Menthokzky….enjoy & harmony

UG Staff Blog

Archive for the ‘Ekspedisi Nusantara’ Category

Eksotisme Leang-Leang Prehistoric Park

Saat tim Virtual Museum UG memasuki areal Leang-Leang Prehistoric Park kami disuguhi oleh keindahan tebing batu karst yang berdiri tegak mempesona. Dari segala sisi dan penjuru seolah tak pernah habis mata ini memandang hamparan pegunungan batu karst yang membentuk panorama alam di wilayah perbukitan di Kabupaten Maros. Inilah Taman Prasejarah Leang-Leang dengan berbagai peninggalan warisan budaya dari masa pra sejarah, bahkan taman ini tercatat sebagai salah satu World Heritage yang ditetapkan UNESCO. Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Taman ini memiliki pemandangan yang indah, dihiasi dengan tebing-tebing curam yang menjulang tinggi di sekitar taman, perkebunan di seberang jembatan yang ditanami sesuai musim serta pohon-pohon rindang. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep, dengan beragam jenis tinggalan budayanya berupa gambar gua, sebaran alat batu maupun sampah dapur yang terdiri atas moluska tawar, payau, dan laut. Peninggalan arkeologi tersebut menjadi objek kajian yang sangat menarik untuk diteliti guna mengetahui kehidupan manusia pada masa lampau.

Dalam bahasa Makassar, Leang berarti goa, sama dengan kata liang yang artinya lubang. Hal yang menarik dari tempat ini adalah ditemukannya lukisan-lukisan dinding di Leang-Leang, yang mendorong dilakukannya penelaahan gambar-gambar pra sejarah, yaitu pada tahun 1950 oleh Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat, yang di bagian dadanya terdapat mata panah menancap. Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Sedangkan Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan dengan latar belakang cat merah dan diduga merupakan gambar tangan kiri wanita yang diyakini merupakan anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya, di Gua Leang Pettae. Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun.

Gua Leang Petta Kere terletak di tebing bukit dan berada  pada ketinggian 45 m dpl dan 10 m dpl, pada bagian pintu gua yang menghadap ke sebelah barat masih terdapat lantai yang menjorok keluar selebar 1-2 m dan berfungsi sebagai pelataran gua. Untuk mencapai gua ini kita harus menaiki anak tangga sebanyak 64 buah. Artefak yang ditemukan pada leang ini berupa 2 gambar babi rusa dan 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah dan mata panah. Gua Leang Pettae terletak pada ketinggian 50 m dpl, dengan arah mulut gua menghadap ke sebelah barat dengan ukuran tinggi 8m dan lebar 12m. Artefak yang ditemukan pada gua ini adalah berupa 5 gambar telapak tangan, satu gambar babi rusa, artefak serpih bilah serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut gua.

Benteng identik dengan kegagahan, kesunyian dan bahkan kekerasan yang menyertai nuansa yang dicerminkannya. Beberapa saat yang lalu (awal September 2011) saya beserta tim “Virtual Museum UG” berkesempatan mengunjungi sekaligus menikmati keindahan benteng Fort Rotterdam. Benteng ini terletak di kota Makasar yang merupakan salah satu bukti peninggalan Kerajaan Gowa. Salah satu keindahan dan keunikan yang tampak dari benteng ini adalah bila dilihat dari udara bentuknya menyerupai “penyu raksasa” yang hendak merayap ke Selat Makasar.

Memasuki pintu utamanya yang berukuran kecil,  kita akan segera disergap oleh nuansa masa lalu. Tembok yang tebal sangat kokoh, pintu kayu, gerendel kuno, akan terlihat jelas. Masuk ke benteng sebetulnya tidak dipungut bayaran, karena area didalam benteng  tidak dijadikan museum cagar budaya. Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental. Benteng ini pada jaman Kerajaan Gowa berfungsi sebagai benteng pertahanan yang didalamnya terdapat bangunan khas makasar. Pada jaman kolonial Belanda benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan, pusat pertahanan, pusat  pemerintahan dan perekonomian.

