rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for December, 2009


Published December 15th, 2009

Kebaikan Pak Polisi

Suatu pagi sekitar jam 06.15 di bulan Desember, jalan Margonda Depok sudah mulai padat dengan kendaraan. Dari Pertigaan Juanda saya naik angkot P19 merah jurusan Kampung Rambutan.  Sampai di Gg.  Kober (hampir ujung Margonda) Kendaraan sudah mulai padat merayap. Dan Persisnya di Jembatan Layang UI, sudah mengalami macet total.  Dari mulai naik jembatan  kendaraan berjalan  merayap hingga turun jembatan (persisnya pada persimpangan masuk Gerbang UI) membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Sampai akhirnya para Sopir menggerutu dan mencari jalan pintas dengan memutar arah dan  masuk jalur  UI.

Amat menjengkelkan dalam situasi seperti itu. Tidak hanya para sopir, kami para penumpang saling pandang, seolah saling melemparkan tanya ” mengapa, dan ada apa sepagi ini sudah macet total ?  Dengan hati yang diupayakan sabar, kami teruskan perjalanan hingga angkot di depan Pintu gerbang keluar UI. Di tunggu sampai lima menit, mobil tetap diam tanpa beranjak maju , hingga salah satu penumpang yang tak sabar mencoba turun dan berusaha jalan kaki.  Saya berfikir mungkin si Bapak itu memang sudah dekat dengan tujuannya  maka dia mencoba turun dan jalan, dengan harapan akan lebih cepat sampai.  “Kok Bapak tua  itu berjalan balik  arah ya ….. Kemana gerangan…?” Tanyaku dalam hati.   Dengan seksama saya perhatikan dari jauh ( karena mobil diam tak bergerak)  Si Bapak  naik jembatan penyeberangan UI.

Disitulah langsung terfikir oleh saya, “Mengapa saya tidak ganti angkot saja…?” diseberang sana dengan naik jembatan dan jalan kaki sedikit,  nanti ada mobil 112 ke Kampung Rambutan.  Dengan melalui jalan Raya Bogor kemungkinan macet adalah kecil. Oleh karena pemikiran tersebut, dengan serta merta saya turun mengikuti jejak Bapak tua didepan. Ternyata bukan saya dan bapak tua saja yang menyeberangi jembatan, ada beberapa orang yang melintas di jembatan itu mengikuti jejak kami,   sehingga tidak merasa sendiri.  Jujur saya pribadi  meresa  takut menyeberang jembatan  penyeberangan UI ini.   Selain tinggi dan panjang, disitu cukup sepi.  Disamping itu ada pengalaman pahit di jembatan yang sepi itu, beberapa hari lalu. Di jembatan itu pernah  ada orang gila yang mengganggu siapapun yang lewat . Biasanya disertai  dengan meminta sesuatu.  Yang saya lihat pada waktu itu dia minta Rokok pada pria yang lewat , dan mengejar yang lain yang kelihatan  ketakutan bahkan  dikejar sampai pada ujung Jembatan.

