rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for February, 2011


Published February 20th, 2011

Siapa K I T A……?

Siapa K I T A ?
1. Pendahuluan
Berbicara kita yang dimaksud disini adalah pasti bukan personal , lebih dari satu orang yang terdiri dari saya pribadi, pembaca dan siapa saja yang merasa menjadi bagian dari Bangsa tentunya. Jika yang dibicarakan hanya individu pribadi. Bisa dipastikan akan mengarah pembicaraan gosip yang tak baik. Oleh karena itu alangkah baiknya jika yang dibicarakan adalah K I T A sebagai bagian dari bangsa. Agar kita menjadi lebih menyadari siapa K I T A ini. Mudah-mudahan dapat menghantar menjadikan kita yang lebih baik, tidak seperti yang terjadi sekarang-sekarang ini. Dimana kita setiap hari dipaparkan betapa kita saling menyerang, saling menghujat, saling, merusak dan lain sebagainya.
Bangsa adalah sekumpulan manusia. Karena sekumpulan maka bangsa mempunyai kesamaan, atau ciri-ciri khas yang melekat pada bangsa, khususnya Bangsa tercinta I N D O N E S I A. Ciri-ciri suatu bangsa ada yang bersifat fisik dan ada yang bersifat non fisik. Dari fisiknya gampang dikenali, dari mulai warna kulit, postur tubuh, warna rambut dll. Sedangkan ciri-ciri non fisiknya dapat dinilai dari budaya ( pola pikir) dan peradaban yang telah dihasilkannya.
2. Istilah Indonesia
Indonesia, terdiri dari dua kata Indo dan nesia . Indo berarti turunan atau campuran dan nesia kependekan dari Melanesia dan Polinesia. Melanesia , adalah rumpun atau etnis yang mendiami daerah sekitar kepulauan Hawai dan salomon. Dan Polinesia adalah rumpun etnis yag mendiami daerah sebelah timur pantai Australia kira-kira 1000 mil. Indonesia , adalah keturunan campuran dari etnis Melanesia dan Polinesia dengan agamanya Animisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap ruh, yaitu percaya bahwa setiap benda mempunyai ruh menjadi Dinamisme.
Dari istilah bangsa itu sendiri kita ternyata adalah campuran. Maka tidak mengherankan kalau semboyan kita menjadi “Bineka Tunggak Ika.” Istilah Bineka mengisyaratkan kita adalah campuran baik dilihat secara fisiknya maupun budaya dan Pola pikirnya.
3. Istilah Bangsa
Bangsa, Berdasarkan Ernes Renan ( Orang Perancis) dalam bukunya Quisi genation (Apakah bangsa itu ?) . bangsa adalah sekumpulan manusia yang mendiami suatu daerah tertentu yang diikat oleh satu perjalanan sejarah sehingga merasa senasib dan seperuntungan, dimana mereka tidak diikat oleh bahasa, ras dan agama.
Dari definisi ini ada point bahwa kita adalah mengalami (diikat) oleh perjalanan sejarah yang sama, merasa senasib dan seperuntungan. Sudahkah kita merasa demikian…….? Jawabnya pasti belum. Lho wong yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Apakah ini yang disebut senasib dan seperuntungan….? Kalau kita merasa jauh dari yang namanya senasib dan seperuntungan mengapa terjadi demikian…? Marilah kita kaji bersama, mulai dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia.
4. Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia.
Untuk saya pribadi, ketika masih sekolah dahulu, yang dinget adalah perjalanan sejarah pada sesudah an sebelum kemerdekaan. Dimana perjalan kita sebelum merdeka diusut mulai datangnya hindu, budha. Tapi kali ini kita akan usut lebih jauh lagi yaitu mulai dari manusia yang pertama Nabi Adam.
Secara umum kita Bangsa Indonesia berkulit sawo matang, rambut hitam dan postur tubuh yang tergolong kecil dan tidak tinggi. Mengapa ya…, kita berkulit sawo matang…? Konon Nabi Adam selalu mempunyai anak kembar. Ada yang kembar hitam-hitam, kembar Putih- Putih dan ada yang Hitam Putih. Karena belum banyak manusia perkawinan dilakukan silang. Anak yang pertama harus kawin dengan adiknya begitu sebaliknya, sehingga diantara anak-anak Nabi Adam saling menikah. Putih dengan putih menghasilkan putih, hitam dengan hitam keturunannya pastilah berkulit hitam. Namun ketika putih kawin dengan yang hitam akan menghasilkan ras merah, seperti Indian. Turunan berikutnya yang berkulit Merah ada yang kawin dengan kulit putih maka terbentuk ras Kuning, seperti cina dan Jepang. Kalau begitu kita termasuk yang mana…? Pastilah dari Ras Kuning.
Konon ketika itu manusia belum banyak. Puncak ledakan manusia dimulai pada jamannya Nabi Nuh As. Karena sudah menjadi banyak, akhirnya terkelompok menjadi 4 ras. Yaitu Ras Putih, Hitam Merah dan Kuning. yaitu terjadi disekitar Babilon ( sekarang Irak).
Pada saat itu terjadi banjir bandang etnis yang terkelompok menjadi 4 etnis tersebut yang akhirnya akhirnya menyebar ke empat penjuru. Ras putih menyebar ke utara melalui pegunungan Kaukakus menjadi Indo Eropa, Ke barat Ras hitam menjadi Indo Smith (seperti Arab dan Negrito), ke selatan ras merah menjadi seperti India, dan ras Kuning ke timur laut menjadi bangsa Mongol seperti Cina dan Jepang.
Setelah melalui Cina, Jepang, Okinawa, dari situlah pada abad pertama masuk melalui kepulauan hawwai dan Solomon menjadi Melanesia. Dari sini kemudian berlayar meneruskan sampai di sebelah timur pantai Australia kira-kira 1000 mil. Menjadi Polynesia. Antara Polynesia dan Melanesia bergabung dan masuk ke Jawa menjadi Indonesia. Lho kok ke jawa…., mengapa tidak ke yang terdekat ke Irian misalnya…..? kalau dilihat dari warna kulit orang irian tidak berkulit sawo matang, yaitu negrito. Kalau begitu dari mana tuh Irian ….? Proses perjalan sejarah pasti bukan berhenti pada saat itu saja.., tahap selanjutnya melalui jalur yang lain pastilah sampai ke sana.

