rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for April, 2011


Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a    h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bahwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar menjadi tidak  sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya.

Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah

“k e s a l a h a n     i m a n .”

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan iman .

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan      i   m    a     n .

Published April 26th, 2011

ILMU dan IMAN

IMAN DAN ILMU
Sebelum mengupas masalah iman, satu keyakinan yang sudah lama melekat dihati, pastilah ada banyak hal baru yang belum banyak diketahui. Bukan untuk saling menyalahkan, dan merasa benar sendiri, akan tetapi mengkaji Iman guna lebih memantapkan diri, mencerahkan diri, menuju yang lebih diridhoi. Dengan pangkal kebersihan hati…, menuju kebenaran haqiki pastilah dapat dirasakan. Mana yang membawa kemantapan dan ketenangan jiwa, dan mana yang menyebabkan gundah gulana. Setiap pribadi pastilah punya modal itu semua. Mampu menangkap sinyal getaran jiwa, dari Pembimbing hidup yang punya Kuasa. Oleh karena itu…., Dalam mengkaji sesuatu, jauhkan filsafat yang mengatakan:
Tiada ada selain yang sudah diketahui
Tidak benar selain yang sudah dikaji
Tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji.

M a k a h e n d a k n ya

Berpikir benar pastilah bertanya
Jikalau semua sudah diketahui , mengapa orang harus belajar lagi…?
Jikalau benar yang sudah dikaji, mengapa saling salah menyalahi….?
Jikalau tidak boleh ada lain dari yang sudah dikaji, Apakah yang telah dikaji mampu mempersatukan Bangsa Ini…?

Oleh karena itu saudaraku..……
Tidak kenal maka tak cinta
Salah paham sumber bencana
Karena kenal maka cinta
Cinta yang wajar hidup sadar
Sadar diri tahu segala
Pengetahuan luas sarat membanding
Nilai bandingan ukuran kebenaran.
Nilai yang benar mampu ditantang
Mimbar ilmu satu ujian
Ukuran ilmu dasar penilaian
Mudah-mudahan dicapai Kebenaran.

Ketika dibuka Al-Quran, pada Surat ke dua, ada hal yang paling utama dibicarakan adalah masalah iman. Kata-kata Iman bertebaran dimana-mana. Lalu timbul pertanyaan dalam benak hati.
Apakah itu Iman….?
Benarkah pengertian iman selama ini…?
Berdasarkan guru Agama dari SD sampai perguruan tinggi iman itu adalah percaya pada yang enam itu. Yaitu :
1. Iman kepada Allah,
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Nabi dan Rasul,
4. Iman kepada Kitab Al-Quran
5. Iman kepada Hari Akhir dan
6. Iman kepada qadha dan qadhar.

Pada Surat Al-Baqarah ayat ke tiga” Aladzinayu’minu nabil ghaibi wayugimunashalata, wamimma razaqnahum yunfiquuun” disebut iman kepada yang ghaib, Mengapa Ghaib ini tidak termasuk rukun iman….? Begitu senada dengan pertanyaan anakku yang ke dua…, Kita hormat dan percaya pada orang tua, dan , Mengapa percaya pada orang tua dan guru tidak termasuk rukun iman…..? Pertanyaan anakku ini Kesimpulan jawabannya adalah “ Dari sananya ya sudah begitu. Masalah Iman tidak perlu ditanyakan, karena hanya hati yang tahu, yang penting diamalkan.” Jawaban mereka hampir sama seperti itu..

Dua pertanyaan inilah yang menggugah pikiranku untuk belajar tentang iman lebih jauh lagi, Kalau memang ini adalah benar, pastilah pertayaan ini dapat terjawab. Lama harus dicari jawaban. Dan dalam pencarian itu diringkas sbb:

1. Iman dilihat dari teori bentuk kata
Iman yang artinya “percaya” adalah berasal dari kata kerja Amina. Amuna dan Amana Sedangkan ada istilah iman iyang bukan dari kata kerja melainkan dari kata benda . Yang paling jelas terlihat pada hadist ibnu majjah bahwa iman adalah sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.

