rakhma Blog

Universitas Gunadarma Staff Blog

Archive for October, 2009


Published October 25th, 2009

Hukum Aksi Reaksi

Hukum tentang aksi reaksi biasanya dikupas dalam ilmu dinamika bagian dari limu Fisika. Hukum ini terkenal dengan Hukum Newton 3. Bunyi Hukum Newton 3 adalah sebagai berikut. ” Apabila sebuah benda pertama mengerjakan sebuah gaya pada benda ke dua , maka benda kedua akan memberikan gaya dengan besar yang sama kepada benda pertama, namun dengan arah yang berlawanan.

Contoh gampang yang sering dapat dilihat ketika kita mendorong tembok. Pada saat tangan mendorong tembok, maka tangan memberikan gaya dorong kepada tembok sebesar F tangan. Sebaliknya tembok memberikan gaya reaksi sebesar F tembok dengan arah yang berlawanan. Gaya dorong tangan bekerja di tembok dan gaya reaksi tembok bekerja di tangan sehingga tangan terlihat menegang. Kalau ndorongnya kuat bahkan tangan akan terasa sakit. rasa sakit itulah sebagai bukti tembok  memberi gaya reaksi, sehingga gaya tembok bekerja di tangan.

Gaya aksi reaksi ini kalau dibawa dalam ilmu sosial hampir sama dengan hukum “sebab akibat “. Aksi nilainya sebanding dengan sebab dan reaksi sebanding dengan akibat. Sering menjadi bahan pertanyaan siapa yang menjadi sebab dari segala sebab…..? Tentunya Allah Aza wajalla dengan segala kemampuan ilmunya. Kalau ayam dan telor duluan mana ….? hayooo siapa yang bisa jawab……. ?

Gaya aksi dan reaksi ini adalah gaya sentuh antara benda satu dengan benda yang lain. Gaya ini setiap hari kita lakukan tanpa kita sadari. Gaya ini dapat bekerja diudara, di darat atupun di air.   Pada saat kita berenang tangan dan kaki kita mendorong air kolam kebelakang. Sebagai gaya reaksinya air mendorong dengan arah yang berlawanan yaitu mendorong tangan dan kaki kita ke depan sehingga kita dapat berenang maju ke depan.

Gaya aksi dan reaksi ini tidak hanya berlaku pada sentuhan benda fisik saja, namun juga dapat berlaku gaya tak sentuh yang tidak dapat dilihat oleh mata. Contohnya seperti gaya grafitasi bumi ketika mangga jatuh dari pohon ke tanah. Walaupun tidak dapat dilihat secara kasat mata namun sebenarnya ada  gaya bumi  menarik  mangga   dan  mangga  membalas juga gaya tarik bumi, dimana gaya itu sama namun dengan arah yang berlawanan.

Selain itu gaya tak sentuh (yang non fisik )  dapat berlaku pada ilmu Sosial dimana Pasti Alam adalah ungkapan Budaya. Kita dapat melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari.  Barang siapa yang akan berusaha keras  ( Gaya atau usahanya besar) dan positif maka hasil yang akan diperolehpun akan sebanding dengan yang diusahakannya.  Begitu sebaliknya apabila kita enggan berusaha (gaya dan usahanya kecil) maka hasil yang diperoleh juga kecil. Tanpa harus berdebat panjang lebar maka kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dapat membuktikannya  dengan jelas.

Tetapi bagaimana kita sudah berusaha kok seperti tidak ada hasilnya? Apakah gaya atau enegi kita sia-sia ? Karena besarnya gaya adalah sama berarti kalau usahanya belum berhasil, secara teori usahanya belum sampai pada batas yang di perlukan, maka disitulah letaknya sabar dan tawakal. Tetap berpegang teguh dan terus mengusahakan secara maksimal.

Kalau kita amati hukum aksi reaksi atau sebab akibat kalau kita ikuti terus menerus dapat menjadikan teori seperti pertanyaan   “Duluan mana ayam dan telor ? Duluan Ayam Dong…? karena disebut duluan. begitu juga kalau ditanya duluan mana telor dengan ayam telor….?  Bingung  khaann….? Mengapa jadi seolah tidak ditemukan jawaban ?  Karena disini mana ujung dan mana yang pangkal tidak diketahui.  Sama dalam kehidupan apabila kita tidak mengetahui ujung dan pangkalnya dalam hidup maka kehidupan bagaikan benang kusut. sama seperti  teori ayam dan telor tadi.

Kalau kita ingin menemukan mana ujung dan pangkalnya, atau mana sebab dan akibatnya, maka kita harus mencari sebab dari segala sebab yaitu Allah Aza wajalla dengan segala kemampuan ilmunya.  Berarti disini Allah dengan segala kemampuan ilmunya berfungsi sebagai Subyek Penentu. dimana yang dicptakan adalah Obyek atau yang ditentukan.  Kita dilarang membicarakan person Allah maka yang kita bicarakan adalah segala kemampuan ilmunya.