Dengan langkah tergegas saya menyeberangi jembatan.  Anggap saja Olah raga pagi yang selama ini jarang saya lakukan.  Ya Allah…, betapa berat untuk perjalanan sebuah pengabdian.  Kalau tidak karena merasa diperintah oleh Allah untuk menolong sesama, rasanya saya ingin balik arah langsung pulang ke rumah. Namun pantang berhenti, hatta waktu mungkin sudah terlambat sebelum sampai ke ujung batas tujuan. Maka dengan berjalan setengah berlari saya lanjutkan untuk sampai pada jalan yang dilintasi angkot 112.  Dari jauh sudah tercium bau yang tidak sedap, karena ada tempat pembuangan sampah yang harus dilewati, maka saya semakin kencang mengayunkan langkah.   Tiba-tiba tit..tit ..tit, terdengar suara klakson dari arah belakang  dan berhentilah sebuah sepeda motor besar.  “Selamat pagi bu….?” Sapa pengendara sepeda motor yang bertubuh tegap dan gagah yang ternyata seorang polisi berpakaian lengkap dengan senjata.  “Pagi …” jawabku dengan ketus. Dalam hati saya salah apa sampai dicegat polisi sepagi ini.  Otak saya terlanjur negatif terhadap polisi, oleh karena seringnya motor di rumah kena tilang. Bahkan ada proses sidang yang belum ditempuh, karena anak saya yang masih SMA karena belum cukup umur, kena tilang juga. “Ibu mau kemana” tanya pak Polisi mebuyarkan pikiranku. ” Oh. ya…, mau ke situ pak …, mau menuju jalur yang dilewati angkot 112″ Jawabku selanjutnya. ” Ayo…, ikut saya saja, saya mau ke arah jalan raya Bogor” Ajak Polisi itu.  Agak tertegun, mendengar ajakan tersebut. “Apa maksudnya ya… ini polisi”, fikir saya tak mengerti.  Ayo, Bapak anter saja dari pada cape jalan kaki, Lanjut Pak Polisi membujuk. Kok ada polisi sebaik dan seperhatian ini ya…, tumben, fikir saya dalam hati.  Dari awalnya saya berfikir negatif  sampai berubah menjadi positif melihat nada sopan yann santun yang keluar dari setiap ucapannya. “Ya, pak…., terimakasih banyak, saya tiggal sedikit lagi  kok sampai kejalur 112″. “Terimakasih..!! ” jawabku berulang-ulang. “Ya.. sudah, hati-hati bu…, selamat pagi”.   Lajut Polisi sambil menstater motornya.

Sampai hari ini, peristiwa itu menyisakan banyak tanya, ada apa dengan kebaikan pak Polisi itu?. Apakah bpada waktu itu saya terlihat patut dikasihani…? atau memang ternyata banyak pak polisi yang perhatian dan baik hati, jauh dari apa yang saya fikirkan. Atau ini mereupakan  teguran buat saya yang berpandangan negatif kepada polisi selama ini. Apapun itu, mudah-mudahan kedepan Polisi menjadi lebih baik lagi.

Published December 9th, 2009

Mengkaji Hari Antikorupsi yang ke VI

Hari ini Rabu 9 Desember 2009 adalah hari anti korupsi  Internasional yang ke VI.  Hari antikorupsi dunia ini diperingati berdasarkan kesepakatan 133 negara dalam Konvensi Anti Korupsi PBB (United Nation Convention Againts Corruption) di Merida, Meksiko pada 9 Desember 2003 silam.  Berdasarkan kesepatan itulah, hingga kini setiap 9 Desember masyarakat diberbagai penjuru dunia memperingatinya dengan cara yang beragam, tidak terkecuali di Indonesia.

Kalau kita melihat praktek korupsi itu sendiri sebenarnya telah berlangsung dari jaman sebelum merdeka baik selama penjajahan  ( selama penjajahan dari mulai Portugis, Spanyol, Belanda hingga Jepang ) maupun jaman awal datangnya Agama-agama yang masuk ke indonesia yang ditandai dari pergolakan-pergolakan kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia.  Setelah  merdekapun bangsa Indonesia tidak lepas dari yang namanya korupsi, dari mulai pemerintahan Orde lama dan Orde Baru.  Yang menjadi pertanyaan mengapa kesadaran untuk anti korupsi baru dimulai dari tahun 2003….?????  Padahal kita sebagai bangsa mengalami dampak korupsi sudah dari ribuan tahun silam !!  Sekali lagi mengapa baru 6 tahun yang lalu kesadaran itu muncul secara serempak di seluruh dunia ? Mengapa saya dapat katakan bahwa korupsi ternyata sudah berlangsung dari ribuan tahun yang silam…? Coba kita tengok sebentar apa sebenarnya definisi korupsi itu sendiri.


