rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for the ‘Kajian’


Published September 6th, 2011

Dalam Statistik, Berbeda adalah Petaka

Perbedaan antara keterangan satu dengan keterangan yang lainnya  bila terlalu  mencolok, menyebabkan keterangan menjadi semakin heterogen. Dalam Ilmu statistik, semakin heterogen maka semakin sulit untuk diambil kesimpulan. Dan data yang demikian sangat mempunyai variabilitas tinggi.

Dalam anaisis Variabilitas data, maka semakin  heterogen data maka  variabiitasnya akan semakin besar maka artinya data dikatakan semakin  tidak stabil dan objek data berarti ada masalah.

Sebagai contoh yang gampang dipahami misalnya :

1. Masalah nilai

Jika kita dihadapkan pada 2 pilihan  2 mahasiswa  sama cantik yang sama -sama IPK nya 3,  katanlah  si A rata- rata 3 dengan variabilitasnya 1 ( Berarti rentang nilainy maksimum 4 dan minimum 2.  ini diperoleh dari rata-rata 3 +  1 =4 dan 3 -1 =2

Si B rata-rata  IPK nya 3 dengan variabilitas 0 maka nilainya 3 semua. jika kita disuruh memilih mana yang lebih baik…? Pastilah kita akan memilh si B, kenapa…? karena B nilainya lebih stabil. Walupun si A  nilai maksimumnya 4, namun minimalnya 2, siapa tahu ketika nilainya si A  rendah akibat ada masalah yang serius yang terjadi. misalnya si A selalu  mendapat nilanya 2 ketika asma akutnya kambuh ketika sedang ujian. Siapa yang masih pilih gadis  A  dengan nilai sama, plus penyakit akut yang dideritanya…?

2. Masalah Mesin.

Analaog dengan contoh kedua gadis, kalau dihadapkan pada 2  mobil yang harganya sama, dengan kecepatan mesin yang  berbeda. Jika  mobil I kecepatan mesinnya mampu rata-rata 150 km/jam  tetapi setiap menempuh 10 km pasti mogok. dan Mobil ke II rata-rata kecepatannya hanya mampu 100km/jam dan praktis tak pernah mogok. pilih mana ?

Pastilah milih mobil dengan kecepatan rendah namun punya kestabilan tinggi , alias tidak pernah mogok.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semakin berbeda , semakin heterogen maka variabilitas semakin besar. Karena variabilitas besar maka semakin tidak stabil. dan ketidak stabilan adalah Petaka.

Bukti konkrit…, semakin heterogen kita , semakin majemuk, semakin bineka dan semakin banyak petaka dimana-mana. Dimana karunianya…?  Secara statistik, perbdaan adalah petaka?

Published August 17th, 2011

17 Agustus dan 17 Ramadhan

Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus  1945  dulu jatuh pas  pada bulan Ramadhan. Pada bulan rhamadhan itu ada peristiwa  tanggal 17  Rhamadhan, yang diperingati sebagai tanggal turunnya AlQuran. Sudah 66 tahun yang lalu. Dua tanggal tersebut adalah tanggal yang istimewa. Tanggal 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Dimana bangsa Indonesia secara fisik telah  merdeka dari bangsa lain.  Bangsa Indonesia tidak lagi dijajah dari mulai Portugis Belanda maupun Jepang. Dan  Tanggal  17 Ramadhan  diperingati khususnya umat islam, sebagai umat terbesar yang  mengaku bangsa Indonesia, yaitu sebagai hari turunnya  Kitab Suci Al-Quran, sebagai pedoman hidupnya.

Apa Hubungannya, dua tanggal tersebut….???

Tuhan memberikan kemerdekaan  RI pas  pada bulan dimana  ada turunannya Al-Quran pada tahun 1945, kalau kita sebagai bangsa memahami dengan jernih pastilah ada makna dibalik itu semua.  Bahasa Tuhan banyak menggunakan  bahasa lambang /simbol. Dimana bahasa Lambanng adalah bagian  dari   bahasa sastra tinggi, yang hanya orang tertentu yang mau dan mampu memahaminya.

Coba kita analisa dengan kebersihan hati yang paling dalam…, Kalau 17 Agustus  1945 adalah bebasnya Bangsa Indonesia dari penjajahan Bangsa Barat, maka 17 Ramadhan adalah  hari turunnya  Al-Quran sebagai pedoman hidup ( ilmu ) yang mampu membebaskan bangsa Indonesia  dari pola pikir Dunia barat.    Jadi singkatnya….., kalau kita sering mendengar apakah kita masih’  di jajah…..? atau kita sudah merdeka…? Jawabannya selalu kita mendengar : ” kita belum merdeka, kita masih dijajah oleh Bangsa Sendiri!” Terus apa Arti kemerdekaan….? Ya kita baru secara fisik bangsa Barat hengkang dari Inonesia. namun pola pikir barat masihkah ada di Indonesia…?

Sebelum dijawab, apa pola pikir barat…?

1. Hidup individualisme, yaitu siapa yang  hidup nya secara Individu di junjung tnggi,  sehingga timbullah moto hidupku, hidupku, dan hidupmu adalah hidupmu, masa bodo amat. Singkatnya lu lu dan gue gue.

2. Hidup liberal, kehidupan bebas. Bebas sebebas bebasnya. sehinga di tafsirkan oleh sebagian gaya anak muda, menjadi  Pacaran bebas, Bergaul bebas, sexbebas, bebas mengexploitasi manusia, alam dan sumber-sumber  alam yang lain,  dll

3. Berlaku hukum Rimba, akibat kehidupan bebas maka kita lihat, siapa yang menang  adalah mereka yang kuat. Etika dan estetika yang dulu di junjung tinggi maka sudah diabaikan. yang uangnya banyak maka dia yang menang.

4. Timbul Strata Sosial. disadari atau tidak, golangan yang paling  miskin, susah untuk mencari sesuap nasi juga masih  banyak. Ada lagi golongan yang masih bisa makan namun tetep  miskin karena untuk sekolah tidak ada biaya dan ini banyak sekali di Indonesia. Jadi intinya ada kasta berdasarkan  harta dan kedudukan.

5. Timbul demokrasi dll.

Apakah yang disebutkan diatas ada dan masih di Indonesia…? itulah pola pikir model barat. disadari atau tidak  sudah menjiwai dan menjadi bagian dari diri kita. Benar kita merdeka fisiknya dari bangsa barat, tetapi Rokhani kita, jiwa kita adalah jiwa barat. Bagaimana yang beragama Islam, apakah yang punya Quran juga sudah merdeka ….? Samimawon, podo bae..!!!!  Apakah yang Islam juga sudah memahami yang diturunkan tanggal 17 Ramadhan…..? Jawaban Pastinya adalah B E L U U U U M M M……..banget.

” Ada ungkapan  telor bebek Belanda di kerami ayam Indonesia”

Kalau telor bebek, yang mengerami ayam jadinya apa…? ya tetep  bebek. saat kecil induknya ayam, tetapi dasar bebek ketika ada kolam dia berenang, ayam induknya bisa brenang ….?

itulah ungkapan yang pas untuk pola pikir kita. Tidak disadari kita dikerami atau dilahirkan oleh bangsa Indonesia, namun karena pola pikir asalnya adalah pola pikir barat (belanda) maka tetep  aja  kita berpola pikir seperti barat, seperti yang di ungkap kelima hal tersebut diatas.

