rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for February, 2010


Published February 27th, 2010

Nilai Iman Seorang Wanita

Ada yang menggelisahkan sebagai seorang wanita,  istri, dan  ibu bagi anak-anak setelah mendengar ceramah yang di sampaikan seorang penceramah, pada acara FSG (Forum Silaturrakhmi Gunadarma) tanggal 25 Februari  yang lalu.  Intinya Beliau menceritakan bagaimana Akhlaq Rasululllah. Karena berbarengan dengan acara Maulid Nabi maka banyak sekali di paparkan bagaimana Akhlaq Mulia seorang Nabi.

Pada awanya l menceritakan kehebatan Nabi pada masalah Ekonomi, Pendidikan dan Bagaimana Memperlakukan Wanita. Shubhanallah…., kita pun ingin meneladaninya. trtapi begitu cerita tentang Iman Seorang wanita, hatiku tergores…, Benarkah maknanya demikian…??? Kurang lebih yang dipaparkan sebagai berikut :   Ketika seorang wanita dirtanya “apakah  percaya 100 % terhadap Al-Qur’an Dan Hadis Rasulullah….?” tanya sang ustad .   ” Ya Percaya..!!!” Jawab para wanita . ” Percaya 100%…!!! ” tanyanya lagi.    “yA 100 %”. Jawab para wanita.  Tetapi ketika  Sang Ustad membacakan Al-Quran yang intinya membolehkan seorang pria boleh nikah sampai 4 kali, masihkah seorang wanita masih percaya makna  dengan Qur ‘an dan Hadist……?

Terus terang saya sebagai salah satu pendegar…. , Berpikir…,!!!!     Benarkah maknanya Demikian….?. Saat disediakan waktu untuk bertanya saya sudah melontarkan pertanyaan, yang intinya mungin terjemahan nikah tidak demikian. Pertanyaan saya ada 3 hal, namun yang berkaitan dengan nikah tidak disinggung. Entahlah……, tidak terjawabnya karena waktu  habis atau tak mau manjawab. Jawaban pertanyaan tentang al-Quran adalah science saja belum Clear. Dimana kita dapat berdiskusi….?

Kesimpulan subyektifitas pribadi yang belum tentu benar ini, hati  kecil wanita memberontak.  Betapa tidak adilkah Tuhan menciptakan wanita yang kadang di puji setinggi bintang  dilangit, tetapi dikala suami di ambil orang, pastilah rasanya bagaikan dijatuhkan dari langit.  Baru mendengar saja langsung dari seorang ustad, hati terasa terkoyak-koyak,  Wanita sangat lemah posisinya.

Kalau dengan asumsi yang diterjemahkan oleh sang Ustad adalah benar,  mengapa kebenaran tidak membuat ketentraman di hati….? Mungkinkah terjemahan ini salah…..?  Kalau sampai saat ini belum ada yang mampu menterjemahkan ayat yang dimaksud oleh pak ustad,  usaha apapun seperti Emansipasi oleh Kartini adalah susah ditegakkan. Wajarlah adanya kalau sampai saat ini banyak wanita yang tertindas, dan sampai kapanpun akan terjadi penindasan  terhadap wanita.  Terjemahan semacam itu akan terus dikumandangkan, sehingga menjadi melembaga. “Wanita harus rela Suami menikah lagi sampai 4 kali” kalau mau Imannya 100 %…….!!!  Saya Tidak Setuju…!!!!!

Published February 27th, 2010

MENILAI “SESUATU”

Menilai Sesuatu

1. Pengertian “Menilai sesuatu”

‘Menilai sesuatu”ada dua kata yang tersusun dalam judul tulisan ini, yaitu menilai dan sesuatu. Menilai itu sendiri berasal dari nilai yang artinya adalah kemampuan, dimana sesuatu yang dimaksud adalah dapat berupa benda, orang, atau dapat juga berupa tan benda. Contoh dari sesuatu yang tan benda misalnya kita menilai suatu rencana kerja, suara, bunyi-bunyian dan sebagainya apakah itu semua baik atau buruk. Jadi yang dimaksud dengan “menilai sesuatu” adalah mengukur kemampuan benda, orang atau yang lainnya apakah benda, orang atau yang lainya mempunyai mempunyai kemampuan yang dapat menjadikan sesuatu itu menjadi sedemikian rupa. Contoh, kalau kita mau menilai sebuah pensil, maka artinya kita mau mengukur apakah pensil itu mempunyai kemampuan sehingga pensil itu mampu untuk menulis. Jika pensil tersebut mempunyai kemampuan semakin bagus untuk digunakan dalam menulis artinya benda itu semakin bernilai. Biasanya yang semakin bernilai di lambangkan dengan angka yang semakin besar. Jika kemampuan pensil tersebut untuk menulis semakin bagus maka dapat dilambangkan dari yang semula bernilai tujuh dapat meningkat menjadi delapan atau sembilan.