2. Batasan Iman.
Iman yang asalnya dari kata kerja “ Percaya” batasannya hanya di hati
Iman dari kata benda “sesuatu yang ada dihati, menggema dalam ucapan dan menjelma dalam perbuatan.” Batasannya meliputi Hati, ucapan dan perbuatan. Apa jadinya kalau, masalah iman berkaitan dengan hidup, tetapi hanya seputar dihati. Masalah hidup pastilah meliputi masalah hati, ucapan dan perbuatan.

3. Iman dan Ilmu
Pada Al-Baqarah ayat 4, jelas sekali bagwa “aladzina yu’minu nabimaa unjila ilaika……” Yaitu yang beriman itu dengan apa yang telah diturunkan kepada Mukhammad, yaitu Qu’ran, yaitu satu ilmu bernama Quran. Jadi karena iman adalah untuk hidup manusia, maka hidup itu harus dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah itu sendiri di dalam Al-Quran.

4. Kalau Iman sama dengan percaya, tidak dikaitkan dengan ilmu, sehingga iman terpisah enam seperti yang kita pahami selama ini. Namun jika iman dikaitkan dengan ilmu maka pengertian iman itu akan menjadi satu rangkaian kalimat yang utuh dan sempurna menjadi demikian.
Iman adalah maunya Allah yang diujudkan dalam satu ajaran, dimana maunya itu diajarankan kepada Malaikat , yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan oleh Muhammad dibukukan kedalam Kitab, dimana isi kitab mempunyai tujuan akhir (khasanah fidunya wal akhirah), yang isi Kitab itu meliputi Qadha dan Qadhar.

Inilah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas. Sehingga berpangkal dengan ilmu Allah, semua pertanyaan pastilah ada jawabannya. Barangkali iman yang hanya wilayahnya percaya dihati, tidak memprioritaskan untuk belajar dengan serius sehingga membawa kemundururan. Ada perintah untuk belajar…, namun karena keterangannya tercerai-beraikan maka focus belajar sempurna. Lihatlah akibat iman percaya saja dalam dunia nyata. Cukup dengan percaya akan janji manis pihak tertentu, sehingga tidak menyatu antara hati ucapan dan perbuatannya. Semakin hari semakin mengerikan masalah ini. Berapa banyak yang hanya N A T O ( No Action Tolk Only ) ? Mengapa ini semua terjadi….? Ini…. Yang terasa berat ingin dikatakan…, masalah iman adalah masalah hidup, masalah dasar atau landasan dalam hidup. Kalau Dasar/ landasan rapuh (salah) maka runtuhlah bangunan yang dibentuk diatasnya. Maka kalau kita menyaksikan hiruk pikuknya persoalan hidup sekarang ini, sadar atau tidak ….., ini adalah masalah kesalahan iman .

Published April 11th, 2011

Hubungan Doktrin dan Ilmu

Hubungan Doktrin dan Ilmu
Melanjutkan pembicaraan pentingnya satu Doktrin yang ada pada Qs: Al-Baqarah ayat 2, ternyata Doktrin adalah sama dengan kebenaran yang tidak diragukan( dzalikal kitabula raibafihi hudal lilmuttaqiin). Karena kebenaran yang tidak diragukan ini berupa keterangan-keterangan dari Allah,  maka doktrin itu adalah Ilmu.

Pada QS- Arrakhman ayat 3, dengan jelas al-Qu’ran menyatakan “ ‘allama hul bayan” Dia Allah yang telah mengajarkan ilmu berupa rangkaian keterangan” Ilmunya tersusun secara sistematis, dan dapat diterapkan dalam kehidupan Oleh Nabi dan Rasul. Berdasar itulah maka Definisi Ilmu dapat di susun menjadi “ Rangkaian keterangan dari Allah, yang disusun secara teratur dan didukung oleh fakta, yaitu ujud kehidupan para Nabi dan Rasul.

