Coloring the Global Research..

toswari Blog

Archive for July, 2009

Manusia dan Komunikasi Ilmiah

) he..he.. akibat dijuluki gelar ‘kategori serius ilmiah‘ pada Lomba Blog Dosen Terbaik UG Fiesta - UG ICT Award 2009 nih….terlanjur deh jadinya….)

Tulisan ini menceritakan tentang menyajikan pengalaman partisipasi ketika menulis dalam berbagai konferensi di dalam dan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan miskomunikasi dan mispersepsi dalam penggunaan internet antara penyaji makalah dengan panitia penyelenggara…)

Menurut Klein dan Jervis (1996), komunikasi yang paling efektif adalah komunikasi paling primitif, yaitu komunikasi tatap muka yang dapat meminimalkan kesalahpahaman. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi justru menghasilkan kesalahpamahan, karena komunikasi tatap muka telah dibatasi oleh produk teknologi.

Berdasarkan pengalaman, Pada pembahasan tentang beberapa kesalahpahaman komunikasi antara penyaji malalah dengan panitia penyelenggara akan dibatasi pada era pasca krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 2005. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, sebelum krisis ekonomi penggunaan teknologi informasi masih terbatas pada penggunaan faksimili dan surat-menyurat melalui pos. Kedua, selama krisis ekonomi beberapa forum ilmiah tidak dapat diselenggarakan karena alasan tertentu.

Beberapa kesalaahpahaman yang terjadi pada setiap tahap antara lain adalah:
Tahap 1: Pengumuman
Pada tahap ini, penyelenggara acapkali memberikan informasi yang membingungkan penyaji makalah. Beberapa hal yang membingungkan adalah:
? Penyelenggara membuat website lebih dari satu - bisa berasal dari pengurus asosiasi dan tuan rumah penyelenggara – namun dengan versi yang berbeda-beda
? Penyelenggara telah membuat website, namun tidak pernah membalas email dari penyaji. Salah satu pengalaman Penulis bahkan menemukan forum ilmiah yang sudah diumumkan ternyata tidak pernah diselenggarakan.
? Penyelenggara kadang-kadang tidak memberikan informasi tentang: perlu tidaknya penyaji menyusun makalah lengkap, ada tidaknya prosiding atau kumpulan makalah, ada tidaknya sertifikat bagi penyaji.

Tahap 2: Deadline pengumpulan abstrak/full paper
Tidak banyak kesalahpahaman pada tahap ini. Adakalanya penyaji mengirimkan abstrak atau makalahnya melalui email setelah deadline, namun panitia tetap dapat menerimanya karena keterbatasan jumlah asbtrak. Adakalanya, panitia kebingungan karena jumlah abstrak yang masuk sangat terbatas sehingga memberikan pengumuman tambahan dengan mengundurkan jadwal.
Masalah penting dalam tahap ini adalah umpan balik panitia sesegera mungkin kepada penyaji bahwa abstraknya telah diterima panitia dan akan dilanjutkan proses review. Sayangnya umpan balik seperti ini tidak banyak dilakukan.

Tahap 3: Pengumuman abstrak/full paper
Pada tahap ini, terdapat kontinum informasi yang diberikan oleh panitia. Semakin tidak lengkap informasi yang diberikan, semakin membuat kesalahpahaman. Beberapa temuan pada tahap ini adalah:
? Panitia hanya memberitahukan bahwa abstrak diterima
? Panitia tidak memberikan informasi tentang perlu tidaknya pengumpulan makalah lengkap
? Panitia tidak memberikan informasi tentang deadline pengumpulan makalah lengkap
? Panitia tidak memberikan informasi tentang ada tidaknya prosiding
? Panitia tidak memberikan informasi tentang perlu tidaknya revisi makalah setelah pengumpulan makalah lengkap
? Panitia memberikan informasi keberadaan prosiding, namun tidak memberikan informasi bahwa penyaji harus membayar terlebih dahulu agar makalahnya dapat dimuat dalam prosiding
? Panitia memberikan informasi keberadaan prosiding, namun tidak memberikan informasi bahwa penyaji harus membayar terlebih dahulu dan menyajikan makalahnya agar makalahnya dapat dimuat dalam prosiding
? Panitia memberikan informasi keberadaan prosiding, namun tidak memberikan informasi tentang penerbitan (pada saat pelaksanaan atau setelah pelaksanaan)

Tahap 4: Deadline pengumpulan makalah lengkap
Beberapa informasi dari panitia penyelenggara bisa jadi membuat kesalahpahaman bagi penyaji, seperti:
? Ada tidaknya revisi makalah
? Ada pengumuman revisi makalah, namun tidak dikirim lewat email tetapi dari website. Menjadi semakin membingungkan bagi penyaji jika websitenya lebih dari satu.
? Kelengkapan pedoman penulisan makalah lengkap; adakalanya panitia hanya memberikan pedoman secara global, atau sudah memberikan pedoman secara rinci namun tidak disertai contoh.

