rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for the ‘Uncategorized’


Published July 20th, 2012

Dua Kuda Dalam Mimpi dan Kenyataan

Dua Kuda Mimpi Dan Kenyataan
Dua tahun lalu ( July 2010 ) ketika anak Pertama ku gagal meraih impiannya, masuk Perguruan tinggi Favorite Pilihannya, Sebagai Oeang tua akupun Sangat sedih. Sedihnya itu bener-bener menyentuh kalbu yang paling dalam. Pandangan mataku seolah gelap menatap masa depan. Terbayang jika anak pertamaku gagal, bagaimana menciptakan figure bagi ke 4 adiknya? Seolah dunia kiamat, saya gagal mendidik anak.
Namun aku punya Tuhan, aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Aku bersimpuh dalam shalat, memohon petunjuk terbaikNya. Aku gunakan naluri hati, kemana Tuhan membimbing Putri dan putra kami. Dan saat itu , ketetapan putriku untuk mengulang untuk ikut lest lagi selama satu tahun, dan minta untuk Kost di daerah Tebet. Hatiku sebenarnya sangat teriris, betapa luka anakku, harus dibayar dengan perjuangan panjang. Dan pastinya konsekwensi perhatian, tenaga, waktu, dan biaya harus aku berikan. Hampir aku tidak kuat, putus asa menerima cobaan ini. Hanya keyakinannu, bahwa ujian ini adalah upaya Tuhan untuk menaikkan derajatku yang lebih tinggi.
Suatu malam aku bermimpi dua kuda putih, tegap, gagah, lari kencang saling ber iringan. Saaat itu aku menerjemahkan dua kuda putih adalah dua anakku yang beriringan sedang menempuh perjuangan. Aku yakin kuda putih tegap itu akan mencapai tujuan. Begitu juga kedua anakku yang sedang berjuang mencapai 2 perguruan tinggi negri idaman, keyakinanku akan sampai pada tujuan. Perasaan saat itu aku tulis dalam bolg dengan judul : dua kuda dalam impian”. Kini Kenyaataan itu setelah 2 tahun berselang, aku akhirnya menulis 2 kuda dalam kenyataan. Alkham dulillah ditahun 2011, anakku yang pertama masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia, lewat Jalur Ujian SIMAK, dan Satu lagi anakku yang ke dua tahun 2012 ini dapat masuk Fakultas Teknik Kimia, Universitas Indonesia Melalui Jalur SNMPTN. Alkhamdulillah Ya allah Akhirnya Dua Kuda dalam mimpi itu akhirnya menjadi Kenyataan.

Published October 5th, 2011

Tugas kelas 1IB02 : Kelangkaan / Keterbatan Barang Dalam Elektronika.

Sesuatu memjadi bersifat ekonomi jika barang menjadi langka atau terbatas. Tak terkecuali pada bidang teknik Elektronika. Oleh karena itu pada tugas pertama, buatlah cerita tentang kelangkaan barang yang berkaitan dengan masalah teknik elektro yang kalian akan alami nantinya. Tulisan wajib di upload dalam blog kalian atau diposting di warta warga.

Published September 6th, 2011

Dalam Statistik, Berbeda adalah Petaka

Perbedaan antara keterangan satu dengan keterangan yang lainnya  bila terlalu  mencolok, menyebabkan keterangan menjadi semakin heterogen. Dalam Ilmu statistik, semakin heterogen maka semakin sulit untuk diambil kesimpulan. Dan data yang demikian sangat mempunyai variabilitas tinggi.

Dalam anaisis Variabilitas data, maka semakin  heterogen data maka  variabiitasnya akan semakin besar maka artinya data dikatakan semakin  tidak stabil dan objek data berarti ada masalah.

