Tety Elida
Universitas Gunadarma Staff Blog

September 12th, 2007

Terapi Buku 2

Posted in Buku Anak by tety

Setelah bercerita dengan seorang teman kemarin, saya kok jadi pengen posting cerita ini.

Sabtu, 23 Juni ini saya, Ari dan Siwi dari Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) bertugas dongeng di RSCM.  Malam sebelumnya saya mulai coba memelototi koleksi buku cerita yang kami punya di rumah.  Hampir semua picture book yang kami punya sudah pernah kami bawa ke RSCM.  Saya kemudian membolakbalik kumpulan cerita yang kami miliki, guna mencari ide untuk kegiatan dongeng besok.  Setelah beberapa saat akhirnya saya memutuskan kegiatan besok akan diisi dengan  2 dongeng  gambar dan cerita si Tofu sakit.

 Siwi ternyata tidak bisa ikut, karena sakit.  Pagi  hari sebelum berangkat Ari meyiapkan whiteboard dan saya belanja sayur untuk cerita si Tofu.  Kami tiba di RSCM pukul 9.15, lebih awal 15 menit dari jadual yang seharusnya.  Tetapi suster jaga diruangan tersebut mempersilahkan kami “ Gak apa-apa sekarang aja…., gak ganggu kok !”.  Di ruang rawat kelas 3 yang kami masuki saat itu ada kurang lebih 14 anak yang sedang menjalani  perawatan, umur mereka bervariasi antara 1 tahun sampai 12 tahun. 

 Cerita pertama adalah dongeng gambar “Ikan terbang”.  Dongeng gambar adalah salah satu cara bercerita  yang dibawakan sambil menggambar melalui media papan tulis, whiteboard atau kertas.   Cerita ikan terbang yang saya bawakan saya dawali dengan kalimat ” Ada sepasang kakek dan nenek yang tinggal disebuah rumah yang berbentuk bulat !”  Sambil mengucapkan kalimat tersebut, tangan saya membentuk bulatan kecil disebelah kiri atas whiteboard.  Begitu seterusnya, setiap kalimat yang saya ucapkan selalu diikuti dengan gerakan tangan yang sesuai.  Cerita ”Ikan terbang” ini menceritakan tentang sepasang suami istri (kakek dan nenek) yang merasa terganggu oleh suara berisik yang berasal dari sebuah kolam di dekat rumah mereka.  Di akhir cerita si nenek berteriak ”Kakek, coba lihat ikan-ikan di kolam berterbangan keluar !”  Si kakek keluar dari rumah dan berkata ” Aduh Nenek, itu bukan ikan, itu kan seekor burung!”  dan memang gambar yang terbentuk adalah gambar seekor burung.

Eko, salah satu anak bersedia mencoba apa yang saya lakukan. Ibunya membantu melepaskan tali infus dari tiang dan memegang botol infus itu selama Eko bercerita. Dengan agak tersendat karena lupa, Eko tetap terus mencoba bercerita.  Meskipun mempergunakan tangan kiri, gambar Eko sangat bagus,  sehingga Ibu-Ibu yang berada didekat kami spontan bertepuk tangan pada saat gambar burung terbentuk. 

Cerita gambar kedua adalah ”Beruang”.  Seorang anak yang sedang berjalan-jalan tiba-tiba terperosok kedalam sebuah lubang gelap, sehingga kepalanya benjol.  Pada saat anak itu berusaha keluar dari lubang, ia kembali terperosok ke lubang yang lebih dalam lagi dan benjolan kepalanya semakin besar.  Di akhir cerita terbentuklah kepala seekor beruang.  Kali ini Danu yang semangat mencoba menirukan cerita saya.  Tetapi rupanya Danu berceritanya dalam hati, sehingga yang terlihat hanya tangannya saja yang menggambar.

Cerita berikutnya adalah ”Si Tofu Sakit”.  Saya dan Ari membawakan cerita ini.  Sambil memegang  sebuah tahu, saya buka cerita dengan keluhan si tofu yang sedang sakit tetapi tidak ada satupun temannya yang membesuk.  Kemudian datang lobak menjenguk dan menceritakan kenapa teman-teman mereka tidak bisa datang.   Sewaktu lobak mengajak Wortel ternyata Wortelpun sedang sakit.  Kulitnya kemerahan karena tersengat sinar Matahari.  Demikian juga dengan Terong, ia terjatuh sehingga badanya lebam sampai berwarna ungu.  Si Pare tidak boleh keluar rumah karena kulit tubuhnya banyak timbul benjolan akibat terserang cacar  Satu persatu satu, sayuran yang kami peroleh pagi itu  memerankan tokoh teman si Tofu yang ternyata mereka semua juga sakit.  

Awalnya saya akan menutup kegiatan dongeng hari itu dengan cerita si Tofu, tetapi tiba-tiba seorang anak nyeletuk  ”Dongeng gambar lagi !”  Untunglah cerita ”Kucing, Tommy dan Sally” masih ada dalam ingatan saya.    Setelah selesai bercerita , lagi-lagi si Eko yang penasaran ingin mencoba.  Menurut ibunya, dia memang senang menggambar dan diantara anak-anak yang sedang dirawat saat itu, dia yang paling seneng ngomong. 

Tidak terasa sudah jam 9.50.  Kami pamit pulang sambil membagikan sekotak pensil warna bagi mereka.    “Kak  besok  datang lagi   ???? “  tanya seorang  anak.

You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

3 comments

  1. ati says:

    Waahh… bu Tety, menarik ya cara bercerita seperti itu… Apalagi bagi anak-anak yang tengah sakit. Dulu sekali, ketika di Jogja, saya sering menyaksikan anak-anak di bangsal perawatan membaca buku cerita yang disediakan RS. Akan lebih menyenangkan kalau sewaktu-waktu ada yang mendongeng ya!

    December 29th, 2009 at 4:10 pm

  2. Wawan says:

    Selamat siang bu.. saya Wawan Darmawan mahasiswa UNPAD angkatan 2007. berkebetulan ssya sedang ingin melakukan penelitian dengan tema biblioteraphi atau dengan kata lain terapi buku. saya sudah berkeliling untuk mencari tempat yang telah menerapkan terapi buku ini, namun belum mendapatkan hingga saat ini(khususnya daerah bandung). apakah di RSCM masih diterapkan terapi buku ini bu? mohon informasi bisa ke email saya ataupun bisa sms saja ke 085624951765 . atau ada no hp atau email yang bisa saya hubungi. sebelumnya mohon maaf bila merepotkan. terimakasih :)

    May 4th, 2011 at 5:46 pm

  3. tety says:

    masih, 2 minggu sekali tim kami kesana. email: tety@staff.gunadarma.ac.id

    May 5th, 2011 at 8:57 am

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.