jump to navigation

Pasar Turi Game over ? July 29, 2007

Posted by Purnawarman Musa in : Genesis , trackback

Merupakan pusat perbelanjaan dan grosir menengah ke bawah, berlantai empat dengan fasilitas parkir yang luas. Berlokasi dekat Tugu Pahlawan Surabaya Pusat, tersedia berbagai macam barang keperluan rumah tangga, kain, kelontong, pakaian, alat-alat elektronik, keramik, peralatan pertukangan dan perbengkelan, kerajinan dan sebagainya, yang dapat dibeli baik secara partai maupun eceran. Disamping itu juga memiliki fasilitas ruang pamer yang cukup luas.

http://www.surabaya.go.id/Dari beberapa kali Ku datang ke kota Pahlawan, sejujurnya tidak pernah mengunjungi pasar turi. Januari 2006 saat tugas mengikuti training di PENS - ITS untuk ke sekian kali bersama My Nou selama sebulan tinggal di kota Surabaya. Suatu hari My Nou pengen di antar ke Pasar Turi, tapi karena hujan yang turun sepanjang hari niat berkunjung ke Pasar yang terkenal di Surabaya tak kesampaian.

Pasar turi yang tak jauh dari Tugu Monumen Pahlawan kurang lebih 300 M, sejak kebakaran 26 Juli 2007 Api pertama kali muncul di stan penjual karpet di lantai dasar. Tak ada korban jiwa. Kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Kebakaran ini merupakan peristiwa kedua terbesar setelah pasar ini ludes dalam kebakaran hebat 29 tahun silam.

Sejarah Pasar Turi, Dari Lapangan ke Pasar Grosir

Kebakaran Pasar Turi saat ini adalah peristiwa yang ketiga kalinya dalam perjalanan sebuah pasar legendaris ini. Kebakaran pertama terjadi pada 1950, sementara yang kedua pada 1978.

Menurut sejumlah sumber tertulis, Pasar Turi pada pascakemerdekaan berupa bangunan dengan sistem los satu lantai. Bangunan ini yang terbakar pada 1950, dan didirikan kembali dengan wujud yang sama.

Pada 1970-an Pasar Turi dibangun modern, menjadi dua blok barat dan timur. Namun belum genap 10 tahun pada 1978 Pasar Turi sisi timur terbakar. Sedangkan bangunan sisi barat barat utuh. Pada 1981, pemkot membangun lagi Pasar Turi sisi timur dengan kontraktor PT Sinar Galaxi. Pembangunannya dilakukan bertahap. Kali ini api kembali ngamuk di gedung yang dibangun tahun 1981 itu, di lokasi yang sama saat kebakaran 1978.

Kapan Pasar Turi berdiri, tidak ada catatan tepat tentang hari lahir pasar ini. Namun sampai tahun-tahun awal pascakemerdekaan, pasar ini hanya dipandang sebelah mata. Belanda tidak pernah membangun Pasar Turi semegah Pasar Pabean atau Pasar Tunjungan kala itu. Dokumentasi foto tahun 1920 terlihat Pasar Turi hanya berupa bangunan los dan kios satu lantai dengan pintu yang diapit dua gerbang kotak bergaya art deco.

Sebelum 1900, Pasar Turi sekadar pasar kampung kebanyakan yang berdiri persis di luar tembok kota yang saat ini menjadi Jl Indrapura. Pasar ini terabaikan karena berada di luar lalu lintas perdagangan, yaitu Sungai Kalimas. Ini berbeda dengan pasar-pasar lain di Surabaya yang pada masa kolonial berkembang karena bertumpu pada Kalimas. Di antaranya Pasar Pabean, Pasar Buah Peneleh, Pasar Gentengkali, Pasar Besar atau Pasar Glap, Pasar Keputran, hingga Pasar Wonokromo.

Pasar Turi pada 1900-an sekadar tempat kumpulan pedagang musiman di tanah lapang yang banyak ditumbuhi pohon Turi. Pasar Turi tersohor bukan karena deganganya, namun sebagai penanda tempat di Doepak Timur. Hingga 1900-an pasarnya tetap merana, namun lapangan itulah yang lebih tersohor.

Lapangan Pasar Turi itu resminya adalah tempat olahraga footbaal. Di dalamnya, tercatat pernah menjadi ajang pameran besar. Perhelatan paling legendaris di lapangan Pasar Turi adalah hadirnya pesawat udara bermotor pertama di dunia, Antoinette, pada Sabtu, 18 Maret 1911. Pesawat canggih di zamannya ini dipertontonkan dalam pameran dirgantara.

Pada 1930-an berdiri bangunan pasar permanen, Pasar Turi semakin sibuk, seiring meredupnya fungsi Kalimas. Lokasinya yang strategis di ujung rel dan jalur luar kota menjadikan tempat berkumpul masyarakat beragam etnis. Kesibukan komunitas pedagang yang khas Pasar Turi juga pernah ditulis dalam reportase jurnalistik pada 28 Januari 1939.

Yang menulis adalah jurnalis pejuang, Kwee Thiam Tjing (Tjamboek Berduri) 1900-1974 di koran Pewarta Soerabaia. Judulnya adalah Pasar Toeri Conversatie alias Percakapan Pasar Turi.

Sumber : Harian Pagi Surya Minggu, 29 Juli 2007

Comments»

1. Nav Online - August 13, 2007

informasi yang menarik, Trims.

2. Purnawarman Musa - December 1, 2009

@nav,

Sama2. n thanks ya


*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.