Sebagai contoh yang gampang dipahami misalnya :

1. Masalah nilai

Jika kita dihadapkan pada 2 pilihan  2 mahasiswa  sama cantik yang sama -sama IPK nya 3,  katanlah  si A rata- rata 3 dengan variabilitasnya 1 ( Berarti rentang nilainy maksimum 4 dan minimum 2.  ini diperoleh dari rata-rata 3 +  1 =4 dan 3 -1 =2

Si B rata-rata  IPK nya 3 dengan variabilitas 0 maka nilainya 3 semua. jika kita disuruh memilih mana yang lebih baik…? Pastilah kita akan memilh si B, kenapa…? karena B nilainya lebih stabil. Walupun si A  nilai maksimumnya 4, namun minimalnya 2, siapa tahu ketika nilainya si A  rendah akibat ada masalah yang serius yang terjadi. misalnya si A selalu  mendapat nilanya 2 ketika asma akutnya kambuh ketika sedang ujian. Siapa yang masih pilih gadis  A  dengan nilai sama, plus penyakit akut yang dideritanya…?

2. Masalah Mesin.

Analaog dengan contoh kedua gadis, kalau dihadapkan pada 2  mobil yang harganya sama, dengan kecepatan mesin yang  berbeda. Jika  mobil I kecepatan mesinnya mampu rata-rata 150 km/jam  tetapi setiap menempuh 10 km pasti mogok. dan Mobil ke II rata-rata kecepatannya hanya mampu 100km/jam dan praktis tak pernah mogok. pilih mana ?

Pastilah milih mobil dengan kecepatan rendah namun punya kestabilan tinggi , alias tidak pernah mogok.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semakin berbeda , semakin heterogen maka variabilitas semakin besar. Karena variabilitas besar maka semakin tidak stabil. dan ketidak stabilan adalah Petaka.

Bukti konkrit…, semakin heterogen kita , semakin majemuk, semakin bineka dan semakin banyak petaka dimana-mana. Dimana karunianya…?  Secara statistik, perbdaan adalah petaka?

Published August 14th, 2011

Jangan Takut Tidur Hanya Sebentar

Cerita ini datang dari anakku tadi pagi…, Ketika bangun pagi  diruang tamu buku-buku berserakan,  tetapi yang kulihat bukan buku pelajaran. Melainkan buku-buku yang membahas tentang Ramdhan dan idul Fitri. Rupanya anakku sedang ada tugas sekolah tentang yang berkaitan dengan Sanlatnya (Pesantren kilat).

“Mengapa kamu tidak beresin Nak, ruang tamu jadi berantakan seperti ini….!!!”,  tanyaku . kemudian anakku menjawab :”Sengaja mama…, biar mama tahu kalau saya sudah berusaha rattil (belajar dengan segenap kemampuan). jawabnya . maka dengan spontan , setengah berteriak “Alkhamdulillah….! kamu lagi sadar….?” tanyaku keheranan.

“Bukan cuma itu mah…!”,     “saya lagi membuktikan teori baru  tentang  jumlah jam tidur , yang kata guru tidur paling tidak 8 jam.” itu ada pengecualian mah, tidak berlaku semua. dan aku punya teori baru.” Jawab anakku, sok pinter dengan lagak gayanya.

Kemudian  anakku melanjutkan ceritanya: “Kalau minimal tidur 8 jam dengan kondisi kegiatan kita normal, tidak ada masalah apapun. Namun ketika kita punya masalah/ tugas (tidak harus masalah itu jelek), jam tidur dapat dikurang juga tidak apa-apa.

Masalah yang saya maksud mah…,  adalah ,  saya lagi tertarik dengan tugas yang diberikan guru dan saya sendiri tertarik dengan tugas itu. Dengan senang hati tanpa henti saya tidur  mulai jam 01.00.  Saya Niyatkan betul mau bangun lagi sahur . saya berdoa ketika mamah bangunin saya sahur..,  ngga susah bangun lag  khan mah…!!i. dan  berarti benar, kalau tidur cuma sedikit kalau punya model, atau tipe ngga masalah .

