rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for January, 2010


Published January 27th, 2010

Keadilan

Anak bungsuku duduk di kelas 3 SD Negeri. Jadwal masuk sekolahnya siang dan pulang sekolah sore hari. Di Sekolah dia sebagai ketua kelas, badannya cukup besar, cerdik ,  berani daaaann…., agaaakkk……, apa ya…. susah ngomongnya. (sssstttt…, seorang Ibu secara Psyikologi dilarang labeling yang jelek terhadap anaknya) .    Suatu hari  jam dinding baru menujukkan jam 14.30 tiba-tiba dia sudah pulang dengan girangnya.

Bapak     : “Arul , jam segini kok sudah pulang…..?”

Arul        : “Bolos….”. dengan wajah tanpa dosa

Bapak     : “Dengan nada tinggi, ” Ngga boleh begituuuu….!!! nanti ngga naik kelas…!

Siapa yang  ngajari…!!!

Arul        : “Dengan nada yang tinggi juga    dia Jawab,

” Bapaaaakkkkk…!”

“Bapak aja hari ini Bolos kerja, khaaaaann…!!!

Bapak     : “Bapak lagi cape  Rul….!!! dengan muka merah, tersenyum kecut.

Arul        :  “Bapak, Ngga adil…., arul bolos diomelin terus,    Bapak bolos, yang omelin Bapak  siapa…..? 

“ngga adil…..!!!”

Published January 19th, 2010

Belajar dari “Menyetrika Baju”

Seiring dengan memasuki puncak musim penghujan dengan intensitas hujan yang tinggi membuat seorang ibu yang kerjanya seputar  mencuci dan menyetrika baju, sering berkeluh kesah. ” Aduh…, mendung lagi…, cucian kemarin belum kering, pakaian kotor dah menumpuk lagi.  Ya.. Allah…., besok sudah hari senin, seragam sekolah anak-anak belum digosok, dan cucian kering sudah menggunung….” Begitu kira-kira keluh kesah seorang ibu menghadapi musim penghujan ini.

Bagi seorang ibu yang terbiasa hidup dengan tangan kanan pembantu, keluhan semacam ini mungkin tidak pernah tergambarkan. Persoalan mencuci dan menyetrika sepenuhnya 100% tergantung pembantu.  Begitu juga halnya dengan saya  juga begitu pada waktu  6 bulan yang lalu.   Tetapi sejak  itu, karena pembantu menikah dan yang cuci gosok pulang kampung, enggan rasanya untuk mencari lagi. Ada keinginan yang kuat, memanfaatkan kekosongan pebantu dengan anak yang sudah mulai besar, kami coba belajar mandiri.  Banyak sukanya ternyata dengan tanpa pembantu dirumah.  Selain anak-anak  belajar lebih dewasa, ternyata penghematan beberapa pos ekonomi cukup terasa. Pertama sudah tidak membayar pembantu dan tukang cuci,  kedua penghematan abunemen listrik, gas, telepon, dan pam  air  begitu signifikan penghematannya.  Yang semula pemenuhan kebutuhan ekonomi hanya cukup dari waktu kewaktu ternyata sekarang ada dana lebih yang memungkinkan seorang ibu untuk menyalurkan Hobby  belanjanya  menjadi  lebih leluasa.

Namun demikian bukan berarti  tidak ada kesulitannya, dikala  kelelahan dan beban kantor padat, berbagai keluhan muncul dengan mulut  menjadi bawel sampai terlontar kalimat seperti pada pengantar tulisan ini.  Dari beberapa pengamatan yang dilakukan, pekerjaan mencuci dan menyetrika adalah  adalah pekerjaan berat  dan melelahkan.  Amat sangat di maklumi kalau sekarang banyak ibu-ibu dengan dalih kerja kantoran menjadi alergi dengan pekerjaan tersebut. Termasuk saya pribadi yang tergantung pembantu sampai 15 tahun lamanya.  Setelah keputusan melakukan pekerjaan dirumah termasuk cuci dan setrika ini sendiri ternyata saya mendapatkan pelajaran yang begitu besar, seperti yang akan diuraikan dibawah ini.

1. Istilah menyetrika

Menyetrika  ialah merapikan, menata, membereskan  baju atau pakaian. Orang senang dengan istilah menggosok. Dilihat dari kerja setrika adalah kerja mengulang-ulang menghaluskan kain yang kusut hingga halus dan licin hingga terlihat rapi dan indah dikala dipakai.

2. Nilai Menyetrika.

Pekerjaan  menyetrika orang menganggap adalah pekerjaan yang mempunyai nilai rendah karena itu pekerjaan level pembantu rumah tangga.  Namun setelah di kaji, dimana kerja menyetrika adalah pekerjaan  menata, merapikan, membereskan dengan berulang-ulang agar menjadi halus, kita ganti objeknya bukan baju namun benda atau objek selain baju, maka pandangan rendah akan hilang dengan sendirinya. Pada   tatanan kenegaraan, orang kerjanya juga menata ,  merapikan dengan berulang-ulang agar menjadi lebih indah, teratur , bersih dan baik.   Pekerjaan  yang dikerjakan pada lingkungan tatanan negara, orangnya dapat disebut karyawan atau pegawai.   Pegawai seumumnya baik  swasta dan negeri, dilihat dari kerjanya juga layaknya orang menyetrika. Disini yang membedakan menjadi menonjol karena objek kerjanya, maka kerja semacam  ini tidak lagi di pandang dengan tingkat rendah.

3. Nilai hasil Setrika.

Kalau yang dimaksud objek setrika adalah baju maka kalau baju yang belum di setrika kemudian dipakai, maka nilainya 5 walaupun bahan baju tersebut mahal. Namun jika baju tersebut disetrika walaupun bahannya tidak dari yang mahal nilainya bisa mencapai 7 ( ini bukan hasil penelitian,namun pandangan pribadi dengan pengamatan sesaat).  Apa lagi kalau baju itu setelah disetrika berasal dari bahan yang  bagus, warnanya maching dengan aksesoris dan acara yang berlangsung barulah nilainya dapat mencapai 8 atau bahkan 9.  Jadi ternyata pertambahan dari menyetrika baju pertambahan nilai dari 5 menjadi 7, berarti pertambahannya 2, namun jika modal baju dari nilainya 7 yang telah disetrika  dari berasal bahan yang bagus telah disetrika maka pertambahannya adalah 1 ( dari nilai 7 menjadi 8 ).

4. Pelajaran dari menyetrika Baju.

Menyetrika baju mengapa menjadi pekerjaan yang  dipandang rendah dan menyebalkan bagi kebanyakan ibu-ibu, karena tekanannya dilihat dari objek yang disetrika.  Namun jika kita memandang dari kerja menyetrika adalah tekananya, pada menata, merapikan, menyusun agar pekerjaan menjadi lebih teratur,  maka pekerjaan ini dapat dipandang menjadi mulia. Sebagai contohlagi,  kalau objeknya adalah uang yang ada di suatu kantor, disusun, ditata dalam pembukuan yang benar agar rapi dan teratur maka pekerjaan ini adalah pekerjaan bagian keuangan  yang di pandang lebih mulia dibandingkan dengan menyerika baju. Namun hakekatnya kerjanya sebenarnya adalah sama.

Selama ini tekanan kegagalan seseorang dalam menjalankan usaha pada umumnya disebabkan pada modal, namun dari ilustrasi pada nilai hasil setrika,  modal tidaklah faktor penting satu-satunya. Namun faktor penataan, pengaturan, perapian yang termasuk dalam kerja manajemenlah yang menyebabkan kegagalan.  Kalau semua orang faham  tentang hakekat kerja setrika, yang dapat menambah “nilai tambah” lebih besar dibandingkan modal maka tidak perlu khawatir jika modal yang kita miliki adalah kecil.

Kalau kita menyadari dan penuh rasa syukur,  sebenarnya semua orang punya modal, kesehatan adalah modal, lembaga tubuh adalah modal. Apakah kita sudah menggunakan secara optimal  dengan  modal yang kita miliki…? Tangan ini lebih banyak kerja atau diam…? Kaki ini sudah melangkah pada jalan yang benar atau menyimpang…, atau  otak ini sudah digunakan untuk berfikir belum….. ? dan banyak lagi  pertayaan muncul bila kesadaran ada pada manusia . Kalau kita sering gagal, ibarat pekerjaan menjadi menumpuk bagaikan tumpukan baju kusut yang membikin kusut pikiran, tidak lain disebabkan kita sering  menunda pekerjaan menyetrika.  Menunda pekerjaan apapun adalah membikin penjara pada diri sendiri. Penjara itu bagaikan tumpukan baju dan cucian kotor, suasana hari mendung, hujan terus menerus, semakin mengusutkan beban pikiran.

