Menthokzky….enjoy & harmony

UG Staff Blog

Archive for the ‘Social Networking’ Category

Kejujuran

Membaca salah satu artikel yang mengulas tentang kebenaran dari blog salah satu rekan (http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/rakhma/2011/02/15/teori-kebenaran-2/) segera ingatan melayang pada beberapa posting yang tersebar di salah satu grup jejaring yang saya ikut bergabung jadi anggotanya. Artikel itu sangat inspiring…..tema sentralnya “pentingnya kejujuran” yang dikemas dengan bahasa sederhana dan menggelitik.

Seorang Chief Executive Officer (CEO) hendak mewariskan salah satu multinational company miliknya kepada beberapa karyawan terbaiknya yang loyal mengabdi selama puluhan tahun. Untuk memilih seluruh karyawan tidak memungkinkan, karena CEO tadi hanya akan mewariskan kepada satu orang saja karyawannya.  Atas dasar konsep tersebut maka CEO tadi perlu untuk melakukan seleksi siapa karyawan yang pantas menjadi penggantinya.

Setelah melakukan perenungan yang mendalam, akhirnya beliau mendapat ide…..(”wangsit” kalo istilah para pertapa…..hehehehe). Ide yang muncul dan turun dari langit ……(jangan-jangan bentuknya wangsit kaya hujan atau mungkin kaya meteor kali hehehehe…), menuntun beliau bahwa faktor paling utama dan mendasar dari seorang manusia adalah “kejujuran”.

Keesokan harinya CEO tersebut segera mengumpulkan seluruh karyawan terbaiknya,  kemudian mereka diberikan masing-masing sebutir BENIH, sambil berkata…….”Sirami dengan teratur dan rawatlah benih ini selama setahun dari sekarang…………. kemudian kembalilah dengan membawa tanaman terbaik yang tumbuh dari benih ini. Tanaman yang TERBAIK ….pemiliknya akan menjadi penggantiku sebagai CEO di salah satu perusahaan Multinasional milikku”.

Salah seorang karyawannya …….Rohmat….setelah menerima benih tersebut segera pulang ke rumah, dan kemudian menanam benih tersebut di pot yang dibeli khusus. Setiap hari setiap pagi sebelum berangkat kantor dan sore setelah pulang kantor, Rahmat selalu menyirami benihnya dan memberinya pupuk yang terbaik. Hal ini dilakukannya setiap hari dengan penuh kesungguhan.

Setelah enam bulan berlalu, teman-teman Rohmat sering kali berdiskusi membicarakan tanaman mereka yang tumbuh begitu subur dan indah. Sedangkan si Rohmat…….. tidak melihat ada perubahan yang signifikan dari benih yang ditanam olehnya. Sempat tersirat untuk segera mengganti benihnya dengan benih baru yang mungkin lebih baik, atau yang mungkin lebih cepat tumbuh……. Tetapi saat Rohmat bicarakan dengan istrinya, sang istri malah tidak setuju…… dan membesarkan hatinya, sambil mengatakan……. “mungkin benih bapak belum waktunya tumbuh….!”.

Setahun berlalu Rohmat merasa gagal menjalankan amanah untuk memelihara dengan baik benih yang sudah dititipkan padanya…… Kembali Rohmat mengungkapkan kekecewaan dan kegagalannya kepada istri tercinta, sambil berharap akan mencari tanaman pengganti, sehingga pada saat dipanggil oleh pimpinan, hasilnya tidak mengecewakan. Kembali sang istri membesarkan hati Rohmat dan mendorongnya untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Akhirnya Rohmat menyadari bahwa sang istri masih konsisten untuk tetap mendorongnya bersikap jujur dan siap menerima segala konsekwensi dari kegagalannya.

Setelah tiba saatnya, seluruh karyawan kembali dikumpulkan oleh CEO di ruang meeting untuk mempresentasikan masing-masing tanamannya. Hampir seluruh karyawan dapat menunjukkan kepada CEO tanaman yang terbaik dari benih yang diberikan oleh CEO. Akhirnya tiba giliran si Rohmat untuk menunjukkan kepada CEO hasil tanamannya………… tapi apa mau dikata…..Rohmat hanya dapat menunjukkan “pot kosong”…. tidak ada satu tanamanpun yang tumbuh. Dengan wajah tertunduk malu dan penuh penyesalan Rohmat menyerahkan “pot kosong” kepada CEO.