Marilah kita bandingkan dengan teori tentang ilmu , berdasarkan teori Ilmu Barat : “ Ilmu adalah rangkaian keterangan yang teratur yang didukung oleh fakta” Sepintas tidak ada Perbedaan. Hampir sama. Lalu…. Apakah perbedaan yang ada disana…..?
Perbedaan yang paling menyolok dalam definisi Ilmu Barat yaitu , asal keterangan Ilmu / sumber Ilmu tidak disebutkan. Jadi pada definisi Ilmu Barat keterangan dengan sumber yang tidak jelas. Keterangan yang boleh diambil dari mana saja. Padahal kalau di runut, dari mana sumber dari segala Sumber Ilmu…? Bukan dari Tuhan… ??? “ bukan…!!

“Kata mereka. Karena para Ilmuwan akan mengatakan bahwa sumber ilmu adalah dari Experient/ pengalaman dan Ekperimen / Penelitian dan percobaan bukan dari “bima unjila ilaika”. Lihatlah sang Ilmuwan yang dengan bangga dengan penelitian dan penemuannya. Inilah karyaku…!! Inilah hasil penemuanku. Dari yang berupa knwoledge dan science. Secara lisan Mereka tidak berkata begitu. Tetapi buktinya mereka minta dihargai tinggi, kedudukan tinggi, kehormatan yang tinggi, sikap mereka yang tidak membumi dengan berbagai alasan kesibukannya itu…, adalah kenyataan hidup yang tak terbantahkan lagi. Sebenarnya apa yang ingin saya katakan disini.., Saya menduga Mereka ingin menggantikan kedudukan sebagai yang punya sumber keterangan. Atau bahasa kasarnya (saya menduga ) mereka ingin menggantikan Posisi Allah/ Tuhan. Astaghfirullah hal a’dziiiimm.

Saya berani mengatakan hal ini, karena kenyataan sehari-hari memang demikian. Mengujudkan kehidupan berkasta-kasta. Dan saya juga meyakini bahwa mereka sang Ilmuwan akan berteriak, Ahh…, saya sungguh tidak demikian. Itu hanya perasaan seseorang saja. Marilah kita berfikir jernih, Adakah kehidupan berkasta-kasta dalam kenyataan social kita…..? Jawabnya pastilah ada, walaupun kita tidak beragama Hindu, namun kasta itu melekat ada didiri kita. Kenyataan pada kasta tertinggi adalah para ilmuwan dan penguasa , sehingga akan sangat pantas kalau semua berlomba ingin naik pada kasta tertinggi. Pada Kasta tertinggi merasa menjadi waliyyun, wakil Tuhan, sehingga secara sistemik tidak menyadari memposisikan kedudukan sebagai sang pencipta…, “na’udzubillahi min dzalik “ . maka definisi ilmu barat menjadi pas dengan ujud kehidupan sekarang ini, yang lepas dari Ilmunya Allah. Namun mengapa kenyataan begitu….? Ini ada yang mendesain kita sehingga kita menjadi tidak sadar akan apa yang kita perbuat, atas satu doktrin ilmu yang tidak utuh.

Dengan dibuang Allahnya ternyata akan mampu menggeser peradaban yang sedemikian rupa. Yaitu menjadi peradaban yang lepas dari ajaran Allah yang duduk sama rendah berdiri sama tinggi , namun menjadi dominan peradaban berkasta-kasta, saling menginjak akibat derajat yang tingi rendah.
Apa yang mereka desain…..?. Karena Doktrin adalah sumber dari Allah, yaitu sumber dari segala sumber kehidupan maka untuk mengubah agar manusia lepas dari ilmunya Allah, maka Sumber Doktrinnya dibuang. Yaitu Allahnya dibuang. Dan ternyata, sangat terbukti bahwa kita sekarang dalam berbuat kurang berfikir terhadap dasar berpijak dimana dalam dasar berpijak Ada ilmunya Allah disitu. Lebih konkritnya merujuk pada sumber yang lain. Kita asing dengan yang kita yakini. Terlalu sulit bahasanya katanya. Isinya hanya sastra dan dongeng kata yang lainnya .

