Archive for the 'Kesehatan' Category

02 8th, 2010
Batu Hempedu
Author: sugenk

70971

Saat tubuh mencerna makanan, sejatinya bukan hanya lambung dan usus (organ yang kerap dihubungkan dengan sakit maag) yang bekerja keras banting tulang. Ada organ lain yang tak kalah sibuk. Salah satunya kandung (kantung) empedu. Jeroan yang satu ini ikut membantu mencerna lemak makanan. Apa jadinya proses pencernaan lemak kalau organ ini ngadat oleh suatu sebab. Prof. Dr. H. M. Sjaifoellah Noer, internis gastroentero-hepatologi di RS Mitra Internasional, Jakarta, bilang, gangguan pada kantung empedu bisa berupa infeksi saluran empedu dan adanya batu di kandung atau saluran empedu. Dari keduanya, orang paling ngeri kalau di dalam kantung empedu ternyata ngendon segumpal batu.

Dari hasil penelitian, ada perbedaan penyebab sakit batu empedu yang menimpa orang di Asia dan orang Barat.

Penyakit batu empedu di Asia umumnya disebabkan infeksi di saluran pencernaan. Faktor pencetus infeksi itu misalnya makanan yang dikonsumsi tidak bersih dan bebas kuman. Infeksi bisa merambat ke saluran empedu sampai ke kantung empedu. Kuman penyebab infeksi saluran pencernaan biasanya Escherichia coli. Adanya di dalam usus. Ia mampu bergerak dan dapat memasuki saluran empedu sampai ke kantungnya. Lantas, di situ ia membuat perubahan komposisi cairan dan keseimbangan di dalam kandung empedu. Perubahan komposisi ini membentuk inti, lalu lambat laun menebal dan mengkristal. Proses pengkristalan dapat berlangsung lama, bisa sampai bertahun-tahun. Hasilnya, ya batu empedu. Jika diteropong lewat mikroskop elektron, susunan yang terkandung dalam batu empedu hasil infeksi itu berupa bilirubin dan garam-garam empedu.

Sedangkan di Barat, kebanyakan penderitanya masuk rumah sakit karena tubuh mereka kelebihan kolesterol. Maklum, karena mereka gemar mengonsumsi makanan tinggi lemak. Misalnya, fast food yang sedikit sekali kandungan seratnya. Makanan berkolesterol tinggi jelas membuat kerja organ pencernaan tambah berat. Padahal, kolesterol atau lemak sulit dicerna. Jika kolesterol berlebih, ia bisa mengendap di saluran pencernaan. Juga di saluran atau kantung empedu. Jika proses itu terus-menerus berlangsung, kolesterol akan mengkristal dan jadilah batu yang bermasalah itu. Biasanya, batu yang terbentuk dari kolesterol berbentuk bulat, berwarna putih. Lain dengan batu empedu yang tersusun dari bilirubin dan garam-garam empedu yang terjadi gara-gara infeksi. Batu yang ini warnanya cokelat kehitaman dan jauh lebih keras serta lebih banyak mengandung kapur. Lebih gawat, Penyumbatan di saluran empedu, selain bikin mampat aliran ke kandung empedu, juga bisa menyebabkan infeksi dan pembusukan di kantung tersebut. Sampai akhirnya, kantung pecah sehingga cairan empedu meracuni tubuh. Penderita bisa langsung kehilangan kesadaran, dan dalam hitungan jam nyawa bisa melayang. Gejala sakit batu empedu mirip dengan sakit maag. Menurut Sjaifoellah, itu karena lambung dan kantung empedu terletak di ulu hati.

