ikut khuruz ini tidak ada pungutan biaya apapun, karena kemauan dari diri sendiri jadi masing-masing menyediakan biaya bagi keperluan diri sendiri. Namun markaz mencatat semua orang dengan teliti termasuk passpor dan kemampuan biayanya karena markaz akan bertanggung jawab terhadap para jamaah tersebut selama berdakwah di daerah tujuan masing-masing.
Group dibagi berdasarkan kesamaan lama ber-khuruz dan tujuan negara. Seorang petugas dari markaz dengan tangkas menanyakan ke tiap jamaah tentang tujuan dan jangka waktu khuruz mereka lalu mengelompokkannya. Ada group 3 bulan, group 6 bulan, group 1 bulan, group ke negara tetangga, group ke negara Asia dan ke afrika. Perlu diketahui bahwa semua jamaah yang datanya tersimpan dengan rapi dalam program ini, di back-up penuh oleh markaz jika ada yang sakit atau bermasalah dengan pihak otoritas, dan dikontrol kesiapannya baik dari segi administrasi, dana maupun fisik. Memang pada kenyataannya ada banyak orang tua yang masih bersemangat untuk ikut, tapi mereka akan diberangkatkan kemudian setelah discreening lagi disesuaikan kemampuannya.
Group kami akhirnya lengkap. Group ini adalah terdiri dari orang-orang yang hanya punya waktu untuk khuruz jangka pendek, sekitar 3 minggu, yang artinya hanya bisa mencakup dalam kota Paris. Saya sama sekali baru dalam hal bepergian besama kelompok pendakwah. Belakangan saya tahu bahwa ada beberapa orang dalam kelompok kami yang telah punya jam terbang tinggi dalam ber-khuruz. Saya adalah satu-satunya yang masih level nol.
Mudatsir Bhai (Bangladesh), Soufyan (France), Mamadou (Afrika), Khalid (France), Syahidul Islam (Bangladesh), Zakaria (Rep. Chech), Yassine (France) dan Aku sendiri. Delapan orang ditambah satu orang sepuh (kira-kira 70 tahunan) yang kami panggil Al-Hajj dari Jerman yang menyusul kami di masjid Abu Bakar, yang akhirnya menjadi saudara seperjuangan dari masjid ke masjid.
Jam 11 siang adalah rendezvous terakhir untuk segera berangkat. Beberapa masjid dalam Paris telah berada dalam agenda tujuan kami. Keluar dari masjid ar rahmah, Saint-denis yang disebut sebagai Markaz, adalah awal rentetan langkah dari masjid ke masjid di Paris.
..to be continued

see more article : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Mendidik >< Mengajar … May 11, 2012

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 4comments

mendidik-dan-mengajar-yudi

Mendidik sering dimaknai sama dengan mengajar bahkan dimaknai secara tumpang tindih. Beberapa orang mungkin terjebak antara definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya.

Mendidik (to educate, to bring up) adalah memberikan sesuatu yang bersifat intangible, namun hasilnya tangible. Contoh: pendidikan budi pekerti, moral, etika, sopan santun, tatakrama, tanggung-jawab, dsb. Kalau dilakukan untuk sekolah atau kuliah, tentunya mendidik mahasiswa untuk bermoral yang baik.

Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.

Mengajar (to teach, to learn) adalah memberikan instruksi, membuat seseorang tahu dan mampu untuk mengerjakan sesuatu. Proses dan hasilnya tangible. Contoh: mengajar berenang, mengajar bahasa Inggris, mengajar mengemudikan pesawat, dsb. Mengajar adalah suatu seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi. Mengajar adalah proses membantu seseorang untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Mengajar bukanlah mentransfer pengetahuan dari orang yang sudah tahu (guru/dosen) kepada yang belum tahu (murid), melainkan membantu seseorang agar dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat kegiatannya terhadap fenomena dan obyek yang ingin diketahui.

Mengajar yang diikuti oleh kegiatan belajar-mengajar secara bersinergi sehingga materi yang disampaikan dapat meningkatkan wawasan keilmuwan, tumbuhnya keterampilan dan menghasilkan perubahan sikap mental/kepribadian, sesuai dengan nilai-nilai absolute dan nilai-nilai nisbi yang berlaku di lingkungan masyarakat dan bangsa bagi anak didik adalah kegiatan mendidik. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental/kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia. Mendidik dapat dilakukan dengan cara mengajar. Tetapi mengajar di dalam kelas, sebagai misal, tidak selalu dapat dilihat sebagai proses untuk mendidik atau menghasilkan pendidikan. Contoh seorang guru matematika mengajarkan kepada anak pintar menghitung, tapi anak tersebut tidak penuh perhitungan dalam segala tindakannya, maka kegiatan guru tersebut baru sebatas mengajar belum mendidik.

Kesimpulannya bahwa mengajar secara sederhananya merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru/dosen. Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah pendidikan. Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan.

see more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Belajar Melalui Pengalaman Berarsitektur April 23, 2012

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

arsitektur-komunitas-yudi

Teori tentang ruang, materi, dan estetika sudah lama terpisahkan dengan pengalaman praktek dalam pendidikan desain arsitektur. Teori desain yang dikembangkan oleh akademisi dan praktisi yang bersifat inovatif kemudian menggugah imajinasi para artitek itu sendiri sehingga disandingkan dengan nilai keterampilan belajar sebagai praktek. Bagaimana seharusnya mempersiapkan lulusan terbaik pada bidang arsitektur untuk dekade mendatang? Profesi Arsitek mengalami perubahan dramatis seiring globalisasi, teknologi baru, inovasi bahan, manajemen data, interdisciplinarity dan keterbatasan anggaran. Dunia arsitektur sekarang ini membutuhkan lebih dari sekedar teori atau hanya sekedar teknisi. Menurut DesignIntelligence Jim Cramer, kita perlu pengusaha desain “yang akan membawa kita ke arah pemahaman baru dari desain sebagai ilmu organik … profesional … bergerak dari mayoritas nilai desain yang dianggap sebagai investasi ekonomi dari objek menuju ke kapitalisme desain baru bermoral yang melayani kepentingan masyarakat. ” Berpikir desain, atau kemampuan untuk memenuhi kebutuhan manusia bagi sumber daya teknis yang tersedia dalam batasan praktis dari bisnis, menurut IDEO Tim Brown, merupakan pendekatan yang dominan bagi keberhasilan sebuah desain-profesional’. Praktek desain yang berkembang dari situ menjadi lebih konsultatif dan lebih gesit dalam jaringan sosial.

Pengajaran teori abstrak saja, ternyata mengisolasi klien terhadap sebuah kenyataan empiris, juga menafikan aturan dasar kondisi di lapangan pada saat itu sehingga lulusan hanya memiliki sedikit bekal untuk menghadapi perubahan-perubahan cepat dalam praktek profesional. Padahal desainer profesional bertanggung jawab penuh atas karyanya terutama untuk melayani kepentingan umum dan melindungi lingkungan. Jika kita bandingkan dengan kondisi di dunia barat, mereka memiliki sebuah organisasi yang mengurus masalah ini yakni Badan Akreditasi Nasional Arsitektur yang menetapkan “standar jaminan kualitas pendidikan untuk meningkatkan nilai, relevansi, dan efektivitas profesi arsitektur,” dan untuk memverifikasi melalui review mutu eksternal bahwa setiap program jurusan arsitektur yang terakreditasi secara substansial memenuhi standar-standar Dewan Nasional. Seorang calon arsitek bisa disebut sebagai arsitek jika memiliki lisensi lulusan sekolah arsitektur terakreditasi dan setelah mereka menyelesaikan tugas berbasis praktik magang, dan tes ketat yang dikombinasikan untuk memastikan bahwa arsitek baru berlisensi siap “untuk melindungi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan publik.

Di dunia Barat sebagaimana diketahui ada menghasilkan teori-teori seperti Modernisme, Semiotika, Postmodernisme, Urbanisme Baru, Deconstructivism, Poststrukturalisme, atau Minimalis yang pada kenyataannya jarang langsung ditujukan secara spesifik terhadap klien. Teori-teori tersebut juga telah terputus dari akuntabilitas publik dan mungkin juga trend kesadaran lingkungan hidup yang sebenarnya. Sebaliknya, pengalaman desain berbasis pragmatis muncul, berawal dari desakan kebutuhan akhir si pengguna alias urgensi klien. Desainer terbaik jaman dulu mereka belajar dari pembuatan kerajinan tangan, objek lukisan yang indah dan mengasah pengalaman ruangnya langsung melalui seni pemodelan. Tidak berhenti disitu, mereka harus mengelola karyanya pasca desain dan menerima konsekuensi dari keberhasilan ataupun kegagalan yang dialami klien.

Pendidikan profesional pada dasarnya terhubung dengan keahlian bidang ilmu lain. Kurikulum yang fleksibel akan leluasa menggabungkan bidang-bidang ilmu lain tersebut dalam pola terintegrasi sehingga kesannya bahwa belajar arsitektur adalah belajar seumur hidup secara pragmatis. Dalam konteks pembelajaran sedianya sifat inklusif, terbuka, kurikulum toleran akan mengajarkan teori tetapi bukan didominasi oleh konstruksi teoritis. Sekolah-sekolah arsitektur sedianya juga mengevaluasi diri sebagai komunitas pembelajaran. Selama dekade terakhir ternyata bahwa urgensi pembelajaran lintas disiplin dan kolaborasi non akademis sudah sangat mendesak. Kampus-kampus arsitektur bahkan sudah ada beberapa yang berinisiatif sendiri untuk berubah dari dalam. Hal ini juga karena masalah ekonomi, politik dan budaya yang berubah dan pada perkembangannya bahwa pembelajaran bisa didapatkan melalui pendidikan di luar akademik. Trend lainnya adalah terjadinya peningkatan kerja praktek inisiatif sendiri berbasis kerja pro bono. Beberapa inspirasi karya tersebut tergambar dari beberapa trend komunitas Arsitektur Publik, Studio Pedesaan, Pusat desain masyarakat, Habitat for Humanity, dan inisiasi pembelajaran lainnya yang sering dikoordinasikan oleh jaringan digital non-arsitek.

Dalam publikasi arsitektur terkemuka saat ini sudah mulai banyak diangkat perubahan persepsi peran arsitek yang melawan kecenderungan untuk menyajikan gambar glamour namun tidak bernyawa. Denah lantai, site-plan serta ruang-ruang fungsional dirancang seolah-olah bekerja sama dengan pengguna akhir. Tetapi pada akhirnya karya tersebut tidak berhasil dalam komunitasnya setelah terbangun. Ini adalah salah satu contoh kasus untuk menggiatkan lagi pembelajaran multi disiplin. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kognitif studi harus mengutamakan pengalaman belajar empirik dan memperkuat memori spasial siswa calon arsitek agar lebih peka dan lebih dekat lagi memperhatikan dunia di sekitar diri sendiri. Model desain yang dihasilkan sedianya berbasis nyata, sistemik holistik dan memungkinkan untuk dijadikan proyek mandiri, serta mampu memenuhi kebutuhan klien yang spesifik bagi sebuah hasil berbasis kinerja bersama. Sebuah kerja praktek pembelajaran berorientasi kepekaan lingkungan memungkinkan mahasiswa sebagai calon profesional yang nantinya muncul bisa mengatasi kegagalan teknologi dan budaya dari desain modernis ditengah-tengah empati memenuhi kebutuhan klien yang spesifik. Sebagai kesimpulan, pembelajaran bereksperimen merancang bersama dalam komunitas yang menggabungkan fungsionalitas dengan kreatif dan `fun` telah menembus teori-teori pembelajaran yang selama ini melupakan sistem kerjasama lintas disiplin. Gotong-royong secara mandiri dan berkolaborasi dalam lintas disiplin adalah model yang hari ini secara empiris telah menjadi lebih dari sekedar teori terbaru dalam arsitektur.

see more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

M a c o n February 28, 2012

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

dsc00107

Mâcon adalah kota bersejarah terletak di Perancis tengah. Kota ini berada dalam departemen Saône-et-Loire, region Bourgogne atau Burgundy, sebagai ibukota distrik Maconnais. Mâcon adalah rumah bagi lebih dari 35.000 penduduk, yang disebut Maconnais.

Kota Macon terletak di tepi barat sungai Saône, antara Bresse di Timur dan bukit-bukit Beaujolais di Selatan. Mâcon adalah kota paling selatan di wilayah Burgundy. Terletak 65 kilometer sebelah utara Lyon dan 400 kilometer dari Paris.

dsc00120Jembatan Saint  Laurent

Asal-muasal Mâcon bermula dari berdirinya sebuah pelabuhan sungai oleh bangsa Celtic dari Aedui, mungkin pada awal abad pertama SM. Dikenal dengan nama Matisco, kota kemudian berkembang secara signifikan selama zaman Kekaisaran Romawi. Selama Abad Pertengahan, Mâcon adalah pusat administrasi region Burgundy.

dsc00654

Pada tahun 1790, pemerintah revolusioner menunjuk Mâcon sebagai ibukota dari Saône-et-Loire, sebuah département baru yang dibentuk dalam restrukturisasi radikal administrasi nasional.
Pada tahun 1814, kota ini diserbu oleh pasukan Austria dan kemudian dibebaskan dua kali oleh tentara Perancis sebelum ditempati secara permanen sampai jatuhnya Kekaisaran. Setelah Napoléon
kembali Mâcon masih lagi direbut Austria.

Selama Perang Dunia II, Mâcon adalah kota pertama bebas di zona kosong antara Paris dan Lyon. Kota ini dibebaskan pada tanggal 4 September dengan pendaratan pasukan.

dsc00130Jembatan Saint  Laurent

dsc00244

Maison des Bois, Dibangun antara 1490 dan 1510, Maison des Bois mungkin adalah rumah tertua di Macon, dan tentunya yang paling terkenal. Fasadnya dibangun seluruhnya dari kayu dihiasi dengan banyak patung.

dsc00144

Hotel All Seasons

dsc01148Perpustakaan Umum

dsc00119Promenade Taman Romantis di musim gugur

dsc00139Landscape ujung jembatan

Macon mulai berkembang dalam pengaruh antara Kerajaan Perancis dan Kekaisaran Romawi Suci antara tahun 843 dan 1600. Pada 1790, Macon menjadi ibukota departemen Saone-et-Loire dan merayakan kelahiran salah seorang putra daerah yang paling terkenal: Alphonse de Lamartine.

dsc00250Story board Alphonse de Lamartine

dsc00253

Sungai Saône dan Jembatan Saint  Laurent

dsc00347

Grafitti di tembok apartemen

dsc00360

Pusat Pertokoan

Pusat kota Mâcon memanjang dari Gardon Place, di utara, ke Bundaran Eropa di selatan, dari Place de la Barre, di barat, hingga ke bank di sepanjang Saône di timur kota. Pusat kota adalah daerah perbelanjaan komersial, sebagian besar toko terletak di dekat Town Hall. Jalan-jalan lebar Pusat pertokoan Macon selalu dipadati pengunjung dan turis.

dsc003641Etalase di salah satu bagian pusat pertokoan

dsc00361

Museum

dsc00505

Esplanade Macon

dsc00526

Pasar sabtu di Esplanade Macon

dsc00511

Eglise Saint Pierre

dsc00531

Panggung Dermaga di sisi Sungai Saône

dsc00536

Komedi putar dengan kemeriahan lampu dan musik

dsc00539

Esplanade Macon

quai_macon

Macon panorama

see more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/


Bangunan Bersejarah di Indonesia dan Tantangan Pelestariannya January 27, 2012

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

borobudur_001

Konteks kegemilangan masa lalu yang diwakilkan oleh penghargaan terhadap sejarah, serta konteks masa depan yang diwakilkan oleh teknologi modern merupakan faktor penentu arah, karakter dan peradaban sebuah bangsa. Karakter jati diri yang kuat akan menjadi landasan utama bagi haluan keagungan bangsa yang tidak hanya sebatas citra melainkan juga posisi di mata internasional. “Bangsa dipersepsi sebagai entitas yang memiliki hakekat yang dengannya dia dibedakan dengan bangsa lain. Jati diri, bukan sesuatu yang genetik dalam sebuah bangsa. Dia hadir dalam sejarah” (Gumilar Rusliwa S., 2010). Peninggalan sejarah memiliki kaitan erat dengan identitas bangsa. “Dengan hilangnya bangunan kuno, lenyap pula bagian sejarah dari suatu tempat yang sebenarnya telah menciptakan suatu identitas tersendiri, sehingga menimbulkan erosi identitas budaya” (Sidharta & Budhiardjo, 1989). JJA Worsaae pada abad ke-19 mengatakan, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya melihat masa kini dan masa mendatang, tetapi mau berpaling ke masa lampau untuk menyimak perjalanan yang dilaluinya”. Senada ungkapan tersebut, filosuf Aguste Comte mengatakan ”Savoir Pour Prevoir”, yang artinya mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. Melihat masa lalu yang diungkapkan dengan keberadaan fisik bangunan kuno tentunya tidak dilihat sosok fisik bangunannya saja, tetapi nilai sejarah besar apa yang melekat dan membungkusnya sebagai makna kultural (Antariksa, 2009). Pengupayaannya sangatlah penting karena rekatan dan tampilan pembungkus makna ini dapat diikutkan dalam menentukan dan memberikan identitas bagi bangunan, kawasan, kota dan negara di masa mendatang.

Indonesia dengan kekayaan wilayah meliputi desa dan kota memiliki memori dan sejarah komunal yang sangat kompleks. Dari dulu hingga kini desa dan kota menjadi tempat pergulatan kekuatan uang, kekuasaan dan energi, yang membentang dalam berbagai aspek meliputi sosial, politik dan ekonomi. Kehidupan di masing-masing wilayah menjadi jejak perjalanan abadi antara urutan rutinitas dan manifestasi yang membekaskan peninggalan berharga dari masa ke masa. Bekas-bekas kegemilangan sejarah terutama yang unik mungkin masih membangkitkan perasaan akan identitas dan kejayaan masanya. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah rasa untuk menghormati identitas kenangan masa lalu tersebut masih penting di tengah kehidupan modern dewasa ini. Bagi Indonesia sebagai negara berkembang modernisasi mungkin telah menjadi identik dengan menyingkirkan sejarah dan masa lalu. Benda yang memiliki nilai sejarah dianggap kurang relevan dan diganti oleh benda lain yang lebih up to date. Meskipun penyingkiran benda tua tersebut juga ditentang oleh sebagian masyarakat karena memandang bahwa semua peninggalan sejarah tersebut sebagai harta kekayaan bangsa yang tak ternilai. Dalam perlombaan tradisi untuk menjadi modern, seluruh bagian wilayah bersejarah dan kota tua pelan-pelan terhapus dan digantikan oleh ruang baru yang tidak mempedulikan situs peninggalan yang berharga. Disamping memang ternyata sisa-sisa masa lalu tersebut malah menjadi gangguan bagi masyarakat. Bangunan tua dan kota tradisional misalnya sering bertentangan dengan tahap pembangunan modern. Akhirnya dalam beberapa kasus, solusi tercepat dan termudah adalah dengan menelantarkan, merelokasi, menggusur dan kemudian membangun kembali. Laju modernisasi dan globalisasi tampaknya tidak terakselerasikan dengan baik, sebaliknya semakin mengancam kelestarian bangunan dan kawasan bersejarah. Contoh kasus seperti kawasan candi, keraton baik yang terdapat di Yogyakarta, Solo, Cirebon, benteng-benteng di Sulawesi dan Maluku, rumah tradisional di Sumatera dan kalimantan, gedung peninggalan kolonial di Jakarta, maupun gedung dan kawasan bersejarah di tempat lain, kesemuanya menghadapi ancaman terdegradasi oleh waktu. Ironis memang bahwa kondisi kawasan dan banguan tua yang kritis tidak dianggap serius sebagai sebuah keprihatinan. Tidaklah mengherankan bahwa akhirnya warisan bangunan masa lalu dan memorinya akhirnya menjadi titik potensi kontroversi. Demi alasan tertentu, bahkan masyarakat lebih memilih untuk mudah melupakan yang lama dan gampang melegalkan yang baru. Situasi ini jelas menyebabkan masalah serius bagi akar sejarah, termasuk konservasi dan preservasi bukti kekayaan bangsa. Bangunan tua ataupun sebuah kawasan bersejarah adalah bukti kuat dapat memberikan gambaran tentang keadaan di masa lalu. Bangunan merupakan realitas parsial dari sebuah realitas holistik yang pernah ada. Oleh karena itu, bangunan merupakan elemen penting dalam proses analisis sejarah yang mengandung informasi-informasi bagi generasi demi generasi sesudahnya. Ketersediaan informasi merupakan hal yang penting bagi sebuah generasi untuk memahami keberadaannya dan mengantisipasi langkah-langkah ke depan yang akan dilakukannya (Salmon Martana,…). Konteks ini kemudian melahirkan sebuah konsep inti, yaitu bahwa yang harus dipreservasi dan dikonservasi adalah ” data dan informasi” yang terkandung di dalamnya dan bukan sekedar “keindahannya”.

see more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Jalan Kaki kalau mau jadi Orang Kota Modern January 12, 2012

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

walking3

Dewasa ini yang kita sebut sebagai “zaman modern”, ditengah booming-nya arus informasi dengan gadget mutakhir dan merebaknya jaringan secara canggih, ada perasaan sebagian orang yang semakin menjadi terisolasi. Ada rasa keterasingan yang dibelah-belah oleh tatanan kelas sosial sehingga sepertinya orang-orang hidup ekslusif seperti ‘pulau’. Selain faktor gaya hidup rupa-rupanya struktur bangunan yang kita tinggali memiliki dampak psiko-sosial yang mendalam  pada perilaku kita. Situasi yang meningkatkan stres di kalangan profesional terdidik (orang pandai tapi banyak problem), kegagalan dalam hubungan rumah tangga (tingkat perceraian yang tinggi), kerusuhan antar remaja (perkelahian antar pelajar/mahasiswa termasuk antar kampung dan genk), semua adalah indikasi sederhana dari adanya sesuatu yang tidak beres atas seluruh kehidupan kita yang dihabiskan dalam batas-batas berdinding. Semakin tersekat meskipun coba diobati oleh gadget mutakhir dan jaringan canggih. Kita sudah terbiasa maklum jika  hanya menyisakan sedikit ruang sehat untuk menjalin ikatan antar-pribadi. Kondisi seperti ini tidak menumbuhkan rasa mengakomodasi orang lain dalam ruang kita. Sebaliknya, menurunkan bibit segregasi dalam komunitas kita.

Arsitektur modern, saat ini kencang mewujudkan gagasan agar kota memiliki budaya berjalan kaki, setiap tempat yang akan dituju dapat diakses dengan berjalan kaki. Gerakan ini sudah populer sebagai  gaya Urbanisme Baru. Dalam hal ini, praktek keluar dari rumah naik mobil untuk mencapai tempat kerja dan bangunan lainnya akan dihilangkan. Orang hanya akan berjalan menyusuri jalan, dengan demikian memfasilitasi mereka berinteraksi sosial lebih besar. Selain itu hal tersebut juga jauh mengurangi dampak terhadap polusi lingkungan.

Desain-desain modern terus saja merasuk sampai ke lingkungan sub-urban  sehingga mengkatalisasi isolasi sosial dan menyebabkan kegagalan komunikasi dalam masyarakat. Oleh sebab itu seharusnya desain lansekap arsitektur yang baru mendorong tegas  terjadinya lingkungan yang mengurangi jalan raya dan sebaliknya membangun lebih banyak fasilitas untuk pejalan kaki dan ruang berinteraksi sosial.

Mungkin kita harus memulai dari kawasan Sub-urban untuk menjalankan kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya.  Jaringan transportasi yang lazim mewarnai jarak antara pusat kota dan sub-urban dipaksa harus dibuatkan solusi  yang berpihak pada nuansa hidup bermasyarakat. Walk-ability kini dianggap menjadi landasan untuk sebuah transportasi darat yang efisien untuk wilayah perkotaan. Setiap perjalanan yang dilakukan selalu akan melibatkan praktek berjalan kaki, sehingga seseorang yang datang dalam suatu kelompok orang seperjalanan akan memiliki hubungan yang erat dengan orang lain. Disamping itu cara ini juga merupakan model termurah, paling sehat dan paling terjangkau bagi akses transportasi komunitas. Dengan demikian, masyarakat juga berkontribusi terhadap masa depan lingkungan dengan menghemat penggunaan energi. Kejahatan dan masalah anti-sosial  diharapkan akan berkurang secara signifikan karena warga hidup sehat .

Sepanjang yang kita perhatikan bahwa ketika mulai makmur maka seseorang meningkatkan penjagaan dirinya dari masyarakat melalui lingkungan tertutup. Hal ini akhirnya mengarah pada kesalahpahaman, ketakutan, dan tafsiran tertentu dalam masyarakat. Oleh karena itu sebagai orang yang hidupnya mengarah pada kebiasaan modern kita idealnya memiliki kota terbuka, di mana orang dari semua golongan dan latar belakang dapat membawa kehidupan bersama secara harmonis. Dengan berlatih meletakkan prinsip Urbanisme Baru tersebut, mudah-mudahan dapat mendidik diri sendiri dan juga orang lain sehingga jaringan sosial yang sehat jadi lebih luas dan akhirnya kebiasaan berjalan kaki ke tempat tujuan  dan meninggalkan mobil di garasi untuk beralih ke angkutan umum menjadi gaya hidup.

see more: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Kisah Persaudaraan, Perjuangan Studi dan Revolusi October 14, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

dsc0019811

Cerita ini bukan non-fiksi biasa.. kisah unik tapi nyata dari sekian kepingan hidup. Kepingan dengan warna yang unik.

Ini  adalah riwayat dua sahabat yang bertemu di negeri asing.. fragmen hidup iringan cita-cita, another story of a friendships, persaudaraan sejati, .. short but quiet meaningfull.

Banyak ungkapan untuk mengkiaskan pertemuan singkat ini, kalau boleh digambarkan bisa menjadi 3 ragam “persahabatan 3 bahasa”, “persaudaraan muslim”, “persahabatan perjuangan revolusi”.

Kisahnya dimulai ketika saya baru tiba di kota saya belajar dan harus membuka rekening bank untuk pertama kalinya. Sekretaris Professor saya mengatakan bahwa saya bisa belajar dari orang Tunisia yang juga baru tiba dan punya kasus yang sama waktu itu. Membuka rekening baru di Perancis bukanlah hal yang sederhana, prosedur bank sangat ketat, apalagi saya ketika itu masih sangat baru. Kekhawatiran saya pada saat itu sebenarnya hanya pada masalah komunikasi. Saya ingin membuat rekening dengan cepat dan lancar tanpa ada kesalahan komunikasi, meskipun orang di bank bisa sedikit berbahasa Inggris.

Maka saya coba chating dulu untuk menemui orang Tunisia itu.

[10/1/2010 4:05:42 PM] mariem: i don’t know where is your office
[10/1/2010 4:06:46 PM] mariem: my office is at the 3rd door after stairs
[10/1/2010 4:06:57 PM] mariem: on the right
[10/1/2010 4:07:46 PM] Ydnugra: my office is next to the toilet.. on the right
[10/1/2010 4:08:48 PM] Ydnugra: sorry I cannot count there are so many door after the stairs :)
[10/1/2010 4:09:30 PM] Ydnugra: ok.. I think I ve got your office
[10/1/2010 4:09:50 PM] mariem: it’s where we’ve been yesterday :)
[10/1/2010 4:10:13 PM] mariem: there is a poster on the door
[10/1/2010 4:10:32 PM] Ydnugra: oh..ok, I got it
[10/1/2010 4:11:11 PM] mariem: good
[10/1/2010 4:13:14 PM] Ydnugra: maitenant Je n’ai pas beaucoup de travail .. avez-vous beaucoup de travail maintenant?
[10/1/2010 4:15:03 PM] mariem: oui mais vous pouvez passer si vous voulez
[10/1/2010 4:20:13 PM] Ydnugra: Mariem, I havent bank account yet,,can you accompany me to the bank, lundi si possible?
[10/1/2010 4:21:30 PM] mariem: i think we can go tomorrow in the morning
[10/1/2010 4:22:00 PM] Ydnugra: the bank is open in saturday?
[10/1/2010 4:22:19 PM] mariem: i think so
[10/1/2010 4:22:29 PM] mariem: just in the morning
[10/1/2010 4:22:32 PM] Ydnugra: oh.. tres bien
[10/1/2010 4:24:12 PM] Ydnugra: I will prepared all the document required..
[10/1/2010 4:24:30 PM] mariem: ok
[10/1/2010 4:27:14 PM] Ydnugra: demain a quelle heure?
[10/1/2010 4:28:55 PM] mariem: am not sure that the bank is open but we will see
[10/1/2010 4:29:05 PM] mariem: 10 is good?
[10/1/2010 4:29:38 PM] Ydnugra: ok.. 10 is fine.

Ruang kerjanya berantara dua ruangan dari ruangan saya, ia berada dalam group ruang virtual. Ketika pintu saya buka ia langsung menyambut dengan ramah dan segera saja membahas tentang keperluan saya untuk membuka rekening di Bank sesuai pemberitahuan sekretaris professor.Walaupun seorang wanita muda tetapi ia sangat bersemangat dan sangat optimis. Ia akhirnya harus mengalah untuk berbahasa Inggris kepada saya, katanya sebagai latihan juga karena ia kurang fasih berbahasa Inggris. Bagi saya ini kesempatan untuk berlatih bahasa Perancis sekaligus sedikit-sedikit berbahasa arab.

Namanya Mariem, berjilbab, sulung dari dua bersaudara yang kesemuanya perempuan. Energic, good looking and smart. Orang tuanya tinggal di kota Tunis, saudaranya yang bungsu mahasiswa Arsitektur di Tunis. Ia sendiri calon mahasiswa Doktoral IT di Perancis.

Saat itu ia masih mengambil `stage` di team kerja / lab tempat saya diterima, ia harus membuat karya untuk program masternya di Tunisia dan sebagai pelengkap Masternya ia harus meneliti integrasi pergerakan manusia dengan mesin dalam image 3D. Kerja ini harus dilakukannya hanya selama 4 bulan. Pekerjaan yang membutuhkan energi, waktu dan uang yang tidak sedikit.

Sabtu yang di janjikan telah tiba, saya bersiap-siap untuk memenuhi rendezvous di gerbang Abayye tepat jam 09.00. Abbaye Cluny adalah bangunan raksasa dibangun dalam gaya romantik dari awal abad 10 hingga 12 . Abbaye Cluny adalah bangunan terbesar di Eropa sebelum abad 16, ketika kathedral St Peters di Roma dibangun kembali.

Saya bergegas keluar cepat dari apartement begitu mendengar lonceng gereja Notredamme yang sangat bersejarah dari abad ke 13. Jarak perjalanan dari apartemen ke gerbang utama Abbaye tidak jauh hanya 400m. Dari kejauhan tampak sosok berjilbab telah menunggu di depan gerbang.

Assalamualaykoum, ca va?

ca va, et toi ?

This morning I have to go also to some places to taking care of some administration things, its my papers.

Sambil jalan kami mulai membahas tentang hal-hal yang akan kami urus. Ia menceritakan pengalamnnya membuat account di bank dan saya menjelaskan tentang keperluan untuk segera punya rekening karena harus menerima transfer biaya hidup dari Indonesia sementara pengalaman saya sama sekali nol tentang bank Perancis. Membuka rekening di Indonesia saja terasa tidak mudah apalagi di negeri berbahasa unik ini, KTP belum punya yang ada hanya visa dan modal status pelajar S3.

Setelah beberapa menit berjalan kaki menyusuri jalan utama kota maka tibalah kami di sebuah bank berlogo biru. Itu adalah salah satu bank yang bonafit di Perancis. Tapi saya berhenti di depan pintu.

`Is there something wrong?` ia bertanya dengan heran.

`Ini bukan bank yang saya harapkan untuk membuka rekening,` saya jelaskan dengan singkat.

`But this is my bank, I create my account in this bank. This is a good bank.` katanya dengan yakin.

Entah kenapa saat itu saya yakin bahwa bank yang ditunjukkan Mariem tidaklah pas untuk saya sehingga saya berkeras untuk tetap mencari bank yang saya inginkan, bank berlogo hijau.

Dengan penuh pengertian ia lalu menjawab.. Ok, no problem, we go to another bank. I will accompany you don`t worry.

Setelah berjalan lima menit kami tiba di sebuah bank disudut jalan. Logo hijau berkibar dimana-mana, mungkin ingin menyesuaikan dengan imagenya sebagai salah satu yang terbesar di Eropa. Saya pilih bank ini karena mendengar bahwa kampus saya punya hubungan kerjasama khusus.

