rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for May, 2010


Published May 7th, 2010

Apakah Allah itu Pribadi….?

   Allah itu pribadi, sang AKU......, begitu petikan kalimat
pertama pada postingan terakhir pak Ravi, untuk menutup diskusi panjang yang
penuh dengan kritikan. Terus terang saya merasa belum tuntas dalam membicarakan
ilmu. Karena Masalah Ilmu adalah masalah pokok atau dasar hidup yang mesti
dipahami maka saya akan terus mencari. Agar dalam hidup memenuhi yang
diperintahkan Allah SWT. Sepanjang hayat Allah memerintahkan kita untuk mencari
 ilmu bahkan sampai ke negeri Cina.

1. Ilmu , Qur’an dan Iman

        Pemahaman saya Ilmu adalah roh, yaitu
sebagai jiwa bembangkit budaya dalam hidup ini.  Qur'an mengatakan
pada surat Syuraa , ayat 52, bahwa "ruhan min amrina makunta tadril kitab walal
iman." Ruh sebagai jiwa pembangkit budaya, barang siapa yang tidak
menguasai isi kitab maka ia tidak beriman “. Isi kitab adalah Ilmu. 
 Jadi bila kita tidak menguasai isi kitab ( Al-Quran) maka kita tidak punya iman. 
Dari ayat ini jelas sekali bahwa syarat Iman adalah Ilmu,
dan ilmu itu sendiri yaitu isi kitab  Al-Quran.

2. Bahasa Quran yang di lombakan

            Memang Kitab Al-Quran  berisi tulisan dalam bahasa tersendiri yang hampir
mirip dengan bahasa Arab , tetapi dalam tulisan mengandung makna, maka dalam
maknalah akan terkandung ilmu. Karena begitu strategisnya nilai ilmu Al-Quran maka
 tekanannya dalam mempelajari Al-Quran mestinya diarahkan pada kandungan
Al-Quran.  Tetapi yang menonjol secara nasional dalam  mempelajari Al-Quran adalah
berlomba dalam Alunan Lagu yang mendayu......?  Buktinya Adanya  acara MTQ
di Depok yang berlangsung sekarang ini ..!  Apakah ini juga dampak karena
Al-Quran dipahami bukan Ilmu ......? Yang lebih tragis lagi bagi mereka yang
juara MTQ ada yang  menjadi penyanyi dang-dut...! Duuuhh.....!!! Adakah
bukti bahwa hasil lomba MTQ menjadi Ahli Quran...? Quran sebenarnya   ilmu atau
bukan ilmu...?   Kemunduran Islam sekarang ini apa faktornya...?

 3. Quran Bukan Ilmu....?

Inilah pertanyaan yang mengusik hati. Mungkin dikarenakan
banyak cerita dalam Al-Quran yang seperti Dongeng yang banyak tidak dipahami
sampai saat ini,  maka  menjadi berat rasannya untuk mengatakan bahwa Quran adalah
Ilmu.   Kita menjadi bingung memahami mu’jizat (Kehebatan) Al-Quran.
Yang di ketahui  sampai saat ini karena Quran ini hebat..,  bawanya Quran   harus
posisi diatas, harus dalam  kandisi bersuci, dengan membaca penggalan ayat tertentu
dapat menjamin selamat, menjamin kesembuhan penyakit, bahkan dapat mendatangkan
 rejeki.    Benarkah...?

 4. Pembangunan Diri Dengan Al-Quran

Kalau Al-Quran masih dipahami seperti pada umumnya, bagaimana kita dengan Quran
mau membangun diri…? Berlomba mempelajari baca al-Quran aqar seperti apa….?
 Kita mau hidup patuh dengan perintah Allah. Apakah kepatuhan beribadah hanya
karean Takut kepada Allah dan ancamannya? Bukankah dengan ketakutan  kepada
Allah kita menjadi jauh…..?
Mengapa bukan dibangun karena kecintaan...? Cinta Qur’an butuh pengorbanan,
butuh harga yang harus dibayar. Bukan sekedar kepatuhan doktrin tanpa pengetahuan.