Jika salah satu organ ini mengalami peradangan, “rasanya” ya hampir sama. Orang banyak sering menyebutnya dengan istilah kembung. Untuk membedakannya dari maag, perhatikan penjalaran nyerinya. Kalau kantung empedunya yang meradang, nyeri terasa di bawah tulang iga agak sedikit ke kanan. Rasa nyeri juga berpotensi menjalar sampai ke pinggang bagian kanan dan bahu kanan. Sedangkan jika lambung yang meradang, nyerinya terasa lebih sedikit ke atas ulu hati dan ke kiri. Batu di kandung empedu bisa saja tidak terlalu berat dan membahayakan, asalkan tidak menyumbat saluran empedunya. Bahkan, batu itu sebenarnya bisa keluar sendiri kalau ukurannya kurang dari 5 mm. Keluarnya ketika ada gerakan mengerut dan mengembang dari kandung empedu. Begitu meninggalkan sarangnya, batu langsung menuju ke saluran pencernaan ke usus 12 jari dan penderita tidak merasakan keluhan apa-apa. Jika batunya tidak keluar secara normal, penderita akan mengalami serangan kolik, yaitu gerakan spontan empedu yang berkontraksi atau mengerut. Kontraksi itu sebenarnya dalam rangka “membela diri”. Ketika mengerut, kantung empedu berusaha mengeluarkan batu atau kuman di dalamnya. Istilah kedokterannya cholecystokinin. Celakanya, kontraksi itu tidak selalu berhasil. Apalagi kalau ada sumbatan. Tak heran kalau penderita kolik merasakan sakit yang amat sangat, lalu demam, mual, dan muntah-muntah. Operasi sedikit luka, Lantas, apa yang harus dilakukan jika telanjur “mengoleksi” batu tak berharga ini?

Kata Sjaifoellah, jika kantung empedunya masih berfungsi dengan baik, jumlah batunya cuma satu dan tak lebih dari 2 cm besarnya serta terbentuk karena kolesterol, masih bisa diobati dengan menelan obat. Pasien diberi obat yang mengandung asam dan garam empedu, yakni cheno deoxy uric acid (CDC) dan urso deoxy uric acid (UCDC). Dengan obat-obat itu diharapkan batu empedu bisa larut, meski tidak sekejap. Garam-garam empedu mengikis secara perlahan dan bertahap serta membentuk keseimbangan komposisi cairan dalam kandung empedu. Proses pengobatan ini terbilang cukup lama, dapat mencapai satu tahun.

Selain minum obat, batu empedu dapat juga dihancurkan dengan cara ditembak pakai sinar radiasi tertentu (ESWL), seperti rontgen. Namun, ada syaratnya. Empedu harus masih berfungsi dengan baik. Sebab, kandung empedu yang habis ditembak biasanya akan sedikit meradang. Fungsi empedu tetap oke, sehingga peradangan tak mempengaruhi kemampuannya mengeluarkan batu yang baru saja dihancurkan. Namun, kalau ternyata empedu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik, sementara batu di dalamnya sudah sangat mengganggu, mau tak mau harus diambil. “Batu tadi tetap harus diangkat, tapi dengan cara memotong empedu. Tidak apa-apa kok, yang hilang ’kan hanya kantung empedunya. Empedu tetap dihasilkan oleh sel-sel hati. Fungsi kantung empedu nantinya dapat digantikan oleh saluran empedu. Kantung empedu yang sudah tidak bagus fungsinya, kalau dipertahankan, malah dapat menghasilkan batu selanjutnya,” jelas Sjaifoellah.

Kandung empedu yang kronis juga bisa dioperasi, sebutannya cholecyctectomy dengan cara laparoskopi. Cara ini terbilang canggih. Zaman dulu, pembedahan untuk menyingkirkan batu empedu menghasilkan luka parut di perut sepanjang 12 cm. Sekarang, dengan teknik laparoskopi luka yang dihasilkan cuma selebar 2 cm di tiga tempat. Tiga hari setelah menjalani operasi, pasien sudah bisa pulang. Namun, seringan-ringannya dampak yang ditimbulkan oleh operasi, tentu masih lebih nyaman kalau kita hidup sehat tanpa “koleksi” batu di kantung empedu. Salah satu caranya, dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang.

