rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for the ‘Analisa Bahasa’


Published December 16th, 2010

Tidak Tahu atau Tidak Mau

Diam…, adalah emas. Begitu pepatah mengatakan. Pada situasi yang memungkinkan untuk berbicara akan menambah buruk keadaan, mungkin pepatah ini  dapat digunakan secara tepat. Namun ketika ada persoalan yang membutuhkan seseorang harus memberikan komentar, namun kemudian yang dilakukan hanya diam seribu bahasa, maka diam itu akibat  tidak tahu atau karena tidak mau menjadi sulit dibedakan.

Sulit memang untuk, dapat mengerti bahwa diam itu diakibatkan karena  tidak tahu atau karena tidak mau. Namun kalau kita lihat dari model bahasa percakapan, dimana bahasa percakapan itu  sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya nada bicara,   ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya, maka mestinya kita dapat memahaminya.

Karena diam tidak mengeluarkan suara, maka dilihat dari tinggi rendahnya nada bicara tidak dapat dikenali arti diamnya itu. Oleh karena itu kita dapat mempelajari dari ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya.

Dari Ekspresi wajah, biasanya yang kaya mengandung makna, adalah dilihat dari ketajaman sorot matanya. Biasanya kalau orang tersebut diam karena tidak tahu, maka ekspresi matanya akan kosong, tidak dapat menatap tajam, dan tidak fokus. Lain halnya kalau seseorang hanya diam , tetapi sebenarnya dia tahu dan tak mau menjawab atau tak bisa menjawab karena ada sesuatu persolan maka tatapan matanya pasti tidak kosong. Diiringi oleh bahasa  tubuhnya biasanya akan memberikan isyarat tertentu melalui gerakan tangan, gerakan kaki, kepala dll.

Kalau diamnya seseorang kita melihat langsung ekspresi wajahnya, pastilah setiap orang akan lebih dapat menangkap mengapa ia diam. karena tidak tahu atau karena tidak mau.

Namun akan menjadi tingkatannya sulit, jika menebak mengapa seseorang diam, tanpa melihat langsung ekspresi wajahnya, misalnya hanya cerita orang.  Misalnya , diceritakan oleh temen bahwa mahasiswa yang diajar hanya diam saja. Mengapa mahasiswa diam…? ini susah dijawab karena kita tidak melihat langsung. Kalau kita melihat langsung pastilah ada isyarat dari ekspresi wajah atau bahasa lembaga tubuhnya yang lain sehingga kita akan menemukan jawaban. apakah dia diam karena tidak  tahu atau karena  tidak mau.

Kita perlu mempelajari lagi mengapa seseorang tidak mau menjawab . Dengan ilmu apalagi kita dapat mengenali jawaban yang ia mau….?

Published December 10th, 2010

SAYA IKHLAS BU…..!!!

Setiap kali jam makan siang, diruang makan tempat aku bekerja selalu kutanyakan keberadaan temanku sudahkah Ia pulang…..? Ia sedang naik haji tahun ini. Celetuk temanku, ” Hebat ya…., tukang cici piring dapat naik haji “.  Laporan dari seorang teman juga , Bukan cuma hebat , hajinya saja pakai plus-plus yang bayarnya dua kali lipat. Informasinya , dia naik haji dibayarin oleh adiknya  yang pengusaha kaya, dan pergi bersama kedua orang tuanya.  Pertimbangan Adiknya membiayai  dengan yang paling mahal karena dia sangat berbakti dan mencintai kedua orangtuanya., sehingga yang terbaik dilakukan demi orang tua. Beruntung temenku yang tukang cuci piring yang bertugas mendampingi sehingga ia bisa menikmati ibadah yang sama seperti orang tuanya.  Pertimbangan lain, mengapa ambil yang plu-plus juga agar waktu tempuhnya tidak terlalu lama, sehingga meninggalkan tugas kerjanya sebagai tukang cuci dan pelayan  juga tidak lama.