Asal kata Korupsi

Korupsi berawal dari bahasa latin corruptio atau corruptus. Corruptio berasal dari kata corrumpere, dari kata latin yang lebih tua.  Turun menjadi Bahsa Belanda yaitu corruptie, korruptie. Dari Bahasa Belanda inilah kata itu turun ke Bahasa Indonesia yaitu korupsi.
(Andi Hamzah, 2005, Pemberantasan Korupsi)

Arti kata Korupsi

Korup : busuk; palsu; suap
(Kamus Bahasa Indonesia, 1991)

buruk; rusak; suka menerima uang sogok; menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau negara; menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi
(Kamus Hukum, 2002)

Korupsi : kebejatan; ketidakjujuran; tidak bermoral; penyimpangan dari kesucian
(The Lexicon Webster Dictionary, 1978)

penyuapan; pemalsuan
(Kamus Bahasa Indonesia, 1991)

“Kalau saya simpulkan dari berbagai definisi diatas, berarti korupsi adalah penyelewengan barang atau uang milik orang atau badan lain (perusahaan atau negara) dengan menggunakan sarana jabatannya untuk kepentingan pribadi.”  Dari definisi ini jelas telah dilakukan oleh orang atau siapapun yang telah berkuasa di negeri ini baik sebelum merdeka atau sesudah merdeka.  Karena sudah begitu lamanya mengakar di setiap pribadi bangsa-bangsa khususnya Bangsa indonesia maka korupsi menjadi Budaya yang sadar atau tidak sadar diturunkan secara turun temurun.

Dari sinilah kita dapat memahami mengapa korupsi susah sekali di berantas dari permukaan Bumi. Khususnya negara-negara ke tiga yang telah mengalami penjajahan. Terbukti dari negara-negara yang telah mengalami penjajahan pada umumnya merupakan negara -negara terkorup di Dunia, termasuk Indonesia !

Pada saat suatu negara di jajah, ataupun pada saat suatu pemerintahan di pimpin oleh seorang raja, maka kendali pemerintahan terpusat oleh pemimpin. Kondisi ini yang disebut sistem pemerintahan yang monarkhi. Maka yang dirasakan oleh rakyatnya adalah kekejaman, penindasan dan kekejian. Pemimpin saat itu cenderung otoriter, dan ditakuti.  Kepemimpinan model monarkhi ini berlangsung setelah merdeka walaupun saat itu bukan dipimpin oleh raja, namun sifat kepemimpinan seperti model demikian amat dirasakan oleh rakyatnya.

Barulah setelah era demokrasi muncul, maka kekuataan pemimpin bergeser pada kekuatan rakyat. Rakyat mulai ikut andil dalam pemerintahan. Suara rakyat dianggap sebagai suara Tuhan. artinya kalau rakyat secara umumum telah kompak maka menjadi kekuatan yang sangat menentukan.

Seperti yang terjadi pada hari ini dimana sebagian rakyat kabarnya akan menggelar peringatan hari korupsi secara serempak disetiap sudut kota, yang pada saat ini saya bayangkan sedang terjadi gelombang perjalanan mengarah pada suatau tempat yang telah di tentukan.  Hingga Seorang Pemimpin yaitu Presiden amat sangat khawatir pada hari-hari sebelumnya, tentang apa yang akan terjadi pada hari ini. Kekuatan rakyat menjadi sangat dominan, mudah-mudahan tidak mengarah kepada kebebasan sebebas-bebasnya hingga yang di khawatirkan mengarah kepada Liberal.

Dulu kita membenci sistim monarkhi yang melahirkan kekejaman pada rakyat, namun dengan bergeser kearah demokrasi, secara jujur saya sebagai rakyat biasa juga merasa khawatir. Kalau boleh saya ilustrasikan, kita telah keluar dari mulut harimau namun terjebak kedalam mulut buaya..!!  Sebenarnya mana yang Ideal…??//

Published December 5th, 2009

Selamat Berjuang Kontingen SEA Games XXV ke Laos

Secara tidak sengaja saya berkenalan dengan salah satu atlet yang tergabung dalam Kontingen SEA Games XXV yang akan ke Laos. Hanya kurang lebih 15 menit saya kenal, dia seorang putri cantik atlet  karate yang masih tercatat sebagai mahasiswa Psikologi dari UNS  solo.