Tahap 5: Pelaksanaan
Kesalahpahaman pada tahap ini merupakan buah dari kesalahpahaman pada tahap-tahap sebelumnya, di antaranya:
? Penyaji hadir dalam pelaksanaan, namun ternyata namanya tidak tercantum karena panitia menganggap penyaji tidak merevisi makalahnya
? Penyaji hadir dalam pelaksanaan, namun ternyata namanya tidak tercantum dalam prosiding karena panitia menganggap penyaji tidak membayar sebelumnya
? Penyaji hadir dalam pelaksanaan dan sudah mengirimkan makalah lengkap, namun yang dijumpai hanya kumpulan abstrak
? Penyaji tidak hadir dalam pelaksanaan, dan berharap dapat membeli prosiding setelah pelaksanaan namun ditolak karena tidak hadir

Secara umum, menyimpulkan bahwa tidak disiplinnya panitia dalam membuka email menjadi faktor kunci munculnya kesalahpahaman…he..he.. )

  • 6 Comments
  • Filed under: Komunikasi
  • Seperti apa kira-kira pemikiran tentang kesiapan strategi bisnis dan budaya dalam suatu perusahaan untuk meningkatkan services sebagai nilai tambah:

    1. Konsep Bisnis

    Pada saat kita mulai menciptakan, mengidentifikasi rancangan bisnis, muncul pemikiran nilai tambah seperti apa yang perlu di-create, dengan kata lain dalam upaya peningkatkan services kepada konsumen, paling tidak kita telah memiliki konsep untuk apa dan kemana arah services yang akan diberikan. Konsep itu merupakan pemikiran yang nantinya akan mendasari visi bisnis dan pada dasarnya konsep ini akan menjawab pertanyaan “why?” untuk program services yang diberikan.. )

    2. Visioning, Mission dan SOP

    Salah satu hal pokok untuk membuat suatu proses berjalan dengan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan adalah adanya hirarki kerja dan bingkai kerja yang baik. Disinilah kita menuangkan hasil – hasil yang telah diperoleh dari proses – proses sebelumnya mulai dari konsep hingga Index kepuasan pelanggan untuk membangun sebuah hirarki kerja dan visi kerja yang baik. Ini sangat penting untuk menjamin konsistensi standar hasil dari output.. )

    3. Lingkup Analisa Kebijakan Bisnis

    Kebijakan disini dapat berarti 2 hal. Pertama adalah kebijakan internal organisasi dan yang kedua adalah kebijakan yang ada di masyarakat yang bersinggungan dengan services yang diberikan. Sebagai contoh, kita sering mendengar organisasi melakukan deregulasi. Itu adalah salah satu bentuk antisipasi dari kebijakan internal yang perlu dirubah untuk mendukung services.. )

    4. Analisa S W O T

    Setelah kita memiliki visi yang jelas, kemudian kita mencari tahu apa yang kita punya dan apa yang kita tidak punya untuk mengadakan suatu services yang baik. Metode ini dikenal banyak orang sebagai SWOT. Semua hasil tersebut diinventarisasi dan dievaluasi.. )

    5. Survey Kepuasan Pelanggan

    Services terbaik selalu bermuara pada persepsi dan keinginan pelanggan terhadap produk yang diberikan. Oleh karena itu setelah kita mengetahui kemampuan, perlu mencari tahu persepsi dan harapan pelanggan…. Hasilnya kita sinkronkan dengan hasil analisa SWOT yang telah dilakukan.. )

    6. Membangun Index Kepuasan Pelanggan

    Data kepuasan pelanggan dari survei kepuasan pelanggan dimasukan kedalam bentuk index sehingga terukur dan dapat dilakukan analisa.. )

    7. Manajemen Kualitas

    Setiap kali membahas mengenai services, maka hal tersebut tidak akan terlepas dari pembicaraan mengenai mutu suatu pelayanan. Oleh karena itu kita harus membuat mutu pelayanan yang terukur untuk memudahkan melakukan kontrol dan peningkatan pengelolaan.. )