Kesimpulan saya mah (dengan gayanya yang sok pinter :

1. tidur sebentar tidak jadi masalah, karena saya bangun sahur dan tidak tidur lagi ternyata seger-seger saja. Padahal saya baru tidur jam 01.00

2. tidur harus punya niyat atau harus diawali dengan niyat yang bener dan mohon dengan sangat dbangunin sesuai keinginan. (inilah bentuk model

3. Tidur itu harus berkualitas dan berisi

kualitas tidur itu adalah adanya setting pikiran yang positif diisi sesuatu ang positif yaitu diawali dari hasil belajar.

4. Ketika bangun besukurlah dan berjanji besoknya mau bangun lebih baik lagi.

5. Seting pikiran kita bahwa tidur sedikit itu juga menyehatkan asalkantiurnya berkualitas.

Published July 16th, 2011

Menyambut Bulan Ramadahan

Bulan Ramadhan disambut dengan suka cita. Dulu…, ketika jaman Rasul konon hanpir sama dengan jaman sekarang dalam memuliakan bulan Ramadan. Semua gembira dan semua suka cita. Hanya bedanya kalau dulu Para nabi dan Rasul menyambut Ramadahan akibat faham betul hakekat puasa. Namun pada masa sekarang nilainya sudah bergeser. Yang menyebabkan demikian adalah karena adanya bayangan banyaknya aneka makanan di malam hari, yang menyebabkan Puasa menjadi bergairah. Begitu kira-kira inti ceramah kemaren. Begitukah…?

Pertanyaan ku yang tak pernah dijawab :

1.  mengapa pandangan tentang puasa / shaum bergeser…?

2. Lebih hebat mana antara  bulan puasa atau yang turun di bulan puasa…?

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan iman .

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan      i   m    a     n .

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan iman .

Published April 4th, 2011

Syarat Berbuat Baik

Syarat berbuat baik
Berbuat baik itu seperti apa ya….? Apakah saya selama ini telah berbuat baik…? Kalau ukuran berbuat baik itu hanya dari sudut pribadi, maka akan kita katakan, selama ini saya telah berbuat baik, namun mengapa hidup saya seperti ini…? Banyak orang yang berbuat lebih nista dari saya mengapa dia lebih sukses dan bahagia dibandingkan saya….? Apa kesalahan saya…..? Begitu kira-kira ratapan saya karena merasa telah berbuat baik. Sekali lagi baru merasa berbuat baik. Sudahkah memenuhi syaratnya…? Ukuran baik menurut pribadi saya yaitu, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menyeleweng/melacur, tidak sombong, tidak menyakiti orang, tidak suka meminta dll. Begitu juga anjuran oleh orang-orang bijak yang sampai ke kita. Larangan-larangan seperti yang disebutkan tadi sudah sering terdengar.
Teringat petuah dari Kakek yang tinggal di kampung, bahwa berbuat baik itu adalah, harus :
1. diridhai Tuhan,
2.bersifat terus-menerus,
3.berguna untuk banyak orang
4, dilakukan dengan ikhlas, tanpa motif tertentu
5. mengutamakan kepentingan orang banyak dari pada diri sendiri,
6. mempunyai cita-cita luhur dan agung, serta harus
7. dilakukan dengan semangat tak kenal lelah.
Atas semua syarat itu kakekku bilang bahwa berbuat baik itu sama dengan B E R J U A N G. Berbuat baik ternyata banyak sekali syaratnya. Setelah saya renungkan, betapa Eyangku yang tingal di kampung dan sering saya dulu mencap dia kampungan. Petuahnya dulu, bagiku hanyalah dunia imajiner yang sangat sulit untuk dilakukan.
Berjuang, adalah kata yang mengingatkan kita pada perjuangan para Pahlawan dalam merebut impiannya, yakni kemerdekaan. Pada masa perjuangan tergambar semangat yang membara menuju impian yang ingin dicapainya. Bersatu padu semua elemen adalah satu kata, seirama, bahu membahu antar sesame, apapun golongannya. Indah….., tergambar rasanya. Walaupun disisi lain musuh siap menghadang, banyak rintangan, cobaan, selalu siap didepan mata.
Berjuang, yang bermakna mengusahakan dengan segenap jiwa raga, tentu bukan hanya milik masa lalu. Kini dan nanti harusnya selalu berjuang tanpa henti. Lihatlah semangat yang berkobar tanpa padam, mata bersinar tajam bagaikan siap menerkam. Telinga terpasang tegak siap menanggapi, mendengar segala perintah komando Pimpinan. Tubuh berdiri tegak siap melaksanakan tugas tanpa kecuali, Kaki siap melangkah kemanapun arah. Dann…. Hati…, siap berkorban…., hatta nyawa sebagai taruhan. Sudahkah kita melakukan itu semua seperti yang digambarkan…..? Saya masih bekerja tak tentu arah, malas tak bersemangat, kadang masa bodoh tak peduli, tak menyadari diri, adalah kebiasaan sehari-hari…! Ya Tuhan……, bawalah kami dalam perjuangan.
Berjuang pada masa kini….., masih selalu dibutuhkan sampai nanti. Merebut impian kemerdekaan financial, kemerdekaan berekspresi, kemerdekaan dari sakit, kemerdekaan dari kebodohan, kemerdekaan dari segala perbuatan nista, adalah mutlak direbut dari insan hidup dibumi pertiwi. Tapi bagaimanakah harus dicari….? Nasehat kakek yang masih terngiang-ngiang tentang berjuang , saya bawa kedalam Ilmu Pengetahuan barat , yang dikenal dengan teori Barrent ,dalam buku Ilmu Politik , yaitu ada 4 syarat.
1. Harus ada dasar.
2. Ada tujuan
3. Ada teknik
4. Ada majemen.

