Terdengar hiruk-pikuk beberapa bulan yang lalu betapa sulitnya orang tuan mencari sekolah untuk anak-anak mereka. Masuk perguruan tinggi pun bingung + susah setengah mati. Kalaupun diterima, seperti lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang “salah kamar”.. J. Ketika diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) muncul masalah, tidak diterima juga masalah.

Kalau punya uang bias pilih kuliah maunya dimana saja ? Bagaimana kalau uang tak punya? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2 dan S-3. Birokrat atau Militer pun sekarang banyak yang ingin punya gelar sampai S- 3… luar biasa.

Saat ini, memilih SD, SMP dan SMA pun sama sulitnya, termasuk pindah sekolah, biaya yang begitu besar, padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkaplah sudah masalah pendidikan di Negara tercina ini. Sebuah slogan yang harus dibayar mahal “Ayo Sekolah…”. Dimana letak jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa semuanya dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Sekolah untuk apa?

Belajar, belajar dan belajar. Malaysia dijaman Mahatir memiliki komitmen yang tinggi membangun SDMnya dengan mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.

China dalam kurun waktu 10 tahun, SDMnya pulang dan siap mengisi perekonomian negara. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Apa yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia???