Review: Rumah Dara
PERHATIAN: ULASAN FILEM INI MUNGKIN AKAN MEMBONGKAR ISI FILEMNYA. BUAT YANG BELUM NONTON, MENDING JANGAN BACA DULU YA, NANTI GAK ADA SERUNYA LAGI.
Entah apa perhitungan produser filem ‘Rumah Dara’ menempatkan Shareefa Daanish sebagai karakter antagonis dalam filem tersebut. Awalnya sih, saya gak ‘ngeh kalau cewek ini juga yang suka nangkring di ‘The Coffee Bean Show’ di sebuah tivi swasta. Kalau kita nge-Google dan mengetik ‘Shareefa Danish’ (tanpa tanda petik), maka keluarlah foto-foto cewek ini. Gambarnya yang paling gede malah menunjukkan hot-nya si cewek ini. Untunglah karena saya gak ‘ngeh jadi gak begitu peduli ngeliat dia keluar di filem ‘Rumah Dara’ sebagai seorang ibu yang psychosomatic addict insane tapi koq keliatan cantik, dan itu nampaknya memang ada sebabnya dalam filem ini.
Julie Estelle juga nampaknya tidak keberatan kalau sering ditaruh dalam filem-filem horor. Filem terakhir yang saya tonton yang ada Julie adalah ‘Kuntilanak’. Dalam misi saya menghargai produk anak negeri yang gak pakai porno, apalagi pakai artis impor yang porno, dan dengan didukung oleh 2 artis yang tersebut di atas, saya tontonlah filem ini di bioskop. Resensinya sih cukup heboh. Standard luar negeri lah. Berdarah-darahlah. Pokoknya seru deh, katanya.
Karena saya sudah nonton, akhirnya saya bisa menilai sendirilah. Namanya selera, tentu beda-bedalah. Wong, ada yang bilang ‘Paranormal Activity‘ itu ‘the scariest movies of all time‘. Padahal, biasa aja dan masih ada yang lebih serem lagi. Jadi, saya gak begitu mudah percaya dengan resensi, apalagi kalau yang nulis bule.
Kita mulai dari aktor dan aktrisnya aja dulu ya. Pada prinsipnya, Shareefa Daanish, Julie Estelle, VJ Daniel dan lain-lain (sorry gak kenal nama asli yang lain
sudah bermain bagus. Emang sih, cara berbicara Dara (dimainkan Shareefa) agak ngebetein. Kayak dibuat-buat. Tapi, kalau gaya bicara asli dia mungkin lebih lucu lagi ya. Pembawaan Dara dikisahkan tenang dan dingin (es kali) dan kayak dikasih bass dikit udah cukuplah. Aktris lain mungkin gak seasik Shareefa. Mungkin sekarang kalau ngeliat lagi Shareefa di ‘The Coffe Bean Show’ bakal pangling juga. Koq bisa cewek rame kayak gitu bisa main karakter sadis.
Julie sendiri sudah cukup saya kenal di filem ‘Kuntilanak’. Dalam memainkan peran Nadya (Ladya?), dia juga sudah cukup baik. Namanya karakter jagoan, ya dia hidup dong sampai akhir filem. Sebenarnya, hampir (semua?) pemain dalam filem ini adalah orang-orang yang cukup banyak kita kenal. Shareefa, Julie, Imelda Therinne adalah kumpulan cewek hot yang mungkin menjadikan filem ini atraktif. Untuk aktornya, yang saya tahu si cuman VJ Daniel. Lainnya, pernah lihat, tapi gak kenal namanya. Mungkin ada sebabnya kenapa produser memilih orang-orang ini sebagai aktor dan aktrisnya. Padahal, kalaupun memakai bintang muda yang masih baru, dengan tetap mempertahankan skenario dan standard pengambilan gambar, dan teknis lainnya, saya pikir filem ini masih akan tetap bagus.