Published May 6th, 2010

Dengan Berdiskusi Akan Muningkatkan Derajat Diri

Membaca diskusi yang tanpa akhir memang melelahkan dan menguras energi berkepanjangan. Mestinya berdiskusi itu bagaikan “kaukabun Durriyun” yaitu bagaikan bintang kemintang yang saling bersinar, memantulkan energi cahayanya hingga menjadi suasana terang benderang dan gembira”   Setiap manusia pastilah mempunyai kemampuan (berbeda-beda tentunya) layaknya bintang yang mampu bersinar. Sekecil apapun kemampuan itu akan terpancar indah manakala kebersihan hati manusia ada didalamnya. Namun jika hatinya ada motif kotor maka akan mampu meredupkan sinar yang menyala hingga redup, bahkan padam jadinya.  Kebersihan hati mutlak diperlukan, bukan saja untuk menyalakan bintang, namun untuk menyediakan ruang agar sinar terang dari bintang yang lain sanggup mengisi relung hati.

Bila nilai kemampuan ilmu itu dapat diukur, dapat dilihat seperti sudut dalam lingkaran. Siapa yang memantulkan sinar lebih terang, pastilah dia punya kemampuan yang lebih hebat. kalau diukur dalam teori sudut maka sudut memandang dia lebih besar dari  yang lain. Besaran sudut  adalah derajat. Jadi semakin derajat keilmuan semakin luas maka korelasinya pasti bintangnya akan bersinar lebih terang.  Begitu juga yang drajat keilmuanya kecil maka sinarnya akan redup.

Tetapi jangan khawatir dengan yang berderajat kecil, bukalah hati, bersihkan diri hingga sanggup menerima sinar dari yang lain. Ini yang akan sanggup menambah bintang menjadi lebih bersinar, yang otomatisasinya akan meningkatkan derajat keilmuanya. Namun jika emosi sudah menguasai dalam hati, maka tidak saja meredupkan hati namun kehilangan ruang untuk bersinar lagi, bahkan tertutup berkah dari Ilahi. Dengan diskusi adalah jalan untuk meningkatkan derajat diri. maka hilangkan emosi, dan bukalah hati….., bersihkan diri …., menuju cinta Ilahirabbi!!

Published May 4th, 2010

NERAKA DAN SURGA HANYA MILIK ALLAH…..?

Masalah Sorga dan Neraka adalah milik Allah, hanya Allahlah yang berkenan siapa saja yang berhak untuk dapat masuk kesana.  Ini adalah pernyataan dari seorang temen kira-kira yang akhirnya menggelitik fikiran saya. kalau begitu Apa artinya kita setiap saat berdoa ” rabbanaa atina fidunya   khasanah wafilakhiratil khasanah waqina ‘adzabannar.”  Bukankah doa ini menggambarkan tujuan dari manusia yang pada akhirnya ingin khasanah didunia dan khasanah diakhirat…..? Bukankah ini juga sama dengan harapan bahwa kita ingin sorga dunia dan sorga akhirat…? kemudian digambarkan oleh Allah Adunya mir’ atul akhirat.  Dunia adalah cerminan akhirat. jadi kalau di dunia ini kita mendapatkan surga  (bukan hanya kekayaan materi tentunya)  otomatisasinya diakhirat juga demikian.

Kalau Surga adalah gambaran  tujuan akhir dari hidup mestinya tergambarkan dengan jelas agar yang mengejar tujuan tidak seperti mengejar fatamorgana. Mengapa ini penting…..? karena kejelasan tujuan akan menggairahkan dalam mencapainya. Ibarat di suatu tempat ada jutaan rupiah yang dapat kita ambil, mungkin dengan berlari sekuat tenaga kita akan merebutnya.   Namun dalam kontek Surga dan Neraka hanya milik Allah dan hanya Allah yang tahu, dan kita tidak tahu gambarannya  bukankah ini yang menyebabkan kita pasif untuk meraihnya….?