Published January 17th, 2010

Gerak yang multiplayer Bag. II

1. Pendahuluan

Gerak yang dimaksud dalam tulisan disini adalah yang berkaitan dengan gerak manusia. Gerak manusia yang benar itu harus seperti apa…?  Yaitu suatu gerak yang menghasilkan nilai guna berkali lipat. Gerak inilah yang kita namakan gerak yang multiplayer. Jadi yang kita tekankan adalah gerak yang bernilai guna positif tentunya. Apakah ada gerak yang mutiplayer yang bernilai negatif…? Oohh ada…!! Contoh gampang gerak yang berawal dari suatu gosip atau berita salah   yang disenangi orang. Kok berita salah disenangi orang…? Nah itu dia gosip…, khaan banyak salahnya dan faktanya orang pada seneng !! Mengapa bisa begitu ya…? Karena pada umumnya orang banyak melakukan kesalahan , begitu ada gosip merasa banyak ada temennya yang kesalahannya sama sehingga mulai ada yang di bandingkan, sehingga mulai melegalkan diri sendiri bahwa kesalahan  yang di lakukannya masih kecil dibandingkan yang sedang digosipkan. (Ini pendapat saya saja yang suka begitu hehehe…) Tanpa panjang lebar kita bicara, bagaikan suatu Virus yang menyebar cepat suatu gosip, dan inilah yang disebut Gerak Multiplayer bernilai guna negatif.  Banyak orang berang gara-gara berita ini.

2. Gambaran Gerak Multiplyer

Tentunya pada tulisan ini bukan gerak negatif yang akan dibicarakan, melainkan gerak yang multiplayer yang bernilai guna positif  yang butuh gambaran secara jelas.  Gambaran gerak mutiplayer ini  diibaratkan dalam sastra sebagai berikut:

a.  Dilambangkan dengan Peredaran Tatasurya.

b.  Dilambangkan proses Gerak Pembuatan Magnet Buatan.

c. Dilambangkan Gerak Pertumbuhan pada sebuah Pohon.

a. Peredaran Tatasurya

Dalam Al-Quran gambaran gerak yang multiplayer adalah bagaikan gerak peredaran  “samawat wal Ard” yaitu gerak susunan Tatasurya yang terdiri organis (benda-benda angkasa) dan  biologis ( bumi).  Secara Organis kita perhatikan gerak Tatasurya yang dikenal dengan gerak alam besar yaitu dikenal dengan Makro cosmos (gerak tatasurya dan satelit-satelitnya), dan Gerak yang terdapat pada makhluk biologis yang terkecil adalah Micro cosmos ( gerak dalam satuan terkecil di dalam sel ). Ada prinsip dasar pada dalam gerak ini, yaitu gerak kepatuhan pada suatau lintasannya masing masing, tanpa pernah bertabrakan atau keluar jalur lintasan,  yang disiplin dan patuh luar biasa  kepada perintah sang Khaliqnya.

Pada susunan Tatasurya yang berlapis tujuh itu,  Mataharilah yang menjadi porosnya, dimana satelit-satelit yang lain beredar pada lintasan masing-masing. Kalau kita renungkan betapa hebatnya Sang Pencipta sehingga antara  benda-benda langit yang satu dan yang lainnya tidak pernah bertabrakan. ” Shubkhanallah”  Doa litta’jub aku gemakan lirih dalam jiwa sanubari.  Apa yang sebenarnya yang akan saya katakan dalam kaitannya dengan tulisan “Gerak yang Multiplayer,  ini…?  Prinsip dasar dari Gerak tatasurya yang membikin kehidupan menjadi luarbiasa, berbagai makhluk dapat hidup, tumbuh , berkembang biak, tumbuhan berbuah dan berbiji dengan begitu sempurna. Semua itu menghidangkan kelezatan untuk di pimpin oleh  manusia.

Dalam luarbiasanya alam ini terdapat gerak multiplayer, yang dasarnya adalah gerak kepatuhan. Dengan kepatuhan gerak tatasurya yang tidak pernah meleset ini maka waktu dapat dihitung dengan tepat. Gerak kepatuhan selalu teratur , disiplin dan kontinyu sehingga  kehidupan di bumi dapat berlangsung, bisa di bayangkan kalau matahari telat terbitnya apa yang terjadi….? Selain itu  gerak tatasurya ini  selalu setimbang sehingga kalau dalam ilmu Fisika terjadi gerak sentripetal dan sentripugal yang luar biasa setimbang, sehingga kita sebagai salah satu makhluknya dapat merasakan indahnya dunia  setiap waktu.  Untuk dapat setimbang pastilah diatas satu perhitungan yang tida tara.“bikhusban” . Jadi singkat kata kalau kita ingin mencapai gerak Multiplayer yang bagaikan gerak tata surya yang mampu menghidangkan berbagai kelezatan maka, harus punya prinsip dasar, Patuh (teratur, disiplin dan kontinyu ), setimbang, dan penuh Perhitungan.

b.  Gerak Pembuatan Magnet

Masih ingatkah kita pada pelajaran ketika duduk di bangku SMP dulu  ? Kita diajarkan untuk membuat magnet buatan dengan menggunakan sisir.  Sisir itu di gosok-gosokkan pada rambut cecara teratur dan terarah dengan kecepatan dan irama yang sama, maka akan dihasilkan sisir yang berkemampuan dapat menarik kertas bagaikan magnet. “Seperti itulah cara pembuatan dan kerja magnet .” kata Pak Guru pada waktu itu.  Nah sekarang setelah kita besar barulah faham dan dapat menarik kesimpulan jika dihubungkan dalam kehidupan sosil. Ibarat pembuatan magnet, maka seseorang supaya dalam kehidupan ini bernilai  atau berkemampuan maka harus kita ciptakan sendiri dengan cara seperti kerja magnet.

Kehidupan perlu diasah dengan  berulang-ulang melalui belajar dan berbagai cobaan hidup yang harus dijalani,  dengan nada dan irama yang sama yaitu butuh rutinitas dengan semangat yang teratur, berarti harus disiplin dan terus menerus. Berat memang…,  tapi itulah gambaran untuk dapat multiplyer.  Suatu gerak yang menimbulkan kemampuan dan kekuatan maka gerak tersebut  bernilai.  Tinggal kemampuan itu supaya berkali lipat maka amat tergantung dari kekuatan dan daya yang di kandungnya. maka yang terpenting disini bahwa untuk dapat berkemampuan berkali lipat amat tergantung, pengasahan, berulang-ulang, nada dan irama yang sama,  disiplin dan terus menerus. Prinsipnya kerja pada pembuatan magnet ini hampir sama pada kerja  tatasurya yang telah diuraikan pada no 1.

c.  Gerak Pertumbuhan pada Pohon.

Pohon yang mampu menghasilkan buah, yang mampu menghidangkan berbagai kelezatan dalam kehidupan bermula dari satu buji yang ditanam. Dari sebuah biji melalui media yang pas dengan bantuan air  dari Sang Khalik,  Allah  mampu mengubah biji menjadi bertunas, berdaun, berbatang  dengan ranting yang begitu banyak, akhirnya  tumbuh merindang berbunga dan akhirnya berbuah sangat banyak yang akan bermanfaat dalam kehidupan. Dari semula satu biji maka akan berkembang menjadi berkali lipat dihasilkan biji dari pohon tersebut.  Inilah sebuah pohon yang mampu bergerak dengan berhasilguna berkali lipat atau disebut gerak yang multiplyer.  Butuh waktu untuk mengubah satu biji menjadi beribu biji. Butuh perawatan, penyiraman, pemupukan yang merupakan proses berulang-ulang.  Kedisiplinan dengan semangat yang tidak gampang kendur ( dengan bahasa kerennya butuh nada dan irama yang teratur) merupakan gerak persamaan dari yang sudah di uraikan pada contoh a dan b.

3.  Pembahasan

Allah dalam menggambarkan gerak yang multiplayer tidak pernah menyinggung masalah uang.  Penggambaran dalam ketiga contoh yang  telah diuraikan pada  gerak tatasurya,  pembuatan magnet, dan pertumbuhan pohon disitu dapat disimpulkan bahwa gerak mutiplayer  adalah gerak yang penekanannya pada proses kerja,  bukan terletak pada hasil dari kerja. Hasil adalah otomatisasi dari kerja yang telah dilakukan. sehingga apabila hasil belum berkali lipat maka perlu ditinjau prosesnya apakah sudah, berulang-ulang,  terus-menerus,  mempunyai  nada dan irama teratur, punya niat positif, menguasai ilmunya, (bukan defel dan reflek), dan  adakah  motif  di dalamnya…….?

