Kemiskinan, Wanita, dan BBM



Siti Haiyinah Wijaya, Aktivis perempuan, mahasiswi UI, Depok.

BEBERAPA minggu ini kita disibukkan dengan berita orang miskin. Masalahnya adalah pemerintah memberikan dana kompensasi BBM pada penduduk yang dikategorikan miskin yang besarnya Rp300.000 untuk 3 bulan.

Artinya penduduk miskin disubsidi oleh pemerintah sebesar Rp100.000 setiap bulannya. Sebenarnya apa yang dimaksud miskin itu? Badan Pusat Statistik yang melakukan pendataan penduduk miskin menggunakan pendekatan basic needs.

Dengan pendekatan ini, kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun nonmakanan yang bersifat mendasar.

Berdasarkan pendekatan basic needs, indikator yang dipakai adalah Head Count Index (HCI) yaitu jumlah dan%tase penduduk miskin yang berada di bawah garis kemiskinan (GK). GK dihitung berdasarkan rata-rata pengeluaran makanan dan nonmakanan per kapita pada kelompok referensi (reference population) yang telah ditetapkan. Kelompok referensi ini didefinisikan sebagai penduduk kelas marginal, yaitu mereka yang hidupnya dikategorikan berada sedikit di atas perkiraan awal GK.

GK ditentukan dengan melihat batas kecukupan makanan dan nonmakanan. Batas kecukupan makanan (pangan) dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk makanan yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2.100 kalori per kapita per hari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Batas kecukupan nonmakanan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk nonmakanan yang memenuhi kebutuhan minimum seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lain-lain.

Penghitungan angka kemiskinan tahun 2004 didasarkan pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2004 yaitu Susenas Modul Konsumsi tahun 2004 (panel) untuk penghitungan kemiskinan tingkat nasional yang dipisahkan menurut daerah perkotaan dan pedesaan, serta Susenas Kor tahun 2004 untuk penghitungan kemiskinan tingkat provinsi.

Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin absolut tercatat sebesar 36,1 juta jiwa atau 16,66% dari total penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut jika dipisahkan menurut jenis kelamin ternyata lebih banyak penduduk perempuan miskin (16,72%) dibanding laki-laki (16,61%).

Jika dirinci menurut rumah tangga, ternyata rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan jumlahnya makin bertambah dari tahun ke tahun. Hasil Susenas 1996 dan 1999 menunjukkan rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan bertambah sebesar 45,9%, dari 0,71 juta menjadi 1,03 juta. Angka ini meningkat menjadi 3,03 juta pada tahun 2004.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa kemiskinan sangat dekat dengan perempuan. Penerima dana kompensasi untuk keluarga miskin adalah laki-laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya.

Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses akan diberikan pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan. Budaya patriarkat yang masih melekat di Indonesia menyebabkan perempuan tertinggal di setiap sektor.

Di sektor pendidikan misalnya, data Susenas 1996 dan 1999 menunjukkan persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD dan SLTP meningkat lebih tinggi dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah ke atas meningkat lebih tinggi.

Dengan kondisi pendidikan perempuan yang rendah tersebut, tidak mengherankan jika posisi tawar perempuan akan rendah. Lihat saja dari sektor ketenagakerjaan, rata-rata upah/gaji perempuan selalu lebih rendah dari laki-laki.

Data BPS menunjukkan di subsektor pertanian tanaman padi palawija, upah buruh per ha perempuan pekerja lebih rendah (sekitar Rp56 ribu) dibandingkan laki-laki pekerja (sekitar 65 ribu rupiah). Upah perempuan pekerja di subsektor industri kecil dan kerajinan rakyat jauh lebih rendah daripada upah laki-laki pekerja. Perempuan pekerja rata-rata dibayar 54,0% lebih rendah daripada laki-laki pekerja

Leave a Comment

Name: (Required)

E-mail: (Required)

Website:

Comment:

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.