2. Alat untuk menilai

Alat yang digunakan untuk menilai sesuatu biasanya paling gampang adalah alat indera kita yaitu dengan cara melihat secara fisik, dan alatnya adalah indera mata yang utama. Dengan kemampuan mata untuk melihat sesuatu misalnya sebuah benda maka benda tersebut dapat dibedakan apakah benda itu bernilai atau tidak. Sayangnya bahwa benda tersebut bernilai atau tidak, seringkali ditentukan bukan semata karena penampilan fisik yang terlihat oleh mata. Namun diperlukan alat indera yang lain untuk mendukung penilaian tersebut. Seringkali penampilan indera mata adalah menipu. Sebagai contoh dikala kita menilai sebuah makanan yang terbungkus, tidak selamanya yang bungkusnya bagus bahwa didalamnya (isinya) juga berkualitas bagus. Jadi selain mata yang dijadikan alat untuk menilai melainkan juga alat indera yang lain seperti telinga, kulit dan hati.

3. Hati Sebagai alat Pengukur Nilai.

Pada saat semua indera mata, telinga kulit dll sudah digunakan untuk menilai sesuatu tetapi belum juga memuaskan maka diperlukan ukuran yang lain. Ukuran itu bernama Ilmu. Hanya dengan ilmu yang objektif ilmiahlah maka semua persoalan penilaian dapat diukur. Tempatnya ilmu ada di hati maka hati di sebut Nur‘aini, yaitu Nur = cahaya yaitu sebagai lambang ilmu dan aini = mata. maka Nuraini adalah ilmu yang mempunyai mata (yang berfungsi untuk melihat sesuatu ), atau dengan ilmulah yang mampu memandang sesuatu. Jadi kalau selama ini yang dimaksud dihati ada Nurani, atau hatinurani, maka yang dimaksud adalah demikian. Jadi orang yang masih punya hati Nurani berarti orang tersebut dihatinya masih punya ilmu sehingga mampu memandang sesuatu dengan secara bijak.

Bagaimana dengan orang yang tidak punya hati Nurani…? Yang terkadang membuat kita semakin sebel, berarti dihatinya Dia tidak bersemayam ilmu (ada ilmu, tapi tujuannya negatif ) atau kosong ilmu sehingga Dia tidak mampu memandang dan yang demikian menjadi menyebalkan. Terus kalau hati kosong ilmu, diisi apa….? Hati tidak pernah kosong, alternatif pengganti selalu ada yaitu rasa. Maka kita sering melihat wanita (pada umumnya ) mengedepankan rasa dari pada logika. Belum tahu duduk prsoalannya, tahu-tahu nangis sesenggukkan, atau bahkan marah. Ini contoh kasus yang hatinya didominasi rasa, bukan ilmu, kalaupun ada ilmu akibat tidak lengkap maka menjadi bertujuan kurang pas.

Terus apakah yang berilmu tidak boleh punya rasa…? kalau punya apa bedanya orang yang punya rasa tanpa dibarengi ilmu dengan punya rasa dibarengi ilmu…? Mereka yang punya rasa tetapi tidak punya ilmu , biasanya dalam menilai sesuatu hanya mengedepankan sentimentil. minta dimaklumi, dan mohon dikasihani. Dan kalau yang punya ilmu lengkap, dia tanpa ragu-ragu dalam menilai, bersikap mantap dan bijak. Sebaliknya kalau ilmunya kurang maka dia akan ragu, ragu dan tidak percaya diri. Dan jika ada ilmu tapi bertujuan yang negatif biasanya kesimpulan penilaian dibarengi sikap sombong dan angkuh.

Published February 23rd, 2010

Bersilaturakhmi Yuk….

