rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for March, 2011


Published March 16th, 2011

HARUSKAH MEMUTUSKAN…?

HARUSKAH MEMUTUSKAN….?

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan kita kepada satu keputusan. Pekerjaan memutuskan sesuatu selalu rutin dan terus menerus selama kita masih dikatakan hidup. Lalu…., dengan dasar apa kita memutuskan sesuatu…..?
Keputusan-keputusan yang sifatnya rutin dan terus menerus ini seringkali kita mengandalkan rasa. Contohnya : kapan harus makan atau minum….? Kebanyakan dari kita melakukan/ atau memutuskan minum karena rasa lapar dan rasa haus datang. Begitu juga kapan kita harus tidur…? Yaitu ketika kita sudah ngantuk. Benarkah yang sudah kita lakukan…? Kalau secara rutin memutukan dengan cara seperti itu….?
Jikalau kita menghadapi persoalan penting dalam hidup dan kita harus segera memutuskan, dasar apakah yang harus dipertimbangkan….? Masihkah mengandalkan rasa…? Misalnya ketika kita harus memilih siapa yang harus menjadi pasangan hidup kita, dimana kita harus tinggal (memilih rumah)…, atau bagaimana kita menentukan masa depan kita…..?
Awalnya kita mendasarkan berbagai teori , norma , etika yang sudah kita kuasai. Namun kenyataannya tidak sesederhana dari yang kita bayangkan. Teori tidak seindah prakteknya. Sedangkan kita dihadapkan pada waktu, tenaga biaya atau batasan-batasan tertentu dalam memutuskan. Disitulah kita sering merasa dilema…! Pada saat mengalami kebuntuan untuk mengambil keputusan, biasanya kita berserah diri kepada Tuhan. Seperti apakah kepasrahan yang benar….?
Secara jujur, kepasrahan diri yang benar sampai saat ini kita masih mencari bentuk. Jangan-jangan kita hanya dimulut saja mengatakan pasrah kepada Tuhan. Hati dan tindakan kita bertolak belakang. Sebagai contoh, ketika kita dengan pasrah kepada Tuhan memutuskan saya menjadi seorang dosen, seperti sekarang ini, mestinya saya akan menjalankan keputusan itu dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan. Namun kenyataannya saya ketika mengajar dihadapkan pada gaji yang kecil, fasilitas yang kurang memadai…, nyatanya masih sering ngedumel. Benarkah tindakan saya….? Yach …., manusiawi….! Katanya. Benarkah ngedumel, tidak ikhlas, adalah hal manusiawi yang dianggap wajar dan dimaafkan… dan boleh menjadi kebiasaan…? Dalih seperti ini sering meluncur dari bibir saya dengan lancar, dengan harapan orang lain mau mengerti dan memahami.
Tidak perlu dipertanyakan tentang tindakan saya mestinya, pasti itu salah. Namun itulah yang kita lakukan sehari-hari. Dituntut bergerak cepat, sering terburu-buru dan lebih sering spontan. Oleh karena itu , sumber rasa menjadi dominan. Benarkah rasa itu datang dari Nurani yang paling dalam…..? Bagaimana kita dapat mengukurnya kalau itu berasal dari hati….?
Ada petuah dari moyangku yang entah benar atau salah, bahwa rasa hati itu sering menipu……!!!! Sebagai contoh: ketika itu saya merasa hati menjadi kasihan maka saya memutuskan untuk….., memberi sesuatu, menerima sesuatu, meneruskan, mengganti dll. Namun setelah keputusan diambil ujungnya kita kecewa, mengapa saya begitu….., coba kalau……! Yang akhirnya kita menyesal tiada akhir….! Jadi dimana keputusan yang benar….?
Karena sudah buntu., biasanya kita berdalih …., biarlah hidup kita mengalir apa adanya……, toh nanti sampai kepada muara juga. Slogan klasik dikala kita mengalami kebuntuan. Padahal disadarikah bahwa muara itu ada dua….? Yaitu muara positif dan negative. Hukum alam mengatakan bahwa yang negative menyebabkan jatuh, turun dan rendah. Sebaliknya yang positif tinggi naik dan diatas. Coba kita lihat hukum air mengalir, pasti menuju yang rendah, kebawah dan itu turun. Maka sudah pasti sampai pada muara negative. Mengapa kita masih mengagungkan pujangga yang demikian…?
Makanya pakai logika, dan ratio jika tidak mau kejeblos….!!, nasehat temenku. Binatang apakah ratio itu…? Bikin pusing aja…! Dijelaskan bahwa ratio adalah kemampuan subyek menanggapi obyek. Jadi kalau subyeknya manusia dan obyeknya adalah persoalan yang ada , dimana si subyek kemampuannya terbatas…., lalu apa yang terjadi……? Tidak semua orang punya kemampuan untuk faham terhadap persoalan yang dihadapi. Sedangkan kita harus cepat ambil keputusan…! Aduuuh…, inilah sumber keruwetan, Adakah yang punya teori jitu…..? Haruskan memutuskan….?