Padahal hanya dengan Ajaran Allah sebagai pedoman hidup yang akan mampu membebaskan secara jasmani maupun rhokhani kepada kemerdekaan sejati. Pahamilah Quran, bukan sekedar bacaannya. Disitu sumber ilumu Luar biasa. Kebanyakan manusia bacapun belum fasih bagaimana tahu maknanya….., belum lagi maknanya banyak bahasa lambang yang perlu dikaji. Hanya yang berhati bersihlah yang mampu membebaskan diri   dari Penjajahan  jasmani dan Rokhani.   Sayang hanya sedikit.., yang mau untuk mengkaji…!! dan banyak yang kontra dengan hal semacam ini.

Published August 11th, 2011

Pertanyaan Anak Seputar Ramadhan


Pertanyaan Anak Seputar Ramadhan

Kesempatan dibulan Ramadhan adalah kesempatan baik untuk dapat saling sharing dalam keluarga. Kesempatan ini mudah dilakukan mengingat kebersamaan dirumah untuk makan bersama relative lebih sering dibandingkan pada hari-hari biasanya. Kesempatan ketika berbuka puasa dan shaur adalah kesempatan dapat bercengkerama dan bersendagurau bersama keluarga.

Spirit Ramadhan bagi yang menjalankan shaum adalah spirit menuju perbaikan hidup pribadi dan keluarga. Kesempatan dapat bebincang tentang hidup dan mati menjadi diskusi panjang menghiasi Bulan Ramadhan tahun ini. Dua Anakku sudah mulai tumbuh dewasa (Anak yang pertama perempuan duduk di bangku kuliah dan yang ke dua anak lelaki yang kini duduk di kelas tiga SMA ). Mereka berdua sedang mencari arti hidup yang sebenarnya, sehingga lewat diskusi menjelang dan setelah makan buka maupun sahur , mereka menanyakan tentang beberapa hal tentang hidup manusia.

Hal utama yang mereka pertanyakan oleh anak lelakiku adalah,

1. “sebenarnya puasa ini untuk Allah atau untuk siapa ma…? Jawabku: “ya untuk manusia yang menjalankan puasa nak..!” Kemudian lanjutnya bertanya,”Mengapa pada makna doa berbuka puasa ini untukMu (Allah), Apakah allah butuh puasa manusia…? Penjelasanku padanya:”Doa berbuka “Allahumma lakasumtu….” Artinya ya AAllah saya menjalankan Puasa ini adalah menurut perintahmu….:\”, “bukan Ya Allah puasa ini adalah untukmu….” Disini perbedaanya terletak pada huruf jar “la” ka. Kalau dalam bahasa Inggris setara dengan “in” yang maknanya tidak harus didalam. Begitu tentang “la” tidak selamanya maknanya adalah untuk, namun bisa juga maknanya menurut. “Mengapa makna yang ada bisa begitu ya Mah…? “Tanya anakkku lagi. “Dalam hidup diperintahkan kita terus belajar sayang…,” “Manusia diberi akal, sehinga mampu menilai mana yang pas dan mana yang tidak. Silahkan dipilih. Kamu sudah besar, pastilah dapat dengan jujur menetapkan pilihannya.

2. Kalau benar memang untuk kita shaum ini, lalu apa yang dapat kita ambil manfaatnya…? Shaum sendiri adalah pembinaan kesabaran iman. Tahukah sabar dan iman anakku ? Iman adalah menyatunya hati ucapan dan perbuatan. Untuk dapat menyatu menjadi demikian perlu pembentukan pandangan diri kita, seperti yang di ajarkan Allah sehingga sikap kita nantinya sama dengan pandangannya. Dimana sabar adalah berpegang teguh dengan ajaran allah dalam kondisi bagaimanapun. Jadi Intinya berpuasa / shaum itu adalah pembinaan kesabaran yang luarbisa karena iman. Inget bukan karena ketakutan suatu oknum”. Nakku langsung menyela :”Maksudnya mah…..?” jawabku selanjutnya: “yah…, kalau kamu menjalankan shaum karena takut sama mama, atau takut karena Allah…., itu ngga ada nilainya”. “Inti kesabaran disini adalah menjalankan sesuatu karena kesadaran diri menjalankan perintah Allah, sehingga melakukannya penuh dengan kecintaan. Karena sesungguhnya iman itu adalah cinta yaitu “Asyaddu hubballillah”

Pertanyaan lain muncul dari anakku yang Perempuan

1. “Kalau niyat puasa itu agar kita menjadi lebih kurus boleh ngga“ (Anakku tergolong agak gendut soalnya) . Jawabku kemudian :” Semua pebuatan itu adalah berpangkal pada niyat, jika niyat kurus itu hanya karena pingin langsing untuk menarik lawan jenis…, nilainya hanya menjadi laknat Allah nak…., namun niyatkanlah karena yang diperintahkan Allah (karena Allah). Apa yang diperintahkan oleh Allah berkaitan dengan pusa dan tubuh manusia…? Tanyaku selanjutnya! “Intinya supaya tubuhnya menjadi semakin sehat sehingga dengan begitu kita menjadi lebih bermanfaat terhadap sesama”. Anaku bertanya lagi :”Mengapa manusia cenderung tidak sehat baik fisik maupun non fisiknya…? Saya menjawab lagi :”Sebab jika tidak shaum, perut manusia tidak dapat dikendalikan, dan dari perut itulah sumber penyakit fisik maupun non fisik”. “sesungguhnya hampir 75 % aktivitas manusia ditujukan hanya untuk urusan perut. Lalu bagaimana yang 25 % lagi mah…? Jawabku :” sisanya adalah urusan sekitar perut. Atas perut dan bawah perut. Urusan atas perut meliputi urusan tentang, kehormatan, jabatan, harga diri kedudukan dll. Dan urusan bawah perut setelah itu urusan kedua yaitu urusan bawah, setelah urusan perut tersebut terpenuhi. Jadi urusan bawah perut, kemana lagi kalau bukan urusan sex, atau pasangannya.

2. Apa yang dikatakan guru dulu, katanya setan itu diikat ketika rhamadhan. Kok kejahatan masih tetep ada dibulan Ramadhan…? Bertanyaan bersambung tak ada hentinya dari putriku. Lalu jawabku panjang lebar demikian:” Bahasa Quran itu adalah bahasa tinggi nak…? Jadi memahami istilah tersebut harus klar….? Tidak boleh sepotong. Bahaya jadinya jika pemahaman tidak diarahkan kepada bahasa tinggi yaitu sastra. Sekarang luruskan dulu pengertian setan. Setan adalah yang membuat / menggeser manusia menjadi berbuat negative. Yang membuat negative itu ujudnya tidak kelihatan, namun dapat kita rasakan akibatnya. Contohnya angin juga begitu khan…? Jadi setan juga semacam itu, itulah makhluk gaya. Dia akan muncul ketika kita merasakan ditarik kearah negative. Jika kita bergerak kearah yang positif otomatis dia terpelanting. Maka di perintahkan kita supaya selalu berbuat positif agar setan itu seolah terikat. Karena positif dan negative sejatinya tidak dapat melebur, sehingga istilah mengikat jika kita meleburkan kedalam yang positif. Kemudian dia anakku nyerocos lagi…! :” jadi yang disebut dengan setan itu diikat di bulan ramadhan akibat manusia yang menahan hawa nafsunya = berbuat positif maka otomatisasinya nafsu manusia pasif = terikat. Bagitu bukan….?? Ya betul dan pinter anakku…! Wah…., hebat ya bahasa Quran, pakai istilah positif, negative, melebur dan terikat, yang dekat dengan bahasa fisika dan kimia”. Jawabku: “memang begitu bahasa Quran penuh dengan bahasa satra tinggi, sehingga bahaya sekali jika pemahaman kita dengan bahasa leter lek, sehingga dalam kehidupan selalu berbenturan dalam kehidupan.