Saat menerima pot kosong dari Rohmat…..segera sang CEO pun terkejut dan mengerutkan dahinya, lalu dengan segera Rohmat diminta beliau untuk menceritakan kepada seluruh karyawan yang hadir di ruang meeting tersebut……….. bagaimana proses dan keadaan dari TRAGEDI yang dialaminya. Akhirnya dengan terbata-bata dan menahan malu Rohmat bercerita kepada seluruh yang hadir.

Ketika Rohmat selesai bercerita……… segera CEO tersebut berkata… “saudara-saudara… berikan tepuk tangan yang meriah untuk teman kita Rohmat,… seorang CEO yang baru…”. Kemudian sambil berdiri CEO tadi berkata “Saya memberikan kepada kalian sebutir benih yang tidak mungkin untuk tumbuh………Melihat bahwa benih tidak mungkin tumbuh, kalian menukarnya dan berbohong kepadaku, dengan berbagai benih tanaman yang indah-indah………….Lain dengan Rohmat………dia tetap konsisten dengan apa adanya dan mau untuk berkata yang sebenarnya terjadi….!, Jangan pernah takut untuk menghadapi kenyataan yang terjadi….jika itu BENAR..!!!”.

Surat Cinta Eksakta

Duhai dinda………..cintaku….jantung hatiku. Archimides dan Newton-pun tak akan mengerti medan magnet yang berinduksi diantara kita. Bahkan Eisntein yang sanggup merumuskan E=mc², tak sebanding dengan kedahsyatan moment cintaku.

Pertama kali bayanganmu jatuh tepat di fokus hatiku…… sangat nyata dan tegak bila diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum. Bagai tetesan minyak milikan yang jatuh di ruang hampa. Cintaku lebih besar dari bilangan Avogadro……….

Sayang……….walaupun jarak kita bagaikan matahari dan pluto pada saat aphelium. Amplitudo gelombang hatimu yang berinterferensi dengan gejolak hatiku. Seindah gerak harmnik sempurna tanpa gaya pemulih, bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas.

Cintaku……….energi mekanik cintaku tidak terbendung oleh friksi dan fusi. Energi potensial cintaku tidak terpengaruh oleh tetapan gaya energi kinetik. Bahkan hukum kekekalan energi tidak dapat mampu menandingi keeratan dan kaitan cinta kita.

Sayangku……… lihat hukum cinta kita, moment cintaku tegak lurus dengan moment cintamu. Gelombang amplitudo cinta kita gambaran ekuilibirium yang sempurna. Capaian inersia cinta kita yang tak terhingga tidak tergoyahkan impuls dan moment gaya……. Semoga ini cerminan resultan momentum cinta kita.

Robot Cerdas…..!!!

Beberapa waktu lalu saya secara tidak sengaja berkesempatan berkunjung ke ruangan kerja salah seorang rekan yang tergolong ahli robot……. Pak  Doktor TeBeeM. Nah pada saat di ruang kerjanya beliau sempat memperlihatkan hasil riset mahasiswa beliau dalam mengembangkan smart robot. Robot tersebut secara mengesankan mampu melakukan beberapa aktivitas yang sehari-hari dilakukan oleh manusia, seperti kemampuan jungkir balik, miring, lompat, dan berbagai gerak yang membutuhkan tingkat keseimbangan yang sempurna, seperti layaknya manusia.

Melihat karya mahasiswa Dr. TeBeeM, saya langsung teringat cerita “smart robot” yang diupload oleh seorang teman ke forum di salah satu social networking dunia maya. Berikut petikan ceritanya yang saya kembangkan dengan bahasa bebas.

