Anak-anak zaman sekarang mulai mengenal komputer dan menerima pembelajaran komputer sejak SD. Sayangnya para pengajar atau penyusun materi ajar komputer untuk anak-anak, sering tidak sadar meracuni mereka yang masih kecil dan bersih jiwanya ini dengan racun yang namanya pembajakan perangkat lunak. Secara tidak sadar kita menyusupkan suatu pemahaman salah ke alam bawah sadar mereka, bahwa memakai program bajakan itu sah-sah saja. Baru kita obati setelah penyakit itu sudah kronis dan mendarah daging. Dan obat itu sangat pahit yang bernama sweeping, atau migrasi dadakan karena sudah terjepit harga lisensi yang harus dibayar.
Padahal seharusnya kita sebagai pendidik sadar atas situasi konyol itu. Sebab mengajari etika dalam penggunaan teknologi komputer itu sangat penting daripada sekedar mengajari ketrampilan mengoperasikan perangkat lunak. Memperbaiki kesalahan pemahaman tentang pembajakan atau HAKI ini jauh lebih sulit daripada mengganti perangkat lunak yang biasa digunakan. Kita ingin memberikan pendidikan yang humanis (penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan) tapi mengapa soal etika dan aspek legal dalam pengajaran komputer di tingkat usia dini sangat diabaikan?
Kita paham, sulit rasanya orang tua merogoh kantong membeli perangkat lunak sistem operasi yang asli. Siapa yang mau mengeluarkan uang lebih dari 300 ribu untuk beli software ? Belum ditambah harga perangkat lunak untuk permainan edukatif itu. Siapa yang mampu sesungguhnya ? Begitu juga sekolah, daripada beli lisensi perangkat lunak, mungkin sebaiknya dananya digunakan untuk menaikkan gaji para gurunya saja, atau membeli buku.
Bagi para pendidik yang ingin melepaskan diri dari belenggu penyakit kronis pembajakan ini, tentu ingin mencari program pengganti yang dapat digunakan. Sesungguhnya banyak program Open Source yang dapat digunakan untuk mengajari komputer anak-anak hanya mungkin kurang informasi atau malas mengubah kebiasaan saja. Pada prinsipnya dalam memperkenalkan komputer ke anak-anak, yang diutamakan adalah anak-anak belajar konsep komputasi dan pemecahan masalah secara logis dan algoritmis misal dengan menggunakan komputer. Mereka tidak perlu atau malah tidak cocok kalau harus belajar program yang biasa digunakan orang dewasa (yang sebetulnya digunakan untuk lingkungan kantoran). Mungkin masih ingat dengan bahasa pemrograman LOGO yang digunakan untuk anak-anak. Di sinilah kesalah kaprahan yang juga terjadi dalam pengajaran perangkat lunak ke anak SD di Indonesia.
Berikut ini beberapa perangkat lunak permainan edukatif yang bersifat Open Source. Cocok mulai dari anak usia pra TK. Permainan ini saya cobakan ke Madhava sejalan dengan perkembangan usianya. Dia cukup menikmati untuk bermain dengan permainan tersebut. Permainan itu antara lain :
Pysycache [http://www.pysycache.org/], permainan ini sangat simpel karena ditujukan untuk anak-anak pra TK untuk mengenal bagaimana mengoperasikan mouse, keyboard sembari bermain. Pada permainan ini terdiri dari berbagai aktifitas sederhana misal puzzle, mencari obyek dan sebagainya. Si kecil dengan cepat dapat memahami permainan ini dan sibuk dengan permainan ini. Bahkan Anda dapat mengubah atau memodifikasi permainan ini dengan mudah. Si kecil sibuk bermain, ortu juga sibuk mengubah permanian ini. Permainan komputer jangan sampai digunakan sebagai substitusi orang tua, sebaiknya malah dimanfaatkan sebagai perekat antara si kecil dan orang tua. Permainan ini memberikan kesempatan itu.
Gcompris [http://gcompris.net/], permainaln edukatif ini terdiri dari beberapa akfititas yang ditujukan untuk anak usia 2 hingga 10 tahun. Beberapa aktifitas ini berupa permainan tetapi memiliki nilai edukasi. Dari permainan yang memperkenalkan komponen komputer,belajar matematika, belajar ilmu alam, belajar cara kerja mesin sederhana, bermain musik, peta buta, bermain ingatan, belajar membaca jam, juga bermain catur. dan sudo serta program misal untuk menggambar membuat kartun. Karena program ini tersedia bebas termasuk source codenya, banyak orang tua, guru-guru dan dosen yang turut aktif mengembangkan permainan dan menyumbangkan aktifitas. Hingga saat ini sudah mencapai 100 aktifitas.