Published July 30th, 2011

S H A U M

Tanggal 1 Ramadhan insyaallah jatuh hari senin tgl 1 agustus 2011. Seluruh umat islam akan menjalankan Shaum. Shaum berbeda dengan puasa. Shaum adalah pembinaan diri secara tahunan agar terlahir menjadi mu’min yang sabar dan tagguh dalam menjalankan hidup. Mu’min harus tangguh secara fisik dan mental. Oleh karena itu mu’min butuh pembinaan.

Sifat pembinaan harus terus menerus, tidak boleh terputus-putus. Sebab kalau terputus, ibarat menempuh garis perjalanan (hidup) sama dengan terhenti. Kalau disamakan dengan garis bilangan, terhenti sama dengan 0. Terus menerus berarti maju sama dengan positif. kalau mundur sama dengan negatif.

Seperti halnya shalat sebagai Pembinaan harian yang dilakukan dari waktu ke waktu tidak boleh terhenti dalam rangka ke sana. Kalau ada pembinaaan harian dan ada pembinaan tahunan dengan SHAUM, lalu bagaimana denganpembinaan  mingguan dan Bulanan…? ya…..!!, saum dan shalat sebagai pembinaan mingguan kita sering mendengar istilah shaum ( puasa ) senin dan kamis, lalu ada shalat jumat yang dilakukan hanya sekali dalam seminggu dan itu wajib dilakukan. Kalau begitu pembinaan bulanan apa ya…? Kalau tidak salah kita sering mendengar istilah tahajud. Disiplin waktunya sebaiknya dilakukan tiga hari diawal bulan atau tiga hari diakhir bulan. inilah pembinaan bulanan.

Mengapa ya…., Pembinaan hidup ditekankan pada shalat dan S H A U M.? Kalau di perhatikan Shalat dan shaum bagaikan pasangan serasi yang tidak gampang dipisahkan. Lihat saja Shaum Ramadhan dan shalat lailnya, shalat jumat dan shaum senin kamisnya. Ada Rahasia apa sebenarnya bagi kita yang mau melaukan shalat dan shaum dengan sungguh sungguh …….? Apakah hanya imbalan pahala dan surga yang entah apa , kapan dan dimana ……???????

Mari kita kaji lebih dalam dari sisi yang lain. shalat dan shaum hanya ditujukan kepada manusia, maka manfaat langsungpun akan kita rasakan secara jasmani dan rokhani.

Sehatnya rokhani makanannya adalah ilmu yang ojektif ilmiah yaitu Quran, dan dan sehatnya jasmani juga karena makanan yang bersih dan sehat yang dikenal 4 sehat 5 sempurna.

Megapa kita sering sakit jasmani dan rokhani sepert  pusing dan stresss misalnya  ……..????? Perlu di sadari oleh karena makanan yang masuk kedalam jiwa dan badan kita juga tidak sehat.

Apa hubungannya dengan shaum / puasa dan shalat….? Shaum salah satunya adalah untuk mengendalikan makan dan minum yang selama ini ( diluar ramadhan ) tak terkendali.  Hidup  bukan hanya untuk  Makan, melainkan  makan hanya untuk sekedar kebutuhan hidup.  Kebutuhan makan yang utama justru adalah makanan rkhani yaitu  kita butuh ilmu agar dalam hidup ini menjadi sadar akan apa yang dimaksud dengan hidup yang sebenar-benar hidup.  Inilah kehidupan yang sesungguhnya yang berbeda dari kehidupan Binatang.

Jadikita melakukan Shaum dan shalat adalah untuk mengendalikan makanan baik jasmani maupun rokhani. namun sayang kebanyakan manusia masih terfokus pada makanan jasmani.  Maka dapat dirasakan bagi yang sadar apa makna shaum itu sendiri , yang selama ini hidup didominasi urusan seputar perut utamanya makan maka dengan shaum dapat di kendalikan. .

Lalu apa hubunganya shalat dengan makanan Rukhani…? Sejatinya shalat itu adalah pembukuan iman. Iman harus dengan ilmu. Maka yang perlu disadari disini bahwa ketika kita shalat , terutama setelah baca alfatihah yaitu membaca ayat-demi ayat, sebaiknya berganti-ganti. Bukan seperti yang dilakukan oleh saya pribadi, dhuhur baca annas, ashar baca alikhlas, maka dua ayat itu berulang selama 5 waktu dari hari kehari bahkan dari tahun ketahun…? kalau seperti itu yang di lakukan…., .saya khawatir ibarat pembangunan sebuah gedung hanya menggeser dua buah tumpukan batako dari depan ke belakang setiap waktu demikian.  Akankah tercipta  bangunan gedung yang megah…..? sepanjang hidup hanyalah impian gedung, impian membangun surga.   inilah shalat shahun yaitu shalat yang nilainya adalah NAAR. jadi lalainya  shalat bukan hanya karena waktu, tetapi karena faham atau tidaknya terhadap ayat-ayat al-Quran sebagai sumber ilmu yang nilainya obyektif ilmiah. Jadi intinya shalat pembukuan ilmu, yaitu satu konsepsi yang benar yang objektif ilmiah untuk hidup manusia.

Lalu bagaimana hubungannya dengan S H A U M. shaum itu adalah untuk membina secara fisik dan mental dalam aplikasi berbuat hidup menuju sabar. yaiatu terus menerus dibina dengan ilmu sebagai konsepsi . dan untuk menjadi  aplikasi hidup sesuai dengan konsep Quran dibutuhkan shaum. Jadi mengapa shalat dan shaum tak dapat dipisahkan, karena sejatinya pembinaan fisik dan mental juga tidak dapat dipisahkan.

Rasanya masih banyak yang belum menyadari sejauh itu fungsi shalat dan shaum. Kalau mau lebih jelas marilah diskusi, sharing, agar kita berbuat sesuatu bukan motif pahala dan dosa semata. mudah-mudahan kita mendapat Ridhanya.amien

Published May 6th, 2011

Tanggapan, Sebuah Realitas

Tanggapan, Sebuah Realitas
Tulisan ini dibuat untuk melengkapi sebuah komentar saya di Blog Pak Bambang Wahyudi yang berjudul Realitas. Berdasarkan pengamatan beliau realitas yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya apabila seseorang mempunyai konsep bagus tetapi kenyataan hidupnya tidak mencerminkan perilaku yang bagus, pada akhirnya orang berpaling darinya. Dicontohkan Dai Kondang AA , yang begitu luarbiasa isi dakwahnya, setelah dia dalam kenyataan hidupnya mempunyai istri dua, bahkan pada akhirnya dipilih istri yang lebih muda dan lebih cantik, umatnya super kecewa. Intinya dakwahnya, tidak laku lagi.

