rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for the ‘cerita anak’


Published September 5th, 2011

Makna Idul Fitri Dimata Anakku

Hari Minggu, 28 Agustus 2011 Dua hari sebelum Idul Fitri ( kami berlebaran hari selasa 30 agustus ), seperti keluarga yang lain kami sibuk mempersiapkannya. Hari itu kami berdua suami, pergi ke pasar di hari “Prepegan” yaitu hari dimana puncak kepadatan orang berbelanja di pasar tradisional menjelang hari Raya.

Segala keperluan memasak, mulai ketupat daging, ayam kampung, santan, kentang dll kami beli dengan berdesak-desakan. belum lagi terbayang memasaknya sendiri  tanpa bantuan Pembantu.  Perjuangan di pasar untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan adalah suatu perjuangan luarbiasa. Belum lagi Perjuangan dan pengorbanan harus rela bayar mahal berbagai barang yang harganya melambung tinggi.

Perjuangan belum usai…, sampai di rumah  jam 10.00 . ternyata  ke empat anaku belum ada yang bangun.  Wah wah… rasanya darah sontak mengalir ke ubun-ubun. Begitu juga suamiku.  Dengan nada tinggi, dan setengah berteriak … satu persatu anakku di bangunkan oleh suami. Namun dasar anak-anak, mereka susah untuk dibangunin, Dengan amarah yang memuncak…, suamiku ambil gayung berisi air , maka satu persatu anakku dibangunin dengan diguyur air. Lantai dan kamar menjadi berbasah-basah ria…, biarlah sebagai pelajaran. Sesekali harus keras terhadap anak  …., pikirku . Sekeras  dan seteguh itu mudah-mudahan kami sebagai orang tua berpegang teguh terhadap prinsip hidup, begitu anakku kelak.   “Sontak mereka bangun dan langsung  mandi…!!!”. Karena kamar mandi hanya ada 2, maka 2 anakku yang lain masih nunggu giliran. Anehnya dua anakku yang belum mandi kebetulan yang sudah besar ( satu berumur 16 h dan  kakaknya 18 th) mereka tidak ada wajah kesal sehabis diguyur air. Malah mereka tersenyum - senyum sambil ngeledek.

“lagi enak-enak mimpi.., kenapa dibangunin pak???” kata mereka berdua.  ” saya tadi rasanya pingin berenang, kok belum ke kolam sudah basah..? eh…, ternyata diguyur sama Bapak. Begitu canda anakku yang lelaki. Selanjutnya, malah dia berceloteh panjang lebar, demikian ” Mama dan Bapak baru pulang dari pasar, tempat pestanya para setan.., pantes pulang-pulang marah-marah, ada yang ngikut barangkali.  Kita jadi kena  batunya.  Ngapain juga  mama  dan papah maksain ke Pasar,  mau lebaran…???? atau  apa mau  Idul Fitri mah…?  Kalau Idul fitri  ngga harus pesta besar khan..? Beda kalau memang mau ngrayain Lebaran. Lebaran = bubaran puasa  sama dengan bubaran nahan makan , ceritanya mau ngrayain makan besar yang selama ini  ditahan-tahan ya mah…?  Pantes ya  orang-orang juga sama seperti  mamah “. celoteh anakku yang ngga habis habis.

Belum puas berargumen, kemudian dia lanjutkan lagi, “Kalau aku sih…,  Idul Fitri ini berarti aku mau tampil  beda. Bukan makan untuk kebutuhan jasmani yang diutamakan, namun makan  berbagai pelajaran sebagai kebutuhan rokhani .     Ibarat tadi aku tidur diguyur dengan air, mudah-mudahan  selama ini aku  sadari hidupku bagaikan lagi  tidur, sehingga saya tidak sadar ,  malas bangun, males sekolah, males mandi dll.

Setelahnya  diguyur dengan air yang bagaikan pelajaran yang mampu merubah  aku.  Bahkan aku mau  menjadi lebih baik. ngga apa-apa aku tadi diguyur, berarti menyadarkanku untuk ber Idul Fitri bukan untuk Berlebaran Seperti Mama.

Published August 14th, 2011

Jangan Takut Tidur Hanya Sebentar

Cerita ini datang dari anakku tadi pagi…, Ketika bangun pagi  diruang tamu buku-buku berserakan,  tetapi yang kulihat bukan buku pelajaran. Melainkan buku-buku yang membahas tentang Ramdhan dan idul Fitri. Rupanya anakku sedang ada tugas sekolah tentang yang berkaitan dengan Sanlatnya (Pesantren kilat).

