iba-tiba saja aku denger berita ” mami jatuh di halaman, dan dibawa ke dukun patah tulang di haji naim cilandak “. Ternyata mami jatuh karena sedang mengambil kaos kaki yang ada di halaman, saat itu seluruh penghuni sedang tidur siang, mami nekat ke luar kamar dan mengambil kaos kaki. Jatuh dan tidak bersuara minta tolong, cuma ngedeprok aja. Jam 4 sore baru hani tahu mami sedang duduk ngedeprok di halaman dekat jemuran, segera hani membawa ke dukun patah tulang dengan taxi.

Pulang dari cilandak, mami masih mengerang kesakitan. Besoknya dibawa lagi kesana, kali ini dianjurkan ke tempat adiknya haji naim, dan dirawat disana. Nggak terasa dah sebulan mami dirawat di sana. Mami yang dulu galak, tegas, berubah menjadi anak-anak lagi. kami melayaninya dengan sabar.

Sebulan di opname di dukun patah tulang, mami kembali kerumah, masih dengan penderitaannya, sakit dan kalau malam mengerang kesakitan, selama itu pula mami nggak mau makan, walau pun makan hanya sedikit sekali. Hani yg rutin menjaga mami disana, juga lasning. Semalaman aku nunggu dan melayani mami, aku nggak bisa apa-apa, cuma kasian melihat penderitaannya.

Akhirnya setelah berembuk dg mas nono dan yg lain, aku putuskan untuk rongent di klinik simpangan, hasil ronsen menunjukkan kaki mami yg patah di pangkal paha, akhirnya kami memutuskan membawa mami ke rumah sakit pasar rebo.

9 hari di opname dirumah sakit, penderitaan mami mulai berangsur baik, saat ini mami memilih tinggal di Bojong bersama hani, kesehatannya dah mulai baik, walau tidak segagah dulu lagi. setiap hari bergelut dengan kursi roda, ditambah lagi, penglihatannya yang sudah tidak berfungsi

Mami tersayang, kini kembali seperti anak kecil, aku selalu menghiburnya, kegalakannya yang dulu membuatku selalu nurut nggak ada lagi. Kekerasannya yg dulu begitu tegar masih terasa, kalau menginginkan sesuatu harus bisa terlaksana. masih ada pancaran keinginan hidup yg tinggi walau gelap mulai mengelilingnya dan kursi roda menemaninya. mami kami tetap menyayangi