Susah sekali buat saya tuk menghilangkan rasa yang berkecamuk dalam dada ini, marah, kesel, benci tetapi juga kasian. Marah karena ” si Wawan” pergi tanpa pamit atau tepatnya dikatakan kabur dari rumah, benci melihat ibunya si wawan yg ikut ngedukung kaburnya wawan dari rumahku, dan kasian krn dia belum tahu gimana susahnya hidup di masyarakat ini jadi individu yg mempunyai strata sosial tertentu tanpa ijazah sarjana, hanya STM. Kalau saja dia mau bersabar dan menunggu 1 - 2 semester lagi untuk menyelesaikan nilai-nilai kuliahnya yg jeblok, mungkin kepergiannya dari rumah saya nggak akan membuat berantakan hati saya.

Bermula dari sms yang saya kirim ke dia yang isinya ” temui ayah dan pertanggungjawabkan 3 nilai E yang ada di semester ini. SMS itu mungkin yang membuatnya gerah, karena di semester kemaren dia sudah berjanji untuk kuliah dengan baik dan menyelesaikan segala sesuatunya. Saya juga menyuruhnya membuat rencana kerja dan target yg harus diselesaikan dalam program kuliahnya. itu tidak dibuat dan hasilnya ternyata benar, berantakan.

13 tahun waku yang sudah dia jalani bersama saya dan keluarga, tidak mampu mengubahnya menjadi pribadi yg dewasa, bertanggungjawab. Padahal segala sesuatu sudah saya limpahkan, sandang, pangan, papan, dan perhatian, juga kasih sayang. Saya hanya berharap dia bisa menjadi individu yang tidak terbelenggu oleh rantai kemiskinan dan kebodohan. Walau ibunya pembantu dan ayahnya tidak diketahui siapa, bukan berarti dia juga harus jadi pembantu, atau orang yg low educated, minimal dia harus memiliki pendidikan srata satu, saya berusaha sekuat tenaga, tanpa pamrih dengan tujuan mengentaskan kebodohan, kemiskinan dan mencari ridhoNya. Tapi kenyataan berkata lain, walau semua sarana dan prasarana sudah saya berikan dengan tulus ikhlas, “wawan” tetap memiliki mental pembantu. Dia kabur dan meninggalkan kekecewaan buat saya.

Ya….. sudahlah, saya hanya berucap “innalillahi wa inna ilaihi rojiun” atas kehilangan ini. Saya katakan hilang, krn selama ini saya memupuk harapan supaya dia menjadi sarjana Arsitktur yang handal, tidak hanya jadi pembantu seperti ibunya, atau orang yg tidak memiliki pendidikan yg lumayan, untuk itu saya banyak berkorban baik moril dan materiil. mungkin semua akan menjadi manis akhirnya kalau saja dia dapat menyelesaikan studinya. manis buat saya dan rasanya terbayara sudah pengorbanan saya selama ini kalau melihat dia menjadi sarjana, manis juga mungkin buat dia dan keluarganya, tapi kenyataan tidak, hilang sudah harapan itu. Ya…. sudahlah, masih ada anak-anak kandung saya yg harus saya perhatikan, masih ada juga “siti” adik nya “si Wawan” yang juga masih harus diperhatikan.Siti masih duduk di kelas 2 SMP sama hal nya seperti wawan, dia anak yg dizolimi oleh keadaan.

Aku hanya berguman, kenapa ya……. kok disuruh nurut aja nggak mau, padahal semua sudah saya cukupi, saya hanya minta dia belajar dan menyelesaikan studinya, sehingga bisa mengangkat derajat kehidupan keluarganya. Saya toh tidak memaksa, sebelum direncanakan untuk kuliah saya tanya, dan dia menyanggupinya. Padahal sudah semester 8, walau IP nya masih di bawah 3, dengan kerja keras, 2 semster lagi dia akan dapat menyelesaikan studinya. Ya….. sudahlah… sambil memejamkan mata lagi-lagi saya ber ujar ” inna lilahi wa inna ilaihi rojiun ” ya Rob kuatkan hati ini.

Tetep…. susah saya cuma manusia biasa yang sulti sekali menghilangkan rasa sakit hati ini mengalami kejadian ini. Ah….. ya sudah lah……………….

Ya Rob mungkin ini ujian lain yg harus saya hadapi, mampukan saya menebarkan kasih sayang ke orang lain, saling membagi kepada yg membutuhkan walau nantinya akan menderita kekecewaan lagi seperti yang baru saja saya alami.

Saya jadi teringat kisah di jaman nabi yang didengar ketika khotbah jum at. dari khotib di mimbar jum at dikisahkan yang intinya, bagaimana kasih sayang Nabi walau dicaci maki, dikecewakan dia tetap menyayangi orang yang mencacinya. Ada seorang yahudi buta yang selalu duduk di pinggir jalan, setiap hari dengan lembut dan penuh kasih sayang Nabi Muhammad selalu menjenguk dan memberi makan kepada yahudi buta itu. Setelah nabi Wafat, bertanyalah sahabat kepada istrinya, amalah apa yg selalu di lakukan nabi, istri nya menjawab, nabi selalu mengunjungi pengemis yahudi buta di pasar. Maka datanglah sahabat menemui pengemis yahudi buta, dan memberi makan. Pengemis Buta ini terkenal sangat benci kepada nabi Muhammad, walau dia tidak bisa melihat, kalau di dengar kata Nabi Muhamad ingin sekali dia menghancur kan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya.Bertanyalah pengemis buta itu kepada sahabat, kemana orang baik yang selalu datang menjenguk dan memberiku makan ? jawab sahabat beliau sudah meninggal. sahabat bertanya lagi kepada pengemis tentang Muhammad, maka yang terdengar adalah marah dan sumpah serapah keluar dari mulut pengemis itu. Bertanyalah sahabat kepaa pengemis itu. Tahukan bapak siapa orang baik yang selalu datang menjenguk dan memberi makan bapak ? jawab pengemis ” tidak tahu”, jawab sahabat lagi, ” orang baik hati yang selalu mengunjungimu dan memberi makan yang selalu kau caci, dan ingin kau ludahi kalau didekatmu bahkan ingin kau bunuh itulah Muhamad.