Dari salah satu contoh realitas seperti yang diceritakan diatas, ternyata dalam segi kehidupan yang lain kisah cerita serupa sering terjadi. Titik kuncinya bukan pada peristiwa beristri dua atau selingkuh, disini tekanannya adalah :
1. “Orang yang mempunyai konsep bagus belum tentu kenyataanya dalam hidupnya bagus”. Disini beliau menyimpulkan bahwa ini adalah bisa saja terjadi mengingat konsep “hubungan horizontal sesame manusia akan dapat terjadi seperti itu, namun hubungan manusia dengan Tuhannya, kemungkinan besar tidak berkurang keimannannya  bahkan bertambah, karena siapa yang dapat menduga hubungan seseorang dengan Tuhannya, karena Hubungan Tuhan dengan seseorang tidak Nampak terlihat. Hubungan hati yang tidak mungkin bisa ditebak. Ini adalah yang dapat saya tangkap dari Pak BW.
2. Lain Lagi dari Pak ATT, Beliau menyimpulkan bahwa percuma konsep bagus kalau tidak dibumikan, alias N A T O. Sepertinya beliau kecewa melihat konsep yang bagus namun realitas dilapangan tidak kunjung menyelesaikan masalah.

Komentar saya kepada Pak BW.
Bahwa intinya dari definisi “Hablumminallah wahablumnannas” konsep yang dipahami selama ini memisahkan …, pertama hubungan horizontal manusia dan manusia , kedua hubungan vertical manusia dengan Tuhannya. Karena konsepnya terpisah maka saya analogkan dua hubungan vertical dan horizontal tersebut seperti hubungan minyak dengan air. Hubungan yang terjadi sesama manusia, sama sekali tidak mencerminkan hubungan manusi terhadap Tuhannya.  Mengapa demikian ….? Iman yang ada wilayahnya hanya dihati, maka pantaslah yang mengetatuhi antara manusia dan Tuhannya , tidak dapat ditebak. Kalau Iman wilayahnya sampai kepada amalun bil arkan, maka hubungan manusia dengan Tuhannya jelas terlihat. Lihatlah  kata Allah bahwa jika manusia yang shalatnya Khasiun maka akan ” min astsarishujud” yang diterjemahkan  ada bekas sujut dikening manusia yang rajin shalat tersebut. Biasanya saya lihat banyak cowok yang ada hitam-hitamnya  di kening yang melambangkan seringnya dia berkomunikasi dengan Tuhan lewat Shalat.  Tahukah makna yang sebenarnya…? Siapa yang melakukan shalat khasi’un, atau dengan benar maka ada bekas sifat merunduk patuh  terhadap Tuhan dalam hidupnya.  Maka jelaslah disini bahwa hubungan manusia dengan Tuhannya dapat terlihat jelas sampai kepada tindakan setelah melakukan shalat. Kepatuhan di  tempat kerja pada aturan, rajin,  tidak pemalas, suka menolong. Ini contoh pengertian hablumminallah wahablumminannas. Tindakan kepatuhan dalam hububgan antar manusia merasa diperintah oleh  Allah.  Kalau pengertian iman  dan hubungan manusia dengan Tuhannya wilayahnya hanya di hati, contoh konkritnya seperti AA

Andai saja pengertian Iman wilayahnya sampai kepada tindakan dan pengertian “Hablumminallah wahablumnannas” dipahami  sebagai  “gerak horizontal sesama manusia sangat tergantung dari gerak vertikal manusia itu sendiri terhadap Allah” maka dua hubungan vertical dan horizontal menjadi satu kesatuan. Analog hubungan ini seperti air sirop dengan air putih. Dua hal ini menyatu menjadi sesuatu yang baru menyegarkan untuk diminum.

Bagaimana contoh konkritnya di lapangan…? Saya ambilkan contoh AA  lagi, JIka yang dipahami selama ini benar maka iapun akan mengajarkan konsep demikian:. Dalam Quran diceritakan bahwa Allah membikin hanya satu rongga dada hanya untuk satu hati. Disini Allah mengajarkan kepada manusia dengan bahasa lambang bahwa jika manusia dalam rongga dada diisi dua hati maka layaknya satu kapal dua nahkoda. Pasti ujungnya berantakan. Dan yatanya terbukti, bercerai , berantakan bak kapal pecah.. Jadi apa yang salah dari beliau..? Semua diawali dari p e  m a h a n k o n s ep    y a n g   s a l a h. Konsep salah maka aplikasinya juga salah. Andai saja Beliau paham dengan konsep yang saya ajukan , dan paham pula konsep yang lain seperti apa yang dimaui Allah yang sebenarnya…, pastilah akan takut melanggar perintah Allah untuk mengisi satu rongga dengan dua hati. Pasti mampu mempasifkan hawahunya.  setiap tindakan harus  selalu merujuk kepada konsep yang benar, dan berdoa ya Allah mudah-mudahan yang saya lakukan adalah memenuhi perintahmu. Jadi kalau sudah tahu bahwa ini salah maka segeralah bertaubat. Selama konsepnya yang demikian itu tidak tepat maka begitulah ujung akhir dari riwayatnya. Konsep Islam  datangnya Asing, dan konsep itu perginya juga asing.  Dan Saya jamin…, bahwa konsep yang lain dalam kehidupan juga masih asing. dan jika dipaparkan semua…, mampukah kita melaksanaknnya…..?

Komentar untuk Pak ATT.
Nampaknya Pak ATT telah muak dengan konsep bagus yang seolah meng awang awang. Perlu diketahui bahwa konsepsi yang bagus adalah yang methodis. Yaitu mempunyai bentuk berfikir/ model yang benar yaitu model  yang bersumber dari Ajaran Allah. Kedua Sistematis, Analitis dan Obyektif. Keempat elemen itu harus dipenuhi. Jadi sistimatika model dimulai dari konsep dengan rujukan dari Allah. Selama ini mengatakan dari Allah dari surat ini ayat ini, tetapi apakah mampu memenuhi  tiga unsure yang lain ? Harus diakui bahwa konsepsi yang dianut semacam AA , tidak memenuhi empat unsur diatas (akan panjang uraiannya karena menyangkut banyak hal). Bukan karena orangnya yang salah namun harus rendah hati mengakui bahwa yang dipahami selama ini perlu ditingkatkan. Tuntutan seperti Pak BW bahwa konsep harus dapat diujudkan, berarti ini adalah memenusi unsure obyektif. Pasnya satu konsep dengan kenyataan dilapangan. Konsep yang memenuhi 4 unsur tersebut akan memberi gambaran yang menenangkan bagi yang patuh. Dan akan memberi gambaran adzab yang maha pedih bagi yang ingkar. Namun sayang masal manusia maunya gambaran indah yang disuguhkan dan menghindari adzab pedih dari Tuhan. Namun dalam kenyataan tidak mau  ataukah tidak mampu  menyadari konsep apa yang digunakan. Biasanya  hanya berharap dan berdoa  tentang kebaikan namun tidak faham begaimana proses sampai menjadi baik.  Tak perlu didoakan jika konsepsinya memang salah otomatisasi salah juga ujungnya. Berdoalah selalu mencari mana konsep yang benar dari Mu  ya Allah, Dan mudah-mudahan ditajamkan hati untuk sanggup menerima petunjuk yang Engkau Maksudkan.