Kita sering keliru dalam menilai suatu kerja yang dilakukan. Penekanan  utama biasanya masalah uang. Dalam teori ekonomi apapun kerja selalu diukur dengan uang. Oleh karena itu tanpa disadari pada awal kerja kita sudah punya niat yang diiringi motif (maksud yang terkandung) tertentu. Kalau motif ini sudah terselubung, dijamin deh…., tidak akan menghasilkan yang multiplayer.  Nada dan irama (semangat) gampang kendur manakala gambaran uang atau hasil yang akan  diperoleh  kecil.

Kalau kita mengerti tentang  rumusan gerak yang multiplayer adalah gerak perkalian yang berkali lipat maka kita harus mengenal sifat perkalian itu sendiri. Sifat perkalian adalah ” melebur”. Artinya menjadi satu-kesatuan gerak antara subyek kerja dan objek kerja.   Melebur jadi satu dalam arti yang bekerja merasa asyik, senang,  sungguh-sungguh dengan apa yang dikejakannya.  Sifat melebur inilah yang nanti menjadi ciri utama dari inti penggambaran pada gerak tatasurya, pembuatan magnet dan gerak pertumbuhan tanaman. Jadi untuk dapat mencapai gerak yang multiplayer yang dibutuhkan adalah kerja yang mencerminkan  benar-benar sepenuh hati.  Bahasa Kerenya adalah kerja dengan Khusyu’.  Ciri khasnya adalah perlu pengasahan ilmu , berulang-ulang, punya nada dan irama yang teratur,  disiplin , terus menerus dan tidak punya motif apapun kecuali kerja merasa diperintah oleh Allah, sehingga menimbulkan rasa senang dalam kerja yang mencerminkan kekhusu’an. (sebagai bahan pemahaman tentang sifat perkalian dapat dibaca pada postingan tentang sifat perkalian dan penjumlahan).

4.  Kesimpulan.

Kesimpulan yang saya buat tentunya sangat bersifat subyektifisme belaka. Maka kalau nanti  dinilai tidak nyambung mohon saran dan masukannya.  Gerak multiplayer bukan dengan jimat, atau mantra atau bacaan yang harus dibaca ribuan kali tetapi tekananya pada usaha yang gigih dan sungguh-sungguh. Jangan tereflek atau defek dari teori atau seseorang yang mengaku pinter, tapi berusahalah secara ilmiah.

1. Mencapai gerak yang multiplayer ada campur tangan dengan ilmu dari yang Maha kuasa, sehingga kita harus patuh dengan aturannya.

2. Ilmu dari Nya, yang sudah dikuasai senantiasa diasah berulang-ulang.

3. Memiliki nada dan irama ( semangat ) yang teratur, disiplin, dan terus menerus.

4. Tidak punya motif apapun kecuali kerja merasa diperintah oleh Nya, sehingga merasa senang , asyik  dan khusu’.

5. Hasil yang diperoleh pasti tidak instan, butuh waktu dan kesabaran.

Selamat mencoba….., mudah-mudahan Allah meridhoi….!!! amin..!

Published January 15th, 2010

Gerak yang Multiplayer Bag. I

1. Gerak Pada Umumnya.

Semua gerak yang dilakukan oleh manusia, pada umumnya kita namakan tindakan dan bahasa Qurannya adalah amal. “Amalun bil arkhan”  Oleh karena itu setiap gerak atau amal, dapat  kita  klasifikasikan menjadi dua yaitu tindakan positif dan tindakan negatif . (dapat juga disebut amal positif dan amal negatif).  Kok ada amal negatif…?  Secara umum kita kenal bahwa nilai amal adalah positif, namun nilai dari amal yang positif itu akan dapat bernilai   negatif  jika mempunyai motivasi yang negatif . maka semuanya amal akan menjadi negatif.

(Gerak +)  menurut  (motiv -)   =  Gerak  -

(Gerak +) menurut (tujuan +)  =  Gerak  +

2. Perbedaan Motif dan Tujuan

Apa Pengertian Motif….? Pengertian motif agak samar atau beda tipis dengan tujuan. misalnya orang yang mempunyai tujuan baik untuk memberi uang atau barang kepada  seseorang  agar dia terhindar dari berbagai kesulitan. Namun  dia  memberi dengan motif agar dia dianggap lebih baik, lebih peduli, lebih bertanggung jawab, bahkan termasuk bermotif  sesuatu misalnya mendapat imbalan tertentu dari Allah  sekalipun maka nilainya dapat menjadi negatif.   Kok……, bisa begitu…? Coba lita pelajari dulu beda antara tujuan dan motif itu sendiri, supaya duduk persoalan akan menjadi jelas.

Motif = Maksud yang terkandung, atau maksud yang tersembunyi, di dalam hati yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.  Karena ini bersifat sembunyi maka dia kadang berubah-ubah  sesuai dengan subyektivitas pripadi. Motif  ini cenderung negatif.

Tujuan= Maksud yang terang atau  jelas.  Pada kegitan-kegiatan formal, bahkan tujuan akan ditulis diatas kertas dengan jelas, karena sifatnya  yang jelas. Misalnya sebagai seorang “Pengajar”  Dia bertujuan memberikan ilmu sesuai dengan bidang studi yang diajarkan agar yang diajarkan kelak menjadi orang berguna. Namun seorang pengajar dia bermotif ingin cari duit, ingin dianggap terhormat, atau ingin status sosial yang lebih tidak pernah ditulis dikertas secara jelas , namun tersembunyi pada setiap hati masing-masing. Apakah motif cari uang,  agar terhormat itu jelek…? Masa sich jelek…..? Ini juga demi nafkah keluarga…? dan kita juga diwajibkan untuk memberi nafkah keluarga….!!!  Mengapa bisa begitu…?

Coba kita lihat akibatnya bagi  seorang pengajar yang karena uang, atau insentif. Kita dapat menyaksikan pengajar di awal perkuliahan  misalnya,  dia  datang dikelas hanya sekedar ngobrol yang tak berguna  keluar dari materi, kurang dari setengah jam dan habis itu selesai. alasannya perkenalan.  Berapa banyak tenaga pengajar yang mengawali perkuliahan demikian…? Belum lagi pengajar-pengajar yang sengaja berjarak dengan mahasiswanya, dengan cara  duduk manis dibelakang meja atau berdiri dibelakang OHP, menghindari  diskusi, jarang memberi peluang untuk mahasiswa bertanya, jarang tersenyum dan angkuh misalnya.  Maaf ini hanya sekedar contoh saja, jangan ada yang tersinggung. Hal ini menunjukan motif yang terkandung, tidak diketahui oleh siapapun. Kalau sampai hal ini (motif pengajar demikian)  terjadi, saya yakin tidak akan ada pemilik sekolah yang menghendaki demikian. Oleh karena itu saya simpulkan didepan bahwa motif itu adalah cenderung tidak bagus.

3. Bagaimana supaya gerak menjadi selalu positif

Terus bagaimana supaya amal yang kita lakukan menjadi positif…..? Dan bagaimana pula supaya yang kita lakukan berdampak multiplayer (berkali lipat)….? untuk dapat mencapai kesana ada beberapa hal yang harus dipahami.

a.  Tetapkan niat.

Pengertian niat tidak seperti pada pengertian orang pada umumnya, yang cukup ada didalam hati. Kalau wilayahnya niat hanya di hati, khawatir terjebak pada motif yang sudah di uraikan di depan.  Pengertian niat adalah  sama dengan “Tanggapan tujuan”. artinya dalam mengawali gerak harus sudah dimulai ditanggapi dengan sepenuh hati, yaitu  faham dengan yang akan dilakukan dari mulai awal  aktifitas itu dilakuakan  sampai gambaran akhir atau akibat dari yang akan diperoleh sudah mengerti betul.  Sehingga dalam niat, lambungkan usaha yang akan dilakukan dengan sekuat tenaga dan mengenai hasil tinggal berserah diri kepada Allah. Karena semua kepastian adalah Allah yang punya dan kita hanya merancang dan berusaha.

b. Awali dengan mudah-mudahan.