Apa sebenarnya yang akan saya kemukakan disini, kalau kita sudah terjebak dalam hukum aksi reaksi tanpa sadar kita tidak faham  mana subyek dan mana obyek maka kita masuk dalam kehidupan yang bagaikan benang kusut, seperti teori ayam dan telor.  Untuk itu agar kita tidak seperti itu kembalikan setiap persoalan menurut ilmu yang benar sehingga akan memancangkan tonggak sebagai pangkal, atau dasar agar menjadi landasan yang kokoh dalam membangaun  suatau bangunan . Jadikan ilmu yang benar menjadi penuntun gerak, kearah kehidupan yang lebih baik, bukan semakin kusut.

Published October 21st, 2009

Jam Terjadinya Gempa, Bagaimana memaknai?

Jam kejadian Gempa yang terjadi hari Jumat  16 Oktober 2009 menurut jam di ruangan kerjaku adalah 16.50 dan menurut informasi dari yang kami terima kebanyakan menyebut jam 16.52.  Buru-buru kami lihat terjemahan Al-Quran surat An-Nahl ayat 50 sampai dengan 52,   kebetulan kok saya tidak menemukan makna yang mengisyaratkan tentang kaitan gempa ya …?   Memang sih, dari keterangan Ustad bahwa kita tidak boleh mengkaitkan jam gempa dengan penomoran Al-Quran alasannya  tidak masuk logika. Tetapi mengapa pada waktu jam gempa padang tanggal 30 september lalu dan beberapa gempa susulan banyak yang ada keterkaitannya (seolah-olah) ? Sungguh kami pusing mau berkiblat kemana ? Belum lagi Ustad yang berbicara pada acara Khalal bikhalal di kampus menerangkan bahwa makna Al-Alaq pada QS.  al- Alaq sebenarnya bukan segumpal darah melainkan sesuatu yang melekat.  Kata pak Ustad selanjutnya, “Terjemahan Depag kurang pas pada kata tersebut”.  Duh.. saya jadi pusing lagi, kenapa bisa begitu…? Jangan-jangan bukan satu kata namun banyak yang kurang pas !!!!

Ditengah kebingungan itu saya berfikir, kalau Al-Quran itu ditulis dalam sebuah buku, berarti Al-Quran adalah merupakan Bahasa Tulisan adalah sangat ditentukan oleh Tata Bahasa, atau Gramer. Mengapa selama ini kalau mengupas makna Al-Quran tidak merujuk pada tata bahasa nya. Malah lari pada hal-hal yang tidak kontekstual?   Apakah karena Tata Bahasa Quran terlalu sulit ? Atau ada kesengajaan memang dipersulit ?

Di dalam Al-Quran juga banyak sekali dialog, atau percakapan. Maka boleh lah dikatakan bahasa Al-Quran adalah Bahasa Dialog atau Bahasa Lisan. Ciri khas bahasa Lisan adalah ditentukan oleh nada Suara. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia berbicara atau pada saat menjawab Iya, dengan nada dan tekanan yang berbeda akan terlihat bahwa yang menjawab adalah marah, senang, atau benci .  Jadi tekanan nada dan Irama sangat menentukan dalam bahasa percakapan. Ciri yang lain dalam bahasa percakapan kalimatnya tidak lengkap namun secara makna adalah lengkap. Sebagai contoh pada saat orang bertanya pada saya ” Bu mau kemana?” Jawabku “Mengajar”. Kalimat ini lengkapnya Saya mau pergi mengajar . Disini ada beberapa kata yang hilang. Saya  mau pergi tidak muncul dalam kalimat. Jadi Analog dengan bahasa Al-Quran kalau tidak terdapat kata yang dimaksud bukan berarti tidak nyambung melainkan mungkin ada kata atau bahkan kalimat yang tersembunyi.

Selain itu di dalam Al-Quran banyak sekali lambang. Contohnya banyak kata kata misal, umpama . Berarti ini adalah lambang atau sandi. Oleh karena itu Al-Quran terkenal sebagai Bahasa Sastra yang tinggi.

Kemudian  saya berfikir,  kalau dalam mencari makna Al-Quran kita menguasai Bahasa Tulisan, Bahasa Percakapan dan Bahasa Sastra maka tidak lagi menterjemahkan Al-Quran dihubungkan dengan yang aneh-aneh seperti hubungan penomoran ayat dengan jam dll. Kalau Jam gempa dianggap lambang  atau isyarat mungkin ini kita harus menguasai bahasa isyarat dulu baru tahu apa maknanya.  Persoalannya sudahkah kita menguasai bahas tersebut ? dan mengapa bahasa ini tidak populer dikalangan ustad maupun masyarakat umum? Padahal dalam kehidupan sehari-hari kita amat dekat  dengan ketiga bahasa itu untuk memahami semua aspek kehidupan .    Siapa yang dapat membantu…  ?

Published October 18th, 2009

GEMPA.., GEMPA DAN GEMPA LAGI…!!

