<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>sketsasekelumit</title>
	<atom:link href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan</link>
	<description>raziqhfatah, pan:garaudy.razaliegh.zayyani</description>
	<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 04:00:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>JEMBATAN TERTINGGI DI DUNIA: LE VIADUC DE MILLAU</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2010/06/02/jembatan-tertinggi-di-dunia-le-viaduc-de-millau/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2010/06/02/jembatan-tertinggi-di-dunia-le-viaduc-de-millau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 18:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/?p=1272</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita mendengar bangunan pencakar langit, tentu itu hal biasa yang sering kita temukan dimana-mana. Tapi jika kita menyebut jembatan pencakar langit dengan kendaraan yang melintas seolah di atas awan ini baru luar biasa. Inilah jembatan Le Viaduc de Millau Bridge yang terletak di Selatan Perancis tepatnya di Millau, Midi Pyrénées.
Jembatan memiliki tinggi sekitar 343 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita mendengar bangunan pencakar langit, tentu itu hal biasa yang sering kita temukan dimana-mana. Tapi jika kita menyebut jembatan pencakar langit dengan kendaraan yang melintas seolah di atas awan ini baru luar biasa. Inilah jembatan Le Viaduc de Millau Bridge yang terletak di Selatan Perancis tepatnya di Millau, Midi Pyrénées.</p>
<p>Jembatan memiliki tinggi sekitar 343 meter dari permukaan tanah. Jika dibandingkan menara Eiffel  masih lebih tinggi sekitar 45 meter. Jumlah tiang 7 tower dengan sistem tension. Dirancang oleh Michel Virlogeux dan Norman Foster. Dibangun tahun  sejak 1975 dan baru diresmikan pada tanggal 14 December 2004. Jembatan ini pernah digunakan sebagai lokasi film &#8220;Mr.Bean &#8217;s Holiday&#8221;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1273" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2010/06/viaduc-millau-aveyron-eiffage.jpg" alt="viaduc-millau-aveyron-eiffage" width="500" height="350" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1274" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2010/06/a.jpg" alt="a" width="500" height="350" /></p>
<p><img class="alignnone size-large wp-image-1277" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2010/06/d-1024x525.jpg" alt="d" width="500" height="300" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1276" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2010/06/c.jpg" alt="c" width="500" height="300" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1275" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2010/06/b.jpg" alt="b" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1274" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2010/06/a.jpg" alt="a" width="500" height="350" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2010/06/02/jembatan-tertinggi-di-dunia-le-viaduc-de-millau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TAMAN RT : &#8220;MANTEB TENAN..!&#8221;</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/12/01/taman-rt-ciamek-tenan/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/12/01/taman-rt-ciamek-tenan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 04:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[

Dari segi desain taman ini biasa saja. Hanya terdiri dari ruang duduk dengan dua gazebo berbahan bambu dan atap klaras, kursi-kursi taman yang diletakkan di atas permukaan lahan dilapis batuan seluas 6&#215;6 meter, kebun tanaman buah-buahan tropis dan lintasan jogging 60 meter.
Namun taman ini menjadi penting karena ternyata warga sangat antusias untuk membiayai dan mengerjakannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/12/01/taman-rt-ciamek-tenan/3d-31/' title='3d-31'><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2009/12/3d-31-250x250.jpg" width="250" height="250" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/12/01/taman-rt-ciamek-tenan/3d-11/' title='3d-11'><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2009/12/3d-11-250x250.jpg" width="250" height="250" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/12/01/taman-rt-ciamek-tenan/3d-21/' title='3d-21'><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2009/12/3d-21-250x250.jpg" width="250" height="250" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>

<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p>Dari segi desain taman ini biasa saja. Hanya terdiri dari ruang duduk dengan dua gazebo berbahan bambu dan atap <em>klaras</em>, kursi-kursi taman yang diletakkan di atas permukaan lahan dilapis batuan seluas 6&#215;6 meter, kebun tanaman buah-buahan tropis dan lintasan <em>jogging </em>60 meter.</p>
<p>Namun taman ini menjadi penting karena ternyata warga sangat antusias untuk membiayai dan mengerjakannya sendiri secara &#8220;gotong royong&#8221;: sebuah kegiatan khas &#8220;Indonesia?&#8221; yang tampak mulai hilang dalam keseharian hidup masyarakat kita.</p>
<p>Kini dengan sentuhan sangat sederhana: Taman telah menjadi tempat berbagi empati.</p>
<p>Karena taman, warga tidak tersekat-sekat dalam etnis, agama, harta dan jabatan. Taman telah memberi ruang yang nyaman bagi tumbuhnya kasih sayang. Anak-anak, remaja, orang tua, majikan dan sahaya lebur dalam ikatan yang saling memanusiakan. Eksistensi taman secara fisikal telah bertransformasi menjadi sebuah atmosfer ruang yang memberi pelayanan pendidikan yang hidup.</p>
<p>Sebelumnya lahan ini berupa alang-alang tak terawat dan menjadi sarang ular. Lahan ini, lahan mati yang dibiarkan terbuka karena dilintasi Saluran Listrik Utama Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).</p>
<p>RT-nya punya inisiatif mengembangkan ini sebagai lahan yang memberi manfaat.  Dan Berhasil..<em>Manteb tenan&#8230;!!</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/12/01/taman-rt-ciamek-tenan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NONTON TARIAN MADURA</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/11/27/nonton-tarian-madura/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/11/27/nonton-tarian-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[[klik gambar]




Malam Minggu, 21 November 2009 saya hadir dalam pentas seni dan budaya Madura di Jakarta. Pentas itu berlangsung berkat kerja keras beberapa warga Madura di Jakarta yang bernaung dalam Yayasan Rampak Naong bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta.
Tarian di atas:  &#8220;Tari Tepak&#8221; dipentaskan malam itu.
Sebelumnya dijelaskan bahwa tarian ini baru pulang membawa kemenangan sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=4b-AlXRJ4t0" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-237   alignnone" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2009/11/img0240a-200x150.jpg" alt="TARI TEPAK MADURA" width="390" height="270" />[klik gambar]<br />
</a></p>
<div>
<div style="width: 450px;text-align: left"><a href="http://www.slide.com/pivot?cy=lt&amp;at=un&amp;id=3458764513857646805&amp;map=I" target="_blank"><img src="http://widget-d5.slide.com/q4/3458764513857646805/lt_t000_v000_s0un_f00/images/xslide42.gif" border="0" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Malam Minggu, 21 November 2009 saya hadir dalam pentas seni dan budaya Madura di Jakarta. Pentas itu berlangsung berkat kerja keras beberapa warga Madura di Jakarta yang bernaung dalam Yayasan Rampak Naong bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta.</p>
<p>Tarian di atas:  &#8220;Tari Tepak&#8221; dipentaskan malam itu.<br />
Sebelumnya dijelaskan bahwa tarian ini baru pulang membawa kemenangan sebagai juara umum di Madrid Spanyol.</p>
<p>Saya terharu. Betapa dari tanah kelahiran kami yang tandus dan gersang lahir karya kesenian yang memesona dunia.</p>
<p><span id="more-227"></span>Sebagai orang awam dalam hal seni tari, saya tak tahu unsur apa yang telah mengantarkannya sebagai juara. Ketika dipentaskan saya hanya bisa merasakan bahwa tarian ini punya nuansa yang berbeda. Gerakannya sederhana. Seringkali terjadi pengulangan ritmis gerak kepala, gerak bahu, gerak lutut yang mengayun ke atas bawah dan ke depan belakang. Tapi justru gerak ini yang menggugah saya untuk terpana.  Mungkin dalam hal ini benar Ismail Raji Al-Faruqy, dalam <em>The Cultural Atlas of Islam</em> ia memuji keindahan Al-Qur&#8217;an salah satunya adalah karena sifatnya yang <em>repetitif</em>; kalimat-kalimatnya sering mengalami perulangan dalam frase, kata, suku kata, huruf dan bahkan dalam bunyi.</p>
<p>Musik tarian itu dinamis dalam kuasa perkusi dan riuh tambur bagai suara dentum yang datang dari langit-langit. Kostumnya sebagaimana umumnya Madura: meriah. Baju rompi hitam, merah dan perada dengan celana selutut hitam sedikit ketat. Bergelang kaki. Diseling narasi yang dibaca bagai bersajak, bernyanyi, berteriak dan mengeluh dalam intonasi yang berwarna-warni telah merubah tarian itu menjadi sebuah drama. Kadang pilu, kadang marah dan kadang beringas hadir berseling.</p>
<p>Tarian ini menurut saya tak lazim. Mungkin karena ia tumbuh dari masyarakat yang bersahaja?  Yang tak peduli pada aras teoritik kesenian baku akademik yang adakalanya justru memenjara kreatifitas dan sibuk menata alasan metodis tampilan dari sesuatu yang tak substansial.</p>
<p>Helena Buvier dalam <em>&#8220;La matiere des emotions. Les arts du temps et du spectacle dans la societe madouraise&#8221; </em>memandang tari dalam kesenian Madura tidak seperti tari di belahan dunia lain yang diketahuinya. Tari Madura keluar dari <em>mainstream</em> teoritikal. Tari Madura tidak hadir  terpisah dalam panggungnya sendiri. Tapi serentak bersama medium yang lain: musik, suara, tembang, gerak, pencak silat dan kelakar masyarakat berbaur dalam keterpaduan tatapan yang tunggal. Karenanya dengan hati-hati ia lebih memilih menyebut kesenian Madura sebagai seni temporal yang sangat sekuensial.</p>
<p>Lalu? Karena itukah tarian ini berhasil menorehkan kesan yang dalam bagi para juri di Madrid?  Mungkin&#8230;?</p>
<p>Namun, bagi saya, tarian bukan lagi sekadar tontonan. Tapi replika budaya. Didalamnya memantul-mantul hakikat : suara, mata dan telinga kehidupan. Di belakangnya hadir bayang  kebersahajaan, kejujuran, kesedihan, kemarahan, kegembiraan, kesengsaraan, kepedulian, kebersamaan dan berbagai romans perasaan.</p>
<p>Sesekali kita memang butuh sajian seperti ini. Untuk sekadar melepas penat dari kungkungan rutinitas keseharian yang monoton..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/11/27/nonton-tarian-madura/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ZAHA HADID, PEREMPUAN ARSITEK</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/08/21/mengagumi-zaha-hadid/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/08/21/mengagumi-zaha-hadid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 00:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<category><![CDATA[TEORI]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[dekonstruksi]]></category>

		<category><![CDATA[feminist]]></category>

		<category><![CDATA[futuristik]]></category>

		<category><![CDATA[modern]]></category>

		<category><![CDATA[neo strukturalist]]></category>

		<category><![CDATA[russian suprematism]]></category>

		<category><![CDATA[spiral tower]]></category>

		<category><![CDATA[zaha hadid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[

Zaha Hadid lahir di Bagdad Irak, 31 Oktober 1950. Arsitek yang secara konsisten menyatukan wilayah arsitektur dan desain perkotaan. Karyanya penuh dengan eksperimen ruang yang berkualitas, memperluas dan mengintensifkan lanskap yang ada untuk memenuhi visi estetika yang mencakup semua bidang desain, mulai dari skala kota sampai ke produk, interior dan furniture.