Teori Barrent ini banyak dikagumi, termasuk saya pribadi. Dimulai dari saya kecil yang hanya mengenal petuah-petuah hebat dari seorang Kakek, kemudian sekolah dan membaca dengan ajaran ilmu pengetahuan barat, bingga saya dapat pelajaran yang mengembalikan kehebatan ajaran sang pencipta. Karena sempitnya wawasan , terkadang kita hanya mengidolakan seorang tokoh yang begitu hebat dalam kehidupan, seperti tokoh kakek dalam peran hidupku. Seiring dengan kuliah yang mempelajari semua ilmu pengetahuan. Khususnya pengetahuan barat, maka saya pun akan bangga dengan menyitir dari ilmuan-ilmuwan barat. Rasanya saya menjadi hebat jika rujukan berasal dari tokoh yang hebat . Berharap sayapun akan menjadi /ketularan hebat. Namun dalam perjalanan yang terus mencari, ternya ada yang paling hebat di muka bumi ini, yaitu ajaran Sang Pencipta seperti yang akan saya uraikan satu persatu dibawah ini.

1. Berjuang harus ada dasar yang berisi satu doktrin.

Jadi berjuang atau berbuat baik itu harus ada Dasar, Dasar sama dengan Fondasi atau alas. Apa itu dasar…? Dasar yaitu sumber dibentuknya yang lain. Ibarat dasar sebuah bangunan maka dari dasar itulah dibangun rumah, atau yang lain. Tanpa dasar pastilah akan runtuh. Sebagai syarat mutlak atas kuat nya sebuah bangunan maka dasar adalah mempunyai fungsi yang pokok dan strategis. Sehebat apapun yang akan dibangun diatasnya maka tanpa fondasi yang kokoh semua akan menjadi sia-sia. Dalam bangunan, syarat kuat/kokohnya landasan adalah dengan bahan yang berkualitas, seperti dibutuhkan batu kali yang bagus, semen yang banyak, besi yang ukurannya besar,serta rancangan fondasi yang memenuhi standart tentunya. Lalu bagaimana dengan dasar yang diperlukan agar kuatnya/kokohnya dalam berbuat kita ….. ?, apakah syaratnya….? Syaratnya yaitu harus ada Doktrin. Tanpa doktrin ibarat fondasi bangunan yang tanpa menggunakan batu, semen dan besi yang berkualitas. Lalu apakah yang disebut doktrin itu …? Doktrin adalah azas pendirian yang kebenarannya tidak diragukan.