Untuk cerita filem ini sendiri, nampaknya kurang kuat. Kira-kira selama 15-20 menit awal filem ini banyak mengisahkan latar belakang kisah-kisah karakter dalam filem ini. Untuk yang penggemar filem horor mungkin akan gak sabar, kapan mulai seremnya nih? Saya sendiri sampai menyangka saya salah nonton filem, jangan-jangan ini filem drama. Akhirnya, misteri barulah dimulai ketika mereka hampir menabrak Maya, yang akan membawa mereka ke Rumah Dara. Seluruh kengerian dimulai tidak berapa lama setelah mereka menginjakkan kaki mereka di rumah itu.
Tidak dikisahkan secara jelas, bagaimana Dara sekeluarga bisa tetap muda walaupun sudah hidup ratusan tahun. Kemungkinan yang bisa tersirat dari filem ini adalah karena mereka makan daging orang. Entah bagaimana caranya mereka sebelum-sebelumnya bisa mendapatkan orang dan selalu bisa lolos. Kalau di filem bule yang sejenis, biasanya mereka menyasar orang-orang gelandangan karena biasanya orang-orang gak akan kehilangan mereka. Nah, logikanya, dalam filem Rumah Dara, harusnya akan ada orang-orang yang menyadari kalau Ladya, Adji dan yang lain-lain dalam filem ini menghilang. Tentunya akan dilacak di mana mereka terakhir terlihat dan mungkin akan mengarah ke sana.
Di dekat-dekat akhir filem pun dikisahkan ada sekelompok polisi mendatangi Rumah Dara. Saya bukan polisi, tapi kalau polisi pasti melaporkan kejadian-kejadian aneh, bukan? Nah, kalau mereka mendatangi sebuah rumah karena ada sesuatu yang mencurigakan, pasti mereka melapor posisi mereka. Hal seperti ini harusnya sudah ada kejadian sebelumnya. Tapi, apa iya sekeluarga bisa lolos terus? Ya, gak papalah. Sebagai hiburan filem ini sudah pas. Apalagi sebagai pelepas rindu filem horor lokal yang dewasa ini cuman lebih mentingin pornonya.
Hal lain yang menggelitik adalah gergaji listrik. Di sebuah rumah dengan desain yang cukup kuno dengan anak-anak Dara yang tampilannya juga kuno, koq bisa ada gergaji listrik? Di rumah ini gak ada televisi. Cuman ada radio. Radionya pun jadul banget, masih pake rotan. Nah, koq sempet-sempetnya punya gergaji listrik? Sebagai unsur penegang sih, lumayan. Apalagi di trailernya, cocok aja deh waktu Dara berteriak, ‘Enak ‘kan?’ sambil mengacung gergaji listriknya dengan deru mesin yang bising.
Masih banyak sebenarnya yang bisa diperbaiki dalam filem ini. Untuk standard horor, sudah okelah. Efek-efek visual yang ditampilkan cukup bagus. Darah yang divisualisasikan cukup real. Entah itu darah hewan atau apa, pokoknya keliatan real. Belum lagi sabetan-sabetan benda tajam dengan cipratan darah dan juga visualisasi penggorokan orang dengan gergaji listrik. Bener-bener bloodfest.
Nah, dengan gambaran filem seperti di atas, sangat amat tidak dianjurkan untuk membawa anak kecil untuk menonton filem ini. Belum lagi penggunaan kata-kata seperti ‘anj**g’ sebagai ucapan serapah. Untungnya, gak ada kata yang lebih parah dari itu. Ada juga selipan adegan ranjang. Tapi, masih dalam batas toleransi jadi gak parah kayak Suster Keramas atau Hantu Puncak Datang Bulan yang memang keluaran rumah produksi ngeres.
Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan filem ini. Kudos dari saya untuk produser dan rumah produksinya. Semoga ke depannya tetap bisa mempertahankan kerja yang bagus dan kalau bisa, malah lebih ditingkatkan lagi.
About this entry
You’re currently reading “Review: Rumah Dara,” an entry on MT Wilson, SKom., MKom.
- Published:
- 02.12.10 / 10am
- Category:
- Personal
3 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]