Semula, Zaha masuk jurusan Matematika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://www.slide.com/r/w6nqL-Tn7z-T1SWiT1qInQFg9dDKwrLL?previous_view=lt_embedded_url"><img class="size-medium wp-image-128 alignnone" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2009/08/abu_dhabi_arts_centre_zh310107_1-300x195.jpg" alt="slide karya zaha hadid" width="400" height="275" /></a></p>
<p><img class="size-full wp-image-116 alignleft" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2009/08/zaha18head.jpg" alt="zaha18head" width="131"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left"><span>Zaha Hadid lahir di Bagdad Irak, 31 Oktober 1950. Arsitek yang secara konsisten menyatukan wilayah arsitektur dan desain perkotaan. Karyanya penuh dengan eksperimen ruang yang berkualitas, memperluas dan mengintensifkan lanskap yang ada untuk memenuhi visi estetika yang mencakup semua bidang desain, mulai dari skala kota sampai ke produk, interior dan furniture.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left"><span><span id="more-115"></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Semula, Zaha masuk jurusan Matematika di American University Beirut sebelum pindah di Architectural Association London 1972 dan memperoleh Diploma Prize pada 1977. Menjadi mitra kerja Dinas Metropolitan Arsitektur, dan belajar di AA dengan kolaborator OMA Rem Koolhaas dan Elia Zenghelis. Kemudian memimpin sendiri studio AA sampai 1987. Sejak itu dia menjabat sebagai Pemimpin Kenzo Tange di Graduate School of Design, Harvard University, dan University of Chicago School of Architecture. Professor tamu pada Hochschule für Bildende Künste di Hamburg, The Knolton Architecture School, Ohio dan Studio Master di Columbia University, New   York. Ia menjadi Visiting Professor Eero Saarinen dalam Desain Arsitektur untuk Semester Musim Semi 2002 di Yale University, New Haven, Connecticut. Beliau juga menjadi anggota kehormatan American Academy of Arts and Letters dan Fellow of the American Institute of Architecture. Saat ini sebagai Profesor di Universitas Seni Terapan di Wina.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--more-->Zaha termasuk arsitek aliran <a title="deconstructivism" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Deconstructivism" target="_blank"><em>deconstrucsivism</em></a>-<em>neo constructivist</em>. </span><br />
Menurutnya bangunan harus dirancang dari pemikiran-pemikiran berikut :<br />
1. Bangunan adalah projek percobaan yang tidak pernah selesai, sehingga selalu menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan dimungkinkan bentuk masa datang (<em>future</em>). Karenanya dia juga disebut arsitek <a title="futuristic" href="http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.thelope.com/images/8-10-185copyright_thelope.com.jpg&amp;imgrefurl=http://thelope.com/2006/04/future-was-so-cool-in-1961.html&amp;h=401&amp;w=700&amp;sz=65&amp;tbnid=HbmbPtx4zC6X0M:&amp;tbnh=80&amp;tbnw=140&amp;prev=/images%3Fq%3Dfuturistic%2Barchitecture&amp;hl=en&amp;usg=__UDSxM2yO3b17Isku5nrsEWXDfec=&amp;ei=ru-NSuWgCoOYkQWUu9C7Cg&amp;sa=X&amp;oi=image_result&amp;resnum=3&amp;ct=image" target="_blank"><em>Futurist</em></a></p>
<p class="MsoNormal"><span>2. Berarsitektur adalah bereksperimen tentang seni arsitektur yang bebas dengan ide-ide yang baru sama sekali. Karenanya ia juga disebut menganut aliran <a title="russian suprematism" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Suprematism" target="_blank"><em>Russian Suprematism</em></a>, suatu aliran yang mengawali dekonstruksi pada umumnya: ”Melawan masa lampau”, seperti seniman yang melawan sesuatu yang natural. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>3. Bangunan harus dapat menampilkan ide yang masih berupa  fantasi bentuk abstrak dari pengarangnya ke dalam suatu bentuk nyata bangunan itu sendiri. </span><span><span>Dari contoh ini tampak bentuk abstrak dari aliran yang masif. Dilihat dari sisi ini Zaha juga termasuk seorang <a title="constructivism" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Constructivism_%28art%29" target="_blank"><em>Constructivist.</em></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>4. Bangunan harus dapat memancing emosi  dan imajinasi dari tiap-tiap orang yang melihatnya. Untuk memancing emosi dan imajinasi, pada bangunan ini, Zaha menggunakan eleen-elemen garis horisontal dominan yang dinamis dan ringan yang dikenal <em>flying beam</em>. Karenanya ia juga dijuluki sebagai arsitek dekonstruksi aliran <em>anti-gravitational space</em>. Banyaknya balok yang melayang menciptakan bangunan seolah-olah tidak ada yang menopang semakin menambah cirri khas dekonstruksi bangunannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>5. Bangunan adalah pemersatu ruang dalam dan ruang luar . Antara bangunan dan lingkungan sekitar,  merupakan kesatuan yang utuh dan saling melengkapi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>6. Bangunan adalah tempat untuk melaksanakan aktifitas yang berbeda-beda. Karena itu, maka bangunan juga terdiri dari elemen-elemen atau bentuk yang berbeda dan disatukan oleh sistem sirkulasi dengan penonjolan sistem konstruksi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>7. Pembedaan aktifitas dilakukan dengan pembedaan elemen-elemen bangunannya yang untuk menghindari kesan monoton. </span></p>
<p><span>Untuk lihat salah satu karyanya klik disini: <a title="spiral tower" href="http://www.slide.com/r/AP39wEkErT_vZtQR6VBF4SGiMJrFAGCI" target="_blank">SPIRAL TOWER</a>, Barcelona<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p><img src="/DOCUME%7E1/TOSHIBA/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2009/08/21/mengagumi-zaha-hadid/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>RUMAH MAKAN DAN PAKAIAN DALAM</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/17/rumah-makan-dan-pakaian-dalam/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/17/rumah-makan-dan-pakaian-dalam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 05:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[KRITIK]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/17/rumah-makan-dan-pakaian-dalam/</guid>
		<description><![CDATA[
Di kota Dijon/bourgogne/Burgundy kota tua penghasil anggur terbaik di dunia terletak  sekitar 3 jam dengan bus ke arah Selatan Paris Perancis. Ada sebuah restoran yang menjaja makanan khas Spanyol: Nasi paela, sejenis nasi kuning yang dicampur dengan beragam makanan laut: udang, cumi, kerang dan bekicot laut. Bagi kami,  lidah Indonesia, makanan itu sangat Asia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="left"><span><span><img class="alignnone size-full wp-image-99" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/underware.jpg" alt="underware" width="390" height="280" /><br />
Di kota Dijon/bourgogne/Burgundy kota tua penghasil anggur terbaik di dunia terletak  sekitar 3 jam dengan bus ke arah Selatan Paris Perancis. Ada sebuah restoran yang menjaja makanan khas Spanyol: <em>Nasi paela</em>, sejenis nasi kuning yang dicampur dengan beragam makanan laut: udang, cumi, kerang dan bekicot laut. Bagi kami, <span> </span>lidah Indonesia, makanan itu sangat Asia, kaya rempah, gurih dan lezat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Namun sebagaimana tulisan saya sebelumnya, bahwa menjaja makanan memang tidak melulu perkara rasa. Tapi juga nuansa. Restoran itu sederhana. Langit-langit agak rendah dan hanya ada satu meja panjang dan empat meja segi empat kecil cukup untuk empat orang. Namun suasana yang ditampilkan sangat tidak lazim, keluar dari paras teoritik dan tak dapat kami jangkau  pikiran apa di balik kreativitas itu. Bagi benak kami, Indonesia dan budaya Timur, tampak tidak santun. Dengan cara yang sangat ekstrem <em>underware </em>bekas pakai-beberapa diantaranya sobek-sobek- digantung di seutas tali seperti sedang dijemur melintang tepat di atas meja makan tempat kami duduk. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-98"></span><span>Tapi kami tidak terlalu risau dengan pemandangan itu. Kami lahap saja makanan yang disaji hingga tak tersisa.<br />
Justru bagi kami, suasana itu mengundang tanya dan menjadikan itu sebagai bahan pembicaraan kami tentang keterkaitannya dengan persoalan semiotika dalam arsitektur. Kalau pada tulisan terdahulu bahwa ketersusunan ruang sebuah rumah makan mencitrakan selera rasa artistik dan keahlian peraciknya. Dan karenanya mereka sibuk bersekongkol dengan arsitek mencari tema-tema konsep penataan ruang: <em>clasical estetuta, etnostyle, sense of place, clean and simpe, functional configuration, juxtaposition, back to nature </em>dan sebagainya. Di restoran Spanyol ini tidak menyatakan itu. Justru secara kontradiktif dan sangat berani menyajikan kekumuhan, kesederhanaan dan jorok. Tetapi barangkali inilah kekuatannya. Satu upaya deklarasi konsep &#8220;dekonstruksi arsitektur&#8221; yang berkembang <em>pascamodernism</em> sekalipun dengan tafsir keliru. Cara lain penandaan (<em>signifier</em>) untuk menorehkan kesan dan memancing keingintahuan yang nantinya akan ditebarkan oleh para pengunjung yang telah pernah datang. </span><em><strong><span>Ketaklaziman  berbuah keingintahuan dan  jebakan. </span><span>Maka datang ke rumah makan itu akhirnya bukan untuk sekadar makan tapi lebih dari itu ingin melihat bagaimana pesona the second hand underware &#8230;!</span></strong><br />
Pour notre ami à Dijon: Mas Sunny, Iqbal, Dibyo et Elfitrin. Underware est-elle encore disponible? Vu et commentaire s’il vous plaî&#8230;!!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/17/rumah-makan-dan-pakaian-dalam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SURAU DALAM RUMAH KELUARGA MADURA</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/10/91/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/10/91/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 03:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[ISLAM]]></category>

