02
Sep
08

Sauna…. Let’s Pray

Akhirnya dapat juga kesempatan mengajar di Kampus J….
Kalau dulu, paling tinggi mengajar di ruang kelas di lantai 3, sekarang bisa merasakan mengajar di ruang kelas di lantai 5 dan lantai 4, dengan pemandangan jalan tol dan pelataran parkir ruko yang saya belum tahu namanya.
Mahasiswa terlihat antusias, mungkin karena untuk beberapa di antara mereka, hari ini adalah hari pertama kuliah di semester yang baru… penting untuk disemangati.

Sesi pagi berjalan lancar, jam pertama masih sejuk, jam kedua masih sejuk jam ketiga mulai hangat…. ruang kelasnya maksudnya :)
maklum ruangan pertama (di lantai lima) yang kami gunakan tidak dilengkapi alat pendingin ruangan. Yang ada hanya sebuah kipas angin elektrik ukuran biasa yang ditempelkan di dinding tidak jauh dari pintu masuk dan berseberangan dengan jendela. UNTUNG… jendelanya bisa dibuka sehingga udara masih bisa bergerak dan ruangan tidak terasa terlalu panas.
Sesi pertama berjalan lancar, hingga kuliah selesai, para mahasiswa masih terlihat happy dan segar.

Sesi kedua, dimulai sekitar jam 12.00, di lantai empat, di sebuah ruangan yang dilengkapi alat pendingin udara yang diletakkan di dinding, di atas jendela mati. Jendela MATI = Jendela yang TIDAK BISA dibuka. Hati ini terasa riang, karena berpikir bahwa sesi kedua akan saya lalui dengan penuh kesejukan. Setelah mempersilahkan para pemuda pemudi harapan bangsa menempati tempat duduk masing-masing, saya pun menutup pintu dengan harapan ruangan akan cepat menjadi dingin…. Ternyata OH ternyata, alih-alih menjadi sejuk… ruangan menjadi semakin hangat dan akhirnya panas. Belum pernah saya merasakan bagai berada di dalam stopless kedap udara seperti ini. Para mahasiswa pun semakin gencar mengibaskan benda apa saja yang bisa digunakan untuk mengipasi diri masing-masing… JENDELA MATI… membuat udara tidak bergerak.. akhirnya pintu terpaksa dibuka kembali, dan kami belajar.. -saya mengajar dan mahasiswa belajar sampil berkipas- dengan ditingkahi suara-suara dari luar ruangan yang tidak kalah serunya jika dibandingkan suara saya sendiri Apakah ruangan menjadi sejuk?? TENTU TIDAK… ruang kelas tetap terasa panas dan bising pula… Sesi kedua berlangsung terus… saya bertekad, udara panas itu tidak boleh mengganggu jalannya kuliah, tapi saya tidak tega melihat wajah para mahasiswa yang semakin memerah, bahkan ada yang agak menghitam karena memang warna dasarnya hitam, karena kepanasan….
Sesi kedua berhasil kami akhiri sesuai jadwal, dan saya meninggalkan ruangan dengan berkeringat .. sampai-sampai saya bertanya sendiri.. tadi tuh saya mengajar atau doing sauna bath ????

Belum kering keringat yang saya dapat dari sesi dua, saya harus melanjutkan sesi ketiga. Kembali ke ruangan yang di lantai empat tadi…. Jendela yang terbuka lebar-lebar, kipas angin yang berputar tanpa henti, tidak bisa mengalahkan suhu ruangan yang terlanjur naik. Kembali kami lalui sesi tiga dalam suasana hangat (baca:panas)… untung mahasiswa masih terpukau oleh suara saya yang mulai habis karena sebelumnya sudah mengajar 6 jam pelajaran, sehingga hati ini terhibur. Di ruang kelas yang terakhir ini, wajah para mahasiswa tidak semerah mahasiswa yang saya ajar pada sesi kedua… dan mereka tidak berkipas-kipas… mungkin sudah terbiasa :D :D tapi tidak sedikit mahasiswa yang berkeringat sampai menetes-netes … Kami pun mennyelesaikan sesi ketiga ini dengan bersimbah keringat…

Kesimpulan di ujung hari ???
Saya kagum juga pada anak-anak itu. Mereka tetap semangat belajar dalam suasana seperti itu.
Keterbatasan semacam ini tidak menjadi halangan..
Namun…ini baru hari pertama di awal semester… masih ada sekian hari lagi yang mesti dilalui dengan suasana seperti tadi.
Saya cuma bisa berdoa dalam hati,
semoga keadaan akan menjadi jauh lebih baik (maksudnya.. pendingin ruangannya segera diperbaiki)
semoga kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung dalam suasana yang sejuk.. (semua ruang kelas dipasangi pendingin ruangan yang berfungsi dengan baik…)
semoga para mahasiswa tetap punya semangat belajar yang MEMBARA meskipun nanti ruangannya sudah dingiiiin sekali :D
semoga banyak yang berdoa supaya cepat terkabul harapan ini…
Berdoa…. mulai


September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Badge Farm

  • Firefox 2
  • CSSEdit 2
  • Textmate
  • Powered by Redoable 1.0

3 Responses to “Sauna…. Let’s Pray”


  1. 1 ati Sep 3rd, 2008 at 10:24 am

    Kalau yang mengajar Bu Pardede, cuaca panas atau dingin, pasti mahasiswa tetap semangat!
    How an inspiring lecture, gitu…

  2. 2 hanum Sep 4th, 2008 at 12:10 am

    Wah.. bener tuh bude, momy mah ‘T O P B G T’ daaahh.. :D
    Bukan cuma sebagai inspirator doank tapi motivator yang mampu membangkitkan semangat dan gairah orang lain terutama para mahasiswa untuk terus berjuang, belajar, berkarya, maju tak gentar, tegar melawan badai yang menerpa, mampu membuat segalanya menjadi kenyataan dan menggerakkan orang lain untuk bertindak dan tahu kapan saatnya menggunakan tekanan dan kapan saatnya tidak (tapi hampir sering memaksa :D :D ). Momy juga komunikator yang handal dan good advisor dalam berbagai sikon. Ga salah klo momy ditempatkan di Bidang Kemahasiswaan :D :D . Terlepas dari pekerjaannya di BidKem, momy adalah seorang dosen atau mentor sekaligus motor bagi progresifitas anak didik dalam pencapaian prestasi. Iya deh yg senior udah punya banyak pengalaman, wajar :D . Bahkan sering memberikan ide-ide yang briliant, momy adalah ideator yang sepatutnya dilestarikan gennya :D :D

  3. 3 Budi Utami Fahnun Sep 6th, 2008 at 2:05 pm

    Mbak vina, Bagai di dalam stopless kedap udara ya ???? Bisa bayangin, kalu bbrp mgg lagi (dah bukan bulan puasa ) 3 persen aja dari mhs yg kuliah merokok woooooooooooooowww……
    Jadi ….. selamat menikmati ya ??? (kan cuma smg sekali, kami para penghuni setiap hari nih)

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image




Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.