Sore jam 4.50 waktu di sekdos G, jumat 16 oktober 2009, mahasiswa, dosen dan karyawan berbondong-bondong keluar gedung seraya berteriak gempa…, gempa …, gempa….!!!.  Begitu juga saya merasakan getaran kursi yang aneh, dan dibuktikan lagi dengan gorden yang bergerak-gerak, sehingga aku pun ikut berhambur keluar.  Allahuakbar, Allahuakbar….!!, dengan pelan aku senandungkan harap, mudah-mudahan dalam getaran dan goncangan ini saya dan semuanya selamat.

Dari wajah beberapa teman dan mahasiswa termenung, pucat …  dan ketakutan, terlontar lirih    mengapa gempa…, gempa dan gempa lagi   ya bu…? Tak mampu siapapun yang ada disitu menjawab, mereka semua terdiam dengan  mulut komat-kamit meneruskan memanjatkan doa….. Tidak lama kami merasakan goncangan itu , dan goncangan juga tidak begitu besar dibanding gempa yang menimpa Tasikmalaya lalu.  Informasi dari teman yang mendapatkan SMS ternyata gempa hanya berkekuatan 6,4 skala richter katanya. “Tidak berpotensi terhadap tsunami kok bu…?”  Celetuk seorang temen seraya memberi penjelasan.  “Iya, terimakasih pak” jawabku lirih.  Setelah dirasa aman kami perlahan-lahan balik keruangan.  Satu demi satu dosen menyerahkan mapnya hingga dosen yang terakhir, tanda perkuliahan telah selesai  sebelum waktunya dan kami diijinkan untuk  pulang.  Kebetulan kami piket di sekretariat dosen  untuk menggantikan seorang temen yang  ada kepentingan keluarga.  Tidak mungkin mereka meneruskan perkuliahan karena semua merasa ngeri dan  takut ada gempa susulan, selain itu waktunya juga sudah hampir selesai.   Hari-hari biasa secara teori perkuliahan berakhir jam 17.30, namun tak  jarang jam 17.15 tugas kami sudah berakhir.

Sambil berkemas-kemas untuk pulang, konsentrasi pikiran selalu pada mengapa gempa dan gempa lagi menimpa negeri ini.  Teringat cerita seorang teman tentang gempa yang  terjadi di padang. Mengapa menelan begitu banyak korban…?  Pada mulanya gempa amat sering mengguncang padang, namun awalnya hanya getaran kecil yang dianggap lumrah. Saking seringnya terjadi gempa di sana,  maka kalau ada gempa mereka sudah tidak khawatir lagi ( tidak sensitif lagi).  “Gempa seperti ini mah biasa”,  kata mereka. “Toh selama ini puluhan kali gempa yang  terjadi disisni  tidak pernah terjadi apa-apa” lanjut mereka.   Sudah kebal barangkali dengan kejadian rentetan gempa.  Namun apa yang terjadi pada peristiwa 30 september..,  begitu gempa yang  terjadi  kemaren goncangan itu konon begitu tiba-tiba, cepat dan amat besar,  langsung terguncang semua. Gempanya terjadi dengan waktu yang  cukup lama. Mereka tidak sempat lagi mencari perlindungan , tidal sempat diberi waktu untuk menerima isyarat bencana.  Karena pada hari-hari terjadi gempa pada waktu sebelumnya Tuhan telah memberi isyarat kepada manusia namun diabaikan.  Sehingga pada akhirnya   seperti yang kita lihat bersama, korban berjatuhan begitu banyak.  Yaa Rabbiiii…..?  apakah ini juga isyarat semodel yang  terjadi di Padang  ?  Seringnya gempa membuat kita terbiasa, tidak sensitif dan mengabaikannya.  Yaa… Rabbiii….? apa yang mesti kita lakukan  ?

Kalau getaran ini dimaksudkan untuk menggetarkan seluruh sendi  kami,  Ijinkan hamba merasakannya sampai sum-sum tulang yang terdalam hingga menusuk dalam dasar hati yang mampu menaklukkan segala kekerasan jiwa dengan doktrin-doktrin yang salah telah menempel berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kalau goncangan ini untuk mengguncang kedengkian, kesombongan, keserakahan  yang tertinggal dalam hati,  sadarkanlah hamba hingga kami faham tentang diri yang penuh dengan berbagai kesalahan yang tanpa menyadarinya. Bahkan terkadang kami ingat dan tahu akan kesalahan ini namun kami hanya sekedar ingat, dan cuma ingat tanpa sampai  berbuat dalam  bentuk perilaku sebagai ujud kesadaran.

Kalau kehancuran  yang terjadi  untuk menghancurkan semua kejelekan dalam diri yang sudah terlalu lama mengkristal dengan cara yang cepat maka berilah hamba kekuatan untuk menghancurkan sekali gus hingga mampu mengganti segala kejelekan dengan semua kebaikan.  Selama ini dengan alasan menghilangkan sedikit demi sedikit ternyata  tidak mampu kami lakukan, bahkan yang terjadi kejelekan semakin hari semakin menumpuk dan mengkristal tanpa kami menyadarinya.