		<category><![CDATA[KRITIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/10/91/</guid>
		<description><![CDATA[
Kalau orang Madura disebut sebagai muslim yang kolot, taat, fanatik dan selalu menempatkan kesenian atau seluruh perangkat kebudayaan yang bercirikan Islam sebagai yang tertinggi, sebagaimana banyak ditulis oleh para sosiolog, antropolog maupun etnolog Madura sebutlah John Smith, Anke Neihof, Roy Jordaan, Ellen Town Bousma, Helena Bouvier atau Kuntowijoyo. 
Tentu bukan hanya karena hasrat masyarakatnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="left"><span><img class="alignnone" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/surau.jpg" alt="surau" width="390" /><br />
Kalau orang Madura disebut sebagai muslim yang kolot, taat, fanatik dan selalu menempatkan kesenian atau seluruh perangkat kebudayaan yang bercirikan Islam sebagai yang tertinggi, sebagaimana banyak ditulis oleh para sosiolog, antropolog maupun etnolog Madura sebutlah John Smith, Anke Neihof, Roy Jordaan, Ellen Town Bousma, Helena Bouvier atau Kuntowijoyo. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Tentu bukan hanya karena hasrat masyarakatnya yang menggelegak untuk segera melunaskan ibadah haji dan kemudian merasa alim dan jeri dari tingkah dosa dengan tambahan gelar Haji di depan namanya. Sekalipun untuk itu mereka rela menjual rumah, tanah, kendaraan atau apapun harta yang dimilikinya sampai tak ada lagi yang tersisa. Sehingga banyak para <em>materialist</em> meremehkan mereka sebagai orang yang tidak rasional dan memutus harapan masa depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span id="more-91"></span><span>Juga bukan karena para lelakinya yang kemana-mana bangga dengan hanya selalu memakai kopiah dan sarung, pakaian wajib untuk menunaikan sholat. Atau perempuannya cukup dengan baju <em>kuthubaru</em> dan kerudung menutupi kepalanya demi menyimpan aurat sebagaimana diperintahkan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Juga tentu saja bukan karena masyarakatnya yang sangat maklum bila banyak di antara para lelakinya punya istri hingga empat orang sebagaimana dipercaya sebagai sunnah Rasulullah. Dan para perempuannyapun tak hirau harus hidup serumah dengan para madunya. Baginya punya anak dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dua pihak adalah akhir dari cinta. Dan mereka tak kurang sejumputpun cinta lelaki suami diantara riuhnya perempuan yang dinikahinya. Tak ada ruang untuk saling iri. Justru mereka sukarela untuk saling bekerja sama membesarkan anak-anak keluarga besar mereka dengan damai dan cinta kasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span> Lalu mengapa? Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang sangat Islami?</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span> Sudah tamat saya keliling seluruh Indonesia mengamati seluruh arsitektur dan keterkatannya dengan kondisi sosio kultural masyarakatnya. Sudah pula kami amati bagaimana manusia dan masyarakatnya berinteraksi dengan ruang-ruang yang dibangunnya di atas hamparan bumi Ilahi. Dari ujung Barat pulau di seberang Malahayati hingga ke Timur di Merauke. Bahkan di negeri mashur tempat puncak kejayaan Islam dan di seluruh literatur arsitektur Islam yang sempat saya baca. Tidak ada satupun tempat sebagaimana rumah tradisional masyarakat Madura yang menjadikan surau sebagai elemen penting yang harus ada melebihi fungsi bangunan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span> Surau di dalam lingkungan rumah tradisional keluarga Madura adalah bangunan kedua yang selalu di bangun sesudah rumah induk (<em>roma tongghu</em>). Biasanya selalu ditempatkan di sebelah Barat atau arah kiblat. Dan di depannya terhampar <em>tanean lanjhang</em> (halaman yang panjang) yang terbentuk karena perkembangan pembangunan rumah selanjutnya yang dibangun berjejer berturut-turut di sebelah rumah induk untuk anak-anak perempuan dan keluarganya. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Perletakan surau betul-betul menjadi sumbu utama yang mengikat keseluruhan bangunan di dalam satuan komunitas (<em>soma</em>) keluarga-keluarga besar Madura. Surau selain untuk sholat dan mengaji biasanya juga dijadikan tempat tidur anak lelaki mereka yang belum berkeluarga dan para tamu lelaki yang datang menginap. Pada titik ini surau telah menjadi ruang transisi atau ruang antara yang memisah gender lelaki dan wanita. Suatu taktik jitu untuk menghindarkan nista. Tanpa disadari tamu pun mahfum bahwa ruang mukim Madura sedemikian rupa di jenjang dalam tahap-tahap yang  sistematik. Antara ruang publik dan ruang privat, ruang lelaki dan ruang wanita, ruang profan dan ruang sakral, ruang anak dan ruang tetua, ruang keluarga sendiri (<em>oreng dhibi&#8217;</em>) atau bukan (<em>oreng laen</em>). Semuanya memiliki <em>tatakrama</em>-nya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Secara visual dan audial, surau membangun atmosfir Islami yang sangat sempurna. Bentuk atap yang lancip dengan lantai agak lebih tinggi dari bangunan lain menjadikan surau bagai pemimpin di tengah massa yang lain. Dinding depan yang agak rendah dan semi terbuka menampilkan irama gerak sholat yang rampak dengan takbir yang bersahutan. Lima kali sehari suaranya mengumandangkan azdan setiap menjelang waktu solat. Anak-anak tanpa diaba saling berebut untuk menjadi <em>muadzin</em> dan bergegas meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan. Pun para orang tua juga hirau meninggalkan apapun kegiatannya untuk berjamaah dan memimpin<span> </span>anak-anak mereka tunaikan solat. Dan sesekali diberinya kesempatan remaja mereka yang mulai <em>fasih melafadz </em>sedikit al-Qur&#8217;an untuk menjadi <em>imam</em> dan merasai peran kepemimpinan yang akan dipikulnya kelak. Dari ketinggian atap langit tampak surau dan rumah-rumah keluarga Madura sebagai unit-unit yang padan dalam panduan sumbu kiblat. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Ketika fajar menyingsing, surau mulai meneriakkan ajakan <em>subuh</em> bersama. Itulah waktu pertama dimulainya hari hidup ke depan sebelum anak-anak mereka bergegas menuntut ilmu dan para orang tua mengais rahmat Allah. Ketika terik langit tergelincir dari puncaknya, <em>dhuhur </em>segera ditegakkan. Sesudahnya, sanak keluarga berkumpul untuk sekadar makan siang dalam keriuhan bersama. Lalu merekapun istirahat sejenak sampai cahaya matahari telah lepas dan bayangannya melebihi panjangnya benda, petanda <em>ashar</em> telah tiba. Sesudahnya riuh anak berlarian diantara pandangan kasih sanak keluarganya di tengah <em>tanean lanjang </em>yang bersinggungan dengan beranda rumah-rumah yang berjejer. Dan ketika langit merah telah usai ditimpa bulan yang masuk ke semburat langit seluruh keluarga dan berayat bergegas siap mengambil tempat untuk berebut <em>shaf</em> paling depan dalam barisan jemaah <em>maghrib</em>. Dan sesudahnya anak-anak mereka reriung <a title="kegiatan di surau" href="http://www.kabarmadura.com/seni-budaya-madura/melihat-tradisi-pengajian-memasuki-bulan-rabiul-awal-tahun-hijriah/" target="_blank">belajar membaca al-Qur’an</a> pada orang tua pemimpin mereka sampai saat <em>Isya</em> tiba. Di tengah temaram lentera riuh ayat demi ayat membubung ke langit sunyi tempat semayam para malaikat. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Demikianlah masa demi masa berlalu dengan penuh pembinaan dan hikmah. Surau telah mengambil peran yang begitu penting dalam hidup orang Madura. Keheningannya mengumandangkan nuansa Islami yang sempurna sejak hidup dijejak sampai ajal menjemput. Penghuni rumah dalam<em> tanean lanjhang </em>itu datang silih berganti bersamaan dengan usainya batas usia mereka. Dan surau itu masih saja setia menunaikan tugasnya&#8230; <em> the truly Islamic semiotica&#8230;</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/10/91/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ARSITEK DAN RUMAH MAKAN</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitek-dan-rumah-makan/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitek-dan-rumah-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 10:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<category><![CDATA[TEORI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitek-dan-rumah-makan/</guid>
		<description><![CDATA[