Kami masuk ke pintu Utama dan menekan bel agar pintu kedua dibuka oleh operator. Ruangan bank tidak terlalu besar tetapi cukup untuk melayani nasabah di kota ini.

Tanpa diminta lagi, Mariem maju ke teller bank dan mengatakan bahwa saya ingin membuka rekening. Petugas itu mengatakan agar saya bertemu dengan costumer service untuk lebih detailnya. Proses administrasipun dimulai. Kami menuju ruang CS dan alhamdulillah ditangani oleh petugas yang sangat senior dan bisa berbahasa Inggris. Namun begitu Mariem tetap mengontrol jika ada sesuatu yang tidak saya pahami karena petugas itu senang berbahasa Perancis dan semua berkas/dokumen tidak ada yang berbahasa Inggris.

Pemberkasan selesai setelah memakan waktu 1 jam, ada beberapa surat yang kurang akan tetapi bisa nanti disusul untuk dilengkapi dan ada beberapa yang dimudahkan karena saya adalah mahasiswa Ensam, PT yang punya kerjasama khusus dengan bank tersebut.

Urusanku selesai, berikutnya urusan keperluan Mariem. Ia mengatakan bahwa hari itu harus ke kantor walikota (Mairie) karena sudah ada janji berkaitan dengan visanya. Ia harus ke sana sebagai rangkaian dari proses imigrasi. Saya meminta untuk ikut bersama karena hal ini menyangkut proses yang sama akan saya alami juga ke depannya.

Kami berjalan memerapa ratus meter melewati situs Abbaye avant-neuf yang tinggal pondasinya saja. beberapa saat kemudian kami tiba di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dan didepannya ada tulisan Hotel de Ville. Bangunan kantor ini memiliki taman yang luas dan juga punya tampilan yang unik karena juga peninggalan abad pertengahan.

Di kantor Mairie ia menyerahkan beberapa surat, kami tidak lama, sepulang dari sana Mariem mengajak singgah di pasar jalanan yang reguler muncul tiap sabtu pagi. Di sini ia membeli beberapa buah dan sayur dan memperkenalkan jenis-jenis makanan yang bisa kami konsumsi sebagai muslim. Ia sangat ketat dengan karakter muslimahnya. Sepanjang yang saya perhatikan ia adalah satu-satunya orang yang berjilbab di pasar itu, maklum ini bukan bukan pasar Arab seperti yang biasanya ada di kota-kota lain di Perancis.

Hari sabtu yang dingin diawal musim berlalu begitu cepat dan melelahkan karena banyak keperluan tetapi semuanya menjadi pengalaman baru. Satu awal persahabatan baru dalam 3 bahasa.

Tiga minggu telah berlalu, urusan dengan bank masih berlanjut namun melalui surat. Surat-surat kadang masih kesasar ke bagian administrasi kampus karena saya tidak memasukkan alamat rumah permanen. Pada saat itu saya masih dalam proses pindah tempat tinggal dari Resident Etudiant de l`abayye, sebuah asrama mahasiswa yang berada tepat dalam bangunan Abbaye yang bersejarah. Butuh sekitar satu bulan untuk menerima kartu ATM dari bank. Untungnya saya masih punya sedikit simpanan uang cash yang sempat ditukar di Indonesia.

Kondisi `stage` yang hanya 4 bulan memaksa Mariem untuk bekerja lebih keras. Cukup kasihan juga melihat dia bekerja sendirian dan selalu harus pulang  malam. Satu hal yang membuat ringan adalah Resto U (Restaurant Universite), murah, cepat, cukup bergizi dan bisa jadi ajang diskusi. Terkadang kami pergi bersama juga beberapa anggota team untuk makan siang di sana.. kami mengaharapkan bisa selalu bisa mendapat makanan halal yakni ikan salmon. Sebenarnya dalam team kami terdiri dari belasan orang akan tetapi yang memiliki keterampilan seperti bidang kajian yang dilakukan Mariem sangat terbatas. Hal ini karena bidang studi ini pusatnya di kampus Chalon sur Saone sebuah kota pinggir sungai yang cukup besar, sedangkan lab kami disini adalah cabangnya.

Kondisi semakin sulit dengan datangnya musim dingin. Salju bukanlah hal yang indah meskipun bagi kami ini adalah hal yang pertama. Tidak seperti biasanya sebagai orang yang berasal dari negara tropis, salju pertama hanya menjadi kesenangan sementara. Eforia beberapa jam bersama beberapa teman karena mereka ingat kalau di negara kami tidak pernah turun salju. Tantangan pekerjaan tampaknya masih membebani apalagi bagi saya sebagai orang yang pas-pasan berbahasa Perancis, baru mengenal sistem belajar di Perancis dan tidak tahan dingin.

Akhir bulan November adalah awal musim salju yang suhunya bisa mencapai -7 derajat. Saat yang sama umat Islam diseluruh dunia merayakan Iedul Adha. Alhamdulillah saya tidak sendirian  yang muslim di kota ini. Ada beberapa pelajar dari negara-negara Arab Magreb (Maroko, Algeria, Tunisia) yang juga bersekolah di Ensam. Lebaran ied adha tetap menjadi hal penting bagi kami meskipun disini tidak ada orang yang sholat ied karena mesjidnya sangat jauh. Kami semua berkumpul dan bersepakat untuk menuju Macon untuk membeli daging untuk dimasak ala Maroko sebagai peringatan idul adha. Mariem adalah yang paling antusias pada semangat hari raya ini. Ia juga membuat makanan Tunisia untuk dikirimkan ke kami beberapa muslim di asrama. Ia memang sangat bersemangat jika membicarakan tentang agama. Selama beberapa minggu ia mengirimkan saya aplikasi-aplikasi, musik dan link video Islami baik untuk PC maupun HP. Hidup di negara non-muslim  seperti ini saling mengingatkan akan kewajiban kepada Tuhan senantiasa harus dilakukan disela-sela kesibukan.

5:16 PM mariem: selem yd, thank you for videos, interesting!

5:18 PM me: alaikumsalam.. de rien.. I just thinking that it would be the final callisto product.. more or lest

5:24 PM mariem: :)

5:25 PM me: :)

mariem: am searching about the system used

5:26 PM me: yes.. that is great.. and for the camera.. ithink they used an advanced one

5:27 PM mariem: sure it’s like the softkinetic camera or kinect

5:28 PM IR camera

5:30 PM me: yes.. me also I studied thermographic camera now.. but I think its need more step to apply it to Augmented or virtual reality..

5:31 PM mariem: time is very short for new technology :)

5:34 PM me: Yes.. time is cut off by tecno.. well ..now I am waiting for Revit 2011 released so I could try its data exchange for visualization software.. more easy to applicate fo AR

5:36 PM thermal camera is a nice alternative, eazy than thermal sofware like Revit but.. the interoperability for AR need to be considered of

5:37 PM mariem: there are always tools for interoperability if there is the camera

5:38 PM these softs should exist

5:39 PM me: yes..

5:41 PM by this case.. I have 2 choises of method.. simulation by camera or by software.. :)

5:43 PM mariem: you should consider the 2 solutions

5:44 PM and follow the developments made on it dont be fixed on one way

5:46 PM me: oh.. thats mean a lots of work. cos these two method are strongly developed right now.. and the devices are very expensive he3

5:49 PM ok.. nice discussion. I think its too serious for this afternoon :)

5:54 PM mariem: sorry

don’t think about price

but performance

and possibilities

that the method present

5:55 PM try to make a comparison, it will be useful for your phd

5:56 PM me: :) … you are a visioner and a great thinker

5:57 PM mariem: no I am too far from being good, i try

6:00 PM me: well..wise word., :)

mariem: /° :)

6:04 PM me: C`est 18h mntnt.. Je vais partir .. as usuall go home and cooking :)

mariem: don’t hesitate if you need help for development stuffs

6:05 PM cool :)

me: ok

mariem: i hear the sound of mon estomac

me: he3

6:08 PM a bientot.. bonne soiree, wassalam

6:09 PM mariem: nchallah à bientot

assalamou alaykom warahmatou allahi wabaraketouhou

6:10 PM me: waalaykum salam wr. wb

Revolusi meletus di Tunisia.

Setiap hari di TV dan diperbincangan teman-teman selalu diwarnai dengan cerita demo  di jalan yang kian mengarah pada kekerasan di Tunisia. Mariem tampaknya agak sedikit gusar dengan perkembangan yang terjadi karena orang tua dan keluarganya ada di sana. Sebenarnya ada semangat kebangsaan yang tumbuh dihatinya, untuk ikut berjuang karena menurutnya bangsanya telah lama tertekan oleh rejim pemerintah, tetapi ia hanya bisa berdoa dan berkampanye lewat internet. Sebagai orang IT ia sangat gencar menyuarakan revolusi bangsanya di internet. Bagi saya yang sudah pernah melalui masa-masa seperti itu hanya bisa memberikan gambaran akan susah-senangnya sebuah negara yang melakukan reformasi. Dan tampaknya ia sangat bersemangat ketika mengetahui bahwa reformasi yang dialami Indonesia 13 tahun yang lalu akhirnya terlewati juga. Memang sulit diawalnya namun sekarang terasa perbedaannya.

[1/18/2011 11:55:06 AM] Ydnugra: Indonesia had passed the same situation in 1998 Our president it was, had rules for 32 years..
[1/18/2011 11:56:12 AM] mariem: waaw
[1/18/2011 11:57:06 AM] Ydnugra: Indonesia need  5 years to heal from the crisis..
[1/18/2011 11:57:42 AM] mariem: but it’s a good thing
[1/18/2011 11:58:14 AM] mariem: you can’t imagine how it was bleeding poeple
[1/18/2011 11:58:38 AM] mariem: now wwe are proud of our coutry
[1/18/2011 11:59:01 AM] mariem: and you are ready to protect it to work hard for it
[1/18/2011 11:59:11 AM] mariem: and not to be passive
[1/18/2011 11:59:43 AM] mariem: we understood many things
[1/18/2011 12:01:28 PM] Ydnugra: yes.. don`t worry… it will be come a good experience
[1/18/2011 12:01:49 PM] Ydnugra: many lessons.. for our life
[1/18/2011 12:02:00 PM] mariem: yes

Masa-masa penantian menunggu perkembangan demonstrasi untuk revolusi membuat prihatin semua orang Tunisia yang ada di Perancis. Mereka turut membantu dengan melakukan manifestasi di jalanan baik kampanye terbuka maupun lewat dunia maya. Tak terkecuali bagi Mariem, selama ketegangan di negaranya berkecamuk ia tak henti-hentinya meminta di doakan agar keluarganya selamat dan revolusi segera berakhir dengan pergantian pemimpin yang baru. Ia selalu menelepon sanak keluarganya dan hampir setiap hari harus menjawab pertanyaan keprihatinan dari teman-teman di lab.

Di media Barat, peristiwa pergolakan di Tunisia ini dijuluki Revolusi Jasmine. Nama “Revolusi Jasmine berasal dari wartawan Tunisia Zied El-Heni, tapi tidak banyak diadopsi di Tunisia itu sendiri. Nama diadopsi di Tunisia sendiri adalah `Dignity Revolution`, yang merupakan terjemahan dari nama Arab untuk revolusi Thaorat Al Karama

Alhamdulillah akhirnya setelah berjalan dua bulan, ditengah cekaman menjadi korban, revolusi mereda dengan perginya presiden yang sedang berkuasa. Revolusi Tunisia adalah kampanye intensif perlawanan sipil, termasuk serangkaian demonstrasi jalanan yang terjadi hampir di seluruh daerah Tunisia. Peristiwa dimulai pada Desember 2010 dan menyebabkan tersingkirnya Presiden Zine El lama Abidine Ben Ali pada Januari 2011.

Akhirnya fragmen Revolusi mereda, ke depan adalah fragmen ujian akhir.

Mariem harus mempresentasikan hasil kerjanya di depan penguji yang kemungkinan kelak bisa menjadi supervisor tesisnya. Persiapan untuk presentasi tidak mudah karena ia harus bekerja sendirian hanya mengandalkan kontak-kontak  teman dan kenalan pakar lewat internet. Saya hanya bisa membantu sekedarnya saja. Ia terpaksa harus bekerja juga di malam hari, pulangnya berjalan ditengah kesunyian dan kepekatan malam ditambah lagi kondisi salju yang kian menebal.

Hari yang ditentukan telah tiba. Tanggal 29 November adalah tulisan diatas kertas notes merah yang selalu tertempel di layar komputernya sejak 1 bulan sebelumnya. Di pagi yang cerah itu kami semua dari seluruh anggota team berkumpul untuk menyaksikan presentasi Mariem. Dengan berbahasa Perancis yang cukup lancar sebagai bahasa keduanya, ia menerangkan dengan pelan-pelan tapi ringan dan diselingi dengan demo video. Presentasinya bagus dan cukup menarik pada hari itu.  bagi saya yang baru melihat  format slide presentasi seperti itu merasa cukup terkesan.

[11/29/2010 12:54:19 PM] Ydnugra: Assalamualaykoum. Mariem
[11/29/2010 12:54:24 PM] Y
dnugra:  la présentation .. Ces`t super
[11/29/2010 12:55:45 PM] mariem: salem yd
[11/29/2010 12:55:46 PM] mariem: je ne trouve pas
[11/29/2010 12:56:04 PM] mariem: c’était catastrofique :S
[11/29/2010 12:56:46 PM] Y
dnugra: Tu est ete formidable.. pour 2 mois travaille
[11/29/2010 12:57:27 PM] mariem: c’est 2 semaines :) mais dommage que la navigation n’a pas marché
[11/29/2010 12:58:54 PM] mariem: merci yd tu me remonte le morale

Namun langkah selanjutnya ia harus melakukan perbaikan dan presentasi final di depan profesor di Chalon sur Saon, sebuah kota yang letaknya cukup jauh di utara kota kami.

Pagi yang dingin pertengahan Desember. Salju telah mencair dan matahari kadang-kadang cerah. Bunyi alarm skype tiba-tiba berkedip di komputerku. Rupanya Mariem mengabarkan kalau ia baru saja selesai ujian presentasi di Chalon.

[12/14/2010 6:53:58 PM] Ydnugra: Congratulation Mariem.. Tu est ete formidable..Bravo
[12/14/2010 6:54:23 PM] mariem: Thank you bro!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
[12/14/2010 6:59:14 PM] mariem: ur my best bro!
[12/14/2010 6:59:27 PM] mariem: and thk u for advices
[12/14/2010 6:59:33 PM] mariem: they liked the demos
[12/14/2010 6:59:51 PM] Ydnugra: now.. take a rest
[12/14/2010 7:02:46 PM] Ydnugra: Je vais repose aussi mntnt.. Salam
[12/14/2010 7:09:33 PM] mariem: yes i should
[12/14/2010 7:09:35 PM] mariem: :)
[12/14/2010 7:09:39 PM] mariem: salam

Ia akhirnya diterima untuk lanjut dengan proyek yang sama dalam team kami meskipun di kota yang berbeda. Selanjutnya ia bisa pulang ke negaranya untuk kambali lagi di awal tahun pendaftaran.

Empat bulan yang sangat cepat berlalu. Saya terharu sekaligus bergembira akan kesuksesan Mariem. Ia adalah sosok wanita muslimah yang kuat pendirian  dan prinsip agamanya dan gigih mengejar cita-citanya. Akhirnya ia menyelesaikan studinya di Perancis. Itu berarti bisa kembali ke Tunis untuk kembali ke kampus asalnya dan bertemu keluarganya.

Sepenggal kisah hidup yang menginspirasi ini adalah dedikasi untuk Mariem yang telah banyak menolong tanpa pamrih.

`Merci beaucoup pour ton aide`


see more: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/


Sekelumit polemik pendidikan Arsitektur di Indonesia September 28, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 5comments

architecture_edited

Sementara lembaga pendidikan kita ribut mempersoalkan sistem pembelajaran berbasis internet dengan bungkus E-learning, softskill, kelas online dll, mahasiswa di negara lain sudah jauh mengembangkan metode-metode yg lebih baik menyangkut hal ini. Khusus lembaga pendidikan arsitektur di Indonesia hal ini memang masih sangat baru dan masih dalam kajian sana-sini. Pendidikan arsitektur memang bidang yang unik, perpaduan ilmu antara teknologi dan seni, antara teknis dan praktis, antara softskill dan hardskill. Kekhususan dan perlakuan khas dalam menjalani perkuliahan adalah hal yang diperlukan dalam belajar dan mengajar mata kuliah arsitektur, misalnya: Berpikir gila ala seniman/filosof, rutin asistensi face to face, begadang berlarut-larut, jam kerja tidak tentu dan masih banyak lainnya yang menjadikan mahasiswa arsitektur berbeda dgn mahasiswa lainnya. Bahkan bagi yang telah menjalani profesi Arsitek mereka berpikir bahwa hal-hal seperti itu mestinya lebih canggih lagi karena ada teknologi komputer.  Maksudnya adalah lebih canggih lagi dalam belajar dan berekspresi sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang spektakuler. Hal ini membuat mata ajaran dalam arsitektur memerlukan kajian yang mendalam jika ingin menggunakan teknologi komputer dan via internet.

Pendidikan via internet dari lembaga pendidikan adalah hal yg biasa dewasa ini. Sudah hampir 10 tahun metode ini dilakukan oleh beberapa universitas besar didunia misalnya MIT, STANFORD, YALE dan sekarang diikuti oleh hampir semua sekolah arsitektur di Amerika. Pastinya bebas biaya dan bisa di akses oleh siapapun (mahasiswa atau bukan mahasiswa). Media ini memang baik untuk mahasiswa yang sedang mengikuti pendidikan di bidang arsitektur khususnya. Untuk yang tidak ikut pendidikan universitas tersebut, media ini mungkin agak membingungkan. Bidang studi yang bisa di internetkan hampir semua mata pelajaran kecuali studio. Kelas-kelas studio menayangkan kelas studio tahun-tahun sebelumnya sebagai contoh soal. Pilihan ini dilakukan untuk membantu biaya mahasiswa dalam melakukan ‘perjalanan’ dari tempat tinggalnya ke sekolah.

Lembaga-lembaga pendidikan di Eropa juga sudah melaksanakan. Sepertinya Perancis Jerman sudah hampir semua bisa online. Pendidikan via internet dari lembaga international - Academic Earth. Bidang yang ditayangkan adalah Sejarah Arsitektur, kontributornya adalah: YALE. Sudah berjalan sekitar 3 tahunan.

Fasilitas pendidikan Arsitektur di Indonesia dikenal hanya Laboratorium atau Studio Gambar. Sementara sekolah asing; selain studio desain juga mempunyai laboratorium Model (Maquette); Lab. Keramik/Kayu dll; Lab Konstruksi Bangunan; Lab. Material Konstruksi Bangunan… lalu yang modern… laboratorium Graphic, Simulasi, visualisasi 3D dll, yang semua berbasis teknologi terkini. Jangankan yang berbasis teknologi… yang punya Lab Model dengan mesin CNC Router saja… apa ada? Apa lagi lab-lab lainnya.

Mungkin permasalahannya bukan karena meniru lembaga asing itu salah, karena di negara yang sudah maju tersebut pendidikan dikembangkan dengan serius dan konsisten. Serius artinya; dilakukan riset yang menetap dan terus menerus secara konsisten untuk memonitor kualitas pendidikan (apapun… bukan hanya Arsitektur) sehingga mereka sering lebih dahulu MENGETAHUI dan dapat MENGANTISIPASI untuk mencarikan solusi yang baik untuk mengatasi semua kesulitan yang muncul. Sehingga kelihatan hasilnya mereka menjadi lebih baik. Kalau ditanya: Apakah bibitnya semuanya lebih unggul dari orang Indonesia? Sudah pasti jawabannya: TIDAK. Ada juga ‘bule-bule arsitek’ yang ‘kurang profesional dan dibawah standard’ daripada yang bagus betul. Lalu kenapa hasilnya dibanding dengan tamatan dari negara kita (secara umum) jauh lebih baik? Karena secara umum mereka dididik dengan kualitas dan *standard minimum* yang lebih tinggi. Jadi untuk bekal berkarya tetap dibutuhkan standard pendidikan yang baik. Dan tantangan ini lebih terpenuhi oleh lembaga pendidikan asing. India adalah negara miskin yang memiliki pendidikan teknologi (secara umum) yang sangat baik. Beberapa lembaga pendidikan besar amerika bahkan secara resmi membuka cabang di India, misalnya: MIT - IIT dan kabarnya menyusul Harvard dan Stanford. Hal diatas membuktikan bahwa miskin tidak berarti miskin cita-cita.

intro-comments-design

Jadi permasalahannya adalah standard umum. Karena kalau negara kita ini ingin dibangun oleh anak bangsa; maka harus dididik ahli-ahli yang kompeten dalam jumlah yang cukup. Kalau kita berbicara jumlah… maka harus ada sistem yang mendukung. Kalau kita memang tidak pernah melakukan riset yang konsisten mengenai kualitas pendidikan arsitektur; apa boleh buat… harus mau belajar dari yang sudah melakukan. Yang dikhawatirkan… dalam waktu sekitar 10 tahun lagi… Indonesia akan tersalip oleh Vietnam. Karena di Vietnam pemerintahnya saat ini sedang berinvestasi besar2an di bidang pendidikan dengan dana Worldbank/ADB/JICA/EU dll. Untuk bidang Arsitektur, sudah ada lembaga asing yang akan berinvestasi dan menjadi mitra lokal: di HoChiMinh City - lembaga pendidikan Jerman dan Amerika. Di Vietnam tengah - Jepang; di Utara: Perancis dan Australia. Kesarjanaan akan diakui: lokal dan universitas patron (KTS = Master Degree). Apakah Universitas lokal menerima bulat-bulat kurikulum asing? Wah….. jawabannya adalah:…. tidak sama sekali. Bangsa Vietnam adalah bangsa yang sangat bangga, sombong dan keras mempertahankan identitas kebangsaannya. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah bangsa yang terkuat didunia karena: berhasil mengalahkan imperialisme, kolonialisme dan satu2nya bangsa di dunia yang berhasil mengalahkan USA dalam pertempuran fisik. Tidak ada pendikte-an dari universitas patron maupun dari lembaga keuangan.

Menteri maupun Universitas lokal yang menjadi partner… mengambil keputusan atas semua sistem yang akan diterapkan tanpa terkecuali…..termasuk daftar tenaga pengajar dari universitas patron harus disetujui oleh local team. Lembaga patron sangat miris dengan hal ini…. karena mereka mensyaratkan misalnya: Studio arsitek kelas: Post Grad - syarat pengajar: minimum 20 thn masa kerja dgn pendidikan S3. Beberapa universitas patron rupanya…. niatnya hanya menyediakan setara Master Grad untuk mengajar di semua level karena menganggap tingkat pendidikan di Vietnam masih rendah. Akibatnya…. universitas patron tersebut di suruh hengkang dari Vietnam… dan pemerintahnya mencari partner yang lain; lembaga keuangan yang mensponsori universitas tersebutpun tidak boleh berbicara atau mengajukan pendapat apapun juga terhadap kejadian tersebut. Semuanya adalah hak pemerintah Vietnam - tidak ada negosiasi dan tidak ada dengar pendapat dan tidak ada pembicaraan apapun dengan mitra asing mengenai standard dan sistem yang ditetapkan oleh pemerintah vietnam. Prinsipnya: Ikut atau Keluar. Yang lebih berat lagi sekarang semua keputusan harus melalui Committee (sejenis DPR) dan DPM (Deputy Prime Minister) dan PM (Prime Minister).

Luar biasa…. mereka akan berhasil memiliki pendidikan lokal yang setara dengan keinginan internasional tanpa mengorbankan identitas bangsanya. Untuk Indonesia… akan sangat memalukan kalau sampai tersalip oleh Vietnam. Kalau praktisi menjadi akademisi masih terus dimasalahkan… ya repot….. Yang jadi pertanyaan adalah..kenapa meng-kotak2an diri? Coba kita lihat: Prof.Norman Foster, Prof. Frank Gehry, Prof. Glenn Murcutt dll…. mereka semua adalah akademisi dan pendidik2 yang dedicated dan praktisi yang dedicated juga…. Prof.Glenn Murcutt (ini pemenang Pritzker Award dari Australia) beliau selalu mengatakan demikian: ‘I am only a teacher… I am teaching architecture’. Sampai sekarang waktu beliau lebih banyak dipakai untuk mengajar. Sebetulnya masalahnya di Indonesia itu apa? Harusnya kita berani jujur dan berani keluar dari kotak. Kalau tidak… ya.. akan membahas, dibahas, terbahas, bahas-membahas tidak ada habisnya.

see more: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Rekor Dunia yang masih dipegang Indonesia September 15, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 6comments

republik_indonesia4-300x199

Disamping beberapa kekurangan yang masih melekat bagi citra tanah air kita Indonesia, ada puluhan rekor dunia yang patut juga kita banggakan sebagai warga negara Indonesia karena sampai saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor kecuali Indonesia.

Berikut daftar puluhan rekor dunia yang dimiliki Indonesia.

Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni) . Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).

Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI.

Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.

Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia . Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.

Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia . Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia.

Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850). Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus’¬ yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.

Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia. Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966.

Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambang supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002).

Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.

Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.

Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia). Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species.

Biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

Indonesia memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat untuk mencegah pengikisan air laut/abrasi.

Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bias mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.

Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter.

Indonesia memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi.

Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.

Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.

see more: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

The City and Energy Consumption, A Race without Limits? June 26, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

jln-gatotsubroto

The growth without limit is become a phenomenon of big cities in the world as well as Jakarta. The emergence of new cities which spread in outlying areas has resulted such less support of the sub-urban to provide prevalence services. In the other hand, it is due to the expensive cost of infrastructure development, traffic jam, the loss of more agricultural land, reduction in comfort of living in both the city and the outlying areas, and rural un-stability.

Eventually, the energy consumption of the city will also be bigger than before and it is hard to avoid. By this situation, the cities are going to become the location of the most energy consuming.

In Indonesia, it seems that private vehicles growth as a consequence is an answer that can not be tolerate. The growth number of vehicles reach out of five million units per year in Indonesia. The cities burden is more heavy every year. This growth has also impacted to the amount of pollution and this has put Jakarta as the third of world’s polluted city.

jakarta-traffic-yudi

The population density made the concentration of environmental issues, consumption of natural resources including oil, and those will be accumulated as city problematic. Therefore, a good plan in managing the form and space of the city, also the right public policy would be key factors of energy saving. If the policy and its practice has founded and executed correctly, the city will receive the large benefits of efficiency.

energy-consumption1

See more :
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Arsitektur Brutalis June 13, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

yudi Brutalist classic: A housing complex in Montreal by Moshe Safdie

Brutalisme adalah gaya arsitektur sebagai pembaharuan gerakan arsitek, berkembang pada tahun 1950 - 1970. Awal gayanya sebagian besar diilhami oleh Le Corbusier (khususnya Unit d’Habitation) dan Ludwig Mies van der Rohe. Istilah brutalisme sendiri dimulai dari bahasa Prancis Béton brut alias “beton kasar” atau “beton mentah”. Bangunan brutalis pada umumnya dibentuk dengan membentur blockish, geometris, dan bentuk berulang, dan sering juga mengulang bentuk tapi tanpa adanya ornamen. Tidak semua bangunan brutalis dibentuk dari beton. Sebagai gantinya, bangunan dapat mencapai mutu brutalis melalui suatu bahan yang keras dengan penampilan bagunan dan material strukturnya terbuat dari beton. Rumah pribadi Alison dan Peter Smithson’s dibangun dari batu bata. Richard & Renzo Piano, Center Pompidou dihormati sebagai arsitek brutalis dengan bahan dan struktur bangunannya meliputi batu bata, kaca, baja, batu kasar.

unite-dhabitation-marseille

Unitéd ‘Habitation, Marseille (Le Corbusier 1952)

Brutalisme sebagai gaya arsitektur juga dihubungkan dengan suatu ideologi yang berupa kayalan sosial yang cenderung untuk didukung oleh para perancangnya, terutama Alison dan Peter Smithson. Kegagalan dalam merencanakan suatu desain merupakan hal hal positif bagi para arsitek Brutalis.

Brutalisme memperoleh daya gerak besar di Inggris sepanjang pertengahan abad 20. Ketika itu keadaan ekonomi tertekan akibat kerusakan perang dunia II. Masyarakat mencari konstruksi murah dan mudah. Meskipun demikian, perlu diketahui juga bahwa banyak arsitek memilih gaya brutalist walaupun mereka sebenarnya mempunyai anggaran yang besar dalam membangun.

trellick1

Trellick Tower, London (Goldfinger 1972)

Desain brutalis pada awalnya mendapatkan banyak kritik sebagai gaya yang merusak pemandangan. Dalam majalah Home Office edisi 50 gaya Quenn Anne dikatakan “seperti barang rongsokan”, sebab gaya ini sangat identik dengan beton. Namun demikian, sajian brutalis pada Menara Trellick membuktikan bahwa gaya brutalis sangat populer di antara para arsitek dan masyarakat. Pada waktunya, banyak struktur brutalisme menjadi lebih dihargai oleh masyarakat karena keunikan mereka dan penampilan yang menyolok.

Di tahun terakhir, gaya bangunan brutalistme mulai hilang dari ingatan masyarakat. Masyarakat mulai menuju ke gaya baru yang baru lahir sebagai ganti gaya brutalisme sehingga banyak bangunan gaya brutalistme dirobohkan dan dibangun menjadi gaya yang baru lagi.

see more: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

The Past Vs. Modernism June 2, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 5comments

jakartas-cityscape

Cities have enormously complex communal histories and memories. They are places of many conflicting forces of money, power and energy, stretching across various social, political and economic spheres. Urban life is actually area of the perpetual struggle between rigid routine order and pleasurable anarchy. Each cities is unique and evokes different feelings for its inhabitants and visitors. And surely every cities with its modern life always attracting individuals to pursue their dreams time after time. However, a big question remarks whether any sense of feeling to carry out the memorable identity of old past among its modern life.

In the Indonesian emerging economies, modernization has often become synonymous with getting rid of the past. In the race to become modern, entire sections of the old cities are carelessly deleted so as to quickly create new spaces for new development. Furthermore, those remnants of the past-the endemic communities, the traditional social and urban fabric-are deemed to be either useless or contradictory to this phase of development. In most cases, the fastest and easiest solution is to relocate, bulldoze and then rebuild.

museum-bahari-dan-pasar-heksagon

In capitalist economies, the most commonly contested places which faces this dilemma of memory and development are the downtown historical districts. Following the logic of market forces, most of this area are considered as high-value real estate. They must therefore make way for more intensive develop high-rise. Their demolition appears rational and is often strongly supported by the rich and powerful. However, once destroyed, they can not be replaced. Attempts at re-construction are futile and make mockery of traditions and the conservation of memories.

It is not surprising that heritage and memories can be seen as potentiality controversial flashpoints. Memory, by its nature is abstract, and life in this rapidly changing society become full of surprises and absurdity. For political reasons, one might even choose to forget and reinvent. It is sorry to say that in Indonesia, but of course in else where too, the politics of memory, or active forgetting and imaginative re-remembering seems to be continued. This situation causing a serious problems for historian.

See more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Green..green..Grass of home May 27, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

green-building-yudi

Fakta dari berbagai pendapat atas perancangan arsitektur yang sedang berkembang, akhirnya konsep-konsep pendekatan ekologis yang banyak dicermati. Pada intinya adalah mendekati masalah rancangan arsitektur dengan menekankan pada keselarasan bangunan dengan perilaku alam, mulai dari tahap pendirian sampai usia bangunan habis. Bangunan sebagai pelindung manusia harus nyaman bagi penghuni, selaras dengan perilaku alam, efisien dalam memanfatkan sumber daya alam dan ramah terhadap alam.

Konsep kembali ke alam tersebut diistilahkan sebagai green architecture atau arsitektur hijau. Arsitektur hijau adalah sebuah proses perancangan bangunan dalam mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik, meningkatkan kenyamanan manusia dengan meningkatkan efisiensi dan pengurangan penggunaan sumberdaya, energi, pemakaian lahan, pengelolaan sampah efektif, dalam tataran arsitektur. Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan tetapi lebih berfokus pada perilaku manusianya, yang ditunjukkan lewat gaya hidup hijau (green lifestyle/green attitude). Tujuan pokok arsitektur hijau adalah menciptakan eco-living, eco desain, arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami dan pembangunan berkelanjutan. Menarik untuk kita ketahui bahwasannya konsep ini pada kenyataannya sudah pernah dilakukan oleh nenek moyang kita dengan bukti-bukti arsitektur bangunan tradisional yang semua mengakuinya sangat selaras dengan karakter alam dimana ia dibangun.