Kalau pergeseran ini bermaksud agar kami bergeser menuju kebaikan  menurut yang Engkau Ridho, maka hantarkan hamba menuju kesana.  Kami terlalu banyak pertimbangan untuk segera bergeser dengan berbagai alasan duniawi semata. Kami sebenarnya sudah tahu kalau antara dunia dan akhirat harus seimbang, tetapi ternyata sampai hari ini  keduniaanlah   yang lebih menguasai diri .

Kalau ketakutan yang kami rasakan bermaksud agar kami takut akan segala laranganMu  maka berilah hamba pemahaman wahyuMu. Akibat Kami tidak menguasai wahyumu kami  dari hari kehari  didominasi rasa takut padamu tapi tidak takut pada laranganMU.  Mudah-mudahan dengan mempelajari semua ajaranmu ketakuatan ini berubah menjadi kecintaan terhadap semua yang Kau Ciptakan, yaitu Alam semesta dan AjaranMu yang menuliskan perintah dan larangan.

Kalau akibat gempa ini merobohkan semua yang dilihat, mudah-mudahan ini adalah isyarat bagi kami agar kami punya landasan yang kokoh yaitu keimanan sehingga hamba kuat berdiri menahan segala goncangan.

Ya Rabbi…., dengan isyarat gempa…, gempa dan gempa ini mudah-mudahan   akan membawa kami  menuju Ridhomu,  Dengan sadar saya akan segera getarkan, goncangkan, hancurkan, geserkan semua kejelekan dengan   secepat- cepatnya        s e c e pa t    gempaMu, Kami lakukan perubahan ini terus menerus dan berulang ulang   s  e  s  e  r  i  n  g datangnya  Gempa MU, hingga kami lahir menjadi manuasia baru yaitu Mu’min yang penuh kasih sayang dan berdedikasi tinggi. Akan kami jauhkan segala ketakutan  yang menjiwai kami  agar kami berbuat dengan penuh cinta dan harapan. Ya.. Rabbiiii…., dengarkan senandung laguku ini…., Amin… ya Allah Rabbal  ‘alamin….!!!!

Published October 16th, 2009

Mengisi dan Menjaga Hati Usai Idul Fitri

Setelah momen spesial Idul Fitri usai, bagaimana mengisi dan menjaga hati. Sebagai muslim yang telah menempuh shaum selama Rhamadhan dan di akhiri dengan Idul Fitri, ada sedikit kesejukan tersisa. Namun semakin lama dari idul fitri semakin kabur, pudar bahkan hampir hilang, rasa kesejukan itu walaupun kita coba dengan Shaum di bulan Syawal. Rasanya kita kembali dalam kehidupan yang hingar bingar duniawi. Dengan Shaum kita menahan segala lapar dan dahaga. Tidak itu saja kita juga menjaga dari berbagai nafsu angkara murka. Kita dilatih mengendalikan nafsu seputar masalah perut, mengendalikan isi perut dari makan dan minum, mengendalikan atas perut dari berbagai nafsu dihati meliputi kesombongan, keserakahan, kebencian, kedengkian dan sejawatnya. Dan pengendalian bawah perut tentunya adalah pengendalian dari nafsu sex yang merupakan nafsu tertinggi setelah kebutuhan perut dan atas perut terpenuhi ( kalau tidak percaya dapat dijadikan riset penelitian).

Kita sendiri bisa merasakan apakah sekarang kita sudah mampu menjaga hati dari  segala nafsu ? Nafsu tidak mungkin kita hilangkan, kita hanya disuruh mengendalikan. Artinya nafsu itu supaya tidak dominan menguasai diri kita. walaupun nafsu itu tetep ada dan kadang dibutuhkan. seperti nafsu makan yang hilang,  kita akan pusing toh…!! Persoalannya bagaimana kita bisa mengendalikan nafsu kita setelah usai rhamadhan ini. Nafsu harus dipasifkan dari diri kita.

Letak hawa nafsu ada dihati kita masing-masing.   Didalam rongga dada manusia hanya ada satu hati, tidak mungkin dua. Karena hati hanya ada satu maka kemamtapan hidup manusia juga satu,  sebagai hasil dari pilihan pengambilan keputusannya. Semakin kita mantap dengan yang kita pilih maka hati kita dengan sebulat hati merasa memiliki dengan hasil pilihanya. semakin kita tidak mantap terhadap yang kita pilih, disitulah ada celah untuk tempatnya nafsu. Sebagai contoh saya tidak mantap dengan sesuatu barang yang terlanjur kita beli, otomatis hati kita masih ingin berpaling (mempunyai nafsu) untuk membeli barang lain, dan bahkan mungkin ingin mempunyai barang yang jadi pilihannya itu dengan kwalitas semakin bagus dan bagus lagi. Tetapi kalau kita merasa mantap dengan sesuatu barang yang sudah kita beli, tentunya tidak ingin menduakan barang tersebut. Ia akan merawat dan menggunakan barang tersebut dengan sepenuh hati.