Jangan sampai pola pikir pak ATT, seperti mahasiswa…, banyak memahami konsep tetapi tidak dijalankan banyak dosa mendingan sedikit dipahami dan diamalkan sehingga dosanya sedikit. Banyak omong ujungnya NATO. Yang penting jalankan apa yang ada , tidak banyak omong , dan tidak banyak dosa.

Apa kelemahan dari prinsip ini.

1. menjauhi konsep yang dianggap rumit, tanpa menyadari bahwa konsep mampu memprediksi waktu yang akan datang. Bisa dibayangkan bagi nereka yang tidak tahu konsep bahwa besok gunung A mau meletus misalnya. bagi yang mengerti konsep ia tahu apa yang akan dilakukan.

2 Manusia yang faham dengan konsepsi , dapat dipastikan  berdoanya realitas dalam arti sesuai  harapannya sesuai dengan usaha uyang dilakukan. Bagi yang tidak faham konsepsi ia hanya pandai  berdoa ,  mohon hasil yang setinggi tingginya, namun usaha minimal sekali, dan biasanya baru sebatas  m e r a s a  telah berusaha maksimal.

3. Orang yang tak tahu konsepsi biasanya selalu mengeluh dan tidak tenang hidupnya. selalu menuntut lebih dari yang lain.

4. menjauhi konsep yang rumit dianggapnya, dikarenakan nantinya malu dengan konsep lama yang dimilinya ketahuan. padahal dia  ingin mempertahankannya. Biasanya manusia seperti ini karena egonya tinggi.

5. Sudah menjadi sifat manusia dengan posisi nyaman, akan sangat marah/tersinggung jika sesuatu yang menyangkut pribadi terusik  (konsepsi diri yang dipegangnya di ganggu.)

6. Konsep yang benar hanya milik hati orang yang bersih dalam hidupnya. Bagi mereka yang terlanjur berkarat besi, pastilah akan terdapat gaya yang tolak menolak.

7. Konsep yang benar diperlukan alat yang canggih, untuk dapat mengangkat /mengambilnya. namun sayang alat tersebut belum familiar bagi banyak orang.

8 dll. khawatir terlalu panjang  dan  menjemukan.

Catatan:

(Bagi laki-laki yang punya hasrat sama dengan AA  pasti akan mengkaunter, tuh nabi istrinya 4, terus bagaimana..? ).

Cobalah  jangan campur adukan dulu pembicaraan ini. Kita sadari dulu bahwa dari beberapa konsep yang selama ini saya kemukakan selalu mempunyai sisi yang berbeda dari pemahaman banyak orang. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa pandangan istri 4 nabi juga akan berbeda dari kebanyakan  orang. Mengapa demikian…? Berpuluh tahun dilakukan pengkajian, ternyata kita ada yang sengaja membikin kita menjadi demikian. Tidak dapat saya sebutkan A, B atau C. karena jawaban ditemukan dalam proses panjang yang akan pasti diperoleh setiap manusia yang akan sungguh-sungguh mencarinya. Butuh keikhlasan dan penyadaran diri bahwa diri  kita ini keliru. Jika kita masih merasa benar maka hidayah itu tidak mungkin didapatkan. Betapa susahnya mencapai hidayah ini, diungkapkan bagiakan sulitnya Onta mau masuk lubang jarum. Hampir mustahil bagi yang pesimis. Namun bagi yang tahu alat modern untuk menyerut benda sebesar Onta  sebesar itu ………semua tidak ada masalah. amien.

Published May 3rd, 2011

Ilmu dan Iman Bag II

Iman dan Ilmu (Bag2)

Cukup mengagetkan bila telah membaca dan mendapatkan kesimpulan akhir dari tulisan yang dipublis sebelumnya, yaitu masalah Iman dan Ilmu. Iman sebagai dasar ternyata ada pilihan. Dari berbagai sudut memandang ternyata Iman adalah mutlak harus dengan ilmu. Jika iman tanpa ilmu maka ibarat fondasi yang salah rancangan. Konsekwensi Iman dan ilmu bagaikan Gula dan manisnya yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Hanya dapat dibedakan dengan ketajaman dan kesehatan rasa. Kalau begitu…, apakah yang sudah melekat selama ini salah….? Terus….., bagaimana jadinya ini….?

Kembalikan pada mukadimah tulisan tentang iman dan ilmu. Kalau belum kenal maka tak cinta, karena tak cinta maka tak sayang , cinta harus wajar, cinta butuh pengetahuan sebagai syarat untuk membandingkan, nilai bandingan melahirkan pilihan. Alternatif pilihan banyak disuguhkan, maka mulailah niyat untuk dapat menempatkan. Dalam proses mencapai tujuan.

Inti yang akan disampaikan, bahwa bukan salah yang sudah ada, karena dua duanya berasal dari Allah yang menyuguhkan. Baik iman yang berasal dari kata kerja maupun dari kata benda. Disini hanya memaparkan sebagai perluasan dan pendalaman agar setiap diri mampu memilih dengan obyektif ilmiah. Pilihan yang disertai pengetahuan akan membuahkan buah kemantapan dalam pilihan. Melalui pengetahuan ilmiah, tidak lagi hampa dengan yang dilakukan. Kita diciptakan sebagai manusia yang informative, yang mampu menangkap berbagai informasi dari Allah. Dimana Allah selalu menyuguhkan dua pilihan, agar dimaksudkan manusia pilihan yaitu manusia yang mampu memilih. Itulah manusia yang diharapkan menjadi Khalifah dipermukaan bumi. Khalifah di permukaan bumi mesti tahu ilmu Yang benar dan yang salah.

Yang tidak tahu ilmu terkadang juga merusak tanpa disadarinya. Kalau diserukan agar janganlah menjadi perusak dipermukaan bumi, jawabnya saya adalah yang membangun kehidupan (Al-Baqarah :11). Sebagai contoh kecil sebagai ibu rumah tangga yang pekerjaan masak adalah pekerjaan rutinnya, jika diserukan janganlah masak dengan memakai bumbu masak yang berlebihan, atau jangan memakai minyak dan garam yang berlebihan, jawabnya inilah masakan yang enak memang harus demikian . Kasihan nanti roda perekonomian minyak, bumbu masak dan garam akan menjadi lesu, maka ibu rumahtanggalah sebagai pahlawan perekonomian. Begitu dengan Bapak / lelaki yang disuruh berhenti merokok pasti jawabannya tidak jauh demikian.

Iman dan Ilmu Sebagai warisan tidak mungkin ditampik/ditolak dari orang tua. Maka Warisan iman yang kita punya, adalah ibarat barang berharga yang baru sempat diserahkan demi keamanan dari orang tua dan nenek moyang kepada kita. Wajib kita syukuri karena modal utama telah didapatkan. Tugas kita adalah mencari tahu barang berharga ini untuk apa dan bagaimana mengasah dan memanfaatkannya agar menjadi lebih berguna.

Maka…, Iman dengan definisi baru, cobalah jangan reaktif dahulu. Apalagi langsung memfonis A, B, C. karena uraian belum selesai. Perlu digambarkan sisi lainnya yang memang belum pernah ada selama ini. Perlu step demi step memahami ini, dengan seiring harapan memberi pencerahan bukan menambah gundah gulana. Diperlukan bahasa sastra tinggi agar dapat menghaluskan rasa, hingga hati menjadi lembut , darah ikut mendesir, disertai gemeretak tulang yang menghantarkan niyat mulia mencapai yang diridhoi NYA.

