Coloring the Global Research..

toswari Blog

Archive for June, 2009

Earning atau Cash flow?

Tanggung jawab utama manajemen adalah selalu berusaha mempertahankan nilai saham perusahaannya (seperti di pasar modal) agar memiliki nilai yang tinggi, lebih dari nilai yang tercantum dalam neraca perusahaan (sebagai upaya untuk menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham).

Upaya untuk mengantisipasi kenaikan atau perubahan harga saham di pasar modal, membutuhkan dukungan informasi yang akurat tentang apa yang dikapitalisasi dalam penciptaan nilai saham atau nilai perusahaan secara keseluruhan. Sebuah pertanyaan sederhana muncul: faktor apa yang dapat memberikan nilai tambah pada suatu perusahaan?

Berangkat dari pemahaman dalam teori manajemen keuangan, kita ketahui bahwa nilai perusahaan (firm value) adalah nilai kini dari seluruh aliran pendapatan atau sebaliknya (expected stream of returns) yang dapat dihasilkan perusahaan tersebut. Berdasarkan teori tersebut pendapatan adalah faktor yang dikapitalisasi pasar menjadi nilai perusahaan. Untuk memperoleh nilai perusahaan, kita mengkonversi aliran pendapatan tersebut melalui proses discounting atau kapitalisasi.

Adanya perkiraan tentang (1) harapan aliran pendapatan yang akan dihasilkan perusahaan dimasa mendatang seperti apa? dan (2) tingkat diskonto atau kapitalisasi tertentu yang sesuai dengan kondisi dan sifat aliran pendapatan yang dihasilkan seperti apa?. Lantas pendapatan mana yang diangap paling relevan dengan penciptaan nilai perusahaan tersebut? Pemahaman ini nantinya lebih dapat diartikan sebagai Earning atau cash flow ya….)

  • 2 Comments
  • Filed under: Manajemen
  • Konflik kepentingan memang banyak terjadi dalam berbagai lapisan masyarakat, bisnis, lembaga dan pemerintah. Kalau melihat dari kaca mata bisnis, kita mengetahui banyaknya politisi yang berlatar belakang pengusaha, bagaimana upaya untuk meminimalisir konflik kepentingan tersebut ?

    Kalau melihat dari kaca mata lembaga yang mewadahi olah raga di Indonesia, dari tahun ke tahun sudah bukan lagi rahasia umum, tentang suatu proses dalam pembinaan, kaderisasi dan organisasi. Apakah memang memerlukan undang-undang yang mengaturnya..) Sedikit-sedikit undang-undang…haruskah ?

    Kalau kepentingan dipadu dengan perasaan gimana ya…) lucu juga kali… apa lagi melihat dari banyak kaca mata…mudah2an semua kepentingan tetap bermuara pada kesejahteraan masyarakat…amin.

    Sekolah Gratis….Seperti apa sih

    “Sekolah Gratis” denger2 suatu istilah katanya….) usulan siapa ya? Karena istilah gratis memang mudah disosialisasikan, “Meski dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional dicantumkan kata `tanpa memungut biaya, namun disepakati untuk menggunakan istilah `gratis, karena mudah didengar masyarakat,” )

    Katanya, sekolah gratis tidak dikenakan biaya personal kepada peserta didik, tapi menggunakan biaya satuan pendidikan dari pemerintah. Namun sekolah juga bukan berarti gratis yang tidak terbatas, sebab selain biaya operasional sekolah, siswa memerlukan biaya lain yaitu transportasi, pakaian dan lainnya, apalagi siswa di kota besar…betul ?

    Memang kebijakan apapun perlu waktu untuk disosialisasikan walau banyak interpretasi. Apakah pemahaman biaya gratis itu cuma siswa atau orang tua tidak menanggung biaya personal ). Seberapa efektif surat edaran kepada seluruh kepala sekolah, untuk tidak memungut sumbangan apapun dari peserta didik. Apakah kenyataan yang terjadi dilapangan sesuai dengan harapan siswa dan orang tua….) Memang dimana-mana paling seneng mendengar istilah2 yang gratisan…ya )

  • 4 Comments
  • Filed under: Pendidikan
  • Sudah lama terdengan adanya istilah OJK, kurang lebih sekitar tahun 2002an, yaitu suatu fungsi pengawasan perbankan yang di-setting beralih dari Bank Indonesia (BI) kepada lembaga tersebut. OJK sekarang santer lagi terdengar…. Ketika itu rencananya OJK akan menjadi satu-satunya regulator bidang jasa keuangan. Artinya ada kemungkinan fungsi pengawasan lembaga yang bergerak di bidang jasa keuangan dan pasar modal akan dikoordinir di bawah satu atap.

