Penerapan proses bisnis elektronik pada perusahaan asuransi secara umum bertujuan untuk kolaborasi (collaborative work), tracking jam kerja dan waktu produksi, mendukung manajemen sumber daya manusia, otomasi pembayaran perjalanan karyawan, dan untuk penerapan e-learning (misalnya untuk tutorial atau pelatihan karyawan berbasis internet yang memungkinkan pembelajaran jarak jauh).

ti_asuransi.jpgNegara-negara berkembang relatif belum berpartisipasi nyata dalam e-insurance ini. Pengaruh efisiensi dalam penerapan teknologi e-commerce pada industri asuransi bisa dilihat dari dua perspektif. Pertama, e-commerce mungkin bisa mengurangi kebutuhan administrasi dan manajemen. Kedua, penjualan langsung ke pelanggan mungkin bisa mengurangi biaya komisi kepada perantara (misalnya untuk agen atau broker).

Lilischkis (2003) menyebutkan berbagai jenis TIK yang bisa diterapkan di perusahaan asuransi yaitu akses internet, komputer, world wide web (WWW), e-mail, Local Area Network, Intranet, Wide Area Network (WAN), extranet, dan Electronic Data Interchange (EDI).

Penggunaan e-commerce di perusahaan asuransi secara umum digunakan untuk 4 tujuan yaitu situs perusahaan resmi (official website), informasi mengenai produk asuransi melalui website, penjualan produk asuransi online, serta pengadaan (barang) secara online. Garven (2002) menyatakan bahwa penggunaan E-commerce menyebabkan perusahaan asuransi beralih dari pendekatan berorientasi produk ke pendekatan berorientasi pelanggan. Karena biaya pencarian akan menjadi murah untuk pelanggan, maka akan memunculkan semakin banyak strategi penetapan harga dan transparansi kualitas. Hal ini akan memperkuat disiplin pasar dalam lingkungan yang semakin kompetitif, yaitu dengan membuat pelanggan tidak tertarik untuk berpindah dari perusahaan asuransinya.

actormatrix.gifSemakin transparan harga asuransi selanjutnya akan memberdayakan pelanggan dan mendorong perusahaan asuransi untuk bereksperimen dengan berbagai alternatif metode penetaoan harga. Meskipun keberadaan agen dan broker konvensional semakin berkurang peranannya dalam lingkungan berbasis e-commerce, mereka akan bisa berdaptasi dan tetap bisa mengambil keuntungan.

Selain itu, melalui pengurangan biaya transaksi, e-commerce akan menyebabkan produk dan jasa asuransi menjadi lebih termediasi dibandingkan saat ini. Jadi bentuk perantara baru melalui internet akan bermunculan. E-commerce juga akan memberikan implikasi penting untuk perancangan produk asuransi yang memberikan konsumen lebih banyak fleksibilitas dalam mengelola resiko mereka.

confirmit-wheel-customer-fs-healthcare-insurance-small.gifTaylor and Cluch (2002) menyatakan bahwa distribusi layanan asuransi dan keuangan sedang mengalami perubahan dramatis melalui penggunaan teknologi internet. Banyak perusahaan asuransi saat ini sudah menggunakan website untuk memberikan informasi spesifik mengenai perusahaan dan untuk membangkitkan penjualan melalui internet. Penjualan produk asuransi secara online diperkirakan akan lebih berpengaruh untuk produk-produk yang relatif tidak kompleks (atau bersifat standar), misalnya asuransi kendaraan dibandingkan produk asuransi jiwa berjangka atau asuransi rumah yang lebih rumit.

screen13_insurance_no_browser.jpgDampak e-commerce secara umum menunjukkan bahwa perusahaan asuransi memperoleh dampak yang cukup signifikan untuk beberapa atribut kinerja. Atribut yang relatif tinggi dibandingkan lainnya adalah perubahan proses kerja, perbaikan hubungan dengan nasabah serta perubahan struktur organisasi.

Sedangkan perubahan penawaran produk asuransi serta hubungan dengan pemasok relatif lebih rendah dampaknya. Penerapan penjualan online secara umum memberikan dampak yang lebih tinggi pada peningkatan kualitas layanan konsumen, peningkatan jumlah konsumen, dan efisiensi proses internal dibandingkan dampaknya terhadap volume penjualan, cakupan wilayah penjualan, dan biaya logistik.

Adapun dampak terhadap keuangan, perusahaan asuransi yang melakukan penjualan dan layanan melalui internet akan memiliki keunggulan biaya dibandingkan perusahaan asuransi konvensional, yaitu sekitar 58% sampai 71% sepanjang hidup pelanggan. Penghematan biaya tersebut berasal dari pengurangan biaya penjualan, layanan pelanggan, dan operasional, serta upaya memperoleh informasi yang lebih baik dan murah (Allen dan Hamilton, 1997 di dalam Garven, 2002).

Sumber gambar : (http://www.hpm.org; http://www.ais.cz; http://webinterstate.com)