    8. Manajemen Transisi dan Sosialisasi

    Saat yang paling krusial dalam sebuah proses perubahan adalah pada masa transisi. Dalam masa ini terjadi paling banyak kendala dan hambatan. Hal ini dikarenakan kekuatan penghambat dan kekuatan pendukung bekerja dalam keadaan maksimal. Pengenalan dan pengendalian masa transisi ini sangat berguna untuk menyelesaikan proses peningkatan pelayanan.. )

    9. Manajemen Pengaduan

    Banyak sekali kasus dimana pengaduan yang ditanggapi dengan tidak tepat hanya akan mendatangkan masalah bahkan bencana. Contoh terakhir yang sangat kongkrit adalah kasus RS. Omni Internasional dimana pengaduan ditanggapi dengan terlalu negatif. Namun ada juga contoh dimana penanganan pengaduan dilakukan dengan terlalu positif hasilnya juga buruk meskipun tidak seburuk jika terlalu negatif. Saya setuju bahwa kesalahan penanganan pengaduan adalah suatu tindakan bunuh diri bagi organisasi. Namun jika kita dapat melihat dengan lebih bijak, maka makna dari kata pengaduan tersebut dapat diartikan sebagai umpan balik. Seakan kita mendapat pelatihan dan survey gratis setiap saat untuk meningkatkan pelayanan.. )

    10. Monitoring dan Evaluasi

    Setiap proses, dalam perjalannya akan mencapai hasil yang benar-benar diinginkan atau mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Perusahaan memerlukan pengawasan dan penyempurnaan-penyempurnaan di semua aspek yang terkait. Kita ketahui bahwa improvisasi dan revisi taktis untuk mencapai tujuan sangat wajar terjadi dalam proses. Maka perlunya suatu tindakan pengawasan dan evaluasi agar improvisasi dan revisi taktis yang terjadi tidak mengganggu rencana strategis yang telah dibuat.. )

    Setelah 10 langkah ini kita jalani, hasilnya dapat kita tuangkan kedalam sebuah sistem pengendalian dan Service Delivery Charter yang merupakan konsensus untuk organisasi dalam mengawali langkahnya untuk peningkatan services. Dalam perjalanannya kita dapat melihat apakah services yang diberikan dapat menjadi lebih baik atau malah menurun.. )

  • 0 Comments
  • Filed under: Bisnis
  • Jadi ingat beberapa permasalahan yang lalu-lalu, ketika harga avtur naik, dua operator maskapai penerbangan segera mengurangi jumlah dan penerbangan beberapa tujuan. Namun, ada maskapai
    penerbangan lain yang justru melakukan tindakan sebaliknya, yaitu akan menambah jumlah penerbangan ke dan dari tempat tujuan tersebut, contoh Yogyakarta. Bagi dua operator pertama, kenaikan harga avtur ini ternyata ditangkap sebagai sebuah ancaman, sementara sebuah operator maskapai penerbangan lainnya menganggapnya sebagai peluang. Sebuah pelajaran yang berharga bahwa ternyata risiko,
    ketidakpastian, dan kerugian adalah tiga hal berbeda, sama sekali tidak bisa disamakan begitu saja, kenapa? )

    Dalam kacamata bisnis (termasuk perbankan), banyak salah kaprah memahami tentang keberadaan risiko seperti, risiko bisnis dianggap sama dengan risiko finansial dan dianggap sama pula dengan kerugian. Padahal risiko finansial hanyalah salah satu komponen dari risiko bisnis, selain risiko proyek, risiko operasional, risiko pasar dan risiko yang berkaitan dengan regulasi.

    Risiko pada hakekatnya adalah kejadian yang memiliki dampak negatif terhadap sasaran dan strategi perusahaan. Manajemen risiko terintegrasi merupakan suatu proses dimana berbagai risiko diidentifikasi, diukur dan dikendalikan di seluruh bagian organisasi. Kemungkinan terjadinya risiko dan akibatnya
    terhadap bisnis merupakan dua hal mendasar untuk diidentifikasi dan diukur. Melalui pengelolaan risiko terintegrasi, setiap keputusan strategik yang diambil selalu berdasarkan atas informasi yang valid dan reliable. Dengan demikian keputusan itu diharapkan mampu mengantisipasi secara efektif kejadian-kejadian di masa depan dan mengurangi ketidakpastian.