Orang bijak mengatakan bahwa orang yang berkemantapan pasti berpikiran, tetapi orang yang berpikiran belum tentu berkemantapan. Sebagai contoh, orang yang hobby merokok pasti dia punya pemikiran bahwa rorok itu berbahaya. Logikanya kalau dia tahu berbahaya pasti akan menghindari rokok, tetapi mengapa dia merokok …. ? karena dia tidak berkemantapan dengan rokok.   Kalau dia berkemantapan selain berpikir itu tidak baik sekali gus menghindarinya. Begitu sebaliknya orang yang berkemantapan sesuatu itu adalah baik maka ia akan menuju apa yang dianggapnya baik, tidak hanya berfikir terus menerus bahwa itu adalah baik.

Bagaimana supaya hati ini menjadi mantap terhadap sesuatu agar nafsu tidak mengisi hati kita ? Karena kemantapan dimulai dari berfikir maka disini butuh menguasai berbagai ilmu, kemudian ditingkatkan agar menjadi buah kemantapan melalui berbagai uji coba yang terus menerus sampai menghasilkan bukti nyata sebagai hasil yang akan menambah kemantapannya. Penguasaan ilmu diperoleh kalau kita belajar dan terus belajar. Sedangkan bukti kemantapan diperoleh dengan terus menerus aktif mencoba sampai menemukan bukti, atau dalam bahasa ilmiahnya pecocokkan gagasan dengan kenyataan. Pembuktian gagasan / keterangan dengan kenyataan yang disebut analisis. Kok ribet banget sich bahasanya…!! ya singkatnya terus belajar dan bekerja agar nafsu dan setan-setan tidak singggah dihati.

Jadi Hati ini diisi dengan ilmu, melalui pemahaman di otak dulu baru dibukukan kedalam hati (dapat disebut hati yang telah bermahkotakan ilmu ).   Diiringi dengan kerja atau menyibukkan diri secara ilmiah (dapat dipertanggungjawabkan) dan terus menerus otomatis hati ini selalu terisi dengan yang positif. Kalau hati sudah diisi yang negatif maka disitu tempatnya syaitan. Singkatnya hati diisi dengan ilmu dan dijaga dengan berbuat yang terus menerus dengan sepenuh hati. Mudah- mudahan sampai hari ini hati kita tetep terisi dan terjaga

Published October 13th, 2009

MENYAMBUT KEDATANGAN HUJAN

Hujan , Sahabatku….

Di Musim tahun ini engkau telah datang

Hampir disetiap siang dan petang

Dan.. mestinya aku menyambutmu dengan senang

Kedatanganmu menyirami bumi

menyirami hati nurani

penyejuk dan pelipur hati insani

Kedatanganmu menyuburkan ladang-ladang petani

Menyuburkan bumi pertiwi

Hingga menumbuhkan jiwa-jiwa yang telah lama mati

Kini aku khawatir menanti….

Dari gelap mendungmu yang tidak ramah lagi

semendung duka negeri ini

Anginmu datang tanpa kompromi

Mampu memporak-porandakan seluruh isi

Dan arah datangmu, aku tak pahami

Membawa segala yang pernah kumiliki

Kilat petir berkali-kali menyambar

Memecah keramaian yang hingar bingar

Memekakkan telinga, hingga tak sanggup dengar

Sekali dan berulang kali menggelegar

Menunjukkan KuasaMu,  Wahai yang Maha Besar

Hujan Sahabatku…

Mungkinkah engkau tengah marah

Pada penghuni Bumi yang tidak amanah

Penghuni Bumi  yang tidak lagi ramah

Selalu bikin susah dan amarah

Yang selalu berulah…. dan bertingkah

Bagaikan tumpukan sampah-sampah

Dalam kehidupan yang siap  berubah

Menuju kemakmuran yang berlimpah

Bagi siapa saja yang pantang menyerah

Hujan Sahabatku….

Dibalik itu aku merindukanmu

Aku mengerti dan memahamimu

membaca segala isyarat dan tenda-tandamu

untukku dan kehidupan Bumiku

Janjiku padamu…

Kusirami kesadaranku

Kuat dan teguh bertahan atas badaimu

Tak  larut angin kencang ajakanmu

Tak menutup telinga , menjawab sapa petirmu

Hingga aku tumbuh, berkembang, berbuah..

Melezatkan kehidupan nan melimpah ruah

Janjiku…., membuka ladang hati

Menyambut kedatanganmu yang penuh arti

Published October 9th, 2009

Konsep Bilangan “Nol” Menurut Pandangan Anak

“Mamah…, dengerin sini”  kata anakku yang baru pulang mengaji.  “Tadi Kak Nur ( Guru ngajinya anak-anakku) cerita tentang Idul Fitri.  Fitri boleh ngga dikatakan sama dengan nol ? ” kata anakku. “Menurut kamu sendiri bagaimana?”  kataku balik bertanya.  “Kayaknya bisa tuh, khan sehabis Idul Fitri kita kembali ke fitrah, kembali kosong kosong berarti sama dengan nol. Kosong itu apa sih mah ?”,  kata anakku balik bertanya. “Kosong ya tidak isi nak?” jawabku.  “Tidak isi dari apa ?”. cerocos anak-anakku yang bawel.