Pada tanggal 25 Februari 2010, yang jatuh hari kamis  sore sekitar jam 15.30,  dari FSG  ( Forum Silaturakhmi Gunadarma ) berniat akan mengadakan silaturrakhmi bulanan yang selama ini sempat fakum.  Idealnya Silaturrakhmi ini akan dilakukan setiap bulan, namun karena berbagai kesibukan sempat tertunda sekian lama. Mudah-mudahan nanti di hari kamis sore  sekitar jam 15.30 selepas tugas kantor berakhir ,  kita dapat menyempatkan waktu bersilaturrakhmi sesama staff di Gunadarma  bagi siapa saja yang mengaku dirinya  beragama Islam.

Beberapa  alasan yang mendorong kita bersemangat untuk bersilaturrakhmi pada tanggal 25 di bulan Februari, karena pada bulan ini ada momen Maulid  Nabi, yang seharusnya kita wajib merayakannya. Kedua kita pilih tanggal 25 karena mayoritas pada tanggal tersebut hampir semua staff yang bertugas mengajar atau tidak biasanya pada rajin dateng ke kampus.  Dengan seiring harapan dan doa tentunya semua diberi kesehatan dan menyempatkan diri untuk bersama-sama bersilaturrakhmi.

Lokasi Kampus Bertambah dengan Jarak Yang Jauh

Tujuan silaturrakhmi  begitu mulia, kita ingin menggalang kebersamaan diantara kita. Membahas berbagai masalah, berbagai persoalan dilihat dari sudut agama agar kehidupan menjadi lebih  baik, juga diharapkan dengan silaturrakhmi mampu mendekatkan hati kita baik kepadaTuhan maupun sesama.  Kita menyadari betapa kesibukan kita semakin padat dari hari kehari. Lokasi tempat kita mengajar dan bekerja semakin berjauhan, kemungkinan untuk saling bertemu semakin berkurang. Terakhir ada kampus Bekasi Timur, kampus Tanggerang, dan kampus yang lain akan menyusul. Jarak jangan sampai menjauhkan hati kita. Dengan silaturakhmi yang kita jaga mudah-mudahan setiap bulan kita dapat berkumpul dengan menambah ilmu guna menambah wawasan keagamaan. Kita mayoritas beragama Islam, dapatkah setiap bulan kita jaga silaturakhmi walaupun berjauhan dan berbagai kesibukan….?

Harapan ke Depan

Selama ini silaturakhmi kita belum dapat berjalan secara rutin.  Berbagai alasan kesibukan sudah sering kita dengar, mungkinkah masih ada  alasan yang lain…..? Kalau yuang jadi alasan adalah  dana, dapatkah tanpa dana kita bisa berjalan…? Saya sering bermimpi bahwa nilai silaturakhmi yang demikian indah dapat terjaga dengan biaya yang minim. Misalnya seperti jaman dahulu pada awal awal terbentuknya FSG tanpa kita menganggarkan biay a konsumsi banyak para sahabat yang rela dengan ikhlas ketempatan untuk pertemuan sekaligus konsumsinya. Dan untuk memangkas  tranportasi penceramah dapat kita cari penceramah yang ikhlas  dari berbagai tempat, atau dapat juga dari kalangan temen-temen yang lebih kompeten seperti para Dosen Agama yang mengerti Bidang kajiannya.

Dalam  Qu’ran sendiri Silaturaakhmi di gambarkan bagaikan”Kaukabun Durriyyun” yaitu bagaikan bintang kemintang yang saling menyinari, kerlap-kerlip yang begitu indahnya, sehingga mereka yang hanya mempunyai sinar (Cahaya ilmu) yang kecil akan mendapat sinar dari yang lain sehingga tercerahkan karenanya. kapankah ini dapat terwujud…..? Andakah yang akan ikut mengembangkan dan menjaga silaturakhmi  ini…??

Published February 16th, 2010

Anaku Sudah Besar


Dua dari empat anakku sudah duduk di bangku SMA.  Sejak itu sepanjang sepengetahuan  dan pengamatanku setiap hari terdapat perubahan yang signifikan (nyata). Baik perubahan secara fisik (jasmani) maupun non fisik (rokhani).   Perubahan secara fisik gampang dilihat, karena sejak mereka di SMA frekwensi untuk  membeli baju dan sepatu menjadi meningkat. Betapa tidak, ketika mereka ini di SMP tinggi dan besar badannya masih tergolong anak-anak masih  dibawah atau lebih kecil dari mama dan papanya. Namun ketika mereka mulai duduk di SMA perlahan dan pasti perubahan dari ke hari begitu nyata, yang pada akhirnya sekarang mereka berdua tinggi dan besarnya melebihi ke dua orang tuanya.

