Saat hampir semua penghuni kompleks perumahanku masih terlelap dalam mimpi dihiasi selimut tebal, akhirnya saya paksakan juga untuk segera masuk kamar mandi. Walaupun airnya brrrr duinginnya minta ampun, maklum kemarin hujan seharian penuh. Setelah packing dan berkemas secukupnya akhirnya saya meluncur juga menuju tempat burung besi yang akan membawaku terbang menuju Jogja. Jogja….jogja…..jogja………. i am comming, wait for me!!!

Akhirnya burung besi yang bertugas membawaku ke kota sejuta kenangan take off tepat pukul 07.15 WIB, segera setelah melayang di udara, yang namanya mata berat banget…. susah banget untuk bisa menikmati hidangan dan sajian yang diberikan para crew….maklum tadi malam baru sempat memejamkan mata selama 2 jam.  Singkatnya tawaran empuknya kursi membuat segera masuk ke alam mimpi meneruskan mimpi yang tadi malam terputus……. soalnya mimpi enak sich…..hehehehe.

Tak terasa burung besi yang kutumpangi sudah ada pengumuman dari mas kapiten pilot….”attendance…. prepare for landing!!”, segera seluruh crew mulai sibuk memenuhi beberapa prosedur standard pendaratan. Sementara saya sendiri masih setengah tersadar…..maklum lemes banget rasanya. Akhirnya tepat pukul 08.40 WIB sang kapten berikan pengumuman kembali …… landing position!!……… sesaat kemudian si burung besi mendarat dalam kecepatan yang relatif tinggi.

Dapat ditebak si burung besi mendarat dengan keras………istilah temen di airlines bilangnya sich “hard landing“. Bisa dibayangkan betapa kagetnya saya….. dan mungkin sebagian besar penumpang lainnya. Langsung seketika itu juga mata tiba2 membesar dan membelalak……. bahkan selera untuk sekedar liyer-liyer pun langsung hilang. Kurang ajar…kutu kupret…..jancuk….bajingan dan segala sumpah serapahpun berebutan pengin loncat dari mulut……..Sumpah serapah dari penumpang lain juga menyeruak…….bahkan ada komentar yang keluarnya dari rombongan ibu-ibu (beberapa kursi di depan saya)…….Ini mas pilotnya lulusan mana yach??? , sahutan lain yang tak kalah serunya juga muncul……… Pilotnya biasa bawa bajaj kali yach…..!!! Pilotnya masih baru belajaran kali….!!!

Singkat cerita akhirnya setelah keluar dari bandara, segera kulangkahkan kaki menuju suatu tempat dimana saya akan sharing, diskusi dan berkolaborasi diantar taksi bandara yang driver-nya lumayan ramah. Sepanjang perjalanan tampak aktivitas warga Jogja di waktu pagi yang tampak tidak pernah berubah…….. semua sama seperti dulu saat delapan belas tahun yang lalu saya pernah ikut menjadi warga kota ini, selama beberapa tahun.

Jogja memang tidak pernah berubah, ……..suasana, keramahan, kehangatan dari warga dan kotanya …… semua tetap sama, walaupun perkembangan beberapa kota lain sudah sangat progressif. Jogja tetap tidak tergiur menjadi kota metropolitan yang warganya super sibuk dan individualis. Jogja tetap jogja………. kota ini dan warganya sampai sekarang masih tetap mempertahankan serta menjunjung tinggi berbagai nilai-nilai budaya, kesopanan dan keramahan. Berbeda dengan beberapa kota lain di negara Indonesia ini yang sudah banyak mengalami perubahan budaya, seiring dengan perkembangan teknologi, budaya, fashion, sikap serta pola pikir kehidupan ….yang katanya “modern“.

Saat malam hari saya berkesempatan juga untuk jalan-jalan menikmati keindahan jalan Malioboro….. (kegiatan ini terpaksa, karena harus menemani salah satu pimpinanku……..jadi ya terpaksa). Akhirnya kupaksakan juga badan yang udah capek ini menyusuri jalan Malioboro yang terkenal begitu legendaris. Menyusur jalan ini membawaku kepada kenangan ke beberapa belas tahun lalu saat menjadi warga Jogja …………. ada kenangan manis, pahit, pilu, asem, kecut, pokoknya campuran lah ……….. hehehehe.

Akhirnya kami tertarik untuk mampir di salah satu toko aksesoris kreatif khas produk Jogja. Dan benar, setelah kami masuk ke toko tersebut terpampang berbagai aneka produk aksesoris dan hiasan yang punya daya kreatifitas luar biasa. Terbayang langsung buah hatiku yang kecil begitu histeris bila melihat berbagai aksesoris….. maklum yang namanya anak cewek pasti lebih fashionable dibandingkan anakku yang cowok.

Teringat hobi anakku cewek yang mengumpulkan koleksi gelang, kalung, cincin, liontin dan berbagai aksesoris perempuan lainnya. Akhirnya kuputuskan tuk membelikan salah satu produk “perak” dari kota gede berupa kalung, gelang dan berbagai variasinya. Yach….. memang agak mahal sich, tapi ini itung-itung sebagai hadiah ulang tahunnya (seminggu yang lalu).

Kemudian teringat salah satu permintaan anakku untuk membelikan papan tempat bermain “dakon” atau congklak. Segera kulangkahkan kaki tuk berburu papan congklak, tapi ampun…………… papannya gedhe banget….. trus gimana bawanya, bisa-bisa bagasinya over weight nich…!! Akhirnya kuputuskan tuk tidak jadi membawa papan tadi…..sedih sich….!! ” Maaf ya nduk papa nggak bisa bawain papan congklak, karena nggak ada yang ukurannya kecil….semuanya gedhe, jadi susah dech bawanya..!!”.

Saat keluar toko aksesoris, aku mencoba tuk memutar pandangan, dan melihat apa yang sudah berubah dari kota ini. Ternyata hampir tidak ada perubahan suasana…… luar biasa di Malioboro kita masih bisa naik andong, naik becak…..atau bahkan berjalan-jalan menikmati indah malam. Walaupun sudah ada mall, busway (…… yang ini masih belum sempat dicoba) dan pernik pernik aktivitas ekonomi lainnya,………….. jogja tetep seperti dulu. Jogja ………….tetap ramah, menarik, ngangenin, dan membuat ingin tetap kembali menikmati suasananya, bersama dengan indahnya kenangan saat masih tinggal dan menjadi warganya.

Jogja, 20-21 November 2009