Inikah penyebab utama kepasrahan umat yang memyebabkan kurang dinamik dalam beribadah….? sampai-sampai berkumpul sebulan sekali untuk silaturahmi saja kurang menggairahkan, padahal untu meraih sorga loh….? dimana letak kesalahan…..? Siapa yang mampu menjelaskan….?

Published May 3rd, 2010

Istighfar Merevolusikan Diri , Membersihkan Dosa-Dosa Ataukah Mohon Ampunan….?

Istighfar Merevolusikan Diri , Membersihkan Dosa-Dosa Ataukah Mohon Ampunan….?

Istilah Istighfar, sering diucapkan, dikala melihat sesuatu yang tidak pas dengan norma atau aturan. Misalnya sebagai seorang Ibu menjumpai kenakalan anak-anaknya yang ketika disuruh belajar males-malesan dan lebih memilih bermain PS. “Asstaghfirrullaahal’adhiiiiiim….!!! “pekiknya seketika. Dalam fikiran tergambar akibatnya jika yang menjadi kemantapan dalam hidup anaknya hanya main-dan main. Oleh karena itu dalam pekikkan istighfar yang dikumandangkan adalah panjatan doa seorang ibu kepada Sang Khaliq agar anaknya yang berkecenderungan dalam main PS itu mau merevolusikan diri, yaitu mau merubah dengan mendobrak yang menjadi kebiasaan jelek selalu main PS sekaligus membangun kebiasaan baru yaitu dengan belajar. Jadi inti dari Istighfar Ibu ini ialah merevolusikan diri, kemudian diiringi langkah pengawasan terhadap anaknya untuk meninggalkan PS dan Menuju kebiasaan Belajar yang akan membawa menuju masa depan yang lebih baik.

Seringkali istilah Istighfar yang di ucapkan berulang-ulang yaitu “Astaghfirullah hal’adzim” bahkan sampai ribuan kali yang menurut kesimpulan sementara dari sang Ustad menjadi ucapan dzikir yang kurang lebih bermakna mohon ampun atas segala dosa-dosa yang diperbuat ! Ini kesimpulan yang diperoleh tentang pengertian Istighfar bermula dari cerita temen. Dia punya masalah dan dia merasa bersalah kemudian datang kepada ustad tersebut dan oleh-olehnya adalah perintah dzikir ribuan kali itu. Yang jadi pertanyaan dengan hanya mengucap ribuan kali sama dengan penghapusan dosa ? Dapatkah Dosa dihapus…? dan mampukah temenku itu meninggalkan kebiasaan jeleknya hanya dengan baca dzikir ribuan kali? Dia pernah mengatakan bahwa dengan telah memenuhi dzikir ribuan kali itu hatinya merasa tenang…? Betulkah….? Sementara temen yang satu lagi merasa sudah dzikir ribuan kali masalahnya tidak kunjung usai, malah menumpuk bahkan tanda-tanda menuju baik belum terlihat sampai dia hampir frustasi…? Apa sebenarnya makna Istighfar yang sebenarnya…?

Ditengah kebingungan dihadapkan pada persoalan teman tadi, akhirnya bertanyalah kepada guru agama di kampus Apakah makna istighfar…? namun dalam kesimpulan dari dosen agama, bahwa istighfar ya sama dengan mohon ampun dan menghilangkan dasa-dosa..!! ternyata pada umumnya memang begitu maknanya..? sangat sedikit yang memahami makna istighfar sama dengan merevolusikan diri !! kalau pemikiran dan pemahaman ini berbeda dengan yang pada umunya…., Apakah  nanti di nilai J I L ngga ya…….??? Sebaiknya mana yang benar makna istighfar  ya ALLAH….?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.