Pertumbuhan non Fisik tentunya tidak dapat dilihat secara langsung . Namun dari hari ke hari dapat dirasakan apakah anak-anakku pikiran dan tingkah lakunya sebesar dan setinggi tubuhnya. Dari cara bicara dan tingkah lakunya sehari-hari kita orang tuanya dapat juga melihat perubahan itu apakah mereka sudah dewasa atau belum. Sering kali kita orang tuanya  dibuat terkejut dengan berbagai ocehan mereka. Ada ocehan yang positif dari bibir  mereka hingga mampu menyadarkan kami orang tuanya. Tetapi banyak juga ocehan kosong yang tidak punya nilai yang menunjukan mereka sedang mencari jati diri

Ocehan yang kosong tidak perlu saya bahas disisni karena tidak ada nilainya, namun yang ingin saya ceritakan adalah ocehan positif hingga kami tersadar karenanya.  Sebenarnya nilai yang mereka ocehkan sebenarnya adalah nasehat-nasehat kita kepada mereka sehari-hari. Namun pada suatu waktu nasehat itu balik lagi pada kami sebagai orang tuanya. Ibarat melempar sesuatu benda  pada obyek  sasaran, tidak hanya benda itu sampai pada obyek sasaran yang dituju, namun benda itu berbalik atau memantul kepada si pelempar.  Rasanya kena batu lemparan pantul, sama sakitnya dengan yang dirasakan obyek yang jadi sasaran lemparan batu. Batu itu kecil sehingga yang kena lemparan tidak berbahaya namun sekedar terkejut untuk mengingatkan bahwa melempar sesuatu harus hati-hati.

Suatu hari salah satu dari 2 anakku yang duduk di SMA terlibat dialog dengan papanya.  Sejak papanya pindah tugas di  DKI  wilayah Jakarta Barat, jarak dari Depok semakin jauh. Mengingat usia yang semakin lanjut dan hampir menghadapi masa pensiun, papanya sering berkeluh kesah dengan anak-anaknya.

  • Bapak : “Le…, (Panggilan anak lelaki ku), bulan depan Bapak tidak gajian, jadi kamu siap-siap berhemat ya…!”
  • Anak lelakiku : “Apa yang mesti dihemat pak…, kita juga sudah hidup digaris minimum”
  • Bapak : “ Ya pokoknya harus lebih hemat lagi, karena pemasukan bulan depan kemungkinan berkurang banyak, akibat bapak jarang masuk dan sering terlambat”

(Sejak Bapaknya pindah tugas di daerah Jakarta Barat, jarak dari Depok sangatlah jauh, dengan berkendaraan motor saja bisa 2 jam, di tambah ada peraturan dalam rangka menegakkan disiplin akan dapat insentif bagi yang rajin, dan sebaliknya akan dipotong gaji bagi yang tidak).

  • Anak Lelakiku : “Kalau belum terjadi, dan masih ada waktu untuk di coba mengapa tidak diusahakan ?
  • Bapak : “Iya …, Bapak khan kerjanya jauh, dan lagi bapak sudah tua…, Tidak sekuat dulu…?
  • Anak Lelakiku : “ Seribu alesan bisa dibuat pak… bagi yang males, namun seribu usaha juga bisa diciptakan bagi yang rajin , Bapak sudah mengusahakan belum …?
  • Bapak : ”Iya Sich…! Persoalannya sekarang aturannya ketat Le…..!
  • Anak Lelakiku  : “ Semakin ketat aturan, karena reward yang akan diterima juga semakin besar, wajar dong pak….! Lha khan akan naik gaji 3 kali lipat….! Kalau ada kesempatan mengapa tidak diupayakan maksimal…!! Kesempatan tidak datang dua kali
  • Bapak : “ Berat Le…!
  • Anak Lelakiku : “Pak…, kalau Tuhan saja belum memastikan…, mengapa Bapak sudah memutuskan tidak gajian, berarti bapak mendahului Tuhan. Dosa pak…! Akibat kemalasan.
  • Bapak : “Khan Bapak dah Nyoba….!
  • Anak Lelakiku : “Pak….., Inget pak…, andai yang mengeluh itu saya sebagai anak Bapak…? Bapak mau saya males …, dan tidak berusaha keras….?
  • Bapak                : “Ahhh…, kamu itu karena silau melihat duitnya aja khaann…..?
  • Anak Lelakiku : “Kok Bapak punya fikiran begitu sich…., Inget pak…, sebentar lagi Bapak mau pensiun. Buatlah cerita hidup yang membanggakan dong pak…!
  • Bapak                : “Iya…, iya….!
  • Anak Lelakiku : ” Sekali lagi pak…., Saya ingin bangga punya Bapak yang mengakhiri masa kerjanya membanggakan bagi seluruh keluarga. Terutama saya sebagai anak lelaki yang siap menggantikan posisi Bapak dengan penuh membanggakan Bapak dan terhormat..!!!
  • Bapak                : dengan wajah merah penuh dengan kekalahan ” iya…, tapi bukan matre ya le…!!!