Dua puluh menit keluar dari tol Cileunyi Bandung arah Tasikmalaya. Seusai menuruni jalan terjal menikung Nagreg. Kami putuskan berhenti untuk makan siang dan sholat dhuhur di tempat yang tak kami rencanakan sebelumnya. Di sebelah kiri jalan sebuah tengara berupa sclupture stroberi yang menjulang setinggi bangunan rumah makan khas Sunda menuntun minat kami untuk istirahat sejenak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="left"><a title="sclupture" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/penanda-1.jpg"></a></p>
<p align="left"><a title="sclupture" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/penanda-1.jpg"><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/penanda-1.jpg" alt="sclupture" width="390" height="270" align="texttop" /></a></p>
<p class="MsoNormal" align="left">Dua puluh menit keluar dari tol Cileunyi Bandung arah Tasikmalaya. Seusai menuruni jalan terjal menikung Nagreg. Kami putuskan berhenti untuk makan siang dan sholat dhuhur di tempat yang tak kami rencanakan sebelumnya. Di sebelah kiri jalan sebuah tengara berupa <em>sclupture</em> stroberi yang menjulang setinggi bangunan rumah makan khas Sunda menuntun minat kami untuk istirahat sejenak. <em>Sclupture</em> itu memesona kami untuk sekadar memenuhi rasa ingin tahu apa kaitan stroberi dengan rumah makan itu. Dugaan kami semula pasti semua makanan yang dijajakan diolah dengan bahan dasar buah stoberi. Atau didalamnya terdapat hamparan kebun stroberi dan di tengahnya pengunjung bisa makan sambil menikmati keindahannya atau boleh juga memetik dan langsung mencicipinya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Pelajaran pertama bagi arsitek dan pengelola rumah makan: Betapa rasa keingintahuan telah mengalahkan rasa lapar yang sesungguhnya. Maka buatlah petanda yang unik dan tematik. Biarkan orang penasaran dan tergoda. Bukan melalui rasa tapi melalui penglihatannya</em>.</strong><span id="more-81"></span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="sepeda-unik.jpg" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/sepeda-unik.jpg"><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/sepeda-unik.jpg" alt="sepeda-unik.jpg" width="309" height="192" align="left" /></a></p>
<p class="MsoNormal" align="left">Sejenak memasuki berandanya, sekali lagi kami dibuat terpana. Sepasang sepeda panjang dengan bentuk yang unik antik sengaja dipajang di sisi kiri dan kanan gerbang menyambut tamu. Sama sekali tidak ada kaitan dengan perkara makan. Tapi inilah bahasa tanda (<em>sign</em>) yang inovatif. Keunikan demi keunikan yang disajikan itu menyiratkan kreatifitas pengelolanya. Mereka sadar betul bahwa selera rasa dapat tergugah tidak saja karena aroma dan cara penyajiannya tapi juga dengan mengenalkan siapa pembuatnya. Atribut-atribut yang dirancang sedemikian rupa itu telah menunjukkan kepekaan pemiliknya tentang selera meramu. <em>Juru masak sebagaimana juga arsitek adalah para seniman peracik.</em> Dan dengan susunan atribut itu telah berhasil menorehkan kesan keahliannya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Pelajaran kedua, bahwa menjaja tidak saja melulu dengan kata-kata. Diam dalam &#8220;tanda-tanda&#8221; lebih menampakkan kedalaman bahasa siapa kita. &#8220;Tanda&#8221; tidak diikat oleh definisi denotatif tetapi lebih konotatif dan karenanya mampu membawa makna keluar mengelana melampaui ujudnya. Ia bisa berjalinan dengan berbagai apresiasi, persepsi dan referensi yang dibekal banyak pihak.  Ia membawa tafsirnya sendiri-sendiri&#8230; </em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal">Memang, menjaja makanan tidak sesederhana yang dibayangkan. Persoalan makan tidak sekadar persoalan rasa tapi juga penampilan pengelola, sikap dan perlakuan pelayanan, tatanan sajian dan nuansa lingkungan.</p>
<p class="MsoNormal"><a title="cahaya" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/restoran-asep-4.jpg"><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/restoran-asep-4.jpg" alt="cahaya" width="305" height="217" align="left" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Makin memasuki ruang-ruang rumah makan itu. Kami merasakan bagaimana kebersahajaan telah menjungkirbalikkan sedemikian rupa warna kemewahan. Ketenangan, keteduhan dan suasana alamiah betul-betul terbangun dengan sempurna. Berbahan bambu sederhana yang disusun dengan cara sederhana seluruh struktur bangunan tampak sangat sahaja. Lantai kasar dari susunan batu sungai dan plesteran semen seadanya seolah bukan dikerjakan oleh para tukang yang sebenarnya tetapi oleh para juru masak dengan perasaan yang terbebas dari intimidasi kebenaran akademika. Tangga-tangga bambu diatas lekuk kemiringan tapak yang tampak sebelumnya bukan lahan berharga <span> </span>karena letaknya tepat di atas tepian jurang. Dan beberapa titian kecil juga tersusun dari bambu-bambu melintasi empang kecil memercik air di antara saung-saung yang berserak. Lampu-lampu ditata menyerupai lentera. Bias cahaya kadang keluar dari belah bambu dan di bagian lain penerangan dipadu dengan bambu serupa sapu lidi terbalik sehingga dari selanya semburat sinar yang memancarkan garis-garis temaram.</p>
<p class="MsoNormal"><a title="saung" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/saung-2.jpg"><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/saung-2.jpg" alt="saung" width="253" height="302" align="left" /></a></p>
<p>Benar-benar alami dan sangat kampung. <em>Sense of place</em> tradisi asitektur di atas tanah tropis Sunda hadir nyaris bagai asalnya.</p>
<p class="MsoNormal">Persoalan makan ternyata juga masuk dalam ranah sosio-ideologis. Dengan kasat rutinitas pengunjung urban yang disasar dikonfrontasikan dengan nuansa suburban yang telah lama dikenangkan. Sehingga datang dan makan di rumah makan itu bagai diam dikampung halaman. <em>Etnosentrisme</em> yang diusung oleh paradigma postmodernisme dibenturkan pada kejenuhan paradigma modernisme yang telah berhasil menggiring semiotika arsitektur dalam bahasa universalism. Sehingga seluruh ruang urban disodori oleh hanya tatapan tunggal dan menghilangkan keragaman rasa tempat. Sehingga tidak ada lagi orientasi yang bisa dianut.  Sawah dan gunung Papandayan di kejauhan dan ruang-ruang yang berjejer bagai saung adalah rona tradisi yang telah lama hilang dan selalu diimpikan.<br />
Dan rumah makan itu telah berhasil menyajikan nuansa yang diharapkan itu…Dan itulah orientasi romantik kampung yang masih tersisa..</p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Pelajaran terakhir: Menjaja makanan bukan sekadar melulu makanan. Tapi juga persoalan <span> </span>pengaturan nuansa sense of place. Konfrontasikan psikologi pengunjung yang disasar dengan suasana apa yang diharapkan. Urban lawan dengan suburban, universalism lawan dengan regionalism, kemewahan lawan dengan kebersahajaan, riuh lawan dengan sunyi…lautan beton lawan dengan hamparan pesawahan, tiang-tiang baja lawan dengan rimbunan rancah bambu…dan seterusnya……</strong> </em></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitek-dan-rumah-makan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ARSITEKTUR DAN KENISCAYAAN KRITIK</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitektur-dan-keniscayaan-kritik/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitektur-dan-keniscayaan-kritik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 09:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[KRITIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitektur-dan-keniscayaan-kritik/</guid>
		<description><![CDATA[
Kritik arsitektur dipandang kurang menarik sebagai sebuah disiplin keilmuan. Alasan ini muncul mungkin karena belum adanya materi yang memadai untuk melandasi analisis dan perdebatan dalam wacana teoritik. Alasan lain yang mungkin lebih tepat adalah bahwa kritik arsitektur dinilai gagal dikembangkan sebagai satu upaya yang serius dan komprehensif karena manfaatnya belum menampakkan signfikansi implikatifnya terhadap kualitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="left"><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg"><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg" alt="Kritik Stduio" width="390" height="270" /><br />
Kritik arsitektur dipandang kurang menarik sebagai sebuah disiplin keilmuan. Alasan ini muncul mungkin karena belum adanya materi yang memadai untuk melandasi analisis dan perdebatan dalam wacana teoritik. Alasan lain yang mungkin lebih tepat adalah bahwa <strong><em>kritik arsitektur dinilai gagal dikembangkan sebagai satu upaya yang serius dan komprehensif karena manfaatnya belum menampakkan signfikansi implikatifnya terhadap kualitas lingkungan terbangun dan karenanya dipandang belum mendesak. </em></strong>Kritik seringkali dimaknai dalam terminologi yang sempit dan hanya sedikit kontribusi yang dapat diberikannya bagi peningkatan kualitas lingkungan terbangun. Karenanya kritik dianggap tidak penting untuk dikembangkan.</a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg"><span id="more-86"></span><span>Pengembangan metoda kritik berkaitan dengan lingkungan terbangun sesungguhnya sangat penting untuk terus dilakukan. Tujuan utamanya adalah menjadikan kritik arsitektur lebih dipandang layak dan berguna. Jika kritik dalam arsitektur belum dipetakan batasan-batasannya maka segala sesuatunya tidak cukup untuk mendapat perhatian yang lebih luas. Cara bagaimana dan apa manfaat kritik bagi lingkungan manusia perlu ditelusuri lebih dalam.</span></a></p>
<p class="MsoBodyText"><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Berbagai aspek pendekatan kritik yang telah dilakukan sebagaimana kritik jurnalistik dalam media massa merupakan </a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">bagian bentuk kritik arsitektur yang paling awal. Mestinya proses belajar dalam lingkungan pendidikan tinggi arsitektur juga merupakan sebuah bentuk kritik yang penting. Dalam hal ini kritik lebih merupakan bentuk metoda dan prinsip pengajaran. Secara signifikan hal ini telah berlangsung dan dapat dipertanggungjawabkan, sekalipun kecil dan belum begitu memperoleh perhatian sebagaimana bentuk kritik dalam kasus ilmu lain. Namun demikian kualitas lingkungan buatan dan respon kita kepadanya harus terus dipetakan dan dikembangkan. </a></span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg"><strong><em><span>Minimnya pemahaman kritik dalam arsitektur sebetulnya bukan karena kurangnya materi dalam studi, tetapi lebih disebabkan masalah apresiasi kita pada lingkungan terbangun. Satu kuncinya. Yaitu: kemauan untuk menyatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dalam perbaikan lingkungan kita kecuali hanya dengan kritik.</span></em></strong><span> Dengan itu diharapkan akan banyak ornga menghargai kritik sebagai satu bentuk tanggung jawab kita pada arsitektur. Sebuah kritik yang muncul di media akan menjadikan semua </span><span>orang terkesima dan pada akhirnya berduyun-duyun mengikutinya. <strong><em>Kritik tidak dilandaskan pada etika tetapi pada estetika.</em></strong> Satu titik pandang kita adalah bahwa apapaun yang kita perbuat di dalam dan di sekitar lingkungan buatan adalah satu bentuk kritik. <strong><em>Kritik harus dan selalu <span> </span>ada sepanjang kita memahami bahwa tidak ada satupun lingkungan arsitektur yang dibangun betul-betul sempurna.</em></strong> Hampir setiap saat kecaman tajam muncul di koran atau majalah dari seseorang dari berbagai penjuru pandang atau silang sengketa argumentasi antara murid dan guru di sekolah arsitektur atau kadangkala semua dari kita rela meluangkan waktu ikut serta dalam berbagai kesempatan diskusi arsitektur atau aktifitas khusus dalam forum ilmiah dengan mandat yang samar. Kritik adalah bentuk aktifitas kolektif dari perilaku yang beragam. Dalam hal ini, opini yang disampaikan di permukaan tampak bahwa lingkungan binaan yang kita huni harus baik telah disampaikan oleh para jurnalis, mahasiswa, arsitek profesional dan bahkan hampir semua orang <span> </span>dalam kekuatan metoda, tata cara dan argumentasinya kritik masing-masing.</span></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Penegasan ini tampak bertentangan dengan fakta yang berkembang sebagaimana disampaikan pada penjelasan di atas bahwa kritik arsitektur telah diterima dengan perhatian yang minim dan telah diabaikan kontribusinya bagi pemahaman kita tentang lingkungan binaan dan perbaikannya. Jika kritik tidak efektif bagaimana mungkin orang berduyun-duyun melakukannya dan kita selalu merasa cemas dan selalu ingin memikirkannya?</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Dalam wacana teoritik dan bagi sebagian besar teoritikus arsitektur, kritik lebih efektif hanya ketika dibicarakan dalam </a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">satu bangunan tertentu saja setelah desain dan konstruksi terwujud. Hanya dengan kondisi yang demikian kritik tampak nyata manfaatnya. Desain lingkungan adalah sebuah proses terbatas yang diterima begitu saja dalam kelompok yang juga terbatas dan karenanya mudah dikritik. Sementara kritik banyak memiliki perangkat (metoda dan alat) yang dapat dipraktekkan dalam berbagai kesempatan baik pada waktu penyusunan proposal, desain bangunan dan pada saat digunakan. Sepanjang kritik terus-menerus dilakukan pada bangunan baik pada waktu sebelum dan setelah dibangun, arsitek dan pelajar berhak mendapat kekuatan balik sebagai cara untuk memunculkan teori yang mendasar sebagai teknik dan metode untuk landasan kritik ke depan. Bahwa ia dapat menguntungkan atau bahkan justru menghalangi sebuah proses yang berjalan, semua itu akan dapat memberi guna yang baik bagi perkembangan arsitektur selanjutnya. Kritik akan selalu lebih bermanfaat ketika ia digunakan pada masa datang daripada hanya ketika ia sekadar menjadi penilai dan meletakkan kesalahan pada masa lalu. <strong><em>Kritik ada karena realitasnya kehidupan tidak pernah selesai dari bingkai relativisme.</em></strong></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Ketika kritik bekerja dalam tataran konsep dan filosofis atau dalam satu cakupan yang terbatas seringkali sangat teoritik dan bersifat defensif karena lebih mudah dilakukan. Kritik dapat menjadi argumen politis demi peningkatan kualitas arsitektur sebelum dirancang dan dibangun di tengah publik. Namun, seringkali tujuan kritik menjadi kabur karena kebanyakan kita tidak bisa menerima nilai kegagalan. <span> </span>Para kritikus sebagai pembawa kebaikan dan kebenaran mudah gentar oleh kasus-kasus dengan daya tolak<span> </span>yang besar. Sebagaimana pergerakan modern yang tidak mampu bertahan lama menyemai kemunculan ide-ide baru, dan anti modernism tampak lebih giat menggantikan modernism yang kelihatan lemah dengan tanpa perlawanan berarti. Ketika seseorang berharap kritik kontemporer dapat memberi arah bagi perkembangan arsitektur ke depan justru banyak mengeluh. <strong><em>Pengalaman terhadap kualitas lingkungan yang tidak memuaskan, diterima untuk atas nama penegakan moralitas, humanism dan zeitgeist. Pragmatisme demi kerukunan justru lebih menonjol.</em></strong></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Sekalipun dalam beberapa hal kritik merupakan aktifitas yang sensitif dan sulit diukur, melalui berbagai pendekatan dan metoda kegunaan nyata kritik dapat diperlihatkan. Berbagai upaya dengan berbagai variasi metoda dan maksud kita dalam menanggapi lingkungan bisa kita lakukan. Paling tidak untuk diri kita sendiri. Kita tidak perlu ragu maksud dari hasrat kita yang tanpa disadari dan samar-samar<span> </span>telah sering kita katakan dan lakukan dalam lingkungan binaan sesungguhnya adalah bentuk kritik. Kritik harus inklusif. Hal ini didasarkan atas tiga pertimbangan :</a></span></p>
<ol>
<li><!--[if !supportLists]--><!--[endif]--><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Kritik di lapangan mencakup ranah yang begitu luas. Ia bisa bersifat normatif, interpretif atau deskriptif. <strong><em>Kritik bukan sekadar wilayah sastra yang kecenderungannya lebih banyak tertuju pada kasus </em></strong></a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg"><strong><em>kritiknya agar tampak indah dan berharga dari segi kesusasteraan. <span> </span>Kualitasnya seringkali ditumpukan pada narasi, prosa atau puisi yang disampaikannya. </em></strong><span> </span>Sebagaimana juga kritik foto seringkali digunakan sebagai dokumen yang mampu mempengaruhi orang lain untuk bertindak baik dalam rasa, karsa dan cipta melalui cara penyusunan komposisi, penataan cayaha dan penyuntingan gambar yang dihasilkannya. Objek bangunan dijadikan kendaraan fotografi. Objek kritik sekadar titik anjak menghasilkan karya seni lain. Dalam kritik, cara ini dibenarkan sebab wawasan apresiasi artistik<span> </span>terhadap lingkungan bangunan meliputi wawasan yang komprehensif. Dan setiap orang dapat disebut sebagai kritikus tanpa perlu memandang status kepakarannya. Para scientis, artis dan kritikus serta apapun pengakuan yang diberikan, masing-masing memiliki kontribusi yang berbeda untuk lingkungan. Kita semua adalah analis dan pengamat yang masing-masing memilih menggunakan perangkat dan prosedur <span> </span>yang berlainan. Kritik bukan sekadar sosok sastra. Pembedaan, penyaringan, pertimbangan, penegas dan penafsir dalam laboratoium atau studio dan dengan kamera atau penanda hanyalah sebuah media. <strong><em>Kritik harus dipandang dalam pengertian taktik dan perhatian, bukan sekadar pengertian pekerjaan media</em></strong></a></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Alasan lain untuk inklusifitas adalah bahwa pengaruh kritik arsitektur yang popular seringkali terbatas. Pekerjaan kritik dilihat sebagai artikel singkat dalam surat kabar dan beberapa majalah, dan mungkin sebagai penilaian sejarah a</a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">rsitektur. Kritik lebih dilihat menjadi bidang pecinta seni. Pandangan ini didukung oleh kenyataan bahwa tidak ada program formal kritik arsitektur dan lingkungan. <strong><em>Upaya khusus untuk memasukkan kritik dalam subjek tertentu langka dan jarang tersedia di berbagai perguruan tinggi dimana kritik dideklarasikan secara lagitimate di dalam akademis.<span> </span></em></strong><em>Inclusivitas</em> adalah kecenderungan untuk menunjukkan batasan konsepsi kritik arsitektur dan mendukung desain lingkungan dan pendidikan arsitek dengan memberi perhatian yang lebih pada kritik sebagai satu bentuk pengamatan yang seluas-luasnya di sekitar kita dan tidak membiarkannya hanya kepada pewarta-pewarta dan interpreter sejarah semata.</a></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">Motif lain adalah agar bagaimana kritik keluar dari wilayah personal. Untuk itu <span> </span>perlu pemisahan yang jelas antara kegiatan artistik, kritikal dan saintifik. Semua tersusun dengan tumpang tindih sebagai bentuk ‘tanggapan </a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">bermanfaat’. Pengabaian pembedaan dan pengenalan semua tanggapan yang berguna bagi lingkungan arsitektur adalah sebuah kritik yang lebih bermutu. Keuntungan pendekatan <em>inclusif</em> dalam kritik arsitektur adalah penjelajahan yang lebih luas dalam pemaknaan dan kepentingan bagi arsitektur daripada yang biasanya dilihat. Beberapa buku tentang arsitektur dan khususnya yang ditugaskan kepada mahasiswa sebagai pengantar ke lapangan, adalah satu contoh tipolopis dalam cara memandang lingkungan arsitektur. Kritik arsitektur akhirnya </a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">berujung pada misi profesionalisme [apa yang sepantasnya dilakukan terhadap bangunan] atau tentang ragam kesan yang ditimbulkan melalui interaksi kita dengan bangunan [Bagaimana sebaiknya bangunan kita rasaka</a></span><span><a title="Kritik Stduio" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/kritik-studio.jpg">n] atau tentang bagaimana bangunan sebagai produk yang tak dapat dielakkan dari perilaku kehidupan [Bagaimana bangunan diciptakan sebagai sandaran bagi terbangunnya kualitas kehidupan]. </a></span></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/03/arsitektur-dan-keniscayaan-kritik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AL-QURAN:TENTANG SENI ARSITEKTUR</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/28/al-quransumber-inspirasi-seni-arsitektur/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/28/al-quransumber-inspirasi-seni-arsitektur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 03:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[ISLAM]]></category>

