Rasio ini dipakai untuk mengukur tingkat kecukupan sumber dana badan usaha dalam kaitannya dengan total operasi yang dimiliki, sehingga dapat menunjukkan komitmen pemegang saham terhadap pengelolaan badan usaha asuransi yang dimiliki, juga mempengaruhi solvabilitas, likuiditas, dan retensi badan usaha. Rasio yang rendah mencerminkan keadaan badan usaha yang miskin komitmen dalam menjalankan usaha. Adequacy of Capital Fund diperoleh dengan membagi modal sendiri dari masing-masing badan usaha asuransi dengan total aktiva dari masing-masing badan usaha asuransi.

Modal bagi badan usaha asuransi merupakan faktor yang sangat penting khususnya dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Badan usaha asuransi umum dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya sehari-hari menjanjikan kepada nasabahnya bahwa pihak asuransi bersedia memberikan jaminan / ganti rugi jika sewaktu-waktu terjadi risiko sehingga pihak yang menanggung risiko tersebut adalah asuransi.

Bisa dibayangkan, dengan nilai pertanggungan cukup besar dan kemungkinan risiko yang terjadi tidak dapat diperkirakan, dan kebutuhan dana yang dapat dengan mudah dicairkan untuk memenuhi kewajiban penutupan klaim, maka sangatlah tidak mungkin bila badan usaha asuransi beroperasi dengan dana yang minim. Dengan demikian, agar badan usaha asuransi umum mampu tetap beroperasi, maka perlu didukung dengan permodalan yang kuat.

Total aktiva badan usaha asuransi umum juga berpengaruh pada seberapa cepat badan usaha asuransi yang bersangkutan untuk menyediakan dana tunai. Jika asset yang dimiliki sebagian besar berupa aktiva tetap atau asset yang kurang likuid, maka badan usaha asuransi umum ini akan kesulitan untuk menyediakan dana dengan segera. Cepat atau tidaknya badan usaha asuransi dalam memenuhi kebutuhan dana ini sangat dipengaruhi aspek keuangan lainnya, diantaranya likuiditas dan tingkat retensi sendiri.

Aspek modal dan kemampuan badan usaha asuransi dalam menyediakan dana tunai dengan segera juga tidak terlepas dari kondisi eksternal di Indonesia selama periode 1997-2007. Pada masa itu, sering terjadi kerusuhan dan demo massa, yang berakibat pada pengerusakan dan kerugian besar-besaran (pembakaran mobil, gedung, dan lainnya), akibatnya klaim yang diajukan nasabah kepada badan usaha asuransi umum juga menumpk dan semuanya harus segera diselesaikan.