Karena tersedia source codenya, maka Anda dapat menyesuaikan dengan kebutuhan Anda, gambar latar belakang, suara dalam bahasa Indonesia (nikmati efek yang dihasilkan ketika si kecil mendengar permainan itu menggunakan suara orang tuanya), dan sebagainya. Jadi bukan saja si kecil yang bermain, Anda pun dapat bermain dengan source code program ini.
Childsplay [http://childsplay.sourceforge.net/], ini mirip seperti Gcompris. Tetapi diprogram tidak dengan C/C++ dan lingkungan Gnome, tetapi menggunakan pustaka SDL sehingga memudahkan penanganan animasi yang mulis dan suara. Permainan ini memiliki plug-in yang dapat digunakan untuk menambah permainan (seperti aktifitas di gcompris). Diprogram menggunakan python, sehingga mudah bila orang tua atau guru ingin melakukan modifikasi permainan ini. Walau jumlah aktifitas belum sebanyak gcompris tetapi menuliskan aktitifitas tambahan di childsplay tidak sesulit gcompris.
Bila Anda sudah mulai mengenalkan pemrograman, maka pilihan untuk itu adalah Squeak [http://www.squeak.org] yang merupakan lingkungan pemrograman berbasiskan Smalltalk (lingkungan OOP lengkap pertama). Squeak ini telah dikembangkan dan juga menjadi Etoys [http://www.squeaklang.org] yang digunakan untuk mengajari pemrograman anak-anak SD di luar negeri. Negara tetangga Singapura telah menggunakannya di SD. Tidak heran Squeak ini memiliki fondasi yang kuat, karena dikembangkan oleh Alan Kay.
Tentu saja masih berlimpah ruah permainan anak-anak yang bersifat bebas dan legal. Baik permainan yang untuk sekedar bersenang-senang (termasuk semacam flight simulator atau seperti sim city) atau permainan eduakatif. Pilihannya hanya di kita, para orang tua dan pengajar. Ingin bermunafik ria, meracuni anak-anak kita. Atau mulai memperkenalkan permainan yang tidak melanggar legalitas dan etika. Sekali lagi anak-anak adalah masa depan bangsa. Bila dari kecil sudah biasa berkorupsi (mencuri hak orang lain dalam hal ini HAKI), maka ketika sudah besar, korupsi adalah hal yang biasa.
Univ. Gunadarma dapat berperan secara aktif, memperkenalkan cara belajar komputer yang baik dan benar. Bukan saja dari aspek teknis tapi juga non teknis yaitu etika dan legalitas. Bila pada akhir 80-an para guru sering menerima pelatihan oleh Univ. Gunadarma (jauh sebelum ramai-ramainya IT untuk pendidikan di Indonesia), mungkin sekarang saat yang tepat bagi Univ. Gunadarma untuk melakukan koreksi kesalah-kaprahan pengajaran komputer di tingkat SD yang mengabaikan aspek HAKI.
14 Responses
bheta
May 4th, 2007 at 3:47 pm
1Thanks, danke sehr mas informasinya.
Soalnya Nashwa lagi seneng2nya nih dengan gambar dan mewarnai.
Kalau ada software2 pendidikan untuk anak tk kasih tahu ya mas
-bheta agus-
axireaxi
May 10th, 2007 at 11:20 am
2untuk pelajar SMP/SMA, saya buatkan tulisan “Free software untuk KBM Abad 21″
http://axireaxi.wordpress.com/2007/05/02/free-software-untuk-kbm-abad-21-13/
mungkin bpk bisa menambahkan yg lain?
thanx
Conan
June 1st, 2007 at 11:39 am
3ada lagi ga situs lainnya yg berhubungan dengan komputer n anak??
Dyan Blog
July 11th, 2007 at 4:48 pm
4[...] tersedia di internet. Berikut ini referensi permainan edukatif yang saya kutip dari http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/mwiryana/2007/05/04/jangan-racuni-anak-anak/ [...]
Jack
July 26th, 2007 at 7:44 pm
5Sebenarnya pola pikir anda itu terlalu dini, karena untuk anak2 mana tahu arti pembajakan dan lain sebagainya, yg mereka tahu yg namanya komputer itu ya begitu, tanpa mereka harus tahu berapa harga perangkat keras dan perangkat lunaknya.
