rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for September, 2011


Published September 6th, 2011

Dalam Statistik, Berbeda adalah Petaka

Perbedaan antara keterangan satu dengan keterangan yang lainnya  bila terlalu  mencolok, menyebabkan keterangan menjadi semakin heterogen. Dalam Ilmu statistik, semakin heterogen maka semakin sulit untuk diambil kesimpulan. Dan data yang demikian sangat mempunyai variabilitas tinggi.

Dalam anaisis Variabilitas data, maka semakin  heterogen data maka  variabiitasnya akan semakin besar maka artinya data dikatakan semakin  tidak stabil dan objek data berarti ada masalah.

Sebagai contoh yang gampang dipahami misalnya :

1. Masalah nilai

Jika kita dihadapkan pada 2 pilihan  2 mahasiswa  sama cantik yang sama -sama IPK nya 3,  katanlah  si A rata- rata 3 dengan variabilitasnya 1 ( Berarti rentang nilainy maksimum 4 dan minimum 2.  ini diperoleh dari rata-rata 3 +  1 =4 dan 3 -1 =2

Si B rata-rata  IPK nya 3 dengan variabilitas 0 maka nilainya 3 semua. jika kita disuruh memilih mana yang lebih baik…? Pastilah kita akan memilh si B, kenapa…? karena B nilainya lebih stabil. Walupun si A  nilai maksimumnya 4, namun minimalnya 2, siapa tahu ketika nilainya si A  rendah akibat ada masalah yang serius yang terjadi. misalnya si A selalu  mendapat nilanya 2 ketika asma akutnya kambuh ketika sedang ujian. Siapa yang masih pilih gadis  A  dengan nilai sama, plus penyakit akut yang dideritanya…?

2. Masalah Mesin.

Analaog dengan contoh kedua gadis, kalau dihadapkan pada 2  mobil yang harganya sama, dengan kecepatan mesin yang  berbeda. Jika  mobil I kecepatan mesinnya mampu rata-rata 150 km/jam  tetapi setiap menempuh 10 km pasti mogok. dan Mobil ke II rata-rata kecepatannya hanya mampu 100km/jam dan praktis tak pernah mogok. pilih mana ?

Pastilah milih mobil dengan kecepatan rendah namun punya kestabilan tinggi , alias tidak pernah mogok.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semakin berbeda , semakin heterogen maka variabilitas semakin besar. Karena variabilitas besar maka semakin tidak stabil. dan ketidak stabilan adalah Petaka.

Bukti konkrit…, semakin heterogen kita , semakin majemuk, semakin bineka dan semakin banyak petaka dimana-mana. Dimana karunianya…?  Secara statistik, perbdaan adalah petaka?

Published September 5th, 2011

Makna Idul Fitri Dimata Anakku

Hari Minggu, 28 Agustus 2011 Dua hari sebelum Idul Fitri ( kami berlebaran hari selasa 30 agustus ), seperti keluarga yang lain kami sibuk mempersiapkannya. Hari itu kami berdua suami, pergi ke pasar di hari “Prepegan” yaitu hari dimana puncak kepadatan orang berbelanja di pasar tradisional menjelang hari Raya.

Segala keperluan memasak, mulai ketupat daging, ayam kampung, santan, kentang dll kami beli dengan berdesak-desakan. belum lagi terbayang memasaknya sendiri  tanpa bantuan Pembantu.  Perjuangan di pasar untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan adalah suatu perjuangan luarbiasa. Belum lagi Perjuangan dan pengorbanan harus rela bayar mahal berbagai barang yang harganya melambung tinggi.

Perjuangan belum usai…, sampai di rumah  jam 10.00 . ternyata  ke empat anaku belum ada yang bangun.  Wah wah… rasanya darah sontak mengalir ke ubun-ubun. Begitu juga suamiku.  Dengan nada tinggi, dan setengah berteriak … satu persatu anakku di bangunkan oleh suami. Namun dasar anak-anak, mereka susah untuk dibangunin, Dengan amarah yang memuncak…, suamiku ambil gayung berisi air , maka satu persatu anakku dibangunin dengan diguyur air. Lantai dan kamar menjadi berbasah-basah ria…, biarlah sebagai pelajaran. Sesekali harus keras terhadap anak  …., pikirku . Sekeras  dan seteguh itu mudah-mudahan kami sebagai orang tua berpegang teguh terhadap prinsip hidup, begitu anakku kelak.   “Sontak mereka bangun dan langsung  mandi…!!!”. Karena kamar mandi hanya ada 2, maka 2 anakku yang lain masih nunggu giliran. Anehnya dua anakku yang belum mandi kebetulan yang sudah besar ( satu berumur 16 h dan  kakaknya 18 th) mereka tidak ada wajah kesal sehabis diguyur air. Malah mereka tersenyum - senyum sambil ngeledek.

“lagi enak-enak mimpi.., kenapa dibangunin pak???” kata mereka berdua.  ” saya tadi rasanya pingin berenang, kok belum ke kolam sudah basah..? eh…, ternyata diguyur sama Bapak. Begitu canda anakku yang lelaki. Selanjutnya, malah dia berceloteh panjang lebar, demikian ” Mama dan Bapak baru pulang dari pasar, tempat pestanya para setan.., pantes pulang-pulang marah-marah, ada yang ngikut barangkali.  Kita jadi kena  batunya.  Ngapain juga  mama  dan papah maksain ke Pasar,  mau lebaran…???? atau  apa mau  Idul Fitri mah…?  Kalau Idul fitri  ngga harus pesta besar khan..? Beda kalau memang mau ngrayain Lebaran. Lebaran = bubaran puasa  sama dengan bubaran nahan makan , ceritanya mau ngrayain makan besar yang selama ini  ditahan-tahan ya mah…?  Pantes ya  orang-orang juga sama seperti  mamah “. celoteh anakku yang ngga habis habis.

Belum puas berargumen, kemudian dia lanjutkan lagi, “Kalau aku sih…,  Idul Fitri ini berarti aku mau tampil  beda. Bukan makan untuk kebutuhan jasmani yang diutamakan, namun makan  berbagai pelajaran sebagai kebutuhan rokhani .     Ibarat tadi aku tidur diguyur dengan air, mudah-mudahan  selama ini aku  sadari hidupku bagaikan lagi  tidur, sehingga saya tidak sadar ,  malas bangun, males sekolah, males mandi dll.

Setelahnya  diguyur dengan air yang bagaikan pelajaran yang mampu merubah  aku.  Bahkan aku mau  menjadi lebih baik. ngga apa-apa aku tadi diguyur, berarti menyadarkanku untuk ber Idul Fitri bukan untuk Berlebaran Seperti Mama.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.