Suatu hari seorang ayah yang menjadi Direktur Utama salah satu perusahaan asing saat sedang melakukan perjalanan dinas di luar negeri terkagum-kagum dengan hasil Project Research and Development yaitu Smart Robot.Salah satu kelebihan dan keunggulan utama smart robot ini adalah kemampuannya dalam mendeteksi kebohongan pembicaraan seseorang, seperti detektor kebohongan yang dimiliki oleh pihak kepolisian. Produk ini rencananya akan dipasarkan pada pertengahan tahun depan, dan sekarang dalam tahap quality test.

Melihat produk tersebut, Sang ayah teringat akan salah satu permintaan anaknya yang memang mengkoleksi berbagai jenis Robot. Kemudian dengan alasan sebagai test produk, dia segera membawa pulang Robot tersebut, serta sudah tidak sabar untuk segera menguji kehandalannya.

Sesampainya di rumah Robot cerdas tadi sengaja diletakkan di ruang tamu, agar bisa segera dipamerkan ke sang anak. Sudah maghrib sang anak masih belum juga pulang, setelah ditelpon berulang kali oleh ibunya, akhirnya sang anak muncul sekitar pukul 23.00 WIB. Saat sang anak sampai di rumah, sang ayah sudah menanti bersama si robot cerdas tadi.

Dengan suara lembut Ayah bertanya, “Dari mana kamu Nak?”; “Belajar dan ngerjain PR Yah….!” jawab si Anak spontan. Mendengar jawaban itu, PLAKKK …….kontan sang robot menampar pipi sang Anak. Masih terkejut dengan tamparan robot, sang Ayah berkata, “Jangan bohong kamu Nak…! Robot ini akan menamparmu tiap kali kamu bohong. Ayo…. jawab kamu dari mana?”. Dengan ketakutan sang Anak menjawab, “Nonton Yah di rumah temen…..”. Spontan Ayahnya langsung bertanya, “Film apa….??”, “Film perang……!”. PLAKKK …… spontan robot sekali lagi menampar si Anak. Sambil tersenyum Ayah berkata “Ayo yang jujur….gak usah bohong!!”. Dengan meringis menahan sakit si Anak menjawab “Film porno Yah….”.

Melihat kejujuran si Anak, dengan penuh kepuasan dan keangkuhan sang Ayah berusaha menasehatinya. “Dasar kamu…….masih kecil dah berani nonton film gituan……. waktu seumuran kamu,…… Ayah belum berani nonton film porno……” Tiba-tiba PLAKKK……………. smart robot langsung menampar Ayah. Kontan si Anak langsung tertawa terbahak-bahak melihat Ayahnya ikut terkena tamparan robot, yang artinya sang Ayah juga melakukan kebohongan. Sambil menahan sakit sang Ayah segera mengeluarkan jurus saktinya, yaitu memarahi si Anak…“Ngapain kamu cengengesan…… seneng liat orang tuanya sakit yach….!!” kemarahan Ayah tersebut lebih karena faktor malu ketahuan belangnya.

Mendengar ribut-ribut di ruang tamu, dengan tergopoh-gopoh si Ibu yang sudah berada di kamar tidur segera bergegas lari keluar, dengan tujuan untuk meredam kemarahan Ayah. Melihat wajah sang Anak yang merah lebam kena tamparan robot, si Ibu langsung berteriak……“Ayah…!!, jangan keterlaluan gitu donk…!!, walaupun nakal dia kan anak kamu juga….!!”. Tiba-tiba PLAKKK…….. si Ibu langsung ditampar oleh smart robot.

NB: Terima kasih tuk Pak Dr. TeBeeM yang telah memberikan inspirasi bagi saya tuk berbagi cerita……Hehehehe.

Slamet Bejo Bawa Arit

Slamet dan Bejo yang berprofesi sebagai sopir dan kenek ambulan salah satu Rumah Sakit, yang khusus bertugas mengantarkan jenazah. Slamet orang asli jawa tulen yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun bertugas mengantarkan jenazah, tetapi indra pendengaran beliau sudah mulai terganggu. Sementara Bejo anak muda energik dari dusun, jowo tulen yang penuh dedikasi dan semangat untuk mengabdikan dirinya sebagai pengantar jenazah, dan bercita-cita untuk mengikuti jejak seniornya.