		<category><![CDATA[TEORI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/07/01/al-quransumber-inspirasi-seni-arsitektur/</guid>
		<description><![CDATA[
Allah dalam Islam adalah wujud transenden yang tak ada pandangan dapat melihatnya. Ia berada di atas segala perbandingan. Tidak ada sesuatu seperti Dia. Ia ada di luar jangkauan penjelasan apapun, dan tidak dapat direpresentasikan melalui penggambaran. Allah secara unik tidak dapat dikenai pertanyaan tentang siapa, bagaimana, dimana dan kapan? Kecuali pernyataan tentang ke-Esa-an dan transendensi-Nya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/07/cordova.jpg" alt="Cordova" width="390" /><br />
Allah dalam Islam adalah wujud transenden yang tak ada pandangan dapat melihatnya. Ia berada di atas segala perbandingan. Tidak ada sesuatu seperti Dia. Ia ada di luar jangkauan penjelasan apapun, dan tidak dapat direpresentasikan melalui penggambaran. Allah secara unik tidak dapat dikenai pertanyaan tentang siapa, bagaimana, dimana dan kapan? Kecuali pernyataan tentang ke-Esa-an dan transendensi-Nya yang dikenal dengan istilah <em>Tauhid.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pun, dalam al-Qur’an tidak pernah menyertakan representasi Allah melalui perangkat inderawi, baik dalam bentuk manusia, binatang maupun simbol figural lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-79"></span><span>Dalam hal berkesenian [termasuk arsitektur], Islam membawa tuntutan baru bagi ekspresi estetis. Suatu pola yang dapat memfasilitasi objek kontemplasi estetis yang menyokong ideologi dasar dan struktur masyarakat untuk secara terus-menerus mengingatkan pada prinsip-prinsip Islam. Dan </span><span>menjauhi kultus material dan simbol-simbol yang mendekati syirik.</span><span> Orientasi dan tujuan estetika Islam tidak dapat dicapai melalui figurasi manusia dan alam. Seni Islam hanya dapat direalisasikan melalui kontemplasi kreasi artistik yang dapat membawa pengamatnya kepada intuisi tentang kebenaran: bahwa Allah sangat berbeda dengan ciptan-Nya. Seni Islam didasarkan pada pernyataan negatif <em>Lailaha illaLlah</em>, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sepenuhnya Ia berbeda dengan manusia dan alam. Dalam dimensi positif kalimat tauhid juga menekankan bukan saja pada apa yang bukan Tuhan, melainkan pada apa yang merupakan sifat-sifat Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal mendasar dari ajaran ini adalah bahwa Doktrin Islam memandang Allah sebagai Zat tak terhingga dalam segalanya. Tiada cara dan kemampuan apapun menghitung sifat yang dimiliki-Nya atau menjelaskan sifat manapun yang dinisbatkan kepada-Nya. Sifat-sifatnya selalu berada di luar jangkauan pemahaman dan penjelasan manusia. Pola-pola yang tidak memiliki awal maupun akhir yang mengesankan ketakterhinggaan (<em>infinit</em>). Dengan demikian pola <em>infinit </em>merupakan terobosan Islam dalam metoda berkesenian. Satu metoda <em>iconoclastic</em> [memecah gambar] yang di kalangan Kristen sebelumnya telah menimbulkan masalah fundamental dalam hubungan negara dan agama. Melalui pola <em>infinit,</em> kandungan subtil ajaran Islam dapat dialami dan dirasakan. Ekspresi estetik pola <em>infinit </em>ini seringkali juga disebut sebagai pola <em>arabesq</em>. <em>Arabesq</em> ini mampu memberi intuisi sifat ketakterhinggaan yang melampaui ruang dan waktu. Melalui kontemplasi atas pola infinit, jiwa pengamat akan diarahkan pada yang Ilahi dan seni menjadi suatu penguat dan penegak keyakinan agama. Bagi muslim, alam meskipun mulia dalam variasi dan kesempurnaannya hanya sekadar media dan panggung manusia beraksi untuk memenuhi kehendak dari Realitas atau Sebab yang lebih tinggi. Dan Tuhan adalah realitas tertinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bila kebudayaan lain sebagaimana Yunani dan Romawi menganggap manusia sebagai ukuran segala sesuatu yang dikenal dengan <em>antrohomorphisme</em> atau alam sebagai determinan ultima, maka perhatian kaum Muslim lebih kepada Tuhan dalam transendensinya tanpa kompromi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Al-Qur’an sebagai kitab yang datang dari Allah sendiri dalam keseluruhan bentuk, susunan, bahasa dan maknanya telah memberi inspirasi bagi wujud seni infinitas itu. Metode stimulasi kesan infinitas dan transendensi melalui isi dan bentuk estetik al-Quran dapat dijelaskan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span><strong>Abstraksi</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pola <em>infinit </em>seni Islam yang pertama bersifat abstrak. Meskipun representasi figuratif tifak sepenuhnya dihilangkan, namun sangat jarang ditampilkan dalam tradisi seni Islam. Bahkan ketika figur-figur alami itu digunakan mereka mengalami <em>denaturalisasi </em>dan teknik <em>stilisasi</em> agar lebih sesuai dengan peran sebagai pengingkar naturalisme dan bukan sebagai penghadir fenomena natural.</span></p>
<p class="MsoNormal">Al-Qur’an tidak pernah melakukan penghadiran realistis dan naturalistik terhadap alam, serta menolak perkembangan naratif sebagai prinsip organis sastra. Rujukan kepada berbagai fakta tertentu dilakukan secara segmental dan dilakukan secara berulang-ulang, sehingga pembaca menjadi akrab dengan cerita yang disampaikan. Tujuan utamanya bukan naratif melainkan pendidikan moral. Struktur utama al-Qur’an (Surat <em>Madaniyah</em> yang panjang mirip prosa berada di awal, sedang surat <em>Makkiyah</em> yang pendek dengan nada puitik kuat berada di akhir) juga memberi kontribusi tersendiri terhadap sifat abstrak al-Qur’an. Surat yang ada tidak mengarahkan pembaca kepada serial suasana hati yang kontras dan dramatis. Melainkan pembaca digerakkan dengan emosi yang telah diabstraksikan atau dilepaskan dari karakterisasi yang spesifik. Ayat maupun surat secara pasti membangkitkan emosi pendengarnya namun dilakukan tanpa menimbulkan suasana hati tertentu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span> </span></span></span><span>Struktur Modular</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Karya seni Islam tersusun atas berbagai bagian atau modul yang dikombinasikan untuk membangun rancangan atau kesatuan yang lebih besar. Masing-masing modul adalah sebuah entitas yang memiliki keutuhan dan kesempurnaan sendiri, yang memungkinkan mereka untuk diamati sebagai sebuah unit ekspresif dan mandiri dalam dirinya sendiri maupun sebagai bagian penting dari kompleksitas yang lebih besar.</span></p>
<p class="MsoNormal">Al-Qur’an sebagai karya <em>Ilahiyah</em> juga terbagi dalam berbagai modul sastrawi [ayat dan surat] yang muncul sebagai segmen yang utuh dalam dirinya sendiri. Masing-masing modul sudah lengkap, dan tidak tergantung pada apapun yang ada sebelum dan sesudahnya. Modul tersebut hanya sedikit memiliki hubungan, atau bahkan tidak sama sekali dengan modul lain yang mengharuskan ada sekuensi tertentu. Dalam pembacaan yang baik periode diam (<em>waqfah</em>) menjadi tanda yang jelas bagi pemasukan modul aural ke dalam suatu bacaan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>3.<span> </span></span></span><span>Kombinasi suksesif</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pola-pola infinit dalam seni Islam menunjukkan adanya kombinasi keberlanjutan (suksesif) dari modul-modul dasar penyusunnya. Elemen-elemen tersebut disusun untuk membangun sebuah desain yang lebih besar, utuh dan independen. Kombinasi suksesif berlangsung bukan dalam cara yang dapat merusak identitas dan karakteristik unit-unit penyusunnya. Bahkan kombinasi besar tersebut pada gilirannya dapat diulang, divariasi dan digabung dengan entitas lain yang lebih kecil maupun yang lebih besar untuk membentuk kombinasi yang lebih kompleks lagi. Sehingga dalam pola infinit tidak hanya ada satu fokus perhatian estetik, melainkan terdapat sejumlah penglihatan yang harus dialami ketika mengamati modul entitas atau motif-motif yang lebih kecil. Tidak ada desain yang hanya memiliki satu titik tolak estetik atau perkembangan progresif yang mengarah pada poin vokal yang kulminatif dan konklusif. Desain Islam selalu memiliki titik pusat yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah gaya persepsi internal yang menghilangkan kesan adanya permulaan maupun akhir yang konklusif.</span></p>
<p class="MsoNormal">Baris dan ayat al-Qur’an bergabung membentuk entitas-entitas yang lebih besar dalam kombinasi suksesif. Ia bisa berupa ayat-ayat yang pendek maupun bagian dalam surat yang panjang. Misal sepuluh ayat membentuk sebuah <em>usyr</em>. Beberapa <em>usyr</em> menyusun sebuah <em>rub</em> atau perempat. Empat <em>rub</em> menyusun sebuah <em>hizb</em>. Dua <em>ahzab</em><span> </span>membentuk sebuah <em>juz </em>dan tiga puluh <em>ajza</em> menyusun al-Qur’an yang lengkap. Sejauh tidak merusak makna jumlah pengambilan ayat-ayat yang dibaca dapat bervariasi. Membaca al-Qur’an dapat diakhiri dengan satu surat lengkap dan dapat juga selesai pada beberapa ayat atau bahkan beberapa frase dalam satu ayat atau mungkin juga sangat panjang mencakup dua surat atau lebih. Al-Qur’an dapat dibaca dan diperdengarkan secara <em>ma-tayassara</em> [apa yang memungkinkan]. Dalam kondisi apapun ketika orang tergerak untuk membaca dan mendengar dalam suatu waktu atau kesempatan tertentu. Maka al’Qur’an tidak meninggalkan kesan perkembangan makna konklusif dan bersifat final.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>4.<span> </span></span></span><span>Repetisi</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ciri lain adalah pengulangan dan intensitas yang cukup tinggi. Kombinasi aditif dalam seni Islam melakukan pengulangan tehadap beragai motif, modul, struktural maupun kombinasi suksesif mereka yang nampak terus berlanjut infinitum. Kesan abstrak diperkuat dengan pengulangan terhadap individu bagian-bagian penyusunnya. Ia juga mencegah modul manapun dalam desain tersebut untuk lebih menonjol dibanding yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam al-Qur’an berbagai sarana puitis dihasikan melalui suara atau repetisi metris terpadu. Akhiran tunggal maupun ganda sering muncul. Frase dan garis refrain diulang berkali-kali untuk memperkuat kesan didaktis dan estetis. Pengulangan bebagai ide dan ungkapan dimasukkan dalam elemen keindahan bahasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>5.<span> </span></span></span><span>Dinamisme</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dinamika dalam seni Islam menghendaki satu pemahaman dalam skala ruang dan waktu. Dalam kenyataannya pola infinit tidak akan pernah dapat ditangkap dalam satu tatapan tunggal, dalam momen tunggal, dengan sebuah penglihatan tunggal terhadap berbagai bagian yang ada. Melainkan ia menarik mata dan jiwa melalui serangkaian pengamatan atau persepsi yang harus ditangkap secara serial. Mata, telinga dan seluruh indra bergerak dari satu pola ke pola yang lain dari titik pusat ke titik pusat yang lain. Dan Arabesq tidak pernah menjadi komposisi yang statis. Sebaliknya apresiasi terhadapnya harus melibatkan seuah proses dinamis dalam mengamati masing-masing motif, modul dan kombinasi yang suksesif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Al-Qu’an adalah karya sastra yang termasuk dalam kategori seni waktu.<span> </span>Serangkaian proses persepsi dan apresiasi mencegah adanya perkembangan kepada sebuah klimaks atau kesimpulan tunggal. Kesan kesatuan yang menyeluruh nampak lemah dan hanya melalui pengalaman bagian-bagian individualnya secara suksesif pembaca, pendengar dan pengamat dapat menangkap makna keseluruhan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>6.<span> </span></span></span><span>Kerumitan</span></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Detail yang rumit merupakan ciri lain karya seni Islam. Kerumitan memperkuat kemampuan pola <em>arabesq</em> untuk menarik perhatian pengamat dan mendorong konsentrasi pada entitas struktural yang direpresentasikannya. Sebuah garis atau figur selembut apapun diolah tidak akan pernah menjadi satu-satunya ikon dalam rancangan seni Islam. Hanya dengan multiflikasi elemen internal dan peningkatan kerumitan penataan dan kombinasi akan dapat menghasilkan dinamisme dan momentum pola infinit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Al-Qur’an sarat dengan sarana puitis. Didalamnya betabur paralelisme, antitesis, repetisi, metafor, analogi dan alegori. Perpaduan ini menyebabkan siapa yang membaca dan mendengarnya menjadi terkesan keindahan dan kesempurnaannya. Inilah yang menjadi substansi argumen bahwa al-Qur’an adalah mukjizat yang bersifat Ilahiyah.</span></p>