Ibarat Pembangunan sebuah gedung megah yang melambangkan hasil peradaban tinggi di abad XXI ini, begitu kita membangun akhlak dan rokhani kita dengan iman. Selain dibutuhkan dasar, teknik, tujuan dan manajemen tinggi sebagai syarat utama dalam pembangunan ini, maka factor terpenting adalah menyiapkan mental hati untuk segera mengawali pembangunan diri agar tercipta bangunan jiwa laksana karya peradaban megah di abad ini. Mampukah Iman yang ada membangun sesama, mempersatukan jiwa bangsa, dengan doktrin ilmiah, bukan karena doktrin yang dipaksaan .

Apapun alasannya, berita akhir-akhir ini tentang bom, penculikan oleh NII, tawuran pengrusakan dan lain-lain adalah masalah serius yang perlu ditangani. Akar persoalan harus dicari. Dan dari pengamatan yang ada adalah berasal dari doktrin yang kaku, yang bersudut dari subyektifisme golongan tertentu. Benar dari golongan tertentu , kemudian menyalahkan golongan yang lainnya. Cobalah pandang bahwa apapun latar belakangnya adalah proses perjalanan yang belum selesai. Menuju benar dapat melewati yang salah. Begitu juga yang merasa benar hari ini ada kemungkinan besok tergelincir, karena sesungguhnya iman itu adalah yazid wayankus(naik-turun).

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a    h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bahwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar menjadi tidak  sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya.

Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah

“k e s a l a h a n     i m a n .”

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan      i   m    a     n .

Published April 11th, 2011

Hubungan Doktrin dan Ilmu

Hubungan Doktrin dan Ilmu
Melanjutkan pembicaraan pentingnya satu Doktrin yang ada pada Qs: Al-Baqarah ayat 2, ternyata Doktrin adalah sama dengan kebenaran yang tidak diragukan( dzalikal kitabula raibafihi hudal lilmuttaqiin). Karena kebenaran yang tidak diragukan ini berupa keterangan-keterangan dari Allah,  maka doktrin itu adalah Ilmu.

Pada QS- Arrakhman ayat 3, dengan jelas al-Qu’ran menyatakan “ ‘allama hul bayan” Dia Allah yang telah mengajarkan ilmu berupa rangkaian keterangan” Ilmunya tersusun secara sistematis, dan dapat diterapkan dalam kehidupan Oleh Nabi dan Rasul. Berdasar itulah maka Definisi Ilmu dapat di susun menjadi “ Rangkaian keterangan dari Allah, yang disusun secara teratur dan didukung oleh fakta, yaitu ujud kehidupan para Nabi dan Rasul.

Marilah kita bandingkan dengan teori tentang ilmu , berdasarkan teori Ilmu Barat : “ Ilmu adalah rangkaian keterangan yang teratur yang didukung oleh fakta” Sepintas tidak ada Perbedaan. Hampir sama. Lalu…. Apakah perbedaan yang ada disana…..?
Perbedaan yang paling menyolok dalam definisi Ilmu Barat yaitu , asal keterangan Ilmu / sumber Ilmu tidak disebutkan. Jadi pada definisi Ilmu Barat keterangan dengan sumber yang tidak jelas. Keterangan yang boleh diambil dari mana saja. Padahal kalau di runut, dari mana sumber dari segala Sumber Ilmu…? Bukan dari Tuhan… ??? “ bukan…!!

“Kata mereka. Karena para Ilmuwan akan mengatakan bahwa sumber ilmu adalah dari Experient/ pengalaman dan Ekperimen / Penelitian dan percobaan bukan dari “bima unjila ilaika”. Lihatlah sang Ilmuwan yang dengan bangga dengan penelitian dan penemuannya. Inilah karyaku…!! Inilah hasil penemuanku. Dari yang berupa knwoledge dan science. Secara lisan Mereka tidak berkata begitu. Tetapi buktinya mereka minta dihargai tinggi, kedudukan tinggi, kehormatan yang tinggi, sikap mereka yang tidak membumi dengan berbagai alasan kesibukannya itu…, adalah kenyataan hidup yang tak terbantahkan lagi. Sebenarnya apa yang ingin saya katakan disini.., Saya menduga Mereka ingin menggantikan kedudukan sebagai yang punya sumber keterangan. Atau bahasa kasarnya (saya menduga ) mereka ingin menggantikan Posisi Allah/ Tuhan. Astaghfirullah hal a’dziiiimm.

Saya berani mengatakan hal ini, karena kenyataan sehari-hari memang demikian. Mengujudkan kehidupan berkasta-kasta. Dan saya juga meyakini bahwa mereka sang Ilmuwan akan berteriak, Ahh…, saya sungguh tidak demikian. Itu hanya perasaan seseorang saja. Marilah kita berfikir jernih, Adakah kehidupan berkasta-kasta dalam kenyataan social kita…..? Jawabnya pastilah ada, walaupun kita tidak beragama Hindu, namun kasta itu melekat ada didiri kita. Kenyataan pada kasta tertinggi adalah para ilmuwan dan penguasa , sehingga akan sangat pantas kalau semua berlomba ingin naik pada kasta tertinggi. Pada Kasta tertinggi merasa menjadi waliyyun, wakil Tuhan, sehingga secara sistemik tidak menyadari memposisikan kedudukan sebagai sang pencipta…, “na’udzubillahi min dzalik “ . maka definisi ilmu barat menjadi pas dengan ujud kehidupan sekarang ini, yang lepas dari Ilmunya Allah. Namun mengapa kenyataan begitu….? Ini ada yang mendesain kita sehingga kita menjadi tidak sadar akan apa yang kita perbuat, atas satu doktrin ilmu yang tidak utuh.

Dengan dibuang Allahnya ternyata akan mampu menggeser peradaban yang sedemikian rupa. Yaitu menjadi peradaban yang lepas dari ajaran Allah yang duduk sama rendah berdiri sama tinggi , namun menjadi dominan peradaban berkasta-kasta, saling menginjak akibat derajat yang tingi rendah.
Apa yang mereka desain…..?. Karena Doktrin adalah sumber dari Allah, yaitu sumber dari segala sumber kehidupan maka untuk mengubah agar manusia lepas dari ilmunya Allah, maka Sumber Doktrinnya dibuang. Yaitu Allahnya dibuang. Dan ternyata, sangat terbukti bahwa kita sekarang dalam berbuat kurang berfikir terhadap dasar berpijak dimana dalam dasar berpijak Ada ilmunya Allah disitu. Lebih konkritnya merujuk pada sumber yang lain. Kita asing dengan yang kita yakini. Terlalu sulit bahasanya katanya. Isinya hanya sastra dan dongeng kata yang lainnya .

Dan lain-lain alasan sehingga menyebabkan kehidupan yang lepas dari Allah , misalnya

1. Karena Tanah milik yang punya sertifikat, bukan milik Tuhan , maka yang banyak memiliki sertiikat tanah akan membiarkan tanah itu tidak dikelola dengan fungsi tanah yang diperintahkan oleh Tuhan, untuk ditanami misalnya, yang penting haganya naik terus.

2. Karena mengajarkan ilmu bukan merasa diperintahkan oleh Tuhan maka, siapapun yang mengajar harus minta bayaran yang tinggi hatta seorang penceramah sekalipun. Apalagi…. Ilmuwan. ( ah…, khan wajar buat ongkos….!)

