KTI !!!! pembicaraan mengenai KTI tentunya akan membawa pikiran melayang menuju sebotol anggur yang namanya Ketan Item…… (itu pikiran saya doank kali….). KTI yang dibahas di tulisan ini bukan ketan item, tapi Kawasan Timur Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa sumber daya alam dan lokasi strategis KTI memiliki daya tarik yang luar biasa, bayangkan saja …… dari sisi geografis dan lokasi,  KTI sangat dekat dengan Asia Timur, Australia maupun Lautan Pasifik. Sumber daya alam KTI bukan saja berupa tanahnya yang subur untuk lahan pertanian, lautnya yang kaya tapi juga berupa kekayaan hasil tambang, baik di darat maupun di dasar laut. Di kawasan ini terdapat Laut Arafura  yang merupakan alur pelayaran penting bagi angkutan produk pertanian, hasil bumi dan pertambangan dari Australia ke Asia Timur.

Kekayaan alam lain yang tersedia di wilayah KTI adalah aliran Sungai Mamberamo di Papua Timur., yang menurut beberapa studi dipercaya  bahwa sungai tersebut dapat menghasilkan tenaga listrik, dengan biaya murah, yang jauh lebih besar daripada seluruh kapasitas pembangkit tenaga listrik yang telah terpasang di Indonesia saat ini. Tenaga listrik yang dihasilkan oleh aliran sungai itu dapat digunakan sebagai tenaga untuk peleburan hasil  tambang (smelter) apakah yang berasal dari Papua sendiri ataupun dari tempat lain. Mirip seperti tenaga listrik yang dihasilkan oleh Air Terjun Sigura-gura di Sungai Asahan (yang bersumber dari Danau Toba), digunakan perusahaan multinasional (patungan dengan Jepang) untuk melebur biji bauxit asal Brasilia di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

KTI yang secara geografis berdekatan dengan Asia Timur, Australia dan Pasifik dapat dikembangkan menjadi daerah turis untuk menikmati keindahan alam maupun budayanya. Keturunan tentara Jepang dan Sekutu yang gugur selama Perang Dunia ke-2 di KTI dapat dirangsang sebagai turis untuk menjiarahi makam maupun bekas daerah pertempuran keluarga mereka. Laut Arafura juga dapat dijadikan alur lomba pelayaran rekreasi yang menghubungkan Asia dengan Australia dan New Zealand.

Meniru Provinsi Yunnan di RRC, Thailand, Malaysia dan Philipina, KTI dapat dikembangkan menjadi daerah perikanan dan pertanian untuk melayani pasar sekitarnya yang sangat besar. Karena lokasinya yang relatif jauh dari pasar dalam negeri (Jawa) maupun pasar luar negeri, produk-produk yang secara ekonomis menguntungkan dihasilkannya adalah komoditi dengan nilai tambah yang tinggi (high value added products). Karena penduduknya yang jarang, usaha pertanian di KTI harus memiliki skala besar dan teknologi canggih. Jadi beredarnya pameo dan gosip yang mengatakan bahwa KTI sulit dikembangkan karena kurangnya infrastruktur dan terbatasnya SDM (sumber daya manusia).  Karena bila ditinjau dari sisi geografisnya yang berbentuk kepulauan, KTI tidak memerlukan pembangunan jalan raya seperti di Jawa maupun Sumatera dan Papua.

Pulau-pulau di KTI hanya memerlukan pembangunan pelabuhan yang mungkin tidak memerlukan investasi yang menghabiskan dana APBN hingga jumlahnya fantastis……… seperti Century mungkin hehehehe. Apabila mengikuti pola pembangunan prasarana di Australia, yang perlu diutamakan pembangunannya adalah jaringan jalan raya di sepanjang garis pantai yang padat penduduknya dan aktif kegiatan ekonominya. Untuk daerah terpencil, biarkan swasta membangun infrastrukturnya sendiri seperti PT Freeport yang membangun prasarana jalan raya, pipa, angkutan udara dan eskalator mulai dari Timika hingga Tembagapura dan Puncak Jaya Wijaya.

Konsep tersebut telah diimplementasikan oleh tentara Sekutu pada Perang Dunia ke-2, di bawah pimpinan Jenderal McArthur dari Amerika Serikat, dengan mengutamakan prasarasana landasan kapal terbang dan pelabuhan laut di berbagai pelosok di KTI. Pada waktu itu, fasilitas militer tersebut digunakan oleh tentara sekutu untuk merebut kembali Philipina dan menyerbu Jepang. Prasarana militer itu merupakan warisan berharga yang dapat digunakan untuk pembangunan ekonomi. Keterbatasan SDM di KTI dapat ditanggulangi dengan menggunakan sebaik mungkin dana yang diperoleh dari APBN dan perusahaan yang berperoperasi di kawasan tersebut, apakah untuk keperluan pendidikan maupun kesehatan. Perusahaan modern yang beroperasi di KTI sekaligus memberikan kesempatan alih teknologi bagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja padanya. Ahli teknologi juga dapat dirangsang dengan meminta bantuan dari perantau asal KTI yang bermukim di berbagai pelosok dunia maupun dengan bantuan teknis negara asing.