Karena semua tindakan yang kita lakukan adalah berniatkan baik maka kita menyadari bahwa yang menjadi Penentu atas tindakan kita adalah Allah. Oleh karena itu ucapkan dengan kerendahan ” Mudah-mudahan  Allah memastikan sesuai dengan besar usaha yang kita lakukan.

c. Kuasai ilmunya

Semua tindakan yang kita lakukan harus dibarengi ilmu. tanpa menguasai ilmu maka tindakan yang kita lakukan akan menjadi sia sia belaka.  seperti tindakan dalam memberi barang atau sesuatu kepada yang lain. Yang harus kita kuasai bahwa memberi itu adalah bukanlah  akan berkurang. Dengan memberi kita harus mengenal teori pencernaan. Dimana memberi sesuatu adalah seperti membuang output pada pencernaan demi keseimbangan tubuh. Apa jadinya kalau tidak terjadi proses pembuangan pada tubuh, yang ada tubuh menjadi sakit dan tidak seimbang. Justru dengan membuang itulah nantinya akan semakin sehat. Kalau memberi diiringi kesadaran yang demikian maka memberi adalah sesuatu yang ringan. Tetapi mengapa memberi terasa berat…? Mungkin karena tidak tahu ilmunya yang demikian. yang dia tahu memberi menjadi berkurang tanpa gambaran secara menyeluruh bagaikan akhir dari proses pencernaan.

d. Hindari Gerak Reflek dan Defek

Harus disadari bahwa bertindak sesuatu janganlah akibat gerak reflek yaitu  otomatisasi dari suatu rangsangan melaluli panca indra kita.  Gerak otomatisasi akibat rangsangan dari luar tubuh kita yang diterima oleh panca indra  begitu saja dan langsung beraksi , ini disebut gerak reflek. Contoh yang nyatanya adalah orang yang latah, yang terdapat pada pelawak-pelawak yang mengharapkan lelucon. Tanpa disadari kita juga sering begitu. Begitu kita mendengar ada discount, seorang ibu seperti saya ingin segera belanja. begitu mendengar teori investasi yang akan mendatangkan banyak uang langsung terbujuk, dan banyak hal yang mempengaruhi kita secara spontan namanya gerak reflek. Sesuatu yang cepat tanpa ilmu yang dikuasainya.

Temannya gerak reflek biasanya seiring juga dengan gerak Defek. Yaitu suatu gerak otomatisasi yang diakibatkan oleh faktor dalam. Contohnya karena rasa tidak enak, karena kasihan, karena tak tega dll. Kalau dorongan dari dalam seperti ini lebih kuat menguasai dalam setiap tindakan kita maka kita akan semakin tidak terarah.  Hidup kita terarah hanya dengan ilmu yang benar. Pengaruh defek ini biasanya selalu bareng dengan reflek. Ketika kita terpesona dengan penceramah tertentu atau seorang ahli ilmu,  kita biasanya langsung mengiyakan semua kata, kemudian dibarengi dengan suasana hati yang lagi kalut dan merasa banyak dosa maka akhirnya hatinya tersentuh mengikuti apa yang di khotbahkan sang pakar untuk banyak amal misalnya. Apakah itu jelek….? Coba saja kita lihat disekeliling kita, banyak tindakan yang tidak ilmiah akibat beramal tapi ujungnya menggerutu akibat terburu-burui kena bujuk rayau atau rasa kasihan, akhirnya dia menjadi terpuruk padahal kalau disadari ini semua adalah karena gerak defek dan reflek yang menyengsarakan. tanpa di kasih contoh, supaya yakin kita semua telah banyak mengalaminya.

e.  Kesadaran gerak karena Allah.

Apa yang di maksud karena Allah…? Lho wong kita ngga bisa bercaka-cakap dengan, Allah….  ? Di sini ada pemahaman bahasa yang di makhsub, artinya pengertian itu selalu ada walaupun secara tersurat kata itu tidak ada. Katrena Allah, maksudnya Karena Perintah Allah, apapun itu. Kalau ini yang mendasari setiap gerak, maka inilah yang nantinya akan mendatangkan multiplayer. Tapi tidak saya jelaskan sekarang. kalau ditanya mengapa kamu sekolah…? Karena sekolah atau belajar diperintahkan Allah. Mangapa kamu menikah…? ya karena perintah Allah?   Mengapa kamu ber amal..? Karena Perintah Allah…? Mengapa kamu Beristri lagi…? Ya karena perintah Allah katrena istrinya telah tiada misalnya  ! Kalau mengapa kamu beristri dua…? ya karena …. Motiflah pasti wong Allah ngga berkenan  kok..!! Hehehe… ngelantur..!!!!

4. Bagaimana supaya gerak kita menjadi MultiPlayer?

Apa sich…, pengertian Multi Player ?  Yang saya maksudkan dengan gerak yang multi plyer adalah suatu gerak yang mempunyai manfaat ganda atau berkali lipat. Seperti apa sich……..? Konsep berkali lipat pasti konsep perkalian. Bukan penjumlahan. Seperti konsep perkalian yang sudah saya kupas dalam postingan, “perkalian dan penjumlahan”, disitu tampak jelas pengertian dan sifat dari perkalian. Intinya supaya kita dapat mendapatkan yang berkali lipat kita harus tahu rumusannya . Disini saya akan bercerita cukup banyak, namun  takut membosankan sehingga saya bagi dua dalam tulisan gerak multiPlyer Bag. II. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

Published January 12th, 2010

Kepercayaan dan Keyakinan Bagian II

Mengutup dari apa yang sudah ditulis oleh pak Bambang Wahyudi, bahwa keyakinan adalah ibarat sebuah fondasi bangunan maka sifatnya harus kokoh, tidak boleh rapuh. Apa jadinya kalau suatu bangunan itu rapuh, maka hal apapun yang dilakukan pada bangunan tersebut akan hancur.  Rapuhnya keyakinan, akan terlihat dari berbagai pertanyaan yang terasa sulit untuk dijawab.  Oleh karena itu maka pada tulisan saya  yang pertama saya menjelaskan dua persoalan antara Kepercayaan dan Keyakinan dengan contoh yang gamblang agar mudah dipahami. Terutama tentang sifat-sifat dari Kepercataan dan Keyakinan itu sendiri.

Pertanyaan - pertanyaan yang menunjukan  rapuhnya  suatu “bangunan skonseptual” berupa keyakinan akan terlihat pada pertanyaan yang  sering kita dengar  seperti yang dilontarkan oleh Beliau Pak Bambang W. pada kalimat sbb,

1. “ibadahnya kuat, tapi kok masih korupsi ya ?.”

2. Di sini patut dipertanyakan, apanya yang ibadah ?.

3. “sholatnya tekun, kok masih suka menghina orang ya ?”.

4. pantaskah ia disebut “sudah sholat” ?.

5. “apa itu Islam ?.”

6. “Adilkah Allah yang menjadikan seseorang dilahirkan sudah dari keturunan Islam, sementara ada orang yang dilahirkan di suatu daerah yang belum kenal agama Islam, tetapi kelak jika meninggal ia dimasukkan ke dalam neraka karena tidak memeluk agama Islam padahal selama hidupnya ia menjadi orang baik ?.”

7. dengan sesama orang Islam saja banyak yang “bertengkar,” bagaimana bisa menjalankan misi rahmatan lil alamin ?.

8. Jadi, apa sebenarnya Islam itu ?

Menunggu…, para akhli agar berkomentar, dalam rangka membangun keyakinan yang hakekatnya  keyakinan adalah Iman itu sendiri. Bukan Kepercayaan . Seperti di ucapkan beliau tentang Iman sbb:

Saya tidak ingin memiliki iman “selemah-lemahnya iman,” yaitu iman keturunan, atau iman ikut-ikutan, atau iman asal sekadar iman saja. Batin dan pikiran saya harus mantap dengan apa yang saya yakini.

Pertanyaan kali ini juga merupakan upaya saya memperkokoh keimanan saya, yang justru menjadi pondasi utama, yaitu “Islam,” suatu agama keturunan dari leluhur.

Pada Iman yang kita pahami selama ini yaitu iman keturunan, atau iman ikut-ikutan, atau iman asal sekadar iman saja ,  kita di doktrin pada Percaya saja . Maka konsekwensi jika kita hanya percaya maka  akan wajar jika berhubungan dengan  pertanyaan ”

1. “ibadahnya kuat, tapi kok masih korupsi ya ?.”

Ya iyalah…, karena ruang lingkup  percaya hanya dihati dan ucapan maka perbutan tidak disentuh. Kepercayaanya hanya seputar di konsep saja , sehingga tidak heran  ibadahnya  jalan, korupsinya juga jalan.

2. Di sini patut dipertanyakan, apanya yang ibadah ?.

Orang yang keyakinanya tinggi sampai menemukan keyakinan dan kemantapan butuh ilmu dan bukti. Sehingga tentang pengertian ibadah juga tidak sebatas berhubungan dengan mencari pahala dan menebus dosa, atau sekedar kewajiban saja melainkan di latar belakangi ilmu dan pengalaman yang kuat sehingga Pengertian ibadah akan menyangkut segala aspek kehidupan yang positif dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Maksudnya dari pernyataan diatas, bahwa  perbuatan dosa kita seperti mencuri sampai korupsi  tidak bisa ditebus dengan Shalat, shaum, zakat dan Haj.