Bentuk kandung empedu mirip buah alpukat. Letaknya di balik hati, persisnya di sisi sebelah kanan. Posisinya sengaja diletakkan di dekat hati karena fungsinya sebagi penampung cairan yang dihasilkan oleh sel-sel hati. Empedu hanya bekerja jika ada order dari usus, ketika ada lemak yang harus dicerna. Cairan empedu akan mengalir melewati saluran empedu, kemudian langsung menuju ke usus 12 jari, tempat proses pencernaan lemak berlangsung. Peran empedu ini penting, karena lemak merupakan zat makanan yang tidak mudah dicerna. Meski sudah dipecah-pecah oleh cairan yang ada di lambung, lemak masih perlu diurai lagi. Sebab, pada dasarnya lemak tidak larut dalam air. Butuh unsur-unsur yang ada dalam cairan empedu, seperti asam empedu dan garam-garam empedu, agar lemak yang sudah dipecah oleh cairan lambung melarut. Proses ini disebut emulsi. Setelah mengalami emulsi, lemak jadi mudah diserap usus, kemudian disalurkan ke seluruh tubuh dalam bentuk asam lemak dan protein. Ketika masih berfungsi baik, lazimnya kandung empedu akan mengerut (berkontraksi) jika datang rangsangan. Misalnya, ketika ada makanan yang berlemak yang mesti dilumat. Untuk mengecek apakah fungsinya masih berjalan sebagaimana mestinya, bisa dilakukan lewat USG. Untuk itu pasien dipuasakan selama 5 - 10 jam, supaya kantung empedunya kendur. Setelah itu diberi makan makanan berlemak, seperti susu, telur, dan mentega. Sekitar satu jam (setelah makanan tadi mencapai lambung), empedu akan mengerut. Jika di layar USG empedu tampak mengerut 30 - 50%, berarti dia masih berfungsi dengan baik. Namun, jika di bawah 30%, lekaslah berkonsultasi dengan dokter.

Sumber: http://syamsikusyanti.multiply.com/

02 5th, 2010
Kesemutan 2
Author: sugenk

Rasa kesemutan biasa dialami oleh sebagian besar diabetesi. Mengontrol gula darah dan mengonsumsi vitamin B bisa menjadi satu cara untuk mengatasinya.

Rasa kesemutan sering dialami penderita diabetes melitus (diabetesi). Sekitar 60-70 persen diabetesi mengalami kesemutan, yang merupakan satu bentuk dari neuropati. Risiko ini meningkat sejalan dengan bertambahnya usia dan durasi mengalami diabetes yang lebih lama.

Kesemutan ini juga muncul lebih sering pada diabetesi yang mengalami masalah dalam mengontrol glukosa darah. Sama halnya dengan mereka yang memiliki kadar lemak dalam darah dan tekanan darah tinggi serta yang mengalami kelebihan berat badan.

Dr. Pudji Sugianto, Sp.S, dari RS Siloam Lippo Cikarang, menjelaskan bahwa kesemutan bisa menjadi indikasi dari banyak penyakit, seperti diabetes melitus, hipertensi, saraf terjepit, gangguan aliran darah pada pembuluh darah tepi, maupun gangguan darah.

Ada kalanya pada mereka yang belum diketahui mengidap diabetes, kesemutan dapat menjadi gejala awal diketahuinya diabetes.

Kontrol Gula Darah

Kesemutan pada diabetesi terjadi karena adanya gangguan di pembuluh darah kapiler yang kecil-kecil atau kerusakan pada pembuluh darah tepi.

Untuk mengatasi kesemutan, hal pertama yang mesti dilakukan adalah mengontrol gula darah. Vitamin khusus untuk saraf, yaitu obat turunan vitamin B.

Obat neurotropik diberikan guna mempertahankan saraf tepi agar tidak cepat rusak, juga mempertinggi ambang rangsang kesemutan. “Jadi penderitanya tidak merasakan kesemutan lagi,” ujar Dr. Pudji.

Ditambahkan oleh Dr. Tiara Anindhita, Sp.S, dari Departemen Neurologi FKUI/RSCM, mekanisme penyebab neuropati akibat diabetes belum diketahui sepenuhnya. Diperkirakan peningkatan kadar glukosa darahlah yang menyebabkan gangguan antaran listrik pada serabut saraf perifer. Selain itu, pembuluh darah kapiler terganggu, sehingga menyebabkan sel-sel saraf tidak mendapatkan sirkulasi darah yang baik dan terjadilah kerusakan.

Fungsinya yang sangat penting membuat sel saraf sangat rentan terhadap gangguan sirkulasi walaupun hanya sesaat. Sel saraf selalu memerlukan kecukupan oksigen, gula darah, dan nutrisi lain yang maksimal setiap saat.

Karena itu, peningkatan kadar gula darah yang berlangsung terus-menerus dalam waktu lama akan menimbulkan kerusakan di luar batas toleransinya dan sulit untuk beregenerasi kembali.