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh (salah satunya dari Ensklopedia Sejarah Sulawesi Selatan, 2004), benteng ini semula bernama Benteng Ujung Pandang yang didirikan di sebuah “Ujung” pulau yang terdapat banyak pohon “Pandang”, pada tahun 1546, oleh I Manriawagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yaitu Raja Gowa ke-10. Benteng ini pada tahun 1643 direvitalisasi oleh Raja Gowa ke-14 I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alaudin, yang melakukan penyempurnaan pada bangunan temboknya. Benteng ini secara resmi dikuasai oleh Pemerintah Belanda pada saat perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667. Semenjak saat itu nama benteng tersebut dirubah oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut merupakan nama kota tempat kelahirannya di Negeri Belanda. Speelman akhirnya menetap di benteng tersebut dan membangun kembali serta menata topologi bangunannya sesuai dengan arsitektur Belanda. Bentuk awal yang mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat.

Pesona keindahan lain yang dapat dieksplorasi dari benteng ini adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap di tanah Jawa. Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Diponegoro kemudian ditangkap serta dibuang ke Menado, dan kemudian pada tahun 1834 dipindahkan ke Fort Rotterdam. Pangeran Diponegoro ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh, yang dilengkapi dengan peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Pesona lain yang juga masih tersimpan dalam benteng ini adalah penggalan Kitab Sastra terpanjang di dunia yang dikenal I La Galigo. Kitab tersebut merupakan kumpulan karya sastra dan catatan hasil kebudayaan yang ditulis secara turun temurun dalam bahasa Lontarak.

Dinamisnya Gerak Tari Barong

Barong !!! mendengar kata ini sebagian besar ingatan dan pikiran kita pasti akan menuju ke suatu pulau yang konon menurut cerita merupakan tempat berkumpulnya para dewata ………..yach jelas sekali pasti BALI. Tidak akan lengkap rasanya kalau kita tidak menyaksikan secara langsung salah satu kebudayaan warisan leluhur yang paling sering dipentaskan dan dikenal memiliki perbendaharaan gerak tari yang komplit……. Tari BARONG. Perwujudan tari Barong dikenal dengan nama Barong Ket, yang merupakan satu bentuk perpaduan antara singa, macan, dan sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. Wujud dan implementasi Barong Ket tersebut bila di tanah Jawa (tepatnya di Ponorogo-Jawa Timur) dikenal dengan nama Reog Ponorogo.

(more…)

Gamelan, Ekspresi Keselarasan Hidup

Saat berkesempatan berkunjung yang kesekian kali ke kraton Jogjakarta, tiba-tiba pada hari Jum’at pagi di akhir tahun 2009 suasana begitu syahdu seolah memasuki wilayah lain di negeri ini. Karena begitu memasuki gerbang Kraton para pengunjung akan langsung disambut dengan alunan musik lembut mengayun dan mendayu-dayu, seolah mengajak hati dan pikiran ikut terbuai dalam iramanya. Alunan musik tersebut dihasilkan oleh seperangkat Gamelan yang dengan serius dan penuh perhatian dimainkan oleh sekelompok abdi dalem Kraton. Di deretan kursi pengujung tampak serombongan turis dari manca negara yang sangat menghayati setiap nada dan lagu yang menggema, seolah mereka enggan beranjak sampai suguhan acaranya selesai.

(more…)

Patung dan Stupa Borobudur

Berkunjung ke candi Borobudur pastilah kita akan menemui banyak patung dan stupa, hampir di setiap teras lantai (halaman) pada setiap tingkat kita akan menemukan berbagai patung Budha dengan berbagai ciri yang melekat. Keunikan utama candi ini yang dominan adalah tersebarnya ratusan, bahkan mungkin ribuan patung Budha di seluruh teras/lantai dan relung pada setiap tingkatan candi (ulasan bentuk candi dijelaskan dalam Stuktur Bangunan Borobudur). Patung yang ada di candi Borobudur terbagi dalam dua lokasi, yaitu yang berada di teras (halaman) pada lantai 1, 2, dan 3 (tingkatan Arupadhatu) berjumlah 72 buah dan yang berada di relung-relung candi (tingkatan Rupadhatu) sebanyak 432 buah, sehingga jumlah total patung yang terdapat di candi ini adalah 504 buah.