3. “sholatnya tekun, kok masih suka menghina orang ya ?”.

Allah sendiri mengklasifikasikan dua nilai shalat. 1. Shalat khusyu’ dan shalat Syaahun. Kalau masih menghina orang, jelas itu termasuk shalat Shaahun. ” Aladzinahum ‘an shalaatihim Shaahun” ini kata Allah dalam Quran.

4. pantaskah ia disebut “sudah sholat” ?.

Ya …., pantas kalau yang dimaksud adalah sholat “Shaahun”. Ciri khas yang dimaksud dari shalat yang khasyiun, Allah menyebut “min Atsaris syujud”  Setelah melakukan shalat membekas sifat sujud. ( maaf bukan hanya ada tanda di jidatnya terdapat bekas menghitam saja tetapi dibarengi pula dengan sifat orang yang telah melakukan shalat ada sifat kepatuhan , walaupun tidak dilihat orang).

5. “apa itu Islam ?.”

Kalau ingin tahu, hakekat Isalam, rujukannya pada Quran. jangan pada yang lain. Kalau Quran, Islam itu sama dengan Din. Rujukannya pada QS. Rhuum ayat 30. “Waaqim wajhaka liddini hanifan”  Hadapkan, atau tegasnya atau tancapkan arah pandangan hidup kalian kepada din ini dengan sepenuh hati.( din = penataan hidup dari Allah). Pada ayat ini Allah menyebutnya Dinul Qayyum. yaitu tatanan tangguh yang tidak  ada satupun yang dapat menandinginya untuk dapat mencapai hidup yang benar.  Karena semua alam ini termasuk kita manusia adalah diciptakan oleh Allah maka untuk bagaimana kelangsungan hidup ini maka Allah pula yang membuatnya.

Kalau boleh saya ilustrasikan pada sebuah hasil penciptaan, misalnya tentang penciptaan barang baru, misalnya Mobil pada merk tertentu, maka otomatis yang membuat mobil tersebut akan membuat aturannya pula agar pemakaian dan perawatannya terjamin, tangguh di bandingkan jika menggunakan aturan dari pihak  pembuat mobil merk lain. Begitu kira kira Islam. Bagaimana Dengan rukunnya, atau hadist menyebutnya dengan tepat bunyinya “Buniyaal Islamii  ‘laa Khamsin” . menurut pendapat pribadi nich…, mungkin sejenis pembinaan atau tahapan tahapan untuk mendapatkan sempurnanya penataan dan perawatan sebagai hamba di permukaan bumi melalui rukun rukunnya.

Untuk sempurnanya penataan ini Allah menjamin pada Qs : Ruum 30   ” Fitratallah hi fathaarannasa a’laiha” Yaitu penataan yang Allah telah menciptakannya sesuai dengan hakekat rumusan Penciptaan manusia “.  Jadi bahasa prokemnya, Allah ini telah membuat penataan , atau aturan atau rumusan hidup didunia harus melalui yang pas  yaitu Islam . Mengapa demikian…., karena hanya inilah yang pas untuk madel kehidupan menurut Allah. Kalau ngga menurut Allah , Allah berfirman pada lanjutan  Suran Rumm tadi “Laa tabdillah likhalqillah” Tidak ada yang mampu mengatasi penciptaan ini. maksudnya tidak ada satu penataanpun yang sanggup mengatasi penciptaan Allah yang terdiri dari Alam semesta dan isinya termasuk manusia kecuali Islam. Maka pada ujungnya Allah mengatakan “ Walakin  aktsarannasi  la ya’lamuun” Namun sayang sebagian besar manusia tidah mau  atau  tidak memahaminya. Pengertian Nya di sini ditujukan tidak mau memahami Iskam itu sendiri secara kaffah.

Ini sekedar yang saya pahami untu dijadikan sharing tanpa ada motifasi apapun, mudah-mudahan pengkajian yang sifatnya kata pak Bambang Wahyudi, seperti  dibawah ini ini tidak kita lanjutkan lagi

Banyak permainan kata, reka-reka, mengada-ada tentang apa itu Islam. Ada yang berkata Islam adalah singkatan Isya Subuh Lohor Ashar Maghrib (ini sih mencari pas-pasnya saja, di luar penerimaan nalar saya, tapi pas buat anak-anak balita). Ada juga yang berkata, Islam adalah agama, tetapi …dst

Agama adalah berasal dari bahasa san sekerta yang artinya A tidak, dan gama kacau. Kalau tujuanya untuk tidak kacau bisa bersifat sesaat. Sebagai Contoh supaya orang gila itu tidak mengacaukan maka kasih aja pil penenang, atau dirantai saja supaya tidak keluyuran. Apakah seperti itu fungsi Agama  ? Dari penjelasan saya mudah-mudahan ada pencerahan, lebih, dan lebih dari sekedar itu.

Kalau ada seorang ulama  yang menyimpulkan seperti yang di ungkap oleh Pak Bambang di bawah ini“sulit mencari koruptor yang tidak naik haji atau umroh.” , mungkin karena konsep ibadah tadi baru sampai tahapan kewajiban dan pertimbangan pahala dan dosa. Seperti hitung-hitungan matematik dengan haji atau umrah, tindakan korupsinya dapat ditebus. Kita sebagai orang akademisi mudah-mudahan akan lebih banyak mengkaji, tidak sekedar mengaji. Kalau Saya banyak salah mohon diluruskan jangan sampai terulang semakin dipojokkan dianggap menyesatkan.

6. “Adilkah Allah yang menjadikan seseorang dilahirkan sudah dari keturunan Islam, sementara ada orang yang dilahirkan di suatu daerah yang belum kenal agama Islam, tetapi kelak jika meninggal ia dimasukkan ke dalam neraka karena tidak memeluk agama Islam padahal selama hidupnya ia menjadi orang baik ?.”

Tidak semua pertanyaan harus di jawab, denga pertanyaan no 6,  semua orang akan menemukan jawabannya masing-masing.

7. dengan sesama orang Islam saja banyak yang “bertengkar,” bagaimana bisa menjalankan misi rahmatan lil alamin ?.

Mudah-mudahan dengan banyaknya perbedaan dalam kajian saya bukan untuk saling bertengkar marilah kita ciptakan  rahmatan lil’alamin di permukaan bumi ini

8. Jadi, apa sebenarnya Islam itu ?

Pada pertanyaan no 5 sudah nbanyak yang saya kupas, walaupun ini baru sebagian keciiil sekali. Perlu butuh beberapa postingan untuk membahas ini semua, agar keyakinan kita tambah matap, tambah cinta dan tambah aktif yang ujungya untuk rahmatan lil’alamin. kesimpulannya : Islam yang menurut arti leterlek secara kamus ialah selamat sejahtera, Jadi Isalm ini satu tatanan hidup yang diciptakan oleh Allah sendiri yang proses penciptaanya didsesuaikan dengan hakekat  proses penciptaan manusia , sehingga diharapkan menjadi tatanan hidup tangguh  di permukaan bumi  sehingga bagi siapa saja yang mau memahami akan selamat dan sejah tera. Sayang kebanyakan manusia tidak sudi memahami.

Published January 11th, 2010

Kepercayaan dan Keyakinan Bagian I

Dua kata tentang Kepercayaan dan Keyakinan ini sering  dianggap bermakna sama.  Ketika kita bertanya tentang apa kepercayaan  anda ? orang berfikir sama yang dimaksud dengan keyakinannya.  Apakah benar …, dua kata ini mempunyai makna yang sama atau berbeda ? Kalau memang sama dimana letak persamaannya, dan jika beda dimana pula letak perbedaannya.

Sebagai Ilustrasi,  saya pernah mendengar cerita dari seorang teman, bahwa sebuah rumah makan yang terletak di jalan tertentu pada suatau tempat  terkenal makananya enak dan harganya murah,  dengan tempat  yang  nyaman.  Sejak mendengar cerita dari teman saya  tentang rumah makan itu saya Percaya bahwa rumah makan itu memang terkenal enak. Mengapa saya percaya..? Karena pada saat temen saya cerita, temen saya  memang terlihat sangat semangat dengan wajah yang berbinar,  terlihat dari nada bicaranya yang mantap.  Oleh karena itu saya percaya.  Saya semakin  tambah percaya  ketika yang menceritakan rumah makan tersebut lebih dari 5 orang.  Namun saya belum Yakin.   Mengapa Yidak yakin…..? karena saya belum membuktikan langsung makan di rumah makan tersebut. Sekali saya merasakan makan di rumah makan tersebut saya merasa yakin, memang bener enak seperti yang diceritakan oleh temen saya maupun orang yang pernah datang untuk makan dirumah  makan tersebut.  Begitu seterusnya akhirnya saya menjadi ketagihan makan dirumah makan tersebut karena masakan yang disajikan tidak pernah mengecewakan sehingga kita menjadi tambah yakin.