CB055265

Arsitektur hijau dipraktekkan utamanya dengan perbaikan perilaku meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air, dan bahan-bahan, mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan melalui tata letak, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan bangunan. Singkatnya Reduce, Re-use, Recycle. Memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Olehnya itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih rapi, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air lancar. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Baca lanjut : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Romeo and Juliet, Romansa Mitos Berfakta ala Verona May 21, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

dsc00535

Kisah Romeo dan Juliet adalah simbol romantika yang melegenda yang tidak habis-habis menjadi buah bibir orang sedunia. Bagi penggemar drama Shakespeare ini maka balkon Romeo dan Juliet serta kota Verona adalah tujuan penyelidikan yang perlu disambangi. Mungkin anda juga penasaran berat.. apakah pasangan romantis tersebut benar-benar ada?

Cerita ini dibuat terkenal oleh dramawan Inggris William Shakespeare dalam drama Romeo dan Juliet celebre, tetapi novelnya sendiri pada awalnya ditulis oleh penulis Vicenza Luigi Da Porto (1485-1529), dan diterbitkan di Venezia pada pertengahan tahun 1500-an.

william-shakespeare-verona1

Alkisah legenda ini berlatarkan kehidupan awal tahun 1300-an. Bercerita tentang dua kekasih muda yang tidak diizinkan oleh keluarga masing-masing untuk mencapai impian cinta mereka.
Akhirnya, setelah melewati suka dan duka pertentangan kedua keluarga mereka membuat keputusan untuk melarikan diri bersama-sama ke kota Mantua. Klimaksnya terjadi pada saat Juliet meneguk ramuan obat bius, berpura-pura tewas untuk memungkinkan Romeo datang ke makam dan pergi membawanya. Namun ketika Romeo sampai ke makam ia bunuh diri putus asa, berpikir kekasih yang dicintainya telah mati. Ketika Juliet terbangun, ia tersadar akan tragedi ini dan akhirnya ia pun menusuk jantungya.

Dua kekasih ini berasal dua keluarga yang paling berpengaruh di Verona, Montecchi dan Capuleti. Keluarga tersebut benar-benar ada di Verona pada awal 1300-an, dan konflik antara mereka benar-benar terjadi kala itu dan berseteru hebat sebagai musuh bebuyutan.

dsc005332

Ini adalah fakta yang sempat diterima atas semua cerita ini. Bahkan penyair Tuscan Dante, yang telah tinggal di Verona pada masa keluarga Capuleti dan Montecchi, menyebutkan dua keluarga tersebut dalam bukunya Divine Comedy. Selainnya, Romeo dan Juliet hanya legenda dan tidak ada dokumen sejarah yang mendukungnya.
Tetapi cerita kadang-kadang lebih kuat dari pada sejarah. Cerita perlambangan kekuatan cinta hingga  ke kematian tersebut sudah terlanjur melekat berkat legenda William Shakespeare. Dan Verona sang ibu kota musik dan puisi adalah kota yang memegang setting mitos romansa fiktif ini.

dsc004601

Pusat sejarah kota Verona, Italia, arsitekturnya ditandai dengan struktur kota abad pertengahan namun sangat romawi, berbekas guratan masa renaissance abad ke-17. Selain struktur perkotaan berupa tembok tinggi dan arena berciri roman ada juga beberapa gerbang kota seperti Porta Leoni dan Porta Borsari sebagai penanda jaman romawi.

dsc00463

Setiap tahunnya, jutaan pengunjung pergi ke Verona - kota keempat Italia yang paling sering dikunjungi, dan kedua di Utara setelah Venice. Umumnya pelancong tersugestif menuju plaza yang terletak di pusat kota, hanya untuk melewati Arena tempat gladiator dan mengambil gambar di balkon Romeo dan Juliet, serta meninggalkan tulisan dan surat-surat mereka di tembok rumah Juliet. Kisah Romeo dan Juliet sepertinya memiliki pesona yang tetap kuat apabila melihat ribuan orang menulis surat kepada Juliet setiap tahun dari mana saja di dunia.

dsc00510

Rumah Juliet adalah bangunan tahun 1200an, merupakan peninggalan berharga dari arsitektur gothic. Bila masuk ke dalam rumah bisa terus naik ke balkon yang terkenal. Sebenarnya, balkon adalah satu-satunya bagian yang cukup baru di bangunan ini, dibangun tahun 1937 untuk kepentingan pariwisata, dalam rangka memperingati renovasi rumah.

dsc00513

dsc005161

Di bagian sisi dalam (di bawah balkon) ada “halaman romantis” biasanya banyak kerumunan wisatawan melihat balkon atau masuk ke museum dalam rumah Juliet. Mereka biasanya menuliskan sesuatu di tembok pintu masuk, umumnya mengambil foto balkon dan beradegan foto memegang dada patung perunggu Juliet. Ini adalah tradisi / kepercayaan lama untuk mendapat keberuntungan terutama dalam hal cinta.

dsc00534

Kota Verona memang unik karena menjual citra legenda dan simbol sejarah dalam satu paket yang dikemas rapi. Cerita Romeo dan Juliet tentunya hanya salah satu sisi pertaruhan image kota, masih banyak tempat-tempat lainnya yang berkonsep berbeda misalnya arena gladiator, benteng dan bangunan berasitektur romawi lainnya.

dsc00536

Verona sangat sibuk dengan lalu-lalang turis yang tidak terputus sepanjang tahun. Turis datang cukup dengan seharian melintasi kota dan menikmati suasana, makanan, souvenir yang seluruhnya bernuansa romantis, dan tentunya objek wisata lainnya belatar alam dan bangunan romawi yang bersejarah. Sungguh sebuah industri pariwisata yang kokoh, terbangun oleh legenda pemfaktaan mitos dengan struktur kota abad pertengahan dan berlatar arsitektur romawi kuno kota Verona.

dsc005141

Jutaan pesan & nama tertulis di tembok rumah Juliet, dari dasar hingga langit-langit bak lukisan abstrak

228271_1937771958510_1068691817_2267179_6190047_n

(Tulisan di tembok rumah Romeo : oh where is Romeo.. I have lost myself, I am not here, this is not romeo, he’s some other where)

227122_219654844717059_100000176351031_1023005_1332013_n

dsc00518

Baca lebih lanjut : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

dsc00517


Civic Realism in Piazza San Marco May 10, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

dsc00555

A good place to start examining both the social and the physical aspects of viable civic places is Venezia with its Piazza san Marco. San Marco is one of the six sestieri of Venice, Italy, lying in the heart of the city. Piazza is the principal public square of Venice, where it is generally known just as “The Piazza”. The spaces in Piazza san Marco together forms the social, cultural life, religious and political centre of Venice. The Piazzas reflected and continues to reflect these relationships. The Piazza most likely mixed enterprise, involving both the government and civil society. It is one of the few great urban spaces in Europe where human voices prevail over the sounds of motorized traffic.

dsc00557

The design of open space, the architecture of the buildings, the provisions made for use and the general adornment were and remain clearly understandable without being seen as nostalgic, trivializing, or overly picturesque. The Piazza had and still has a “realism” that encompasses everyday life, occasional events and extraordinary celebrations.

Civic–Realism is a concept base on the belief that it is along the politico-cultural division between civil society and the state that the urban architecture of the public realm is the best place for civic expressions. Civic realism can be both inherent to the public realm in general as well as specific to particular times, places and arrangements between the states and its people through civil society. There is a relationship between urban architectural expression and democratic sociopolitical practices, ultimately arguing against the idea that as the world changes, so somehow organically does architectural expression.

227630_1624004931751_1585328555_31164184_296896_n

Both the physical character and program of the Piazza San Marco clearly reflected aspect of what might be looked for in good civic realism.

First, while expressing many changing aspects of government and civil society, certain long-lived and qualities remained common, thus providing a civic character for Venezia that markedly influenced generations to come by its tradition inheritance.

Second, the size, scope, grandeur, public iconography and program of the Piazza remains a constant remainder to future governments and societies of their civic responsibilities.

Third, the program, form and symbolism of the Piazza embraced everyday life, provided an appropriately formal setting for the government and projected a sense of civic well-being.

see more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

venice_panorama

yudi-piaza-de-marco-venice

Mengapa Arsitek Tidak Bisa Memprediksi Masa Depan? April 28, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

yudi

Abu Dhabi baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengubah dirinya menjadi semacam Arabian Left Bank, dengan tempat-tempat budaya yang dirancang oleh Zaha Hadid, Frank Gehry, dan Jean Nouvel. Sementara itu, Beijing tengah menikmati Stadion Olimpiade, sarang burung baja raksasa Jacques Herzog dan Pierre Meuron dan juga memiliki titanium-egg National Theater dari Paul Andreu, kemudian Rem Koolhaas dengan rancangan stasiun televisi unik yang penduduk lokal menjuluki “twisted donut. Boleh dikatakan ini sebuah kerajaan nisbi di teluk dan kekuatan negara komunis terbesar di dunia yang telah secara tak terduga menjadi lahan subur baru arsitektur avant-garde.

* Avant-garde * adalah istilah Perancis yang awalnya berarti pengawal tertinggi militer, yang pada akhir tahun 1800 dipakai untuk merujuk kepada pelukis perintis, khususnya impresionis, yang menganggap diri mereka berada di jajaran terdepan dalam hal seni. Sejak saat itu, konsep avant-garde” telah menjadi populer dalam arsitektur, dimana mainstreamnya telah menjadi istilah dari eksperimental, inovatif, atau cutting edge. Implikasinya jelas bahwa bangunan yang dirancang oleh arsitek avant-garde lebih maju dari waktu mereka saat itu. Tapi apakah sarang burung baja, titanium-egg, dan twisted donut benar-benar sebuah pertanda masa depan?

beijingstadium1-yudi

Dalam beberapa hal, istilah * arsitektur avant-garde * adalah sebuah oxymoron, karena arsitek tidak seperti pelukis, ia mampu bereksperimen hanya dalam waktu relatif sempit dan terbatas. Bangunan bernilai sangat mahal dan dibangun untuk bertahan dalam jangka waktu lama sehingga orang-orang yang membangunnya cenderung tidak mau mengambil resiko. Bahkan seorang arsitek yang hidupnya berada dijalan seperti pangeran putra mahkota Abu Dhabi, atau pemerintah Cina yang nekat untuk mengambil kesempatan tersebut, masih menghadapi keterbatasan peraturan bangunan dan bahan bangunan yang ada serta teknik pembangunannya. Belum lagi contoh bangunan sejenis yang belum pernah diujicoba sebelumnya.

Apabila sebuah bangunan berhasil memecahkan blue printnya hal itu belum menjamin bahwa itu adalah jalan terbaik, karena bangunan yang inovatif jarang mengantisipasi masa depan.

octo_pied_building_by_filthyluker-yudi

Bahwa sesungguhnya sebuah bangunan itu memiliki  waktu/jamannya sendiri. Pernyataan ini terutama ditujukan bagi arsitektur bangunan yang mencoba secara sadar ataupun sengaja untuk memprediksi masa depan. Karena waktu berlalu dengan cepat dan seiring itu perubahan juga tidak bisa diprediksi. Itulah sebabnya kalau kita menonton film sci-fi tua sering terasa lucu, itu karena masa depan ternyata tidak pernah seperti yang kita bayangkan. Sebagian besar bangunan memiliki ritme kehidupan antara 20 sampai 30 tahun, artinya makan waktu 20 sampai 30 tahun sebelum ia dianggap sebagai “kuno.” Ini tidak berarti bahwa bangunan tersebut menjadi jelek, atau tidak bermanfaat, atau tidak dihargai-hanya bahwa bangunan itu sekarang mewakili masa lalu. Kenyataan ini tidak selalu berarti buruk, karena justru akan membingungkan jika kita tinggal di lingkungan yang tidak pernah berusia.

Suatu hari, katakanlah pada tahun 2050, orang akan melihat Sarang burung Herzog - de Meuron’s, titanium-egg, dan twisted donut Koolhaas sebagai sesuatu yang lampau, dan berpikir, “Iya bangunan itu cukup baik untuk masanya, “atau,” Apa ya kehebohan dari bangunan itu dulu? “atau mungkin,” Oh kuno sekali ya”. Akhirnya, pertanyaan nyata tentang bangunan baru yang akan dibangun sekarang adalah bukannya “Apakah bangunannya berorientasi masa depan?” tapi “Apakah bangunannya baik?”

See more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Profesi ArSiTeK April 17, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

yudi-architect

Apa itu pendidikan PROFESI?

Profesi di Eropa dipahami dengan sangat sederhana tetapi dalam. Profesi dimengerti sebagai bentuk jasa yang diberikan secara langsung oleh orang yang memiliki profesi tersebut dan jasa ini berpengaruh langsung terhadap HIDUP/MATI manusia SECARA LANGSUNG. Mereka menghargai sebuah profesi dengan sangat seriusPilot, dokter dan perawat misalnya disebut sebagai profesi, karena jelas salah diagnosis/kalukulasi bisa menyebabkan manusia mati.

Pengacara adalah profesi, karena salah argumentasi orang bisa dihukum mati. Akuntan adalah sebuah profesi karena tanpa “uang” orang bisa mati. Makanya tentara pun di banyak negara maju dibilang sebagai profesi, karena jelas itu menyangkut hidup mati seseorang. Arsitek disebut sebagai profesi karena salah desain gedungnya bisa roboh atau tidak aman terhadap kebakaran. Dampaknya terhadap hidup mati seseorang adalah langsung. Hal ini tidak sama halnya dengan seorang ekonom atau sosiolog; karena jika terjadi kesalahan analisis dalam berprofesi, dampaknya terhadap hidup/mati seseorang tidaklah langsung.

Oleh karena itu, sebagai orang yang mengemban profesi Arsitek ada empat dimensi esensial disini: (1) sebagai professional ia memiliki tanggung jawab terhadap faktor “keselamatan” manusia; (2) disisi lain juga dibantu dengan “knowledge” yang untuk melakukan “perbaikan” agar “faktor keamanan” ditingkatkan; (3) untuk menghindari faktor kesalahan yang tidak diharapkan, sebuah profesi butuh perlindungan, pengawasan sekaligus peningkatan kualifikasi untuk meminimalisir resiko, disinilah masuknya peranan organisasi keprofesian ; (4) Jelas disini bahwa kenapa arsitek yang ingin ber-profesi (karena tidak semua akan jadi arsitek) oleh karena itu harus dikualifikasi.

yudi-architect

Pendidikan Profesi Arsitek untuk abad 21

Jika Indonesia ingin kembali mengintegrasikan pendidikan profesi kedalam sistim pendidikan S1 (4 atau 3 tahun), maka seyogyanya ada tiga dimensi strategis yang perlu diintegrasikan disamping pendidikan dasar sarjana arsitektur tersebut. Hal ini penting karena menyangkut kunci untuk mengemban tanggung jawab profesional di gerbang kesarjanaan. Dimensi strategis ini harus harus dikaitkan dengan labour competitiveness, baik lokal, regional maupun global. Penjelasan tiga dimensi itu adalah sebagai berikut:

1. Adaptabilitas global

Adaptabilitas global bertujuan untuk mendidik profesional arsitek agar bisa bekerja dimana saja di dunia ini; dan juga memiliki standard internasional yang kompetitif untuk mengerjakan proyek-proyek internasional yang masuk ke Indonesia. Pertama, lebih dari 15 tahun terakhir kita sudah melihat arsitek kita bekerja di Singapore, Dubai, Bahrain, Hong Kong, USA dan Eropa. Mereka harus berjuang sendiri tanpa dipersiapkan agar bisa bekerja dalam level global semacam ini. Kedua, kita juga perlu mempersiapkan diri agar bisa juga menawarkan kualitas profesi arsitektur dalam level internasional untuk bisa mengerjakan proyek-proyek internasional di negeri kita sendiri. Jadi level professional kita bukan saja mengerjakan proyek yang lower-mid scale tapi juga yang mid-upper scale di Indonesia sendiri. Jadi harus vice-versa.

architect-yudi-nugraha

2. Penguasaan Teknonologi

Adaptasi global sangat menekankan pentingnya kedisiplinan waktu, kualitas detail dan akurasi proyek. Sudah jelas, kita membutuhkan juga pengusaan teknologi yang bisa mendukung profesi arsitek. Tentu saja bukan saja berhenti ditingkat penguasaan teknologi visual dan grafis, tapi banyak alat-alat bantu teknologi baru dan orang-orang lintas disiplin ilmu yang jasanya bisa diintegrasikan kedalam proses desain arsitektur. Bantuan teknologi dan kolaborasi lintas ilmu saat ini akan sangat membantu kekuatan kompetisi, mengurangi resiko kedepan, mempercepat waktu pengerjaan proyek dan meningkatan optimalisasi produk desain yang dihasilkan.

3. Pemahaman Sustainability

Saat ini, masyarakat dunia dihadapkan pada masalah lingkungan yang sangat serius. Kita tidak lagi bicara seperti di tahun 70an, konsep dan visi legal-ilegal tapi kita dihadapkan kepada kenyataan timpang ekosistem yang semakin hari semakin menjerat. Lingkungan binaan yang dikreasi arsitek adalah salah satu kontribusi terbesar terhadap masalah lingkungan hidup. Jarang sekali proyek skala internasional saat ini yang tidak menekankan pentingnya issue sustainability (jangan tanya yang di dalam negeri). Pemahaman mereka bukan saja berpijak dari titik tolak “hard core ecology” tapi juga mencari solusi-solusi dengan bantuan inovasi teknologi (green technology).

Banyak proposal proyek yang harus di-diskualifikasi atau mengalami evaluasi berulang kali hanya karena proposal mereka dinilai tidak/kurang “sustainable” . Waktu dan energi terbuang cuma karena proposal itu dinilai tidak memiliki “knowledge” tentang pembangunan berkelanjutan. Jika seorang profesional dipersiapkan dengan dimensi “sustainability” ini, artinya banyak hal yang bisa diantisipasi dalam berpraktek untuk mengurangi resiko-resiko diskualifikasi atau evaluasi negative dari komisi penilik. Pemanfaatkan waktu akan lebih efektif dan efisien; dan seperti itulah salah satu dimensi kompetitif profesionalisme yang harus dibangun. Ketiga dimensi ini, saya pikir harus dijadikan sebagai “knowledge” yang harus dilatih secara sistimatis untuk meningkatkan “skill” desain melalui desain studio. Dan masih banyak pola dan skenario yang bisa kita bicarakan secara detail bagaimana menjalan desain studio Arsitektur.

For More : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Ayo Up-grade diri, demi Negeri April 3, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

hardworking

Ditengah arus globalisasi rakyat di negara berkembang yang berharap segera maju seperti di Indonesia perlu menengok kembali ke dalam dirinya..apakah ia sudah berdiri tegar, masih merangkak ataukah sudah tergilas. Kemampuan daya saing SDM Indonesia yang sudah masyhur akan kekuatannya tetap hanya menjadi potensi tanpa ada implementasi yang berarti. Apakah adayang salah dengan sistem, alat, dan bahan dari orang-orang di negeri ini? Harus diakui bahwa agak miris jika akhirnya harus membanding-bandingkan SDM negara-negara maju misalnya US dan Eropa yang lebih maju 10 tahun dalam berbagai hal, utamanya dalam sains dan teknologi. Padahal dari berbagai penelitian terlihat bahwa sesungguhnya yang namanya manusia Indonesia itu tidak kalah cerdas dengan orang dari negara manapun, tapi mengapa tidak optimal, tidak merata, tidak maksimal, tidak berkesinambungan, dan tidak memuaskan seperti seharusnya?

Terlepas dari konsep strategi negara-negara maju yang dengan halus merintangi penguasaan teknologi tinggi yang dikuasainya bagi negara-negara berkembang, secara internal kemampuan teknologi manusia Indonesia bisa dikatakan memang rendah. Kita belum mampu merumuskan teknologinya tetapi baru bisa merakit produknya. Tetapi yang lebih mengkhawatirkan bukanlah kemampuan teknologi yang rendah itu, melainkan kurangnya kemauan untuk menguasai teknologi itu. Kemauan kita lebih tertuju untuk menikmati hasil teknologi itu, sekalipun harus dengan mengimpornya. Hal ini berbeda dengan orang Jepang. Apabila mereka melihat barang baru, mereka ingin membuatnya sendiri. Pada awalnya mereka meniru dulu. Tetapi kemudian dengan inovasi dan penemuan baru mereka dapat membuat yang lebih baik dari yang asli.

up-grade-diri

Adanya perbedaan dalam kemampuan ilmu pengetahuan pada umumnya dan teknologi pada khususnya antara negara maju dan negara berkembang seperti Indonesia, berarti bahwa arus informasi juga dikuasai oleh negara yang telah maju. Hal ini mengakibatkan perbedaan besarnya arus energi dan materi. Sumber daya yang ada dinegara berkembang dieksploitasi dan mengalir ke negara maju. Oleh sebab itu untuk bisa memposisikan diri, manusia Indonesia harus meng-up grade kemampuan teknologi melalui 2 cara. Pertama, dengan membuka arus informasi dan menguasai sistemnya agar teknologimya bisa mengalir. Kedua, tetap menggalakkan produk sederhana yang tepat guna baik untuk kebutuhan rumah tangga, industri kecil maupun sektor informal lainnya. Inovasi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat langsung akan sangat membantu kemajuan lokal. Setidaknya, dalam diri setiap individu hendaknya selalu ada inisiatif, mulai dari yang kecil disekitar kita dan waktunya adalah saat ini..tanpa menunda lagi.

catreadingbook

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Suka-duka mengurus IMB di Jakarta March 3, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 8comments

2002070100460901

Mengurus IMB di Jakarta bukan perkara mudah. Ada berbagai cerita unik (walaupun  sudah klasik ) yang sebenarnya tidak mengherankan lagi bagi orang Indonesia. Mungkin hal ini tidak semata karena sistem administrasi birokrasi  oleh  sebab proses tersebut melibatkan peorangan juga. Tapi dibalik semua rangkaian cerita tersebut ada pengalaman berharga yang patut kita renungkan sebagai anak bangsa.

Inggriani :

Ini pengalaman mengurus IMB sendiri, Saya pernah mengurus iMB untuk renovasi rmh saya sendiri dengan tambahan 50 m2, dimana seharusnya yg di retribusi hanya 50 m2 (?) Ternyata saya hrs membayar Rp.3.5 juta. Waktu saya minta daftar retribusi yg resmi, oknum tsb mengatakan bahwa yg resmi memang beda, kalau tdk 3.5 ya tidak diurus.
Sbg catatan lokasi rmh saya di Jakarta Barat. Dan yg membuat saya bertambah heran, gambar yg sdh digambar rapih dg autocad, digambar ulang manual???
Dan ketika retribusi resminya keluar, ya memang hanya untuk yg 50 m2 dan hanya sekitar 100 ribuan.

Erlina :

Saya sedang mengurus IMB untuk renovasi rumah dengan luas tambahan sekitar 60 m2. Lokasi rumah di Bintaro Jaya,Tangerang. Saya sudah iseng menanyakan pada ‘oknum’ aparat’..keluar angka 5,5 jt tanpa kejelasan untuk biaya apa saja. Pokoknya beres bu semua katanya. Loh??
Tapi saya berniat mengurus sendiri. Mari kita lihat berapa angka yang keluar..hehehe..
Jangan2 lebih besar dari 5,5jt..

Mike Surya :

Saya juga pernah mengalami hal serupa..lagi mengurus IMB wsd di ancol..mencoba berniat urus sendiri..sampe begah rasanya bolak balik kecamatan,dll..dan biaya yg dikenakan (pungli) masih tetap tdk terkontrol..semaunya si pejabat terkait yg mengeluarkan tanda tangan dan stempel..tampaknya pesimis saya,bila apa yg dijanjikan dari pejabat dpt terlaksana dgn baik..

Kebetulan saya sekarang lg mengurus juga sendiri, kaget bukan kepalang, dikasih angka sama oknum untuk wsd di ancol 50jt..padahal persyaratan admin-nya lengkap..saya urus sendiri, kemungkinan masih di angka 23jt..itupun dgn alasan..planning harus digambar lagi..sudah lebih dr 5 thn katanya..jadi tidak berlaku lg…kemudian untuk imb kena 10jt, dan terakhir pengawasan dan pelanggaran dikenakan lg 10 jt..katanya banyak “mulut” yg harus ditutup..ckckck..
Padahal penambahan bangunan 100 m2..
Sekali lg..tanpa harap banyak2..tapi kita ikuti permainan mereeka dgn alasan mereka ada2 aja..(Krn kita btuh)..

Sony Sutanto :

Saya punya kawan  yg dikerjain kecamatan krn imb nya gak keluar2 dan dia membangun berdasarkan ip dan sdh punya plang kuning. Dia lapor ke dinas, trus di ping pong .

Saya juga pernah dtg sendiri, ke sudin perijinan, sudin pengawasan, bawasko dlsb. Ujung2nya setiap saya mau menghadap, pejabatnya hilang ditelan bumi… Cari waktu ketemu berbulan2. Itupun jawabannya, akan kami pelajari,dll dlsb. Unt proyek komersial yg berhitung biaya bunga bank dsb, ini sangat merugikan.

Ariko Andikabina :

Saya pernah mengalami hal serupa, salah satunya bahkan pernah ikut konsultasi di TPAK (walau sekedar rumah tinggal kecil dan bukan pada kawasan pemugaran). Alhamdulillah IMB keluar sesuai dengan gambar yang diajukan, dan prosesnya memakan waktu 1 bulan. walau dalam pergub 85 tahun 2006 disebut izin harus sudah terbit selama 10 hari kerja.

Menurut saya yang menjadi kunci adalah pengetahuan kita mengenai aturan.
Beberapa kali saya membawa berkas peraturan ketika berhadapan dengan petugas kecamatan maupun sudin dalam rangka mengurus izin. ada reaksi yang agak mengelikan dari petugas sudin peizinan ketika saya menunjukkan berkas peraturan, “wah bapak tidak boleh pegang aturan itu, karena aturannya itu hanya untuk internal”
yah begitulah…
rasanya kita bersama perlu berjuang, kalau kita justru ikut larut dalam sistem yang bobrok mungkin masa depan kita akan lebih suram.

for more : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Cerita dibalik Rancangan February 26, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

foster-1

Setiap perancangan atau desain dalam arsitektur menghadirkan ceritanya masing-masing; cerita petualangan idealisme, cerita penjelajahan ilmu pengetahuan, cerita conflic of interest to win-win solution, cerita drama tenggat waktu dan beragam cerita lain hingga menjadi untaian cerita pembelajaran.. Cerita berawal pada keterbatasan yang kadang membuat kebebasan berarsitektur terbatas hanya pada ekspektasi individu. Mencoba mencari dunia yang lebih luas yang menawarkan kebebasan. Dunia rancang-merancang menawarkan kebebasan dalam ekspresi berarsitektur, untuk sejenak merasa bebas dalam arti yang sebenarnya.

Cerita berlanjut kepada drama-drama menakjubkan dibalik pengerjaan tiap - tiap rancangan yang berbeda, dari brain storming concept hingga pasca desain itu sendiri. Cerita bersambung terus karena kita masih terus berkompetisi dan sampai cerita ini bergulir kiranya mampu sedikit memberi motivasi berkompetisi mewujudkan imajinasi. Perancangan menawarkan dunia idealisme yang luas, suatu barometer kemampuan, suatu pelarian menyenangkan yang berdasar pada subyektifitas untuk sebuah objektifitas. Menjadi suatu wadah yang menampung cara pandang terhadap arsitektur, lansekap, negara, dunia bahkan alam semesta.

A little tale about encountering with design ..

Every design in architecture brings its own stories. Tales of idealism, exploration of sciences, conflic of interest to win-win solution deadline drama, and other stories blend into one big adventure of discovering new point of views. The story begins from a limitation, which often restricts the architecture to individual expectations. This leads to trying to find a wider world that offers freedom. The design scene offers more freedom in architectural expression, to shortly feel freedom in a real sense. It continues to amazing behind the scene stories of the different design, from brainstorming, concepting, designing, to post-design.

architect1

The story continues, as we are still actively entering the design world, and hopefully this story can motivate to enter more designs. Design offer a broad world of idealism, a parameter of the skills, a fun escape based on subjectivity. It is a room to express the vision of architecture, landscaping, our nation, and even of the universe.

For more :

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Green-Building were always identic to a tree? February 21, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 47comments

green-architectures-275x300

Buildings today account for 40% of the world’s energy use and the resulting carbon emissions are substantially more than those in the transportation sector [WBCSD, 2009].

To achieve an energy efficient world, governments, businesses and individuals must transform the building sector through a multitude of actions, which include increasing energy awareness globally, and improving building energy codes, labeling and reporting mechanisms, appropriate energy prices and carbon costs, investment subsidies, increased and trained workforce capacity, and evolving energy-efficient designs and technologies that use passive and active approaches [WBCSD, 2009].

The building sector has the greatest potential to reduce CO2 emissions. Currently, 30% of global CO2 emissions and 40% of global resource consumption is a result of constructing buildings (PE International)

Green building (also known as green construction or sustainable building) refers to a structure and using process that is environmentally responsible and resource-efficient throughout a building’s life-cycle: from siting to design, construction, operation, maintenance, renovation, and demolition. This practice expands and complements the classical building design concerns of economy, utility, durability, and comfort.

Sustainable Building means to construct and manage buildings in an economic way that hinders environmental burdens and conserves resources. Thus, a sustainable building contributes to the protection of human health, and social as well as cultural values.

…as the year of 2011 claimed as the green-building era applied on eco-arhitecture with green-technology .. the question arise for the architect then..

… were Green-Building always identic to a tree? …


seattle-tree-house-architectural-designers1

The 4Treehouse by Lukasz Kos floats like a “Japanese lantern on stilts” and is situated to accommodate four existing trees on the site. As with the best tree house designs, this project successfully worked around the existing natural site conditions. The three-story house itself rents suspended from these four primary site trees.

d97bf37ce0kyungam-architects-jeju-world-natural-heritage-center-500x3211

South Korea ’s Jeju Island. Known for its outstanding aesthetic beauty — it’s an area that bears testament to the compelling natural history of our planet. Listed as a UNESCO site, the island will soon be host to a new World Natural Heritage Center.

greenit1-thumb

Cyber Park in Gurgaon, India. The external walls will clad to reflect the sun and insulate the interior work areas. Natural light will shine into working areas without heating up the structure, which reduces the need for lighting during the daytime. Terrace gardens in the sky courts will help to cool the interior, and will be irrigated by the structure’s water recycling systems.

symbiotic-green-wall_2_hr8sk_691

Designed by Kooho Jung and Hayeon Kelly Choi the Symbiotic Green Wall is a conceptual double-layered wall system that collects, filters and distributes rainwater and wastewater within the construction site.

galije-resort-hidden-under-grass-mvrdv-61

Galije Hotel, located on a parcel of untouched coastline land, the resort is envisioned as a way to combine exclusivity with a responsible, sustainable embedding of the structure in its surrounding landscape. To be located in Montenegro, the grass-clad hotel seems to blend in seamlessly with its surroundings.

lar-sustainable-office-residential-building-large1

Mayan pyramids. The structure located in the city of Merida, Mexico, includes both residential and office spaces. The building was developed in a way to increase the facade per square foot for each dwelling. A number of green features allow the structure to cut the level of power used.

lh5lh1

Leaf House is a pavilion for a private residence in northern Sydney, Australia.  A design by the London-based firm Undercurent Architect the Leaf House engages its surrounding vegetation and terrain.  The roof is formed by giant overlapping leaf shapes, held up by twisting , trunk-like steel beams.