Apa buktinya bahwa dengan Doktrin, maka kehidupan menjadi kuat…? Dalam lingkup Negara lihatlah hebatnya Negara-negara barat/ eropa dengan doktrin naturalismenya yang mengajarkan prinsip –prinsip Individualisme.. Lihatlah hebatnya doktrin Cina dengan sosialismenya yang mengajarkan tentang kolektivisme. Dan dinegara kita sempat menyaksikan hebatnya Indonesia dengan Pancasilaisme dibawah kepemimpinan Bapak Presiden Suharto, yang konon mengedepankan hidup gotong-royong dan berkeadilan sosial. Ini semua adalah bukti yang tidak terbantahkan lagi yang dapat kita lihat dan meraskan sendiri. Mereka semua sangat menyadari betapa pentingnya satu doktrin sebagai satu landasan. Dilihat dari individu-individu yang menjadi pribadi-pribadi kuat adalah mereka yang pasti mempunyai doktrin yang kuat. Doktrin itu dapat diperoleh dari prinsip hidup yang diajarkan oleh keluarga, lingkungan atau berdasarkan pengalaman yang dialaminya. Maka akan wajar ada buku yang menggambarkan bagaimana seorang anak yang menjadi kaya karena diajarkan petuah-petuah(doktrin) yang mengajarkan bagaimana akan tetap menjadi kaya seperti Bapaknya. Sementara seorang anak yang miskin menjadi tetep miskin karena Bapaknya yang miskin itu tidak punya petuah/Doktrin untuk menjadi kaya. Banyak pengalaman disekitar kita yang menggambarkan seseorang menjadi begitu kuat dan bersemangat menghadapi berbagai cobaan karena mereka mempunyai doktrin yang begitu hebat.

Kalau begitu betapa hebatnya salah satu teori Barent ini, yang kita kenal bersumber dari pengetahuan barat. Kita bangga dengan doktrin-doktrin barat yang diajarkan para pemikir-pemikirnya. Terbukti di bangku perguruan tinggi dimulai dari menyusun skripsi,tesis dan disertasi rujukan utama adalah ilmu pengetahun barat. Adakah rujukan selain itu digunakan…? Pastilah akan menjadi bahan tertawaan karena dinilai tidak ilmiah. Atau karena sempitnya wawasan saya sehingga sampai saat ini belum menemukan, atau jarang menemukan rujukan dari doktrin selain dari pengetahuan barat yang diagungkan. Namun untuk kali ini saya akan mau mencoba menyadingkan teorinya Barent dengan keyakinan kita sebagai muslim.

Menyatakan diri menjadi muslim dengan mengucapkan dua kalimah syahadat, berarti kita telah yakin terhadap sesuatu. Apa yang kita yakini…., tidak lain adalah adanya doktrin yang akan mampu menghantarkan kita menjadi lebih baik. Doktrin-doktrin dalam Islam, tentunya berada dalam Quran dan Hadist. Kita meyakini itu, tetapi mengapa disaat kita beribadah, Quran jarang kita bawa…? Bahkan ada sebagian yang fokus terhadap kitab kuning. Bahkan saya pribadi ketika mengupas sesuatu, merujuk dari person pengajarnya ketimbang langsung ke Qur’annya. Padahal dalam Al-Baqarah ayat 2, disebutkan “dzalikal kitabula raibafihi hudalillmuttaqin” Innilah kitab Quran yang isinya tidak diragukan lagi kebenarannya sebagai pedoman hidup bagi yang bertaqwa, yaitu yang mau berbuat tepat menurut yang demikian.