5. Kemajemukkan Bangsa.
Setelah kita menyadari bahwa kulit kita sawo matang , hasil dari perjalanan keturunan Nabi Adam yang begitu panjang, maka sepanjang itu pula perjalanan pola pikir bangsa yang akhirnya menjadi majemuk. Ibarat Perjalanan air di suatu sungai yang berpusat di danau Peradaban disekitar Irak, disitulah wahyu Allah turun. Dimulai dari Nabi adam sampai Nabi Muhammad, (wahyu Allah turun tidak jauh dari situ). Indonesia baru mulai berpenghuni sekitar Abad 1 Masehi, dimana saat itu jamannya Nabi Isa menerima wahyu namun yang masuk ke Indonesia adalah pola pikir animisme dan dinamisme. Kalau sungai Ciliwung misalnya yang bersumber dipegunungan salak, airnya masih bersih, bening dan segar. Namun air Ciliwung juga yang mengalami perjalanan panjang sampai ke muara ancol misalnya airnya sudah kotor, hitam dan bau. Begitu pola pikir animisme dan dinamisme yang melekat pada nenek moyang kita.
Ah…., itu khan dulu…, sekarang mana ada….? Kita khan… sudah modern….? Bukan bermaksud merendahkan diri, namun sadarilah itu adalah bagian dari kita yang sulit dihilangkan. Yang sadar akan perjalanan sejarah (pola pikir) yang demikian saja, sangat sulit untuk hijrah menuju pola pikir seperti yang terjadi di pusat peradaban sana. Mengapa karena hijrah fisik tidak mungkin dilakukan seperti hijrah kepingin warna kulit jangan sawo matang tetapi jadi putih….? Misalnya…! Bisa sih… dengan operasi katanya… tapi…., begitu mahal pengorbanan, dan yang jelas mampukah…? Dan kalau ingin hijrah pola pikir seperti di pusat danau peradaban bagimana caranya…..? sedangkan peradaban yang masuk setelah animism dinamisme, muncul hindu, maka kitapun mewarisi hindu. Begitu budha masuk kita mewarisi budha, terus Islam masuk, Kristen (kebudayaan barat) masuk, kita juga sangat melekat kebudayaan barat. Ah…., saya khan beragama islam…., ngga ada tuh pola piker animism dinamisme, hindu budha apalagi Kristen…..? Coba kita lihat…, masihkah dari kita masih ada cerita setan di pohon besar..? Hantu Kuburan….? Itulah pola pikir animisme dan dinamisme. Masihkah dari masyarakat kita yang mempersembahkan sesaji pada acara-acara tertentu dengan aneka bunga dll…..? itu adalah warisan hindu Budha. Adakah dari kita yang banyak mengerti doa-doa dalam bahasa Arab namun tidak tahu artinya…? Itulah warisan Islam yang masuk ke Indonesia. Adakah kita yang berpola konsumtif, bersifat individu…? Itulah warisan budaya barat yang masuk ke Indonesia. Jujur kalau itu semua disadari maka semua itu melekat pada diri kita. Melekat bagaikan sudah berkarat dihati…, namun jarang yang menyadari…!
Dilihat dari Ilmu statistic, keragaman data adalah sumber bencana. Lihatlah Variabilitas data, dimana data yang heterogen adalah data yang mempunyai variabilitas tinggi. Dimana variabilitas yang tinggi salah satu ukuran ketidakstabilan, sama dengan bencana. Contoh kita mempunyai kendaraan yang berkemampuan rata rata hanya 65 km perjam dan tidak pernah mogok (Variabilitas pasti kecil), sedangkan teman mempunyai kendaraan dengan kemampuan tinggi diatas 100 km/jam. Namun ketika panas dia pasti mogok (Variabilitas tinggi). Pilih yang mana..? Pastilah kita memilih yang kecepatan rendah dan stabil.