(more…)

Struktur Bangunan Borobudur

Menurut Sutanto (2005) candi Borobudur dibangun pada saat masa kepemimpinan Raja dari wangsa Syailendra yang sangat terkenal, yaitu Samaratungga, sekitar tahun 800-an Masehi (tulisan: Sejarah Borobudur). Candi ini dikelilingi oleh beberapa gunung dan pegunungan serta terletak dalam satu wilayah perbukitan (selengkapnya: Borobudur Nan Megah). Struktur bangunan candi merupakan tumpukan bebatuan yang diletakkan di wilayah perbukitan alami yang menjulang tinggi. Batu yang disusun menjadi candi tersebut merupakan batu andesit sebanyak 55.000 m3, dengan bangunan berbentuk limas berjenjang yang dilengkapi tangga naik di keempat sisinya (timur, selatan, barat dan utara).

(more…)

Sejarah Borobudur

Strategisnya lokasi Candi Borobudur yang megah dan kokoh (tulisan: Borobudur Nan Megah) sudah banyak dituliskan oleh beberapa peneliti dan arkeolog (Sutanto, 2005). Tetapi banyak peneliti yang sampai dengan sekarang masih belum dapat memastikan kapan didirikannya Candi Borobudur. Tetapi perkiraan berdirinya candi tersebut didasarkan pada tulisan singkat yang dipahatkan diatas pigura relief-relief yang terdapat di kaki candi, yaitu kurang lebih pada akhir abad ke 8 sampai awal abad ke 9, atau sekitar tahun 800 Masehi.

(more…)

Borobudur Nan Megah

Mendengar nama Borobudur pastilah imajinasi kita akan terbayang sebuah candi raksasa yang megah dan kokoh berdiri di wilayah perbukitan dan dikelilingi oleh beberapa gunung, di sebelah timur berdiri Gunung Merbabu dan Merapi, di sebelah barat Gunung Sumbing dan Sindoro, di sebelah utara Gunung Tidar, serta di sebelah selatan terdapat gugusan pegunungan Menoreh.

(more…)

Dieng Nan Elok dan Menggoda

Setelah berputar berkeliling menikmati keindahan candi sebagai warisan leluhur (tulisan sebelumnya: pesona dataran tinggi dieng) maka kami (Bu Susi, Pak Budi, Oom Rahmat dan saya) segera melanjutkan perjalanan dengan menjelajah kawasan lain yang berada di sekitar dataran ini. Pesona keindahan dataran tinggi Dieng lain adalah adanya fenomena hujan salju yang terjadi antara setahun sekali antara bulan Juli - September. Fenomena hujan salju ini membawa dampak rusaknya tanaman kentang milik masyarakat. Sangat disayangkan kunjungan kami tidak bertepatan dengan hujan salju. Selain itu, salah satu tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi adalah daerah margasatwa dan hutan lindung yang biasa disebut cagar alam. Di kawasan hutan lindung ini terdapat 5 objek wisata yang sangat disayangkan untuk dilewatkan,  yaitu 3 buah Gua (Gua Semar, Gua Pengantin dan Gua Sumur), serta 2 buah telaga (Telaga Warna dan Telaga Pengilon). (more…)

Pesona Dataran Tinggi Dieng

Memasuki wilayah dataran tinggi Dieng yang berada di ketinggian 2400 meter DPL, di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah udara sejuk dan suasana tenang menyambut kedatangan kami (Pak Budi, Bu Susi, Mas Rachmat dan saya). Dataran tinggi Dieng memang merupakan salah satu tujuan perjalanan kami, karena di daerah ini terdapat beberapa peninggalan kebudayaan leluhur dari era kejayaan Hindu di Indonesia. (more…)

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.