“Mengapa kamu tidak beresin Nak, ruang tamu jadi berantakan seperti ini….!!!”,  tanyaku . kemudian anakku menjawab :”Sengaja mama…, biar mama tahu kalau saya sudah berusaha rattil (belajar dengan segenap kemampuan). jawabnya . maka dengan spontan , setengah berteriak “Alkhamdulillah….! kamu lagi sadar….?” tanyaku keheranan.

“Bukan cuma itu mah…!”,     “saya lagi membuktikan teori baru  tentang  jumlah jam tidur , yang kata guru tidur paling tidak 8 jam.” itu ada pengecualian mah, tidak berlaku semua. dan aku punya teori baru.” Jawab anakku, sok pinter dengan lagak gayanya.

Kemudian  anakku melanjutkan ceritanya: “Kalau minimal tidur 8 jam dengan kondisi kegiatan kita normal, tidak ada masalah apapun. Namun ketika kita punya masalah/ tugas (tidak harus masalah itu jelek), jam tidur dapat dikurang juga tidak apa-apa.

Masalah yang saya maksud mah…,  adalah ,  saya lagi tertarik dengan tugas yang diberikan guru dan saya sendiri tertarik dengan tugas itu. Dengan senang hati tanpa henti saya tidur  mulai jam 01.00.  Saya Niyatkan betul mau bangun lagi sahur . saya berdoa ketika mamah bangunin saya sahur..,  ngga susah bangun lag  khan mah…!!i. dan  berarti benar, kalau tidur cuma sedikit kalau punya model, atau tipe ngga masalah .

Kesimpulan saya mah (dengan gayanya yang sok pinter :

1. tidur sebentar tidak jadi masalah, karena saya bangun sahur dan tidak tidur lagi ternyata seger-seger saja. Padahal saya baru tidur jam 01.00

2. tidur harus punya niyat atau harus diawali dengan niyat yang bener dan mohon dengan sangat dbangunin sesuai keinginan. (inilah bentuk model

3. Tidur itu harus berkualitas dan berisi

kualitas tidur itu adalah adanya setting pikiran yang positif diisi sesuatu ang positif yaitu diawali dari hasil belajar.

4. Ketika bangun besukurlah dan berjanji besoknya mau bangun lebih baik lagi.

5. Seting pikiran kita bahwa tidur sedikit itu juga menyehatkan asalkantiurnya berkualitas.

Published August 11th, 2011

Pertanyaan Anak Seputar Ramadhan


Pertanyaan Anak Seputar Ramadhan

Kesempatan dibulan Ramadhan adalah kesempatan baik untuk dapat saling sharing dalam keluarga. Kesempatan ini mudah dilakukan mengingat kebersamaan dirumah untuk makan bersama relative lebih sering dibandingkan pada hari-hari biasanya. Kesempatan ketika berbuka puasa dan shaur adalah kesempatan dapat bercengkerama dan bersendagurau bersama keluarga.

Spirit Ramadhan bagi yang menjalankan shaum adalah spirit menuju perbaikan hidup pribadi dan keluarga. Kesempatan dapat bebincang tentang hidup dan mati menjadi diskusi panjang menghiasi Bulan Ramadhan tahun ini. Dua Anakku sudah mulai tumbuh dewasa (Anak yang pertama perempuan duduk di bangku kuliah dan yang ke dua anak lelaki yang kini duduk di kelas tiga SMA ). Mereka berdua sedang mencari arti hidup yang sebenarnya, sehingga lewat diskusi menjelang dan setelah makan buka maupun sahur , mereka menanyakan tentang beberapa hal tentang hidup manusia.

Hal utama yang mereka pertanyakan oleh anak lelakiku adalah,

1. “sebenarnya puasa ini untuk Allah atau untuk siapa ma…? Jawabku: “ya untuk manusia yang menjalankan puasa nak..!” Kemudian lanjutnya bertanya,”Mengapa pada makna doa berbuka puasa ini untukMu (Allah), Apakah allah butuh puasa manusia…? Penjelasanku padanya:”Doa berbuka “Allahumma lakasumtu….” Artinya ya AAllah saya menjalankan Puasa ini adalah menurut perintahmu….:\”, “bukan Ya Allah puasa ini adalah untukmu….” Disini perbedaanya terletak pada huruf jar “la” ka. Kalau dalam bahasa Inggris setara dengan “in” yang maknanya tidak harus didalam. Begitu tentang “la” tidak selamanya maknanya adalah untuk, namun bisa juga maknanya menurut. “Mengapa makna yang ada bisa begitu ya Mah…? “Tanya anakkku lagi. “Dalam hidup diperintahkan kita terus belajar sayang…,” “Manusia diberi akal, sehinga mampu menilai mana yang pas dan mana yang tidak. Silahkan dipilih. Kamu sudah besar, pastilah dapat dengan jujur menetapkan pilihannya.

