ARSITEKTUR DAN KENISCAYAAN KRITIK

Kritik Stduio
Kritik arsitektur dipandang kurang menarik sebagai sebuah disiplin keilmuan. Alasan ini muncul mungkin karena belum adanya materi yang memadai untuk melandasi analisis dan perdebatan dalam wacana teoritik. Alasan lain yang mungkin lebih tepat adalah bahwa kritik arsitektur dinilai gagal dikembangkan sebagai satu upaya yang serius dan komprehensif karena manfaatnya belum menampakkan signfikansi implikatifnya terhadap kualitas lingkungan terbangun dan karenanya dipandang belum mendesak. Kritik seringkali dimaknai dalam terminologi yang sempit dan hanya sedikit kontribusi yang dapat diberikannya bagi peningkatan kualitas lingkungan terbangun. Karenanya kritik dianggap tidak penting untuk dikembangkan.

Pengembangan metoda kritik berkaitan dengan lingkungan terbangun sesungguhnya sangat penting untuk terus dilakukan. Tujuan utamanya adalah menjadikan kritik arsitektur lebih dipandang layak dan berguna. Jika kritik dalam arsitektur belum dipetakan batasan-batasannya maka segala sesuatunya tidak cukup untuk mendapat perhatian yang lebih luas. Cara bagaimana dan apa manfaat kritik bagi lingkungan manusia perlu ditelusuri lebih dalam.

Berbagai aspek pendekatan kritik yang telah dilakukan sebagaimana kritik jurnalistik dalam media massa merupakan bagian bentuk kritik arsitektur yang paling awal. Mestinya proses belajar dalam lingkungan pendidikan tinggi arsitektur juga merupakan sebuah bentuk kritik yang penting. Dalam hal ini kritik lebih merupakan bentuk metoda dan prinsip pengajaran. Secara signifikan hal ini telah berlangsung dan dapat dipertanggungjawabkan, sekalipun kecil dan belum begitu memperoleh perhatian sebagaimana bentuk kritik dalam kasus ilmu lain. Namun demikian kualitas lingkungan buatan dan respon kita kepadanya harus terus dipetakan dan dikembangkan.

Minimnya pemahaman kritik dalam arsitektur sebetulnya bukan karena kurangnya materi dalam studi, tetapi lebih disebabkan masalah apresiasi kita pada lingkungan terbangun. Satu kuncinya. Yaitu: kemauan untuk menyatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dalam perbaikan lingkungan kita kecuali hanya dengan kritik. Dengan itu diharapkan akan banyak ornga menghargai kritik sebagai satu bentuk tanggung jawab kita pada arsitektur. Sebuah kritik yang muncul di media akan menjadikan semua orang terkesima dan pada akhirnya berduyun-duyun mengikutinya. Kritik tidak dilandaskan pada etika tetapi pada estetika. Satu titik pandang kita adalah bahwa apapaun yang kita perbuat di dalam dan di sekitar lingkungan buatan adalah satu bentuk kritik. Kritik harus dan selalu ada sepanjang kita memahami bahwa tidak ada satupun lingkungan arsitektur yang dibangun betul-betul sempurna. Hampir setiap saat kecaman tajam muncul di koran atau majalah dari seseorang dari berbagai penjuru pandang atau silang sengketa argumentasi antara murid dan guru di sekolah arsitektur atau kadangkala semua dari kita rela meluangkan waktu ikut serta dalam berbagai kesempatan diskusi arsitektur atau aktifitas khusus dalam forum ilmiah dengan mandat yang samar. Kritik adalah bentuk aktifitas kolektif dari perilaku yang beragam. Dalam hal ini, opini yang disampaikan di permukaan tampak bahwa lingkungan binaan yang kita huni harus baik telah disampaikan oleh para jurnalis, mahasiswa, arsitek profesional dan bahkan hampir semua orang dalam kekuatan metoda, tata cara dan argumentasinya kritik masing-masing.