    Akankah Akses BI terpisah dengan Perbankan?
    Menurut Gubernur Bank Indonesia (Plt) Miranda S Goeltom, apabila nantinya OJK dibentuk, maka jangan sampai bank central tidak bisa mengakses informasi terkini secara transparan dari perbankan. “Bank sentral harus memiliki informasi perbankan terkini, terlepas pengawasan ada dimana, paling tidak data terbaru selalu ada di Bank Indonesia”.

    Menurut banyak pihak, suatu kebijakan moneter tidak akan efektif bila otoritas moneter tidak mempunyai informasi yang tepat di sektor keuangan. Sebab, sinyal yang diberikan bank sentral disisi moneter akan direspon oleh sektor moneter. “Dengan kompleksitas monetary policy (kebijakan moneter), tidak baik kalau tidak dekat dengan pasar.

    OJK bukan jaminan dalam pengawasan. Hal ini dibuktikan dengan kasus kebangkrutan Bank Northern Rock di Inggris. Meski Inggris menggunakan sistem OJK, pada kenyataanya tetap kebobolan. apabila nantinya tetap OJK dibentuk, maka setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, bagi para pengawas bank sebaiknya digaji lebih besar agar tidak terjadi kolusi. Kedua, OJK harus tetap memiliki hubungan dengan Bank Indonesia terutama agar BI memperoleh informasi yang tepat sehingga kebijakan moneter bisa berjalan efektif.

    Sebagai ilustrasi, apabila sebuah bank besar mengucurkan kredit secara besar ke sebuah lembaga yang bisa dengan mudah memindahkan uangnya, maka hal ini akan berdampak pada sektor keuangan. Apabila tiba-tiba kredit yang dikucurkan tersebut tersangkut dalam industri keuangan yang rusak, tentu saja sektor keuangan nasional langsung bisa terkena dampaknya. Bagaimanakah Integrasi atau Koordinasi antar lembaga keuangan ini memerlukan penyamaan persepsi dari banyak kalangan….)

    Sebagai info: OJK merupakan lembaga yang diamanatkan dalam UU Bank Indonesia no 23/1999 yang telah dirubah menjadi UU No 3/2004. Dalam UU tersebut, OJK harus terbentuk pada 2010. OJK sendiri merupakan respon kebijakan akibat krisis 1997/1998 yang menghancurkan sektor keuangan terutama perbankan Indonesia pada waktu itu. Mungkinkah OJK terbentuk ditahun 2010…)

  • 7 Comments
  • Filed under: Perbankan
  • Mengutip isi artikel Fallacies in Development Theory and their Implications for Policy, oleh Adelman mengidentifikasi setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong perubahan teori dan paradigma seiring perubahan dan pencapai pembangunan. Pertama, perubahan ideologi. Setiap generasi pemikir ekonomi mempunyai basis ideologi sendiri-sendiri serta memiliki rujukan teoretis dan policy prescriptions yang berlainan. Bila terjadi perubahan basis ideologi, maka otomatis akan membawa perubahan pada kerangka teori dan policy prescriptions tersebut.

    Dalam hal ini, kita bisa membandingkan antara pemikiran ahli-ahli ekonomi yang menganut mazhab Keynesian dengan pemikiran ahli-ahli ekonomi lain yang menganut mazhab neoliberal. Kedua, revolusi dan inovasi teknologi. Aktivitas ekonomi kini mengalami perubahan sangat fundamental akibat sukses besar revolusi teknologi informasi dan komunikasi. Revolusi teknologi yang berlangsung spektakuler itu membawa implikasi luas dan pengaruh kuat pada perkembangan teori dan paradigma pembangunan. Contoh, lahirnya paradigma pembangunan knowledge-based economy adalah produk revolusi teknologi tersebut. Ketiga, perubahan lingkungan internasional sebagai dampak globalisasi ekonomi yang berlangsung sangat intensif, yang tecermin pada kian terintegrasinya aktivitas ekonomi antarbangsa.