Inilah jelas-jelas Allah menempatkan pada ayat yang paling awal untuk menyatakan pentingnya sebuah landasan. Sudahkah kita menyadari sampai kesana….? Mengapa Barent lebih mengerti dan menyadari sampai kesana..? Lebih dulu Barent atau Qu’ran…? Mungkinkah Barent ngambil dari Qur’an…? Mengapa kita tidak berfikir sistimatik Quran begitu penting…?

Selama ini banyak yang tidak menyadari bahwa Qur’an adalah sumber Doktrin tertinggi. Malah ada yang menganggap bahwa Tuhan berfirman masih main-main. Quran bukan ilmu. Quran hanya berisi sastra dan dongeng. Tetapi Apakah ilmu dan apakah itu doktrin, belum banyak yang menyadari sampai kesana. Sehingga kita mempunyai barang yang berharga (Qur’an ) diambil orang lain (seperti diambil Barent) kita tidak menyadari. Kita hanya sibuk berdiskusi yang tidak-berujung dan tidak berpangkal. Mempertahankan egoisme pribadi di kedepankan. Terutama saya pribadi yang sering seperti itu. Dan kenyataan dilapangan juga begitu. Perbedaan tentang teori kenabian saja kita bersimpah darah. Padahal yang dipersoalkan diantara kedua kelompok yang bertikai kemungkinan salah dua-duanya. Kalaupun ditiupkan model kebenaran yang tidak terbantahkan(doktrin yang haq) mereka akan menutup hati telinga dengan telunjuknya, karena terlanjur melekat doktrin pribadi yang akan dibawa mati. Marilah berbagi, agar persoalan menjadi jelas dan berarti. Berdiskusi.., jalan mulia sampai nanti.

Masih ada tiga hal tentang yang berkaitan dengan Doktrin, meliputi tujuan, teknik dan sa’ah yang belum diuraikan, dimana saya ambil dari doktrin Qur’an namun sebagian tidak merasa demikian.
Ini tidak terbantahkan,
yang mungkin jadi polemik perdebatan.
Hanya hati bersihlah yang mampu menentukan.
Letakkan egoisme, demi kebenaran.
Tidak kenal maka tak cinta,
Cinta yang benar adalah cinta yang wajar.
Cinta wajar hidup sadar.
Sadar diri butuh pengetahuan
Pengetahuan luas syarat untuk membanding.
Nilai Bandingan ukuran kebenaran
Kebenaran sejati sejuk dihati
tak terbantahkan sampai nanti

Akan membelalakkan
Bagi yang mau merevolusikan
Menuju yang dimaksud Tuhan
Sebagai doa hamba menjadi hudan.

Mudah-mudahan bertemu di uraian menuju kesadaran, amien.

Published March 16th, 2011

HARUSKAH MEMUTUSKAN…?

HARUSKAH MEMUTUSKAN….?