Dan lain-lain alasan sehingga menyebabkan kehidupan yang lepas dari Allah , misalnya

1. Karena Tanah milik yang punya sertifikat, bukan milik Tuhan , maka yang banyak memiliki sertiikat tanah akan membiarkan tanah itu tidak dikelola dengan fungsi tanah yang diperintahkan oleh Tuhan, untuk ditanami misalnya, yang penting haganya naik terus.

2. Karena mengajarkan ilmu bukan merasa diperintahkan oleh Tuhan maka, siapapun yang mengajar harus minta bayaran yang tinggi hatta seorang penceramah sekalipun. Apalagi…. Ilmuwan. ( ah…, khan wajar buat ongkos….!)

3. Yang banyak melakukan koruptor adalah pastilah mereka berdasarkan ilmu ekonomi atas doktrin dengan pengorbanan yang sekecil-sekecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya, dimana doktrin ini bertentangan dengan ilmu Tuhan. Tuhan megajarkan berkorban banyak baru akan menghasilkan banyak pula. Ahh…, saya sudah berkorban banyak tapi tidak membuahkan hasil…? Inilah contoh ketidaksabaran yang lepas dari Tuhannya.
4. Hukum yang digunakan oleh manusia di buat juga oleh manusia, sehingga wajar banyak hakim, jaksa dan ahli hukum lainnya dengan mudah melanggarnya. Coba kalau yang tegak adalah hukumTuhan. Maka Orang akan berfikir 1000 kali untuk melanggarnya.

5. Dan ….., banyak ilmuwan yang menyimpang dari teori yang diciptakannya sendiri, misalnya dalam ilmu kesehatan , pada waktu belajar difokuskan bagaimana focus untuk penyembuhan, tetapi mengapa dalam praktek fokusnya bergeser pada tariff…? Begitu juga akhli-akhli yang lainpun ujung akhirnya teori dan praktek menjadi saling bertolak belakang akibat bergesernya focus pembelajaraanya dengan focus aplikasinya.
Jadi yang benar ilmu Tuhan atau ilmu yang ada….? Sementara kita masih berdebat Quran bukan ilmu, Apakah itu ilmu…? Rumusannya mengawang-awang tidak menentu. Bisa A bisa B bisa A dan B dan bisa bukan A dan B. Harus bagaimanakah yang menjadi hudan lilmuttaqin. Hudan lilmuttaqin bisa Banyak……? Menurut A, B, C dan lain-lain…? Terlalu susahkah menafsirkan maunya Tuhan…., Sehingga manusia mempunyai tafsir sendiri-sendri…? Apakah Tuhan Tidak menciptakan alat untuk menafsirkan maunya Tuhan agar kita satu …? Seandainya ada alatnya apakah manusia mau menggunakannya …, karena sifat manusia yang keras kepala…? Apakah kalau satu pola pikir menjadi dunia sepi…? Dan apakah Tuhan yang menginginkan kita beraneka ragam agar ramai, berwarna warni, agar dunia indah itu yang dimaksud…? Duh Gusti…..!!! mana yang benar….? Itu Doaku …., yang tertinggi…!!!