3. Yang banyak melakukan koruptor adalah pastilah mereka berdasarkan ilmu ekonomi atas doktrin dengan pengorbanan yang sekecil-sekecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya, dimana doktrin ini bertentangan dengan ilmu Tuhan. Tuhan megajarkan berkorban banyak baru akan menghasilkan banyak pula. Ahh…, saya sudah berkorban banyak tapi tidak membuahkan hasil…? Inilah contoh ketidaksabaran yang lepas dari Tuhannya.
4. Hukum yang digunakan oleh manusia di buat juga oleh manusia, sehingga wajar banyak hakim, jaksa dan ahli hukum lainnya dengan mudah melanggarnya. Coba kalau yang tegak adalah hukumTuhan. Maka Orang akan berfikir 1000 kali untuk melanggarnya.

5. Dan ….., banyak ilmuwan yang menyimpang dari teori yang diciptakannya sendiri, misalnya dalam ilmu kesehatan , pada waktu belajar difokuskan bagaimana focus untuk penyembuhan, tetapi mengapa dalam praktek fokusnya bergeser pada tariff…? Begitu juga akhli-akhli yang lainpun ujung akhirnya teori dan praktek menjadi saling bertolak belakang akibat bergesernya focus pembelajaraanya dengan focus aplikasinya.
Jadi yang benar ilmu Tuhan atau ilmu yang ada….? Sementara kita masih berdebat Quran bukan ilmu, Apakah itu ilmu…? Rumusannya mengawang-awang tidak menentu. Bisa A bisa B bisa A dan B dan bisa bukan A dan B. Harus bagaimanakah yang menjadi hudan lilmuttaqin. Hudan lilmuttaqin bisa Banyak……? Menurut A, B, C dan lain-lain…? Terlalu susahkah menafsirkan maunya Tuhan…., Sehingga manusia mempunyai tafsir sendiri-sendri…? Apakah Tuhan Tidak menciptakan alat untuk menafsirkan maunya Tuhan agar kita satu …? Seandainya ada alatnya apakah manusia mau menggunakannya …, karena sifat manusia yang keras kepala…? Apakah kalau satu pola pikir menjadi dunia sepi…? Dan apakah Tuhan yang menginginkan kita beraneka ragam agar ramai, berwarna warni, agar dunia indah itu yang dimaksud…? Duh Gusti…..!!! mana yang benar….? Itu Doaku …., yang tertinggi…!!!

Published December 10th, 2010

Ketangguhan Hidup


1. Perlunya Ketangguhan Hidup.

Hidup manusia dari hari ke hari selalu mengalami perubahan. Perubahan yang diharapkan tentunya berubah kearah yang lebih baik. Dalam menuju kearah yang baik itu , biasanya tidak seperti melewati jalan tol yang bebas hambatan, namun djumpai banyak rintangan dan hambatan. Jika dalam perjalanan hidup kita menjumpai rintangan , tidak bijak jika kita balik arah. Kalau kita balik atau mundur dalam perjalanan, berarti kemungkinan untuk sampai ke tujuan adalah nol, yaitu sama dengan gagal total. Oleh karena itu, rintangan harus dihadapi karena perjalanan tidak boleh berhenti. Menghadapi rintangan kita butuh ilmu agar kuat bertahan. Dilihat dari ukurannya pastilah ada rintangan yang besar dan ada kalanya kita menjumpai rintangan yang kecil.

Menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanan hidup agar sampai ke tujuan dengan selamat, perlu Ketangguahan hidup . Pertanyaan kita pada umunya, seperti apakah ketangguhan hidup yang mesti harus dilakukan…?

Pertama kita mesti faham peristilahan tentang hidup itu sendiri, dan ke dua masalah Tangguh. Hidup itu cirinya adalah gerak, maka sesuatu yang bergerak pastilah menuju perubahan. Perubahan yang sangat jelas terlihat adalah perubahan fisik nya menjadi lebih besar dari awalnya ketika masih bayi. Secara fitrahnya perubahan manusia , dengan bimbingan atau tanpa bimbbingan pasti kearah pertumbuhan yang lebih besar. Tidak pernah ada manusia menjadi bayi selamanya, hatta ada gangguan penyakit sekalipun manusia bayi akan berubah terus menerus tanpa hentinya.

Perubahan yang terjadi bukan hanya terlihat dari perubahan fisik manusia tetapi juga perubahan secara non fisiknya. Perubahan fisik bagi seorang anak akan terlihat jelas dari bayi yang kecil mungil hingga tumbuh menjadi dewasa, menjadi manuia yang normal sehat sempurna. Secara berat badan bertambah dari yang semula dikala bayi kurang lebih 3 kg hingga dapat mencapai 50 kg – 70 kg berat manusia normal dewasa pada umumnya. Tinggi badannya pun bertambah dari yang semula 50 cm dapat mencapai 150 -175 cm secara normal menjadi manusia yang sehat sempurna fisiknya.

Bagaimana perubahan non fisiknya….? Yaitu perubahan secara rokhaniyah yang tak tampak jelas dilihat dari penglihatan mata. Namun perubahan itu akan dapat dibedakan ketika seorang anak yang semua tidak dapat bicara menjadi dapat berbicara dengan lancar. Dari yang semula anak sangat tergantung dengan ke dua orangtuanya, namun kemudian menjadi manusia mandiri tak tergantung lagi dengan orang tua. Bahkan perkembangan non fisiknya akan melebihi kedua orang tuanya, karena selain tidak tergantung lagi dia bahkan mampu membimbing yang lain menjadi lebih mandiri misalnya. Sehingga kita dapat merasakan bahwa seorang anak tumbuh non fisikny a jauh lebih baik dari kedua orang tuanya.

Ke Dua, istilah tangguh. Sesuatu yang tangguh mengandung arti kuat. Tidak gampang patah. Dan yang jelas sesuatu dikatakan tangguh pastilah telah teruji berulang kali. Karena yang dibicarakan adalah ketangguahan hidup, maka hidup manusia dari segi fisik dan nanfisiknya harus kuat, tidak gampang patah (menyerah) dan teruji dalam kenyataan. Kalau ini sudah disadari dalam setiap diri manusia maka kearah itulah nantinya manusia menuju.

2. Ukuran Kwalitas Hidup manusia.

Lalu…, kemudian kita bertanya…! Hidup yang seperti apa yang seharusnya..? Sebagian orang akan beragam untuk menjawabnya. Banyak diantara mereka yang menginginkan hidup itu harus kaya,harus sehat, harus jadi orang besar, terpandang dan terhormat dan ada pula yang mengharapkan hidup itu haruslah bermanfaat bagi sesama. Yang mana yang semestinya di pilih…? Manusia pada umumnya ingin semuanya, tanpa kecuali. Adakah ranking prioritasnya…? Mana yang harus didahulukan antara kebutuhan jasmani dahulu atau kebutuhan rokhani dahulu yang diutamakan? Rupanya ini suatu pertanyaan sulit yang jarang difikirkan. Lalu…., kemana kita cari rujukan…?