6. Siapa Kita…?
Dari uraian panjang lebar diatas, kita adalah bangsa majemuk dari fisik dan pola pikirnya. Ibarat air, kita pada muara akhir yang berwarna hitam pekat dan bau. Maka kemungkinan besar manfaatnya kurang bahkan berbahaya. Dilihat dari fisik yang sawo matang mungkin tidak perlu di perdebatkan, namu sayang banyak dari kita membicarakan sesuatu masih seputar fisik, hanya dilihat kemampuan mata telinga dan lembaga tubuh lainnya. Kalau kita berfikir mengapa di pusat peradaban terjadi budaya dan peradaban tinggi, pastilah bukan kemampuan mata lembaga tubuh, namun dapat dipastikan kemampuan mata ilmu dari sang pencipta yaitu Wahyu yang maha hebat.

Published February 15th, 2011

Teori Kebenaran

Teori Kebenaran.
1. Pendahuluan.
Menjadi benar, selalu dicari manusia. Tetapi apa yang disebut benar itu…? Benar menurut diri belum tentu benar menurut orang lain. Dalam menjawab soal-soal, apabila jawaban yang diberikan sesuai dengan jawaban yang membuat soal maka akan dikatan benar. Apakah benar hanya pada soal-soal ulangan disekolah…? Tentunya tidak demikian, semua lini kehidupan membutuhkan kebenaran. Sifat kebenaran sering diukur dengan hati. Karena yang benar, biasanya enak, sejuk dihati. Terhadap kebenaran hati tidak pernah bohong. Lalu dengan apa mengukur hati…? Karena hatipun sering menipu, dikala sakit tentunya. Misalnya waktu seseorang sedang sakit demam, maka hatta dia sedang berjemur dibawah matahari terik sekalipun, jika ditanya panas atau dingin, maka jawabnya pasti dingin. Karena dikala sakit baik sakit fisik ataupun non fisik hati tidak mampu menilai. Sakit fisik seperti demam dapat diobati. Namun dikala sakit non fisik bagaimana mengobatinya. Jadi apa yang disebut teori kebenaran…?

