rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for January, 2011


Published January 17th, 2011

kepada anakku, shalatlah

Puisi Kepada Anakku, Bagian II

Anakku sayang…….
Telah banyak tentang shalat mama papa jelaskan
Mengapa gerangan setengah hati kalian lakukan ?.
Tak henti kalian bertanya……..
Mengapa , mengapa dan mengapa, menuntut bulat jawaban.

Anakku sayang…..
Tak ada lelah, menjawab pertanyaan
Menuntun kalian menuju kemantapan
Melakukan shalat sebegai puncak kebanggaan hati tak terkirakan
Semoga sampai menghantar kedewasaan kalian

Wahai anakku ……
Yang kalian pertanyakan slalu
mengapa shalat setiap waktu….?
Bukankah merepotkan dan membosankanku….?
Masih ditambah, jum’atan, Tahajut dan lail apakah itu….?

Anakku Sayang…..
Karena raga bergerak setiap saat
Butuh makan sehat, agar tangguh bermanfaat.
Maka jiwapun perlu makanan dan obat
Yaitu dipenuhi dengan melakukan shalat.

Anakku sayang……

Ibarat obat penyembuh penyakit

Terdiri serbuk bubuk beserta  kulit

Yang perperan bubuk yang terasa pahit

Tapi itulah penyembuh penyakit.

Kaifiyat shalat ibarat kulit

memahami makna shalat demikian sulit

maka yakinlah makna adalah ibarat bubuk pahit

yang mampu menghapus penyakit.

Anakku sayang…….

Menuju hati bermakhkotakan Quran, maka
Shalat lima waktu menjadi pembinaan pribadi mukmin harian
Shalat jum’at menjadi pembinaan mu’min kelompok mingguan

Shalat tahajud 3 hari diawal dan 3 hari diakhir bulan,

Adalah pembinaan jurnal bulanan
Ditutup denagan pembukuan shalat lail dimalam Rhamadan sebagai Pembinaan Tahunan
Ditambah beberapa shalat sunah yang lain sebagai penguat , pemantapan pertahanan
Mencapai tiang tatanan Negara dan bangsa yang makmur berkeadilan.
Namun sampai hari ini masih dalam gelap impian

Anakku sayang…..
Menjadi bosan melakukan shalat, karena tanpa sadari tujuan
Pandanglah sebagai kebutuhan, sebagai bentuk pengorbanan
Merebut Cinta Sang khalik yang tiada tandingan

Terus menerus shalat dilakukan, adalah kunci kekuatan
Membentuk energy dakhsyat tak terbantahkan
Laksana bentukan magnet, menjadi daya tarik kepribadian
Pesona mu’min agung yang penuh menjanjikan.

Anakku sayang….
Beratnya shalat lail ditengah malam
Hanya sedikit yang sadar melakukan
Sadar menembus gelap malam , menuju terangnya sukses kehidupan
Hanya berlaku pada manusia pilihan.
Mudah-mudahan berlaku atas kalian
Karena ini janji Tuhan penuh dengan kepastian

Apa yang mama papa jelaskan sudah dilakukan…!
Mengapa tak dapat ku gapai sukses impian?
Begitu pada yang lain, telah pula dijalankan
Kenapa pula sukses jauh dari harapan……?
Mungkinkah Tuhan tak Mendengarkan…..?
Itulah yang membuat anakmu menjadi bosan…!

Anakku sayang……
Setelah dikuasai bentangan tujuan
Menjadi konsepsi rumus nan indah tak terlukiskan
Menjadi bagian diri, di hati terleburkan
Sedikit demi sedikit cobalah dipraktekkan kebenaran
Sambil berlatih menikmati kepastian
Jika belum temukan kecocokan harapan
Tengoklah berbagai praktek yang telah dilakukan
Bia jadi tak sejalan dengan rumusan
Namun diri tak merasa demikian.