Published April 4th, 2011

Syarat Berbuat Baik

Syarat berbuat baik
Berbuat baik itu seperti apa ya….? Apakah saya selama ini telah berbuat baik…? Kalau ukuran berbuat baik itu hanya dari sudut pribadi, maka akan kita katakan, selama ini saya telah berbuat baik, namun mengapa hidup saya seperti ini…? Banyak orang yang berbuat lebih nista dari saya mengapa dia lebih sukses dan bahagia dibandingkan saya….? Apa kesalahan saya…..? Begitu kira-kira ratapan saya karena merasa telah berbuat baik. Sekali lagi baru merasa berbuat baik. Sudahkah memenuhi syaratnya…? Ukuran baik menurut pribadi saya yaitu, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menyeleweng/melacur, tidak sombong, tidak menyakiti orang, tidak suka meminta dll. Begitu juga anjuran oleh orang-orang bijak yang sampai ke kita. Larangan-larangan seperti yang disebutkan tadi sudah sering terdengar.
Teringat petuah dari Kakek yang tinggal di kampung, bahwa berbuat baik itu adalah, harus :
1. diridhai Tuhan,
2.bersifat terus-menerus,
3.berguna untuk banyak orang
4, dilakukan dengan ikhlas, tanpa motif tertentu
5. mengutamakan kepentingan orang banyak dari pada diri sendiri,
6. mempunyai cita-cita luhur dan agung, serta harus
7. dilakukan dengan semangat tak kenal lelah.
Atas semua syarat itu kakekku bilang bahwa berbuat baik itu sama dengan B E R J U A N G. Berbuat baik ternyata banyak sekali syaratnya. Setelah saya renungkan, betapa Eyangku yang tingal di kampung dan sering saya dulu mencap dia kampungan. Petuahnya dulu, bagiku hanyalah dunia imajiner yang sangat sulit untuk dilakukan.
Berjuang, adalah kata yang mengingatkan kita pada perjuangan para Pahlawan dalam merebut impiannya, yakni kemerdekaan. Pada masa perjuangan tergambar semangat yang membara menuju impian yang ingin dicapainya. Bersatu padu semua elemen adalah satu kata, seirama, bahu membahu antar sesame, apapun golongannya. Indah….., tergambar rasanya. Walaupun disisi lain musuh siap menghadang, banyak rintangan, cobaan, selalu siap didepan mata.
Berjuang, yang bermakna mengusahakan dengan segenap jiwa raga, tentu bukan hanya milik masa lalu. Kini dan nanti harusnya selalu berjuang tanpa henti. Lihatlah semangat yang berkobar tanpa padam, mata bersinar tajam bagaikan siap menerkam. Telinga terpasang tegak siap menanggapi, mendengar segala perintah komando Pimpinan. Tubuh berdiri tegak siap melaksanakan tugas tanpa kecuali, Kaki siap melangkah kemanapun arah. Dann…. Hati…, siap berkorban…., hatta nyawa sebagai taruhan. Sudahkah kita melakukan itu semua seperti yang digambarkan…..? Saya masih bekerja tak tentu arah, malas tak bersemangat, kadang masa bodoh tak peduli, tak menyadari diri, adalah kebiasaan sehari-hari…! Ya Tuhan……, bawalah kami dalam perjuangan.
Berjuang pada masa kini….., masih selalu dibutuhkan sampai nanti. Merebut impian kemerdekaan financial, kemerdekaan berekspresi, kemerdekaan dari sakit, kemerdekaan dari kebodohan, kemerdekaan dari segala perbuatan nista, adalah mutlak direbut dari insan hidup dibumi pertiwi. Tapi bagaimanakah harus dicari….? Nasehat kakek yang masih terngiang-ngiang tentang berjuang , saya bawa kedalam Ilmu Pengetahuan barat , yang dikenal dengan teori Barrent ,dalam buku Ilmu Politik , yaitu ada 4 syarat.
1. Harus ada dasar.
2. Ada tujuan
3. Ada teknik
4. Ada majemen.

Teori Barrent ini banyak dikagumi, termasuk saya pribadi. Dimulai dari saya kecil yang hanya mengenal petuah-petuah hebat dari seorang Kakek, kemudian sekolah dan membaca dengan ajaran ilmu pengetahuan barat, bingga saya dapat pelajaran yang mengembalikan kehebatan ajaran sang pencipta. Karena sempitnya wawasan , terkadang kita hanya mengidolakan seorang tokoh yang begitu hebat dalam kehidupan, seperti tokoh kakek dalam peran hidupku. Seiring dengan kuliah yang mempelajari semua ilmu pengetahuan. Khususnya pengetahuan barat, maka saya pun akan bangga dengan menyitir dari ilmuan-ilmuwan barat. Rasanya saya menjadi hebat jika rujukan berasal dari tokoh yang hebat . Berharap sayapun akan menjadi /ketularan hebat. Namun dalam perjalanan yang terus mencari, ternya ada yang paling hebat di muka bumi ini, yaitu ajaran Sang Pencipta seperti yang akan saya uraikan satu persatu dibawah ini.