(Sejak awal saya duduk bertiga tidak banyak komentar, hanya bersyukurternyata anakku sudah besar secara jasmani dan rokhani )

Published February 14th, 2010

MINGGU PERTAMA MENGAJAR DI ATA 2009/2010

MINGGU PERTAMA MENGAJAR DI ATA 2009/2010

Alkhamdulillah…, sampai dengan semester ini matakuliah yang harus diajarkan masih tetap sama seperti pada semester-semester sebelumnya. Pada semester PTA biasanya mengajar statistika I dan pada ATA dilanjutkan pada Statistika II. Bisa di bayangkan betapa repotnya kalau kita mendapatkan matakuliah baru yang selama ini belum pernah kita mengajar, dibandingkan dengan matakuliah yang sudah biasa kita mengajar. Belum lagi kalau matakuliah yang baru yang diajarkan lebih dari satu atau dua mata pelajaran, betapa repot dan pusingnya untuk persiapan mengajar. Saya ber syukur, pada semester ATA 2009/2010 tidak ada mata Pelajaran baru , sehingga terdapat sisa waktu yang dapat dimaksimalkan untuk mengerjakan tugas yang lain.

1. Perkenalan

Pada minggu pertama mengajar, biasanya digunakan untuk berkenalan dengan mahasiswa. Khususnya untuk dosen yang mengajar pada kelas yang benar-benar baru dan dengan mata kuliah yang baru tentunya . Hal ini menjadi penting karena untuk menjalin komunikasi yang baik antara Dosen dan mahasiswa dalam menempuh tatapmuka yang akan berlangsung selama satu semester ke depan. Biasanya dalam perkenalan selain memperkenalkan nama, dan menunjukkan tempat kerja yang dapat dengan mudah dihubungi, juga memberikan no Hp agar komunikasi kedepan menjadi lebih mudah. Untuk perkenalan…, hmm…, apa yang mesti di kenalkan yaaa…, karena satu semester sebelumnya sudah mengajar mereka . “Bu Kenalan lagi bu….! celetuk salah satu diantara mereka. “Dari hari senin kemarin Dosen cuma kenalan bu…” celetuk yang lain. “Ya.., ya.., Ibu akan kenalan lagi kali ini. Namun bukan kenalan tentang pribadi Ibu khaan…? Hari ini kita akan kenalan dengan apa yang disebut dengan statistik II dan Apa perbedaanya dengan statisti I ! Begitu jawabku kepada ana-anak. Secara serentak mereka Huuuuuuuuuu…….!!! “ Ya…, yang bawa buku statistika II kita buka halaman 50” penjelasanku selanjutnya. “Serius nih…, Bu…. kita belajar…..?” Tanya mahasiswa yang duduk tepat didepanku. “Kalian  pikir ibu main-main? “ Jawabku tegas.

Gambaran mahasiswa kalau diajak belajar serius pada minggu pertama, pada umumnya mereka belum siap untuk belajar. Terbukti dari sekian orang tidak satupun yang membawa buku paket, apalagi kalkulator dan tabel statistik. Pada umumnya mereka sudah terbangun image bahwa pada minggu pertama perkuliahan adalah perkenalan, Minggu terakhir kisi-kisi dan minggu pertengahan kuis. Mengapa bisa menjadi seperti itu, menjadi sebuah pertanyaan besar untuk diteliti.