Saya mengenal Nana Puspita sebagai anak muda yang baik hati, dan berani.  Betapa tidak….., ditengah perjalanan beliau untuk latihan di gelora senayan dengan naik taksi Blue Bird di tol jembatan UKI, dia dengan berani menyuruh sang sopir untuk berhenti menghampiri seorang ibu yang terjebak di jalan Tol itu.  Padahal waktu itu  kurang lebih jarak 200 M  ada polisi yang sedang patroli.  Sudah sekitar 10 menit, ibu itu melambai-lambaikan tangan untuk menyetop kendaraan yang melintas di tengah tol itu untuk berhenti. Dan …, tidak satupun mobil yang mau menginjakkan remnya untuk berhenti menghampiri. Yang ada beberapa mobil hampir mendekat bukan untuk berhenti namun nyaris menyerempet sabng ibu tersebut.   Bahkan Polisipun seolah tak peduli atau tidak melihat ibu yang  melambai-lambaikan tangan menyetop kendaraan.

Pagi itu sang ibu akan ke bekasi dalam rangka acara pengabdian pada sebuah sekolah anak yang kurang mampu untuk memberikan semacam bimbel. Namun di jalan Baru Rambutan yang biasa tempat untuk menunggu Bis ke Bekasi di jaga ketat oleh Polisi sehingga nyaris tidak ada bis yang berani ngetem. Lebih dari 5 bis yang mau ke bekasi di setop, namun taksatupun berani minggir.  Satu-satunya Bis yang nekat berhenti adalah Bis jurusan Slipi yang lewat UKI. Si Ibu berfikir, bahwa untuk ke Bekasi bisa saja nyambung di UKi nanti.  Karena saat itu ada Bus berhenti persis di depan si ibu tersebut dan ditanya apakah lewat UKI, sang kenet mengatakan lewat. Naiklah si ibu tersebut dengan tergopoh-gopoh karena takut telat sampai disekolah. Namun begitu  hampir masuk UKI, kapan berhenti…?? Ternyata kondektur mengatakan tidak berhenti di UKI, Langsung Bu….. Ibu mau turun di UKI..? kata sang kernet. “Kalau begitu turun saja nanti di depan dan ibu tingggal lewat pagar dan turun ke bawah.” teriak sang kernet dengan entengnya. Tanpa pikir panjang si ibu mengiyakan. Yang terbayang saat itu ada semacam jalan kecil atau semacam jalan tikus di pinggir tol yang biasa dilewati penumpang  dikala bis tersebut tidak lewat bawah (depan kampus UKI)

Namun apa yang terjadi dikala sang kondektur menyuruhnya si Ibu turun di tol, dan dengan entengnya dia kandektur berkata “Ibu tinggal panjat pagar dan turun, nanti juga sampai…!!!”  Betapa terkejutnya setelah melihat pagar yang dimaksud setinggi  kurang lebih 1.5 M dan diatas jalan Raya. Jadi yang di maksud tembok tadi adalah tembok jembatan layang yang di bawahnya persis adalah jalan raya yang amat padat kendaraan melintas karena waktu itu kurang lebih jam 7.30 pagi.  Terbayang kalau dipaksakan naik tembok itu dan langsung jatuh ke bawah, maka kamungkinan jatuh dan langsung dilindas mobil amat sangat mungkin terjadi.   Kalaupun berhasil naik tembok, masih ada dua rintangan besar yang menghadang karena harus merayap dipagar besi sejauh 3 M dan turun dengan menggelinding dengan kecuraman tebing badan tol.