1258479562-gimpo02-528x396

Situated on the southern bank of the Han River, Gimpo is a city in the process of transforming from an agricultural economy toward a consumer-based economy The proposal for the Gimpo Art Hall 2010 embraces the city’s status as an emerging regional hub while reflecting upon history and local environment. Called Gimpo Art Hall, the design is inspired by the image of a tree, symbolising the area’s agricultural history.

lifewall

Spanish company Ceracasa recently debuted a new spin on the vertical garden: Lifewall, a tile-based system designed to absorb pollution and convert it to fertilizer that feeds drip-irrigated plants. The square-meter-sized tiles can be arranged on a building’s facade in any pattern, and come in white, ivory, tobacco, and various shades of grey.

concephqed01

Office of Enrique Browne Arquitectos in Chile and makes use of a leafy green facade overflowing with bougainvillea, jasmine, and plumbago. the office is comprised of three elements. A vertical green wall that is constructed from wood which also shields the structure from the north, east and west and acts a double green skin that insulates the the interior.

mcageneral1

The Centre for Sustainable Energy Technologies (CSET) at the Nottingham University campus in the Zhijiang district, China, is an aesthetically pleasing low carbon design, utilizing a five-point sustainable environmental design strategy. Designed by Italian Architectural firm, Mario Cucinella Architects, the 1,300m2 building provides laboratory, office and seminar space; and has been designed to serve as an exemplary building, demonstrating state-of-the-art techniques for environmentally responsible, sustainable construction and energy efficient internal environmental control.

There are a number of motives to building green, including environmental, economic, and social benefits. However, modern sustainability initiatives call for an integrated and synergistic design to both new construction and in the retrofitting of an existing structure. Also known as sustainable design, this approach integrates the building life-cycle with each green practice employed with a design-purpose to create a synergy amongst the practices used.

Green building brings together a vast array of practices and techniques to reduce and ultimately eliminate the impacts of new buildings on the environment and human health, not just in the model design. What ever the technique it should emphasizes taking advantage of renewable resources, e.g., using sunlight through passive solar, active solar, and photovoltaic techniques and using plants and trees through green roofs, rain gardens, and for reduction of rainwater run-off. Many other techniques, such as using packed gravel or permeable concrete instead of conventional concrete or asphalt to enhance replenishment of ground water, are used as well.

For more:

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

di serpihan Paris … February 11, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment
dsc00223
Pantheon Sorbonne 2010 (photo: ydnugra)

I arrive in Paris…

and I listen, hmm.. it feels good to hear the everyday French language of my childhood imagination,

Le “Bonjour Monsieur” claimed loud and clear at the bakery by the “patronne “… behind the counter.

Le “ et ce sera quoi pour vous monsieur “ du garcon a la terasse du cafe, moving rapidly in between the table,

long white apron, tray in hand and shaking the change in his pocket…

Or …”attention monsieur” said rapidly by the delivery guy or the sanitation guy… ,o la la

This mixed with the smell of coffee and bread.. really makes me really feel different from home.

ancore… Découverte de Paris à de très belles images..

On last holiday I decided not to take TGV, but try something else a little bit adventurous..yes, le voyage avec le covoiturage.. after 4 hour riding in covoiturage I finally stopped in Belleville, a Parisien Islamic community and famous with its moslems stuff. Amazingly confortable.. a lot of masjids arround, filled like in home! Everytime I’m in Paris I always went to there surely after the embassy in line to start my jouney near the Eiffel Tower of the Arc de Triomphe, taking metro to the Louvre Pyramid and spend my whole day wandering around and making my way to Notre Dame and having pictures in the area. After meet a friend near Sorbonne then I stop on the Metro and make my way back to the Trocadero to watch the Eiffel Tower light up. Then, back to the hotel to rest my feet and have a good sleep before getting up to spend another exciting day…pour redécouvrir Paris sous un autre aspect.

Voila..,  Exceptionnel…

For more :

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Memaknai Ruang … (sebuah arung renung ruang) February 1, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

17-must-see-eiffel-tower_picnik

Di Paris ada sebuah jalan;
pada jalan itu, ada sebuah rumah;
pada rumah itu, ada sebuah tangga;
diatas tangga itu, ada sebuah ruangan;
dalam ruangan itu, ada sebuah meja;
diatas meja itu, ada sebuah kain;
dibalik kain itu, ada sebuah sangkar;
dalam sangkar itu, ada sebuah sarang;
dalam sarang itu, ada sebutir telur;
dalam telur itu, ada seekor burung.

(Lagu anak-anak dari Les Deux-Sevres – lagu tentang `Paris dan Burung`)

Lagu ini telah mengilhami kita tentang dialog konektifitas ruang-ruang dalam sebuah `endless space` - imaginasi tentang ruang yang dilebur dalam lagu ini adalah sebuah leburan fisik yang kasat mata. Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang - telur - burung adalah sesuatu yang secara fisik dapat dilihat dan mereka menunjukkan keterangkaian menjadi ruang yang lebih besar. Georges Perec mengatakan: “kita hidup dalam ruang, dalam ruang-ruang ini, ada kota, ada desa, ada koridor, ada taman dan ada yang lain-lainnya…mereka secara fisik dapat dilihat dan dirasakan”.

Pada sebuah cerita yang berbeda, didalam sebuah tulisannya “The Page”, Georges Perec menggambarkan :” Saya menulis, saya menjejakan kata-kata dalam sebuah (ruang) halaman …”. Keterangkaian huruf dan spasi membentuk keruangan, diantara kata-kata ada spasi – ada jarak – ada ruang yang terbentuk – dengan kata lain untuk mengerti tentang ruang, kita harus mengerti tentang konsep `spasi ` – spasi adalah ruang - spasi diantara tulisan-tulisan dalam selembar kertas. Ketika seorang arsitek menuliskan (baca : merancang) tentang sebuah rumah, si arsitek mulai mencoba menuliskan: Foyer – R.Tamu – R. keluarga – Km.Tidur – Dapur – KM/WC – Km. Pembantu … dan ruangan-ruangan ini adalah keterajutan tentang `ruang sebagai ruang` (space itself – misalnya : sebuah ruang untuk tidur, untuk memasak, untuk berkumpul, dll) dan `ruang _(spasi)_ ruang` (space as bar – misalnya : dari R. Tamu _ (ke) _ R. Keluarga) dan serta koneksitas ruang -ruang (space as knot), yang dalam wilayah yang lebih besar membentuk cerita tentang sebuah rumah. Lagu yang menceritakan : Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang – telur - burung adalah juga sebuah `rumah besar` yang membentuk ruang- ruang lainnya dalam setiap lompatan spasinya.

Dalam sebuah contoh lainnya, Robert Sack melihat sebuah ruang bagi masyarakat primitive adalah : “Ruang adalah tanah dan tanah bukanlah sebuah benda yang dapat dipotong-potong dan menjualnya sebagai sebuah parcel….manusia memiliki kedekatan terhadap alam dan berhubungan dengan tanah tempat mereka hidup ….tanah adalah milik bersama, tanpa ada yang mengklaim tanah sebagai milik pribadi…tanah adalah sebuah tempat yang memiliki relasi sosial”. Ruang Primitive dalam versi Robert Sack menggambarkan tidak ada ruang abstrak di luar sebuah tempat dan tidak ada tempat diluar masyarakat – mereka terkait dalam sebuah tananan keruangan. Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar - sarang – telur - burung (dari lagu diatas) adalah potongan-potongan ruang yang tidak dapat `diperjual-belikan` dalam bagian-bagiannya. Tempat (Paris) sebagai place dan Rumah (dengan ruangan-ruanganya) sebagai room menjadi multi simbiosis. Mereka membentuk ruangnya sendiri dalam koneksitas keruangan yang kompleks dinamis. Kelihatannya, sebuah ruang lahir karena ada ruang-ruang lainnya, yang kemudian ruang itu membentuk sebuah kegunaan dan ketersambungan dengan ruang-ruang yang ada sebelumnya, karena mereka (baca: ruang-ruang) tersebut saling terajut dalam kekompleksitasan bukan hanya pada kaedah fisik tetapi sosial bahkan mental didalam lapisan layer-layer keruangan.

Plato mengungkapkan dalam meruangkan ruang, berarti kita mencoba memaknai bahwa sebuah ruang hendaknya hadir sebagai yang pertama bahkan sebelum sebuah aksi kreatif terhadap ruang itu dimunculkan. Kemungkinan muncul aksi kreatif terhadap sebuah ruang akan membawa pada pengertian ruang tumbuh dalam perbedaannya sepanjang sejarah ruang itu sendiri (baca: ruang baru selalu muncul karena adanya aksi kreatif). Ruang membangun dirinya sendiri dari pengalaman dimana ruang telah dilalui oleh penggunanya. Memaknai ruang artinya memaknai aksi kreatif terhadap cara meruangkan ruang dan memwaktukan waktu. Ruang membentuk pengalamanan dan pengalaman membentuk ruang.

Herman Hetzberger mengatakan bahwa membicarakan ruang adalah membicarakan tentang berapa luasnya limit dari berbagai kemungkinan yang membangun pengertian ruang itu sendiri. Herman Hetzberger melanjutkan ruang ada didepanmu, bahkan diatas serta dibawah dirimu, ruang memberikan anda kebebasan pandangan dan pandangan tentang kebebasan. Terkadang kita menemukan sebuah ruang yang tidak terduga bahkan terkadang sulit untuk didefinisikan. Ruang adalah ruang, terkadang kehadirannya di luar jangkauan. Memaknai ruang berarti memaknai kehadirannya dengan coba menggambarkannya.

Cerita tentang : Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang – burung adalah cerita tentang bagaimana kita memaknai ruang. Pertama : Ruang dapat dirasakan secara fisik (space as room – rumah adalah sebuah room). Kedua, ruang juga terkadang menceritakan kekosongan (space as void - misalnya paradigma keruangan dari seekor `Burung` pada sebuah `Rumah` yang ada di sebuah `Jalan` di kota `Paris`, tentunya diantara mereka (secara sadar dan tidak sadar) telah terbangun semacam spasi – spasi keruangan dalam kaedah fisik – sosial dan mental). Ketiga ruang yang satu dengan ruang lainnya terkadang membentuk jarak (space as distance – misalnya nilai relativitas pergerakan dari seekor `Burung` yang berterbangan di atas `Rumah` pada kota `Paris`, udara dan darat adalah Jarak keruangan yang terbentuk). Keempat, ruang adalah sebuah tempat (space as place – misalnya Paris adalah sebuah Tempat bagi sebuah Rumah dan seekor Burung). Room – Void – Distance dan Place adalah cara kita memaknai ruang dalam Lagu `Paris dan Burung` dan jangan-jangan lagu tentang `Paris dan Burung` telah dapat menjelaskan apa yang dipikirkan `Plato dalam Timaeus-nya` dan `Aristotles dalam Physic-nya` tentang Memaknai Ruang.

for more:

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Amazing Intersections In The World January 28, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far
There is a difference between “going mental” and making mental calculations how to get out of this traffic mess… at least we hope there is.

The complexity of modern interchanges can be daunting. Here is an exaggerated vision of what the future may look like:

(image credit: Syd Mead)
And this is present day in Japan (does that make your heart beat faster?)
But here are a few more that definitely ask to be included into the
“Most Complex Junctions” Hall of Fame:

- Shanghai, China
(see that little circle on the side: this is a trap for amateur drivers, in which they swirl around forever)

- Taganskaya Square, Moscow
(shaped like a huge dumb loaf of bread… and just as unpalatable)
- Tokyo, Japan
(this one’s actually quite elegant)
- Arc de Triumph, Paris
(Place Charles de Gaulle - pretty much free-for-all there)
- Nice Chicago arrangements:
- You also gotta love this one in Minneapolis:
(between 35W and 94)
- Golden Glades interchange in N. Miami Beach, FL.
- Looking like some strands of yarn: Rt. 440 in New Jersey:
- Magic Roundabout

Something to shock you into disbelief, and leave you utterly shattered: getting in and out of the “magic mushroom circle” in England:

- China is at the forefront of traffic circles (and spiral bridge approaches), as well:
Some vintage visions of intersections

Little did the urban planners of yesteryear and futurist designers imagined how complex our traffic infra-structure would become. The closest perhaps was the “Futurama” display in the 30s:

Looks actually quite orderly:

There is a highway in my basement

Another solution for the busy intersection: put a “traffic-control” tower smack in the middle (and on top) of it!

This strange concoction comes from “Modern Mechanics” 1932 issue and is called “Safety Tower” - basically a multi-level interchange, with space above it used for businesses and entertainment (including air traffic control beacons!)

(image credit: Modern Mechanix)
Amazingly, same idea came to Russians recently, as they put a huge “flying saucer” mall on top of major intersection: see here
and of course, a humorous solution (that might just work in Russia, who knows)
Railway intersections: “Diamond Crossings”
Quite a few of them can be found in US, but not that many in the rest of the world. US railway companies liked this kind of intersection which does not allow a train switch to a rival company’s tracks.
Here is a couple: in Poland and Russia:

Beda antara Bangunan dan Arsitektur January 24, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

giusto-utens-palazzo-pitti

Bangunan sebagai produk manusia yang paling kasat mata sering dipolemikkan dengan makna arsitektur. Khusus di negara-negara berkembang bangunan kebanyakan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan-bangunan yang memiliki makna budaya atau politis yang penting. Kondisi inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. yang rumit atau

Pada masyarakat awam, mereka lebih memahami arsitektur sebagai sesuatu yang berhubungan dengan merancang bangunan. Oleh karena itu seringkali mereka mengaitkan arsitektur dengan bangunan dan tempat tinggal. Sebenarnya pemahaman mereka tidak salah, hanya saja masih belum tepat, karena arsitektur mencakup banyak hal tidak hanya pada seputar merancang bangunan. Arsitektur meliputi cakupan materi dan imateri yang luas dan arsitektur pun dapat dimanifestasikan dalam berbagai hal, seperti arsitektur sebagai sebuah simbol, arsitektur sebagai sebuah ruang, dan sebagainya. Akan sulit memang bagi masyarakat untuk dapat memahami arsitektur dengan benar-benar tepat, karena selain arsitektur merupakan sesuatu yang kompleks untuk didalami juga adanya pengalaman empirik masyarakat pada umumnya yang kesehariannya dekat dengan materi arsitektur berbentuk bangunan. Dalam pengalaman keseharian mereka ada kesan-kesan yang mungkin sebelumnya telah berakar sugestif ataupun dogmatis jika berbicara tentang bangunan. Pada kenyataannya, bahkan bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang arsitektur itu sendiri pun belum tentu dapat mendefinisikan arsitektur dengan tepat, terutama bila dikaitkan dengan kata “bangunan”. Kondisi ini juga mungkin yang kurang mendukung komunikasi dan pemahaman tentang arsitektur kepada masyarakat awam.

Pandangan Rob Krier (1982) tentang arsitektur dan bangunan menyatakan bahwa bila bangunan merupakan perwujudan dari karya arsitektur maka elemen dasar yang berkaitan dengannya ialah bagaimana cara kita membuat atau merancangnya. Bangunan yang dihasilkan dari suatu gubahan arsitek menjadi karya arsitektur tidak lepas dari unsur fungsi akibat adanya kegiatan dan pengguna yaitu manusia. Louis I. Khan menjelaskan konsep ini dengan suatu teori berupa ‘form follow function‘. Ini diartikan bukan sekedar pengertian dangkal bahwa bentuk bangunan terwujud dari fungsi semata. Ini menjelaskan bahwa hasil akhir dari suatu ‘bentuk‘ itu keluar akibat analisis dari suatu proses berpikir dan penguraiannya kembali. Berkaitan dengan program pembentuknya, baru jalinan penguraian tersebut disinergikan kembali dan disintesiskan untuk menentukan wujudnya atau ‘shape‘–nya.

for more :

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Choosing the choices January 7, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

online-business-choices

We’ve all been there. Standing in the cereal aisle looking at a massive and colorful array of delicious cereal brands, we crack under the pressure of having to make a decision. Or maybe you hear the dreadful words “next” at the fast food restaurant as you tirelessly peer over the menu, struggling to make a decision. Under the stress of time and controversy, we inevitably choose the old standby. Sometimes, forced into a decision, we choose the cheapest option, without regard to quality. But, how about to choose the way of life? Isn`t we really have to be very carefull?

Many models of things are now available with good offer at a competitive price. As well as many kind of way lifes  offered with  good or not so good aims. So remember, when looking for your things, be aware of your needs and compare prices and quality to make the best decision.

Menyoal Filosofi Manusia January 4, 2011

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

rodin2

Alasan mempersoalkan filosofi manusia ini semata karena manusia makhluk yang memiliki kemampuan, hak istimewa, dan punya sesuatu urusan di bumi. Dari sana lahir keinginan atau dorongan dalam manusia itu sendiri untuk membongkar filsafat keberadaannya, yang menurut perkiraan Socrates sebagai : “Kenalilah dirimu sendiri”.

Tidak sampai disitu saja, manusia penasaran untuk dapat mengenal dan mengerti segala hal, paling tidak mengenali dan mengerti dirinya sendiri agar dapat mengatur sikap dalam hidupnya. Tetapi tentunya untuk dapat mengatur dirinya sendiri, membedakan apa yang baik dan apa yang buruk manusia harus mempunyai pandangan yang cukup tepat tentang apakah hakiki sifat manusia itu, kemampuan apa yang dimilki oleh sifat manusiawinya itu dan apa yang dicita-citakannya. Apakah yang mengembangkannya serta menyempurnakannya? Pertanyaan sederhana ini muncul karena manusia bersifat pribadi yang mempunyai martabat dan tidak bisa diperlakukan sebagai suatu benda atau dipergunakan sebagai suatu alat.

Memang sulit untuk menjawab ke-“apa”-an manusia dari konteks filosofi manusia ini …

Bagi Plato dan Plotinus manusia ialah suatu makhluk ilahi. Bagi Epicurus dan Lukretius sebaliknya manusia adalah suatu makhluk yang berumur pendek, lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Kalau Descartes berpikir bahwa kebebasan manusia itu dalam beberapa segi sama dengan kebebasan Tuhan, maka Voltaire menyokong pendirian bahwa manusia itu pada hakikatnya tidak berbeda dari binatang-binatang yang paling berkembang dalam ilmu hayat. Hobbes, berpendapat bahwa manusia itu secara daya geraknya bersifat agresif dan jahat, sedangkan Rousseau menganggapnya baik menurut kodratnya.

Dengan melihat fakta-fakta tersebut , maka dapatkah kita percaya apa yang dipikirkan para filsuf terkenal tersebut tentang filosofi manusia?.

Filosofi manusia, seperti halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia, rupanya menduga bahwa ada watak-sifat manusia, suatu kumpulan corak-corak yang khas, suatu rangkaian bentuk dinamis yang khas, yang terdapat secara mutlak pada manusia. Dugaan ini tampaknya telah digambarkan seperti keragaman pemikiran para fisuf tersebut. Bagi mereka pemikiran ataupun teori yang mereka bangun sangatlah mutlak. Ini sebuah keyakinan intern yang muncul dari watak-sifat manusia, suatu kumpulan corak-corak yang khas, suatu rangkaian bentuk dinamis yang khas.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Space Production in Indonesian’s Representational Spaces August 23, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

city-22

Space in modern society has changed from regularity to a product of unpredictable in a virtual awareness. The change gives particular influence toward space concept, structuring its own character which changes spatial physicly and also idea abstractly. The latest structured phenomena is an effort to expand physical, mental and social space. This context brings unpredictable influence in space production process.

In Indonesia, coastal area for example is a spatial practice that is sensitive toward production acts. Acts on those physical level reaches expansion level for mental and social space. A spatial disorderness is related to uncontrolled space production act of individu. This action is related to interaction product in social.

An uncontrolled space comes from individu as production subject. The individu ever has logical thinking to elaborate a condition to be planed. But a logical outcome will be interupted by a consideration of complex factor. Which able to deviate the final product of plan. This struggle produce individual representation space and also in group to become different from their thought.

This topic particularly will conduct to explain how spatial practice indicating uncontrolled expansion act as such background, and the representational space as a product and also as the background producer. Many factors are influencing expansion act, such as space competition, tradition and extreme environment. These factors in my hypothesis would become a consideration for space production. For this case, simple thinking of individual used for expanding spatial individually. Therefore, the effort of space expansion accumulated. It is resulting a continued confrontation act into the three spaces (physic, mental, and social). Then the act circulated to produce some different action and condition which seem similar.

waterfront-buildingcity-1

As matter of fact, this condition of unpredictable were structured, and becomes structure mode of space production. The orderliness happens because of structuring the unpredictable act accumulation.

The disorder as production factor comes from individu. Its medium is interaction.

Scale of disorderness can spreads in space rapidly if it is attach to group identity. In this case a representational space is directed to group logic, so that it has a strength to fight any group.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

PANTAI LOSARI dan Kota Tua MAKASSAR June 3, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 7comments

pantai-losari

Makassar adalah kota berciri khas pantai dengan kehidupan pesisir sebagai vocal point, representasi atas karakter kota secara makro. Pantai losari adalah salah satu bagian yang dikenal orang karena sebenarnya kawasan sepanjang tepian air ini merupakan genius loci. Disepanjang pantai ini telah terukir sejarah dan simbol kehidupan yang tidak terpisahkan dengan catatan hidup masyarakat kota Makassar

Kota Makassar yang dirubah namanya sejak tahun 2000 dari Kodya Ujung Pandang, bercikal bakal dari daerah pesisir pantai yang banyak ditumbuhi daun pandan. Kota Makassar kemudian dikenal sebagai kota “Angin Mamiri” yang artinya “kota hembusan angin sepoi-sepoi”, dan juga diidentikkan dengan “pantai Losari” yang indah. Pantai Losari adalah pusat hiburan kota yang tidak pernah tidur. Pantai ini mulai menampakkan kehidupan aslinya di sore hari, saat itulah ia menyandang sebutan meja terpanjang. Di meja ini pengunjung dapat menikmati aneka hidangan sambil menikmati kesejukan hembusan angin laut dan matahari terbenam.

sunset-losari-beach-makasar

Geografis Kota Makassar dengan gugusan pulau-pulaunya menghasilkan kehidupan penduduk yang kental akan nuansa bahari. Sisi kehidupan tradisional dan modern tergambar disepanjang pesisir pantai kota. Uniknya suasana pantai Losari menyajikan representasi gambaran kehidupan tersebut. Kawasan pantai Losari merupakan bagian wilayah kota yang melekat fungsi-fungsi kompleks dalam morfologinya yakni sebagai heritage area, Central Bussiness District dan tempat wisata.

losari-anjungan2loasisekarang1

Sebenarnya kota tua Makassar tidak semata berpusat di pantai Losari. Di dua bagian lain masih dipesisir yang sama yakni bagian Utara dan diujung Selatan-nya terdapat situs benteng dengan karakter yang berbeda. Diujung Selatan terdapat sisa-sisa benteng Somba Opu sedang dibagian Utara masih berdiri kokoh benteng Port Roterdam, tempat ditawannya Pangeran Diponegoro selama diasingkan. Benteng Port Roterdam inilah yang menjadi nyawa klasik bagi pantai Losari. Di depan benteng ini tetap bertahan terminal perahu kecil yang dapat membawa penumpang kebagian pantai dan laut manapun termasuk pulau-pulau disekitar kota.

port-roterdam

Sebelum dikenal sebagai Losari, warga Makassar menyebutnya Pasar Ikan. Dimasa itu banyak pedagang pribumi yang berjualan. Dipagi hari dimanfaatkan sebagai pasar ikan, sedangkan di sore hari dimanfaatkan pedagang lainnya untuk berjualan kacang, pisang epe dan makanan ringan khas Makassar lainnya.

Apa sebenarnya yang menarik dari fisik Pantai Losari? Infrastruktur utamanya sendiri adalah jalan besar bernama Penghibur yang disisinya dibangun pembendung air berupa turap beton memanjang. Diantara jalan raya dan batas air terdapat Promenade berlatar pulau dan laut selat Makassar dan dibawahnya merupakan outlet buangan kota. Dalam kilasan sejarah Pantai Losari terlihat bahwa konsep ini sudah bertahan selama 59 tahun.

makassar1667

Diawali tahun 1945, bangunan tambahan pantai yang pertama dibuat. Desain lantai dasar beton sepanjang 910 meter digagas oleh Pemerintah Wali Kota Makassar, DM van Switten (1945-1946). Dimasa pemerintahan NICA tersebut, pemasangan lantai ditujukan untuk melindungi beberapa objek dan sarana strategis warga di Jalan Penghibur dari derasnya ombak selat Makassar.

Tahun 2000 dilakukan penimbunan laut dengan maksud sebagai jalan dan tempat komersil. Selanjutnya tahun 2001 populasi pedagang kaki lima yang makin banyak kemudian direlokasi ke daerah reklamasi. Mulai terlihat pertumbuhan bangunan lain disepanjang pantai yang merangsak kearah laut.

pantai-losari2

Tahun 2010, kawasan pantai losari akan diramaikan bangunan-bangunan bernuansa futuristik; perumahan resort elit, gedung konvensi, mal, studio stasiun TV ala disneyland dan terakhir Center Point of Indonesia.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

A Big Worried about Our Heritages No longer Remain Still. I Wonder How These National Treasure Could Preserved… May 25, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

bangunan-tua-di-indonesia

The architectural and urban heritage is now become a big concern in each country including to a growing country of Indonesia which has cities of complex communal histories and memories. This field is also experiencing rapid growth and adaptating the technology toward the future trends.

The cities are the sites of many conflicting forces of money, power and energy, stretching across the many various social, political and economic spheres. Urban life is actually base on the perpetual struggle between rigid routinised order and pleasurable anarchy. Each city is unique and evokes different feelings in its residents and visitors. Each city is attractive to individuals in different moods and different times of their lives. Surprise and the unexpected are the essential ingredients in generating memorable identity. History, memories and local identity are a more accurate measure of how much an urban environment is enjoyed by the people.

In the Indonesian emerging economies, modernization has often become synonymous with getting rid of the past. In the race to become modern, entire sections of the old buildings are carelessly deleted so as to quickly create new spaces for new development. Furthermore, those remnants of the past-the endemic communities, the traditional social and urban fabric-are deemed to be either useless or contradictory to this phase of development. In most cases, the fastest and easiest solution is to relocate, bulldoze and then rebuild. Attempts at re-construction are futile and make mockery of traditions and the conservation of memories.

It is not surprising that heritage and memories can be seen as potentiality controversial flashpoints. Memory, by its nature, is abstract and life in a rapidly changing society is full of surprises and absurdity. For political reasons, one might even choose to forget and reinvent.

On my latest research, I found that buildings as a heritage in modern society has changed from regularity to a product of unpredictable in a virtual awareness. The change gives particular influence toward space concept, structuring its own character which changes spatial physicly and also idea abstractly. The latest structured phenomena is an effort to expand physical, mental and social space. This context brings unpredictable influence in space production process, as well as in the context of the heritage it self.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

GLOBALISASI NARCISME May 11, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

narcism2

Apa yang oleh para psikolog dan ilmuwan sosial menyebutnya sebagai “diri” (self) sekarang makin lolos dari penentuan tradisi komunitas lokal, sehingga “identitas diri juga makin menjadi proyek yang refleksif”. Artinya, wilayah pribadi atau keseluruhan cara hidup dan narasi diri kita semakin berlangsung dalam rimba pilihan yang disaring lewat sistem yang abstrak dalam konteks apa yang lokal dan apa yang global. Saat ini mudah untuk menemukan contoh gejala makin refleksifnya proyek membentuk identitas diri ini. Bila kita akan punya dua atau enam anak maka akan semakin berada dalam lingkup sistem ahli medis (bergelut dengan pil pencegah kehamilan, dokter ahli kandungan, dll.) dan juga sistem ahli ekonomis (kalkulasi pencapaian karir, kesejahteraan financial, dll.)

Beberapa bentuk transformasi identitas diri manusia modern yang menjadi obsesi sebagai warga dunia modern misalnya persahabatan (friendship) dan relasi intim (intimacy)kini makin berubah dan makin lolos dari mekanisme yang dahulu disediakan oleh tradisi. Pola seperti ini bukan intrik sosial tetapi lebih kepada pegeseran nilai friendship dan intimacy bertandu globalisasi yang mulai cenderung dimaklumi. “ Kebalikan kawan bukan lagi lawan…, tetapi kenalan, rekan kerja, mantan mitra bisnis, atau seseorang yang tidak saya kenal”. Dalam konteks psikologis ini hubungan interpersonal kemudian lebih didasari pada “rasa kepercayaan” (trust), bukan lagi pada patokan tradisi.Oleh karena makin lepas dari patokan tradisi maka persahabatan juga menjadi proyek yang semakin harus diburu dan dimenangkan lewat penyingkapan diri (self disclosure). Lalu muncul istilah berbagi rasa (sharing) atau bahasa populernya “curhat”, sebagai kunci dalam psikologi gaul modern. Rasa percaya, baik dalam bentuk trust maupun pédé (percaya diri), semakin dikejar. Maka mematut-matut diri di depan kaca layaknya Narcissus yang tiada henti memandang wajahnya sendiri di permukaan kolam, lalu jatuh cinta pada dirinya sendiri, juga semakin menjadi motivasi dan gaya hidup. Iklan di TV, koran, atau papan reklame pinggir jalan adalah tiket bagi warga modernitas yang sedang berburu identitas.

narcism1

Dalam sumbu proses ini terdapat pula tingginya upaya pemenuhan diri dan aktualisasi diri. Sehingga terbentuk generasi-generasi ‘pokoknye gue’,’ pokoknya aku duluan’,’ gue banget…’. Di toko buku kalau kita coba ke rak buku-buku psikologi maka akan ditemui deretan buku berjudul; “Bagaimana Tampil Pédé, Chicken Soup untuk Remaja, Rahasia Mendapatkan Sahabat Sejati, Teknik Disenangi Kawan dan Lawan dan seterusnya. Proses perburuan rasa percaya diri dan identitas diri ini selanjutnya menetaskan istilah feel-good.. apa-apa menjadi permisif..nyaman-nyaman saja asal peace..asal jangan saling mengganggu. Apa itu semangat Pengorbanan dasar persahabatan? Jawabannya ada, cari di toko buku lagi(?).

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

or

http://www.designtrees.com/index.php?option=com_myblog&Itemid=180

Streets for People, Not Just Cars April 13, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

www_flickr_com_photos_carlosfpardo_2

Beyond survival, happiness needs: We need: 1) to walk; 2) to be with people and 3) not to feel inferior. A city that is good for children, the elderly, the handicapped, the poor, is good for everybody else.

Jakarta should take a lesson from Colombia. Ciclovía, in which as many as 2 million people (30 percent of the city’s population) take over 120 kilometers of major streets between 7 a.m. and 2 p.m. every Sunday, for bike rides, strolls and public events. This weekly event began in 1976 but was expanded by Peñalosa. He’s actually a politician, who served as mayor of Bogotá, Colombia, for three years, and now travels the world spreading a message about how to improve quality-of-life for everyone living in today’s cities. It now has spread to numerous Colombian cities as well as San Francisco; Quito, Ecuador; El Paso, Texas; Las Cruces, New Mexico; and is being explored for Chicago, New York, Portland and Melbourne, Australia.

enrique

Peñalosa’s proudest achievement is TransMilenio, the bus rapid transit (BRT) system that enables buses to zoom on special lanes that make mass transit faster and more convenient than driving. There are now eight TransMilenio routes criss-crossing Bogotá. The BRT idea was pioneered in Curitiba, Brazil, in the 1970s but Bogotá’s success shows it can work in a larger city.

TransMilenio moves 43.000passengers/ kilometer/ hour direction that is more than most of the world subways, at a similar speed and a fraction of the cost. Bus Rapid Transit systems are also a symbol that show that public good prevails over private interest because road space is allocated first to public transport.

Wowed by the success of TransMilenio, six other Colombian cities are developing their own systems. Peñalosa and Diaz have been very influential in spreading the idea throughout the world. In 2004, Jakarta, Indonesia, inaugurated TransJakarta, a Bogotá-inspired BRT system that now features six lines with three more under construction. Dozens of other cities around the globe have BRT projects under construction or up-and-running, including Hong Kong; Mexico City, Mexico; Johannesburg, South Africa; Taipei, Taiwan; Quito, Ecuador; and Dar-es-Salaam, Tanzania. The idea is now spreading to cities in developed countries including, Sydney, Ottawa, Pittsburgh, and even the city known for decades as the world center of automotive glory, Los Angeles.

pattoncito-bike

It’s not that because we hate cars. It’s that because we loves lively places where people of all backgrounds gather to enjoy themselves—public commons that barely exist in cities where cars rule the streets. These sorts of places are even more important in poor cities than in wealthy ones, because poor people have nowhere else to go.

for more

please click : http://www.designtrees.com/index.php?option=com_myblog&Itemid=180

Piala Adipura dan Penggusuran PKL April 4, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

adipurapedagang-kaki-lima2

Adipura dan penggusuran PKL adalah satu rangkaian yang sudah mentradisi semenjak mula adipura dicanangkan. Tak ayal lagi penggusuran itu adalah ritual yang harus dilakukan agar adipura dapat di raih. Di sisi lain dalam hal penataan ruang, yang perlu kita ingat adalah kita membangun untuk manusia…, it’s about how to humanize human.

