Saat bareng kumpul-kumpul di sawung bersama beberapa rekan “nonton” The Blues dan The Red yang saling baku hantam dan berjibaku di lapangan hijau tuk merebutkan mahkota dan tahta EPL, teringat tulisan Bernard Vlekke seorang sejarawan yang menulis perjalanan panjang Indonesia dalam bukunya “A History of Indonesia” (1961). Melalui buku ini pula Vlekke juga menuliskan ringkasan kitab yang sangat terkenal pada jaman Sultan Agung, yaitu “Babad Tanah Jawi” karya Mpu Prapanca yang sangat terkenal.

Menurut Vlekke “keruntuhan” kerajaan-kerajaan di wilayah Indonesia lebih banyak disebabkan karena timbulnya ketegangan dan konflik diantara mereka sendiri, seperti kerajaan Islam dan kerajaan Jawa, kerajaan nusantara lain dengan para perompak dan pelaut asal daerah lain, serta kerajaan yang berbasis maritim dengan para pelaut Eropa. Perpecahan ini mendorong Belanda (melalui VOC) untuk menjadi “penonton” dan “wasit” pada ajang pertempuran tadi, sehingga keberhasilan mereka menjajah negeri kita bukan karena keperkasaan dan kekuatan militer yang besar, tetapi lebih karena semua kerajaan yang ada saling berperang dan saling menguasai.

Belanda secara manis berperan sebagai “penonton” pada saat perang dan kekacauan mulai timbul, kemudian pada saat yang tepat menjadikan dirinya sebagai “wasit” yang sangat memihak bagi kerajaan yang menurutnya akan “menang” dalam pertempuran tersebut. Selanjutnya dapat dengan mudah ditebak bahwa kerajaan tergolong “menang” dengan kelelahan dan kehabisan tenaga dalam pertempuran besar tadi akan segera diambil alih dan dikuasai Belanda dengan dalih memberikan bantuan dan dukungan, yang kemudian akan menjadikan mereka sebagai penguasa.

Satu persatu kerajaan di Nusantara jatuh ke tangan Belanda, yang pada akhirnya adalah semakin berperannya VOC dalam mengontrol dan mengatur seluruh jalur perdagangan di wilayah ini. Tahun 1680, hampir seluruh perairan dan wilayah yang pernah dikuasai oleh Majapahit melalui Gadjah Mada-nya, berhasil direstorasi oleh Belanda, yang akhirnya menjadikan mereka sebagai “kolonial”.

Jadi bisa dibayangkan hanya dengan posisi “penonton”, apabila penonton tadi jeli dan teliti mengamati keadaan terhadap suatu “kisruh” atau “pertandingan” dalam memperebutkan satu posisi yang menurut mereka paling terhormat, maka akan tampak berbagai kelemahan dan keunggulan setiap pihak. Sehingga akan dengan mudah posisi “penonton” tadi dapat berubah menjadi “wasit” yang mungkin dapat dikatakan memihak salah satu peserta yang bertanding, atau bahkan menjadi “sekondan/pendukung” pihak yang diperkirakan akan menjadi pemenang.

Yang namanya “penonton” itu bebas, mau marah, ngomel-ngomel, ngedumel atau bahkan mencaci maki jalannya pertandingan………. penonton pasti paling nikmat, apalagi kalo sambil ngopi……… hehehehe. Nah kalo memang sudah waktunya tampil (menurut analisis “penonton”), maka dia bisa langsung berubah sesuai dengan tujuan yang ditentukannya, berminat jadi “wasit” ya tinggal masuk dalam gelanggang trus kemudian berusaha tuk menghabiskan tenaga, meningkatkan emosi, menyulut api yang sudah mulai padam dari seluruh pemain.

Kalo semua sudah mulai lelah dan mulai terlihat siapa yang kira-kira akan menjadi pemenang, tinggal si “wasit” lah yang berusaha memadamkan atau meniadakan salah satu pihak yang “kalah” dan kemudian akan mengambil peran sebagai penolong dan “pemulus jalan”. Kemudian bisa ditebak…….. langkah selanjutnya tinggal si “wasit” dengan mudah akan berganti peran sebagai apa yang diinginkan…………. mau raja, patih, atau malah komisaris beberapa kerajaan.