Karena tidak ada pilihan lain untuk dapat keluar dari tol dan tidak mungkin ada kendaraan kosong melintas (maksudnya taksi kosong atau bajaj yang melintas di tol ) maka di coba memaksa menyetop kendaraan apa saja yang lewat.  Disadari betul bahwa tidak semua orang adalah baik, dan mau menolong. Berarti ada resiko besar pula yang mengancam. Apa boleh buat, semua tindakan mempunyai resiko. Hanya bermunajat kepada  sang Khaliqlah penenang segala sesuatu. Dengan tidak mengenal lelah, dan penuh dengan tatapan aneh dari wajah-wajah yang melintas memandang seorang ibu yang  pagi pagi sudah berada di jalan tol.

Akhirnya tidak lama berselang berhentilah sebuah taksi yang ada penumpangnya, seorang wanita cantik, yaitu Nana Puspita, atlet Sea Games yang sedang menjalani pembinaan rutin di gelora senayan.  Dengan rasa syukur, saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga, sehingga dengan kebaikan dan keberaniannya mau mengijinkan sopir untuk menghampiri sang Ibu yang terjebak di Tol. Nana puspita panjang lebar bercerita mengapa mau menolong, padahal ada resiko di tilang polisi yang siap menghadang,  karena dia berkeyakinan penuh setiap yang baik itu akan berakhir dengan kebaikan walaupun secara nalar kadang tak memungkinkan. Dia cerita juga bahwa hari ini  tanggal 5 desember akan berangkat dengan kontingen yang lain ke laos, dan mohon doa restu.

Kejadian di tol itu sadah satu setengah bulan yang lalu, saya fikir nana sudah melupakan kejadian itu. Ternyata tadi pagi dia kirim SMS yang isinya kurang lebih mohon pamit dan dukungan karena pagi dini hari dia mau ke LAOS.   Selamat berjuang patriot bangsa, saya  bangga dengan mu. Kebaikanmu akan selalu kukenang, semoga mengiringi kesuksesan di negeri sebrang.  Doaku menyertaimu selalu!!

Published December 5th, 2009

Pemimpin Diri

Menjadi pemimpin tidaklah mudah, banyak persyaratan untuk dapat mencapai kesana.  Seorang yang  pemimpin pastilah mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan yang di pimpinnya.   Dipilihnya  Dia Oleh karena banyak kemampuan yang dimilikinya,  sehingga yang dipimpinya  akan merasa percaya, nyaman, dan terlindungi  oleh  Pimpinannya yang  mampu membawanya ke arah yang lebih baik.

Sebagian besar manusia memahami Pemimpin adalah sebagai suatu Individi atau sebagai sosok manusia.   Hal ini terbukti dengan beberapa definisi yang saya peroleh  mengatakan bahwa Pemimpin   adalah  seseorang atau  suatu individu.  Lalu bagaimana dengan judul diatas yang menyatakan tentang ” Pemimpin Diri”. Diri ini hanya ada satu, lalu siapa yang dipimpin dan siapa yang akan memimpin.  Agak sulit memahami ini semua.  Sebelum membahas lebih jauh tentang apa itu “pemimpin diri “ada baiknya kita melihat definisi pemimpin yang sudah di pahami, sebagai berikut:

Henry Pratt Faiechild dalam Kartini Kartono (1994 : 33)
Pemimpin dalam pengertian ialah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/ penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

Miftha Thoha dalam bukunya Prilaku Organisasi (1983 : 255)
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.

Kartini Kartono (1994 . 33)
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kclebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya Pemimpin Dalam Kepimpinan Pendidikan (1999)
Pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah mencapai matlamat yang ditetapkan.

Rosalynn Carter
Seorang pemimpin biasa membawa orang lain ke tempat yang ingin mereka tuju”. Seorang pemimpin yang luar biasa membawa para pendukung ke tempat yang mungkin tidak ingin mereka tuju, tetapi yang harus mereka tuju.