2. Definisi Teori Kebenaran,
Menurut ilmu filsafat, yang entah apa bukunya kira-kira yang disebut benar adalah cabang ilmu yang mempelajari persesuaian antara keadaan objek dan pengetahuan subjek terhadap objek itu. Disini manuia tentunya sebagai subjek. Maka dikala memutuskan benar atau tidak akan tergantung dari subyektifisme manusia. Betapa bahayanya jika subyektifisme menjadi subyeknya. Maka akan menjadi wajar ketika manusia menjadi merasa benar sendiri. Karena dirinya merasa benar maka akan berbuat terus menerus seperti itu. Padahal belum tentu menurut orang lain, apalagi benar Di hadapan Tuhan. Secara jujur saya pribadi masih jauh dari kebenaran Tuhan. Bagaimana kita dapat menjadi Benar…?

3. Kenyataan Kebenaran
Oleh karena kebenaran individu sangat subyektifisme, maka yang sering di gunakan dalam menentukan kebenaran berdasarkan benar dengan atas namakan golongan atau mencakup kebenaran menurut orang banya. Sebagai contoh ketika dalam menentukan siapa yang paling bagus menyanyikan lagu..? pastilah menurut kebenaan orang banyak yang dianut. Hampir disetiap lini kehidupan benurut orang banyak menjadi lebih utama. Seperti pada saat menentukan keputusan Negara di DPR/MPR sampai tingkat RT , kebenaran universal dijunjung tinggi. Adakah kebenaran diluar itu…..?

Published February 15th, 2011

Teori Kebenaran

Teori Kebenaran.
1. Pendahuluan.
Menjadi benar, selalu dicari manusia. Tetapi apa yang disebut benar itu…? Benar menurut diri belum tentu benar menurut orang lain. Dalam menjawab soal-soal, apabila jawaban yang diberikan sesuai dengan jawaban yang membuat soal maka akan dikatan benar. Apakah benar hanya pada soal-soal ulangan disekolah…? Tentunya tidak demikian, semua lini kehidupan membutuhkan kebenaran. Sifat kebenaran sering diukur dengan hati. Karena yang benar, biasanya enak, sejuk dihati. Terhadap kebenaran hati tidak pernah bohong. Lalu dengan apa mengukur hati…? Karena hatipun sering menipu, dikala sakit tentunya. Misalnya waktu seseorang sedang sakit demam, maka hatta dia sedang berjemur dibawah matahari terik sekalipun, jika ditanya panas atau dingin, maka jawabnya pasti dingin. Karena dikala sakit baik sakit fisik ataupun non fisik hati tidak mampu menilai. Sakit fisik seperti demam dapat diobati. Namun dikala sakit non fisik bagaimana mengobatinya. Jadi apa yang disebut teori kebenaran…?

2. Definisi Teori Kebenaran,
Menurut ilmu filsafat, yang entah apa bukunya kira-kira yang disebut benar adalah cabang ilmu yang mempelajari persesuaian antara keadaan objek dan pengetahuan subjek terhadap objek itu. Disini manuia tentunya sebagai subjek. Maka dikala memutuskan benar atau tidak akan tergantung dari subyektifisme manusia. Betapa bahayanya jika subyektifisme menjadi subyeknya. Maka akan menjadi wajar ketika manusia menjadi merasa benar sendiri. Karena dirinya merasa benar maka akan berbuat terus menerus seperti itu. Padahal belum tentu menurut orang lain, apalagi benar Di hadapan Tuhan. Secara jujur saya pribadi masih jauh dari kebenaran Tuhan. Bagaimana kita dapat menjadi Benar…?

3. Kenyataan Kebenaran
Oleh karena kebenaran individu sangat subyektifisme, maka yang sering di gunakan dalam menentukan kebenaran berdasarkan benar dengan atas namakan golongan atau mencakup kebenaran menurut orang banya. Sebagai contoh ketika dalam menentukan siapa yang paling bagus menyanyikan lagu..? pastilah menurut kebenaan orang banyak yang dianut. Hampir disetiap lini kehidupan benurut orang banyak menjadi lebih utama. Seperti pada saat menentukan keputusan Negara di DPR/MPR sampai tingkat RT , kebenaran universal dijunjung tinggi. Adakah kebenaran diluar itu…..?