Setiap gejala kesemutan harus segera ditangani dengan benar. Bila kesemutan terkait dengan penyakit tertentu, cara mengatasinya adalah dengan mengelola penyakitnya.

Pada diabetesi misalnya, pengendalian kadar gula darah dalam batas normal dapat mencegah perburukan gejala. Pengendalian gula darah dapat dilakukan dengan konsumsi obat secara teratur dan diet.

Kesemutan dapat diminimalisasi dengan pemberian obat yang bisa merangsang perbaikan serabut saraf yang rusak dengan metilkolbalamin yang diresepkan dokter. Sirkulasi darah harus diperlancar dengan rutin olahraga dan mengasup makanan sehat, serta tidak merokok.

Kesemutan Dan Neuropati

Kesemutan atau paresthesia dalam istilah medis merupakan sensasi spontan yang abnormal pada daerah persarafan tertentu. Secara normal, manusia bisa merasakan sensasi tertentu setelah ada rangsangan atau stimulus yang sesuai. Contohnya, merasa, meraba, menyentuh, menekan, nyeri, dan sebagainya.

Sensasi tersebut baru muncul bila ada stimulus. Dan sensasinya, tentu saja, harus sesuai dengan stimulusnya. “Jadi kalau kita diraba, ya kita akan merasakan sensasi diraba,” ujar Dr. Dita.

Sementara pada paresthesia, sensasinya muncul spontan tanpa ada stimulus. Bisa berupa rasa panas seperti terbakar, tidak enak, kesemutan, seperti ditusuk-tusuk.
Paresthesia atau kesemutan adalah terminologi untuk suatu gejala dan bukan diagnosis penyakit. Itu sebabnya, gejala paresthesia bisa dijumpai pada berbagai penyakit yang mengenai saraf, terutama saraf di bagian perifer.

Berbagai Penyebab

Sebagai gambaran, sistem saraf manusia terbagi atas saraf sentral (otak dan sumsum tulang) dan perifer, yaitu serabut saraf yang keluar dari sentral menuju organ-organ yang perlu dipersarafi seperti kulit, otot, organ dalam perut, jantung, dan sebagainya. Jadi mirip komputer yang memiliki unit pemrosesan sentral (CPU) dan tersambung dengan kabel konektor.

Adanya kelainan yang pada saraf perifer disebut neuropati. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Selain diabetes, juga bisa akibat penyakit autoimun, tiroid, vaskular, dan sebagainya. Gejala paresthesia juga bisa disebabkan oleh kelainan saraf yang lebih berat seperti tumor dl daerah sumsum tulang atau gejala sisa pasca stroke.

Gejala antara paresthesia dan neuropati sangat berbeda. Pada neuropati, kesemutan yang muncul sangat khas. Biasanya di telapak kaki kemudian telapak tangan serta simetris kanan dan kiri.

“Sering disebut daerah stocking gloves, seperti layaknya memakai sarung tangan dan kaus kaki,” ujar spesialis saraf lulusan FKUI ini.

Pada kelainan di sumsum tulang atau otak, daerah yang mengalami kesemutan sangat bervariasi, tergantung lokasi saraf yang terkena. Pada kasus neuropati yang lebih berat, kesemutan bisa diikuti rasa nyeri atau gangguan gerak pada tangan dan kaki.

Karena Penekanan

Selain menjadi gejala penyakit, kesemutan juga bisa muncul secara fisiologis. Posisi tubuh tertentu yang tidak berubah dalam waktu cukup lama, seperti duduk bersila, bisa timbul rasa kesemutan.

Hal ini, disebutkan Dr. Dita, karena terhambatnya aliran darah ke daerah saraf tertentu akibat penekanan yang terus-menerus dalam waktu lama. “Sehingga saraf mengalami ‘kekurangan makanan’ sesaat, yang ditandai rasa kesemutan itu,” katanya. Untuk menghindarinya, kita mesti rajin mengubah posisi dan melakukan gerakan ringan secara periodik agar aliran darah tetap lancar.

Satu hal lagi, di negara-negara Barat, kesemutan juga bisa terjadi karena konsumsi alkohol berlebihan. Sementara di Indonesia, kesemutan Bering berkaitan dengan nutrisi, yaitu kekurangan asupan vitamin B12.

Sumber: Senior

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.