<p class="MsoNormal">Pustaka:</p>
<p class="MsoNormal">Al-Faruqy, Cultural Atlas of Islam, Mc Milan, New York,1986</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/28/al-quransumber-inspirasi-seni-arsitektur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KAMPUNG BADUY: SUKU TERTINGGAL [?]</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/10/suku-tertinggal/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/10/suku-tertinggal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 06:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[KRITIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/10/suku-tertinggal/</guid>
		<description><![CDATA[
Sejenak memasuki kampung suku Baduy, Kanekes Banten. Setelah empat jam membiarkan kaki berkelahi dengan keletihan. Sejuk dan aura ketenteraman segera terasa. Hijau daun mengatapi langit terik. Nyanyian alam meluruhkan pekak telinga yang mengerak didesak deru kendaraan dari Jakarta. Jalan setapak meliuk mengitari bukit yang makin menanjak. Di tepinya rumput dan semak liar membentuk garis-garis alami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><img class="alignnone" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/06/dsc04209bj7.jpg" alt="" width="400" height="280" /><br />
Sejenak memasuki kampung suku Baduy, Kanekes Banten. Setelah empat jam membiarkan kaki berkelahi dengan keletihan. Sejuk dan aura ketenteraman segera terasa. Hijau daun mengatapi langit terik. Nyanyian alam meluruhkan pekak telinga yang mengerak didesak deru kendaraan dari Jakarta. Jalan setapak meliuk mengitari bukit yang makin menanjak. Di tepinya rumput dan semak liar membentuk garis-garis alami menandai arah jalan bagai lukisan dari langit. Di pinggir sana, bening sungai deras bersama ikan-ikan  yang bebas di balik batu-batu berlumut. Harum cemara silih berganti bersama sirih hutan mengurai oksigen mengisi penuh rongga dada.<br />
<span id="more-48"></span><br />
Di ujung jalan ketika jalan menanjak sudah usai. Tampak serumpun rumah-rumah panggung hampir tak terbedakan. Satu sama lain berjejer berhadapan teratur membentuk satuan-satuan ruang terbuka. Satu konsep <a title="cluster" href="http://www.arsitekturindis.com/index.php/archives/2000/03/05/arsitektur-malangkadak-arsitektur-horotokono/"><em>cluster</em></a> yang lahir tidak dari rahim akademik. Tetapi dari keniscayaan naluri dan habitus (<em><a title="vernaculus" href="http://e-course.usu.ac.id/content/teknik2/sejarah/textbook.pdf">vernaculus</a>) </em>yang kelak justru diadopsi oleh para teoritikus dan praktisi dengan jumawa. Dinding-dinding bangunan berbingkai anyaman bambu. Teksturnya tidak saja memamerkan keindahan seni visual ekspresi kesederhanaan dan keuletan. Juga seni fungsional yang akurat dengan membiarkan bias benderang langit dan semilir angin semerbak berebut memasuki sela anyamannya. Ruang dalam dengan sendirinya memperoleh sejuk dan terang yang memadai. Satu daya transfigurasi rancangan yang meninggikan bahan alami bambu untuk tidak semata dilihat sebagai bambu tetapi buah karya tangan yang mandiri dan kreatif. Hakikat rancangan arsitektural ditumpukan pada nilai <em>amaliyah</em>-nya. Bukan pada jasad ke-benda-annya.   Sehingga dengan itu terhindar dari syirik kultus materialism. Rancangan materi adalah perantara dari buah perbuatan yang secara sengaja ditujukan untuk memberi wadah bagi kelangsungan hidup dan pembinaan anak-beranak dalam setiap jalan yang diyakini.</p>
<p>Di atas tanah berkontur, batu-batu alam bulat kecil disusun damai membentuk pijakan kokoh untuk umpak tiang-tiang bangunan. Seluruh sistem struktur bekerja secara efisien tanpa campur tangan hegemoni industrialis. Sambungan konstruksi dengan sistem ikat takik dan pasak. Atap pelana praktis dengan kemiringan yang luruh  derai hujan berlapis ijuk hasil hutan yang sengaja dipelihara di lahan  larangan demi sebuah kesinambungan. Satu konsep daur hidup yang sederhana dan dijalankan dengan penuh kesadaran. Tidak ada ketergantungan sejumput pun. Mereka percaya pada kemandirian dan persahabatannya dengan alam. Satu sama lain berbagi secara harmoni. Tak ada celah untuk tinggi sendiri.</p>
<p>Di halaman anak-anak berlarian bermain di sela hewan peliharaan. Di teras rumah dan di seberang gundukan batu yang membentuk <em>sclupture</em> berkerumun para perempuan orang tua mereka dengan kesibukan berkarya. Di seberang yang lain seorang ibu muda sambil menggendong bayinya menenun. Tak ada waktu untuk saling menistakan. Sesama mengikat dalam jalinan kerabat yang tulus. <em>Seluruh hidupnya dipasrahkan pada manfaat.</em></p>
<p><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/06/baduy.jpg" alt="" width="207" height="217" align="left" /></p>
<p>Setiap mereka hidup sahaja dengan kain serba hitam untuk Baduy Luar dan putih untuk Baduy Dalam. Dua warna yang mereka boleh pakai. Tak ada hasrat yang meledak-ledak ingin melebihi satu sama lain. Mereka betul-betul hidup sedampingan. Tak ada keluh, kecuali tunduk pada kesejahteraan yang mereka bangun dari sistem yang sahaja.</p>
<p>Sayup kami dengar mereka berbincang santun sambil sesekali tersipu memandangi kami yang datang sebagai tamu yang diagungkan. Dengan penuh hormat mereka mengumbar senyum dan tatapan yang tulus. Tanpa disadari, kami dibuncah rindu nuansa damai lingkungan yang terhampar di hadapan kami. Kami mulai bertanya. Dimanakah masyarakat tertinggal itu?</p>
<p>Kami tidak mampu lagi mengurai makna ketertinggalan atas potret yang mereka pamerkan. Kami malu mengendapkan kata tertinggal dalam kosa ilmu kami selama ini. Mereka adalah manusia-manusia agung yang jauh dari keserakahan. Mereka tak hendak meninggikan apa yang rendah. Tak hendak merendahkan yang tinggi. Mereka tak berani melebarkan yang sempit dan tak sudi juga menyempitkan yang lebar. Mereka terima apa yang alam sediakan, dengan sekecil-kecilnya perbuatan. Alam adalah limpahan rahmat yang tak terkirakan.</p>
<p>Tumpang tindih teori kami lahap sepanjang pencarian ilmu kami. Berjenjang-jenjang kami panggul derajat pangkat kepakaran dari berbagai-bagai majelis <em>al-ulum</em>.  Namun, kami hanyalah para arsitek kaum borjuasi yang melayang-layang di atas kamuflase kehormatan <em>sujjana</em>. Karena kami tak mampu menunaikan itu semua dalam kenyataan hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/06/10/suku-tertinggal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ARSITEKTUR MINIMALIS</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/05/29/arsitektur-minimalis/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/05/29/arsitektur-minimalis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 22:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[KRITIK]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<category><![CDATA[TEORI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/05/29/arsitektur-minimalis/</guid>
		<description><![CDATA[Istilah minimalis sebagai satu konsep atau gaya dalam rancangan rumah tinggal tengah marak digunakan di masyarakat kita, khususnya sejak sekitar tahun 1990-an. Sekalipun konsep dasar minimalis ini telah muncul akibat revolsi industri dan kebangkitan paham modernisme dalam sejarah arsitektur dan berkembang sejak tahun 1920-an setelah kelahiran gaya arsitektur International Style yang mengusung tema functionalism (fungsinal), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_222" class="wp-caption alignnone" style="width: 400px"><img class="size-medium wp-image-222 " src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/05/glasshouse-200x131.jpg" alt="Glass House oleh Mies Van de Roche" width="390" height="270" /><p class="wp-caption-text">Glass House oleh Mies Van de Roche</p></div>
<p>Istilah minimalis sebagai satu konsep atau gaya dalam rancangan rumah tinggal tengah marak digunakan di masyarakat kita, khususnya sejak sekitar tahun 1990-an. Sekalipun konsep dasar minimalis ini telah muncul akibat revolsi industri dan kebangkitan paham modernisme dalam sejarah arsitektur dan berkembang sejak tahun 1920-an <span>setelah kelahiran gaya arsitektur <em>International Style </em>yang mengusung tema <em>functionalism </em>(fung</span><span>sinal), <em>clarity</em> (kejelasan) dan <em>simplicity </em>(kesederhanaan). <span> </span>Satu gerakan penolakan terhadap peniruan dan pengulangan bentuk-bentuk lama serta penggunaan ornamentasi masa klasik yang dipandang berlebihan, non struktural dan sekadar tambahan <span> </span>yang sebenarnya tidak memberi makna apa-apa dalam arsitektur. Di lain pihak menyuarakan kenyataan kemajuan teknologi </span><span id="more-30"></span><span>dalam proses rancangan, konstruksi dan struktur bangunan yang memberi kemudahan, akurasi dan efisiensi.</span></p>
<p>Tokoh arsitek modern yang lantang menyuarakan gerakan ini antara lain adalah Berlage di Belanda, Peer Behrens di Jerman, Louis Sullivan, Frank Llyod Wright dan Ludwig Mies van de Rohe di Amerika yang terkenal dengan pernyataannya bahwa keindahan dalam arsitektur adalah karena kesederhanaannya <em>Less is more</em>, Le Corbusier dari Perancis yang terkenal dengan sistem <em>Le modular-</em> nya, satu konsep rancangan dengan pendekatan perulangan unit-unit bangunan untuk kemudahan penyusunan standar fungsional dan modulasi sistem struktur serta kecepatan pembangunan yang memungkinkan sistem konstruksi dengan material bangunan prefabrikasi dan Adolf Loos di Inggris yang menyimpan kebencian pada ornamentasi dan dipandangnya hanya sebagai satu bentuk ketakutan terhadap kekosongan ruang (<em>horror vacui</em>). Pernyataannya yang terkenal adalah <em>ornament is crime.</em></p>