Published February 5th, 2011

Gambaran Orang Kafir

Gambaran Orang Kafir

Sering kita mendengar bahasa percakan sekelompok anak-muda ketika menyatakan sesuatu perbuatan jelek yang dilakukan temannya , maka dengan mudah akan mengatakan “ Kafir luh….! . Sebagai contoh ketika seseorang meninggalkan shalat , langsung disebut kafir. Apa sebenarnya kafir itu…? Sengaja kita membahas istilah ini, dengan harapan ketika kita menyatakan sesuatu, diiringi dengan tingkat pengertian yang jelas, sehingga dengan pengetahuan yang tajam akan akan membawa kepada tingkat kesadaran yang tinggi dalam menjalankan hidup. Banyak sekali istilah-itilah yang sering menghiasi dalam ucapan kita ketika berbicara. Namun berapa orang yang sadar akan apa yang diucapkannya itu……?, sehingga seperti contoh pada sekelompok anak muda tersebut diatas yang menganggap enteng mengucapkan sesuatu. Alhasil dapat dipastikan bahwa yang mengucapkan tanpa sadar apa yang diucapkannya maka akan melahirkan tindakan yang kurang bermakna.

1. Istilah Kafir.

Istilah Kafir ditemukan di Al-Quran, terutama dibahas detail pada Qs-AlBaqarah mulai ayat 5. Oleh karena itu sebagai acuannya kita akan merujuk kesana. Sebagai orang Islam kita meyakini sepenuhnya “ dzalikal kita bula raibafihi…” Inilah kitab Al-Quran yang isinya tidak diragukan lagi kebenarannya…., sebagai “hudan lilmuttaqin” yaitu sebagai pedoman yang mau berbuat patuh menurut yang demikian.

Istilah kafir, adalah lawan dari Iman. Maka kalau istilah iman sudah disepakati bahwa iman adalah hidup dengan ajaran Allah, maka yang kafir adalah hidup dengan ajaran selain dari ajaran Allah, yaitu dengan ajaran batil. Maka dalam Qur’an yang mau dengan Ajaran Allah, disebut Iman Haq dan yang tidak mau dengan ajaran Allah disebut Iman Batil. (Qs: Ankabut, ayat 51 “walaladzina aamanu bilbathili wakafaru billah ..” yaitu yang beriman dengan ajaran batil bersifat negative dengan ajaran Allah. Itulah yang disebut Kafir. Jadi Kafir, sama dengan bersifat negative dengan ajaran Allah. Orang yang demikian penjelasan Allah selanjutnya …adalah yang hidup rugi/perusak kehidupan dimana sajapun.

2. Ciri-ciri Orang kafir yang lain:

  1. Bersifat destruktif (perusak )

Ibarat sebuah timbangan alam ini, maka yang kafir ini merusak tatanan yang sudah setimbang. Sebagai contoh dalam alam ini diciptakan siang dan malam yang sudah setimbang dan manusia supaya setimbang diberi tugas dikala siang dan malam, namun sering kali melanggarnya. Tugas mu’min siang hari “sabhan thawilan” kesibukan berbuat mencari rizki bagaikan mau hidup seribu tahun lagi, namun sering kita malas, tidak bersemangat dalam kerja, buang-buang waktu…, ngobrol tak berguna dll. Begitu malam hari mestinya “warrattililQurana tartila…” yaitu mempelajari Ilmu Allah yaitu Qu’ran dengan semantap-matapnya bagaikan mau mati besok” Namun sayang belajar malam hari belum menjadi budaya, apalagi memenuhi disiplin waktu seperti Muhammad sampai 2/3 malam…, belum pernah dapat mengujudkan. Jangan-jangan mimpipun tidak untuk belajar sampai 2/3 malam (katakanlah 6 jam). Seperti saya pribadi.., selalu kelelahan kerja diwaktu siang maka pekerjaan siang dibawa ke malam hari. Batas kerja siang dan malam menjadi tidak jelas. Siapa disini yang jadi perusak….? Ya kita sendiri….! Tatanan seimbang telah di paparkan dengan gamblang, sebagai pedoman hidup setimbang.., atau jangan – jangan akibat tidak faham, menjadi tidak sadar sudah merusak namun tidak merasa demikian…! Astagfirullah hal Adziiiimmmmi…..!!! saya sering demikian.