Jika ditelisik lebih jauh, penetiban tidak dilakukan dalam sebuah motif agar menjadi tertib. Tetapi penertiban dilakukan atas dasar berharap mendapatkan piala, dan walikota yang mendapatkan piala dianggap berprestasi. Penertiban sama dengan penggusuran tanpa memberikan solusi maka sesungguhnya kita tidak mengerti apa yang menjadi akar masalah.

Apa yang salah dengan PKL? dan kenapa pula PKL selalu dijadikan kambing hitam sebagai akar masalah kesemrawutan kota? Bukankah PKL dan sektor informal lainnya yang menyelamatkan Indonesia dari krisis 97-98. Bahkan waktu itu semua orang berlomba menjadi PKL, sekalipun menjadi artis yang terkenal. Bukankah PKL di yogyakarta justru meningkatkan PAD karena menjadi daya tarik wisata dan tidak membuat wajah kotanya menjadi kumuh?

pedagang-kaki-lima1pedagang-kaki-lima3

Undang-Undang 26 Tahun 2007 tentang tata ruang menegaskan perencanaan tata ruang harus melibatkan masyarakat. Mungkin kita terjebak seperti situasi antara telor dan ayam lebih dahulu mana. Bahwa selama ini masyarakat belom  dilibatkan secara partisipatif didalam proses penataan ruang itu memang betul, kemudian masyarakat kebanyakan melanggar pemanfaatan tata ruang itu juga betul (khususnya fasilitas umum dan fasilitas publik) dan dokumen tentang tata ruang dan pemanfaatan ruang juga tidak pernah dipublikasikan oleh pemerintah, sehingga dalam pemanfaatan ruang banyak praktek premanisme yang merugikan masyarakat. Pernahkah antara masyarakat dan pemerintah duduk bareng didalam rembuk pemanfaatan tata ruang, sehingga tercipta komunikasi dan harmonisasi pemanfaatan ruang secara arif?

Masyarakat miskin, kaum renta dan cacat yang notabene merupakan prioritas yang harus didengar suaranya selama ini sama sekali tidak pernah dilibatkan didalam mengambil keputusan dalam pemanfaatan ruang. Sehingga banyak fasilitas umum ruang-ruang kota banyak disalah gunakan oleh mereka, karena mereka tidak pernah merasa memiliki fasilitas-fasilitas umum tersebut. Pedestrian yang tidak manusiawi yang terlalu sulit dilewati oleh kaum cacat, pemanfaatan trotoar untuk PKL yang kurang tertata, sehingga dengan alasan perut mereka mengganggu pengguna fasilitas umum lainnya dan masih banyak yang lainnya. Dan itu akan terjadi sampai berulang-ulang.

Menurut saya harus ada titik temu antara  top down planning dan bottom up planning yang diikat dalam aturan main bersama sehingga pemanfaatan tata ruang baik fasilitas umum dan fasilitas sosial tidak bermasalah dikemudian hari, dan juga terdapat kesadaran hukum masyarakat tentang penggunaan tata ruang.

for more

please click :http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/modules/overview/blog.php

Polemik Mobil Pribadi Vs. Angkutan Umum March 22, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

kesimpulan-laporan-penelitian-angkutan-massal-tidak-kelar-membawa-lalulintas-jakarta-macet-total-pada-20112

Angkutan umum disinyalir memiliki peranan dilematis dalam sistem transportasi kota. Di negara-negara berkembang diperkirakan kota-kota akan mengalami ‘bencana transportasi’ karena gagal menjadikan angkutan umum sebagai prioritas namun akan menjadi ‘bencana sosial dan ekonomi’ jika di paksakan cepat berubah dari kondisinya saat ini. Banyak konsekuensi yang masih harus dipertaruhkan dalam rangka pengutamaan angkutan umum ini.

Sistem angkutan umum yang dicita-citakan pastinya adalah yang cepat, massal, aman dan nyaman sebagaimana trend konsep Mass Rapid Transport (MRT). Dinegara-negara maju, peranan angkutan kereta untuk MRT sangat dominan, terutama untuk pelayanan dalam kota. Negara tetangga Malaysia misalnya MRT-nya disamping bus banyak difokuskan pada kereta Skyway, sedang Singapura secara terpadu mengembangkan sistem kereta subway dan skyway. Fakta yang terjadi di kota-kota yang menggunakan sistem light trail (seperti di Indonesia) dewasa ini terbukti sudah rumit pengontrolannya, kapasitasnya sibuk dan intensitas pelayanannya repot.

Konsep tentang angkutan umum juga mencakup lahan parkir. Di negara maju, lahan yang namanya tempat parkir khususnya pada areal di pusat perkotaan tidak lagi harus mempermasalahkan jaraknya dengan gedung tujuan. Di Amerika, tempat-tempat parkir yang jauh tersebut atau pada areal-areal tertentu yang tidak memungkinkan dilalui bus atau kereta, digunakan “Commuter” (semacam kendaraan shuttle). Kendaraan ini disengaja menjadi satu-satunya pilihan angkutan di areal tersebut. Layanan shuttle ini sangat murah bahkan gratis dibeberapa negara bagian tertentu. Namun, meskipun sistemnya begitu komprehensif ada saja potensi imbas balik dari sistem parkir ini. Penelitian terakhir pada kota-kota di Amerika menunjukkan bahwa justru pada jam-jam pelayanan angkutan tinggi, kendaraan pribadi tetap marak karena merasa lancar. Statistik penumpangnya berjumlah rata-rata 1,2 - 1,3 orang permobil perjam. Artinya, meskipun telah ada tempat-tempat parkir yang nyaman dengan fasilitas mobil shuttle, kendaraan pribadi tetap saja eksis. Apakah ini permakluman situasi berkendaraan di Indonesia ? Di Jakarta misalnya, orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi tentunya dengan berbagai alasan terutama karena angkutan umum tidak nyaman. Belum lagi keluhan klasik : angkutannya rawan, tidak nyaman dan berpolusi berat.

angkutan-umum-macet12jakarta-trafic-jam2

Kemudian ada trend alternatif berkendaraan berupa konsep berkendaraan cepat tanpa hambatan berjudul “jalan tol”. Masyarakat kota sangat berpengharapan besar terhadap kenyamanan yang ditawarkan jalan tol. Uniknya, jalan tol saat ini sudah sukar dibedakan dengan jalan umum biasa, sering macet, antri dan rawan kejahatan. Adapun yang membedakannya dengan jalan umum mungkin adalah karena pengendara diwajibkan membayar ongkos tol yang pastinya akan terus naik.

Di Amerika, perusahaan pengelola jalan tol sangat diawasi oleh UU dan kebijakan pemerintah. Keberadaan jalan tol harus berdasarkan standar kelayakan yang berprinsip dari regulasi pemerintah dan legitimasi publik. Jalan tol dipersyaratkan harus tetap lancar, minim kecelakaan dan kejahatan serta dilengkapi dengan marka jalan yang lengkap. Apabila semua persyaratan tersebut tidak dapat dipenuhi maka toleransi yang diambil oleh pemerintah adalah mengubah status jalan tol tersebut menjadi jalan umum biasa.

Di Eropa angkutan umum kota sudah sejak lama menjadi prioritas pemerintah. Dulu semua kota besar disana rata-rata mempunyai angka kepemilikan kendaraan pribadi yang tinggi. Pada saat sistem transportasi KA dan Bus telah dibangun dengan baik, didapatkan fakta bahwa angkutan umum akhirnya mereduksi sebanyak 20 – 30 % penumpang kendaraan pribadi perkilometernya. Belakangan ini sesuai kesepakatan Uni Eropa, kota-kota di eropa saling bersaing dalam komitmen untuk memberdayakan angkutan umum yang dikombinasi dengan peraturan pembatasan mobil pribadi.

Dinegara-negara berkembang secara umum angkutan umum juga memainkan peranan krusial meskipun dengan cerita yang berbeda. Mayoritas kota di Asia, Amerika Latin dan Afrika, alat transportasi dalam bentuk angkutan bus mencapai 50 – 80 % dari total kendaraan. Dan bahkan bus-bus ini sampai ‘overcrowded’. Dibandingkan dengan negara di Eropa, negara-negara berkembang memiliki penumpang angkutan umum yang rendah. Hal ini menggambarkan bagaimana ketidakmampuan jumlah bus untuk mengimbangi petumbuhan penduduk. Artinya meskipun bus banyak, jumlah penduduk yang harus dilayani lebih banyak lagi dan terus bertambah.

Diantara kota-kota besar dunia secara umum berdasarkan komposisi jumlah penduduk justru di Australia dan di AS-lah pemakaian angkutan umum lebih sedikit. Pada kenyataannya, di AS angkutan umum hanya digunakan kurang dari 5% oleh penduduk kota, kecuali beberapa kota misalnya di New York dan Chicago yang fasilitasnya memang sangat mendukung sehingga angkutan umum sangat populer.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Competition for Space and Money Between Cars and People March 13, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 8comments

jakarta-oh1

How would we create Jakarta if we had a magic wand? Be careful with the demands of the higher income groups: They rarely use the city. They only care for its roads, in order to drive from one private space to another. What is a sustainable city? Which is the most sustainable environment for a Galapagos iguana? For humans a “sustainable” habitat is the one most propitious for the realization of the human potential, for human happiness.

pedestrian-2

Polluting or clean, cars represent problems to urban quality of life. There is a competition for space and money between cars and people. Most of what destroys quality of life in modern cities results from trying to make more room for cars. Most of what provides joy and is memorable in a city are its pedestrian spaces. Cars are extremely recent in human history. When cars appeared we should have started to build a parallel road network: One for cars and the other exclusively pedestrian. Indonesian cities can still easily do it. Why not structure the Jakarta yet to be built around a pedestrian and bicycle street network hundreds or thousands of kilometers long? How would your quality of life improve with a 50 kilometer pedestrian and bicycle promenade a few blocks from your home?

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

TREN GAYA ARSITEKTUR DAN MODEL BANGUNAN 2010 March 9, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

tren-arsitektur

“Tren arsitektur” biasanya dijadikan patokan bagi perkembangan property masa depan. Konteks ini kadang dicerna masyarakat awam sebagai langkah awal untuk menjatuhkan pilihannya terhadap model property yang sesuai dengan harapannya. Alasan mengapa bangunan dinyatakan menganut suatu tren gaya tertentu kadang dianggap jelas sebagai titik penentuan sikap sang penganutnya. Konteks ini kadang tidak serta merta dipahami secara mendalam oleh pemakainya sendiri, sebab yang ia pahami adalah mengikuti tren. Hal ini wajar karena yang namanya ’tren” memiliki sisi-sisi subjektif. Tren Arsitektur Minimalis yang pada beberapa tahun lalu sempat booming bahkan eforia model bagi properti baru. Namun seiring dengan perubahan jaman dimana isi-isu telah beralih dari esensi fungsi ke isu humanisme dan lingkungan hidup, apakah tren minimalis masih laris manis di 2010?

Pertama-tama menarik untuk kita lihat perkembangan awal dari sejarah gaya minimalis menurut teori di barat pada awal abad ke-19, dalam hal ini pada masa International Style. Perkembangan gaya yang berlangsung diantara masa International Style dengan masa pertengahan modern masih tidak lepas dari pengaruh gaya beberapa tokoh Avant Garde. Tokoh-tokoh tersebut seperti ; Le Corbusier (Perancis), Walter Gropius (Jerman), Mies Van der Rohe (Jerman) dan J.P. Oud (Belanda). Kesimpulannya, gaya-gaya mereka adalah : Humanisme, Ekspresionisme dan Idealisme. Internasional Style dipengaruhi juga oleh gaya fungsionalisme.

Ada beberapa prinsip dasar untuk mengenali ciri khas International Style ini:

· Prinsip pertama yang bisa dilihat dalam karakter arsitektur bangunan International Style adalah kesan non-volume. Efek massa dan kesolidan yang statis memang masih penting tapi mulai menghilang. Pada bangunan-bangunan yang baru selanjutnya hanya ditemui ‘efek’ volume atau tepatnya karakter permukaan yang membungkus volume.

· Prinsip kedua yang bisa diidentifikasi dalam International Style adalah reguralitas. Model reguralitas yang ada adalah pola-pola Gotik. Sebagaimana diketahui Gotik sangat signifikan dengan irama regulernya. Bidang-bidang penampakan memiliki banyak unsur-unsur pengulangan, baik yang terjadi pada jendela, struktur maupun ornamen.

· Prinsip ketiga yang terlihat adalah penghindaran memakai dekorasi. Warisan gaya yang berkembang pada abad 18 yang penuh ornamen dekoratif mulai ditinggalkan

Gambaran awal lahirnya konsep minimalis di barat lalu dicoba diadopsi di Indonesia. Alhasil bermunculanlah model-model property yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Beberapa saat berlalu kemudian muncul pernyataan dari pengguna gaya ini bahwa Gaya Minimalis tetapi harga maksimalis. Pernyataan diatas sekaligus menjadi pertanyaan awam seputar kehadiran model minimalis. Kontroversi fakta yang terjadi kalau boleh dikatakan sebagai “skandal” membingungkan antara praktek dan teori. Model minimalis dapat saja secara filosofi berarti cara hidup jujur, praktis dan sederhana, lalu menerapkan sesuatu pada bangunan hanya yang bersifat esensial dan fungsional saja baik dalam estetika, ruang, bentuk dan struktural. Mari kita ambil contoh sederhana dengan mengandaikan masyarakat kalangan bawah sebagai gambaran “minimalis” ala Indonesia.

RSS (Rumah Sederhana Sehat) sebenarnya menerapkan filosofi yang sama yakni di-minimkan segala-galanya, model desainnya saja yang bervariasi. Harga RSS pun kenyataanya tidak serta-merta murah. Artinya secara praktis model yang sudah serba minim tersebut tidak berarti pengurangan dari sisi biaya. Ada beberapa hal yang sudah standar untuk sebuah bangunan sehingga “tidak enak” kalau tidak bisa dibilang “tidak boleh” untuk direduksi, misalnya struktur utama, ukuran luasan ruang tertentu dan beberapa ornamen tertentu karena menyesuaikan tuntutan iklim setempat. Satu-satunya yang bisa ditawar adalah finishing. Finishing dapat memakai material murah berkesan mewah untuk berhemat, atau juga dapat menggunakan material mahal sehingga terkesan berkelas oleh karena ada tuntutan prestise.

Para perumus tren kemudian mencoba melihat ulang apa yang menjadi titik gangguan pada gaya minimalis. Pada kenyataannya kita tinggal di wilayah yang beriklim tropis sehingga otomatis bangunannya harus menyesuaikan diri. Ciri utama bangunan tropis adalah kanopi yang panjang dan membentang disepanjang dinding, sehingga memberikan perlindungan atau naungan penuh pada fisik bangunan dari cuaca ekstrim iklim tropis. Naungan penuh pada bangunan berarti kenyamanan penuh, jelas tidak praktis di konstruksi awalnya namun praktis ke masa depannya, less maintenance dan low cost. Gaya bangunan Minimalis kurang mendukung perlindungan terhadap cuaca ekstrim iklim tropis.

Akhirnya kemudian apa yang menggeser tren gaya minimalis menjadi tren berikutnya adalah tidak semata karena tidak sesuainya harapan atas tawaran bangunan untuk menjadi lebih efisien, lebih murah dan lebih simple, tetapi juga karena tuntutan kesadaran hidup yang serasi dengan alam khususnya di daerah tropis yang saat ini disinyalir mulai terkena dampak pemanasan global.

fig3-greenarchitectureanalysis


Dari berbagai pendapat pada perancangan arsitektur yang sedang berkembang, akhirnya konsep-konsep pendekatan ekologis yang banyak dicermati. Pada intinya adalah mendekati masalah rancangan arsitektur dengan menekankan pada keselarasan bangunan dengan perilaku alam, mulai dari tahap pendirian sampai usia bangunan habis. Bangunan sebagai pelindung manusia harus nyaman bagi penghuni, selaras dengan perilaku alam, efisien dalam memanfatkan sumber daya alam dan ramah terhadap alam.

Konsep kembali ke alam tersebut diistilahkan sebagai green architecture atau arsitektur hijau. Arsitektur hijau adalah sebuah proses perancangan bangunan dalam mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik, meningkatkan kenyamanan manusia dengan meningkatkan efisiensi dan pengurangan penggunaan sumberdaya, energi, pemakaian lahan, pengelolaan sampah efektif, dalam tataran arsitektur. Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan. Tujuan pokok arsitektur hijau adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami dan pembangunan berkelanjutan. Menarik untuk kita ketahui bahwasannya konsep ini pada kenyataannya sudah pernah dilakukan oleh nenek moyang kita dengan bukti-bukti arsitektur bangunan tradisional yang semua mengakuinya sangat selaras dengan karakter alam dimana ia dibangun.green-treehouse

futuristic-green-architecture-and-design1

Arsitektur hijau dipraktekkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air, dan bahan-bahan, mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan melalui tata letak, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan bangunan. Memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Olehnya itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Akhirnya bahwa tren sebenarnya memiliki sifat sementara, rentan perubahan dan dapat hilang dilupakan meski sebentar saja; sedangkan bangunan akan dipakai oleh pemiliknya sangat lama bahkan dalam keseluruhan hidupnya. Bangunannya itu bisa menjadi perlambangan identitas dirinya, sejarah kehidupnya, nilai kepribadiannya bahkan keturunannya. Oleh sebab itu bagi pengguna bangunan dalam hal ini masyarakat konsumen tren perlu bernalar atas suatu gaya bangunan yang dipilihnya. Sebab apapun gaya yang dipilih tentu ada konsekuensi logis, ada kekurangan dan kelebihannya sehingga bisa ditimbang apakah cocok baginya atau tidak. Menerjemahkan karakteristik dan keunikan masing-masing pemilik rumah bagi arsitektur rumahnya sendiri merupakan pilihan yang lebih tepat ketimbang sekedar mengikuti tren.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

The Rise of The Network Society and Its Challenge Towards the Informational City March 4, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 5comments


infocity3

Information and knowledge now become directly productive forces, and information becomes the critical raw material of which all social process and social organizations are made. As times go by, general questions of space and social relations in the new rapidly developing information age becomes increasingly necessary, though, to open up for a wider range of life-world issues than before, like questions of experience, identity, architecture and urban design.

In a direct sense, the electronic networks collapses into simultaneous interactivity the leading edge activities of economics, politics and media on a planetary scale, making the whole planet one city. In a metaphorical sense, the city is an image of society, with all its diversities, ongoing processes, contradictions, struggles and asymmetries, and ‘The Informational City’ is therefore ‘the global society’ of the information age.

Castells (1996) possibly gives an opening, could be that the non-cyberspace city - the city of streets, facades, bodies in public space, and ‘real life’ activities here - can be seen as information interfaces and information processes as well, taking the new paradigms of the information age all the way through.

infocity7

Our society has through a period of profound transformation that affects many aspects of life of individuals both in the economic, political and social sphere. Changes involving multiple components such as time, space, social relationships and ways to communicate. The cities and the regions of the world are being transformed under the combined impact of a restructuring of the capitalist system and a technological revolution. “The circuits of electronic impulses is the material foundation of the information age just as the city in the merchant society and the region in the industrial society…information is the key ingredient of our social organisation… it is the beginning of a new existence…marked by the autonomy of culture vis-à-vis the material basis…” (Castells, 1996) When the freedom of cyberspace with respect to real space is stressed, the result is merely to increase the variety of the interaction to new spaces. Castells argues that “While organizations are located in places, . . . the organizational logic is placeless, being fundamentally dependent on the space of flows that characterizes information networks” (Castells in Nyíri, 2004, p.23). Groups may choose to develop their own networks with their own goals, but if they wish to interact with the dominant networks in society they must adapt to the goals of those networks.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

TREN ARSITEKTUR MINIMALIS; good bye, again ? February 25, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment


arsitektur-kontemporer-rumah-minimalis

GAYA ‘MINIMALIS’ DALAM ARSITEKTUR

Gaya yang diklaim sebagai arsitektur minimalis yang tengah marak saat ini pada dasarnya bukan bentuk arsitektur baru ataupun eforia baru. Model gaya seperti ini sudah lama muncul di masyarakat tradisional, lalu diidentifikasi sebagai sebuah model yang lebih kokoh keakuannya di awal tahun 1920-an, dan disepakati telah bersemi kembali mulai tahun 2000-an. Tentunya bahwa gaya ini telah hadir dengan motivasi, interpretasi dan aplikasi ”tertentu” yang khas dari satu generasi ke generasi lainnya.

Konteks minimalis sebenarnya tidak tumbuh khusus untuk arsitektur saja. Kritikus seni Juan Carlos Rego (Minimalism: Design Source, Singapore, 2004) mengatakan, minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode dan musik.

Minimalis dalam arsitektur menekankan hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Awal munculnya model minimalis sebenarnya sudah ada pada masyarakat tradisional contohnya di Asia yakni Jepang dengan konsep keheningan zen, sedang di dunia barat sendiri para arsitek mulai mencari bentuk baru untuk mendobrak gaya-gaya klasik sejalan dengan ramainya kemajuan sebagai dampak dari Revolusi Industri awal abad ke-20. Pada saat itu situasi sangat mendukung bahkan memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun karena pesatnya inovasi material bangunan seperti baja, beton dan kaca, juga dalam sistem standardisasi dan efisiensi. Kehadiran arsitektur minimalis pada saat itu diidentifikasi pada karya-karya Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe.

LANDASAN BER-‘MINIMALIS’

Alasan mengapa bangunan kita harus memakai suatu gaya harus jelas sebagai titik penentuan sikap. Hal ini karena yang namanya desain ”tidak ada yang benar dan juga tidak ada yang salah”. Namun demikian standar proporsional harus tetap dijaga, karena terlalu minimalis akan menjadi steril, terlalu teratur akan menjadi membosankan, terlalu kompleks akan membingungkan. Arsitek sebagai ujung tombak pemberi ide bagi klien harus sportif. Arsitek perlu meletakkan karyanya terhadap sebuah trend secara obyektif dan tidak hanya mengakomodasi eforia model. Etikanya, bagi klien dalam hal ini masyarakat pemakai perlu diajak bernalar atas suatu gaya bangunan yang dipilihnya. Sebab apapun gaya yang dipilih tentu ada konsekuensi logis, ada kekurangan dan kelebihannya sehingga bisa ditimbang apakah cocok baginya atau tidak.

Ada beberapa pertanyaan yang sebelumnya perlu dijawab secara personal untuk menentukan posisi kita terhadap paham minimalis. Oleh karena sifatnya subjektif maka tanpa saling memaksakan pandangan, mari menjawabnya dengan logika sederhana.

Sebagai orang yang menghuni tanah Indonesia pastinya jawaban-jawaban lugas akan keluar sebagai penegasan posisi memandang hal tersebut. Bagaimana dengan di tempat-tempat asal gaya minimalis bertumbuh apakah pemikirannya sejalan dengan pandangan atau jawaban kita?

Pertama-tama menarik untuk kita lihat perkembangan awal dari sejarah gaya minimalis menurut teori di barat diawal abad-19, dalam hal ini pada masa International Style.

Sebenarnya dasar perkembangan gaya yang berlangsung diantara masa International Style dengan masa pertengahan modern masih tidak lepas dari pengaruh gaya beberapa tokoh Avant Garde. Tokoh-tokoh tersebut seperti ; Le Corbusier (Perancis), Walter Gropius (Jerman), Mies Van der Rohe (Jerman) dan J.P. Oud (Belanda). Kesimpulannya, gaya-gaya mereka adalah : Humanisme, Ekspresionisme dan Idealisme.

Ada beberapa prinsip dasar untuk mengenali ciri khas International Style ini:

Internasional Style dipengaruhi juga oleh gaya fungsionalisme. Namun meski para Fungsionalis masih menolak bahwa estetika elemen Arsitektur itu penting, banyak objek yang dibangun dengan memakai elemen estetika, tentunya tanpa mengorbankan fungsi.

Bagi International Style, sesuatu itu adalah seperti halnya apa yang telah hadir saat ini dan sesuatu tentang masa depan tidak harus digudangkan (disimpan).

Prinsip-prinsip tersebut sebagian lalu diangkat kembali dijaman sekarang ini untuk disegarkan lagi khususnya di “tanah” kita, Indonesia.

Bagaimana dengan awal konsep minimalis di timur? Masyarakat di Timur jauh secara kultural telah menganut sistem gaya ini sebagai kejujuran sikap berharmoni dengan alam (dalam konteks hidup tradisional).

Jepang misalnya sudah sejak lama secara tradisional menerapkan unsur minimalis pada bangunan rumah mereka. Tatanan vertikal-horizontal, ruang serba multi fungsi yang sangat fungsional, tempat tidur (tatami) bisa dilipat dan disimpan sehingga melegakan ruangan, dinding interior dari sekat partisi bukan berupa tembok beton tebal yang berat dan masif, pintu geser yang pergerakannya minimalis karena menempel masuk ke dinding sehingga tidak mengganggu kegiatan dan perabot.

Satu hal yang bisa dicatat dalam pemakaian konsep minimalis antara Jepang dan Barat adalah bahwa motivasi keduanya berbeda, tetapi lokasi aplikasinya sama-sama beriklim subtropis dingin.

arsitektur-minimalis

MODEL MINIMALIS HARGA MAKSIMALIS

Pernyataan diatas sekaligus menjadi pertanyaan awam seputar kehadiran model minimalis. Kontroversi fakta yang terjadi kalau boleh dikatakan sebagai “skandal” membingungkan antara praktek dan teori. Model minimalis dapat saja secara filosofi berarti cara hidup jujur, praktis dan sederhana, lalu menerapkan sesuatu pada bangunan hanya yang bersifat esensial dan fungsional saja baik dalam estetika, ruang, bentuk dan struktural. Mari kita ambil contoh sederhana dengan mengandaikan masyarakat kalangan bawah sebagai gambaran “minimalis” ala Indonesia.

RSS (Rumah Sederhana Sehat) sebenarnya menerapkan filosofi yang sama yakni di-minimkan segala-galanya, model desainnya saja yang bervariasi. Harga RSS pun kenyataanya tidak serta-merta murah. Artinya secara praktis model yang sudah serba minim tersebut tidak berarti pengurangan dari sisi biaya. Ada beberapa hal yang sudah standar untuk sebuah bangunan sehingga “tidak enak” kalau tidak bisa dibilang “tidak boleh” untuk direduksi, misalnya struktur utama, ukuran luasan ruang tertentu dan beberapa ornamen tertentu karena menyesuaikan tuntutan iklim setempat. Satu-satunya yang bisa ditawar adalah finishing. Finishing dapat memakai material murah berkesan mewah untuk berhemat, atau juga dapat menggunakan material mahal sehingga terkesan berkelas oleh karena ada tuntutan prestise.

Pada kenyataannya ornamen-ornamen bangunan minimalis jarang yang murah pembuatannya bahkan satuan materialnya sendiri jarang yang murah. Mungkin karena kenyataan ini sehingga rumah mewah pun menjadi pantas-pantas saja memakai ornamen tersebut, disamping memang lagi ikut trend. Tidak heran jika rumah-rumah desain minimalis terkenal di Jakarta banyak terdapat di dalam perumahan elite, alhasil harganya menjadi maksimalis.

Disamping itu ada juga biaya-biaya pasca huni sebagai konsekuensi model minimalis. Sebagaimana yang biasa kita temui, ciri khas ornamen horizontal minimalis salah satunya adalah kanopi beton persegi pas diatas bukaan pintu maupun jendela. Model minimalis bahkan ada yang menghapus komponen ini. Jika ada maka kanopi ini lebih cenderung bersifat sebagai hiasan ketimbang memberikan fungsi perlindungan (naungan) penuh atas ekstrimnya cuaca tropis. Hal ini menyebabkan sisi luar kusen berhadapan langsung dengan cuaca hujan maupun panas terik. Konsekuensinya, agar bangunan tetap bersih, tidak lumutan dan cat selalu cemerlang maka perlu ada biaya ekstra untuk perawatan.

Kurangnya lindungan kanopi pada jendela-jendela menyebabkan ruangan menerima cahaya matahari langsung. Kondisi ini menyebabkan radiasi panas di musim panas dan kemasukan hujan di musim hujan. Solusi praktisnya biasanya dengan tutupan kaca. Kemudian jawaban berlanjut dengan pemasangan AC. Dalam kondisi ini AC akan bekerja keras dan berujung pada ongkos listrik.

SO LONG… MINIMALIS

Rentang masa aplikasi model minimalis di Indonesia sebetulnya lebih cepat pudarnya jika dibandingkan dengan di negara-negara beriklim non-tropis. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa ada unsur bangunan yang sudah standard sehingga tidak nyaman untuk direduksi atau diminimalisasi. Batas standard ini biasanya terpetakan dalam rupa iklim, kultur, lokalitas dan sebagainya. Kita tinggal di wilayah yang beriklim tropis sehingga otomatis bangunannya harus menyesuaikan diri. Ciri utama bangunan tropis adalah kanopi yang panjang dan membentang disepanjang dinding, sehingga memberikan perlindungan atau naungan penuh pada fisik bangunan dari cuaca ekstrim iklim tropis. Naungan penuh pada bangunan berarti kenyamanan penuh, jelas tidak praktis di konstruksi awalnya namun praktis ke masa depannya, less maintenance dan low cost.

Gaya Minimalis boleh dikatakan sudah menjadi isu unik bagi pemilik dan calon pemilik gedung bahkan ada yang menjadi fanatik. Kondisi tersebut menjadi konsumsi baru dalam metabolisme dunia perancangan arsitektur. Seandainya keunikan ini bergeser pada saatnya nanti maka dapat dipastikan pergeseran tersebut karena banyak alasan yang mungkin karena eforia model, mungkin karena ornamen minimalis kurang cocok dengan iklim tropis, mungkin juga karena harga. Apapun itu kembali lagi pada pilihan hidup pemakai.

Gaya minimalis sebagaimana gaya2 lainnya memiliki masa sendiri. Saat ini trend-nya mungkin memuncak, namun sebagaimana trend mode / fashion ada saatnya akan berganti. Diluar negeri sendiri bahkan di negara tetangga sekalipun gaya ini tidak menonjol atau bahkan seheboh seperti di Indonesia. Sebagaimana diketahui komplek-komplek perumahan di Jakarta beramai-ramai mewajibkan paling tidak satu dari clusternya bergaya minimalis. Perumahan elit maupun RSS merasa belum afdhal kalau tidak menghadirkan gaya minimalis. Bahkan banyak yang ingin renovasi dari model klasik.

Kesimpulannya, apa yang menjadi pemicu cepatnya gaya minimalis segera mulai ditinggalkan di Indonesia sangatlah kompleks, tidak semata karena tidak sesuainya harapan atas tawaran untuk menjadi lebih efisien sebagai sebuah bangunan di daerah tropis, tetapi juga ada unsur filosofi yang tidak pas meyangkut harga dan gaya hidup pemakai ketika tinggal di bangunan tersebut. Boleh dikatakan gaya ini menjadi space of denials, menjadi pengingkaran terhadap kompleksitasan kehidupan. Yang perlu kita waspadai adalah bahwa dari pendekatan mencoba mengingkari melihat permasalahan atau kenyataan di seputar kita kemudian tetap ngotot menggali gagasan. Semua permasalahan lalu tetap dijawab dengan memakai kata minimalis

Akhirnya, adalah wajar jika gaya sebagai sebuah trend terus berganti. Karena kodrat makhluk hidup ialah menyempurnakan dirinya sendiri (otoperfektif). Satu saat masyarakat manusia menjadi jenuh dengan gaya yang seragam maupun yang terlalu lama tidak berubah karena ini gejala ketidaksempurnaan. Struktur baru lalu menjadi usang namun adalah bagian dari struktur yang besar. Begitupun bentuk dan pemikiran baru dalam gaya arsitektur akan terus mengalir, akan kembali digali, yang menelorkan komodifikasi ataupun perulangan yang berbeda dalam upaya menyempurnakan dirinya. Begitu seterusnya.

Jika demikian maka…so long minimalis, see you next time and welcome …(what’s next?)

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

THE INFORMATIONAL CITY: Is It A Cyberspace City? February 21, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 39comments

dynamic-network-abstraction-green

What identity you’ve kept after dwelling with Facebook, YM or Twitter? Did your mind still remains in your self or trap in a representational spaces? Imagine if your mind surving into a define cityscape, become a part of a big city but lost in the city of information created by a cyber system.