2. Kalau benar memang untuk kita shaum ini, lalu apa yang dapat kita ambil manfaatnya…? Shaum sendiri adalah pembinaan kesabaran iman. Tahukah sabar dan iman anakku ? Iman adalah menyatunya hati ucapan dan perbuatan. Untuk dapat menyatu menjadi demikian perlu pembentukan pandangan diri kita, seperti yang di ajarkan Allah sehingga sikap kita nantinya sama dengan pandangannya. Dimana sabar adalah berpegang teguh dengan ajaran allah dalam kondisi bagaimanapun. Jadi Intinya berpuasa / shaum itu adalah pembinaan kesabaran yang luarbisa karena iman. Inget bukan karena ketakutan suatu oknum”. Nakku langsung menyela :”Maksudnya mah…..?” jawabku selanjutnya: “yah…, kalau kamu menjalankan shaum karena takut sama mama, atau takut karena Allah…., itu ngga ada nilainya”. “Inti kesabaran disini adalah menjalankan sesuatu karena kesadaran diri menjalankan perintah Allah, sehingga melakukannya penuh dengan kecintaan. Karena sesungguhnya iman itu adalah cinta yaitu “Asyaddu hubballillah”

Pertanyaan lain muncul dari anakku yang Perempuan

1. “Kalau niyat puasa itu agar kita menjadi lebih kurus boleh ngga“ (Anakku tergolong agak gendut soalnya) . Jawabku kemudian :” Semua pebuatan itu adalah berpangkal pada niyat, jika niyat kurus itu hanya karena pingin langsing untuk menarik lawan jenis…, nilainya hanya menjadi laknat Allah nak…., namun niyatkanlah karena yang diperintahkan Allah (karena Allah). Apa yang diperintahkan oleh Allah berkaitan dengan pusa dan tubuh manusia…? Tanyaku selanjutnya! “Intinya supaya tubuhnya menjadi semakin sehat sehingga dengan begitu kita menjadi lebih bermanfaat terhadap sesama”. Anaku bertanya lagi :”Mengapa manusia cenderung tidak sehat baik fisik maupun non fisiknya…? Saya menjawab lagi :”Sebab jika tidak shaum, perut manusia tidak dapat dikendalikan, dan dari perut itulah sumber penyakit fisik maupun non fisik”. “sesungguhnya hampir 75 % aktivitas manusia ditujukan hanya untuk urusan perut. Lalu bagaimana yang 25 % lagi mah…? Jawabku :” sisanya adalah urusan sekitar perut. Atas perut dan bawah perut. Urusan atas perut meliputi urusan tentang, kehormatan, jabatan, harga diri kedudukan dll. Dan urusan bawah perut setelah itu urusan kedua yaitu urusan bawah, setelah urusan perut tersebut terpenuhi. Jadi urusan bawah perut, kemana lagi kalau bukan urusan sex, atau pasangannya.

2. Apa yang dikatakan guru dulu, katanya setan itu diikat ketika rhamadhan. Kok kejahatan masih tetep ada dibulan Ramadhan…? Bertanyaan bersambung tak ada hentinya dari putriku. Lalu jawabku panjang lebar demikian:” Bahasa Quran itu adalah bahasa tinggi nak…? Jadi memahami istilah tersebut harus klar….? Tidak boleh sepotong. Bahaya jadinya jika pemahaman tidak diarahkan kepada bahasa tinggi yaitu sastra. Sekarang luruskan dulu pengertian setan. Setan adalah yang membuat / menggeser manusia menjadi berbuat negative. Yang membuat negative itu ujudnya tidak kelihatan, namun dapat kita rasakan akibatnya. Contohnya angin juga begitu khan…? Jadi setan juga semacam itu, itulah makhluk gaya. Dia akan muncul ketika kita merasakan ditarik kearah negative. Jika kita bergerak kearah yang positif otomatis dia terpelanting. Maka di perintahkan kita supaya selalu berbuat positif agar setan itu seolah terikat. Karena positif dan negative sejatinya tidak dapat melebur, sehingga istilah mengikat jika kita meleburkan kedalam yang positif. Kemudian dia anakku nyerocos lagi…! :” jadi yang disebut dengan setan itu diikat di bulan ramadhan akibat manusia yang menahan hawa nafsunya = berbuat positif maka otomatisasinya nafsu manusia pasif = terikat. Bagitu bukan….?? Ya betul dan pinter anakku…! Wah…., hebat ya bahasa Quran, pakai istilah positif, negative, melebur dan terikat, yang dekat dengan bahasa fisika dan kimia”. Jawabku: “memang begitu bahasa Quran penuh dengan bahasa satra tinggi, sehingga bahaya sekali jika pemahaman kita dengan bahasa leter lek, sehingga dalam kehidupan selalu berbenturan dalam kehidupan.