    Gejala integrasi ekonomi ini lazim disebut borderless economy, yang ditandai oleh:
    * Liberalisasi ekonomi dan intensifikasi perdagangan bebas antarnegara,
    * Meluasnya operasi perusahaan multinasional, dan
    * Pesatnya perkembangan bisnis finansial internasional

    Pasti banyak contoh lain yang dapat memberikan landasan bagi kita untuk menentukan sikap dari difference view yang ada..)

  • 2 Comments
  • Filed under: General
  • Perbankan dan Strategy Map

    Saat ini, masih menarik bicara masalah peningkatan kinerja perbankan agar tetap bertahan dalam persaingan bisnis yang sangat pesat. Bank memerlukan sebuah alternatif strategy agar peningkatan kinerja dapat terlaksana secara strategis. Tulisan ini mencoba membahas peran strategy map sebagai suatu bentuk aplikasi peningkatan kinerja. Strategy map sendiri adalah sebuah diagram yang menunjukan visi, misi, strategi organisasi diimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari pada setiap unit bisnis dengan menggunakan key performance index (KPI). Dengan menggunakan strategy map bisa di dilihat dengan jelas keterkaitan antar visi, misi organisasi. Strategy map dibuat dengan menghubungkan strategic objective organisasi secara eksplisit dengan masing-masing KPI yang dikelompokan dalam ke empat perspektif balance scorecard (financial, customer, internal business process dan Learning & growth ).

    Strategy map memiliki karakteristik sebagai berikut:
    1. Semua informasi strategy map berada dalam satu diagram, untuk mempermudah melihat hubungan antar perspektif.
    2. Strategi-strategi yang dibuat mengacu pada strategy objective organisasi.
    3. Ada empat perspektif yang digunakan sesuai dengan framework BSC yaitu financial, customer, internal business process,
    learning & growth.
    4. Setiap perspektif memiliki strategy-strategy yang saling berhubungan baik dalam satu perspektif maupun dengan strategy
    yang ada di perspektif yang lain.
    5. Arah yang menunjukan cause and effect relationship.

    Kaplan menyatakan ada 5 prinsip dalam membuat strategy map, yaitu:
    1. Strategy balances contradictory forces.
    2. Strategy is based on a differentiated customer value proposition.
    3. Value is created through internal business processes.
    4. Strategy consists of simultaneous, complementary themes.
    5. Strategic alignment determines the value of intangible assets.

    Strategy map mempunyai kemampuan untuk mewujudkan suatu sistem tentang pemetaan transform kedalam peta untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dari pelanggan, kompetisi, iklan, dan faktor penting lainnya untuk misi keputusan penting dan memvisualisasikan bisnis hari ini dan masa depan pada skala lokal atau nasional. Perspektif performance dalam arti “keseimbangan” sebagai kartu catatan merujuk kepada pengakuan bahwa untuk mencapai sesuatu, organisasi selau melihat kinerja dan perlu juga dilihat dari sudut pandang yang berbeda…)

  • 5 Comments
  • Filed under: Perbankan
  • Pernahkah kita dikejar-kejar dengan waktu, memang waktu itu siapa ya….) Misalnya deadline penyelesaian proposal, pengumpulan tugas dan laporan, bagi mahasiswa seperti persiapan ujian semester dengan sistem belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) atau mungkin pengumpulan naskah tugas akhir? Pasti diantara kita pernah mengalami hal-hal seperti itu. Pengaturan waktu yang efektif memang sangat sulit meskipun kita sudah mencatat agenda pada hari ini namun sering kali tidak tercapai. Alasannya: malas, kurang disiplin, kurang motivasi, masih ada hari esok, dll. Sebetulnya itulah pemicu kegagalan, menganggap remeh suatu persoalan atau menunda-nunda pekerjaan……) Akhirnya, kita mengerjakannya dengan terburu-buru dan hasilnya tidak maksimal…)

    Tiap-tiap orang punya definisi berbeda-beda tentang waktu, diantaranya sebagai sumber daya paling berharga. Bila mesin rusak, kita bisa membeli baru. Bila benda yang kita miliki hilang, kita bisa mencari penggantinya. Tapi, waktu tak bisa digantikan. Begitu pentingnya faktor waktu ini, banyak sekali ketrampilan dipelajari agar kita bisa mengatur waktu dengan baik. Tujuannya adalah agar kita bisa bekerja lebih “smart” dan produktif. Banyak pula alat bantu, seperti “to do list”, “planner”, alarm, dll dibuat untuk mengatur waktu. Namun, dasar dari semua itu adalah membangun perilaku kerja yang peduli dan menghargai nilai waktu. Akan tetapi berapa banyak diantara kita yang benar-benar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya? Sebenarnya, jika kita ingin mengatur kehidupan dan membuatnya menyenangkan, sebagai permulaan, yang dibutuhkan adalah pengaturan waktu atau atau pengaturan kegiatan (Manajemen waktu or Manajemen Kegiatan).