Persoalan perkenalan bukanlah hal yang buruk, namun faktanya pada minggu pertama karena mahasiswa dan Dosen mempunyai pemikiran yang sama, pada umumnya maka banyak tatap muka yang masih kosong. Ada kekosongan yang disebabkan kesibukan sang Dosen, atau memang ada beberapa kendala teknis seperti surat pemberitahuan mengajar belum sampai pada dosen yang bersangkutan. Kalaupun surat pemberitahuan dosen untuk mengajar sudah ditangan sang doen namun ketika datang pada minggu pertama, kalaupun masuk ke kelas mengajar hanya sebatas, perkenalan. Waktu yang dibutuhkan sangat singkat, sehingga tergambar celetukan mahasiswa seperti dialog diatas.

2. Semangat Belajar

Amat disayangkan apabila hal kecil semacam ini selalu kita maklumi dari tahun ketahun. Walaupun perkenalan dianggap wajar dan perlu, namun disini menunjukan semangat belajar yang rendah, dari fihak mahasiswa maupun Dosennya. Kami hanya berfikir bahwa kalau start awal saja sudah loyo, melempem tidak semangat bagaimana…kelanjutannya…? Ibarat pertandingan lari, siapa yang startnya bagus maka 50 % adalah sangat menentukan keberhasilanya untuk menggondol juara. Start awal disini ternyata sangat menentukan. Kalau persepsi minggu perkenalan terbangun pada maha siswa dan dosennya, tidak mustahil dari yang semula merupakan masalah kecil yang kurang berarti, maka akan sepert i bola api yang akan menjadi membesar dan sulit untuk diatasi.

3. Fondasi Bangunan

Perkenalan boleh saja dilakukan, namun bukan hanya sekedar perkenalan pribadi namun diarahkan pada perkenalan matakuliah yang akan diajarkan nanti. Perkenalan ini dapat dianggap kualiah furbriding, sebagai pendahuluan untuk menghantar mahasiswa agar mempunyai gambaran yang jelas apa yang akan ditempuh ke depan. Ibarat sebuah peta, maka kuliah perdana memberikan peta ilmu agar mahasiswa dalam belajar tidak tersesat nantinya. Selain itu sekali gus sang dosen memberikan Fondasi atau landasan dengan berbagai motivasi diberikan supaya mahasiswa lebih semangat dan lebih mencintai mata kuliah yang akan diajarkan nanti.

Informasikan bagaimana program mengajar yang akan dijalankan oleh pengajar kedepan nya. Selain itu pengajar juga menanamkan motivasi kepada mahasiswa agar pelajaran yang akan disampaikan tidak membosankan. Ibarat sebuah bangunan pada awal perkuliahan sang pengajar akan menanamkan landasan atau semacam fondasi agar dari perkuliahan pertama, atad keinginan yang membara untuk mengikuti kuliah. Kalau dari awal perkuliahan sudah tumbuh kecintaan terhadap mata kuliah maupun dosen yang akan mengejar, maka disini dapat dijadikan ukuran bahwa mahasiswa sudah tertanam fondasi. Kalau fondasi sudah terbangun maka diatas fondasi mau di bentuk model bangunan apapun sudah siap. Kalau hal ini disadari oleh semua Dosen maupun mahasiswa, Betapa Indahnya Perkuliahan pada ATA 2009/2010 kedepan. Semoga Allah….Berkenan, Amin..!!!

Published February 7th, 2010

Nasib dan Taqdir

Tulisan ini sebenarnya ingin memberi komentar tentang pertanyaan beberpa kali yang  ditanyakan oleh  Bapak Bambang Wahyudi di beberapa tulisannya.  Oleh karena jarang yang memberi komentar akhirnya dijawab sendiri pada postingan  terakhir.  Ada beberapa cara pandang saya yang berbeda dari awal,  namun pada akhirnya alkhamdulillah dapat diterima. Mudah-mudahan dalam tulisan inipun perbedaan itu sangat jauh, namun saya coba uraikan   secara ilmiah dengan harapan dapat diterima, dan bermanfaat.

1. Istilah Nasib dan Taqdir

Dua kata ini sering ditemukan dalam Al-quran. Oleh karena itu saya berusaha merujuk ke Al-Quran.  Kalau saya menggunakan definisi pribadi khawatir masuk beberapa ide pribadi yang pada akhirnya akan menjadi Subjektif.