Dikala kita masih bayi tumbuh sampai mejadi aqil baligh, tentunya kita melihat seorang ibu akan mengutamakan kebutuhan fisiknya. Dari keperluan makan yang bergizi, minum susu pelengkap hidup sehat, hingga pakaian bersih yang bebas kuman. Sangat terlihat sangat dominan pemenuhan kebutuhan fisik yang diutamakan. Begitu kita dewasa, kebutuhan mana yang didahulukan…..? Ketika seorang mama/ ibu mengajarkan kepada anaknya yang masih balita…” Kemana ayah pergi..?” Kerja! Cari Apa…? Duit…! Buat beli Apa…? susu…! Disini bukti nyata bahwa kwaliatas hidup manusia diutamakan fisiknya daripada non fisiknya.

Bukti lain yang Nampak jelas ketika disana sini, manusia berlomba untuk cari kekayaan dengan berbagai cara. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian terjadi fenomena korupsi, kejahatan, pencurian dll, sebagian besar berlatar belakang ekonomi demi pemenuhan kebutuhan fisiknya. Ini adalah realita masyarakat yang terjadi sekarang ini.

Bagaimana kita melihat perintah Tuhan yang seharusnya dilakukan…? Disiplin yang mesti dilakukan pada Qs. Muzzamil adalah, malam belajar mencari ilmu umtuk kebutuhan rokhaninya bagaikan akan mati besok dan carilah keperluan hidup fisik disiang hari bagaikan hidup 1000 tahun lagi. Perintahnya sangat jelas bahwa pemenuhan kebutuhan rokhani disebut lebih dahulu diutamakan barulah pemenuhan kebutuhan jamani. Kedua kebutuhan ini , pemenuhannya seimbang tanpa berat sebelah. Fisik dan non fisik semuanya adalah penting dan utama. Namun harus digaris bawahi bahwa kebutuhan rokani yaitu ilmu disebut pertama baru kemudian kebutuhan jasmani. Kenyataan dalam kehidupan yang diutamakan adalah jasmani atau fisiknya yang ditonjolkan,hingga timbul semacam doktrin yang mengatakan bahwa didalam badan yang sehat, terdapat jiwa yag kuat! Benarkah……? Bagaimana dengan orang gila yang berbadan sehat wal afiat, namun rokhaninya demiian…? Mana yang mestinya didahulukan….? Kesimpulannya kebutuhan pokok yang diutamakan adalah kebutuhan jasmani pada umumnya , yaitu makan dan minum, maka makanan kebutuhan rokhani adalah ilmu yang mencerahkan, sering dilupakan.

3. Kebutuhan Rokhani

KeKebutahan rokhani itu apa …? Kalau kebutuhan jasmani adalah makanan yang utama maka kebutuhan rokhani juga makanan, yaitu ilmu Tuhan, yaitu Quran bagi yang beragama Islam. Kalau dalam hidup ini ingin tangguh , pastilah kita akan merujuk dengan aturan Tuhan, kembali ke Qu’ran . Tuhan telah memberikan perintah untuk mendahulukan Rokhani.

Ini terlihat pada waktu dua orang mau menikah dianjurkan untuk sekufu (sama). Sama yang dimaksud bukan sama kedudukannya sama-sama kekayaannya, sama pangkatnya atau sama derajat pendidikan s1 atau s2nya, namun sama yang dimaksud adalah sama pandangannya. Maka sudah kita ketahui bahwa nikah dari dua agama yang berbeda menjadi dipersulit bahkan kharam kata sebagian orang, hal ini dikarenakan tidak sama dalam pandangan. Pandangan yang berbeda berarti berbeda dalam hal pendidikan rokhani terutama, yang akan mempersulit hidup ke depannya nanti. Disini sebenarnya ada yang mau di angkat bahwa pernikahan adalah pendidkan awal sebagai kebutuhan rokhani manusia lebih diutamakan. Namun ini sayang ….., jarang yang berfikir demikian. Sadarilah bahwa Tuhan sudah mempunyai rancangan hidup tangguh dengan sistimatik yang luar biasa. Awal dimulai lahirnya manusia baru, sudah terdapat rancangan hebat yang demikian. Namun sekali lagi manusia pada umumnya sebatas memandang secara fisik saja sehingga hal yang demikian jarang difikirkan.

4. Isi Makanan Rokhani

Ketika kita menyadari bahwa makanan ilmu adalah ilmu, dari mana ilmu doperoleh…..? pastilah hasil dari belajar. Apakah belajar itu ? belajar bukan sekedar membaca, namun belajar itu memindahkan isi bacaan mejadi milik diri, pindah menjadi isi otak yang kemudian disimpan di hati. Jadi di dalam ilmu itu akan ditemukan berbagai rumusan-rumusan yang berguna dalam kehidupan. Rumusan-rumusan itu tidak selamanya harus berbentuk matematika, atau rumusan fisika kimia yang bikin pusing kepala, namun rumusan dapat berbentuk doktrin-doktrin yang tertulis dalam bahasa kitab, dengan rumusan yang mudah difahami. Biasanya rumusan itu berbentuk bahasa sastra yang indah sehingga bagi yang berhati lembut dan bersih akan mampu menangkap, sehingga mampu mengubah menjadi energy dahsyat menjelma menjadi semangat juang untuk menempuh perjalanan hidup. Contoh sastra sederhana yang tertulis dalam kitab, misalnya disitu terlukis cerita yang menjelaskan tentang perjalanan manusia yang bergonta ganti pandangan menjadi . “ Tsumma amanu, tsumma kafaru, tsumma amanu tsumma kafaru” ujung akhirnya adalah kafaru. Jadi kalau kita kadang baik, lalu jahat, baik lagi, jahat lagi, terus menerus demikian tanpa menyadari ini adalah rumusan, pastilah ujung perjalanan kita adalah kafaru. Celakalah hidup kita ini. Terus bagaimana…., padahal yang kita lakukan setiap hari juga demikian, seperti lagunya gigi” pagi beriman, sore lupalagi…., pagi beriman sore lupa lagi….!!!! Kalau kita menyadari bahwa memang demikian hidup kita, maka tanamkan bahwa hidup selalu berubah, kita dapat dan mau merubahnya. Dalam perjalanan merubah ke jalan yang lebih baik, tidaklah mudah, banyak rintangan. Oleh karena itu perlu ketangguhan. Ketangguhan pasti teruji, maka dikala kita diuji atau dapat cobaan janganlah gampang menyerah. Cari ilmunya agar menemukan rumusan yang membangkitkan semangat yang akan menjadikan kuat. Yaitu belajarlah sendiri atau cari guru untuk menjelaskan yang kita perlukan. Kalau ini dilakukan terus menerus insyaallah hidup tangguh itu akan didapatkan. Ammien. Walaupun kenyataan kita terlihat selalu salah benar-salah benar, tetapi kalau kesalahan itu adalah hasil dari upaya mencoba untuk berubah kepada yang baik maka ayat yang lain menjeladkan adalah sorga ujungnya. Jadi kesimpulannya bagi yang bergonta-ganti prinip atau pandangan karena selera, bukan upaya kerass maka itulah yang ujungnya kafaru, atau kafir pastilah neraka. Maka Janganlah menyerah, cari rujukan illmunya ….., dan selalu berusaha ….!!! menjadi kuncinya….!

disebutkan dalam Al-Bagarah 165, “annal Quwwata lillahi jami’a” sesungguhnya hidup tangguh (kuat ) itu adalah dengan ajaran Allah yang dipatuhi dengan setepat-tepatnya.

“Asyaithanu asyarifu anthariqil haq. Syaitan itu adalah yang merusak tatanan hidup yang hak atau yang benar.”


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.