28
Sep
08

Don’t judge the cover “by the book”

Don’t judge the cover “by the book”
Apa ga terbalik tuh? Bukannya ‘Don’t judge the book by it’s cover’ ?

Seringkali kita melakukan segala sesuatu itu ‘by the book’
which is not bad at all
tapi kehidupan ini kan tidak selalu ‘by the book’
banyak hal yang mesti dihadapi, ditangani, ditanggapi tanpa ‘by the book’

seringkali kita menilai (judge) sesuatu ‘by the book’
kalau tidak sesuai dengan ‘what the book says’, maka nilainya buruk

tidak jarang pula kita menilai sesuatu ‘by the book’
hanya yang sesuai dengan ‘what the book says’ lah yang benar

improvisasi.. (jadi inget ‘improvise… improvise!!!)
let’s not judge the cover “by the book”


September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Badge Farm

  • Firefox 2
  • CSSEdit 2
  • Textmate
  • Powered by Redoable 1.0

3 Responses to “Don’t judge the cover “by the book””


  1. 1 hanum Sep 28th, 2008 at 11:37 pm

    Wahhh… bu dosen yang satu ini emang bener2 ‘T O P B G T’ dehhh
    Langka banget dosen yang punya pemikiran kaya gini
    Memang tidak jarang kita menemukan spesialis COVER tapi ga sepenuhnya salah juga kok, wong dilahirin begitu, hehehe.. :D :D

    Beruntunglah diberi kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi dosen dari DIKTI. Jadi makin manteb toh improvisasi diri sendiri… terutama poin keenam (KARAKTER PRIBADI DALAM BERBAGAI SITUASI DAN KONDISI) :D :D
    Ayo SEMANGAAAAT bu dosen, mari ciptakan generasi Crispina PARDEDE.. Crispina PARDEDE.. berikutnya :D :D

  2. 2 oetjock Sep 29th, 2008 at 5:30 pm

    great title, profound contemplation, well put

    this should be translated and promoted on Google or Yahoo

    compliments!

  3. 3 yolanda Sep 30th, 2008 at 7:21 pm

    betul, ada saat kita perlu berpikir praktis, tapi non-linear

    improvisasi, proses kreatif, ‘try and error’, pemikiran ‘black box’ dan sejenisnya tetap punya ‘bobot nilai’ yang udah ada dalam proses berpikir
    walau bertipe ‘cover’ seolah dilalui dengan pola praktis

    seperti juga saat seniman ekspresionis yang berkarya seolah tanpa konsep…
    (’even’ si seniman kalo ditanya ngelukis apa tuh bingung, ga tau obyeknya apa)
    tanpa disadari kadang proses itu telah tertanam dalam benak
    melatari seluruh pilihan unsur rupa yang diputuskannya…
    kadang ada proses transenden yang lekat dalam batinnya

    jadi menilai ‘cover’ ataupun ‘the book’ akhirnya tergantung saat mana dan dalam konteks apa kita menilai

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image




Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.