‘Informational’ indicates a specific form of social organization in which information generation, processing and transmission become fundamental sources of productivity and power. In the new, informational mode of development the source of productivity lies in the technology of knowledge generation, information processing, and symbol communication. The specific of this mode of development is the action of knowledge upon knowledge itself as the main source of productivity. while informationalism is based on cheap information and oriented towards technological development - that is toward the accumulation of knowledge and towards higher levels of complexity in information processing.

The “informational city“ is constructed around flows: flows of capital, flows of information, flows of technology, flows of organizational interaction, flows of images, sounds and symbols” [Castells, 2000: 442]. In our society the space articulation of the dominant functions occurs in the network through the interactions made possible by computing devices. Instead, the nodes and the hubs of communication have a coordinating role for easy interaction of all elements integrated into the network. The nodes are also mobile devices that generate, transmit and receive signals in the global network of new media.

The space within the informational city can be characterized as a space in between a traditional ‘space of places’ and a virtual ‘space of flows’. Virtual space evolves as an overlay on this world, not an alternative to it. It evolves out of our real space and culture. However, it transforms us and the totality of relationships (political, social, cultural, physical). It is a new space of production and consumption and it revolutionizes the production of real space. Its production and reproduction happen along old lines of power and control. It is a political and ideological space and we have to apply the concepts and implications of corporal space and social space to this space too. Traditional Space (‘Space of places’) and virtual space (‘Space of flows’) can be integrated into a larger reality of social space. This calls for a new concept of space which is more and more a multilayered, topological, and ‘soft’ space. This space is not mappable and cannot be reduced to a conventional image and representation (Peter Gotsch, Karlsruhe, 2001).

infocity21infocity41

In the current debate on the information age it is questioned whether there actually is a profound societal change. Castells view is without doubt: the new technologies are different because the act on information itself, they are pervasive as the include all spheres of society, they have a new networked logic, they are extremely flexible, and they converge into highly integrated systems. I think this is not a technological determinism. The new technological paradigm is not only about technology in a narrow sense, it is e.g. about the organisation of work, the informational workforce and its qualifications, and the media world of Real Virtuality as well. And it includes the biotechnology of DNA mapping and manipulation, that basically is also a question of information and now makes us able to intervene deliberately with the basic codes of life itself.

As informationalism to Castells is based on the technology of knowledge and information, he sees a specially close linkage between culture and productive forces, between spirit and matter, in the informational mode of development (Castells 1996 p 18).

I think, in a direct sense, the electronic networks collapses into simultaneous interactivity the leading edge activities of economics, politics and media on a planetary scale, making the whole planet one city. In a metaphorical sense, the city is an image of society, with all its diversities, ongoing processes, contradictions, struggles and asymmetries, and ‘The Informational City’ is therefore ‘the global society’ of the information age. Another supplementary but later interpretation, towards which Castells (1996) possibly gives an opening, could be that the non-cyberspace city - the city of streets, facades, bodies in public space, and ‘real life’ activities here - can be seen as information interfaces and information processes as well, taking the new paradigms of the information age all the way through.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Polemik Seputar Hemat Energi dan Polusi February 18, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

air-pollution-heart-health-3

Jaman sulit saat ini tidak pelak lagi membawa ganjalan bagi operasional kendaraan yakni berkutat pada faktor ongkos bahan bakar, kapasitas angkut dan emisi gas buang. Menarik untuk diulas bagaimana korelasi antara konsep berkendaraan dan konsep hemat energi, hemat biaya dan menghindari polusi.

Di kota-kota kita, pencemaran udara yang dihasilkan oleh emisi angkutan umum memang cukup “dramatis”. Ini terjadi baik pada angkutan kereta maupun bus. Di negara berkembang termasuk Indonesia, bus berbahan bakar diesel sangat lazim menjadi donor emisi bertimbal. Dahulu hal seperti ini di India diatasi dengan teknologi misalnya dengan memakai filter atau pengontrolan reguler emisi. Bus juga dapat dioperasikan minim emisi yakni dengan bahan ‘propane’ seperti yang biasa dipakai di Eropa, atau dapat juga menggunakan bahan bakar gas seperti yang digunakan di Amerika Latin dan Cina. Bahan bakar tersebut selain rendah polutan harganya juga murah. Sebuah test di Belanda yang dilakukan pada bus-bus pengguna bahan bakar gas menunjukkan bahwa emisi Nitrogen Oxida yang dihasilkan berkurang hingga 90 % sedang Karbon Monoxide berkurang hingga 25 % dibanding bila menggunakan diesel. Untuk Indonesia sangat disayangkan penggunaan gas bahkan premium TT tidak begitu populer.

Bagaimana dengan kereta ? Semenjak Kereta Api menggunakan mesin listrik, polutan memang tidak lagi berasal dari mesin KA, tetapi pindah ke pembangkit tenaga listrik yang disuplai KA. Pembangkit-pembangkit listrik ini terletak diluar kota atau daerah-daerah pinggiran yang awalnya tidak memiliki masalah polusi udara. Berdasarkan studi kasus di Amerika tentang emisi NO yang dihasilkan oleh kendaraan per 100 km tercatat bahwa KA menghasilkan 43 gram NO, bus 95 gram sedangkan kendaraan pribadi (maksimum 6 perumpang) memproduksi 12,8 gram NO. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun menjadi produsen emisi terbesar namun angkutan umum secara ‘hitung-hitungan perorang’ sangat potensial untuk mereduksi kadar emisi.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

The City Transformation Through Network and Information February 15, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

infocity1

Cities are the space of places that most stimulate a debate about the dynamics and processes of the informational society within a territorial dimension. This is increasingly important both in terms of geographical size and in the concentration of social, economic and cultural interactions. Cities, in fact, represent places where most of the world population is focused. According to some sociologists, this is a trend which will grow over the years. The emergence of cities following the development of the Internet, ICTs, telecommunications, and teleworking is questioned by data: over 50% of the world’s population live in cities and has full access to the technology.

In social research on technology, new telecommunications technology are seen to directly cause urban change because of their intrinsic qualities or “logic” as space-transcending communications channels. Electronic spaces are seen to affect the physical form and socioeconomic development of urban places. Very often, parallels are drawn here between the current role of telecommunications in determining urban change and the historic roles of other technological systems.

This approach is based on the linear notion that innovation leads to new technologies which are then applied, used, and go on to have effects and technological impacts of society. (Graham/Marvin 1996, p. 83)

The point of view is based upon two key assumptions: first, that technological change is of overwhelming importance in directly shaping society; and second, that the forces that stem from new telecommunication innovations are seen to have some autonomy from social and political processes.

The current effects of telecommunications on cities are to be more speculation and forecasting the future. A central theme of such work has been forecasting the effects of the radical technological changes under way in computing, media technologies, and telecommunications upon cities in the future. This trend is to be bound up with many variants of the “great metaphor” approach within which western society is seen to be moving en masse to a new and novel stage in its development as form of “information society” or “information age.”

The most universal assumptions in futuristic and utopian writings on cities and telecommunications are that the basic time- and space-transcending nature of electronic spaces means that we are moving to a world where all information will be available at all times and places to all peoples.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Kantor Dengan Sumber Energi Matahari Terbesar di Dunia telah direbut oleh Cina February 6, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

Cina sekali lagi membuktikan kekuatan image-nya, tidak mau kalah dalam kecanggihan teknologi bangunan yang “ter-”. Sebuah bangunan berbentuk kipas di Cina telah secara resmi dibuka menandai gelar “Gedung kantor bertenaga surya terbesar di dunia”. Gedung ini terletak di Dezhou Provinsi Shangdong di barat laut Cina. Luas gedung ini 75.000 m2  dengan konsep multi fungsi seperti kantor, pusat-pusat pameran, fasilitas penelitian ilmiah, pertemuan dan fasilitas pelatihan, serta sebuah hotel - yang semua service dan maintenance-nya dijalankan dengan tenaga surya.

Desain bangunan ini didasarkan pada orientasi matahari. Filosofi utamanya pastinya pada urgensi inovasi sumber-sumber energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Eksterior bangunan ini berhiaskan panel fotofoltaic karena menyesuaikan dengan konsep energi yang dihasilkanya yang sifatnya berkelanjutan . Selain itu juga dibuat atap dan dinding berisolasi sehingga menghasilkan penghematan energi  lebih dari 30% . Fakta yang menariknya lagi adalah bahwa struktur eksternal bangunan hanya menggunakan 1% dari jumlah baja yang digunakan untuk membangun Stadion Olympiade BirdNest.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Polusi Suara … Siaga 1: Sudah lewat dari sekedar berpotensi berdampak sistemik January 30, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

INDONESIA/

Polusi suara sudah gawat. Bahayanya bukan hanya gangguan fisiologis telinga, tetapi juga kejiwaan dan menurunnya kepekaan kita menikmati seluruh rentang suara. Yang terakhir ini bersifat gradual, sehingga umumnya (menurut penelitian yang jelas) orang tidak menyadarinya, telah kehilangan karunia Illahi yang maha tak ternilai.

Selain polusi suara menimbulkan kehilangan konsentrasi dalam bekerja, polusi ini juga berdampak pada inefisiensi energi yg secara umum berpengaruh terhadap building performance. Sebagaimana dimaklumi bahwa pemilihan material bangunan harus juga memperhatikan interaksinya terhadap pantulan gelombang bunyi. Salah perhitungan dalam pemilihan material ini bisa mengakibatkan aliran, frekuensi dan arah suara yang tidak terkendali.

Bukan saja di luar ruangan, bahkan di dalam ruangan pun kebisingan sudah tidak bisa ditolerir lagi. Bandar udara Makassar misalnya dinilai sangat parah akustiknya. Suara pengumuman keras, tapi sangat tidak jelas. Tapi banyak orang ketinggalan pesawat karena tidak “mendengar” pengumuman.
Begitu juga mall, restoran bahkan taman kota memiliki kualitas suara terburuk (menurut ukuran:  orang tidak bisa bicara normal untuk didengar dengan mudah dan santai).

Mungkin sudah saatnya membentuk Masyarakat Bebas-Bising Indonesia untuk berkampanye, melakukan advokasi, dan pelayanan publik atas hak untuk  “mendengar dengan nyaman”.

for more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Membangun Rumah Murah (…Bisa Diusahakan Lewat Upaya Arsitek Berdampak Sistemik) January 24, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

rumah

Oh.. hanya mampu beli rumah tipe 18, 21, 36 saja bunganya ya ampunn… saudara saya bayar cicilan rumah seperti itu, bertahun-tahun hanya bayar bunga, cicilan rumahnya hanya berkurang beberapa ratus ribu saja, padahal yang terbayar jutaan. Pemerintah secara umum lebih berpihak ke wong kaya, pebisnis dari pada rakyat kebanyakan. Keringanan pajak..? wah.. jauh, sudah mengontrak saja masih ada pajak kontrakan 10%.

Sepertinya pewujudan ‘rumah lebih murah’ yang diidamkan sebagian besar kalangan di Indonesia memang merupakan hal yg sangat urgen terutama mengingat kebanyakan penghasilan disini yang tidak sebanding dengan pengeluaran utk kebutuhan hidup sehari-hari.

Lalu dimana letak komponen mahalnya sang rumah? Apa peran arsitek sebagai perancangnya? Mungkin bukan saja dari model desain yang dikreasi tetapi perlu juga ditelaah lebih dalam mengenai hubungan arsitek dengan penyuplai material lokal dan pabrik-pabrik material lokal. Karena untuk mewujudkan konsep rumah lebih murah ini mungkin diperlukan kerjasama dan terobosan baru dari sistem pembangunan atau konstruksi yang banyak dipakai saat ini. Kalau sistem konstruksi dan manajemen yg dianut saat ini menjadi dasar perancangan rumah murah, maka keterbatasan minimum budget akan terus menerus jadi kendala mengingat tukang-tukang juga punya UMR minimum dan patokan harga.
Walau dalam beberapa kasus rumah bisa dibangun dengan harga murah, namun tidak akan bisa semurah sehingga semua lapisan sanggup membangunnya.

Desain tidak bisa berdiri sendiri dalam membuat rumah murah. Skema pembiayaan menjadi hal penting.
Arsitek dan ahli pembuat material pastilah memberi kontribusi yang sangat banyak untuk membuat rumah murah, tetapi saat ini tidak bisa menjadi satu-satunya solusi untuk menyediakan rumah murah bagi masyarakat miskin.
Skema pembiayaan atau bahkan program pembiayaan rumah untuk masyarakat memberi peran penting. Selain itu, pembangunan ekonomi masyarakat supaya income masyarakat miskin menjadi lebih tinggi adalah faktor yang sangat penting.
Jadi mungkin yg saya lihat ke depannya adalah adanya terobosan dari arsitek untuk bagaimana mengatur semaksimal mungkin kegiatan konstruksi dilakukan off site dan penggunaan bahan-bahan yg minim tenaga kerja. Misalnya, konstruksi bata beton hanya dilakukan di tempat-tempat yang dibutuhkan utk konstruksi saja, sisanya pakai partisi ringan namun tetap kedap. Kemudian pemakaian barang-barang prefab lokal yg sudah di potong/ukur sesuai persis ukurannya di pabrik sehingga di lokasi tinggal pasang saja mirip knock down. Dengan begini, tenaga ahli lapangan diperlukan hanya sedikit dan arsitek bisa memantau kualitas lebih baik. Keuntungannya juga, konstruksi lapangan lebih cepat  sehingga otomatis hemat… namun memang dengan cara ini perencanaan lebih lama dan harus benar-benar matang.

For more Articles

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

be also visit :

My ThrillBlog :

http://www.designtrees.com/index. php?option= com_myblog&Itemid=180

My Portofolio Images :

http://www.designtrees.com/index. php?option= com_community&view=photos&task=photo&albumid=36&photoid=263&userid=91&Itemid=184#photoid= 263

Mile-high tower: Menara tertinggi - Pangeran Saudi janjikan £ 5 miliar demi menara setinggi dua kali lipat dari The Burj Dubai January 17, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

Pertarungan perebutan lambang supremasi gedung tertinggi di dunia terus berlanjut. Arab Saudi sebagai negara kaya minyak adalah calon pemecah rekor ini dalam beberapa tahun lagi.

Rencana pembangunan-menara tinggi satu setengah kilometer di padang pasir Arab Saudi saat ini sudah dicanangkan oleh miliarder pemilik London Savoy Hotel.

Proyek bernilai 5 miliar euro ini, didalangi oleh dua konsultan rekayasa Inggris yang rencananya akan dua kali lebih tinggi gedung tertinggi saat ini alias sebagai pesaing utama pencakar langit di Dubai.

Gedung ini sedang direncanakan untuk menghiasi sebuah kota baru di dekat pelabuhan Laut Merah Jeddah. Tak ada  satu pun gedung pencakar langit lain yang saat ini dalam proses pembangunan, termasuk New York’s Freedom Tower di lokasi World Trade Centre, akan melebihi 2.296 ft. Pangeran Kerajaan di Riyadh telah menjalankan joint venture berbasis perusahaan Holdings  dengan perusahaan London Hyder Consulting dan dan kontstruktor raksasa Arup demi mewujudkan impian ini.

Menara dengan ketinggian tersebut artinya harus mampu bertahan terhadap berbagai temperatur, dengan puncak panggang di padang gurun yang membakar pada siang hari dan juga cuaca hingga di bawah titik beku pada malam hari. Untuk menahan terjangan angin kencang yang biasa terjadi di wilayah itu agar tidak bergoyang maka akan dilengkapi dengan sebuah komputer raksasa yang dioperasikan damper. Dua menara kecil akan dibangun di kedua sisi menara utama agar menjadi jangkar dan bertindak sebagai penstabil.


For more

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

be also visit :

My ThrillBlog :

http://www.designtrees.com/index. php?option= com_myblog&Itemid=180

My Portofolio Images :

http://www.designtrees.com/index. php?option= com_community&view=photos&task=photo&albumid=36&photoid=263&userid=91&Itemid=184#photoid= 263

Burj Dubai World’s Tallest Building ..is it for another supremacy? January 10, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 24comments

burj-dubai-3burj-dubai1burj-3

The world’s tallest building, the Burj Dubai, is set to open on Jan. 4, 2010 despite the financial crisis its home-city is currently facing.

The Burj Dubai was topped out early in 2009 at a record-breaking 2,684 ft. The building broke eight world records; it is currently the tallest freestanding structure in the world, the building with the most floors and, once completed, will feature the highest elevator installation in the world. During its construction, its final height was increased multiple times. Originally, the tower was planned to stand only 1,837 ft.

dubai7

Dubai’s skyline with the world’s tallest building - the Burj Dubai

Dubai has recently experienced an economic downturn as the construction boom that has driven its economy for many years halts. Dubai recently announced that it was unable to pay interest on its $59 billion debt. Despite the economic crisis currently facing Dubai, the Burj Dubai is still planned to open as scheduled.

what a high prestige .. is it for another supremacy?

for more topics

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

be also visit : www.designtrees.com

The Burj Dubai : Tertinggi, Terhebat, Thumbs-up, but clean those windows! January 10, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

burj-dubai-16burj-dubai-14

Burj Dubai sangat cepat mengambil posisi gedung tertinggi di dunia. Proses pengerjaannya pun boleh dikatakan luar biasa cepatnya. Lantai demi lantai terbangun secara instan bagaikan sulap.

Sebagai perbandingan; Dek langit Burj Dubai ini pada lantai ke-124 posisi tingginya meningkat lebih dari 450 meter - atau setidaknya 1.476 meter - dari tanah. Hal ini jika membandingkan ke lantai ke-103 dan 1.353 kaki untuk observatorium di Willis Tower di Chicago.

burj-dubai-15

burj-dubai3

Dan tampilan? Well, mirip perspektif helikopter, dari puncak gedung ini  pemandangan Dubai persis diatas helikopter - Teluk Persia, rumpun pencakar langit, hamparan gurun yang luas, jalan tol, dan jangan lupa untuk melirik bayangan Burj Dubai yang sangat panjang seperti bayangan jam matahari raksasa. Sayangnya, dari semua ini ada yang luput; jendela masih kotor, sehingga pandangan tidak tepat disajikan pada tingkat HDTV.

Interior oleh arsitek Chicago Skidmore, Owings & Merrill, tidak diragukan lagi desainnya, pastinya yang terbaik. Namun sebagai penckar langit beberapa ruang di sepanjang ketinggian lantai tertentu biasanya cukup mencekam. Jendela-jendela dan langit-langit menciptakan rasa nyata ekspansif , bebas lepas dan terbang - hal ini karena posisi kita yang memang tinggi berada di langit. Pemandangan teras outdoor, dinding baja yang sangat tinggi dan kaca-kaca mengkilat semakin menegangkan suasana sehingga angin super kencang.. mungkin tidak akan menerbangkan apapun kecuali perasaan yang terbang.. utamanya bagi petugas yang mau membersihkan jendelanya.

for more topics

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

be also visit : www.designtrees.com

Burj Dubai Tier Methodology January 10, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

burjdetailapril14dn29gyckw

Burj Dubai tier methodology to help show which direction the terraces face. A 360 degree directional compass was used for the approximate direction the points of the wings face.

Tier 30 Top is a platform 1.5 M diameter with a hatch.
Tier 30 - pinnacle 4 is circular 1.2 M diameter.
Tier 29 - pinnacle 3 is circular 1.35 M diameter.
Tier 28 - pinnacle 2 is circular 1.5 M diameter.
Tier 27 - pinnacle 1 begins with tier 26 terrace facing 180, then rises up circular 2.1 M diameter.

Tier 24, 25, and 26 wings are 1.5 M long.
Tier 26 - spire 5 begins with tier 25 terrace facing 60 then rises up with 1 wing facing 180.
Tier 25 - spire 4 begins with tier 24 terrace facing 300 then rises up with 2 wings facing 60 and 180.
Tier 24 - spire 3 begins with tier 23 terrace facing 240 then rises up symmetrically with 3 wings facing 60, 180, and 300.

Tier 21, 22, and 23 wings are 6 M long.
Tier 23 - spire 2 begins with tier 22 terrace facing 120 then rises up with 1 wing facing 240.
Tier 22 - spire 1/roof 4 begins with tier 21 terrace facing 0 then rises up with 2 wings facing 120 and 240.
Tier 21 - roof 3 begins with tier 20 terrace facing 240 then rises up symmetrically with 3 wings facing 0, 120, and 240.

Tier 18, 19, and 20 wings are 6 M long.
Tier 20 - roof 2 begins with tier 19 terrace facing 120 then rises up with 1 wing facing 240.
Tier 19 - roof 1 begins with tier 18 terrace facing 0 then rises up with 2 wings facing 120 and 240.
Tier 18 begins with Tier 17 terrace facing 300 then rises up symmetrically with 3 wings facing 0, 120, and 240.

They are working on the first level / section of tier 18. We can see the terrace faces opposite of the shot - 300 degrees and the 3 wings of tier 18 facing 0, 120, and 240 degrees. Then tier 18 top (first section of tier 19 terrace) faces 0 degrees (North) or where Ember’s 20 is. The methodology can then be followed to get the rest. Also tier 27 to 30 are circular.

burj-lightning-2

for more topics

please click : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

be also visit : www.designtrees.com

Wirral Waters di UK January 6, 2010

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

Wirral Waters merupakan sebuah proyek bangunan tinggi berkepadatan tinggi untuk menyediakan rumah-rumah di Birkenhead, Merseyside.

Proyek ini akan dilakukan secara bertahap selama beberapa dekade dan diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari 4.000 pekerjaan konstruksi. Monaghan Hall Allford Morris, HKR, Skidmore Owings Merrill, Glenn Howells dan arsitek Liverpool  Falconer Hall Chester berada dibalik kemajuan pembangunan proyek ini.

Peel sebagai pengembang telah bekerja dengan Dewan Wirral, perwakilan dari masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya selama tiga tahun untuk mengembangkan proposal proyek ini.

Proyek ini diharapkan akan memperbaiki ketidakseimbangan antar daerah dan menciptakan kawasan yang baru yang akan lebih memperkuat tujuan pengembangannya yakni sebagai lokasi bisnis internasional dan sebagai tempat tinggal.

Mudah-mudahan konsep proyek seperti ini bisa muncul juga untuk kota-kota disekitar Jakarta …

Please also visit : www.designtrees.com

No more Corruption, anything could be subject to Freedom of Information December 23, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

corrruption

Companies including government institution working on public contracts and spending public money could be forced to comply with the Freedom of Information Act, making their actions subject to direct public accountability.

Everybody wanted to ensure more public information is made available and preserved for future generations, and proposes to issue a new Code of Practice on managing digital and other records, and extend the Freedom of Information Act to companies spending public money.

The Freedom of Information Act has significantly increased transparency in public life and the right to access information has become a cornerstone of our democracy. It is to keep and preserve public information for the future and extend the Freedom of Information Act. Those are significant if we are to truly promote the culture of openness in public life.

Dubai: dari gedung tertinggi, hingga terpuruk bebas December 20, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

dubai
Ketika krisis keuangan bergolak di sebagian besar belahan dunia pada Oktober 2008, kepala perusahaan pengembang terbesar di Dubai meluncurkan  mega project
terbarunya bernilai $ 38 milyar yang akan mencakup pembangunan sebuah menara tertinggi didunia yakni hampir dua-pertiga mil .

“Saya yakin kebanyakan dari Anda bertanya mengapa kita meluncurkan ini, dan Anda tidak akan marah mempertanyakan itu,” kata eksekutif, Chris O’Donnell, di sebuah konferensi pers. Meskipun akan ada pasang surut ekonomi pada tahun-tahun yang dibutuhkan untuk membangun menara, ia mengatakan bahwa permintaan akan terus melebihi pasokan.

“The fundamental di pasar terlalu kuat,” katanya. “Tidak akan tabrakan.”

Sejak itu, perumahan harga real estate di Dubai telah merosot hampir 50%. Pengembang telah memotong pekerjaan dan proyek-proyek dihapuskan. Terobosan di menara sudah lama ditunda. Penghematan yang selama setahun mencapai puncaknya pada minggu lalu mendapat pengumuman mengejutkan bahwa Dubai akan berusaha untuk merestrukturisasi $ 26 miliar dari utang yang harus dibayar oleh Dubai World, perusahaan dari banyak induk infrastruktur dan real-estate pemerintah.

the-burj-dubai-tower-firma-doka1

Dubai menjulang langit adalah simbol kebanggaan di sini. Pada parade Hari Nasional pekan ini, terlihat laki-laki mengenakan pakaian tradisional Arab mendorong maket terdiri dari model skala dari bangunan ikon kota. Ada model Burj Dubai - pencakar langit tertinggi di dunia, karena akan buka bulan depan.

“Para pemimpin kita telah mampu mencapai semua ini,” kata Ahmed Al Hammadi, menonton parade. Adapun utang saat krisis, “kami akan keluar dari itu lebih kuat,” katanya.

Pejabat dan pengembang membenarkan langkah kemerosotan ini dibangun oleh Dubai dengan menggembar-gemborkan kedekatannya dengan baik Asia dan Eropa, yang bebas pajak dan cara hidup toleran serta posisinya sebagai kawasan pusat bisnis. Eksekutif Asing, arsitek dan real-estate broker berkumpul di sini untuk ruang lingkup tak terbatas demi mengejar proyek-proyek besar. Hutang internasional dan investor properti banyak membeli mimpi ini, bahkan merebut pasar keuangan global. Hasilnya adalah banyak negara dunia jatuh ke dalam resesi.

Dubai pertumbuhannya dimulai pada awal 1980-an ketika Sheik Mohammed dan ayahnya mendorong diversifikasi perekonomian dalam menghadapi kenyataan minyak berkurang. Dubai membangun hotel mewah dan tepi pantai yang kaya untuk memikat pengunjung dari India, Asia dan Timur Tengah, ditambah paket tur dari Eropa dan Rusia. Pada tahun 2002, Sheik Mohammed membuka pintu kepemilikan properti asing dalam cakupan tertentu. Dengan sedikit melihat dari brosur dan denah lantai, pembeli mulai berinvestasi ke deposit pada townhouse, apartemen dan villa yang tidak akan siap selama bertahun-tahun.

Pada tahun 2007, sebuah afiliasi Dubai World membeli Queen Elizabeth 2, berencana untuk merapatkan kapal laut di Palm Jumeirah dan mengubahnya menjadi sebuah hotel mewah. Pada saat itu,  mulailah terbentuk celah-celah di pasar real. Beberapa pejabat yang telah meletakkan peraturan pembangunan yang membatasi spekulasi sekarang prihatin bahwa pasar telah tumbuh terlalu panas. Dan pada awal tahun 2008, pihak berwenang memulai serangkaian penyelidikan tingkat tinggi atas korupsi di beberapa real estat besar dan perusahaan keuangan.

Di tengah ketidakpastian seputar penangkapan, krisis bergolak dan seluruh dunia mengejar Dubai. Ketika pasar kredit global yang membeku di akhir 2008, investor internasional Dubai berhenti membeli properti. Beberapa yang sudah membeli berhenti membuat pembayaran angsuran.

Trotoar, Kota dan Arsitek … December 13, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

kesibukan-di-trotoar

Bila trotoar-trotoar kota tempat pejalan tak berkendaraan ini belum lebih lebar dari pada jalan kendaraan, tandanya kota ini masih bagaikan sebuah mesin belaka yang menderam berknalpot muntahkan karbon monoksida. Belum menjadi kota tempatnya manusia, yang berhati dan berkata-kata. Maka mungkin juga masih perlu arsitek yang lebih mementingkan kemanusiaan dari pada mesin uang.

Bila lebar bagian trotoar yang dipakai oleh pedagang kaki lima lebih lebar dari bagian yang dipakai oleh pejalan yang berlalu-lalang, itu tandanya masih perlu arsitek yang mementingkan kemanusiaan daripada mementingkan kerapihan semu yang diperoleh dengan penggusuran sewaktu-waktu.
Kemerdekaan itu, adalah hak segala bangsa maka dari itu, penjajahan atas para kakilima harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Penjajahan itu sering terjadi di trotoar.

Baik, katakanlah itupun sudah bisa dicapai. Ada bagian penjaja rapih berderet disisi dan ada begian longgar untuk pejalan yang berlenggang di trotoar. Tak ada lagi petugas berseragam mengejar orang lapar yang terpaksa berdagang. Lalu apa?.

Jadi idealisme arsitek suatu negeri bisa dilihat dari trotoar kotanya.
Ya, trotoar adalah tempat yang paling menguji idealisme. Bagian sekitar trotoar adalah bagian arsitektur kota yang berkonotasi pertentangan kepentingan antara yang sosial dan yang bersifat niaga.
Disitu ada etalase ada iklan ada billboard ada pedagang ada pengamen ada pengemis ada tukang copet ada orang antri ada wartawan ada pemabok ada pelacur dan … ada polisi.
Bahkan dimasa pemilihan presiden lima tahun sekali bisa ada terjadi calon presiden merangkul-rangkul orang orang gembel disitu. Penampilan sebuah kota mencerminkan isinya. Dari bagaimana trotoar sebuah kota tampil, kita bisa menduga sebagian besar dari keseluruhan kotanya.

Perlebar Trotoar dan persempit Jalan Raya December 9, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 4comments

trotoair1trotoair

Moda transportasi yang optimum adalah yang semakin sederhana dan semakin tinggi kapasitas angkut orangnya per volume ruang. Jalan kaki adalah angkutan paling sederhana, meskipun bukan yang paling efisien dari segi energi per orang.
Sepeda adalah yang paling efisiein dari segi energi, hanya butuh energi 1/3 dari jalan kaki untuk mengantar orang ke jarak yang sama. Mobil pribadi perlu energi minimal 20X energi jalan kaki; sebagian besar energinya hlang jadi panas mesin dan sebagian besar lagi diperlukan untuk mengangkut beratnya sendiri (1.5 ton minimal), hanya 5 % energinya mengangkut penumpang…

Tapi tiap moda juga punya batas jarak.

Trotoar berguna untuk mengakomodasi transport jarak-jarak pendek (400 meter) dalam keseharian.Maksudnya kalau turis biasa saja berjalan  kaki sampai 4 km dan merasa no problem. Tetapi trotoar memang harus  bersifat menerus dan konektif sebab jalan kaki adalah ”perekat” bagi semua moda transportasi. Naik apapun angkutannya, orang tetap harus jalan-kaki untuk menyambung ke moda lain atau melalui ruang-ruang perantara.

Karena soal jarak itu, maka trotoar yang bagus akan berguna untuk mengurangi orang naik mobil di kawasan perkantoran, misalnya kalau hanya untuk keluar makan siang. Mempersempit jalan aspal akan mengurangi kendaraan tidak-alamiah, sehingga alhasil mengurangi suara dan polusi udara sehingga meningkatkan kenyamanan orang yang jalan kaki.

Masalah dengan kendaraan non-alamiah adalah bahwa ia juga sebenarnya sangat mengganggu moda jalan kaki dan sepeda. Ruang yang pakainya sangat besar (di Jakarta mobil pribadi mengambil sekitar 85 % ruang, sementara yang diangkut cuma sekitar 15 % trip).

Polusi besar, suara sudah gawat. Pajak yang dibayar mobil tidak cukup hanya untuk memperbaiki jalan. Jalan kaki dan sepeda tidak akan merusak jalan, tapi ikut bayar pajak. Jalan juga tidak dibangun dengan pajak kendaraan tidak-alamiah, melainkan dari pajak keseluruhan.

Tapi penyebab terbesar kemacetan Jakarta adalah commuters atau penglaju yang sekarang mungkin sudah mencapai 3 juta orang dan laju penanganannya yang tidak maju-maju.
Solusi-nya mungkin cuma dua ; angkutan massal yang sistematik dan tata ruang yang kompak.

Actions for Jakarta December 6, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

ppw311008gt2

Action Needed Now to Avoid ‘Catastrophe’ in Jakarta. A sudden and widespread disaster.

Inextricable traffic jams, even on toll roads, barely breathable air, heavily contaminated water and dwindling open spaces — problems suffered daily by Jakarta residents — may seem intolerable now, but experts warn that it will only become worse unless concerted efforts are made to fix the mess that is Indonesia’s capital.

Each day, almost 10 million commuters spend hours on Jakarta’s roads. Therefore in 2014, traffic jams in the capital are likely to reach total gridlock as a result of the exponential increase in the number of vehicles plying an insufficient road network.

Jakarta, however, is not only running out of land for more roads. The capital is choking from the unfettered conversion of open spaces into concrete. Jakarta Spatial Plan for 1965-1985, the designated green areas accounted for between 26 percent and 28 percent of the city’s surface, but today they make up only about 10 percent.