Hari senin kemarin , tgl 6 Desember 2010, saya mendengar dia sudah pulang, namun tidak ketemu. Tgl 7 libur, karena tahun Baru hijriyah. Dan tgl 8 Desember 2010, kami berniat akan kerumahnya untuk mendengar khabarnya. Alangkah terkejutnya hari itu juga saya ketemu dia.  Setelah kuucapkan selamat telah menunaikan Ibadah Haji, tiba-tiba  memegang erat tanganku yang belum terlepas berjabat tangan, sambil menangis….,” Saya  dipecat.., hari ini saya mau pamitan, mohon maaf kalau ada salah selama ini (selama 17 tahun Dia melayani makan kami). Dengan Spontan kutanyakan, kenapa di pecat…? Apa salahnya….?  “Saya juga menanyakan seperti itu bu….., katanya saya salah telah meninggalkan kerja selama 14 hr ke tanah suci”.  “saya dinilai minta ijinnya kurang sopan dll”.  lanjutnya dengan terbata dia mengatakan, “Intinya …,   saya ikhlas menerima ini. Doakan saya ya bu…, semoga saya kuat”. Begitu tuturnya.  “Astaghfirullahal adhiim……”!! Gumamku terpana…..” Sabar ya mba…”

Benarkah dia di pecat karena itu…? adakah kesalahan yang lain. …? Berdasarkan cerita temen pula, di bekerja paling cepet diantara yang lain. “lihat saja sekarang, keluar satu gantinya lebih dari satu, karena tidak ada yang sanggup menggatikan kerjanya dia seorang, maka perlu orang banyak”. Begitu penjelasan temenku yang lain.  Dalam wajahnya yang ditampakkan ceria, selalu terucap saya ikhlas, daripada diteruskan suasana kedepan tidak baik buat saya . maka saya harus ikhlas…..! Bener…, SAYA IKHLAS BU….!!!. Mudah-mudahan ini adalah titik balik buat saya. Saya tidak pantas lagi jadi tukang cuci. Allah akan mengangkat saya melalui ini. Doakan ya bu…….!!

” Ya Allah…., dapatkah saya ikhlas seperti dia jika musibah itu datang padaku…..? Inikah realita hidup…? Pasti sobat, Allah akan mengangkat derajat kalian berkali lipat. Mari kita saksikan dalam sepanjang perjalanan hidup kita, siapa sebenarnya yang salah dan yang benar. Mudah-mudahan umur kita sempat menyaksikan pembuktian kebenaran, sebagai pelajaran bagi yang hidup sadar.  Tetaplah berpegang teguh dalam iman, sehingga engkau kan menang. Doaku slalu…, mudah-mudahan menambah kuat imanmu, Amien…!

Published February 7th, 2010

Nasib dan Taqdir

Tulisan ini sebenarnya ingin memberi komentar tentang pertanyaan beberpa kali yang  ditanyakan oleh  Bapak Bambang Wahyudi di beberapa tulisannya.  Oleh karena jarang yang memberi komentar akhirnya dijawab sendiri pada postingan  terakhir.  Ada beberapa cara pandang saya yang berbeda dari awal,  namun pada akhirnya alkhamdulillah dapat diterima. Mudah-mudahan dalam tulisan inipun perbedaan itu sangat jauh, namun saya coba uraikan   secara ilmiah dengan harapan dapat diterima, dan bermanfaat.

1. Istilah Nasib dan Taqdir

Dua kata ini sering ditemukan dalam Al-quran. Oleh karena itu saya berusaha merujuk ke Al-Quran.  Kalau saya menggunakan definisi pribadi khawatir masuk beberapa ide pribadi yang pada akhirnya akan menjadi Subjektif.

Istilah nasib, saya temukan pada  Qs: Nisa  ayat 51 ” Alam tara  ilalladzina utu nashiban minal kitabi yu’minu na bil jibti watthaaghut”

Sedangkan istilah Taqdir saya temukan dalam Qs: Ar-Rad ayat 8  “wakullu syai in ‘indallahi Miqdarun

2.  Penggunaan Tatabahasa Quran.

Untuk mandapatkan makna yang utuh dari sebuah makna, pastilah harus dengan alat yang pas. Alat yang dimaksud adalah tatabahasa. Walaupun sebagian orang agak sulit memahami hal ini, itu karena belum terbiasa. Ada kesalahan penekanan dalam belajar, sehingga tatabahasa Quran tidak diprioritaskan.  Sehingga pada kata Miqdarun yang tercantum dalam al-Quran, dengan kata Taqdir yang akan kita bahas seolah kok  jadi beda banget ya….!!

Kebetulan kata Nashiban dalam Quran, dengan perkataan nasib pada kata dalam bahasa Indonesia masih banyak kemiripannya, dan kita dapat menerima dengan mudah.

3. Penjelasan Istilah

a. istilah taqdir

Setiap kata dalam Al-Quran untuk mengusut dia bentuk kata apa , maka salah satunya kita harus mengusut dari susunan tiga  hurup pokoknya. Jadi walaupun kata Miqdarun dan taqdirun seolah  merupakan dua kata yang berbeda namun tersusun dari kata yang sama yaitu Qa-da-ra.yang artinya adalah rancangan.