Istilah nasib, saya temukan pada  Qs: Nisa  ayat 51 ” Alam tara  ilalladzina utu nashiban minal kitabi yu’minu na bil jibti watthaaghut”

Sedangkan istilah Taqdir saya temukan dalam Qs: Ar-Rad ayat 8  “wakullu syai in ‘indallahi Miqdarun

2.  Penggunaan Tatabahasa Quran.

Untuk mandapatkan makna yang utuh dari sebuah makna, pastilah harus dengan alat yang pas. Alat yang dimaksud adalah tatabahasa. Walaupun sebagian orang agak sulit memahami hal ini, itu karena belum terbiasa. Ada kesalahan penekanan dalam belajar, sehingga tatabahasa Quran tidak diprioritaskan.  Sehingga pada kata Miqdarun yang tercantum dalam al-Quran, dengan kata Taqdir yang akan kita bahas seolah kok  jadi beda banget ya….!!

Kebetulan kata Nashiban dalam Quran, dengan perkataan nasib pada kata dalam bahasa Indonesia masih banyak kemiripannya, dan kita dapat menerima dengan mudah.

3. Penjelasan Istilah

a. istilah taqdir

Setiap kata dalam Al-Quran untuk mengusut dia bentuk kata apa , maka salah satunya kita harus mengusut dari susunan tiga  hurup pokoknya. Jadi walaupun kata Miqdarun dan taqdirun seolah  merupakan dua kata yang berbeda namun tersusun dari kata yang sama yaitu Qa-da-ra.yang artinya adalah rancangan.

Qs: Ar-Rad ayat 8  “wakullu syai in ‘indallahi Miqdarun” maka maknanya kurang lebih “bahwa sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai rancangan masing-masing.

Jadi disini Allah telah menyatakan bahwa segala sesuatu adalah mempunyai rancangan masing-masing. Dan nanti akan di buktikan juga dengan hadist yang mengatakan” fil azali la syai’in illahi Azawajalla, tsumma khalaqal Maqadira” Pada mulanya tidak ada apapun kecuali Allah dengan segala ilmunya, selanjutnya (Dengan ilmunya itu) Allah membuat rancang bangun segala”

b. Istilah Nasib

Istilah nasib, saya temukan pada  Qs: Nisa  ayat 51 ” Alam tara  ilalladzina utu nashiban minal kitabi yu’minu na bil jibti watthaaghut”  maknanya  ” Tidakkah kalian melihat, terhadap mereka yang mendapatkan nasib sial dari para ahlul kitab, mereka  percaya pada jibti dan thaghut.

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa kita mestinya dapat melihat akibat dari orang yang percaya dengan jibti dan thaagut, mereka akan menemukan nasib sial.   Jadi Apa itu nasib…? Berarti nasib adalah akibat dari pilihan hidup yang akan memastikan pada nasib baik (hidup dengan selain jibti dan taaghut) atau  dari pilihan hidup yang akan memastikan pada nasib sial ( dengan pilihan jibti dan thaaghut)

4. Kesimpulan.

Segala sesuatu itu tergantung rancangan masing-masing. jadi taqdir berdasarkan Quran  maupun hadis diatas berarti adalah suatu rancangan. Bahasa Kerennya adalah Blue print. Allah sendiri dalam menciptakan alam semesta ini bermula dari ilmu-Nya yang kemudian membuat rancangannya yang terdiri rancangan positif dan negatif. (Thummakhalaqal maqaadir, thumma khalaqal maa) Pada penciptaan segala ini,  Allah telah mengajarkan dengan menciptakan dari yang baik atau rancangan yang baik maka begitu juga kita sebagai manusia harus mengawali sesuatu itu dengan yang baik. (”ma khalaqta hadza batilan, tidak Aku ciptakan dari sesuatu yang batil).

Setelah kita menyadari bahwa sesuatu itu mempunyai rancangan (  yang baik maupun yang buruk) maka Tugas Allah adalah sebagai Hakimun, yaitu Hakim penentu yang tidak pernah salah atas segala usaha yang dilakukan oleh Makhluqnya. Keputusan Allah ini tidak bisa diganggu gugat. Allah sebagai Penentu, dan manusia tinggal memilih rancangan mana yang mau diambil. Kalau manusia telah memilih mana rancangan yang mau diambil dan kemudian mengusahakan atas pilihannya itu dengan mengerahkan segenap kemampuanya , maka pada waktunya akan menerima keputusan atau nasib. jadi nasib adalah Keputusan dari Allah atau kepastian dari Allah atas yang pilihan yang diusahakannya.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.