Dari cerita diatas dapat disempulkan beberapa perbedaan dan persamaannya sebagai berikut.

1. Ruang lingkup  Kepercayaan dan Keyakinan.

Wilayah Kepercayaan hanya ada dalam hati dan ucapan, namun ketika berubah menjadi keyakinan setelah ada dihati, mengucapkan percaya dan membuktikan dalam berbuat yaitu makan langsung di tempat makan tersebut.

2. Proses Pembentukan Kepercayaan dan Keyakinan.

Kita dapat percaya  terhadap sesuatu setelah ada beberapa i keterangan yang tidak diragukan yang diperoleh dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.  Dalam contoh cerita ini kita percaya setelah ada informasi yang cukup jelas dari teman  yang memberi keterangan tentang rumah makan tersebut.   Kepercayaan menjadi bertambah ketika keterangan yang diperoleh semakin bertambah dan lengkap.  Keterangan bentuknya menjadi berubah menjadi keyakinan ketika membuktikan langsung dengan makan di rumah makan tersebut.

3.  Jangka waktu Kepercayaan dan Keyakinan

Untuk dapat percaya cukup memerlukan waktu yang singkat asal yang menjelaskan obyek tersebut dengan keterangan yang cukup. Dan untuk mendapatkan  keyakinan butuh waktu yang lama, karena sekali bukti tidak dapat menjamin orang menjadi yakin. Menjadi yakin butuh waktu kama karena harus membuktikan berkali-kali dalam waktu yang lebih lama.

4. Sifat Kepercayaan dan Keyakinan

Kepercayaan biasanya sifatnya hanya sementara, merupakan rangkaian proses yang apa bila proses tersebut dapat dibuktikan maka Kepercayaan akan burubah menjadi Keyakinan.  Sehingga sesuatu yang sudah menyakinkan cenderung bersifat abadi, dan bisanya sudah mencintai.

5. Ciri khas dari Kepercayaan dan keyakinan

a. Prosentase kemantapan.

Seseorang yang mempunyai kepercayaan  sifat kemantapannya tidak sampai 100%. Gampang berubah, sebab Pada Kepercayaan,    setiap ada data atau keterangan yang masuk akan dinilai sebagai bahan pertimbangan untuk menambah kepercayaannya. Dan Keterangan dari pihak yang lain selalu di nanti. Namun kalau sudah yakin berarti kemantapannya menjadi 100 %. Dan biasanya orang yang sudah mantap maka masukan data atau keterangan tidak perlu mencari karena dia sudah mengantongi bukti berulang kali.

b. Aktivitas Gerak.

Orang yang keyakinannya tinggi biasanya ia akan aktif dan begairah dalam hidup. Semangat hidupnya membara. Namun kalau hanya sekedar percaya, biasanya dalam tindakan akan selalu gamang, dan ragu-ragu, akibat tidak cukup bukti.

c. Cinta dan Takut.

Orang yang berkeyakinan tinggi biasanya hidupnya penuh dengan cinta. Mengerjakan sesuatu dengan penuh cinta yang pada akhirnya berujung pada berkah yang berlipat ganda. Namun pada orang yang percaya , biasanya hidupnya penuh ketakutan. Mau berbuat sesuatu takut salah  dan tidak berani. Padahal kesalahan yang paling besar dalam hidup ini adalah takut salah itu sendiri.


Published January 9th, 2010

Peminta-minta II

1. Pendahuluan

Mengapa peminta-minta disekitar kita semakin hari semakin banyak  jumlahnya?  Adakah yang dapat menjawab persolan ini sampai tuntas  ?  Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap fenomena ini ?  Pemerintahkah yang salah?  Salahkah kita kalau tidak memberi ? dan apa yang harus kita lakukan untuk mereka? Begitu kira-kira beribu -ribu pertanyaan spontan berkecamuk dari orang yang mau peduli.  Pertanyaan yang tidak menemukan jawab akan menjadi ganjalan dalam hati yang ujungnya menjadikan hati terasa tidak enak. Jika persoalan hanya satu mungkin tidak akan sampai mengganggu kehidupan. Ternyata jutaan persoalan hidup kian hari juga bertambah banyak hingga menyesakkan dada. Satu persatu kita coba  uraikan persoalan ini agar tidak semakin kusut. Dengan begitu kita ingin berharap, kedepan banyak persoalan yang dapat diatasi yang menghantarkan pada kehidupan kita yang lebih berkualitas dan lebih baik lagi dari sekarang.

2. Hukum meminta sesuatu dalam masyarakat.

Sampai hari ini, yang sering kita dengar dari nyayian mulut pengamen, bahwa meminta adalah lebih baik dari mencuri atau jual narkoba.  Pernyataan  seperti itu juga sering terlontar dari orang-orang disekitar kita yang kita hormati dikalangan ilmuwan maupun rokhaniawan.  Sehingga kita sebagai orang awam tak berdaya seolah melegalkan  begitu pernyataan ini.  Bukan bermaksud membuat oposan, tapi marilah kita kaji lebih dalam, sudah paskah apa yang sudah melembaga dalam masyarakat ini?

Karena dalam kenyataan, bukan saja jumlah pengemia atau peminta-minta dijalanan bertambah banyak jumlahnya, namun mental untuk meminta pada kalangan bangsa indonesia juga terasa sangat mengental, sehingga kita terkenal dengan bangsa yang tidak mandiri, banyak utamng dan banyak korupsi. Bukankah julukan-julukan tyang seperti itu berawal dari manusia, yang senengnya meminta daripada memberi…? Jadi kalau begitu jumlah peminta-minta “potensial” amat banyak jumlahnya. Adakah yang sudah melakukan survey..? Hampir 60% atao dibalik jadi 90 %…?   Waduhhhh…., ngarang tenan iki, agak  lebay sedikit rupanya . Bukan apa-apa, karena sifat peminta adalah ada dalam diri kita sendiri termasuk utamanya saya pribadi.

3. Memita dalam pandangan Al-Quran.

Berdasarkan apa yang saya pelajari pada Qs. Mudhatsir, disana dikatakan.”Wala tamnun tas taksir” Janganlah melamunkan hasil tanpa kerja keras.  Pada kalimat ini memang tidak ada kata atau larangan meminta. bahkan kata-kata memintapun tidak ada. Bahasa Quran tidak seperti bahasa Undang-undang manusia yang terlalu ribet. Kalau diibaratkan kita mempunyai alat untuk menggali ma’na dari Al-Quran mak kita akan mendapatkan ilmu yang luar biasa. Syaratnya kita tidak boleh salah pasang antara positif dan negatif. Artinya teori atau rancangan yang positif pasti contohnya juga positif. begitu sebaliknya kalau rancangan atau teorinya negatif maka hasilnya juga negati.

Kembali pada kajian ayat tadi maka perintah tadi dapat dilihat dari sudut pandang lain tanpa mengurangi makna, maka perintah jangan melamun sama saja perintah untuk bekerja keras. Dengan bekerja keras pasti Allah akan menjajikan hasil, jika kita telah melakukan dengan pas. kalau sudah punya hasil pasti tidak disuruh meminta melainkan berkewajiban untuk memberi. Kalau konsep ini dapat dipahami oleh setiap insan maka insyaallah, syifat ingin meminta akan terkikis habis. Yang akan menggelora justru sifat kerja keras yang ujung akhirnya terdorong untuk memberi kepada yang lain

4. Mengapa keinginan untuk meminta atau bersandar begitu kuat  pada bangsa kita….?

Published January 9th, 2010

Peminta-minta I

1. Pendahuluan.

Banyak pemandangan disekitar kita menjadi semakin  tidak enak di pandang manakala di tempat itu  banyak peminta-minta yang berlalu-lalang. Terutama pada kendaraan umum, seperti Bus, kereta ekonomi, angkot, di tempat makan dll.  Semakin hari sepertinya jumlahnya semakin banyak. Misalnya di kereta kelas ekonomi, dari mulai pasangan orang buta dengan anak atau istrinya,  tukang sapu gimbal yang masih anak-anak, pengamen sekelompok anak muda, Ibu-ibu dengan anak atau anak-anak dengan atribut pengeras suaranya, sampai pengemis dengan atribut amplop, ataupun dengan dalih untuk anak yatim dll. Dapatkah kita memutuskn memberi atau tidak memberi dengan bijak…?