Suatu hari Slamet dan Bejo bertugas mengantarkan jenazah dari Ibukota ke ujung timur Pulau Jawa, tepatnya Banyuwangi. Dalam perjalanan kedua orang ini bertugas secara bergantian mengemudikan ambulans. Sanak keluarga dari jenazah tersebut sudah berangkat terlibih dahulu menggunakan pesawat. Sehingga cuma mereka berdua dan jenazah tersebut yang ada di ambulans. Setelah melakukan perjalanan selama 17 jam, tepat jam 23.00 WIB mereka masuk wilayah “alas tuwo” yang berada beberapa kilometer lagi tiba di kota tujuan. Wilayah alas tuwo selama ini dikenal sebagai daerah yang cukup angker, karena sepanjang 30 km di kiri dan kanan jalan yang terlihat hanya kegelapan hutan belantara. Bahkan selepas pukul 21.00 WIB sangat jarang kendaraan yang melintas.

Setelah memasuki hutan suasana mulai mencekam, ditambah langit mendung yang terlihat semakin pekat. Kemudian untuk memecahkan kesunyian spontan Bejo menegur Slamet: “Met cepetan……. langite wis mendung.” Bejo melihat Slamet mulai diserang kantuk, karena jalannya ambulan semakin pelan dan terkadang kurang konsentrasi. Terkejut dengan teguran Bejo, Slamet langsung berkomentar: ” Opo???? Mayite (jenazah….red) wis mlembung (kembung…red)………….????.” sambil celingak-celinguk memperhatikan jenazah melalui spion yang ada di tengah kendaraan. Terkejut dengan sikap dan  jawaban Slamet, Bejo tetap berusaha tenang dan tidak panik…..dengan harapan si Slamet memang agak kurang pendengarannya.

Beberapa saat kemudian setelah keduanya terdiam membisu, untuk memcahkan kesunyian….. sambil sesekali memperhatikan kondisi di luar, Bejo mulai berceloteh “Walahhhh….. Met,…….. langite wis dadi gerimis….”. Terkejut dengan komentar Bejo, segera Slamet mulai serius memperhatikan spionnya, untuk memastikan apa yang diucapkan Bejo……… sambil berteriak ” Hahhhhh……. mayite saiki wis mringis???… Aku mulai mrinding kabeh ki Jo”

Terkejut dengan komentar Slamet… Bejo dengan segera memperhatikan Slamet. Setelah keduanya saling bertatapan, karena sama-sama terkejut dengan komentar masing-masing, Slamet yang merasa sudah senior segera menimpali dengan sok memberikan nasehat. “Yo kuwi mungkin wis mayite ora sabar pengen ndang tekan ngomah kuwi Jo, dadi ra usah wedhi (takut….red)…… biasane memang ngono kok nek wis arep tekan omah… kuwi dudu mringis Jo, tapi….mesem (senyum….red).”

Kemudian keduanya kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing, dengan satu tujuan untuk segera nyampe di tempat tujuan dan beristirahat. Tak beberapa lama kemudian hujan gerimis mulai reda dan jalanan masih tampak basah, segera Bejo dengan lirih berucap… dengan tujuan untuk tidak merusak konsentrasi Slamet, sekaligus tidak membuat suasana jadi lebih mencekam……“Alhamdulillah saiki udanne wis mandek (berhenti….red)..!!”. Tak diduga ternyata suara Bejo juga terdengar oleh Slamet (walaupun kurang jelas)….. dan dengan terkejut Slamet segera berkomentar “Hahhhhhh ……mayite wis ngadhek (berdiri…red)???, sing bener Jo….mosok mayite wis ngadek. Selama 20 tahun aku dadi tukang anter jenazah, durung pernah mayite kuwi ngadhek dewe….!!! Mbok ati-ati nek ngomong Jo!!!”. Dengan gusar Slamet membentak Bejo…. sambil sesekali memperhatikan kaca spionnya, untuk memastikan yang diungkapkan oleh Bejo. Setelah diperhatikan dengan seksama ternyata apa yang diungkapkan oleh Bejo tidak terbukti, Slamet semakin memacu ambulannya.