    Biasanya mendengan cerita orang yang sukses, tidak ada ceritanya teledor terhadap waktu. Mereka pasti orang-orang yang tahu bagaimana mengoptimalkan waktu yang mereka punya. Sebutlah Thomas Alfa Edison. Dia menghargai setiap detik waktu yang dimilikinya untuk melakukan percobaan-percobaan ilmiah. Seandainya saja waktu itu, dia punya motto seperti umumnya remaja sekarang ”muda foya-foya,tua kaya raya, mati masuk syurga” dan tak ada penghargaan terhadap waktu, bukan tak mungkin kita masih bergelap-gelap karena bola lampu belum ditemukan….he…he…Selamat Memanajemen )

  • 3 Comments
  • Filed under: Manajemen
  • Mengapa Risk Management Diperlukan ?

    Sama halnya dengan perusahaan lainnya, perbankan perlu mengelola manajemen risiko dengan baik, apalagi jika termasuk klasifikasi perusahaan besar dan mempunyai beberapa anak perusahaan yang tersebar di berbagai titik. Perlunya suatu proses identifikasi, analisis, penilaian dan monitoring suatu risiko yang sangat cepat perubahannya pada perbankan dan kemudian perlu segera dilakukan pengukuran atas mitigasi risiko untuk kepentingan stakeholder’s dan dalam menyeimbangkan risk and reward.

    Ada beberapa alasan mengapa manajemen risiko diperlukan dalam perbankan:
    1. Merupakan salah satu aspek dalam good corporate govermance
    2. Membantu Top Management Bank dalam proses pengambilan keputusan bisnis
    3. Tersedianya ukuran penilaian secara kualitatif dan kuantitatif
    4. Mendorong bank beroperasi secara lebih efisien (more developed risk measurement)
    5. Mengantisipasi penerapan internal model (standard s.d advanced)
    6. Sebagai sarana early warning system bagi risk management unit dan risk management committee
    7. Meningkatkan shareholder’s value (ultimate objective)

    Para manajer dan pimpinan perbankan yang merupakan risk taking unit, bertanggung jawab pada operasional sehari-hari. Pada umumnya perbankan telah membuat prosedur standard, lengkap dengan built in control agar implementasinya dapat dilakukan sesuai kebijakan. Selanjutnya, perbankan membuat limit dan toleransi risiko yang dapat diterima. Pembuat kebijakan terpisah dengan manajer operasional, sehingga terdapat independensi dalam membuat kebijakan, yang telah memasukkan unsur manajemen risiko. Lantas, perbankan mengoptimalkan internal audit, yang akan memantau apakah implementasi yang dilakukan telah sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.

    Tabel berikut terlihat apa tugas dari masing-masing fungsi, serta apa yang diperlukan oleh masing-masing unit bisnis perbankan. Pembagian peran dan tanggung jawab memang sangat penting dan harus dipahami agar tidak terjadi risiko yang tak diperhitungkan sebelumnya.

    Uraian diatas terlihat betapa kompleknya manajemen risiko di suatu perbankan, sehingga diperlukan sumber daya manusia yang memahami benar, bagaimana mengidentifikasi, mengukur, memonitor, agar risiko bisa diminimalisir…

  • 7 Comments
  • Filed under: Perbankan
  • Kualitas = Kekuatan SDM

    Bicara masalah kualitas sumber daya manusia, semua orang berfikir bagaimana caranya untuk mengoptimalkan potensi yang sekarang ini sudah dimilik, misalnya dalam proses produksi, dapat dilihat dari berbagai prespektif yakni input, proses dan output. Input merupakan kualitas SDM yang tersedia sangat menentukan kualitas human pada kegiatan proses. Dua perspektif tadi (input dan proses) sangat menentukan keberhasilan ouput produksi (produktivitas kerja).