Anakku sayang………
Rumusan dari Nya tak pernah terbantahkan
Maka praktek yang dilakukan kemungkinan bisa menyimpang
Akibat minimnya penguasaan , tentang makna yang cerdas gemilang.
Gerakan dalam shalat banyak yang kalian pertanyakan
Mengapa harus demikian……..?
Dimulai ketika berpijak pada sajadah, menampikkan gempita takbir, meletakkan kedua tangan bersama di sebelah kiri, mata memandang tajam ketempat sajadah, sampai gerakkan attahiyat mengangkat jari telunjuk, apa gerangan ……?

Mengapa ketika mengawali shalat perlu baca doa ta’awud terlebih dahulu ?

Anakku sayang…..
Ketika janji memadu harap dengan Tuhan mulai di tegakkan
Butuh ruang streril dari godaan syaithan
“a’udzubillahiminasyaithaaanirrajiim”
Semoga (saya yang melakukan shalat ) melindungi diri dengan ajaran Allah dari ajaran syaithan

Published January 14th, 2011

menembus malam

MENEMBUS MALAM
Kawan……..,
Tuhan telah memisahkan dua persolan secara jelas
Diciptakan siang dan malam,
Dipisahkan antara perintah dan larangan
Diujudkan kesuksesan dan kegagalan
Di persilahkan antara hak dan kewajiban
Dengan batas batas kejelasan.
Kawan……,
Sesederhana memahami konsep dua ini dalam kehidupan
Terletak dalam batas yang sudah di lukiskan.
Ibarat subuh dan maghrib pembatas siang malam
Lukisan batas indah tak terbantahkan.
Kawan……,
Telahkah kau tembus batas malam guna meraih terangnya siang…..?
Telahkah kau jalani perintah dengan meninggakan semua larangan……?
Sudahkah di alami berbagai corak ragam kegagalan guna meraih aneka warna gemerlap kesuksesan…..?
Dan sudahkah kau jalani semua kewajiban dibandingkan hak-hak istimewa yang kau dapatkan…?

Dibutuhkan kebersihan hati dan keikhlasan, menembus batas kehidupan
Berkawan malam, berteman kewajiban, bermusuhan dengan larangan
Bersahabat dengan kegagalan , dengan mengemban kewajiban, menembus malam
Meraih terang kesuksesan.
( Kamis, 6 januari 2010, rakhma 02:14)

Published January 11th, 2011

Gambaran Orang beriman

Gambaran Orang Beriman

Setiap manusia  pastilah punya Iman. Konon Iman itu sama dengan percaya. Apakah cukup hanya percaya saja ? Kalau iman itu hanya percaya, saya tak mampu jawab ketika anakku bertanya. Ketika itu ia duduk di bangku SMP, kelas 2 bertanya kepada mamanya, (setelah mandapat pelajaran Agama Islam di sekolahnya). “Mama, kata Pak Guru Iman itu percaya , Boleh ngga saya percaya pada Guru dan orang tua , sama dengan saya beriman pada Guru dan Orang Tua ? “ Tanya anakku saat itu . “Bagaimana jawab Pak Guru” tanyaku balik pada anakku. “ Akh …., pak Guru jawabannya bikin pusing…, katanya iman percaya, tapi beda kalau percaya sama guru dan orang tua tidak bisa dikatakan beriman. Iman hanya kepada yang enam, yaitu kepada 1.Allah, 2.Malaikat, 3.Rasul, 4, Kitab (Qur’an), 6. hari Akhir Qadha dan Qadhar”. Begitu penjelasan anakku. Kemudian Dia lanjut bertanya, Kalau begitu iman itu apa ? dan bagaimana sebenarnya Gambaran orang beriman itu…?
Apa Iman…?
Kata Gurumu Benar  nak…, bahwa Iman atau percaya kepada yang enam itu berbeda dengan percaya pada Guru dan orang tua. Kalau Percaya saja, ruang lingkup Iman hanya dihati. Nabi menjelaskan dalam hadist, ruang lingkupnya meliputi, hati, ucapan dan perbuatan. Atau Iman sama dengan menyatunya Hati ucapan dan perbuatan.