Penegasan ini tampak bertentangan dengan fakta yang berkembang sebagaimana disampaikan pada penjelasan di atas bahwa kritik arsitektur telah diterima dengan perhatian yang minim dan telah diabaikan kontribusinya bagi pemahaman kita tentang lingkungan binaan dan perbaikannya. Jika kritik tidak efektif bagaimana mungkin orang berduyun-duyun melakukannya dan kita selalu merasa cemas dan selalu ingin memikirkannya?

Dalam wacana teoritik dan bagi sebagian besar teoritikus arsitektur, kritik lebih efektif hanya ketika dibicarakan dalam satu bangunan tertentu saja setelah desain dan konstruksi terwujud. Hanya dengan kondisi yang demikian kritik tampak nyata manfaatnya. Desain lingkungan adalah sebuah proses terbatas yang diterima begitu saja dalam kelompok yang juga terbatas dan karenanya mudah dikritik. Sementara kritik banyak memiliki perangkat (metoda dan alat) yang dapat dipraktekkan dalam berbagai kesempatan baik pada waktu penyusunan proposal, desain bangunan dan pada saat digunakan. Sepanjang kritik terus-menerus dilakukan pada bangunan baik pada waktu sebelum dan setelah dibangun, arsitek dan pelajar berhak mendapat kekuatan balik sebagai cara untuk memunculkan teori yang mendasar sebagai teknik dan metode untuk landasan kritik ke depan. Bahwa ia dapat menguntungkan atau bahkan justru menghalangi sebuah proses yang berjalan, semua itu akan dapat memberi guna yang baik bagi perkembangan arsitektur selanjutnya. Kritik akan selalu lebih bermanfaat ketika ia digunakan pada masa datang daripada hanya ketika ia sekadar menjadi penilai dan meletakkan kesalahan pada masa lalu. Kritik ada karena realitasnya kehidupan tidak pernah selesai dari bingkai relativisme.

Ketika kritik bekerja dalam tataran konsep dan filosofis atau dalam satu cakupan yang terbatas seringkali sangat teoritik dan bersifat defensif karena lebih mudah dilakukan. Kritik dapat menjadi argumen politis demi peningkatan kualitas arsitektur sebelum dirancang dan dibangun di tengah publik. Namun, seringkali tujuan kritik menjadi kabur karena kebanyakan kita tidak bisa menerima nilai kegagalan. Para kritikus sebagai pembawa kebaikan dan kebenaran mudah gentar oleh kasus-kasus dengan daya tolak yang besar. Sebagaimana pergerakan modern yang tidak mampu bertahan lama menyemai kemunculan ide-ide baru, dan anti modernism tampak lebih giat menggantikan modernism yang kelihatan lemah dengan tanpa perlawanan berarti. Ketika seseorang berharap kritik kontemporer dapat memberi arah bagi perkembangan arsitektur ke depan justru banyak mengeluh. Pengalaman terhadap kualitas lingkungan yang tidak memuaskan, diterima untuk atas nama penegakan moralitas, humanism dan zeitgeist. Pragmatisme demi kerukunan justru lebih menonjol.

Sekalipun dalam beberapa hal kritik merupakan aktifitas yang sensitif dan sulit diukur, melalui berbagai pendekatan dan metoda kegunaan nyata kritik dapat diperlihatkan. Berbagai upaya dengan berbagai variasi metoda dan maksud kita dalam menanggapi lingkungan bisa kita lakukan. Paling tidak untuk diri kita sendiri. Kita tidak perlu ragu maksud dari hasrat kita yang tanpa disadari dan samar-samar telah sering kita katakan dan lakukan dalam lingkungan binaan sesungguhnya adalah bentuk kritik. Kritik harus inklusif. Hal ini didasarkan atas tiga pertimbangan :