Qs: Ar-Rad ayat 8  “wakullu syai in ‘indallahi Miqdarun” maka maknanya kurang lebih “bahwa sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai rancangan masing-masing.

Jadi disini Allah telah menyatakan bahwa segala sesuatu adalah mempunyai rancangan masing-masing. Dan nanti akan di buktikan juga dengan hadist yang mengatakan” fil azali la syai’in illahi Azawajalla, tsumma khalaqal Maqadira” Pada mulanya tidak ada apapun kecuali Allah dengan segala ilmunya, selanjutnya (Dengan ilmunya itu) Allah membuat rancang bangun segala”

b. Istilah Nasib

Istilah nasib, saya temukan pada  Qs: Nisa  ayat 51 ” Alam tara  ilalladzina utu nashiban minal kitabi yu’minu na bil jibti watthaaghut”  maknanya  ” Tidakkah kalian melihat, terhadap mereka yang mendapatkan nasib sial dari para ahlul kitab, mereka  percaya pada jibti dan thaghut.

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa kita mestinya dapat melihat akibat dari orang yang percaya dengan jibti dan thaagut, mereka akan menemukan nasib sial.   Jadi Apa itu nasib…? Berarti nasib adalah akibat dari pilihan hidup yang akan memastikan pada nasib baik (hidup dengan selain jibti dan taaghut) atau  dari pilihan hidup yang akan memastikan pada nasib sial ( dengan pilihan jibti dan thaaghut)

4. Kesimpulan.

Segala sesuatu itu tergantung rancangan masing-masing. jadi taqdir berdasarkan Quran  maupun hadis diatas berarti adalah suatu rancangan. Bahasa Kerennya adalah Blue print. Allah sendiri dalam menciptakan alam semesta ini bermula dari ilmu-Nya yang kemudian membuat rancangannya yang terdiri rancangan positif dan negatif. (Thummakhalaqal maqaadir, thumma khalaqal maa) Pada penciptaan segala ini,  Allah telah mengajarkan dengan menciptakan dari yang baik atau rancangan yang baik maka begitu juga kita sebagai manusia harus mengawali sesuatu itu dengan yang baik. (”ma khalaqta hadza batilan, tidak Aku ciptakan dari sesuatu yang batil).

Setelah kita menyadari bahwa sesuatu itu mempunyai rancangan (  yang baik maupun yang buruk) maka Tugas Allah adalah sebagai Hakimun, yaitu Hakim penentu yang tidak pernah salah atas segala usaha yang dilakukan oleh Makhluqnya. Keputusan Allah ini tidak bisa diganggu gugat. Allah sebagai Penentu, dan manusia tinggal memilih rancangan mana yang mau diambil. Kalau manusia telah memilih mana rancangan yang mau diambil dan kemudian mengusahakan atas pilihannya itu dengan mengerahkan segenap kemampuanya , maka pada waktunya akan menerima keputusan atau nasib. jadi nasib adalah Keputusan dari Allah atau kepastian dari Allah atas yang pilihan yang diusahakannya.

Published November 23rd, 2009

Harapan dibalik “Kiamat 2012″

Begitu meresahkan mendengar kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Bukan sekedar fiksi dalam sebuah film, namun semua telah berbicara kemungkinan itu dari mulai seorang kyai, peramal dan para pemikir Ilmiah. Semua dari mereka mempunyai alasan masing-masing. Hasil akhir kita sebagai orang awam merasa takut kalau benar itu terjadi.

Biasanya kalau rasa takut mendera seseorang biasanya karena merasa harapan ke depan tidak ada lagi, tetapi bagi mereka yang merasa tidak takut karena ke depan ada harapan yang meyakinkan.

Sekedar untuk membangun harapan, agar terbangun suatu keyakinan dimasa yang akan datang, satu - satunya jalan kita harus punya ilmu tentang itu. Yaitu Ilmu yang secara objektif ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Ilmu yang benar akan menenangkan di hati, tetapi ilmu yang salah akan membuat sebaliknya. Merasa gundah gulana tidak karuan.

Dalam persoalan kiamat saya ingin melihat dari sisi bahasa. Kata kiamat adalah ditemukan dalam Al-Qur’an. Dasar atau akar kata dari kiamat adalah Qawama, menjadi qaama. (karena ini adalah huruf  “ilat”  maka waw berubah jadi alif ). Dalam Bahasa Quran kata dasar  dapat  dibentuk menjadi kata yang lain. seperti dalam bahasa apapun juga begitu.  Dalam Bahasa Indonesia misalnya dari kata dasar  “kerja”  dapat berubah menjadi kata kerja telah, atau kata kerja lagi/akan, atau akan menjadi kata yang lain lagi mempunyai aturan tersendiri.   Kalau dalam Bahasa Indonesia  kata dasar “kerja”  menjadi sedang kerja, atau telah kerja, atau menjadi kata pelaku “pekerja”.

