Nggak terasa dah 13 tahun aku mungut anak itu. Namanya Wawan hariono, anak pembantu dirumah.Mulanya dia anak yg baik-baik aja. Segala hak-hak nya sebagai seorang “anak asuh” dari mulai sandang, pangan, papan, perhatian, kasih sayang, pendidikan sampai transport bulanan aku penuhi dengan susah payah, walau aku bukan orang yang berlebihan secara materi.Itu semua aku lakukan dengan satu tujuan,ridho Allah semata. Aku kasian melihat anak itu, anak yg dizolimi oleh keadaan. Maklum ibunya hanya perempuan kampung yg lugu,begitu kena tipu daya lelaki, terperangkaplah dia dan jadilah janin di perutnya.Begitu janin akan lahir, janji tinggal janji. sehingga sampai detik ini anak itu nggak tahu siapa bapaknya, gimana wajahnya.
nggak terasa, 13 tahun telah aku jalani dengan tegar, mencoba menjadi ayah angkatnya dan menjalankan kewajiban tuk memenuhi hak-hak anak itu. Tdk terasa dia kini telah menjadi sosok pemuda yg ternyata masih mencari identitas dirinya. pencarian identitas itu yg membuat semua kacau.
Bentuk kekacaun itu terurai lewat tingkah lakunya yang menurutku nggak masuk akal, dan membuat jengkel. Bayangkan sudah semester 6 di arsitektur IP masih 2,3. Sering bolos kuliah. Diberi kesempatan bekerja nggak pernah bertanggung jawab. Dia lebih memilih menjadi penjaga warnet dari pada menjadi asisten di audio visual.
Karena sangat jengkel, akhirnya aku sidang anak itu. aku panggil dia, ibunya dan adiknya.
” lek… apa yg kamu harapkan dari anak ini ?” kataku pada pembantuku yang biasa dipanggil “lek”
” pingin jadi anak pinter” jawabnya lugu .
” denger wan….. ibumu pengen kamu jadi anak pinter.! untuk itu ayah sudah berusaha sekeras mungkin mewujudkan cita-cita ibumu. Sekarang jawab pertanyaan ayah, kenapa kamu nggak pernah pulang, udah bosan tinggal sama ayah ? ” dengan suara keras aku mulai mengintrogasi anak itu.
“kemana… jawab ”
” dirumah temen yah” jawabnya dengan sura lirih

” dirumah temen ? ngapain ? kenapa ? “

 ” ya…. buat menghemat ongkos ” jawabnya lagi seenaknya

mendengar jawaban itu aku tampah panas. ” kalau nggak punya duit kenapa nggak minta sama ayah ” tanyaku makin sewot

” ya… itu kan udah bukan hak saya lagi ” jawab anak itu dengan lirih

“bukan hak kamu ? ” aku tambah keras ” kamu nggak tahu ? selama ini ayah bekerja keras itu juga untuk memenuhi yang menjadi hak kamu, pendidikan, perhatian, sandang, pangan, papan. itu hak kamu sebagai anak asuh. kamu nggak tahu itu ? kamu nggak nyadar kalau hak itu udah kamu nikmati selama 11 tahun. ” dan setelah menikmati hak itu, kamu harus tahu kewajiban kamu. Salah satu kewajiban kamu adalah belajar. indikator kamu dah belajar adalah nilai, kehadiran, dan tanggung jawab kamu sebagai seroang anak. mana ? sudah kamu lakukan ? ” si wawan nggak bisa menajwab pertanyaanku yang bertubi-tubi. dia hanya diam dan cuek.aku tambah jengkel.

     ”sekarang mau pu apa ? terserah kamu. Ayah dah capek ngurus kamu, kamu seperti anak yang nggak tahu diri. seharusnya kamu tahu kewajiban-kewajiban seorang anak yang cuma numpang dirumah ini. Ayah memutuskan tuh menghentikan seluruh biaya kuliah yang seharusnya menjadi hak kamu. dan silahkan kamu pulang kampung.”

    ” harusnya kamu jangan egois gitu. kamu lihat, kamu harus menghidupi adik perempuan dan ibumu.” ayah dah putuskan kamu harus pulang ke kampung, sebagai kekecewaan ayah, secara tidak langsung kamu haus membayarkan uang yg telah ayah keluarkan sebesar 12 juta dan bayarkan dengan car membiayai adikmu kuliah. ayah hanya akan membiayai adikmu sampai SMU, kalau anak itu kuliah kamu harus membiayainya. ingat, itu hutang yg harus kamu bayarkan. adikmu itu juga perlu mendapat pendidikan yang layak. jangan cuma jadi pembantu saja nantinya.

    ” tolong pikirkan baik-baik keputus yang kamu buat. kamu masih mau disini tinggal bersama ayah, mendapat hak-hak selayaknya sebagai seorang anak dan menjalankan kewajiban dengan baik. atau kamu tetep menjadi penjaga warnet, dan lepas sudah hak-hak kamu dirumah itu, dengan demikian kamu nggak berhak lagi tinggal di rumah ini, kamu harus pulang kampung.Temui ayah dan kemukakan segala rencana kamu denga gamblang.

     Dengan perasaan lega, karena uneg-uneg yang selama ini aku pendam dan aku semburkan. tapi tetep…. aja susah. Anak itu punya mental pembantu. sampai sekarang anak itu nggak kunjung juga menemui saya dan mengemukakan segala rencana nya kedepan. dia tetep menjalankan tugasnya menjadi penjaga warnet.

” sebel…………sebel…….. banget. ” dalam hati nggak tega juga ngusir tuh anak, tapi kalau didiemin nggak mendidik juga, dan bikin sebel.

akhirnya aku cuma bisa ngurut dada dan istigfar, semoga keridhoanku dan keikhlasanku nggak sia-sia di mata Allah. aku cuma mau dia berubah, menjadi manusia yg berguna. jangan ibunya pembantu, anak-anaknya juga jadi pembantu.