“Tidak terisi dari….., nilai kehidupan mungkin!”. kataku sekenanya.  “Ohh…., Tadi khan kak Nur bilang,  kehidupan ada 2  nilai yaitu nilai yang positif dan negatif, kalau di hubungkan dengan garis bilangan berarti angka nol itu batas  nilai kehidupan positif dan negatif dong mah…., Iya khan…?” ” kata anakku yang seolah memaksa Ibunya menjawab. ” Dapat juga dikatakan batas penggolongan nilai kehidupan ya mah?” Katanya lagi.

“Bila seseorang nilai hidupnya  sudah 9  ( dalam nilai satuan) dan mau ditingkatkan ke 10 (dalam nilai puluhan) harus melalui ujian = uji coba kehidupan kali ya….?   Biar naik tingkat  tetapi kalau dari nilai hidupnya -9 ke -10  baru itu musibah,  karena nilai negatif hidupnya  bertambah.  Terus kalau dari -1 ke 1 juga melalui nol, artinya apa mah….?’ Cerocosnya yang membuat saya semakin bingung.

“Kamu jangan lebay lah nak nanti kamu  jadi aneh”. kataku.   “Denger sekali lagi mah…, Kata anaku semakin bersemangat.  “Mungkin juga setiap peristiwa  itu dikatakan dalam batas limit (mendekati 0)  untuk  mengingat kan manusia dapat menilai dirinya, apakah  berada pada nilai positif atau negatif, mau  semakin positif atau mau jadi semakin negatif , mau turun atau naik.”  Kalau peristiwa  Gempa di padang termasuk nilai kehidupan yang mana mah…??  Begitu uraian panjang lebay  anakku.  Sungguh saya menjadi bingung.

Saya bingung mau jawab  apa lagi ya…..? Diskusi tanpa sengaja jadi benang kusut,  tapi saya penasaran dengan pikiran mereka . Tolong kasih masukan  dong…!!

Published October 7th, 2009

Belajar Penjumlahan dan Pengurangan dari Anak

Bermula dari anak saya yang sering bolos sekolah, membuat bingung kami sebagai orang tuanya.  Apa sebenarnya yang membuat anakku menjadi demikian. Model anakku yang satu ini tidak bisa dipaksa. Semakin dipaksa maka akan bertambah lama ngambeknya. Kami mau marah-marah kepadanya tidak ada alasan karena nilai-nilainya sangat bagus. Tanpa henti berdoa dan berusaha kami selalu mencari alasannya.  Setelah selang beberapa hari secara tersamar terungkap  bahwa dia tidak suka dengan teman sebelahnya yang berada  kanan dan kirinya.

Guru Wali kelas yang memindahkan temannya sehingga duduk disebelahnya tanpa dia tahu alasannya.  Menurut cerita anakku dua  orang temannya itu sangat pinter matematik , bahkan temen-temen dikelasnya  menjuluki dia si bintang matematik.  Karena salah satu dari mereka  pernah menjuarai olimpiade matematik sewaktu duduk di SMPnya dulu  ( sekarang dia kelas   satu  SMA).  Dan yang satunya lagi adalah juara umum di SMP asalnya.   Kebetulan mereka  bertiga duduk di barisan depan dengan satu orang satu meja dan kursi sendiri-sendiri.

Pikir kami sebagai orangtuanya, bagus dong engkau duduk dikelilingi sama temen-temen yang jenius dan pinter, mudah-mudahan kamu ketularan jenius dan pinter juga. “Ngga bisa begitu mah…”, kata anakku dengan kesel. “pokoknya aku sebel,  besok saya mau bolos lagi”. Ancamnya “.   “Aduh…, ini anak ada apa sih…., mungkin dia ini iri  atau…” Gumamku dalam hati.  “Mama mau ngomong ke wali kelas ya nak, biar kamu dipindahin?”, kataku.   “Jangan mamah…, bikin malu aja”, katanya.  “Mama berdoa aja biar aku di pindahin.”

