Laki-laki kecil itu asik mendengarkan cerita tentang penebus dosa, guru agama begitu pandai membawakan kisahnya sehingga si murid terbuai dalam kisah yang dituturkannya. Sosok santun penebus dosa begitu lekat di benaknya ingin rasanya aku seperti dia. sebersit kinginan menjadi sosok seperti yang diceritakan guru agama kian menebal, sehingga setiap kali ditugaskan memimpin doa sebelum pelajaran dimulai selalu dijalaninya dengan penuh suka cita. Semenjak TK kecil, Tk besar hingga lulus SD sosok laki-laki suci penebus dosa begitu menjadi idolanya, sehingga tak heran, kalau ditanya, ingin jadi apa ? atau setiap kali menulis buku kenang-kenangan diwaktu sd, dengan tidak ragu ditulis. ” cita-cita : ingin jadi Pastur”

 

Perjalanan rohani yang saya alami dimulai dari cita-cita ingin menjadi pastur. Mami yang merupakan sosok ibu dengan warna islam abangan, memandang pendidikan katolik adalah yang terbaik, sehingga kami anak-anaknya dikenalkan dengan pendidikan agama katolik semenjak dini, bayangkan siraman rohani pertama saya ketika memasuki TK kecil adalah kidung katolik yang sampai detik ini masih lekat dibenak, dan kadang tanpa saya sadari senandung itu tiba-tiba meluncur dengan sendirinya. ” di laudres di gua sunyi terpencil………. “

Begitulah proses belajar yang dialami, menurut Vigotski belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Lingkungan sosial dan fisik sekolah dengan aroma katolik yang kental dan masih menurut Vigotski, inti konstruktivis adalah interaksi antara aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dan belajar.Nyaris begitu sempurna proses pembelajaran yang terjadi. Dari segi rohani, jelas aspek internal berlum terwarnai dengan ajaran luhur islam, disisi lain, aspek eksternal dan lingkungan sudah benar-benar sedemikian rupa sehingga yang pertama dan utama mewarnai adalah benar-benar ajaran katolik.

Memasuki Aqil balik, ketika harus khitan, timbul satu tanya kenapa harus khitan ? Karena kamu orang islam, dan orang tua kamu juga islam maka harus khitan !. kalau saya orang islam, kenapa tidak sholat ? kenapa tidak bisa mengaji ? Kenapa tidak ke mesjid ? yang lebih parah lagi, timbul pertanyaan, kenapa kamu mau jadi pastur padahal kamu islam ? kemana tanya ini harus dijawab ? .

Albert Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atau stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.

Berbagai usaha untuk menjawab pertanyaan yang selalu menggelitik mulai ditelusuri, antara lain dengan berinteraksi ke dalam lingkungan mesjid. Awalnya reaksi yang saya terima sungguh diluar dugaan, mami begitu marah, ketika saya berlama-lama di mesjid. ” ngapain kamu pergi ke langgar segala, kumpul dengan orang-orang kampung, nggak usah kamu pergi kesana ! ” begitu yang masih teringat di benak saya, ketika pertama kali saya ke mesjid untuk sholat . tidak ke mesjid, saya mendatangi ibunya teman saya yang mau mengajari saya mengaji dirumahnya, sehingga kemarahan mami agak mereda karena saya nggak berlama-lama di mesjid, tapi berlama-lama di rumah tetangga untuk belajar membaca Quran tanpa diketahui oleh mami. selalu ada alasan saya untuk main kerumah teman/tetangga walau hanya belajar membaca beberapa ayat. Selesai mengaji, saya masih main di rumah tetangga itu. Betapa malunya hati ini, ketika teman saya tanpa disuruh orang tuanya menunaikan sholat dikamarnya sendiri. dan saya hanya terpaku memandangnya, kenapa harus sholat ? saya aja nggak pernah sholat dan nggak ada yang nyuruh saya sholat. Sering sekali saya hanya mengintip dari jendela teman saya sholat dan saya cuek. Ada reaksi aneh di hati ini, melihat teman sholat, tapi saya cuek. tapi perasaan itu hilang sendiri, karena toh orang tua tidak menganjurkan untuk sholat.

Setelah seharian tidur, biasanya saya bangun pagi-pagi sebelum subuh, tidak ada yg dapat dilakukan selain berdiam diri sambil menunggu pagi. ” Ayo sholat subuh… dari pada bengong ” suara papi mengejutkan . ” iya pa, jawabku sambil beringsut ke kamar, karena saya tidak tahu bagaimana melakukan sholat subuh. Diam-diam saya mengintip papi yang sedang sholat subuh sendirian di kamar, dan mami sudah sibuk sedari pagi di dapur. Saya juga tidak habis pikir, kenapa papi tidak mengajarkan saya sholat ? kenapa papi hanya sendirian saja sholat ? . sering secara diam-diam saya memperhatikan bagaimana papi melakukan ibadah sendirian.

Prinsip dasar belajar menurut Albert bandura dengan social learning, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan dan penyajian contoh perilaku. Dengan sering melihat papi sholat sendirian, dengan penuh percaya diri, saya memberanikan diri pergi ke mesjid dekat rumah untuk melakukan sholat berjamaah. Melalui melihat, mengamati, dan bahkan meniru jamaah mesjid Al-Wafiyah, terutama ketua mesjid dan jamaah lainnya peristiwa belajar memahami islam dimulai.

Saya mulai berani mengatakan tidak, ketika mami memaksakan saya untuk meneruskan ke SMP katolik, tapi mami tetap bersikeras bahwa saya harus sekolah di SMP katolik, dan saya tetap menolak, tapi apa daya perkataan mami adalah sesuatu yg harus dituruti kalau tidak cubitan yang sampai menimbulkan biru dikulit, atau omelan yg terus menerus yang harus dihadapi, dengan berat hati, dan segan saya menjalani tes masuk ke SMP tersebut. Betapa kecewanya mami ketika saya tidak diterima masuk di SMP tersebut, tapi saya bersorak kegirangan. Ahhhhh….. tetapi lagi-lagi saya harus menerima pil pahit, karena mami tetap memasukkan saya ke SMP katolik lainnya yang mutunya tidak sebaik SMP yang diinginkan mami. Selama satu semester proses belajar mengenal islam terhenti, dan saya harus menghadapi situasi belajar lain……………………………………..