The combined effect of the sheer number of vehicles out on the road each day and the lack of green open spaces that could offset their fumes has severely degraded the quality of the city’s environment. According to the Indonesian Forum for the Environment (Walhi), transportation causes 70 percent of Jakarta’s air pollution, and the city produces 13,000 tons of carbon dioxide daily.
As a result, on most days of the year — 347 out of 365 in 2006, to be exact— Jakartans are breathing in polluted air.

macet-jakarta

Returning home at the end of the day, more than five million Jakartans will scarcely find rest and solace in their small, cramped houses in the capital’s rapidly expanding slum areas, where basic services such as water supply and sanitation are minimal, if they exist at all.

The government’s efforts to build thousands of low-cost apartments for the poor have so far been criticized as only adding to the problems, instead of being a solution.

With the confluence of these urban woes threatening the future of Indonesia’s capital, real solutions must be found soon. We need to start the sustainable path for the capital.

Who would want to be an architecture student? December 2, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 11comments

arch2

Do you want to be an architecture student?

Bad pay, few jobs and an uncertain future?

Who’d want to be an architecture student in the current climate?

Emma Tubbs is crouched on scuffed lino in a bleached-white corridor outside
her tutor’s office. She’s not alone. The corridor is crammed with students,
each hugging work bound in portfolios, or complicated squiggles on cardboard
purporting to be the future of architecture. It’s freshers’ week at the
Bartlett School of Architecture at University College London.

For architecture students up and down the country freshers’ week is rather
more tense than for other undergraduates. They are not just coping with
normal fresher stuff — making their own bed and learning how to neck pints
in ten seconds. In most architecture faculties students and tutors alike
have to submit to the gruelling process of hustings — like *Dragons’ Den*,
only here the dragons get frightened too.

The previous day, sets of tutors competed for students in a series of
20-minute pitches delivered in the lecture hall. Now the students compete
for places with the tutors in a string of interviews over 48 hours. Tubbs is
about to have hers. “I’m a little frantic, you could say that, yes,” she
laughs. “I really want this tutor.” “It can end in tears,” says Nic Clear,
the Bartlett’s director of fourth and fifth-year students. “I mean for the
tutors. They worry about it all summer. What if no student picks them?”

This new bunch of architecture students, though, has added reasons to be
worried. The recession has decimated the construction industry. Unemployment
among architects has risen more than in any other profession. Architectural
firms
are in the red. Even Norman Foster’s fêted company has had its losses
double in a year, from £8.5 million to £16.1 million — and that after laying
off 400 staff. Fifteen years ago I graduated from the Bartlett during
another recession. That was bad enough. This one, though, is a lot worse.

To cap it all, Britain is producing more architecture graduates than ever —
more, some say, than the construction industry actually needs. A decade ago
Britain’s universities were churning out 1,000 a year. Now it’s 1,400. The
Bartlett
alone attracts 1,800 applicants for 90 places. Five new
architectural schools have opened in the past decade. And, after seven years
of training and tens of thousands of pounds in debt, the average graduate is
competing with hundreds of others for not many jobs. “What I find most
insulting,” says Tubbs, a fourth-year student, “is that after all that
training I’ve got friends who are starting on salaries of under 20 grand.”

David Melia, queueing next to her, joins the chorus of disapproval. “You go
to parties and people say, ‘Oh, you’re an architect, you must earn loads of
money.’ Er, no.”

Average salaries for architects are about £40,000 — £70,000 less than
doctors or dentists. “You don’t go into architecture for money, stability
and a job for life,” Tubbs says cheerily. Laura Allen, who runs the bachelor
course, puts it another way: “Architecture’s still dominated by the
well-off, the privately educated.”

So, what *do* you go into architecture for? Iain Borden, the head at
Bartlett, puts much of the rise down to the *Grand Designs* factor.
“Architecture is much more visible nowadays,” he says. “It’s on the TV. Icon
projects are a factor. Students see them on adverts or on holiday. People
such as Norman Foster are household names.”

Allen agrees. “We get students at 18 who all like Foster and the Guggenheim
in Bilbao and Santiago Calatrava. Architecture is a bit cool. But it’s also
a career, so the parents like it too. Everyone’s happy.”

The students I meet prove the point. Thanks to a more box-ticking,
exam-orientated system — and the prospect of debt — they’re far more focused
than my generation was. Even 18-year-olds here talk about the “edge” a
Bartlett degree will give them in the jobs market. “I enjoyed art at school,
but I wouldn’t want to be an artist,” says Alexander Holloway, a confident
third-year. “The art market is flooded. Here you get to see a tutor every
week. Some places you see them once a term. After all, we’re paying for the
education.”

arch1

“Architecture students aren’t like other students,” Allen says. “They’ve
always worked a damned sight harder. You won’t find them living up to the
student stereotype. “Hundred-hour weeks are quite normal,” Allen says.
“Flatmates never get to see them. They’re strangers in their own home
because they’re here working till dawn day after day.”

It has to be like that, she adds. “Architecture is an immensely broad
subject. It straddles arts and sciences. You have to learn the past 200
years of knowledge about building, cities, landscapes, sociology. And you
have to have designed — and come up with the brief and the site for — five
or six buildings by the time you leave, right down to the smallest detail.
And then you’ve got to learn actually how to be an architect — the law, the
business, the contracts, running a team. You just can’t do it in less than
seven intense years.”

On the plus side it fosters resilience. On the minus, architects live in a
world hermetically sealed from the rest of us. “Architects marry other
architects,” Allen says. Arrogance — as with the medical profession — is all
about. What gets them through it, the students say, is the camaraderie of
the unit system — the whole point of this week’s hustings. The system, by
which students are divided into “units” of 15 or so, run by a couple of
architects, was introduced in the early 1970s by the private Architectural
Association school, in part to mimic the centuries-old atelier
apprenticeship system. The reason hustings are so feverish is because which
tutor, and student, you end up with matters. “Your unit will be your life
for the next few years,” Clear says. “You work with them, you go drinking
with them, you stay up designing night after night with them and, when you
graduate, you’ll often end up in a job with them.”

“Units are a bit like football teams,” Borden explains. “They’re all playing
the same game — but each plays it differently. And you can be on only one
side. Loyalty matters. It’s intensely competitive.”

Each unit has a different take on architecture, just as each architecture
school has a different ethos. Some schools, such as the one at the
University of Bath, are big on engineering and practical skills. Others,
such as the one at the University of Cambridge, are sticklers for
architectural history. And the Bartlett? “They do the crazy stuff,” says
David Melia, a fourth-year student. “But that’s why people like me come
here. For the creativity.” Clear puts it more diplomatically: “We like to
encourage students to go off at tangents, to question things.”

Some blame the Bartlett’s reputation for pushing creativity for the rise in
iconic architecture obsessed with original forms. Out in the “real world”
building contractors, developers, even some architectural firms, often
accuse architecture schools of nurturing creativity over practical skills.
Sit in on the hustings and you see where they’re coming from. One unit will
design an “embassy for cyborgs”, another a toy factory that questions
consumerism. Clear’s own unit teaches film-making, heavy on J. G. Ballardian
dystopias.

These, Clear admits, are at the “esoteric end”. But all the Bartlett’s units
are defiantly experimental. Last year’s work is on show in the entrance
hall. There are animated films encapsulating the notion of uncanny space,
sophisticated computer drawings “made of complex algorithms that blur and
intensify space”. Incredible work. But nothing you or I would recognise as a
bona fide building with a front door and a roof. Leave the future to
Bartlett students and we’ll all be living in car-crash spaces that
occasionally come into focus as giant mechanised spindly crustacea. But
“you’ve got to teach them how to think about space first and foremost,”
Clear says. “Under what might look like the most far-out project real-life
themes are there.”

Themes such as the “grand challenges” that underpin every course — health,
sustainability, intercultural interaction and wellbeing. The architecture
degree also has to comply with subject areas laid down by the Royal
Institute of British Architects
and the Architects Registration Board . But
each school can determine exactly how that’s done. “And think what else we
teach them,” Clear says. “Software skills, computer design, imagination, how
to conjure up from nothing a building with integrity.” If it were left to
architectural practices alone to train architects, Borden says, “nobody
would learn about the Italian Renaissance, just how to put together tender
packages.”

You do wonder, though, about this year’s graduates. The Bartlett’s have
fared better than most. This is, after all, the Oxbridge of architecture,
though many end up nowhere near architecture. Some of Clear’s graduates now
make promo films for Björk and Audi. Two from the experimental Unit 14,
Harry Parr and Sam Bompas, make architectural jellies for A-list clients.
“We teach students to be flexible, and optimistic,” Clear says. “I bet you
architects have a low suicide rate. There’s always the next project.”

So what’s the point? I’ll leave you with a third-year, Alexander Holloway:
“At the end you think, ‘Yeah I did achieve something, I created something.
And it’s all mine.’ What a feeling.”

By : Tom Dyckhoff ; October 15, 2009

Architecture that can change the world November 14, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

011001_bld_architect

Article 25, the charity BD is supporting at the 2009 Architect of the Year
Awards, uses design skills to aid international development by providing
shelter for the world’s poorest

I have no problems remembering my very first minutes as an architecture
student, and I know everyone in my class would too. In a room of around 30
fresh-faced teenagers, we were each asked in turn “why do you want to study
architecture?”. Answers ranged from the idealistic to the unwittingly
megalomaniac. But those first thoughts held the key to what motivates
architects: they want to make a difference.

In a basement in east London, humming with activity, is a charity that is
doing what many of those 19-year-olds thought architecture was about, even
if they couldn’t articulate it — employing good design to help others.
Article 25 is a registered charity and operates as an architectural
consultant to NGOs and others in the field of international development. The
practice is run on a not-for-profit basis; it is manned primarily by
volunteers (among them 16 architects and architectural assistants).

In the three years since its inception, it has worked on 40 international
development projects
, from Pakistan to Sierra Leone. The range is large:
projects span housing and community projects, work in the immediate
aftermath of disasters, masterplanning and consultancy services.

Its name refers to the 25th article in the UN’s Universal Declaration of
Human Rights
, which celebrated its 60th anniversary in 2008. The only
article to refer to the built environment, it states that adequate shelter
and housing are a fundamental human right.

*Role for the architect*

The charity’s illustrious trustees include Norman Foster, Sunand Prasad and
Stewart McColl, but it was Maxwell Hutchinson’s first-hand experience of the
2004 tsunami while holidaying in Sri Lanka that sowed the seed of the
charity/practice. Seeing that there was clearly a role for the architect in
the better planning of shelter for the world’s poorest, he rallied friends
to set up the charity that has now become Article 25.

Friend and fellow founder Jack Pringle, who provided the office space in
those first years, is still actively involved, risking life and limb
recently by jumping out of a plane to raise funds for it.

*Plugging a gap*
“The value that good design thinking brings gains maximum leverage where it
is most needed”
*Robin Cross*

So how does Article 25 operate? Director of projects Robin Cross says the
core idea is to bring design skills to difficult problem-solving. “After
all, the value that good design thinking can bring gains maximum leverage
where it is most needed,” he says.

But where can architecture come in on projects that can sometimes only have
the total construction value of a kitchen extension in the UK? And isn’t
international development work often about just providing basic
infrastructure, not designed solutions? The charity makes architecture
relevant by plugging a gap, concentrating on the added value an architect’s
approach can best provide.

“We start with community participation,” says Cross. “All our projects are
grounded in an understanding of what is needed.”

The practice has developed a workshop guide for involving the community in
writing the brief.

A lot of thought has been put into making sure this framework is meaningful.
So, for example, when deciding what facilities are to be provided, the long
list of functions are each given a “price”, and each participant has to
choose what they spend their allocation on — “so you can’t choose
everything, as that isn’t possible”. Armed with the knowledge gained through
this process, Article 25 is confident its briefs reflect need and are
tailored to each circumstance.

Of course, a practice sitting in London developing schemes in a
mind-boggling variety of cultures and climates could be a recipe for
disaster — however well-intentioned, aid has a long record of misses as well
as hits. Article 25 deftly aims to systematise the approach rather than
providing one solution for all. “So, no matter the place, we would aim to
identify the need from users, assess the available construction skills and
work with the available materials.”

This may sound self-evident, but Cross notes that it is not unusual to find
parts of the NGO sector lacking in construction project management skills to
deliver their own building programmes. Indeed the whole approach is very
businesslike and uses the rigour of mainstream practice within all its
processes.

Poring over his office management chart, Cross remarks that his clients
often appear impressed by the level of organisation Article 25 brings direct
from commercial practice. It is precisely the arena within which it is
effectively making a case for architectural nous. The practice is confident
that it adds value: “For every £1 donated to provide our service we gain £10
in value in the field.”

One project, for an open learning school in Assagao, Goa, was budgeted at
£80,000 for a 300-pupil school. As a result of the practice’s confidence in
designing more complex buildings and by making efficiencies in the layout,
the project developed into a school with the capacity to teach 1,300 pupils.
By emphasising this kind of gain, the modest cost of the design services is
a no-brainer and can increase an NGO’s ability to account for the effective
deployment of donor funds.

This is where being London-based makes sense. Article 25 collaborates with
the top design skills available in architecture and engineering in London,
successfully tapping into our knowledge economy, as well as providing big
players with the opportunity to use their knowledge and skills
altruistically. Cross believes the charity is unique in the UK.

“I am aware of practices that may do development work subsidised by
commercial work, but at Article 25 we are fully concentrated on this work
area, carried out by experienced professionals.”

*Education programme*

Article 25’s work is not all construction projects. There is also a growing
education programme. Already an accredited CPD provider, the charity has
chapters at various universities, harnessing interest in issues around
inter-national development. The next stage is in the pipeline and Article 25
education lead Emily Reilly, who comes from an NGO background, is developing
this work.

“In January we’ll be launching an awareness-raising programme, funded by the
Department for International Development, spec-ifically aimed at improving
knowledge of issues in international development in the built environment
sector
,” she says.

So, with such a broad range of activities, who makes up the team? Staff are
professional volunteers seeking to widen their skills, or on sabbatical.
Cross points out that a recent call for applications for two voluntary posts
received more than 150 applications, so clearly, in terms of human
resources, the pain of the recession is the gain of this charity. As
circumstances have forced many architects with excellent experience into
rethinking their careers, this type of work can be the perfect opportunity.

Apart from time or money, other types of donation are very much welcomed.
Cross says: “Foster & Partners’ recent donation of a couple of cad-enabled
workstations means we now have volunteers working on the design of three
more buildings.”

Talking through the practice’s project in the mountains of Pakistan, where
the previously unskilled workforce are purposefully trained up, the aim for
Cross is “to support long-term capacity locally, to undo the culture of
dependency”.

Taking this to its conclusion, he says, “ideally, we’d like to do ourselves
out of a job”. But given the increasing precariousness of shelter for the
majority of the world’s population, there doesn’t seem much likelihood of
that.

*Mozambique crèche*

Pierre d’Avoine Architects and Article 25 have collaborated on the design of
a 100-child crèche which is being built in the Luis Cabral barrio in Maputo,
the capital of Mozambique.

It is conceived as a three-storey in-situ concrete frame, within which
timber-walled enclosures are established.

All spaces are oriented towards a central courtyard, which is planted with
an acacia tree, while the exterior of the structure is formed by a wall of
reeds. The crèche will prove crucial in allowing young mothers to work and
take educational courses.

*Sierra Leone School*

Sierra Leone’s recent civil war inflicted enormous damage on the public
infrastructure of this country. School buildings proved a particularly
frequent target, leaving many destroyed. Working with Foster & Partners,
Article 25 has developed a design for a school building which can be built
from locally sourced materials. The first implementation of the scheme has
recently begun on site in Kondoma, in the Kailahun region of the country.

Due to complete next May, it will accommodate more than 450 pupils.

30 October, 2009

By *Matthew Turner*

Memaknai Ruang October 2, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

space1space4

Robert Sack melihat sebuah ruang bagi masyarakat primitive  : “Ruang adalah tanah dan tanah bukanlah sebuah benda yang dapat dipotong-potong dan menjualnya sebagai sebuah parcel….manusia memiliki kedekatan terhadap alam dan berhubungan dengan tanah tempat mereka hidup ….tanah adalah milik bersama, tanpa ada yang mengklaim tanah sebagai milik pribadi…tanah adalah sebuah tempat yang memiliki relasi sosial”. Ruang Primitive dalam versi Robert Sack menggambarkan tidak ada ruang abstrak di luar sebuah tempat dan tidak ada tempat diluar masyarakat – mereka terkait dalam sebuah tananan keruangan. Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar - sarang – telur - burung (dari lagu diatas) adalah potongan-potongan ruang yang tidak dapat `diperjual-belikan` dalam bagian-bagiannya. Tempat (Paris) sebagai place dan Rumah (dengan ruangan-ruanganya) sebagai room menjadi multi simbiosis. Mereka membentuk ruangnya sendiri dalam koneksitas keruangan yang kompleks dinamis. Kelihatannya, sebuah ruang lahir karena ada ruang-ruang lainnya, yang kemudian ruang itu membentuk sebuah kegunaan dan ketersambungan dengan ruang-ruang yang ada sebelumnya, karena mereka (baca: ruang-ruang) tersebut saling terajut dalam kekompleksitasan bukan hanya pada kaedah fisik tetapi sosial bahkan mental didalam lapisan layer-layer keruangan.

Plato mengungkapkan dalam meruangkan ruang, berarti kita mencoba memaknai bahwa sebuah ruang hendaknya hadir sebagai yang pertama bahkan sebelum sebuah aksi kreatif terhadap ruang itu dimunculkan. Kemungkinan muncul aksi kreatif terhadap sebuah ruang akan membawa pada pengertian ruang tumbuh dalam perbedaannya sepanjang sejarah ruang itu sendiri (baca: ruang baru selalu muncul karena adanya aksi kreatif). Ruang membangun dirinya sendiri dari pengalaman dimana ruang telah dilalui oleh penggunanya. Memaknai ruang artinya memaknai aksi kreatif terhadap cara meruangkan ruang dan memwaktukan waktu. Ruang membentuk pengalamanan dan pengalaman membentuk ruang.

Herman Hetzberger mengatakan bahwa membicarakan ruang adalah membicarakan tentang berapa luasnya limit dari berbagai kemungkinan yang membangun pengertian ruang itu sendiri. Herman Hetzberger melanjutkan ruang ada didepanmu, bahkan diatas serta dibawah dirimu, ruang memberikan anda kebebasan pandangan dan pandangan tentang kebebasan. Terkadang kita menemukan sebuah ruang yang tidak terduga bahkan terkadang sulit untuk didefinisikan. Ruang adalah ruang, terkadang kehadirannya di luar jangkauan. Memaknai ruang berarti memaknai kehadirannya dengan coba menggambarkannya.

space3space2

Arsitektur Sebagai Program Penelitian Ilmiah August 30, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment


cmhrimage

Pendekatan berdasarkan ‘praktek keilmuan’ dalam proyeksi arsitektur merujuk pada pandangan yang mengutamakan peran arsitek layaknya ilmuwan dengan ‘metodologi program penelitian ilmiahnya. Pandangan ini mengedepankan peran arsitek dengan pekerjaan utamanya, yaitu merancang. Jadi kegiatan perancangan arsitektur dalam hal ini dianalogikkan sebagai proses “Metodologi Program Penelitian’ yang dilakukan ilmuwan. Apabila dikaitkan dengan Ilmu Pengetahuan, pemahaman terhadap pengertian tersebut terlihat pada kegiatan perancangan sang arsitek. Kegiatan perancangan dapat disamakan dengan proses ‘metodologi kegiatan ilmiah’ dalam ilmu pengetahuan. Proses-proses dalam kegiatan arsitektur memiliki ciri yang sama dengan proses-proses yang ada dalam Ilmu Pengetahuan.

Penjelasan kerja arsitek ini dapat dijelaskan sebagai berikut ;

Bahwa pada awalnya para arsitek tidak bertitik tolak dari sebuah teori tertentu ketika merancang. Mereka melakukan kerjanya berdasarkan intuisi dan keyakinannya masing-masing. Meskipun sudah meninjau tapak dan situasi disekitarnya serta mempelajari peraturan bangunan dan juga standar-standar type bangunan yang bersangkutan, mereka akan berspekulasi dulu saat memulai perancangannya, misalnya dengan membuat sketsa-sketsa ide dan maket studi.

Setelah itu mereka mencari dalih yang tepat untuk memilih salah satu dari rentetan alternatif tadi. Ketika mereka membuat pra-rancangan, ide-ide awal tadi boleh jadi menjadi tidak tepat lagi. Akan tetapi kemudian mereka tidak membuangnya begitu saja namun menyempurnakannya dengan jalan bercermin dari kasus serupa dari berbagai sumber (misalnya, contoh kasus, jurnal arsitektur dan sebagainya). Pada saat memasuki tahap pengembangan rancangan, konsep pra-rancangan tadi bisa jadi tidak tepat lagi. Disinipun gagasan awalnya tidak dibuang melainkan diamankan dengan dengan cara menggunakan pemecahan-pemecahan teknis yang mendukung. Dari situ mereka lalu mencari landasan teoritis pemecahan teknis tersebut untuk melengkapi gagasan awal tadi. Itulah sebabnya mengapa tak ada satu karya buatan arsitek yang sama bahkan ketika mereka saling meniru, sebab ‘metodologi program perancangan’ mereka saling berbeda.

Para arsitek baru bersedia membuang seluruh programnya ketika dalam proses perancangan tersebut mereka mencontoh karya lain yang sejenis yang dinilai jauh lebih baik dari pada yang tengah dikerjakan. Tetapi hal itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil arsitek sebab setiap arsitek terobsesi untuk membuat karya yang unik dan orisinil, sebuah maha karya arsitektur yang abadi.

for more :

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Penelitian dalam Arsitektur August 30, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

tarakans-strategic-area-1

1. Kondisi Up to Date

Penelitian dalam arsitektur merupakan bidang kegiatan yang relatif baru. Meski secara konseptual telah diakui kepentingan dan manfaatnya, penelitian masih “fragmented” dan belurn menjadi bagian struktural dari industry, konstruksi, profesi arsitektur dan pendidikan arsitektur. Hingga kini belum ada kejelasan dan kesepakatan tentang :

- Jenis, substansi dan metoda penelitian yang perlu dikembangkan.

- Kerangka untuk mengorganisasikan dan mengembangkan penelitian.

- Penyediaan sarana, sumber daya manusia dan dana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan penelitian.

Faktor-faktor penghambat penelitian dalam arsitektur :

- Para arsitek umumnya bersikap pragmatis dan intuitif, lebih mengarah pada penerapan pengetahuan yang telah dimilikinya (precedent), alih-alih pengembangan pengetahuan baru. Studi sistematik atau penelitian dianggap kurang tepat untuk dijadikan bagian dari disiplin arsitektur.

- Masalah arsitektur mencakup aspek yang majemuk. Arsitek merasa tidak berkompetensi Unluk rnelaksanakan penelitian tentang aspek-aspek yang menjadi bagian dari disiplin lain dan menuntut ban yak konsentrasi, waktu dan biaya.

- Para arsitek cenderung memandang rekannya yang bekerja sebagai peneliti sebagai “mediocore”.

- Sekolah-sekolah arsitektur belum menjadikan metodologi penelitian sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.

- Akses terhadap literatur, sumber data dan sarana penunjang lainnya masih sangat minim.

2. Perbedaan Desain Arsitektur dan Penelitian Dalam Arsitektur

Desain Arsitektur :

- Bersifat unik, singular dan inklusif.

- Berorientasi pada produk, kurang mempermasalahkan aspek metodologis.

- Mengandalkan intuisi.

- Bertujuan menyelesaikan masalah yang kompleks dengan solusi tunggal.

Penelitian Dalam Arsitektur :

- Berkaitan dengan seperangkat kasus dan aplikasi generik, menuntut paras generalisasi tertentu dan bersifat eksklusif.

- Berorientasi pada proses dan produk. Metode perlu didokumentasikan dan dievaluasi keabsahannya.

- Intuisi harus diujikan pada tujuan spesifik penelitian.

- Bertujuan membangun kerangka umum yang menjelaskan secara rasional berbagai faktor yang berpengaruh.

3. Ranah Penelitian Dalam Arsitektur

Penelitian dalam arsitektur dapat dibagi ke dalam beberapa ranah (domain) :

a. Penelitian untuk pengembangan teori :

- Penentuan landasan dan orientasi teoritis

- Penyusunan kerangka sistematis dan model-model

b. Penelitian untuk pemrograman :

- Identifikasi masalah-masalah lingkungan dan strategi pemecahannya.

- Identifikasi karakteristik, kebutuhan, pola aktifitas dan preferensi pemilik, pemakai dan masyarakat, serta penerjemahannya ke dalam konsep-konsep yang dapat diimplementasikan oleh pereficana dan perancang. Contoh: Pemrograman proyek besar dan kompleks.

c. Penelitian untuk desain :

- Diarahkan pada pencarian dan pengembangan konsep, prinsip dan gagasan desain yang tanggap terhadap tuntutan kebutuhan, tantangan dan kendala yang ada.

- Penelitian dapat berbentuk studi morfologi dan tipologi bangunan (pola sistematik, prototipe, konfigurasi spasial, dan lain-lain). Contoh : Pattern Language - Christopher Alexander.

d. Penelitian untuk evaluasi pasca huni :

- Diarahkan pada penilikan unjuk kerja atau efektifitas lingkungan yang telah dibangun dan dipergunakan, untuk mengidentifikasikan kesalahan dan kekurangan yang ada, yang perlu diperbaiki dan disempurnakan dalam proses pemrograman dan desain selanjutnya.

- Evaluasi pasca huni dilakukan dalam rona aktual dengan tujuan menjelaskan kondisi yang ada, bukan memanipulasikan Iingkungan tersebut.


4. Substansi Penelitian Dalam Arsitektur

Substansi penelitian dalam arsitektur masih terus berkembang. Yang tercantum dalam daftar prioritas adalah sebagai berikut (James C. Snyder, Architectural Research, 1984):

- Environmental- Behavior Research

- Evaluation Research

- Research for Urban Design

- Urban Planning Research

- Indoor Polution : Lighting Energy and Health

- Architecture of: Normalization

- Life-Span Changes

- Architecture and Energy

- Seismic Hazards

- Underground Architecture

- Architectural Comunication

- Building Economics

title

Kreatifitas Dalam Proses Penelitian Arsitektur

Agar kreatifitas dapat ditumbuhkan, dalam penelitian arsitektur perlu ditempuh tahapan sebagai berikut :

a. Pendalamaan komitmen terhadap subyek, dengan motivasi yang tinggi

b. Inkubasi dan pencernaan.

c. Iluminasi dan pelahiran gagasan baru.

d. Aplikasi, verifikasi dan eksplorasi.

Baca lebih lanjut : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

Peranan Penelitian Arsitektur August 30, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

architecture-design-for-champalimaud-foundation-centre-building

Kegunaan penelitian arsitektur adalah untuk memahami keinginan si pemakai jasa arsitektur tanpa mengabaikan kondisi tapak atau lingkungan setempat, dan akhirnya menterjemahkannya ke dalam suatu bentuk desain. Untuk mendapatkan hal-hal tersebut, maka seorang arsitek harus melakukan penelitian, survai, pengumpulan data, analisis, sintesis, dan konsepsi; tetapi tetap dalam hubungannya dengan penelitian ilmiah, baik pengertian maupun kemampuan dari luas cakupan yang berbeda. Umumnya arsitek lebih menekankan penelitiannya pada penemuan konsep perekayasaan ruang fisik kegiatan manusia saja. Di samping itu seorang arsitek demi keinginan pemakai harus memposisikan arsitektur di atas dasar ilmu-ilmu alam dan kemanusiaan, yang sama-sama ilmu empiris. Dengan kata lain, di dalam mencari kebenaran, arsitek lebih banyak memakai cara kerja induktif, yaitu cara kerja dengan langkah-langkah berupa observasi, eksperimen, dan penemuan. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan dilakukan cara kerja dedukif, bila data yang diperoleh lebih banyak menggunakan data kuantitatif seperti yang dilakukan ilmu-ilmu pasti lainnya, contohnya : penanganan masalah rayap berdasarkan prinsip patologi bangunan.

Penelitian-penelitian arsitektur umumnya lebih kompleks dengan data yang tidak eksak dibandingkan dengan penelitian-penelitian ilmiah lainnya. Selain itu data yang diperoleh tidak dapat dikontrol, karena disebabkan oleh masalah orientasi yang sangat luas. Masalah lain yang dihadapi dalam penelitian arsitektur adalah ketidakmungkinan melakukan eksperimentasi yang terjadi terhadap masalah-masalah sosial yang ada, ini berarti tidak mungkin dilakukan percobaan dengan replikasi serta kontrol yang cukup terjamin ketepatannya. Kesulitan lain yang dihadapi ialah kurangnya kemampuan prediksi dalam membuat perkiraan (forecasting) terhadap masalah-masalah sosial yang ada yang ikut mempengaruhi penelitian arsitektur. Pemikiran ini timbul karena arsitektur masih terjebak dengan pola lama, sehingga dalam penelitian ilmiah seorang calon arsitek atau arsitek dianggap kurang meneliti. Dewasa ini seorang arsitek diminta untuk ikut memperhatikan aspek kuantitatif (terukur) terhadap pasca desainnya, seperti konstruksi dan maintenance (pemeliharaan/perawatan) bangunan yang telah didesainnya Selama ini informasi yang diperoleh oleh peneliti arsitektur banyak disandarkan kepada daya ingat dari obyek dalam mencari fakta. Oleh karenanya, timbul permasalahan tentang bagaimana mengurangi bias dari informasi yang diterima. Hal ini merupakan tambahan kerja yang memerlukan kecermatan dari peneliti arsitektur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa peneliti arsitektur selalu mendapatkan dirinya berkecimpung dalam masalah aktivitas ataupun melibatkan dirinya dalam meneliti catatan aktivitas manusia, dan harus membuat proses dan fenomena dari masalah tersebut. Variabel-variabel fenomena arsitektur sulit sekali diukur secara kuantitatif sebab akan membatasi terhadap desain, sehingga data yang diperoleh dapat dimaklumi lebih banyak merupakan data kualitatif.

Baca lebih lanjut : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ydnugra/

oh no.. Facebook again April 24, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , add a comment

facebook

Slogan Facebook : “Facebook is a social utility that connects you with the people around you”.

Slogan Facebook tersebut berisi tentang fungsi dari Facebook itu sendiri. Ada banyak kelebihan dari situs jejaring sosial ini yang ternyata secara langsung memberikan makna yang lebih dalam dari slogannya tersebut.

Facebook sebagai situs jejaring sosial yang belum cukup lama hadir, mulai mengemuka pada Juni 2007, dengan memiliki anggota yang terdaftar sebanyak 52 juta pengguna. Namun setahun berselang, jumlah pengguna Facebook kian melonjak dengan memiliki 150 juta pengguna, dengan pertumbuhan mencapai 153 persen.

Keberhasilan Facebook tersebut mulai dijadikan perbandingan terhadap situs-situs jejaring sosial lainnya seperti Friendster dan MySpace. Perbandingan tersebut terutama terletak pada fitur-fitur yang disediakan dalam masing-masing situs jejaring sosial tersebut. Berikut akan dijelaskan kelebihan Facebook dibandingkan situs jejaring sosial lainnya yaitu Friendster dan MySpace, berdasarkan tujuan utamanya, yakni sebagai media pertemanan (social networking), sebagai media pemasaran (advertising / marketing), dan sebagai media hiburan (entertainment).

Facebook didirikan oleh alumni mahasiswa Harvard University yang bernama Mark Zuckerberg beserta teman-temannya (Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes) pada Februari 2004. Asal muasal Facebook ini sebenarnya merupakan aplikasi yang dibuat Mark dan kawan-kawan yang bertujuan untuk komunikasi antara mahasiswa Harvard. Namun di luar dugaan, ternyata dalam waktu dua minggu setelah Facebook diluncurkan, hampir separuh dari semua mahasiswa Harvard telah mendaftar dan memiliki account di Facebook.

Berdasarkan facebook.com; “Facebook adalah direktori online yang menghubungkan orang-orang melalui social network di sekolah”. Facebook adalah sebuah cara bagi pelajar untuk berhubungan dengan orang yang mereka kenal, dari sekolah yang sama, yang memiliki ketertarikan yang sama dan lainnya. Terdapat 2 (dua) versi dari Facebook saat ini, yaitu versi original yang didesain untuk kampus dan universitas, serta versi terbaru yang ditargetkan untuk sekolah menengah atas.