Hari berikutnya, dia tiba-tiba pulang sekolah dengan riang dan bernyanyi. “Tumben mas pulang ngga marah-marah, ada apa nak” ? Tanya ku kemudian.” Sini Mah.. dengerin. Doa mama  terkabul mah…, aku dah pindah tidak duduk bersebelahan dengan mereka lagi. Tadi dikelas pada pelajaran fisika ada PR Liburan Lebaran yang cukup sulit, semua ngga ada yang mampu jawab kecuali dua temanku yang nyebelin itu. Itupun jawabannya tidak pas karena dia hanya memainkan logika tanpa menyentuh rumus dasar. Kemudian pak Guru beri kesempatan kepada yang lain dan aku coba menguraikan dengan benar.  Saya coba dengan menjelaskan teorinya secara dasar dulu, baru menurunkan beberapa rumusan pendukung dengan berbagai  contoh-contohnya,  dan pak Guru puas mah.. ., Cerocosnya.  Tapi bukan itu yang membuat aku senang, tiba-tiba ada kawan nyeletuk dari belakang, Pak saya boleh ngga  duduk  sebelah  Seva, biar Saya  ketularan pinter katanya. Dan ternyata pak Guru mengijinkan,  akhirnya ada temen yang duduk di sebelahku dengan yang aku suka mah, dia  tidak sombong, ngga individualis,  mau kerja sama dan dia tidak pelit.

Mama inget Dong….,   teori penjumlahan, Temenku yang jenius itu, anggap dia positif  tapi negatipnya sangat banyak. Berarti Total laku perbuatan dia bisa saja menjadi negatif. Mana mungkin saya ketularan pinter. jadi mamah jangan paksa saya duduk dengan orang pinter. ( dia mengilustrasikan  dengan logika demikian ,  Jenius = 9,    tapi Sombongnya -4, individualisnya -5,   tidak mau kerja sama -7, dan pelitnya -6 . J adi  Total  9 + ( -4 - 5 - 7 - 6  = - 13 ).

Saya bisa saja ketularan pinter dari anak yang tidak begitu pinter, karena Total laku perbuatan dia positif. ( dia mengilustrasikan  dengan logika demikian ,  Jenius = 7,    tidak  Sombongnya = 4,  tidak individualis =  5,    mau kerja sama = 7, dan tidak pelitnya  6 . J adi  Total   7+ 4 + 5 + 7 + 6  = 29 ).

Jadi kalau saya nilai diri saya kemampuanya 4 tapi duduk dengan yang jenius tadi -13, hasilnya tetep negatif, ngga baik bagi saya ( 4+ (-13)  = - 9 ), tapi kalau duduk dengan yang kurang pinter tadi  nilainya 29 + 4 = 33.

Penjumlahan sama dengan gabungan atau klasifikasi, jadi kalau saya  duduk dengan teman termasuk penjumlahan juga. Persoalannya  saya tidak mau duduk dengan yang negatif     m a m a  h…..!!! Begitu anakku berkhotbah panjang lebar.

Saya hanya berucap , ” Alkhamdulillah,   kamu mampu menilai demikian.” Jangan bolos lagi ya… nak  ?

Published October 5th, 2009

Trend Pengkajian Islam Di Kampus Ternama

Ada yang menggores, mendengar khotbah acara  Idul Fitri di kampus. Sepotong kalimat yang dapat kutangkap terdapat trend pengkajian Islam di Kampus-kampus besar di Eropa sana. Sampai-sampai seorang non muslim diceritakan fasih baca Al-Quran, faham tatabahasa Quran dan mengkaji Quran secara rutin. Dalam benak hatiku mengapa…? Ada Apa…? sayang tidak ada kesempatan untuk berdiskusi.

Kita sendiri sebagai muslim sudahkah begitu? Sampai-sampai si ustad tadi, merasa minder ketemu sama non muslim yang mempelajari Quran .  Begitu juga saya mungkin.  Pantas gumamku…, Saya di rumah punya Kamus paling Top sebagai rujukan utama menterjemahkan Quran di seluruh Dunia, termasuk Indonesia di karang oleh non Muslim dari Belanda dengan nama Al-Munjid. Yang paling tak kumengerti Buku itu saya beli amat mahal dan tebal sekali ( kira-kira 3 kali lipatnya al-Quran), diterbitkan oleh  Lembaga non Muslim “Beirut”  Subhanallah… !!! ada apa yaa..?

Di Gunadarma juga termasuk Universitas ternama, kapankah ada pengkajian seperti itu ? Bagaimana Bentuknya?  Siapa Pelopornya? Aku merindukannya…!!

Published October 5th, 2009

Bersahabat Dengan Hujan

Hujan adalah bagian dari peristiwa alam yang datang tiap tahun tak pernah absen. Kalau kita perhatikan tahun demi tahun hujan kurang bersahabat dengan kita. Masih terngiang beberapa waktu lalu, akibat hujan terjadi bencana di daerah-daerah dengan berbagai bentuknya. Maka untuk menjadi sahabat bagaimana caranya? Seorang sahabat pastilah faham akan sahabatnya. oleh karena itu kita fahami hujan sebagai peristiwa alam, agar hujan pun bersahabat dengan kita.

Pertama kita fahami bahwa hujan ada yang menciptakan, yaitu Allah aza wajalla. Diturunkan hujan pastilah ada tujuanya, sebagai utusan untuk menyirami bumi yang kering, menumbuhkan berbagai tanaman untuk kehidupan. Dengan hujan tanaman akan bertunas, berdaun, berbatang, berbuah dan berbiji untuk melangsungkan kehidupan. Begitu hujan mnyirami bumi yang telah mati, kering agar mendatangkan kemakmuran. Tapi mengapa kadang terjadi banjir, karenanya ? mungkin kita harus mengerti maksud yang lainnya seputar hujan  secara lengkap.