    Ironisnya, seringkali pengelolaan risiko hanya terfokus pada risiko yang berhubungan dengan kegiatan operasional, yang kemudian dikonversikan ke dalam satuan uang (risiko finansial). Pendekatan ini tentu saja kurang lengkap, karena tidak mengcover keseluruhan risiko yang melekat pada bisnis yang digeluti. Memang, setiap industri memiliki penekanan sendiri-sendiri terhadap risiko yang akan dikendalikannya. Dalam manajemen risiko terintegrasi, risiko yang dominan dijadikan sebagai acuan utama. Contoh, di industri keuangan dan perbankan, manajemen risiko lebih ditekankan pada aspek finansial tanpa mengabaikan aspek risiko lainnya.

    Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana teknis pengelolaan risiko terintegrasi? Pada dasarnya, proses bermula dari analisa secara akurat baik terhadap lingkungan internal maupun eksternal perusahaan. Hasil analisa kemudian ditindaklanjuti dengan identifikasi dan klasifikasi secara jelas, spesifik, dan menyeluruh dari tiap risiko yang ada, baik dari aspek operasional, pasar, finansial, proyek, maupun regulasi. Salah satu cara yang sering dilakukan adalah identifikasi melalui pertanyaan what, when, where, why, how berkaitan dengan kecenderungan dari munculnya risiko. Tentu saja proses ini tidak cukup dilakukan hanya sekali tembak saja. Semakin lengkap data yang dikumpulkan dalam proses identifikasi ini akan makin memudahkan dalam mencari solusi bagi pengendalian setiap risiko yang muncul. Tahap indentifikasi saja memang belum cukup ) lantas, bagaimana menentukan prioritas penanganan dan penentuan batas toleransi apabila risiko terebut tidak dapat dikelola seluruhnya…) mari sama-sama kita cari jawabannya…)

  • 1 Comment
  • Filed under: Perbankan
  • BI Rate dan Bunga Kredit Perbankan

    Penurunan BI rate untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu 7 bulan terakhir mampu membantu stabilnya nilai rupaiah terhadap dolar, setelah BI rate diumumkan turun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa Indonesia kembali terangkat, koreksi rupiah pun tertahan. Pelaku pasar menafsirkan pemangkasan BI rate sebagai indikasi perbaikan ekonomi sehingga mereka menanggapi positif.

    BI optimis atas perbaikan kondisi perekonomian di kawasan asia dan global, yang tercermin melalui progress semester I 2009 yang menurut BI lebih baik dari perkiraan semula. Hal ini dapat memacu pertumbuhan sektor riil dan membantu menekan tingginya bunga kredit, yang hingga kini masih berkisar 13-14% per tahun.

    Memang menjaga kondisi kestabilan nilai tukar dan pedulinya pihak perbankan untuk menurunkan suku bunga deposito sebagai bentuk dukungan rerhadap kebijakan turunnya BI rate masih belum terealisasi dengan cepat. Hal lain yang menjadi catatan BI adalah tidak efisiennya pengelolaan perbankan dan terlalu berorientasi pada profit disamping belum pulihnya kondisi likuiditas secara keseluruhan.

    Hal lain yang juga masih membuat perbankan menahan kebijakan untuk mendukung turunya BI rate adalah adanya kekhawatiran terhadap besarnya persepsi yang muncul terhadap risiko di sektor riil, sejalan dengan belum kondusifnya pesta demokrasi yang masih ditunggu oleh pelaku bisnis dan perbankan dalam perumusan kebijakan investasi dimasa mendatang…) Kayaknya masih banyak faktor lain ya…)

  • 2 Comments
  • Filed under: Perbankan
  • For many time, again and again in this years the corpse flowers blooming at rejang land. Not too far away from capital city of rejang -lebong regency, Curup town find by mr. Ahyan Sori at his farm, located at Air Lanang Village, South Curup district, in Rejang land, Sumatra Island at June 28th, 2009.

    How beauty look the biggest flowers in the world can you see at photo below.

    Corpse flowers first time finding by botanist Odoardo beccari in rejang land, at Kepahiang regency exactly recently. In native language this flower call as Bungei Kibut, and Bunga bangkai in bahasa. Scientist give name as Amorphophallus Titanum Beccari, or Titan Arum.

    References :
    * Http://en.wikipedia.org/wiki/Titan_arum
    * Http://curupkami.blogspot.com

    Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.