    Bagaimana tingkat pendidikan dan pengetahuan karyawan tertentu agar mampu melahirkan prakarsa, kreativitas dan inovatif dalam yang melaksanakan pekerjaannya sehingga potensi nyata dapat mempengaruhi produktivitas kerjanya secara keseluruhan. Dapat dikatakan bahwa potensi awal yang masih bersifat potensial menjadi unsur riil ketika dimanfaatkan dalam suatu proses produksi, dengan dukungan faktor lain. Unsur riil inilah yang merupakan input berikutnya yang mampu menciptakan suatu produktivitas kerja. Input - Proses - Output memiliki unsur sebagai berikut:

    (1) Input, mencakup unsur:
    a. Tingkat pendidikan dan pengetahuan (kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual);
    b. Sikap atas pekerjaan, produktivitas sebagai sistem nilai, etos kerja, persepsi, motivasi, dan sikap akan tantangan;
    c. Tingkat keterampilan manajerial dan operasional, kemampuan berkomunikasi, dan termasuk kepemimpinan;
    d. Daya inisiatif, kreativitas dan inovatif;
    e. Kepemimpinan manajerial, teknis-mutu dan kelompok;
    f. Tingkat pengalaman kerja;
    g. Tingkat kedisiplinan;
    h. Tingkat kejujuran;
    i. Tingkat kesehatan fisik dan mental kejiwaan.

    (2) Proses, mencakup;
    a. Kerjasama secara harmonis sesama rekan kerja dan atasan;
    b. Bekerja dalam sistem yang total;
    c. Perubahan (peningkatan dan pengurangan) motivasi kerja;
    d. Kejadian konflik horisontal dan vertikal;
    e. Frekuensi daya prakarsa, kreativitas dan inovatif;
    f. Frekuensi dan ketepatan waktu kehadiran kerja;
    g. Tingkat keselamatan dan keamanan kerja individu;
    h. Tingkat kesehatan kerja;
    i. Tingkat kerusakan mutu produksi;
    j. Tingkat efisiensi kerja;
    k. Tingkat komitmen kerja.

    (3) Output meliputi;
    a. Pencapaian standar produktivitas kerja;
    b. Pencapaian standar kinerja organisasi (produksi, biaya dan keuntungan);
    c. Pencapaian omzet penjualan;
    d. Loyalitas karyawan;
    e. Kesejahteraan karyawan.

    Sementara itu, pengelola dituntut untuk memiliki keterampilan dan tanggung jawab kepemimpinan yang lebih tinggi, dengan karakteristik sebagai berikut:

    (1) Memiliki visi masa depan dan kemampuan untuk merealisasikannya,
    (2) Percaya diri yang besar bahwa dibalik kesulitan akan datang kemudahan asalkan tiap usaha dilakukan secara terencana dan terprogram dengan baik,
    (3) Mampu menumbuhkan peran saling percaya dan semangat kebersamaan di kalangan karyawan,
    (4) Peduli dan tanggap terhadap tiap ubahan serta segera mampu menghasilkan gagasan baru untuk tampil beda, dan
    (5) Mampu menjual gagasan selain mampu memperluas jaringan produk barang dan jasa. Semua itu merupakan ciri mutu SDM seorang pemimpin.

    Jika dikaitkan dengan pengefektivitasan kelembagaan tampaklah bahwa strategi yang diterapkan dalam pengendalian mutu antara lain adalah:
    (1) Manajer puncak secara personal terlibat langsung di dalam memimpin proses pengubahan,
    (2) Semua personal dari semua tingkatan dan fungsi dari stuktur kelembagaan dilatih untuk mengelola mutu produk,
    (3) Peningkatan kualitas dilaksanakan dengan kecepatan tinggi serta berlanjut, dan
    (4) Semua karyawan diikutsertakan dalam proses peningkatan kualitas melalui konsep gugus kendali mutu. Dengan kata lain, semua strategi peningkatan mutu produk akan berhasil jika didukung oleh strategi peningkatan mutu SDM yang handal.

    Inilah tantangan yang tak pernah berhenti bagi perusahaan untuk tetap terus melakukan upaya peningkatan kualitas manajemen sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan secara continue, menerapkannya dengan optimal dan konsisten…cukup berat bukan…?

  • 0 Comments
  • Filed under: Manajemen
  • Apakah ini benar…?

    Bicara masalah mutu pendidikan, banyak sudut pandang yang patut diperhitungkan:
    Ada yang mengatakan, terdapat dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.

    Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh banyak jajaran birokrasi. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat.

    Permasalahan tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas - batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement).

    Disamping itu mengingat sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Menarik juga untuk didiskusikan…

  • 4 Comments
  • Filed under: Pendidikan
  • Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.