Identifikasi data penelitian

Identifikasi data penelitian harus dilakukan sebelum peneliti mengklasifikasi bagian-bagian dari data penelitian dan selanjutnya menganalisisnya. Jika peneliti dapat mengindentifikasi data beserta unsur-unsur yang membentuknya, maka keberhasilan peneliti dalam mengklasifikasi dan menganalisis data penelitian akan semakin besar. Sebaliknya jika peneliti tidak bisa mengidentifikasi data tersebut, maka tindakan klasifikasi dan tindakan analisis akan sulit dilakukan. Dan jika dipaksakan tindakan klasifikasi, maka tindakan tersebut akan tidak tepat. Begitu pula, tindakan analisis akan memberikan hasil yang tidak benar.

Faktor penentu keberhasilan pengidentifikasian data penelitian adalah penguasaan yang  baik dan benar tidak hanya terhadap metode dan teknik yang digunakan tetapi juga teori-teori yang ada di landasan teori yang tentu bertalian dengan topik penelitian. Teori-teori tersebut meliputi definisi dari suatu objek penelitian dan isi yang terkait denganya. Maka dari itu, penguasaan teori khususnya yang berkaitan dengan objek penelitian mutlak dilakukan. Bagaimana mungkin, peneliti dapat melakukan identifikasi jika teori-teori mengenai objek penelitian yang terdapat dalam data penelitian tidak dikuasainya. Bagaimana pandainya seseorang dan bagaimana tahunya seseorang tentang metode dan teknik-tekniknya tanpa penguasaan yang baik dan benar terhadap teori-teorinya tetap tindakan identifikasi akan menemui kendala.

Bertalian dengan hal di atas, patut ditekankan khususnya bagi para penulis yang sedang atau yang akan melakukan penelitian bahwa teori-teori yang berkaitan dengan objek penelitian baik yang lama maupun yang baru merupakan dasar bagi keberhasilan identifikasi, klasifikasi, dan analisis data penelitian. Perlu dikemukakan juga bahwa metode dan teknik yang ada pada dasarnya bersumber pada penelitian sebelumnya. Dengan kata lain, metode dan teknik yang sering kita lihat pada bab tersendiri, dan jika kita jeli melihatnya digali dari teori-teori dari para peneliti sebelumnya. Maka dari itu, sekali lagi agar berhasil dalam mengidentifikasi data penelitian seseorang yang sedang melakukan penelitian tidak hanya mengetahui metode dan tekniknya tetapi juga landasan teorinya.

Contoh yang diberikan adalah pada waktu mengidentifikasi bentuk afiks pe(N)- dalam bahasa Indonesia, datanya adalah kata-kata yang berisi afiks ini, yakni dalam pendatang, pembaca, penulis, dan sebagainya. Jika kita tidak memiliki pengetahuan atau teori yang berkaitan dengan unsur-unsur dalam kata tersebut, maka tindakan identifikasi dengan mengunakan teknik bagi unsur langsung akan sulit dilakukan. Selain itu jika dipaksakan, kemungkinan besar akan membawa data yang seharusnya tidak diikutkan dalam penelitian, misal, kata pesawat yang dikira dibentuk oleh dua unsur afiks dan morfem ternyata bukan.

Kelapa Dua, 28th June 2010

Belajar Bhs. Inggris Di Tingkat Dasar

Bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa International adalah bahasa yang demikian penting bagi siswa Indonesia.  Dengan memiliki kemampuan di bidang bahasa Inggris merupakan nilai plus yang akan memudahkan para siswa dalam mengapai ilmu pengetahuan yang lebih tinggi pada bidang-bidang yang menjadi pembelajarannya yang otomatis akan meningkatkan keahliannya di bidang tersebut.

Dengan memiliki keahlian di bidang bahasa Inggris khususnya dalam bidang komunikasi baik lisan maupun tertulis, siswa nantinya akan lancar  dalam menyelesaikan studinya baik di tingkat menengah, atas, akademi maupun universitas karena sebagaimana yang telah dinyatakan di atas yakni siswa memiliki pengetahuan yang lebih dengan tanpa hentinya mencari pengetahuan lebih yang jembatan bahasanya adalah bahasa Inggris.  Selain itu, kemampuan itu akan memudahkan siswa yang bersangkutan dalam mendapatkan pekerjaan.

Peryataan-peryataan di atas menunjukkan betapa pentingnya bahasa Inggris bagai para siswa Indonesia. Jika sudah demikian, para orang tua seharusnya mulai menyiapkan sedini mungkin pembelajaran bahasa Inggris bagi putra putrinya agar mereka nantinya mereka mendapatkan cita-cita sebagaimana yang diinginkan baik oleh orang tua maupun putra putrinya.

Pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup di pendidikan formal. Bukti telah banyak ditemukan bahwa hanya belajar bahasa Inggris di pendidikan formal apakah itu TK, SD, SMP, SMA teryata tidak membawa perubahan yang berarti bagi siswa tersebut. Kecuali kalau di tingkat-tingkat tersebut ada pendidikan ekstrakulikuler yang mengintensifkan pembelajaran bahasa Inggris kemungkinan besar ada perubahan yang lumayan besar dengan memiliki kemampuan yang lebih dalam bahasa Inggris.

Pembelajaran lain bisa dilakukan di Privat atau les yang ditangani oleh tenaga yang kompeten dan bertahun-tahun telah berkecimpung di bidang bahasa. Bukti telah menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kemampuan lebih rata-rata mereka telah mengenyam pendidikan tidak hanya di formal tetapi juga di luar sekolah. Dengan demikian, Orang tua sudah saatnya memberikan pembelajaran yang lebih dengan arti pembelajaran tidak hanya di tingkat sekolah tetapi juga di luar sekolah.

Namanya ilmu apalagi bahasa akan menjadi lebih baik pembelajarannya dilakukan jauh-jauh hari. Hal ini akan memberikan keuntungan yang lebih karena sebagaimana yang kita tahu penyerapan tentang hafalan mudah dilakukan pada tingkat anak-anak.

Pada tingkat-tingkat akhir SD, siswa mulai belajar tentang  percakapan yang sederhana mulai dari perkenalan, hobi, dan sebagainya. Pada tingkat ini siswa seharusnya sudah diberikan buku-buku bacaan bahasa Inggris, lagu-lagu untuk tingkatan siswa sekolah dasar yang tentunya sesuai dengan daya tarik masing-masing siswa.

Dengan banyak membaca, siswa akan mudah mengingat dan otomatis juga tidak akan mudah lupa kata-kata bahasa Inggris. Dan bahkan siswa akan memiliki vokabulari yang lebih dibanding siswa yang lain yang tidak hobi membaca.

written by; Sugeng T.

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.