<p>Di Indonesia arsitektur minimalis berkembang pesat melalui kelompok Arsitek Muda Indonesia akibat penguasaan teknik presentasi desain melalui alat bantu teknologi komputer. Satu terobosan penting dalam bidang sajian gambar yang praktis dan nyata. Sistem modul, akurasi dimensi, pilihan warna, pencahayaan dan tekstur tersedia sedemikian rupa oleh teknologi informasi yang sedang berkembang. Desain arsitektur hadir melalui konfigurasi pilihan referensi yang telah disediakan teknologi informasi dengan cepat.<span>Secara substantif minimalis merupakan satu bentuk pilihan keputusan dalam desain bangunan akibat intervensi budaya sebagai satu pola pikir, aktifitas dan gaya hidup. Sebuah cara pandang yang merefleksikan gaya hidup masyarakat masa kini yang cenderung cepat, praktis, efisien dan efektif dalam berbagai bidang. Hal ini juga dapat dilihat pada pola makan, pakaian, komunikasi dan sebagainya. Hukum ekonomi yang menekankan pada usaha yang sesedikit mungkin untuk pencapaian yang maksimal merupakan landasan penting dalam gaya hidup minimalis. </span><span>Paham yang dianut adalah siapa cepat dia dapat dan waktu adalah uang. Tidak ada lagi jargon masyarakat Jawa <em>alon-alon waton kelakon</em> (pelan asal tercapai) atau biar lambat asal selamat. Karena setiap aktifitas pencapaian hidup diukur dan berorientasi pada waktu, persaingan dan keterbatasan sumber daya dan energi. Keterlambatan adalah awal kekalahan.</span></p>
<p><span>Konsep minimalis dalam arsitektur merupakan satu pendekatan estetik yang menekankan pada hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional baik dalam estetika spatial, bentuk dan struktural. Secara spatial ruang-ruang spesifik disusun sedemikain rupa agar memiliki tingkat fleksibelitas yang tinggi dalam ketersusunan dan kemudahan fungsinya. </span><span>Bentuk-bentuk geometris elementer yang praktis tanpa ornamen merupakan karakter utama yang mendominasi permukaan dan massa bangunan. Inovasi berbagai material seperti baja, beton, dan kaca, standardisasi dan efisiensi memberi tantangan baru dalam teknologi dunia rancang bangun. Prinsipnya semakin sederhana, maka kualitas sebuah desain, fungsi ruang yang ada, dan penyelesaian sistem struktur akan semakin lebih baik.<em> </em>Minimum adalah tujuan sekaligus nilai dari estetika itu sendiri. Kontinuitas rancangan sejak gagasan penentuan garis lurus, bidang datar dan pertemuan bidang serba siku tegak lurus, konstruksi volumetrik dan gubahan massa, kejujuran material, olahan cahaya dan udara, perulangan modul, sirkulasi ringkas, ruang multifungsi dan berurut serta kejelasan sistem struktur merupakan ciri utama konsep arsitektur minimalis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Minimalis juga tampak pada sikap dan perilaku perancang dalam berargumentasi, mengenali dan menuntun klien agar menyadari dan berseda mereduksi berbagai kebutuhan yang tidak penting. Hanya fungsi esensial yang dipertahankan sehingga bangunan disebut minimalis karena hasil sebuah proses untuk mendapatkan ruang yang betul-betul termanfaatkan. Minimalis tidak ditampilkan sekadar tujuan akhir bentuk tetapi juga keberhasilan dalam memurnikan fungsi itu sendiri.<br />
Arsitektur minimalis adalah ekspresi masyarakat urban kontemporer yang kompetitif melalui sebuah cara hidup jujur, praktis dan sederhana secara total.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2008/05/29/arsitektur-minimalis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DESAIN KOMUNIKATIF</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/07/09/desain-komunikatif/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/07/09/desain-komunikatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 08:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<category><![CDATA[TEORI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/07/09/desain-komunikatif/</guid>
		<description><![CDATA[Komunikasi dalam arsitektur merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi arsitek. Khususnya komunikasi gambar. Hanya dengan gambar, imaginasi antara perancang dan pengguna jasa dapat dipertemukan.
Bagi sebagian orang dengan adanya komputer, seorang mahasiswa arsitek tidak perlu lagi diajar dengan gambar sketsa tangan (freehand). Dengan komputer kita bisa menjelaskan dengan baik apa yang kita angankan kepada pengguna. Massa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_29" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-29  " src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/07/gambar-rumah.jpg" alt="Desain rumah tinggal dengan freehand (tangan bebas)" width="400" height="280" /><p class="wp-caption-text">Desain rumah tinggal dengan freehand (tangan bebas)</p></div>
<div id="attachment_28" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-28 " src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/07/rumah-murti-samping.jpg" alt="Gambar desain rumah tinggal dengan bantuan komputer" width="400" height="280" /><p class="wp-caption-text">Gambar desain rumah tinggal dengan bantuan komputer</p></div>
<p>Komunikasi dalam arsitektur merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi arsitek. Khususnya komunikasi gambar. Hanya dengan gambar, imaginasi antara perancang dan pengguna jasa dapat dipertemukan.</p>
<p>Bagi sebagian orang dengan adanya komputer, seorang mahasiswa arsitek tidak perlu lagi diajar dengan gambar sketsa tangan (<em>freehand</em>). Dengan komputer kita bisa menjelaskan dengan baik apa yang kita angankan kepada pengguna. Massa, dimensi, warna, tekstur dan cahaya terpadu secara serentak dalam satu sajian yang menarik. Sangat realistik. Dan tidak butuh waktu lama untuk menyajikan ini semua. Namun sebagaian yang lain tetap beranggapan bahwa kemampuan menggambar tangan bebas masih dibutuhkan. Karena kepekaan rasa keindahan, spontanitas dan karakteristik estetik seseorang tergambarkan dalam setiap detail garisnya.</p>
<p><span id="more-27"></span>Gambar seorang arsitek tidak saja bermakna intruksi teknis dan bahasa imaginasi, tetapi juga sebuah karya seni yang dapat dibaca dalam dua dimensi dan tiga dimensi. Ia bukan saja karya &#8220;jembatan&#8221; antara gagasan dengan realitas konstruksi tetapi juga karya &#8220;lukisan&#8221; dan &#8220;ekspresi watak pribadi dan mungkin juga komunitas&#8221;</p>
<p>Coba simak saja gambar dengan komputer di atas. Dengan gambar ini pengguna jasa arsitektur jadi lebih mudah mengerti bagaimana kira-kira hasil akhir bangunan. Tanpa ragu Pemilik langsung setuju. Dengan gambar <em>freehand</em> (tangan bebas&#8230;?). Dalam proses desain gambar bangunan berulangkali mengalami perubahan. Pemilik seringkali juga ingin perubahan ketika proses konstruksi berlangsung. Mungkin gambar desainnya meragukan..?</p>
<p>Akhirnya&#8230;.Terserah anda&#8230;Sang arsitek dan pengguna..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/07/09/desain-komunikatif/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>POLISI TIDUR</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/28/polisi-tidur/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/28/polisi-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 20:59:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[KRITIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/28/polisi-tidur/</guid>
		<description><![CDATA[
Polisi tidur?. Pasti semua tahu. Sebuah gundukan yang dipasang melintang di tengah jalan. Sengaja dibuat untuk mengatur laju berkendara agar aman dari kecelakaan.
Siapa yang memulai gagasan ini? Entahlah. Yang pasti ini satu gagasan otoriter dan arogan. Pemecahan masalah dengan cara memaksa akibat kekecewaan pada  kata-kata dan simbol-simbol komunikasi yang tak digubris lagi karena sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-215" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/06/poltid1.jpg" alt="poltid1" width="400" height="330" /></p>
<p>Polisi tidur?. Pasti semua tahu. Sebuah gundukan yang dipasang melintang di tengah jalan. Sengaja dibuat untuk mengatur laju berkendara agar aman dari kecelakaan.</p>
<p>Siapa yang memulai gagasan ini? Entahlah. Yang pasti ini satu gagasan otoriter dan arogan. Pemecahan masalah dengan cara memaksa akibat kekecewaan pada  kata-kata dan simbol-simbol komunikasi yang tak digubris lagi karena sudah kehilangan maknanya. Dan, mengapa dinamai polisi tidur?  satu &#8220;istilah&#8221; yang jelas disengaja bernada penghinaan untuk korps polisi. Setiap saat, sebuah image institusi dilindas dengan penuh sumpah dan serapah. Kasihan&#8230;. Mungkin ini juga bahasa lain dari bentuk kekecewaan terhadap ketidakmampuan korps kepolisian dalam pengaturan lalu lintas berkendara.</p>
<p><span id="more-22"></span>Karena polisi tidur, <!--baca lanjut-->tidak sedikit orang yang justru jatuh dan celaka. Tukang ojek yang biasa saya tumpangi seringkali mengeluh. Paling lama dua bulan <em>schockbreaker </em>harus diganti. Dan hampir setiap hari penumpang perempuan dan wanita hamil marah-marah karena rem kurang pakem saat melintas polisi tidur.</p>
<p>Dulu polisi tidur hanya dibuat di jalan-jalan kecil dalam kampung. Kini di jalan raya yang seharusnya memungkinkan kendaraan dengan laju cepat, ada juga polisi tidur. Coba lewat jalan raya Kopassus dari Cijantung sampai perempatan jalan Kelapadua Depok! Ada 73 polisi tidur. Jarak terpendek antar polisi tidur ada yang hanya 3 meter. Huhhhh&#8230; Ini bukan lagi &#8220;gagasan mengatur&#8221; tetapi &#8220;gagasan tidak menyenangkan&#8221;. Anehnya institusi polisi pun  melegalkan rambu ini.</p>
<p>Fenomena apa ini?</p>
<p>Dulu waktu pertama kali tinggal di Kota Malang, di jalan-jalan kampung banyak rambu papan di gantung dengan tulisan peringatan begini: &#8220;awas pelan banyak anak-anak&#8221; disertai gambar anak berkerumun. Rupanya  seiring perjalanan waktu ada pergeseran peringatan yang mulai bernada sedikit mengancam :&#8221;<em>ngebut benjut</em> &#8221; dan yang lebih parah lagi :&#8221;nyerempet, diseret&#8221; atau &#8220;nabrak, habis&#8221; dan tak ketinggalan gambar tengkorak dan pentungan&#8230;!!</p>
<p>Kini semua tulisan peringatan itu sudah jarang. Tampaknya kata-kata tidak cukup bermakna bagi pengendara. Bahasa sudah kehilangan manfaat komunikatifnya. Apalagi hanya dengan simbol-simbol batas kecepatan dan gambar orang menyeberang. Dijamin tidak akan digubris. Dan tidak ampuh lagi sebagai bahasa manusia beradab.</p>
<p>Tampaknya, masyarakat kita lebih memilih kesepakatan dengan cara memaksa. Untuk menghambat laju kendaraan muncul ide &#8220;dendam&#8221; lebih mudah dengan gundukan yang tidak menyenangkan, daripada memberi peringatan dengan rambu lalu lintas berupa simbol-simbol dan kata-kata, apalagi sekadar mengharapkan pengertian bahwa berkendara di jalan lingkungan sebaiknya pelan. Kita sudah kehilangan empati satu sama lain. Pengendara dan penggagas polisi tidur saling berseberangan dan hanya berpikir  dengan pemahamannya masing-masing. Tidak ada kompromi dan kesepakatan yang saling menyenangkan.</p>
<p>Kini kita hanya bisa jalani ini semua dengan kemarahan. Tak ada solusi. Pernah di satu jalan, pengendara motor (para tukang ojek) tengah malam diam-diam membongkar satu polisi tidur. Tiga hari berikutnya polisi tidur itu sudah diperbaiki dan semakin tinggi gundukannya. Dan gundukan tak lagi dibiarkan sendiri. Ada patroli khusus yang memantau setiap malam. Sebuah operasi persiapan keributan massal&#8230;!!</p>
<p>Ha..ha.. Kok&#8230;masyarakat kita maunya  begitu.  Mana gotong royong itu. Mana senyuman itu? Mana kesantunan masyarakat agamis yang seringkali diperbandingkan lebih tinggi dengan bangsa lain yang selalu distigma sekuler.</p>
<p>Dulu kalau mau ambil SIM kita sering diuji dengan arti rambu&#8230;</p>
<p>Kini&#8230;? rasanya tak perlu lagi&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/28/polisi-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ARSITEKTUR JENGKI</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/11/arsitektur-jengki/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/11/arsitektur-jengki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 06:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[HISTORIOGRAFI]]></category>