2. Keputusan memberi atau tidak pada pengemis.

Ketika memutuskan untuk memberi atau tidak seringkali dihadapkan pada dilema. Memberi atau tidak ya…! Untuk saya pribadi sebenarnya ingin tertanam untuk selalu memberi pada mereka, toh dikasih Rp500,- atau Rp 1000, mereka akan segera berlalu dan segera dia pergi. Dengan begitu Pengemis akan segera berlalu dan persoalan selesai. Namun ternyata tidak begitu kenyataannya. Kalau kita naik kendaraan umum seperti Bus dan Kereta ternyata bisa lebih 5 kali peminta-minta akan datang dengan dalam bentuk aneka warna.   Kalau sudah berkali-kali yang datang seperti itu, jujur saja semakin tidak ikhlas rasanya. Pertama kadang kita tidak menyediakan recehan sebanyak pengemis  itu, dan kadangkala uang memang tidak ada untuk diberikan pada pengamen /pengemis sebanyak itu walaupun hanya Rp500,- karena benar-benar lagi tidak punya uang.  Kalau lagi rasa tidak ikhlas itu datang , kemudian mencoba meyakinkan diri bahwa biarlah  toh nanti…, ada yang lain yang memberi atau kita berfikir “ngapain diberi !”  mereka masih sehat, mungkin pura-pura atau anak-anak kecil itu juga terkadang ada yang mengkoordinir,  ngapain pula mereka dikasih”. Ada yang berpendapat dengan memberi berarti kita tidak kasihan kepada mereka, terutama bagi anak-anak yang di pekerjakan. Mereka akan selalu enak dengan posisi dikasih tanpa mendidik  mereka . Mereka hendaknya   belajar dari kehidupan ini yang memang keras.

Apabila tidak ada satu orang pun yang memberi mereka uang, maka pengemis tersebut tidak akan ada. Alangkah lebih baik jika uang tersebut kita kumpulkan untuk membantu biaya pendidikan mereka, untuk pengemis anak-anak  usia sekolah daripada kita membantu biaya foya-foya preman yang mempekerjapaksakan  anak di bawah umur, atau untuk biaya hidup orangtua yang memaksa anaknya bekerja di jalan sedangkan mereka hanya melihat dari jauh, dan lain sebagainya. Jika mereka terbiasa mendapat uang mudah dari bekerja di jalan, maka mereka setelah besar / dewasa kelak akan tetap menjadi pekerja jalanan.
3.  Hati Nurani manusia.

Hati yang Nur’ Aini yaitu hati yang mempunyai ketajaman mata untuk memandang akibat terdapat nur (cahaya) yaitu ilmu yang hakiki dari sang Pencipta pada setiap manusia pasti ada. Oleh karena itu kita sering merasa iba, merasa kasihan, dan seolah ikut larut dalm dunia mereka.  Hati yang sudah bagaikan punya mata itu harus sering diasah agar menjadi lebih tajam dengan sering  menyaksikan berbaga rangkaian peristiwa yang saling sambung menyambung. Bukan sekedar tajam, namun hati akan mempunyai kemampuan lebih dari itu. Ibarat Teori pembentukan magnet lewat penggosokan yang berulang dan searah, begitu mestinya kita mengasah hati kita. Selalu kontinyu, konsisten , punya arah yang positif maka akan mampu mendatangkan kekuatan pada diri bagaikan pembentukan magnet tadi. Kita mampu menarik kesimpulan, sebenarnya kapan kita tepatnya memberi pada mereka agar bermanfaat dan tanpa meleset tetapi tepat sasaran.  Alangkah indahnya jika kita memberi sesuatu tahu persoalan tanpa orang harus curhat atau meminta dulu   kepada kita , dan kemudian kita ikut menyaksikan dan ikut merasakan dari apa yang telah kita tanam padanya.   Sepertinya terlalu  Lebay….,  teori yang saya ajukan disini. Mungkinkah  ini bisa dibuktikan…? kaya para normal aja nampaknya ya…? Inilah Satu kehebatan yang sering saya rasakan dan kemudian mencoba berbagi. Seperti apa contohnya….?

4. Contoh sederhana.

Sebelum saya  memberikan  contoh, definisi yang saya tulis adalah Peminta-minta. Pengertian ini tidak hanya  sekitar peminta-minta yang kita saksikan dijalanan, namun siapapun orang yang berpotensi meminta, berati disebut peminta. Peminta tidak harus berupa uang atau barang, tetapi bisa juga berupa nasehat atau yang lainnya.

a. Ketika saya pertama  mau naik  bus jurusan Bekasi saya hanya, punya petunjuk naik 19 dari kampung Rambutan. Begitu ada bus dengan no 19 karena terburu buru saya langsung naik.  Dengan sok pasti saya duduk tenag sambil dengerin lagu-lagu yang di dendangkan pengamen. Setelah mereka  menyodorkan kantong permen, saya masukan uang Rp 500,- dan terucap dari bibirnya terimakasih.   Ketika Bus melintas di daerah bekasi kok tidak Belok yaa…? Mulai saya panik disitu.  “Ibu mau kemana ?” tanya pengamen tadi yang masih ada disebelahku. “Mau keBekasi…!” jawabku. “oh, Ibu salah naik, mestinya ibu naik 19 B dan ini 19 C jurusan cikarang”.  ” Ibu Turun aja nanti ni cikarang, dan naik bus kecil warna merah, tinggal menyeberang, langsung kebekasi” Begitu penjelasan pengamen itu.  Terima kasih ya…! Jawabku dengan penuh Syukur. Ketika turun, pengamen itupun kebetulan ikut turun dan menunjukkan  arah .  “ibu tinggal menyeberang kesitu, dan itu sudah ada bisnya yang mangkal” kata pengamen itu. Dalam hatiku yang terdalam terimakasih ya Allah dari uang Rp500,- saya mendapat balasan yang berkali lipat, sekali lagi terimakasih pengamen.

b. Ketika sedang berharap-harap menunggu keluarnya uang  rapelan, ada seorang kawan (sebut saja A), memberitahukan bahwa uang itu dah keluar. Terus dia sia bercerita bahwa milik dia kok malah belum, katanya. Tanpa diminta Saya menawarkan jika memang diperlukan. Dan jawabnya iya katanya.  Saya baru menawarkan, belum memmberi, namun pada hari kemudian ada seorang teman ( sebut B) yang tadinya saya tidak berteman dekat dia (si B) tiba-tiba  bercerita di depan teman juga (si C)  yang selama ini menganggap saya ini dan itu. Katanya ibu ini ( dia menunjuk saya ) adalah orang yang baik sekali. Pada kesempatan yang lain( si B) katanya diceritakan oleh si A tadi bahwa dari banyak orang yang dikasih kabar kalau uangnyayang tidak keluar , Bu rakhma katanya orang satu-satunya menawarkan jasa baiknya sampai dia terkesan sedemikian rupa. Dapatkah merasakan  kekuatan dal;am cerita ini. Maaf , bukan lagi geerya…. Aniyatu berbagi cerita supaya siapapun dapat mengambil hikmahnya. Intinya kepada orang yang selama ini punya pandangan ini dan itu terhadap saya (sebut si C), melalui cerita si B saya yakin dia punya pandangan yang lain lagi. Selamat mengasah hati….!!!!

Published January 6th, 2010

Mengisi hari-hari ditahun2010

Melihat kedepan ditahun 2010, bagi kita bagian dari Bangsa Indonesia harus terus optimis agar kehidupan berbangsa dan bernegara kita menjadi semakin kuat. Banyak persoalan yang menjadikan kita menjadi berkecil hati, seperti ramainya persoalan politik, ekonomi dan sosial masyarakat  yang semakin hari semakin tidak menentu arahnya. Kali ini saya tidak ingin menyentuh dunia yang semakin mengecilkan nyali kita namun dengan  sekuat tenaga membangun potensi diri kembali menatap masa depan yang menggelorakan  jiwa.

Mumpung masih di awal tahun ada baiknya kita  bertanya siapakah aku  ….? Darimana  aku…..? dan mau kemana sebenarnya aku ini…?  Pertanyaan ini bagi manusia amatlah penting agar keberadaan kita sebagai manusia dipermukaan bumi tahu tugas dan tanggungjawab. Hidup hanya sekali. dan hidup tidak dapat diulangi. maka orang bijak mengatakan bahwa waktu adalah bagaikan pedang. disatu sisi pedang adalah satu alat yang strategis jika mampu menggunakan dengan tepat maka akan dengan cepat menghantarkan tujuan dengan hasil yang optimal. tetapi sebaliknya jika kita tidak tahu ilmunya untuk menggunakan pedang itu niscaya siap akan menebas leher kita sendiri.  Iiiiiikhkh…. mengerikan.  Sadarkah wahai manusia?