Published August 8th, 2011

Kenangan Puasa Seorang Anak

Ramadhan selalu ditunggu……!!!!!, Benarkah…..? ketika kecil dahulu…, saya belum mengerti apa arti ramadhan itu …!!! yang ku ingat aku pasti akan berlapar-lapar ria…..!!  rasanya sangat menyiksa .  Berat sekali menjalankan kebiasaan tidak makan selama satu bulan , dimana bulan yang lain tidak demikian.  Ditambah lagi bangun sahur, adalah hal yang lebih berat lagi membuka mata walaupun untuk makan.  Dunia terasa dibalik 180 derajat.  disuruh makan begitu beratnya, apalagi disuruh tidak makan lebih berat lagi.

Ketika itu saya protes.., mengapa menjadi muslim harus menyiksa diri…? padahal agama lain tidak harus demikian.  Rasanya Tuhan tidak adil…..!!. Lingkungan keluarga  yang keras terhadap puasa mendorong rasa takut kalau tidak menjalankan puasa.  Selain ancaman Dosa…. , bisa tidak mendapat baju lebaran jika puasa tidak penuh dilakukan.  Karena rasa takut dan berpikir  berat menjalankan puasa itulah , yang lebih mendorong menjadi semakin lebih ingin untuk putus menjalankan puasa.    Maka ketika itu , saya sering ngumpet-ngumpet hanya sekedar minum saja ketika haus  dan mencicipi makanan yang dikumpulkan dari pagi hingga petang dan dari berbagai sumber untuk buka nanti.

Sepanjang hari sibuk mengumpulkan apa saja yang dapat dimakan  untuk buka nanti, sehinggga seringkali makanan mubazir tidak dimakan karena perut sudah kekenyangan.  Bayangan makanan apa saja disiang hari terasa lezat dan nikmat. Padahal sesungguhnya yang dibutuhkan tubuh cukup sedikit saja, dan belum tentu enak ketika dimakan malam harinya . Belum lagi nafsu makan yang luarbiasa …  akibat menahan lapar yang amat sangat , sehingga ketika beduq magrib tiba…., makan cepat dan terburu-buru  biasa dilakukan hingga perut terasa cepat penuh bahkan saking penuhnya terasa sampai hampir menyentuh dada.

Beberapa kali masih teringat ketika itu,  eyang membawa centong (alat mengambil nasi) diurutkan diperut perlahan-lahan, yang konon berhasiat mengendurkan urat  syarat diperut, agar berkurang rasa sakit akibat kekenyangan.

Hal lain yang menyebalkan bagi anak kecil ketika itu, saya harus shalat tarawih di rumah berjamaah dengan tetangga sekitar yang jumlah rakaatnya lebih banyak, sementara di mushala dekat rumah ada yang menjalankan shalat tarawih  rakaatnya lebih sedikit.  Untuk kesekian kalinya saya merasa Tuhan tidak Adil. Dan sampai saat inipun pertanyaan itu mengapa berbeda rakaatnya belum ditemukan jawaban.

Waktu itu saya teringat masih sekolah di Sekolah Dasar. Banyak hal konyol yang dilakukan namun merasa lumrah untuk dilakukan. Belajar dari pengalaman kecil itulah maka saya tidak ingin terjadi pada anak saya   menjalankan puasa seperti saya.

Published January 27th, 2010

Keadilan

Anak bungsuku duduk di kelas 3 SD Negeri. Jadwal masuk sekolahnya siang dan pulang sekolah sore hari. Di Sekolah dia sebagai ketua kelas, badannya cukup besar, cerdik ,  berani daaaann…., agaaakkk……, apa ya…. susah ngomongnya. (sssstttt…, seorang Ibu secara Psyikologi dilarang labeling yang jelek terhadap anaknya) .    Suatu hari  jam dinding baru menujukkan jam 14.30 tiba-tiba dia sudah pulang dengan girangnya.

Bapak     : “Arul , jam segini kok sudah pulang…..?”

Arul        : “Bolos….”. dengan wajah tanpa dosa

Bapak     : “Dengan nada tinggi, ” Ngga boleh begituuuu….!!! nanti ngga naik kelas…!

Siapa yang  ngajari…!!!

Arul        : “Dengan nada yang tinggi juga    dia Jawab,

” Bapaaaakkkkk…!”

“Bapak aja hari ini Bolos kerja, khaaaaann…!!!

Bapak     : “Bapak lagi cape  Rul….!!! dengan muka merah, tersenyum kecut.

Arul        :  “Bapak, Ngga adil…., arul bolos diomelin terus,    Bapak bolos, yang omelin Bapak  siapa…..? 

“ngga adil…..!!!”


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.