  1. Kritik di lapangan mencakup ranah yang begitu luas. Ia bisa bersifat normatif, interpretif atau deskriptif. Kritik bukan sekadar wilayah sastra yang kecenderungannya lebih banyak tertuju pada kasus kritiknya agar tampak indah dan berharga dari segi kesusasteraan. Kualitasnya seringkali ditumpukan pada narasi, prosa atau puisi yang disampaikannya. Sebagaimana juga kritik foto seringkali digunakan sebagai dokumen yang mampu mempengaruhi orang lain untuk bertindak baik dalam rasa, karsa dan cipta melalui cara penyusunan komposisi, penataan cayaha dan penyuntingan gambar yang dihasilkannya. Objek bangunan dijadikan kendaraan fotografi. Objek kritik sekadar titik anjak menghasilkan karya seni lain. Dalam kritik, cara ini dibenarkan sebab wawasan apresiasi artistik terhadap lingkungan bangunan meliputi wawasan yang komprehensif. Dan setiap orang dapat disebut sebagai kritikus tanpa perlu memandang status kepakarannya. Para scientis, artis dan kritikus serta apapun pengakuan yang diberikan, masing-masing memiliki kontribusi yang berbeda untuk lingkungan. Kita semua adalah analis dan pengamat yang masing-masing memilih menggunakan perangkat dan prosedur yang berlainan. Kritik bukan sekadar sosok sastra. Pembedaan, penyaringan, pertimbangan, penegas dan penafsir dalam laboratoium atau studio dan dengan kamera atau penanda hanyalah sebuah media. Kritik harus dipandang dalam pengertian taktik dan perhatian, bukan sekadar pengertian pekerjaan media
  2. Alasan lain untuk inklusifitas adalah bahwa pengaruh kritik arsitektur yang popular seringkali terbatas. Pekerjaan kritik dilihat sebagai artikel singkat dalam surat kabar dan beberapa majalah, dan mungkin sebagai penilaian sejarah arsitektur. Kritik lebih dilihat menjadi bidang pecinta seni. Pandangan ini didukung oleh kenyataan bahwa tidak ada program formal kritik arsitektur dan lingkungan. Upaya khusus untuk memasukkan kritik dalam subjek tertentu langka dan jarang tersedia di berbagai perguruan tinggi dimana kritik dideklarasikan secara lagitimate di dalam akademis. Inclusivitas adalah kecenderungan untuk menunjukkan batasan konsepsi kritik arsitektur dan mendukung desain lingkungan dan pendidikan arsitek dengan memberi perhatian yang lebih pada kritik sebagai satu bentuk pengamatan yang seluas-luasnya di sekitar kita dan tidak membiarkannya hanya kepada pewarta-pewarta dan interpreter sejarah semata.
  3. Motif lain adalah agar bagaimana kritik keluar dari wilayah personal. Untuk itu perlu pemisahan yang jelas antara kegiatan artistik, kritikal dan saintifik. Semua tersusun dengan tumpang tindih sebagai bentuk ‘tanggapan bermanfaat’. Pengabaian pembedaan dan pengenalan semua tanggapan yang berguna bagi lingkungan arsitektur adalah sebuah kritik yang lebih bermutu. Keuntungan pendekatan inclusif dalam kritik arsitektur adalah penjelajahan yang lebih luas dalam pemaknaan dan kepentingan bagi arsitektur daripada yang biasanya dilihat. Beberapa buku tentang arsitektur dan khususnya yang ditugaskan kepada mahasiswa sebagai pengantar ke lapangan, adalah satu contoh tipolopis dalam cara memandang lingkungan arsitektur. Kritik arsitektur akhirnya berujung pada misi profesionalisme [apa yang sepantasnya dilakukan terhadap bangunan] atau tentang ragam kesan yang ditimbulkan melalui interaksi kita dengan bangunan [Bagaimana sebaiknya bangunan kita rasakan] atau tentang bagaimana bangunan sebagai produk yang tak dapat dielakkan dari perilaku kehidupan [Bagaimana bangunan diciptakan sebagai sandaran bagi terbangunnya kualitas kehidupan].

About this entry