Bejo yang masih yunior akhirnya memilih untuk diam seribu bahasa, dengan pikiran yang melayang-layang mencerna apa yang diungkapkan oleh Slamet. Akhirnya setelah lebih dari 5 km perjalanan dalam keheningan dan tidak ada komunikasi. Tiba-tiba Slamet berkomentar memecah keheningan, sekaligus menghilangkan rasa takut yang menggelayuti pikirannya. “Jo…. tambah suwi aku kok tambah wedhi yo… tengkukku rasane tambah mrinding….!!”. Mendengar celotehan Slamet, Bejo segera memberanikan diri sekaligus menutupi rasa takutnya. “Wooo …….. dasar budhek (tuli…red), kuwi mau maksudku ngandani (memberitahu…. red) nek langitte wis terang….!”.

Mendengar komentar Bejo kemudian segera Slamet menghentikan ambulannya dengan panik dan penuh rasa ketakutan serta mata yang membelalak berucap. “Opo….??? mayite wis mbrangkang (merayap….red)…!!!. Wis…wis….cukup Jo, aku tak medhun (turun..red) neng kene wae…..mayite ben mbrangkang dewe neng omahe. Apikke awake dewe mulih wae” sambil segera membuka pintu dan keluar dari ambulannya.

Melihat Slamet yang sudah keluar ambulan segera Bejo menyusul dan membentak “Met ……maksudte langit……dudu mayit….., dasar budhek!!!”. Mendengar itu segera Slamet berteriak, “tulunk-tulunk….ono mayit nggowo (bawa…red) arit….!!!”

Cerita ini terinspirasi dari Group Messenger, 28 Januari 2011.

Korban Iklan

Saat Wonokairun sedang tongkrongan nunggu warung rokoknya sambil ngopi……tiba-tiba datang Mbah Bejo dengan tergopoh-gopoh…..sambil berteriak “Run……… aku tuku rinso ne…”. ”Lho????…….. rinso atene digawe opo mbah…?” sahut Wonokairun sambil terkejut……….., soalnya selama ini Mbah Wonokairun tidak pernah membeli sabun merk Rinso, tetapi merk B29.

Mbah Bejo oleh para tetangga beliau dikenal memiliki pribadi dan kebiasaan hidup yang unik, salah satunya dari kebiasaannya untuk mencuci pakaian selalu di sungai kecil di sebelah tempat tinggalnya…. dan sabun yang digunakan selalu sabun colek batangan merk B29…. dan tidak pernah menggunakan sabun merk yang lain. Pernah Wonokairun menanyakan masalah persabunan ini ke Mbah Bejo…….. dengan ringan Mbah Bejo menjawab “Lek nggawe sabun iki rasane klambiku koyo dikosok-i (…diucek-ucek…red) mbak Ratmi (Ratmi B29…artis yang terkenal pada masa Mbah Bejo muda dulu)”

Sambil mengerutkan keningnya yang memang sudah berkerut-kerut…. Mbah Bejo menjawab dengan agak kesal ”Kucingku kenek blethok tlethong (kotoran sapi… red)….. dadi katene tak umbah! (…..dicuci….red)”.  Mendengar ungkapan Mbah Bejo…..  hal pertama yang terbayang dalam benak Wonokairun bagaimana kalo kucing kesayangan si Mbah jadi mati kedinginan. Siapa lagi yang mau jadi teman setia dan sahabat beliau. Sebagai orang tua yang sudah tinggal sendiri di dunia ini, satu-satunya sahabat dan hiburan beliau hanya kucing.

Setelah memutar otak bagaimana caranya untuk menyelamatkan kucing Mbah Bejo……..Wonokairun memperoleh ide dengan memberikan saran agar mempercantik bulu si kucing…. yang sekaligus membersihkan bulunya yang telah terkena kotoran sapi. Dengan sikap sok bijaksana dan perhatian pada pinisepuh seperti Mbah Bejo……..mas Wonokairun langsung mengeluarkan rayuannya: ”Mbah….Mbah, sampeyan iki aneh-aneh ae, mosok kucing diumbah ambek (…dengan..red) rinso??……. yo mati kucing sampeyan. ….. Kucing iku paling wedi ambek sabun Mbah..!!, apik-e dibilas ae karo banyu…trus dishamponi ambek sunsilk ae, shampo sunsilk iku sing digawe karo artis Dian Sastro…makane rambute si Dian dadi ketel……. Nek kucing sampeyan diumbah ambek sunsilk dadine ulune ketel (…bulunya jadi lebat …..red)”.