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan kita kepada satu keputusan. Pekerjaan memutuskan sesuatu selalu rutin dan terus menerus selama kita masih dikatakan hidup. Lalu…., dengan dasar apa kita memutuskan sesuatu…..?
Keputusan-keputusan yang sifatnya rutin dan terus menerus ini seringkali kita mengandalkan rasa. Contohnya : kapan harus makan atau minum….? Kebanyakan dari kita melakukan/ atau memutuskan minum karena rasa lapar dan rasa haus datang. Begitu juga kapan kita harus tidur…? Yaitu ketika kita sudah ngantuk. Benarkah yang sudah kita lakukan…? Kalau secara rutin memutukan dengan cara seperti itu….?
Jikalau kita menghadapi persoalan penting dalam hidup dan kita harus segera memutuskan, dasar apakah yang harus dipertimbangkan….? Masihkah mengandalkan rasa…? Misalnya ketika kita harus memilih siapa yang harus menjadi pasangan hidup kita, dimana kita harus tinggal (memilih rumah)…, atau bagaimana kita menentukan masa depan kita…..?
Awalnya kita mendasarkan berbagai teori , norma , etika yang sudah kita kuasai. Namun kenyataannya tidak sesederhana dari yang kita bayangkan. Teori tidak seindah prakteknya. Sedangkan kita dihadapkan pada waktu, tenaga biaya atau batasan-batasan tertentu dalam memutuskan. Disitulah kita sering merasa dilema…! Pada saat mengalami kebuntuan untuk mengambil keputusan, biasanya kita berserah diri kepada Tuhan. Seperti apakah kepasrahan yang benar….?
Secara jujur, kepasrahan diri yang benar sampai saat ini kita masih mencari bentuk. Jangan-jangan kita hanya dimulut saja mengatakan pasrah kepada Tuhan. Hati dan tindakan kita bertolak belakang. Sebagai contoh, ketika kita dengan pasrah kepada Tuhan memutuskan saya menjadi seorang dosen, seperti sekarang ini, mestinya saya akan menjalankan keputusan itu dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan. Namun kenyataannya saya ketika mengajar dihadapkan pada gaji yang kecil, fasilitas yang kurang memadai…, nyatanya masih sering ngedumel. Benarkah tindakan saya….? Yach …., manusiawi….! Katanya. Benarkah ngedumel, tidak ikhlas, adalah hal manusiawi yang dianggap wajar dan dimaafkan… dan boleh menjadi kebiasaan…? Dalih seperti ini sering meluncur dari bibir saya dengan lancar, dengan harapan orang lain mau mengerti dan memahami.
Tidak perlu dipertanyakan tentang tindakan saya mestinya, pasti itu salah. Namun itulah yang kita lakukan sehari-hari. Dituntut bergerak cepat, sering terburu-buru dan lebih sering spontan. Oleh karena itu , sumber rasa menjadi dominan. Benarkah rasa itu datang dari Nurani yang paling dalam…..? Bagaimana kita dapat mengukurnya kalau itu berasal dari hati….?
Ada petuah dari moyangku yang entah benar atau salah, bahwa rasa hati itu sering menipu……!!!! Sebagai contoh: ketika itu saya merasa hati menjadi kasihan maka saya memutuskan untuk….., memberi sesuatu, menerima sesuatu, meneruskan, mengganti dll. Namun setelah keputusan diambil ujungnya kita kecewa, mengapa saya begitu….., coba kalau……! Yang akhirnya kita menyesal tiada akhir….! Jadi dimana keputusan yang benar….?
Karena sudah buntu., biasanya kita berdalih …., biarlah hidup kita mengalir apa adanya……, toh nanti sampai kepada muara juga. Slogan klasik dikala kita mengalami kebuntuan. Padahal disadarikah bahwa muara itu ada dua….? Yaitu muara positif dan negative. Hukum alam mengatakan bahwa yang negative menyebabkan jatuh, turun dan rendah. Sebaliknya yang positif tinggi naik dan diatas. Coba kita lihat hukum air mengalir, pasti menuju yang rendah, kebawah dan itu turun. Maka sudah pasti sampai pada muara negative. Mengapa kita masih mengagungkan pujangga yang demikian…?
Makanya pakai logika, dan ratio jika tidak mau kejeblos….!!, nasehat temenku. Binatang apakah ratio itu…? Bikin pusing aja…! Dijelaskan bahwa ratio adalah kemampuan subyek menanggapi obyek. Jadi kalau subyeknya manusia dan obyeknya adalah persoalan yang ada , dimana si subyek kemampuannya terbatas…., lalu apa yang terjadi……? Tidak semua orang punya kemampuan untuk faham terhadap persoalan yang dihadapi. Sedangkan kita harus cepat ambil keputusan…! Aduuuh…, inilah sumber keruwetan, Adakah yang punya teori jitu…..? Haruskan memutuskan….?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.