Dengan apa Beriman…?
Karena iman meliputi hati ucapan dan perbuatan, maka kalau iman dihati dan ucaan saja, sama saja hanya ngomong doang. Padahal iman perlu ujudkan ke dalam perbuatan. Semua orang yang berbicara pastilah keluar dari hati. Kalau yang dihati dan diucapkan itu tenyata tidak sama dengan perbuatannya maka dia ber dusta. Maka dia tidak dapat dikatakan beriman. Supaya yang ada dihati, diucapkan agar bisa pas dengan perbuatannya , dengan apa untuk ngepasin atau untuk nyocokkinnya….? Kata Allah pada Qs Baqarah ayat 4, “Waladzi nayu’minu nabima unjila ilaika…” yaitu yang beriman itu dengan yang telah diturunkan kepada Anda (Muhammad)”. Jadi iman itu harus dengan yang diturunkan kepada Muhammad, yaitu Quran.
Mengapa Dengan Qur’an ?
Beriman harus dengan Qu’ran, Karena hanya Qu’ran satu-satunya pedoman hidup, yang tidak diragukan lagi atas kebenarannya. “dzalikal kitabuula raibafihi, hudan lilmuttaqiin….? Muttaqiin, adalah orang yang mau berbuat patuh menurut satu pedoman. Orang yang patuh yaitu Orang yang tepat antara ilmu (sebagai rancangan) dan tindakannya (sikapnya).

Bagaimana Gambaran orang Beriman….?
Tadi dijelaskan bahwa yang beriman itu harus dengan Quran, sebagai ilmu. Maka agar ilmu mencadi rancangan hidup perlu dikuasai. Kalau kita menuasai ilmu (Quran) pastilah kita akan mampu menilai sesuatu. Jika kita mampu menila sesuatu maka ketika kita melihat sesuatu bukan mengandalkan mata saja. Tetapi mengandalkan mata ilmu. Itulah yang disebut dengan Memandang.
Contoh: ketika ada tiga orang melihat suatu benda yang menjijikkan.
Orang pertama hanya ngoceh dan mencaci , kemudian menghindar dari benda yang menjijikkan.
Orang Kedua Mencaci ((berbuat negatif) kemudian membuang benda yang menjijikkan tersebut.
Orang ketiga tidak banyak omong langsung mengambil, benda yang menjijikkan akan dijadikan pupuk, atau sebagai percobaan di lab.
Apa yang membedakan ketiga orang tersebut…?
Orang pertama, banyak omomg dan tidak berbuat apa-apa. Ini biasanya tanda orang yang tidak punya ilmu, dan tak mampu menilai sesuatu.
Orang kedua, banyak omong dan membuang benda tersebut, yang pertanda dia punya pandangan dan mampu menilai namun dari segi ilmu yang negative
Orang ketiga, cederung diam, berbua sesuatu dan menghasilkan manfaat. Orang ketiga ini mampu menilai, yaitu punya pandangan yang positif dan mampu menambah sesuatu menjadi sedemikian rupa.
Jadi gambaran orang yang beriman adalah seperti orang ke tiga, yaitu mampu memandang sesuatu dengan yang positif sekaligus mampu bertindak yang positif dengan bermanfaat bagi siapa saja. Sedangkan orang yang kedua juga beriman (iman batil). Mampu memandang, berarti punya ilmu. Dan berbuat sesuatu tetapi manfaatnya terbatas.
Bagaimana untuk dapat bermanfaat , menjadi sedemikian rupa sehingga. Kalau kita merujuk lagi kepada Quran, pada Quran Al-Baqarah ayat 3, “ Aladzina yu’minunabilghaibi wayuqimunashalata wamimmarazaknahum yunfiquun”. Yang disebut mu’min itu adalah yang mampu berpandangan dan bersikap dengan satu kepastian dari Allah. Mereka itu hasil Shalat ( dimulai rattil /belajar sebagai satu persiapan iman dan melakukan shalat sebagai pembinaan iman ). Sehingga dengan rizki yang diperoleh dari Allah menjadikan dia mampu hidup beranggaran kedalam satu kehidupan Pada ayat selanjutnya kemudian Allah menjelsakan bahwa, Begitu Muhammad, memenangkan kehidupan. Al-quran sebagai pedoman, petunjuk bagi semua Rasul-Rasul sebelumnya. Dengan mana Mereka semua para Rasul yakin mencapai tujuan terkhir, untuk memenangkan satu kehidupan.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.