Apakah apabila anak2 meminum susu, sebelumnya mereka harus tahu apakah susu itu didapat dengan cara halal atau tidak?. Jadi kita harus bisa membedakan mana yang anak perlu tahu dan mana yang tidak. Kita sebagai orang tua harus bisa menyikapinya dengan bijak.
mwiryana
August 14th, 2007 at 1:12 am
6Justru karena masih anak anak dan muda, jangan dibiasakan dengan sesuatu yang salah. Konsep menghairgai karya orang lain harus ditanamkan sedini mungkin. Sama halnya dengan kebiasaan kita mengajarkan ke anak-anak terhadap larangan mencuri.
Bedanya larangan mencuri yang biasa kita berikan adalah terhadap obyek fisik, sedangkan larangan membajak terhadap obyek yang bersifat non fisik. Intinya tetap, menghargai milik orang lain.
Lain halnya kalau hal itu tidak dianggap penting.
Ghozan Yuk Sinau…. :: Jangan racuni anak-anak! :: August :: 2007
August 27th, 2007 at 11:22 am
7[...] Sumber: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/mwiryana/2007/05/04/jangan-racuni-anak-anak/ [...]
adjie
March 14th, 2008 at 1:49 pm
8Bli, ada version untuk MAC nya kagak heheheh
epi
April 10th, 2008 at 6:43 pm
9Aku setuju kalau kita mesti mengajarkan konsep menghargai karya orang lain sejak dini, hanya saja contohnya dipakai yang lebih sederhana, bukan tentang software ori atau bajakan
Btw, mainan2nya beda dengan jaman aku kecil dulu. Brarti ntar kalau jadi ibu mesti ngerti game-game begini yaa, hehhehe…
yogi
July 13th, 2008 at 2:16 pm
10Menurut saya penulis terlalu melebih2kan dgn menggunakan kata-kata ‘meracuni’. Maksud saya, kalau mau memberi info, beri saja DENGAN TULUS, tidak perlu ditambahi kata2 meracuni untuk mereka yang menggunakan software bajakan. Toh software bajakannya juga mereka beli (membeli bajakan? :-))
Thx anyway infonya.
mwiryana
July 15th, 2008 at 4:35 am
11Memberi info setulusnya berarti memberi info secara lengkap tanpa menutup-nutupi. Bila hal itu memang meracuni (karena membiarkan hal salah dianggap tetap baik secara tidak sadar), itu baru yang tidak TULUS.
Bajakan adalah bajakan, yang dibayar adalah CD nya alias medianya.
igoldedu
March 9th, 2009 at 4:26 pm
12Kontroversi antara software bajakan memang menjadi polemik berkepanjangan di negeri ini. Indonesia menduduki peringkat yang membanggakan dalam bidang bajak software, suatu cara kreatif yang tidak layak dipuji walau dilakukan dalam posisi terjepit.
Anak memang tidak memahami apa itu bajakan atau bukan, namun yang mereka tahu adalah bagaimana manfaatnya bagi mereka.
untuk masalah bajakan atau tidak, seharusnya orang tua mulai menyadari hal tersebut dan berusaha semampunya untuk memberikan yang terbaik, kalopun memang yang ada hanya software bajakan, ya mo gimana lagi.. tapi secara perlahan-lahan harus diganti dengan yang free atau bisa beli (kalo mampu), tapi kalo ada yang opensource seperti yang ada blog ini, so.. tidak ada alasan lagi untuk menggunakan yang bajakan.. hee.. terima kasih
cheer
April 12th, 2009 at 10:04 am
13menurut saya yang penting orangtuanya harus belajar dulu yang benar ,ini ada ebook bagus bagi para orangtua yang baru punya bayi ,belajar jadi ortu yang baik yaa…
http://www.bayikusukses.com
dennyhalim.com
June 17th, 2009 at 7:53 am
14numpang promo nih:
ada livecd namanya kidSUSE dirancang khusus buat anak2.
100% gratis, free, asli dan bukan bajakan.
silakan download dan kasih masukan kalo ada masalah:
http://wiki.dennyhalim.com/opensuse-minimal-desktop
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
Leave a reply
Categories
Archives
Links
Meta
Calendar
Lamunan di Gunadarma is proudly powered by WordPress - BloggingPro theme by: Design Disease