1. Berjuang harus ada dasar yang berisi satu doktrin.

Jadi berjuang atau berbuat baik itu harus ada Dasar, Dasar sama dengan Fondasi atau alas. Apa itu dasar…? Dasar yaitu sumber dibentuknya yang lain. Ibarat dasar sebuah bangunan maka dari dasar itulah dibangun rumah, atau yang lain. Tanpa dasar pastilah akan runtuh. Sebagai syarat mutlak atas kuat nya sebuah bangunan maka dasar adalah mempunyai fungsi yang pokok dan strategis. Sehebat apapun yang akan dibangun diatasnya maka tanpa fondasi yang kokoh semua akan menjadi sia-sia. Dalam bangunan, syarat kuat/kokohnya landasan adalah dengan bahan yang berkualitas, seperti dibutuhkan batu kali yang bagus, semen yang banyak, besi yang ukurannya besar,serta rancangan fondasi yang memenuhi standart tentunya. Lalu bagaimana dengan dasar yang diperlukan agar kuatnya/kokohnya dalam berbuat kita ….. ?, apakah syaratnya….? Syaratnya yaitu harus ada Doktrin. Tanpa doktrin ibarat fondasi bangunan yang tanpa menggunakan batu, semen dan besi yang berkualitas. Lalu apakah yang disebut doktrin itu …? Doktrin adalah azas pendirian yang kebenarannya tidak diragukan.

Apa buktinya bahwa dengan Doktrin, maka kehidupan menjadi kuat…? Dalam lingkup Negara lihatlah hebatnya Negara-negara barat/ eropa dengan doktrin naturalismenya yang mengajarkan prinsip –prinsip Individualisme.. Lihatlah hebatnya doktrin Cina dengan sosialismenya yang mengajarkan tentang kolektivisme. Dan dinegara kita sempat menyaksikan hebatnya Indonesia dengan Pancasilaisme dibawah kepemimpinan Bapak Presiden Suharto, yang konon mengedepankan hidup gotong-royong dan berkeadilan sosial. Ini semua adalah bukti yang tidak terbantahkan lagi yang dapat kita lihat dan meraskan sendiri. Mereka semua sangat menyadari betapa pentingnya satu doktrin sebagai satu landasan. Dilihat dari individu-individu yang menjadi pribadi-pribadi kuat adalah mereka yang pasti mempunyai doktrin yang kuat. Doktrin itu dapat diperoleh dari prinsip hidup yang diajarkan oleh keluarga, lingkungan atau berdasarkan pengalaman yang dialaminya. Maka akan wajar ada buku yang menggambarkan bagaimana seorang anak yang menjadi kaya karena diajarkan petuah-petuah(doktrin) yang mengajarkan bagaimana akan tetap menjadi kaya seperti Bapaknya. Sementara seorang anak yang miskin menjadi tetep miskin karena Bapaknya yang miskin itu tidak punya petuah/Doktrin untuk menjadi kaya. Banyak pengalaman disekitar kita yang menggambarkan seseorang menjadi begitu kuat dan bersemangat menghadapi berbagai cobaan karena mereka mempunyai doktrin yang begitu hebat.

Kalau begitu betapa hebatnya salah satu teori Barent ini, yang kita kenal bersumber dari pengetahuan barat. Kita bangga dengan doktrin-doktrin barat yang diajarkan para pemikir-pemikirnya. Terbukti di bangku perguruan tinggi dimulai dari menyusun skripsi,tesis dan disertasi rujukan utama adalah ilmu pengetahun barat. Adakah rujukan selain itu digunakan…? Pastilah akan menjadi bahan tertawaan karena dinilai tidak ilmiah. Atau karena sempitnya wawasan saya sehingga sampai saat ini belum menemukan, atau jarang menemukan rujukan dari doktrin selain dari pengetahuan barat yang diagungkan. Namun untuk kali ini saya akan mau mencoba menyadingkan teorinya Barent dengan keyakinan kita sebagai muslim.