Ibarat suatu peta yang mampu menggambarkan darimana seseorang mulai start, dan tergambar pula tujuan dimana kita akan sampai. Begitu juga liku-liku jalan yang akan dilewati tergambar dengan jelas sehingga kita mampu memperhitungkan jarak dan waktu tempuh yang dibutuhkan. Begitu dengan peta kehidupan kita, apabila gambaran kedepan sudah jelas tergambar maka hari-hari bagaimana mengisi ditahun 2010 dapat di perhitungkan dengan matang dan mudah-mudahan akan lebih cepat sampai kepada tujuan. Sudahkah kita begitu…?

Perjalanan hidup kalau di Peta bagaikan suatu garis. Yaitu kumpulan dari titik-titik yang saling sambung menyambung tiada henti.  Begitu perjalanan manusia bagaikan titik-titik tersebut yang melambangkan tahapan demi tahapan yang akan dilalui harus terus menerus. Kalau begitu kita tidak boleh putus asa, senantiasa sabar dan tawakal dalam menghadapi berbagai rintangan. Pepatah Sunda mengatakan laon laon jadi legong. Yang maknanya lambat dan terus menerus mampu memciptakan lubang yang keras. berarti kontinuitas dalam bekerja walaupun pelan akan mampu menghasilakan sesuatu yang hebat, apalagi kalau cepat, terus menerus dan sesuai dengan ilmu, mantep jadinya.

Kadangkala dikala menempuh perjalanan, telalu banyak beban yang kita bawa. maka kalau ini disadari supaya perjalanan tidak melelahkan dengan berbagai beban maka berbagailah dengan yang lain.  Percayakan bahwa teman yang akan diajak untuk berbagi bukan benalu yang akan menambah beban pula. Tetapi jangan menimbulkan kekhawatiran yang tinggi hanya untuk berbagi, Orang yang seperti ini terlalu banyak mikirnya  yang ujung-ujungnya takut rugi. Buang jauh jauh sifat seperti itu. Berpangkal dari kebersihan diri insyaallah kita akan ketemu dengan orang yang bersih pula.

Kenali Alat-peralatan yang sudah kita miliki. hanya dengan kemampuan menyadari yang kita miliki kemudian kita akan sadar diri dan pada akhirnya kita mampu hidup bersyukur. Tidak mudah memang, tapi perlu dicoba. Jangan takut mencoba karena dengan mencoba asalah langkah awal untuk mendapat suatu karunia.

Published January 6th, 2010

Membentuk Rasa (Bagian II)

Ada komentar dari anak saya bahwa orang-orang yang ilmunya banyak ternyata mereka menyebalkan, pelit egois, seperti tidak punya perasaan. dll ( Dia melihat teman-temanya disekolah).   “Berarti mereka bertolak belakang dengan teori mama, mengapa itu bisa terjadi ? ”

Pertanyaan semacam itu tidak saja terlontar dari mulut anak saya, mungkin kalau kita jujur dan mengamati disekitar kita , maka orang yang demikian masih banyak sekali.  Padahal secara teori mestinya semakin banyak ilmunya dia akan lebih bijak ,  lebih peduli dan lebih arif sebagaimana ilmu padi yang semakin berisi semakin menunduk.  Lalu… , mengapa dalam realitanya banyak yang bertolak belakang?

Ilmu yang sebatas hanya  dikuasai dan dipahami maka tingkatannya baru bersemayam di dalam otak.  Ilmunya masih merupakan buah pikiran yang melayang-layang diselaput otak. Padahal tempatnya ilmu bukan di otak melainkan ada di hati yang nantinya akan dinamakan hati yang punya kemantapan, bermahkota ilmu atau “mahkoman mahmudan“. Untuk mengendapkan ilmu ke dalam hati butuh proses lama, tidak “simsalabim” atau tidak otomatisasi. Prosesnya membutuhkan semacam peleburan dengan pengamalan ilmu itu sendiri.  Sempurnanya ilmu yaitu kalau ilmu itu sudah mengujud dalam perilaku gerak seseorang yang pas dengan yang dikuasainya.  Ilmu  yang benar dan lengkap maka kalau kita amalkan  akan menghasilkan perasaan tenang, gembira, Indah,  nyaman dan mantap dalam kehidupan.

Ibarat orang makan suatu makanan maka mencari ilmu seperti halnya orang makan yang tiada henti. Dimana nantinya kalau makan terus menerus, akhirnya  perut terasa penuh terjadi proses pencernaan sampai pada ujungnya  kita membuang kotoran. Membuang kotoran itu laksana mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat yang akan menyeimbangkan tubuh agar kesehatan tetep terjaga.

Jadi dengan kita mengamalkan ilmu melalui mengajar,  saling menasehati maupun mengamalkan dalam bentuk apapun, sebenarnya bukan untuk orang lain maka akan berguna untuk dirinya sendiri.  Ibarat orang mengunyah suatu makanan maka makanan akan digigit,  digilas , digiling. kemudian   bercapur dengan air liur hingga makanan terasa enak.  Begitu juga halnya dengan  ilmu yang kita peroleh, akan  kita lumat hingga menimbulkan rasa yang akan memberi rasa nikmat atau sebaliknya. Jadi kalau ada orang  pinter (terlanjur mendapat gelar pinter ) kok masih sombong…, itu  ada beberapa sebab.

1.  Ilmunya hanya  sedikit sehingga kalau mau berbagi takut hilang atau berkurang ilmunya. sehingga terkesan pelit.  Terkadang  yang sedikit ilmunya (dengan   gelarnya tinggi) mereka  kurang merasa percaya diri sehingga supaya dia tetep eksis keberadaannya maka berlagak orang pinter, untuk  menutupi segala kekurangannya.

Ilmunya banyak tetapi tidak lengkap. Lengkapnya ilmu setelah diamalkan dalam kehidupan.  Mereka belum sempat mengunyah ilmu yang diperoleh ( diibaratkan  makan) sehingga dia belum dapat merasakan apa manfaat dari ilmu yang mereka miliki. Mereka dapat dikarenakan  kurang  pengalaman sehingga  selalu menilai apa yang dimilikinya seolah  tidak bernilai. Biasanya orang yang seperti ini kurang percaya diri sebenarnya, tetapi terlanjur orang menjuluki pinter sehingga dia berlagak PD hingga terkesan sombong.

3. Orang yang banyak ilmunya, tapi malas  mengamalkan. Terlanjur dengan berbagai gelar yang disandangnya diikuti kedudukan dan harta yang menyertai maka akan membawa   orang tersebut semakain malas. Dengan begini saja sudah cukup berlimpah dan meras menang dalam kehidupan.  Padahal ilmu  mereka hanya sebatas melayang-layang diselaput otak . Manusia yang demikian  kerjanya hanya mengajarkan konsepsi terus menerus, hanya senang menasehati orang lain. Dan biasanya  orang menjuluki dengan NATO. (No Action talk only) dan  NACO (No Action Comment only) dst.

4. Salah persepsi dengan  derajat keilmuanya.  Dengan derajat keilmuannya  sudah tinggi maka memposisikan level dirinya  juga tinggi. Setinggi  gelarnya sehingga enggan bergaul dengan yang ada dibawahnya.  Mereka merasa tidak selevel dengan derajat yang ada dibawahnya sehingga dia terkesan sombong. Coba kalau mereka sadar bahwa yang namanya derajat itu seperti dalam matematik.  yaitu yang disebut derajat adalah  luasnya pemahaman ilmu akibat berbagai pengamalan yang dimiliki. Orang yang seperti ini g pada akhirnya menjadi kaya dengan pengalaman.  Bagi yang tahu tentang pebngertian derajat seperti dalam matematik mestinya dia akan memposisikan diri  bagaikan duduk dalam lingkaran dimana ia berada pada jari-jari yang sama serta level yang sama. Yang membedakan mestinya semakin derajat keilmuanya semakin besar akan menuntut tanggung jawab yang besar hingga dia tidak mengedepankan hak. Orang yang mengedepankan hak tanpa karya juga sangat tidak nyaman untuk dijadikan teman.

Mestinya dengan derajat keilmuan yang sempurna dengan mengamalkan dalam setiap aspek kehidupan akan menimbulkan rasa yang semakin sensitif, semakin tajam dalam menerima setiap rangsangan. Akan mampu memberi sebelum orang terucap meminta. Akan mampu bersedih sebelum orang curhat kepadanya. Akan mampu melindungi dan mengasihi  sebelum orang lain mengasihi. Akan mampu menjelaskan sebelum orang malu-malu memohon Dll.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.