Facebook adalah perusahaan yang memiliki kemampuan untuk melayani berbagai tipe konsumen karena konsumen Facebook adalah orang-orang yang berasal dari segala macam latar belakang budaya, usia, jenis kelamin, kebiasaaan, sistem pemerintahan dan lainnya.

Saat ini terdapat 150 juta pengguna aktif Facebook, saingan terdekatnya, MySpace memiliki 130 juta pelanggan aktif. Jika kita melihat populasi dunia saat ini mencapai lebih dari 6 miliar, itu berarti facebook telah menguasai 2,5 persen populasi dunia.

Diperkirakan terdapat lebih dari 10.000 pelajar (tidak termasuk profesional dan yuppies) mendaftar Facebook tiap harinya. Itu berarti market growth perusahaan jejaring sosial secara menyeluruh mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Company : FaceBook
Launched : February 4, 2004
Status : Funded by Peter Thiel and Accel Partners
Employees : 32 in Palo Alto, 4 in Boston
Location : Palo Alto

Team :

1. Mark Zuckerberg - Founder, CEO

2. Sean Parker – President

3. Dustin Moskovitz

4. Andrew McCollum

5. Chris Hughes

Facebook ditaksir memiliki harga saham: $8.88 per share, sehingga menjadikan nilai perusahaan tersebut sekitar $3.7 miliar

Demokrasi bukan pilihanku.. March 29, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 1 comment so far

democracy

Menjelang pesta demokrasi alias pemilu, begitu banyak persiapan yang dilakukan para pengusungnya, dari kota sampai ke desa; berjajar partai-partai yang akan turun ke kancah politik. Mulai dari partai senior sampai partai junior, bahkan partai yang menisbahkan dirinya kepada Islam pun tidak mau ketinggalan mengambil posisi dalam memeriahkan pesta demokrasi. Tak ada satu jalan pun kecuali telah dipenuhi dengan baleho-baleho para caleg, spanduk-spanduk partai, stiker, dan atribut lainnya. Beribu-ribu ungkapan dan janji yang tertulis hampir di setiap sudut kota. Semuanya terkadang buat bingung; yang mana harus dipilih?

Adanya pesta raksasa semodel ini terkadang membuat orang lupa segalanya sehingga ia tak pernah mau tahu apakah menerapkan paham demokrasi adalah yang terbaik.

Kedudukan DEMOKRASI ini akan semakin jelas, jika kita mengetahui maknanya. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani dan tersusun dari dua kata. Kata pertama adalah “Demo” yang bermakna rakyat atau penduduk. Kata yang kedua adalah “Krasi” yang berasal dari kata “Kratia” yang berarti aturan hukum dan kekuasaan. Dua kata Yunani ini, kalau digabungkan, menjadi “Demokrasi” yang berarti pemerintahan dari rakyat.

Jadi, DEMOKRASI adalah hukum dari rakyat untuk rakyat sendiri, dalam artian suara rakyat adalah hukum dan kekuasaan tertinggi. Dalam prakteknya, demokrasi tergambar dalam suara terbanyak. Keputusan apapun yang dipilih oleh suara terbanyak, maka itulah yang harus diambil dan diterapkan.

DEMOKRASI yang merupakan produk buatan manusia yang banyak memiliki kekurangan, dan kebatilan. Diantara kebatilan-kebatilan demokrasi:

* Menentukan Hukum Berdasarkan Suara Terbanyak

Banyaknya manusia yang memilih dan menetapkan suatu perkara bukanlah menjadi tolok ukur bahwa perkara itu benar dan baik. Jika suatu perkara dikembalikan dan diukur dengan pikiran dan ide kebanyakan orang, maka yakinlah bahwa perkara-perkara itu akan banyak memiliki kekurangan dan pelanggaran; jauh dari jalan Tuhan. Jadi, manusia –bagaimanapun banyaknya- bukanlah pengambil keputusan tertinggi, dan bukan sumber hukum tertinggi.

* Menyamaratakan Manusia

Dalam ajang demokrasi semua orang posisinya sama; seorang ulama dan bertaqwa sama posisinya dengan orang yang jahil lagi dzolim. Orang yang sholeh sama posisinya dengan seorang perampok; Seorang professor sama pendapatnya dengan seorang gelandangan. Demikianlah demokrasi, adapun kemauan kita adalah bahwa semua selayaknya diposisikan secara proporsional.

* Pesta Pemborosan

Pemilu jelas menggunakan uang rakyat. Bukankah uangnya memang dianggarkan untuk dibuang? Namanya saja pesta demokrasi, uang yang dipakai untuk mengulang pesta ini akan berulang tergerus lagi.

Ada banyak kontroversi yang menyelimuti sistem demokrasi. Beberapa polemik memang tidak akan habisnya kalau dibahas.. ini senua terjadi karena sistem ini memang tidak relavan untuk memilih pemimpin.. Saya tetap menganut sistem yang elegan yang pernah kita anut dahulu yaitu “Musyawarah Mufakat”. Ini bukan berarti meniru paham yang ada di Timur tengah maupun di Cina, tetapi dengan sistem ini saya melihat bahwa kualitas pemimpin yang dihasilkan memang lebih akomodatif dan logis.

setelah sejak sekitar 90 an saya tidak pernah menggunakan hak pilih, saya mimpikan pemilu saat ini yang bener dan bersih tapinya makin dekat saat pemilu justru semakin saya ragu pada semua menu pemilu yang ada . . .
Haruskah aku golput lagi ?
meski tidak memilih berarti tidak ikut menentukan tapi apakah memilih saja sudah benar tanpa tau persis si A yang kita pilih , jangankan sifat dan kelakuanya , kenal saja lewat iklan dan selebaran serta rasanya tidak cukup waktu kampanye ini untuk menentukan pilihan .
Dosakah saya golput ?
Padahal beberapa caleg yang datang tak ada satunya yang berhasil menarik simpati saya , apakah saya harus dipaksa atau memaksa diri untuk memilih diantara mereka yang jelas tidak kita suka saat menjelaskan programnya yang tidak dapat saya mengerti/terima .

Pendapat  Erwinthon P. Napitupulu :

Terus terang, saya pengusung golput. Bahkan rela dianggap sebagai
jurkam golput hehe karena sudah cukup banyak teman/saudara yang saya
sadarkan/sesatkan untuk jadi golput hehehehe. Saya golput justru
karena saya tidak apatis.

Perilaku anggota dewan dan sistem politik (eksekutif, legislatif,
yudikatif) di Indonesia sudah memuakkan. Maaf, saya nggak tahu apakah
utk menggolkan UU Arsitek, ada “dana” yg harus disiapkan? Saya dengar
sendiri dari kawan yg menjadi pengurus IKAPI (Ikatan Penerbit
Indonesia) bagaimana utk menggolkan sebuah UU, mereka perlu siapkan
uang sampai 2 milyar untuk anggota dewan.

Selain itu, saya sungguh sangat kesal melihat pemandangan kota
dihancurkan oleh spanduk2 caleg, yg biaya pembuatan dan biaya
kampanyenya nantinya akan balik modal dari setoran2 setelah jadi
anggota dewan. Pemilu dagelan! Sebagian besar dari satu setengah juta
orang sudah gila dengan mengajukan diri jadi caleg.

Tingginya angka golput akan menunjukkan seberapa besar orang yg muak
atau tidak peduli. Jika angka itu lebih besar dari jumlah angka
pemenang pemilu, setidaknya para penghuni Senayan itu berkurang
main2nya dalam penyelenggaran negara ini, karena jika tingkat kemuakan
masyarakat makin besar, maka kemungkinan yg buruk bisa saja terjadi.

Dengan menjadi golput, saya menganggap diri tidak mau ikut
melanggengkan kebusukan itu terus terjadi di sini. Sebelas tahun
belakangan memang mulut Indonesia dibiarkan terbuka, tapi tulang2 kita
dipatahkan, sehingga dari mulut yg terbuka itu sering keluar kalimat2
yg menunjukkan kesakitan. Pemiskinan dan pembodohan kepada bagian
terbesar massa rakyat terus terjadi, setidaknya itu yang saya lihat
terjadi di kampung tempat saya tinggal sekarang. Sama sekali tidak ada
kepedulian pemerintah pada petani kecil.

Sebelas tahun ini kita sudah salah melangkah, membiarkan orang2 busuk
berkuasa kembali. Ketika 1998 harusnya kita mengikuti anjuran Romo
Mangun: “Kalian bodoh semua, harusnya bukan reformasi untuk perbaiki
negeri ini tapi revolusi…bla. .bla…bla. …” sambil mencontohkan
Bung Hatta (dng contoh ini berarti revolusi berdarah harus dihindari).

Singkat saja. Analisa saya: golput relatif tidak mengubah komposisi
perolehan suara partai. Lalu, apa kepentingannya? Ya, supaya kita
semua sadar bahwa ini sudah sangat tidak benar. Sekarang kan se-olah2
jadi benar, karena mereka berhak mengklaim saya wakil dari rakyat
(dari persentase pemilih yg ikut, padahal berapa persen yg tidak
mengerti apa yg mereka pilih, berapa persen yg ketipu terus hanya bisa
misuh2 di warung kopi atau di internet, berapa persen lagi yang
memilih atas dasar serangan fajar). Kita dapat hasil yang palsu kan?
Dan kata Ompung saya, semua yang palsu/tidak benar itu tidak baik.

Ibarat kanker atau gigi busuk, ketimbang merambat ke mana2 dan
membahayakan jiwa, potong buang atau cabut.

Tenang saja, bro.
Revolusi yg saya maksudkan bukan huru-hara. Peristiwa 98 bukan
revolusi, itu adalah sebuah simpul/simpang di mana kita dihadapkan
pada pilihan: mau perbaikan cepat-total atau bertahap? sayangnya kita
ambil jalan yang salah, akhirnya ya terus sakit spt sekarang ini.

Orang sering keburu alergi dengan kata revolusi. Itu kan artinya
perubahan yang terjadi secara cepat. Revolusi juga bukan lawan kata
reformasi. Reformasi kan cuma berubah bentuk, materinya sama, spt yg
terjadi sekarang ini. Sama juga dengan banyak orang keburu alergi
dengan kata “kiri”. Padahal jantung kita kan ada di bagian kiri
(sedang perut berada di kanan, ya? hehehe).

Saya suka nonton tinju yg sportif, tapi saya benci sekali lihat
tawuran mahasiswa. Lalu mungkinkah revolusi di negara kita berlangsung
tanpa pertumpahan darah? Revolusi-nya Gandhi atau Martin Luther King
Jr bisa dijadikan inspirasi. Caranya bagaimana? Itu yang perlu
ber-sama2 orang2 muda, pemilih masa depan, pikirkan. Peristiwa
Kemerdekaan kita juga dilakukan dengan keputusan yg berani, melakukan
revolusi pada saat ada kesempatan menjelang akhir Perang Dunia II.
Pelakunya adalah orang2 muda angkatan 45 dan orang2 tua dari angkatan
28. Baca lagi deh sejarah.

Demokrasi memang masih merupakan sistem yang paling baik dalam
bernegara. Jadi biarkan yg memilih tetap memilih, yang golput tetap
golput. Keduanya tetap diperlukan utk kondisi saat ini. Biarkan juga
antarkeduanya saling mempengaruhi, saling tarik massa, dengan
pemahaman yg tepat. Selama tidak ada pemaksaan, dan manipulasi
informasi.

horas!
erwin
jurkam golput cabang maya dan Lembang yg tidak berminat menggagalkan pemilu.
Cuma pengen golput lebih banyak dari pemenang pemilu.

Hujan Batu di Negeri sendiri..? March 22, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

stone3

Agak miris kalau melihat nasib para peofesional kita yang bekerja diluar sana kemudian ingin mempraktekkan ilmunya di negerinya sendiri. Utamanya setelah melihat pengalaman orang2 terdekat yang akhirnya salah tingkah on they return home. Beliau2 pulang dengan keinginan mendobrak yang salah kaprah, malah kena masalah kanan kiri yang sungguh menyakitkan dan konyol. Akhirnya frustasi dan apatis, walaupun tetap berkarya dan berprestasi.
Tapi jangan salah, yang mudik dan melejit memang justru lebih banyak. Tapi
apakah berhasil mendobrak sistem, ataukah harus menerima dan beradaptasi
dengan sistem yang ada?

Saya cuma melihat bangga aja punya orang2 seperti presiden Habibi dan laonnya yang mau pulang kandang membagi sedikit pengalaman dan ilmunya, bahkan juga tukang ahli panjat skyscraper di negeri jiran. Yang jelas berkiprah di tanah air rasanya lebih butuh nyali, sabar dan akal. Seringkali yang di luar larut dengan kenyamanan dan perlindungan peraturan, sehingga ibarat kucing rumahan bakal pudar insting berburu dan bertahannya. Ada juga risiko ilmu bawaannya jadi tidak relevan dengan kondisi lokal, sehingga begitu kena masalah jadi tenggelam.

Sebagai contoh kasus tak langsung adalah keberadaan expat di Jakarta.
Konon dalam kontrak ijin tinggalnya mereka harus bersedia transfer ilmu dalam
jangka waktu pasti. Sepertinya yang sering dikeluhkan teman2 dari Jakarta
adalah justru kape2 itu banyak belajar ilmu lokal/ terapan dari orang2
lokal yang bergaji sepersepuluhnya dan pelit sekali menularkan ilmunya. Artinya
wong bule aja merasa inferior di JKT, apalagi wong sawo mateng yang baru
pulang?

Pendidikan dan Arsitek Indonesia - siapa yang salah? March 18, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

teaching-arch

Pendidikan secara umum yang dipandu oleh Departemen Pendidikan di Indonesia memang sangat membingungkan. Mulai dari pendidikan dasar sampai tingkat paska sarjana. Visi dan Misi dari sistem pendidikan yang terus berganti dan tidak pernah menjadi jelas akan dibawa kemana menjadikan pendidikan di Indonesia sangat mahal untuk yang ingin mendapatkan kualitas dalam pendidikannya. Hal ini otomatis membawa akibat kepada semua disiplin ilmu dalam pendidikan di Indonesia.

Kebingungan dalam pendidikan ini muncul juga dalam pendidikan arsitektur. Panduan yang digariskan dari Departemen Pendidikan dan alur yang muncul dalam profesi arsitek selama bertahun-tahun sudah berakibat pada terjadinya jurang yang mendalam dan melebar. Pernyataan klasik yang muncul adalah `lulusannya tidak siap untuk bekerja’. Lalu ditambah dengan pernyataan lain `kalau lulusan dari luar negeri mereka lebih siap bekerja’. Ini yang kemudian membuat banyak siswa dan orang tua siswa berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di luar negeri demi pendidikan yang `kabarnya’ lebih baik.

Apa yang menjadi hambatan pendidikan di Indonesia untuk menjadi lebih baik? Kenapa lulusannya tidak siap bekerja? Kenapa lulusan dari luar negeri lebih siap bekerja?

Saya melihat kepada kurikulum dan matapelajaran yang ditawarkan di Indonesia dari SD sampai Universitas. Menurut saya tidak ada yang salah dan kalaupun ada perbedaan hanya sedikit dan tidak terlalu penting untuk dikategorikan sebagai gagalnya system pendidikan di Indonesia. Ahli2 paedagogi akan bisa lebih dalam membahas hal ini daripada seorang arsitek seperti saya. Tidak terlalu penting karena menurut saya apapun system yang akan dianut – Cambridge, DC, Oxford dll – semua sama bagusnya. Persoalannya kenapa sistemnya menjadi gagal? Sementara di Negara asal telah terbukti menghasilkan banyak ahli yang handal.

Menurut saya yang menggagalkan sistem tersebut bukan Departemen `Bingung’ Pendidikan tapi `budaya bingung nusantara’ yang menggagalkan semua sistem yang dicoba diterapkan di Republik tercinta ini. `Budaya bingung nusantara’ ini merepotkan sekali. Karena hal ini berurat dan berakar di tanah air (menurut saya) sebagai akibat munculnya kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Perubahan budaya dan cara berfikir yang dididik oleh sistem kolonialisme ini sangat terasa menjadikan masyarakat Indonesia menjadi `Bingung Budaya dan ber Budaya Bingung’.

Saya tidak suka membahas suatu masalah tanpa diusahakan mencari jalan keluarnya. Jadi kalau kita ini semua adalah produk pendidikan kolonial belanda yang kemudian mendadak merdeka lalu menjadi masyarakat bingung budaya terus bagaimana caranya memperbaiki kebingungan ini? Caranya, dengan pendidikan. Loh? Tapi pendidikannya kan sudah bingung? Bukan pendidikannya yang bingung; yang bingung itu budaya manusianya. Jadi perubahan pendidikan itu dimana? Pendidikan yang harus dirubah adalah pendidikan manusianya. Pendidikan keahlian manusianya bagaimana? Perlu disesuaikan dengan standar-standar internasional tapi bukan merupakan hal yang sulit. Pendidikan untuk merubah manusianya itu adalah revolusi.

Revolusi? Yes. Revolusi pembebasan pemikiran manusia yang terjajah kolonialisme selama 350tahun. Bukannya kita sudah merdeka? Secara hukum benar kita merdeka. Tetapi secara budaya kita belum merdeka.

Bukti dari penjajahan budaya kolonialisme dalam budaya Indonesia contohnya: takut untuk duduk sejajar dengan klien dengan alasan bahwa klien adalah raja. Lalu kenapa arsitek asing berani duduk sejajar dengan klien dan berani mengatakan tidak pada kliennya? Ini adalah budaya strata masyarakat yang diciptakan oleh kolonialisme. Pertama segregasi karena priyayi atau non-priyayi; lalu segregasi karena ada uang dan tidak ada uang; lalu segregasi karena kulit putih dan kulit tidak putih. Segregasi ini memang dimanapun juga (termasuk Negara barat) masih terjadi hanya semakin tipis bedanya. Buktinya setelah melalui ratusan tahun akhirnya baru tahun ini USA memilih Obama sebagai presidennya dengan perjuangan yang luar biasa.

Lalu ada budaya; mohon doa restu dalam segala hal sehingga menjadikan tidak ada yang mempunyai pendapat atau berpendapat atau mempertanyakan pendapat dari para priyayi, pemilik uang atau kulit putih. Jarang sekali arsitek Indonesia mempertanyakan pendapat klien dan klien juga jarang mau mempertanyakan pendapat arsitek asing. Hasilnya arsitek Indonesia itu mohon doa restu dari klien; kalau klien mohon doa restunya dari arsitek asing. Akibat lainnya dari tidak adanya budaya mengemukakan pendapat ini; masyarakat menjadi hidup tanpa mempunyai budaya bertukar pendapat, berdiskusi dan silang pendapat yang sehat. Dalam sejarah kalau diperhatikan di propinsi2 dimana budaya berdiskusi antar tetua kampung dan masyarakatnya sangat kuat maka Belanda sulit menaklukkan daerah itu. Sekarang ini seringkali diskusi dan silang pendapat itu dianggap menjadi hal yang tidak sopan. Mempertanyakan pendapat orang lain secara terbuka dianggap menjadi penghinaan. Budaya kritik dan silang pendapat secara edukatif tidak pernah berhasil dijalankan karena budaya kolonialisme menjadikan manusianya tidak bisa menerima kritik dan silang pendapat. Budaya diskusi menjadi ajang untuk adu menang dan kalah untuk menunjukkan supremasi (kuasa) dan kekuasaan (control) bukan untuk: mencari wawasan baru; mengerti sudut pandang yang berbeda; setuju untuk tidak setuju; berbeda jalan untuk menuju tujuan akhir yang sama dan hal2 lainnya yang lebih bermanfaat. Hal ini adalah salah satu kelebihan dari sekolah di luar negeri. Budaya diskusi dan silang pendapatnya sangat matang.

Keadaan yang paling berat yang dialami oleh budaya di Indonesia yang berakibat besar pada arsitek2 adalah masalah kebebasan berfikir (menurut saya). Pemikiran yang diarahkan oleh dogma2 (apapun juga) sedemikian mencekam dibudaya masyarakat Indonesia, sehingga berakibat manusianya tidak berani keluar dari dogma2 tersebut. Budaya takut (fear) kepada dogma2 ini juga diajarkan oleh kolonialisme dengan tujuan untuk mempermudah penguasaan (control). Akibatnya di arsitektur adalah: ketidak mampuan arsitek Indonesia untuk menabrak dan mempertanyakan ide2 dan kehilangan ide2 dan keberanian untuk `think outside the box’. Ini juga merupakan salah satu kunci perbedaan ide2 arsitek asing dan Indonesia.

Semuanya itu otomatis berakibat besar pada kualitas akhir yang muncul dari arsitek Indonesia. Jadi kenapa sekolah diluar negeri hasilnya lebih siap untuk bekerja. Karena disana siswanya harus hidup dengan budaya yang berani bertanya, berani berfikir, berani mengajukan pendapat dan berani bersilang pendapat. Bagaimana dengan kemampuan teknisnya? Bukannya mereka juga lebih baik? Ya, memang betul; karena kemampuan teknis yang lebih baik itu muncul karena siswa2 tersebut terbiasa untuk mempertanggung jawabkan pendapatnya sehingga penguasaan dalam hal2 teknis adalah suatu keharusan yang muncul dari dalam dirinya sebagai bentuk pertanggung jawaban atas pendapat dan keputusan2nya. Bukan karena peralatan teknis dan dogma2.

Jadi sebenarnya masih relevankah membahas jurang antara pendidikan dan profesi? Pendidikan perlu ‘revolusi pendidikan’ dan profesi perlu ‘revolusi budaya’. Kalau kita memang ingin mengarahkan telunjuk ke kambing hitam otomatis semua pihak akan menunjuk kepihak yang lainnya. Tapi apa iya perlu? Revolusinya harus dilakukan dalam skala nusantara. Yang harus diperbaiki adalah budaya. Yang harus dilakukan adalah revolusi. Menurut saya tidak adil kalau ditanggung sepihak. Ini urusan kita bersama tanpa terkecuali. Saya mengusulkan kolaborasi.

Salam
Dian

From: diankusumaningtyas [mailto:diankusumaningtyas@ yahoo.com. au]
Sent: 18 Maret 2009 2:13
To: iai-architect@ yahoogroups. com
Visist : www.d-eyeview.com

Engineering the Future March 15, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 4comments

engineering-the-future

“You can’t shut down the world economy in the name of trying to eliminate greenhouse gases. But there are some answers out there such as use bio energy and green engineering, I think would be a significant benefit — both in terms of producing the energy we need, but at the same time not contributing to greenhouse gas emissions”
As the rapid changes of the development particulary in our country, sustainable area become opponent of the built environment. The following is an effort as examples of how to rethinking the way we build.
China’s 600 million people are shifting from predominantly rural to predominantly urban — the largest population shift in history. The country’s burgeoning economy will soon surpass the United States in CO2 emissions.

In response to these changes, the Chinese government is planning to build new sustainable cities. Arup (an International engineering firm) is helping to design a huge community in Dongtan, China using “interlaced design,” which links a wide range of sustainable strategies in transportation, architecture, and manufacturing.

RUNAWAY WORLD –{..Dunia Tunggang-langgang March 12, 2009

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 3comments

world-rainfall-530x397

Jika The Runaway Bride tunggang-langgang karena alasan yang kurang jelas maka Runaway World melarikan diri dari masa lalu menuju yang lebih tidak jelas lagi.

Hampir setiap hari kita diberondong oleh reklame bahwa model baju, gaya rambut, mobil, televisi, parfum, komputer atau HP yang kita punyai sudah ketinggalan jaman alias jadul. Tentunya supaya kita membeli barang atau jasa terbaru yang lagi diiklankan. Bahkan dalam gejala sehari-hari kita bisa menyaksikan praktek yang melakukan penghapusan (deleting) masa lalu. Atau, secara konseptual dapat dikatakan bahwa iklan-iklan tersebut menghasilkan histeria tentang kondisi melarikan diri dari masa lalu, kondisi “tunggang-langgang”, yakni masa lalu dan hari ini tidak lagi relevan; yang penting masa depan. Tidak heran jika saat ini murid atau mahasiswa kurang minat dengan pelajaran sejarah, guru dan dosen sejarah pun kian susut.

Jadi pada kondisi yang semakin lepas-berlarian seperti demikianlah kita menghidupi dunia ini, dunia yang tunggang-langgang (Runaway World). Sifat tunggang-langgang ini tampak dari banyak gejala, misalnya; kecepatan komunikasi, pergerakan modal saham, gejolak fluktuasi finansial, paket fastfood kilat, cepat berubahnya cuaca-batin karena serbuan berita instan, sampai paket nikah instan. Suasana hati susah-senang kita sangat cepat berubah-ubah. Delapan tahun yang lalu, jarang ada pelajar atau mahasiswa yang merasa ketinggalan jaman hanya karena tidak punya HP. Sekarang, punya atau tidak punya HP sudah menjadi bagian dari definisi senang-duka mereka. Masalahnya bukan lagi terletak pada perasaan minder atau kuno,tetapi bagian cerita kehidupan. Suatu wacana perubahan senang-duka asam-garam hidup yang terjadi hanya dalam waktu delapan tahun.

Semua gejala ini terkait dengan konteks pemantauan refleksi diri. Gagasan dan inovasi baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pusat struktur memperbaiki diri. Praktek kehidupan dikaji terus-menerus dan diperbaharui sesuai informasi terbaru. Penelitian teknologi laser yang kemudian diaplikasikan ke bidang medis, menghasilkan cara baru menyembuhkan penyakit mata, penghancuran batu ginjal dan sunat instan tanpa sakit. Begitu juga dengan hasil penelitian dan inovasi dibidang transportasi, mengubah lama perjalanan Jakarta-Makassar, dari satu bulan menjadi satu minggu, lalu dipotong menjadi dua hari dengan kapal laut dan sekarang hanya dua jam dengan kapal terbang. Pulsa HP yang dahulu Rp.2000/menit, dipotong menjadi Rp.0,5/detik, lalu diskon lagi menjadi Rp.0,1/detik, sekarang sudah 0,000001..(sampai puass) alias nyaris gratis.

Bahkan tidak hanya dibidang teknologi, lompatan ini juga terjadi dalam bidang ‘etika’; contoh, dipakainya istilah “pembangunan berwawasan ligkungan” merupakan hasil refleksi filosofis tentang kaitan antara lingkung-bangun buatan dan kelangsungan ekosistem dasar kehidupan manusia. Demikian juga dengan yang terjadi pada istilah ‘hak asasi’, ‘akuntabilitas’,’demokrasi’,’reformasi’, dan sebagainya.

Kondisi-kondisi tersebut merupakan bentuk cerminan atas apa yang dirasa sesuai dengan konteks modernitas. Refleksivitas yang terjadi untuk pembaharuan, juga sekaligus berarti kapasitas memonitor reaksi akibat rangsangan pembaharuan. Sebagai contoh dasar, krisis moneter tahun 1998 bisa kita lihat menyajikan reaksi refleks tersebut secara luarbiasa. Pada tataran personal, krisis itu membuat orang menjadi panik berjamaah atas ketersediaan sembako. Orang lalu rajin memonitor atas ada atau tidaknya barang tersebut di pasar. Melalui kinerja “asal ikut demi selamat” kemudian terjadilah siasat pribadi yakni menumpuk beras dan minyak. Pada tataran institusional, gejala efek domino ambruknya nilai tukar rupiah dan bahkan mata uang regional merupakan pemandangan reaksi sehari-hari. Dalam kadar kecepatan tinggi bahkan tanpa batas ruang dan waktu semua kita mengantisipasi rangsangan, refleksi reflektivitas reaksi. Dunia modernitas adalah dunia yang tunggang-langgang..

*(dielaborasi dari pemikiran Anthony Giddens)

Lihat juga blog lainnya di www.designtrees.com

Hello world! April 16, 2007

Posted by ydnugra in : Yudi Nugraha , 2comments

RUNAWAY WORLD –{..Dunia Tunggang-langgang

 

Jika  The Runaway Bride tunggang-langgang karena alasan yang kurang jelas maka Runaway World melarikan diri dari masa lalu menuju yang lebih tidak jelas lagi.

     Hampir setiap hari kita diberondong oleh reklame bahwa model baju, gaya rambut, mobil, televisi, parfum, komputer atau HP yang kita punyai sudah ketinggalan jaman alias jadul. Tentunya supaya kita membeli barang atau jasa terbaru yang lagi diiklankan. Bahkan dalam gejala sehari-hari kita bisa menyaksikan praktek yang melakukan penghapusan (deleting) masa lalu. Atau, secara konseptual dapat dikatakan bahwa iklan-iklan tersebut menghasilkan histeria tentang kondisi melarikan diri dari masa lalu, kondisi “tunggang-langgang”, yakni masa lalu dan hari ini tidak lagi relevan; yang penting masa depan. Tidak heran jika saat ini murid atau mahasiswa kurang minat dengan pelajaran sejarah, guru dan dosen sejarah pun kian susut.

     Jadi pada kondisi yang semakin lepas-berlarian seperti demikianlah kita menghidupi dunia ini, dunia yang tunggang-langgang (Runaway World). Sifat tunggang-langgang ini tampak dari banyak gejala, misalnya; kecepatan komunikasi, pergerakan modal saham, gejolak fluktuasi finansial, paket fastfood kilat, cepat berubahnya cuaca-batin karena serbuan berita instan, sampai paket nikah instan. Suasana hati susah-senang kita sangat cepat berubah-ubah. Delapan tahun yang lalu, jarang ada pelajar atau mahasiswa yang merasa ketinggalan jaman hanya karena tidak punya HP. Sekarang, punya atau tidak punya HP sudah menjadi bagian dari definisi senang-duka mereka. Masalahnya bukan lagi terletak pada perasaan minder atau kuno,tetapi  bagian cerita kehidupan. Suatu wacana perubahan senang-duka asam-garam hidup yang terjadi hanya dalam waktu delapan tahun.

     Semua gejala ini terkait dengan konteks pemantauan refleksi diri. Gagasan dan inovasi baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pusat struktur memperbaiki diri. Praktek kehidupan dikaji terus-menerus dan diperbaharui sesuai informasi terbaru. Penelitian teknologi laser yang kemudian diaplikasikan ke bidang medis, menghasilkan cara baru menyembuhkan penyakit mata, penghancuran batu ginjal dan sunat instan tanpa sakit. Begitu juga dengan hasil penelitian dan inovasi dibidang transportasi, mengubah lama perjalanan Jakarta-Makassar, dari satu bulan menjadi satu minggu, lalu dipotong menjadi dua hari dengan kapal laut dan sekarang hanya dua jam dengan kapal terbang. Pulsa HP yang dahulu Rp.2000/menit, dipotong menjadi Rp.0,5/detik, lalu diskon lagi menjadi Rp.0,1/detik, sekarang sudah 0,000001..(sampai puass) alias nyaris gratis.

Bahkan tidak hanya dibidang teknologi, lompatan ini juga terjadi dalam bidang ‘etika’; contoh, dipakainya istilah “pembangunan berwawasan ligkungan” merupakan hasil refleksi filosofis tentang kaitan antara lingkung-bangun buatan dan kelangsungan ekosistem dasar kehidupan manusia. Demikian juga dengan yang terjadi pada istilah ‘hak asasi’, ‘akuntabilitas’,’demokrasi’,’reformasi’, dan sebagainya.

     Kondisi-kondisi tersebut merupakan bentuk cerminan atas apa yang dirasa sesuai dengan konteks modernitas. Refleksivitas yang terjadi untuk pembaharuan, juga sekaligus berarti kapasitas memonitor reaksi akibat rangsangan pembaharuan. Sebagai contoh dasar, krisis moneter tahun 1998 bisa kita lihat menyajikan reaksi refleks tersebut secara luarbiasa. Pada tataran personal, krisis itu membuat orang menjadi panik berjamaah atas ketersediaan sembako. Orang lalu rajin memonitor atas ada atau tidaknya barang tersebut di pasar. Melalui kinerja “asal ikut demi selamat” kemudian terjadilah siasat pribadi yakni menumpuk beras dan minyak. Pada tataran institusional, gejala efek domino ambruknya nilai tukar rupiah dan bahkan mata uang regional merupakan pemandangan reaksi sehari-hari. Dalam kadar kecepatan tinggi bahkan  tanpa batas ruang dan waktu semua kita mengantisipasi rangsangan, refleksi reflektivitas reaksi. Dunia modernitas adalah dunia yang tunggang-langgang…

 

*(dielaborasi dari pemikiran Anthony Giddens)

 

Lihat juga blog lainnya di  www.d-eyeview.com

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.