Menyatakan diri menjadi muslim dengan mengucapkan dua kalimah syahadat, berarti kita telah yakin terhadap sesuatu. Apa yang kita yakini…., tidak lain adalah adanya doktrin yang akan mampu menghantarkan kita menjadi lebih baik. Doktrin-doktrin dalam Islam, tentunya berada dalam Quran dan Hadist. Kita meyakini itu, tetapi mengapa disaat kita beribadah, Quran jarang kita bawa…? Bahkan ada sebagian yang fokus terhadap kitab kuning. Bahkan saya pribadi ketika mengupas sesuatu, merujuk dari person pengajarnya ketimbang langsung ke Qur’annya. Padahal dalam Al-Baqarah ayat 2, disebutkan “dzalikal kitabula raibafihi hudalillmuttaqin” Innilah kitab Quran yang isinya tidak diragukan lagi kebenarannya sebagai pedoman hidup bagi yang bertaqwa, yaitu yang mau berbuat tepat menurut yang demikian.

Inilah jelas-jelas Allah menempatkan pada ayat yang paling awal untuk menyatakan pentingnya sebuah landasan. Sudahkah kita menyadari sampai kesana….? Mengapa Barent lebih mengerti dan menyadari sampai kesana..? Lebih dulu Barent atau Qu’ran…? Mungkinkah Barent ngambil dari Qur’an…? Mengapa kita tidak berfikir sistimatik Quran begitu penting…?

Selama ini banyak yang tidak menyadari bahwa Qur’an adalah sumber Doktrin tertinggi. Malah ada yang menganggap bahwa Tuhan berfirman masih main-main. Quran bukan ilmu. Quran hanya berisi sastra dan dongeng. Tetapi Apakah ilmu dan apakah itu doktrin, belum banyak yang menyadari sampai kesana. Sehingga kita mempunyai barang yang berharga (Qur’an ) diambil orang lain (seperti diambil Barent) kita tidak menyadari. Kita hanya sibuk berdiskusi yang tidak-berujung dan tidak berpangkal. Mempertahankan egoisme pribadi di kedepankan. Terutama saya pribadi yang sering seperti itu. Dan kenyataan dilapangan juga begitu. Perbedaan tentang teori kenabian saja kita bersimpah darah. Padahal yang dipersoalkan diantara kedua kelompok yang bertikai kemungkinan salah dua-duanya. Kalaupun ditiupkan model kebenaran yang tidak terbantahkan(doktrin yang haq) mereka akan menutup hati telinga dengan telunjuknya, karena terlanjur melekat doktrin pribadi yang akan dibawa mati. Marilah berbagi, agar persoalan menjadi jelas dan berarti. Berdiskusi.., jalan mulia sampai nanti.

Masih ada tiga hal tentang yang berkaitan dengan Doktrin, meliputi tujuan, teknik dan sa’ah yang belum diuraikan, dimana saya ambil dari doktrin Qur’an namun sebagian tidak merasa demikian.
Ini tidak terbantahkan,
yang mungkin jadi polemik perdebatan.
Hanya hati bersihlah yang mampu menentukan.
Letakkan egoisme, demi kebenaran.
Tidak kenal maka tak cinta,
Cinta yang benar adalah cinta yang wajar.
Cinta wajar hidup sadar.
Sadar diri butuh pengetahuan
Pengetahuan luas syarat untuk membanding.
Nilai Bandingan ukuran kebenaran
Kebenaran sejati sejuk dihati
tak terbantahkan sampai nanti

Akan membelalakkan
Bagi yang mau merevolusikan
Menuju yang dimaksud Tuhan
Sebagai doa hamba menjadi hudan.

Mudah-mudahan bertemu di uraian menuju kesadaran, amien.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.