Don’t judge the cover “by the book”
Apa ga terbalik tuh? Bukannya ‘Don’t judge the book by it’s cover’ ?
Seringkali kita melakukan segala sesuatu itu ‘by the book’
which is not bad at all
tapi kehidupan ini kan tidak selalu ‘by the book’
banyak hal yang mesti dihadapi, ditangani, ditanggapi tanpa ‘by the book’
seringkali kita menilai (judge) sesuatu ‘by the book’
kalau tidak sesuai dengan ‘what the book says’, maka nilainya buruk
tidak jarang pula kita menilai sesuatu ‘by the book’
hanya yang sesuai dengan ‘what the book says’ lah yang benar
improvisasi.. (jadi inget ‘improvise… improvise!!!)
let’s not judge the cover “by the book”





Wahhh… bu dosen yang satu ini emang bener2 ‘T O P B G T’ dehhh
Langka banget dosen yang punya pemikiran kaya gini
Memang tidak jarang kita menemukan spesialis COVER tapi ga sepenuhnya salah juga kok, wong dilahirin begitu, hehehe..
Beruntunglah diberi kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi dosen dari DIKTI. Jadi makin manteb toh improvisasi diri sendiri… terutama poin keenam (KARAKTER PRIBADI DALAM BERBAGAI SITUASI DAN KONDISI)

Ayo SEMANGAAAAT bu dosen, mari ciptakan generasi Crispina PARDEDE.. Crispina PARDEDE.. berikutnya
great title, profound contemplation, well put
this should be translated and promoted on Google or Yahoo
compliments!
betul, ada saat kita perlu berpikir praktis, tapi non-linear
improvisasi, proses kreatif, ‘try and error’, pemikiran ‘black box’ dan sejenisnya tetap punya ‘bobot nilai’ yang udah ada dalam proses berpikir
walau bertipe ‘cover’ seolah dilalui dengan pola praktis
seperti juga saat seniman ekspresionis yang berkarya seolah tanpa konsep…
(’even’ si seniman kalo ditanya ngelukis apa tuh bingung, ga tau obyeknya apa)
tanpa disadari kadang proses itu telah tertanam dalam benak
melatari seluruh pilihan unsur rupa yang diputuskannya…
kadang ada proses transenden yang lekat dalam batinnya
jadi menilai ‘cover’ ataupun ‘the book’ akhirnya tergantung saat mana dan dalam konteks apa kita menilai