John Gage Allee
Leader…a guide;a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

Dari sekian Definisi pemimpin disitu dikatakan bahwa pemimpin adalah seseorang atau individu. Kecuali satu-satuntya menurut    John Gage Allee yang mengatkan bahwa pemimpin bukanlah seseorang atau Individu melainkan Leader…a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).  Saya  Pribadi lebih berpedoman dengan rumusan John Gage Allee. Dia mengatakan bahwa pemimpin adalah bukan orang atau Individu melainkan : Leader…a guide;a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

Kalau begitu Pemimpin berupa apa ?  yaitu yang mampu memandu, memberi petunjuk, penuntun dan yang mampu mengkomando.  Jadi pemimpin adalah bukan orang. Kalau pemimpin berujud orang…, bagaimana memimpin diri yang jumlahnya hanya satu. Kalau begitu siapa yang dipimpin dan siapa yang akan memimpin menjadi susah dibedakan.

Pemimpin yaitu keharusan-keharusan yang mampu membangkitkan perintah dan larangan dalam diri yang sudah mengakar kedalam sanubari. Biasanya kepemimpinan dalam hal ini akan dikenal dengan kerja yang telah dilakukan berupa pemimpin yang cekatan, pemimpin yang mempunyai disiplin yang tinggi, pemimpin yang bertanggungjawab dll.  Tetapi kalau pemimpin itu perupa pribadi biasanya dikenal dengan fisiknya. Yaitu pemimpin yang tinggi besar, pemimpin yang ganteng, pemimpin yang kulitnya hitam dll.

Jadi yang memimpin sesungguhnya bukan pribadi namun aturan yang mempunyai kemampuan untuk menjadi  pemandu, penunjuk, penuntun; dan komandan seperti yang dikatakan oleh John Gage Allee.

Karena Pemipin itu bukan pribadi maka Pemimpin disini yaitu aturan yang mempunyai kemampuan untuk menjadi  pemandu, penunjuk, penuntun; dan komandan yang telah melebur dalam sanubari dan melekat dalam dasar hati. Sedangkan yang dipimpinnya itu adalah  semua Lemabaga tubuh, seperti lembaga mata. Pendengaran, mulut,  tangan, kaki dll.

Dari sudut pribadi sebagai muslim inilah pentingnya memimpin  lembaga tubuh kita melalui pembinaan dengan berwudhu.  Dalam berwudhu kita membersihkan seluruh lembaga, dari mulai lembaga tangan, mata (melalui membasuh muka), telinga dan kaki. Kita bersihkan dengan air, sebagai  simbol bersihnya dari berbagai kotoran yang selama ini mampu menggerakkan lembaga tubuh dengan fungsi yang tidak pas.  Sambil berdoa mudah-mudahan seperti membersihkan tangan dengan air ini, Allah akan membersihkan fungsi dari tangan kita untuk tidak digerakkan kearah yang dilarang oleh Tuhan.   Dengan air yang bersih sebagai simbol aturan yang bersih mampu membersihkan seluruh lembaga sehingga lembaga tubuh ini mampu dipimpin oleh segala aturan yang bersih untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Dikala saya  ditanya oleh anak saya mengapa kalau kita berwudhu yang dibersihkan hanya lembaga tubuh saja…, apa tidak sebaiknya mandi sekaliyan.   Pada awalnya saya menjawab aturan berwudhu dari Tuhan sudah demikian, kata saya. Namun anakku selalu mengatakan Pasti tuhan punya maksud lain mah…., yang jauh lebih dari mulia. Apakah itu  ?  Setelah saya ceritakan seperti yang diatas, barulah anak saya mau menerima, mudah-mudahan ini tidak menjadikan perdebatan, karena ini adalah salah satu upaya seorang ibu menjelaskan kepada anak, butuh logika yang gampang diterima.  Dengan senaghati kalau ada yang memberikan masukan yang lebih membangun, i agar tulisan ini lebih baik dan mudah difahami.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.