Dalam Bahasa Al-Qur’an Juga ada pembentukan semacam itu. Disini saya tidak mengupas panjang lebar, namun setelah bolak balik saya pelajari ternyata kata Qaama, dapat menjadi Iqaamatan (dibaca Iqomat, yang sering kita kenal dalam panggilan sholat), maknanya dasarnya adalah berdiri atau tegak atau bangun.  Disisi lain Qaama dapat menjadi Qiyamatan ( dibaca Qiyamat) dimaknai hancur atau musnah.

Intinya Qaama dapat berarti  berdiri atau tegak atau bangun atau hancur atau musnah. Mengapa satu kata dapat mempunyai arti yang berlawanan ? Itulah hebatnya bahasa Qu’ran. Contoh kata Al-Quran yang lain lagi yang mempunyai makna  saling berlawanan namun kita tidak menyadari kesalahan yang terjadi. yaitu kata Rodhi dan Ridho. Kata Rodhi kita kenal istilah itu pada saat jaman jepang ada kerja Rodhi. Kita terjemahkan kerja paksa. Karena  sebagai pekerja tidak dibayar dituntut dengan disiplin yang tidak manusiawi.  Padahal kalau dilihat dari sisi Subyeknya yaitu orang jepang, maksudnya adalah kerja secara Ikhlas, Kerja secara Ridho ( Kerja Ridho) tanpa bayaran, tetap dengan disiplin dan dedikasi yang tinggi karena jalan adalah  sarana umum.  Jadi Rodhi dan Ridho ( ditulisnya Raadhi dan  Riidha mestinya, karena bahasa Quran tidak mengenal vokal “O”) adalah kata yang berasal dari kata yang sama yaitu radhaya, yang mempunyai arti yang sangat berlawanan.

Begitu juga dengan kata Qiyamat, mempunyai makna yang sangat berlawanan, disisi lain ada yang tegak  ada yang hancur. Ada yang musnah ada yang membangun. Kalau kita pinjam istilah Presiden Pertama RI adalah semakna dengan “Revolusi”  Pembangunan sekaligus penghancuran.  Jadi janganlah kita takut dengan penghancuran kalau yang dihancurkan adalah yang batil, namun bangunlah harapan dengan ilmunya Allah untuk kehidupan yang akan datang. Yakinlah yang benar adalah yang selamat. Sudah menjadi sunahnya bahwa untuk memasuki dunia yang baru nanti perbandingannya adalah seribu satu. dan dikatakan juga dari tujuhpuluh dua golongan hanya ada satu yang benar maka carilah yang satu itu. Yang satu adalah yang menjadi sumber, kalau itu adalah ibarat pohon carilah batangnya bukan cabangnya. Carilah Ilmu Tuhan Yang Haq itu., Semoga terbangun harapan.

Published May 7th, 2009

Pergeseran mencoblos menjadi mencentang (mencontreng)

Pada Pemilu 2009 ada pergeseran dari istilah  mencoblos menjadi mencontreng. Mengapa bergeser dan ada makna apa di balik itu ? Mencari jawaban tidak ketemu, akhirnya membolak-balik kamus mudah mudahan mendapatkan jawaban.

Mencoblos mempunyai kata dasar Coblos, yang makna dalam kamus bahasa Indonesia berarti ” menusuk dengan benda kecil hingga tembus ( tentang kertas atau benda tipis). Kenyataan pada waktu kita datang ke TPS pada pemilu-pemilu sebelum tahun 2009 kita menusuk benda tipis yaitu kertas hingga tembus. Ini melambangkan kita menentukan pilihan sebagai lambang kemantapan dihati . Yang menjadi pilihan pasti akan menggores dihati, jadi akan lebih pas kalau di lambangkan dengan mencoblos.

Mencentang atau mencontreng, seperti pernah di ulas dalam Bolg pak Budi Hermana, yang diambil dalam kamus Bahasa Indonesia  Centang , centang parentang ,memberi tanda, tak beraturan letaknya, malang-melintang, porak-poranda, morat-maring   Pada Pemilu 2009 kemarin kita mencentang, memberi tanda ceklis, sebagai tanda pilihan kita……….? Kalau tanda pilihan kita apakah kita sudah menentukan pilihan ? Atau tanda porak-poranda, malang-melintang, setelah Pemilu….? Sebagai orang jawa yang mengenal  “Nata Nagara “dimana a dibaca o”   Noto Nogoro, Dari SukarNo, SuharTo dan Susilo B. YudhoyoNo ( kalau kepilih lagi) akan ada Goro-Goro paralel dengan centang parentang, tak beraturan, malang-melintang, porak-poranda, atau morat-marit ?