Sebelum terjadi hujan Allah mengedar angin, terjadi mendung, terjadi gelap, petir, udara panas dan kadang menjadi sangat dingin. Apa arti ini semua? Hingga air  kadang menjadi petaka!! Banjir terjadi dimana-mana.

Angin suatu benda yang tidak dapat  dilihat, tapi dapat dirasakan oleh kita. Memandang sesuatu bukan dari fisik benda itu, namun dapat dilihat dari sifat angin itu sendiri. Angin akan bertiup ke segala arah tergantung daya dorong gerak. Sehingga sifatnya tidak menentu. Begitu juga kehidupan manusia. Bila daya dorong ke arah yang negatif maka menuju kesitulah akhirnya, dan kalau daya dorongnya positif maka akan jadi positif.  Semakin kuat daya dorong maka semakin kuat kecepatan angin. dan bahkan angin dapat menimbulkan badai yang siap memporak porandakan semua. Dalam kehidupan manusia yang didorong oleh nafsu maka keinginannya juga akan meledak-ledak tanpa kendali. memicu gerak yang hebat, hingga menimbulkan prahara dimana-mana. Ujung dari masalah ini akan menjadikan mendung dalam kehidupan, menimbulkan perang dingin antar saudara, bahkan suasana panas yang mencekam, hingga pertumpahan darah tidak terhindarkan.  Suasana ini mirip kondisi hujan mau turun.

Seiring dengan mendung yang menyelimuti, maka suara petir membahana angkasa. Menakutkan siapa saja yang mendengar hingga memaksa untuk tutup telinga. Petir adalah peristiwa alam yang terjadi akibat bertemunya ion positif dan ion negatif hingga dia bergesekan menimbulkan api.  Begitu sayangnya Allah kepada Umatnya sehingga setiap peristiwa demi peristiwa diberikan isyarat.  Sudah menjadi rumusannya bila kita selalu bersikap negatif Allah akan menyeimbangkan dengan yang positif.  Walaupun  kita berdoa dengan mulut berbusa kalau tindakan kita negatif Allah akan mendatangkan yang positif seperti layaknya petir, mengagetkan semua, ingin ditolak tanpa kuasa, itulah kejadian bencana yang luar biasa. Mengapa kita dapat memprediksi akan terjadi bencana dan bencana, padahal kita bukan peramal dan dukun jinun. Semua ada rumusannya, kita jangan berkutat pada makna yang tradisional dalam pemahaman begitu kata ustad kemaren di halal bihalal. Maka mudah-mudahan ini jangan diperdebatkan.  Allah pastilah Hakim yang maha Agung, yang tak pernah salah dalam pengambilan keputusanya. Siapa yang negatif akan didatangkan yang positif. Ini bagian memahami alam sebagai sahabat mudah-mudahan kita bisa menjadi sahabat yang baik.

Tidak perlu takut menghadapi petir kehidupan. semakin nyaring itu petir, tanda hujan yang lebatpun akan datang. Begitu bencana yang menimpa pada kita. Kata Ebit itu hanya isyarat, agar kita sadar dan faham dengan begitu insyaallah  hikmah yang datang juga semakin besar. Hujan adalah lambang kemakmuran bagi yang faham, dan bagi mau jadi sahabat dengannya. Amien

Published October 2nd, 2009

BATIKKU GELORA BUDAYA BANGSAKU

Batikku adalah geloraku

Batikku adalah pakaian bangsaku

Warna - warni dan Corak ragammu

Ukiran indah karya bangsaku

Ukiran sejarah bangsa dan negara

Ukiran budaya

Ukiran peradaban pergaulan dunia

Dengan kaya dan bangga…..

Aku kenakan sepanjang masa

Mulai tanggal 2 Oktober 2009 ini

Sumpahku sadar karenanya.

Batik bukan sekedar daster kumal para Ibu rumah tangga

Batik bukan pakaian murahan

Tapi…. batik adalah pakain jiwa anak negri

Lukisan hati abadi

Ukiran gerak insani

Bagi yang menyadari filosofi ini ……!!!!!!!!!!!!

Batikku sayang …. batikku kukenang.

Tak lagi kau hilang

Diambil orang seberang

yang selalu jadi pecundang

Dalam dekapan sayang

menghiasi nurani generasi pendatang

corak ragammu banyak yang tak mengerti

Kilau warna semangatmu tak banyak disadari

Kelembutanmu banyak yang salah arti

Keanggunanmu belum menyentuh hati

Tak terlihat potensi sejati

Hingga anak negri tidak faham milik sendiri !!

Batikku Gelora semangat Bangsaku

Batiku budaya Bangsaku

Batiku Pakaian jiwa Nuraniku

terlukis abadi dalam sanubari anak negri….

Bangsa…  dan   Negeriku…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.