Mendengar celotehan anak muda sekelas Wonokairun….yang konon katanya lulus SD aja lewat ujian persamaan………wajah Mbah Bejo keningnya tambah berkerut-kerut….plus dengan mata melotot segera mendamprat Wonokairun yang dianggapnya sok tau dan mencampuri urusannya. “Run…… kon (…kamu…red) iku lek gak ngerti cangkem-e gak usah mangap ae….mingkem ae ngganteng kon….!!!. Aku gak peduli kucingku atene sesok dadi….. Dian Karto… Dian Tomo… Dian Ndoko….. Dian-Put… opo malah Dian-Cuk….. gak masalah ….. pokok-e cepet ndang jupukno Rinsone..!!” seru Mbah Bejo dengan penuh kegeraman. Melihat Mbah Bejo yang sudah emosi jiwa dengan kening yang semakin berkerut dan mata melotot…… dengan tergopoh-gopoh ketakutan dan diam seribu bahasa Wonokairun segera memberikan sabun Rinso sachet kecil yang sudah ditunjuk Mbah Bejo.

Singkat cerita…. keesokan harinya masih dengan rasa penasaran Wonokairun memberanikan diri untuk sengaja lewat di depan rumah Mbah Bejo. Terlihat Mbah Bejo duduk termenung di depan rumah dengan rona kesedihan yang terpancar di wajahnya. Melihat itu…. Wonokairun berkata dalam hati… apa yang kubilang kemaren…. gak dituruti sih, dasar orang tua. Akhirnya dengan sikap sok akrab dan ramah, mas Wonokairun memberanikan diri bertanya….  Yok nopo kucing sampeyan Mbah?…. wis dadi resik tah ulune??“.

Terkejut pertanyaan itu, Mbah Bejo yang sedang asyik dengan lamunannya dengan bersungut-sungut langsung membentak Wonokairun…. “Laopo kon takon-takon kucing…… sing jelas kucing-e mati…..!!!“.

Merasa mendapat angin dan pembenaran dari pendapatnya kemaren, langsung Wonokairun dengan penuh semangat berceloteh. “Lha temen ta?….sampeyan iki diomongi gak percoyo………. gak iso kucing diumbah nggawe rinso iku Mbah….“.

Mendengar ungkapan tersebut, ….. Mbah Bejo tidak terima dengan pendapat Wonokairun, dan langsung menjawab. “He Run …..kucingku iku mati dudu mergo tak umbah nggawe Rinso…. wong mari tak umbah isik urip kok….!!“.

Mendengar ungkapan Mbah Bejo tersebut, spontan mulut mas Wonokairun gatel untuk berkomentar karena penasaran………., kemudian dengan setengah berteriak Wonokairun berucap, “Lho….. kucing-e mati opo o Mbah???“.

Dengan wajah memelas dan sedih meratapi kematian si kucing yang selama ini sudah menjadi sahabatnya Mbah Bejo berkata lirih. “Jarene artis-artis sing nang TV iku…..nek mari umbah-umbah kudu diperes ngantek garing, supoyo dadine kinclong plus wangi“. Mendengar ungkapan itu, dengan penuh penasaran Wonokairun segera nyeletuk. “Trus opo hubunganne ngumbah kucing karo artis Mbah???“.

Sambil menangis haru Mbah Bejo berucap “Yo tak padhak-no karo carane artis-artis sing nang TV iku………KUCING-E TAK PERES NGANTEK GARING ……!!!”

Cerita ini terinspirasi dari salah satu diskusi dan sharing yang terdapat dalam salah satu group BBM.

Depok, Medio January 2011.


Sugeng Rawuh Poro Sederek……..

22.jpg

Sugeng rawuh wonten bilik kawulo…….. monggo-monggo menawi bade mblusak mblusuk…….. ning hati-hati nggih….

Salam

Hello world!

Welcome to nustaffsite.gunadarma.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.