		<category><![CDATA[PERANCANGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/11/arsitektur-jengki/</guid>
		<description><![CDATA[
Arsitektur Jengki, satu istilah dalam fragmen sejarah arsitektur Nusantara Pasca kepulangan para arsitek Belanda sekitar tahun 1950-1960.  Arsitektur jengki tumbuh dari kreatifitas pemuda Indonesia yang pada umumnya lulusan STM dan pernah magang pada konsultan arsitektur di jaman kolonial dan beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Gaya arsitektur ini oleh sebagaian kalangan dikategorikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/06/p1032545.JPG" alt="" width="400" /><br />
Arsitektur Jengki, satu istilah dalam fragmen sejarah arsitektur Nusantara Pasca kepulangan para arsitek Belanda sekitar tahun 1950-1960.  Arsitektur jengki tumbuh dari kreatifitas pemuda Indonesia yang pada umumnya lulusan STM dan pernah magang pada konsultan arsitektur di jaman kolonial dan beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Gaya arsitektur ini oleh sebagaian kalangan dikategorikan berorientasi pada arsitektur yang pada saat itu berkembang di Amerika Selatan. Hal ini dapat dilihat dari  trend mobil yang pada masa itu juga banyak didatangkan dari Amerika seperti Impala, dan Capiten. Namun sebagian juga menduga bahwa gaya ini diimpor dari Rusia, yang pada waktu itu sedang gencarnya membangun hubungan mesra antara Indonesia dan Rusia. Dikenal dengan istilah Poros Jakarta -Moskwa. Salah satu bangunan yang kemudian menegaskan dugaan pengaruh ini adalah bangunan apotik &#8220;Sputnik&#8221; di Semarang yang dikategorikan sebagai arsitektur jengki. Sputnik adalah satelit pertama didunia yang berhasil diluncurkan ke orbit bumi oleh Rusia pada tanggal 4 oktober 1957.</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p><img src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/07/gudang-hsb.jpg" alt="" width="321" height="225" align="right" /></p>
<p>Ciri dominan arsitektur jengki adalah penggunaan atap pelana dan pemanfaatan beton pada berbagai elemen struktur<br />
bangunan seperti overhange dan kolom dengan variasi bentuk yang dinamis. Fasad bangunan hampir selalu tampil dengan tekstur kasar dan variatif dengan komposisi tidak simetris. Demikian juga banyak ditemui permainan letak jendela dengan ketinggian yang tidak sejajar. Pola permukaan dinding biasanya penuh dengan permainan komposisi bentuk yang ekspresif. Kuat dugaan hal ini terkait dengan kebutuhan pemenuhan eksistensi diri, akibat kebebasan baru yang diperoleh para pemuda ahli bangunan di Indonesia yang sebelumnya di bawah kendali para ahli bangunan Belanda.</p>
<p>Dalam penataan &#8220;ruang dalam&#8221; juga tampak perubahan dalam orientasi hubungan antar ruang. Pada masa sebelumnya hubungan antar ruang ditata dengan tingkat privasi yang sangat ketat. Ruang keluarga [pemilik] betul-betul terpisah dengan ruang servis [pembantu] baik dari segi sirkulasi maupun visual. Pada arsitektur jengki pengaturan ruang keluarga dan non keluarga lebih terbuka.</p>
<p><img class="alignright" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/07/depa-hsb.jpg" alt="" width="327" height="224" align="left" /></p>
<p>Di Madura, arsitektur jengki berkembang di kalangan pedagang tembakau akibat hubungan dagang dengan pengusaha rokok dari kalangan etnik Cina di Surabaya yang pada saat itu sudah banyak menggunakan gaya ini. Gaya arsitektur jengki di Madura kemudian berkembang menjadi simbol keberhasilan dan identitas kekerabatan. Gambar di atas adalah rumah milik H.Hasan Bahri seorang pengusaha tembakau yang tinggal di desa Prenduan Sumenep. Dalam perancangan dan pelaksanaannya dilaksanakan langsung oleh arsitek dan pemborong yang didatangkan dari para perancang di kalangan etnik Cina di Surabaya.</p>
<p>Dalam perkembangannya bentuk ini juga banyak ditiru oleh kalangan pedagang tembakau di desa Prenduan namun dengan modifikasi cara lokal. Pembangunan langsung dikerjakan oleh pekerja-pekerja desa. Misalnya bangunan rumah tinggal milik H.Fathorrahman seperti berikut:<br />
<img class="alignnone" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2008/06/jengki-rahman.jpg" alt="" width="400"></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/11/arsitektur-jengki/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SEMILOKA ARSITEKTUR</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/08/semiloka-arsitektur/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/08/semiloka-arsitektur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2007 09:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raziq hasan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[ARSITEKTUR]]></category>

		<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/08/semiloka-arsitektur/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai bagian dari aktivitas Program PHK-A3 Program Studi Arsitektur, Selasa 12 Juni 2007 akan  diselenggarakan Semiloka: Penelitian Arsitektur Berbasis Teknologi Informasi. Tempat Gedung D4 lantai 6 Universitas Gunadarma Kampus Depok.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bagian dari aktivitas Program PHK-A3 Program Studi Arsitektur, Selasa 12 Juni 2007 akan  diselenggarakan Semiloka: Penelitian Arsitektur Berbasis Teknologi Informasi. Tempat Gedung D4 lantai 6 Universitas Gunadarma Kampus Depok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/2007/06/08/semiloka-arsitektur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.