Published March 16th, 2011

HARUSKAH MEMUTUSKAN…?

HARUSKAH MEMUTUSKAN….?

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan kita kepada satu keputusan. Pekerjaan memutuskan sesuatu selalu rutin dan terus menerus selama kita masih dikatakan hidup. Lalu…., dengan dasar apa kita memutuskan sesuatu…..?
Keputusan-keputusan yang sifatnya rutin dan terus menerus ini seringkali kita mengandalkan rasa. Contohnya : kapan harus makan atau minum….? Kebanyakan dari kita melakukan/ atau memutuskan minum karena rasa lapar dan rasa haus datang. Begitu juga kapan kita harus tidur…? Yaitu ketika kita sudah ngantuk. Benarkah yang sudah kita lakukan…? Kalau secara rutin memutukan dengan cara seperti itu….?
Jikalau kita menghadapi persoalan penting dalam hidup dan kita harus segera memutuskan, dasar apakah yang harus dipertimbangkan….? Masihkah mengandalkan rasa…? Misalnya ketika kita harus memilih siapa yang harus menjadi pasangan hidup kita, dimana kita harus tinggal (memilih rumah)…, atau bagaimana kita menentukan masa depan kita…..?
Awalnya kita mendasarkan berbagai teori , norma , etika yang sudah kita kuasai. Namun kenyataannya tidak sesederhana dari yang kita bayangkan. Teori tidak seindah prakteknya. Sedangkan kita dihadapkan pada waktu, tenaga biaya atau batasan-batasan tertentu dalam memutuskan. Disitulah kita sering merasa dilema…! Pada saat mengalami kebuntuan untuk mengambil keputusan, biasanya kita berserah diri kepada Tuhan. Seperti apakah kepasrahan yang benar….?
Secara jujur, kepasrahan diri yang benar sampai saat ini kita masih mencari bentuk. Jangan-jangan kita hanya dimulut saja mengatakan pasrah kepada Tuhan. Hati dan tindakan kita bertolak belakang. Sebagai contoh, ketika kita dengan pasrah kepada Tuhan memutuskan saya menjadi seorang dosen, seperti sekarang ini, mestinya saya akan menjalankan keputusan itu dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan. Namun kenyataannya saya ketika mengajar dihadapkan pada gaji yang kecil, fasilitas yang kurang memadai…, nyatanya masih sering ngedumel. Benarkah tindakan saya….? Yach …., manusiawi….! Katanya. Benarkah ngedumel, tidak ikhlas, adalah hal manusiawi yang dianggap wajar dan dimaafkan… dan boleh menjadi kebiasaan…? Dalih seperti ini sering meluncur dari bibir saya dengan lancar, dengan harapan orang lain mau mengerti dan memahami.
Tidak perlu dipertanyakan tentang tindakan saya mestinya, pasti itu salah. Namun itulah yang kita lakukan sehari-hari. Dituntut bergerak cepat, sering terburu-buru dan lebih sering spontan. Oleh karena itu , sumber rasa menjadi dominan. Benarkah rasa itu datang dari Nurani yang paling dalam…..? Bagaimana kita dapat mengukurnya kalau itu berasal dari hati….?
Ada petuah dari moyangku yang entah benar atau salah, bahwa rasa hati itu sering menipu……!!!! Sebagai contoh: ketika itu saya merasa hati menjadi kasihan maka saya memutuskan untuk….., memberi sesuatu, menerima sesuatu, meneruskan, mengganti dll. Namun setelah keputusan diambil ujungnya kita kecewa, mengapa saya begitu….., coba kalau……! Yang akhirnya kita menyesal tiada akhir….! Jadi dimana keputusan yang benar….?
Karena sudah buntu., biasanya kita berdalih …., biarlah hidup kita mengalir apa adanya……, toh nanti sampai kepada muara juga. Slogan klasik dikala kita mengalami kebuntuan. Padahal disadarikah bahwa muara itu ada dua….? Yaitu muara positif dan negative. Hukum alam mengatakan bahwa yang negative menyebabkan jatuh, turun dan rendah. Sebaliknya yang positif tinggi naik dan diatas. Coba kita lihat hukum air mengalir, pasti menuju yang rendah, kebawah dan itu turun. Maka sudah pasti sampai pada muara negative. Mengapa kita masih mengagungkan pujangga yang demikian…?
Makanya pakai logika, dan ratio jika tidak mau kejeblos….!!, nasehat temenku. Binatang apakah ratio itu…? Bikin pusing aja…! Dijelaskan bahwa ratio adalah kemampuan subyek menanggapi obyek. Jadi kalau subyeknya manusia dan obyeknya adalah persoalan yang ada , dimana si subyek kemampuannya terbatas…., lalu apa yang terjadi……? Tidak semua orang punya kemampuan untuk faham terhadap persoalan yang dihadapi. Sedangkan kita harus cepat ambil keputusan…! Aduuuh…, inilah sumber keruwetan, Adakah yang punya teori jitu…..? Haruskan memutuskan….?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.