Published May 6th, 2009

Apakah benar surga dibawah telapak kaki Ibu ?

Sebagai seorang Ibu dengan dua orang putri dan dua orang putra yang sedang tumbuh progresif secara fisik dan mental, sering dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan strategis yang membuat pusing kepala.  Salah satu pertanyaan yang diajukan anak lelaki saya  adalah menjadi judul uraian ini “Apakah benar surga dibawah telapak kaki Ibu ?” Mengapa tidak di bawah telapak kaki Bapak, Sebegitu muliakah seorang Ibu ? Padahal Bapak sebagai kepala keluarga menjadi Pemimpin yang akan menentukan  anak-anak untuk mencapai kehidupan yang baik ( Sorga ) ? Begitu kira-kira  pertanyaan Nyerocos dari anak- anakku yang laki-laki . Seperti kepanyakan jawaban Ibu pada umumnya saya mengatakan karena Ibu yang melahirkan mu, mengandung selama 9 bulan dengan susah payah, sedangkan tidak dilakukan oleh bapak ? Tapi Bapak kan yang jadi pemimpin, ngga adil, mestinya dua duanya punya surga di telapak kakinya  dong  !! Begitu anakku menimpali jawaban dengan cemberut menunjukkan ketidak puasan. Merasa penasaran saya terus mencari jawaban, membaca buku, mendengarkankuliah sampai bertanya langsung pada berbagai sumber yang dianggap faham. Jawaban yang didapat kira - kira adalah seperti keterangan dibawah ini ! mudah-mudahan anakku membaca dan menemukan jawaban.

Memahami suatu Kalimat dibedakan menjadi dua. Ada kalimat biasa dab ada kalimat Sastra. Kalimat sastra tercermin dalam bahasa ungkapan atau perumpamaan. Bahasa ungkapan juga dibedakan menjadi dua yaitu ungkapan nyata dan ungkapan tersembunyi. Ungkapan nyata pada kalimat sastra disisipi kata-kata  misal, umpama, bagaikan, bak,  dan sejenisnya. Bila dalam kalimat sastra tidak terdapat sisipan seperti itu maka dinamakan ungkapan tersembunyi. Mengapa Kalimat Surga dibawah telapak kaki ibu, disebut kalimat  ungkapan tersembunyi ? Karena dari kalimat tersebut tidak langsung diketahui maknanya secara jelas. Untuk bisa mendapat makna yang jelas perlu langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Sisipi kalimat tersebut dengan kata bagaikan  maka menjadi ” Surga itu bagaikan dibawah telapak kaki Ibu.
  2. Carilah makna dari kata-kata ungkapan pada kalimat tersebut. Kata yang harus di beri makna pada kalimat tersebut ada 3 yaitu Surga, dibawah telapak kaki dan Ibu. Surga setara dengan makna kebahagian, kesuksesan, keindahan, Dll.  Telapak kaki adalah bagian lembaga kaki yang terletak paling bawah, sebagai penopang tubuh. Menjadi Dibawah telapak kaki berarti menunjukan Dasar, fondasi atau alas. Ibu adalah makhluk Tuhan yang telah sukses melahirkan seorang anak  melalui proses kehamilan. Disini mengapa tidak disebut wanita atau perempuan? Apa hubungannya Ibu dengan kelahiran dan kehamilan ? Kata inipun harus dicari makna dibalik kata tersebut. Kehamilan adalah proses pembentukan manusia dari bertemunya sperma dan ovum sampai menjadi manusia sempurna secara fisik. Setelah itu lahirlah seorang bayi menjadi Manusia Sempurna secara fisik yang disebut prose Kelahiran
  3. Rangkaikan atau susun  makna kata menjadi makna  kalimat Surga di bawah telapak kaki Ibu, menjadi Kebahagiaan atau kesuksesan di landasi dari suatu proses panjang seperti kehamilan yang pasti akan dilahirkan. tiadak ada kehamilan tanpa kelahiran  Jadi Ibulah sebagai fodasi yang menghantarkan kesuksesan, melalui apa ?  Pendidikan tentunya. Dan Ibu sangat menentukan

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.