UG Staff Blog
11 Jan
Strategisnya lokasi Candi Borobudur yang megah dan kokoh (tulisan: Borobudur Nan Megah) sudah banyak dituliskan oleh beberapa peneliti dan arkeolog (Sutanto, 2005). Tetapi banyak peneliti yang sampai dengan sekarang masih belum dapat memastikan kapan didirikannya Candi Borobudur. Tetapi perkiraan berdirinya candi tersebut didasarkan pada tulisan singkat yang dipahatkan diatas pigura relief-relief yang terdapat di kaki candi, yaitu kurang lebih pada akhir abad ke 8 sampai awal abad ke 9, atau sekitar tahun 800 Masehi.
Candi Borobudur tersebut berada dalam kerangka abad keemasan wangsa Syailendra, yakni antara abad 8 sampai dengan abad 9. Kejayaan ini ditandai dengan dibangunnya sejumlah besar bangunan candi-candi yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra. Beberapa prasasti menunjukkan bahwa candi Borbudur merupakan ekspresi wangsa Syailendra untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa candi Borobudur dibangun pada saat masa kepemimpinan Raja dari wangsa Syailendra yang sangat terkenal, yaitu Samaratungga, sekitar tahun 800-an Masehi. Pada masa itu, pembangunan candi ini diyakini dengan menghiasi/menambahkan bebatuan pada wilayah perbukitan alami, sehingga Borobudur diyakini merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas bukit yang menjulang tinggi. Batu yang disusun menjadi candi tersebut merupakan batu andesit sebanyak 55.000 m3, dengan bangunan berbentuk limas yang berjenjang yang dilengkapi tangga naik di keempat sisinya (selengkapnya di Struktur Bangunan Borobudur).
Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga candi Borobudur digunakan sebagai pusat kegiatan religius dan pemujaan serta ziarah pada masa Raja Samaratungga. Selain itu, candi ini juga dikenal sebagai centre of knowledge dan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana, serta pusat kehidupan dan perekonomian masyarakat pada era wangsa Syailendra.
Kejayaan Borobudur diyakini bertahan selama 150 tahun dan berangsur pudar dan cenderung mengalami kehancuran seiring dengan runtuhnya kejayaan wangsa Syailendra, yang digantikan oleh tumbuh dan berkembangnya era Kerajaan Mataram di tahun 930 (atau kira-kira abad ke 10). Perubahan ini membawa dampak pada bergesernya pusat kebudayaan dan kehidupan masyarakat kearah timur, yaitu di Jogjakarta. Dampak lain pergantian kekuasaan ini adalah hancur dan rusaknya candi Borobudur, hingga pada akhirnya terlupakan dan hilang di telan masa.
Orang yang berjasa merestorasi dan mengangkat bangunan candi Borobudur dari kegelapan dan kepunahan adalah Sir Thomas Stanford Rafles pada tahun 1814. Rafles adalah seorang Letnan Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa menjajah Indonesia pada tahun 1811-1816.
Usaha Rafles tersebut diteruskan oleh seorang Residen Kedu yang bernama Hartman, dengan melakukan pembersihan puing-puing dari kotoran tanah dan lumpur (tanah dan lumpur ini diyakini merupakan sisa lava dan erupsi lutusan salah satu Gunung berapi yang ada pada saat itu).
9 Responses for "Sejarah Borobudur"
Kenapa kerajaan yg berpusat di sumatra mendirikan pusat peradabannya di pulau jawa?
kenapa bisa borobudur dibangun dg megah dan kokoh pada masa itu??
wa ndak tau…
kenapa brobudur bisa kokoh,apa waktu itu sudh ada semen!!!?????
ada yg aneh kalo ini dibangun tahun 800 Masehi…kenapa candi borobudur menghadap simetris ke arah timur ke candi pawon dan candi mendut…?
kalo pemerintahan di sumatra punya kekuasaan di jawa, mungkin2 saja mas!
kenapa tidak!
betul….. hal itu mungkin saja terjadi, thanks sudah berkunjung dan komentar. Salam
@Sugiartiningsih97: pada saat itu beberapa catatan dan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat menunjukkan bahwa perekatan batu tidak menggunakan semen, tetapi tanah liat dicampur dengan putih telor. Thanks sudah berkunjung dan berkomentar, Salam
banyak sejarah yang menjadi kacau setelah berakhirnya Perang Diponegoro, dengan kekalahan di pihak Diponegoro maka pemerintah kolonial hinda belanda praktis menguasai sebagian besar pulau Jawa, upaya penghilangan sejarah banyak dilakukan oleh pihak penjajah
@aslibanjarnegara: sebenarnya upaya penghilangan sejarah dan artefak masa lampau, serta pembelokan kebenaran sejarah juga telah dilakukan oleh beberapa kerajaan yang memenangkan peperangan, sehingga bukan hanya pemerintah hindia belanda yang melakukan hal tersebut. Tetapi beberapa data dan catatan sejarah juga menunjukkan bahwa pemerintah belanda selain melakukan pembelokan dan penghilangan sejarah, juga melakukan pengumpulan dan recording artefak peninggalan sejarah yang penting untuk kepentingan studi dan riset mereka dikemudian hari, seperti koleksi buku babad tanah jawa, koleksi buku I LaGaloGo dari Kerajaan Bone dan Makasar, Koleksi alur pemetaan perdagangan dan penyebaran agama Islam. Btw Terima kasih atas perhatian dan masukannya, Salam.
Leave a reply