  1. Berlaku Masa Bodoh….

Dalam Qs. Baqarah ayat 6 “ sawaa’un alaihin aanzartahum amlam tundzirhum layu’minun…” Bagi yang kafir sama saja , apakah diperingatkan atau tidak terhadap ancaman Allah , niscaya mereka itu tidak akan mau beriman” Rumusan dalam ayat ini…, menggambarkan bahwa mereka yang kafir berlaku masa bodo…terhadap berbagai peringatan Allah. Seperti kita telah menyaksikan beragam peristiwa dari mulai, gempa, banjir, tsunami, perang…., angin rebut dl , apakah dengan kejadian ini kita menjadi lebih beriman…? Pengertian iman disini bukan lagi sekedar lebih percaya dengan Tuhan…., bukan, bukan seperti itu yang dimaksud. Wilayah iman sudah menyangkut perbuatan, bukan sekedar wilayah hati. Jadi kalau memang tidak masa bodoh dengan peringatan Allah maka mestinya ada perubahan tindakan nyata yang mengarah lebih baik dari itu secara nyata. Fakta dilapangan, dengan beragam kejadian disekitar kita namun kehidupan tidak mengarah menjadi lebih baik secara nyata, akibat masa bodohnya manusia. Terutama seperti saya pribadi…, dengan alasan sifat manusia yang lupa, yang serba terbatas…, selalu mengulangi kesalahan yang sama. Mestinya seiring dengan bertambahnya usia, saya akan lebih peduli lagi…, lebih peduli…, hingga bermanfaat banyak dalam kehidupan. Kabulkanlah ya Allah…!

  1. Senang Berputar lidah

Maksud dari berputar lidah, adalah mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya. Disini digambarkan pada Qs: Al-Baqarah ayat 8 “ waminannasi manyaquulu…..” sebagian besar manusia menyatakan beriman (berbuat pas antara hati ucapan dan tindakan), padahal mereka bukanlah yang hidup demikian. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menyaksikan di televise misalnya, “ orang yang paling lantang menganjurkan supaya berantas korupsi, eh…., sebenarnya biangnya korupsi salah satunya yang mengatakan tadi “ inilah yang disebut berputar lidah. Begitu dengan saya pribadi….., sering tidak sadar menganjurkan ini dan itu…, tetapi saya sendiri belum mampu melakukannya…! Ya.. Tuhhaaaaan….., semua itu ada di diri saya….! Berilah hamba kesadaran…..!

3. Kapan lebel kafir melekat….?

Dalam hidup didunia ini adalah suatu proses yang terus-menerus, dari hari kehari kita diberi kesempatan untuk berubah menuju yang lebih baik. Tuhan tidak pernah memvonis sebelumnya kita ditakdirkan di Surga ataupun Neraka. Surga balasan bagi yang Iman dan Neraka balasan bagi yang kafir. Oleh karena itu , dikala kita melakukan kesalahan, belum tentu kita langsung kafir. Begitu sebaliknya dikala kita suatu saat berprestasi atau berguna tentu saja tidak langsung Serta merta surga. Diibaratkan sebuah garis dalam hiup yang tersusun dari titik-titik yang salang sambung-menyambung, dimana titik itu melambangkan jumlah tinakan yang kita lakukan. Maka jumlah yang dominan itulah yang nantinya menentukan Sorga atau Neraka. Hanya saja Allah telah memperingatkan kepada siapa saja yang , maka jika terus-menerus berbuat kesalahan nantinya akan menjadi semacam penyakit di Hati. Awalnya kita tidak menyadarinya . Namun kita akan menyesal setelah terjadi. Bahkan Allah akan melipatgandakan penyakitnya itu. “fiqulubihim maraadun fazadahumullahumaradha, walahum ‘adzabun alim…” setelah dilipatgandakan itulah yang biasanya disebut adzabun alim, yaitu suatu siksa yang amat pedih. Astaghfirullahaladziiiimmm……, Jauhkanlah ya Allah dengan Adzabmu yang maha pedih…! Amien…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.