Menthokzky….enjoy & harmony

UG Staff Blog

Archive for September, 2011

Eksotisme Leang-Leang Prehistoric Park

Saat tim Virtual Museum UG memasuki areal Leang-Leang Prehistoric Park kami disuguhi oleh keindahan tebing batu karst yang berdiri tegak mempesona. Dari segala sisi dan penjuru seolah tak pernah habis mata ini memandang hamparan pegunungan batu karst yang membentuk panorama alam di wilayah perbukitan di Kabupaten Maros. Inilah Taman Prasejarah Leang-Leang dengan berbagai peninggalan warisan budaya dari masa pra sejarah, bahkan taman ini tercatat sebagai salah satu World Heritage yang ditetapkan UNESCO. Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Taman ini memiliki pemandangan yang indah, dihiasi dengan tebing-tebing curam yang menjulang tinggi di sekitar taman, perkebunan di seberang jembatan yang ditanami sesuai musim serta pohon-pohon rindang. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep, dengan beragam jenis tinggalan budayanya berupa gambar gua, sebaran alat batu maupun sampah dapur yang terdiri atas moluska tawar, payau, dan laut. Peninggalan arkeologi tersebut menjadi objek kajian yang sangat menarik untuk diteliti guna mengetahui kehidupan manusia pada masa lampau.

Dalam bahasa Makassar, Leang berarti goa, sama dengan kata liang yang artinya lubang. Hal yang menarik dari tempat ini adalah ditemukannya lukisan-lukisan dinding di Leang-Leang, yang mendorong dilakukannya penelaahan gambar-gambar pra sejarah, yaitu pada tahun 1950 oleh Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat, yang di bagian dadanya terdapat mata panah menancap. Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Sedangkan Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan dengan latar belakang cat merah dan diduga merupakan gambar tangan kiri wanita yang diyakini merupakan anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya, di Gua Leang Pettae. Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun.

Gua Leang Petta Kere terletak di tebing bukit dan berada  pada ketinggian 45 m dpl dan 10 m dpl, pada bagian pintu gua yang menghadap ke sebelah barat masih terdapat lantai yang menjorok keluar selebar 1-2 m dan berfungsi sebagai pelataran gua. Untuk mencapai gua ini kita harus menaiki anak tangga sebanyak 64 buah. Artefak yang ditemukan pada leang ini berupa 2 gambar babi rusa dan 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah dan mata panah. Gua Leang Pettae terletak pada ketinggian 50 m dpl, dengan arah mulut gua menghadap ke sebelah barat dengan ukuran tinggi 8m dan lebar 12m. Artefak yang ditemukan pada gua ini adalah berupa 5 gambar telapak tangan, satu gambar babi rusa, artefak serpih bilah serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut gua.

Benteng identik dengan kegagahan, kesunyian dan bahkan kekerasan yang menyertai nuansa yang dicerminkannya. Beberapa saat yang lalu (awal September 2011) saya beserta tim “Virtual Museum UG” berkesempatan mengunjungi sekaligus menikmati keindahan benteng Fort Rotterdam. Benteng ini terletak di kota Makasar yang merupakan salah satu bukti peninggalan Kerajaan Gowa. Salah satu keindahan dan keunikan yang tampak dari benteng ini adalah bila dilihat dari udara bentuknya menyerupai “penyu raksasa” yang hendak merayap ke Selat Makasar.

Memasuki pintu utamanya yang berukuran kecil,  kita akan segera disergap oleh nuansa masa lalu. Tembok yang tebal sangat kokoh, pintu kayu, gerendel kuno, akan terlihat jelas. Masuk ke benteng sebetulnya tidak dipungut bayaran, karena area didalam benteng  tidak dijadikan museum cagar budaya. Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental. Benteng ini pada jaman Kerajaan Gowa berfungsi sebagai benteng pertahanan yang didalamnya terdapat bangunan khas makasar. Pada jaman kolonial Belanda benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan, pusat pertahanan, pusat  pemerintahan dan perekonomian.

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh (salah satunya dari Ensklopedia Sejarah Sulawesi Selatan, 2004), benteng ini semula bernama Benteng Ujung Pandang yang didirikan di sebuah “Ujung” pulau yang terdapat banyak pohon “Pandang”, pada tahun 1546, oleh I Manriawagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yaitu Raja Gowa ke-10. Benteng ini pada tahun 1643 direvitalisasi oleh Raja Gowa ke-14 I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alaudin, yang melakukan penyempurnaan pada bangunan temboknya. Benteng ini secara resmi dikuasai oleh Pemerintah Belanda pada saat perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667. Semenjak saat itu nama benteng tersebut dirubah oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut merupakan nama kota tempat kelahirannya di Negeri Belanda. Speelman akhirnya menetap di benteng tersebut dan membangun kembali serta menata topologi bangunannya sesuai dengan arsitektur Belanda. Bentuk awal yang mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat.

Pesona keindahan lain yang dapat dieksplorasi dari benteng ini adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap di tanah Jawa. Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Diponegoro kemudian ditangkap serta dibuang ke Menado, dan kemudian pada tahun 1834 dipindahkan ke Fort Rotterdam. Pangeran Diponegoro ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh, yang dilengkapi dengan peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Pesona lain yang juga masih tersimpan dalam benteng ini adalah penggalan Kitab Sastra terpanjang di dunia yang dikenal I La Galigo. Kitab tersebut merupakan kumpulan karya sastra dan catatan hasil kebudayaan yang ditulis secara turun temurun dalam bahasa Lontarak.

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.