DR. M.A. MUKHYI BLOG
Universitas Gunadarma Staff Blog

November 13th, 2010

Menantang Gado-Gado Menjadi Francise Ala KFC

Posted in Uncategorized by mukhyi

Memang bila menilik dari judul di atas kayaknya tak mungkin dan ada-ada aja dan kayaknya mustahil bin mustahal. Dari hal yang mustahil akan menjadi kebenaran, mengapa tidak?

Kita sebagai bangsa yang besar tentunya akan bangga dengan kondisi yang kita miliki, bukan berarti muka tembok. ini adalah sesuatu yang riil, seperti apa yang dikatakan oleh Ciputra bahwa bagaimana menciptakan rongsokan menjadi emas. yang sudah terbukti dengan pemikiran dari Ciputra ini adalah orang-orang madura dengan bisnis rongsokan bisa menjadi jutawan, tapi apa yang akan saya sampaikan ini adalah lebih dari itu. Bagaimana kita menghasilkan produk lokalan menjadi produk global seperti yang lagi rama saat ini yaitu SEVENTEN, KFC, ataupun lainnya. Saya punya cita-cita bagaimana makanan kita yang bernama Gado-Gado menjadi satu jenis makakan yang mengglobal, usaha kecil yang menuju pangsa pasar dunia yang didasari cita rasa budaya bangsa Indonesia.

Saya meminta mahasiswa saya untuk membuat ide gila yang memang gila salah satunya yang ditulis oleh mahasiswa saya Drs Iing Suhari Wirjasondjaya, dengan ide Gado-gado yang mengglobal.

Akibat krisis ekonomi yang kita rasakan bersama sejak tahun 1997/1998 yagn lalu yang meruntuhkan dan meratakan ekonomi Indonesia seperti Merapai yang meluluh rantakan kampungnya mbah Marijan termasuk mbah Marijan dan kurang lebih ada ratusan jiwa yang melayang, wedus gembel menyerang siapa saja yang tidak mau bergerak, itu ibarat kita yang diluluh-lantakan oleh badai krisis. krisis ekonomi yang dialami Indonesia menjadi krisis muldimensi. Walaupun Indonesia sebelum krisis mendapat julukan Macan Asia tapi setelah krisis menjadi Macan Ompong, semuanya lenyap dengan wedus gembel yang disebut reformasi. UNDP pada tahun 2003 melaporkan bahwa Human Development Indexs (HDI) Indonesia berada di peringkat 112 yang tergolong pada negara yang baru lepas dari kolonialisme. Internasional Institue Management Development melaporkan bahwa daya saing Indonesia berada pada peringkat 49 . Transparansi International  pada tahun 2002 menempatkan Indonesia berada pada peringkat 7 negara terkorup dengan indeks korupsi 1,9 .

Kenyataan yang kita alami tentunya harus membuka mata lebar-lebar bukannya harus menghambakan diri pada Negara lain, Yang Mulia, yang Mulia, karena yang mulia adalah yang menciptakan dunia ini, yang menciptakan kita semua, (nggak tahu apakah ini digolongkan bid-ah dalam Islam) hal ini bisa kita bisa melihat:

1. Runtuhnya kerangka dasar atau infrastruktur perekonomian yang dibangun dengan susah payak dan dengan penuh berjuangan sejak orde baru (1969) hingga memasuki Pelita VI yang merupakan kerangka tinggal landas, tapi kenyataannya tinggal bundas.

2. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan dunia usaha tanah air yang semakin rontoh dan lebih menyukai produk-produk luar yang relatif lebih baik dan lebih murah.

3. Perekonomian yang semakin tidak menentu arah dan sasarannya, sebab tidak terprogram dalam suatu kesinambungan seperti GBHN, Pelita dan Repelita. Semuanya dirubah dengan metode Trial and Error dan kasus by kasus.

4. Daya saing perekonomian yang rendah, karena bingung harus bagaimana karena setiap kegiatan dan aktivitas ada biaya yang tidak jelas.

5. Ekonomi biaya tinggi membuat harga produk dalam negeri tidak mampu bersaing, inflasi yang tetap tinggi, kemiskinan yang terus bertambah (mungkin prosentasi kemiskinan berkurang, tapi itu bukan keberhasilan yang perlu dibanggakan, sebab riilnya masyarakat tambah miskin).

6. Kreativitas masyarakat didunia usaha masih terkungkung oleh hiruk-pikuk pertentangan politik, sehingga sulit muncul ide-ide baru sebagai inovasi kecuali yang jelek-jelek (masyarakat pengin harga murah dan bisa membeli) seperti kasus ayam tiren, penggunaan bahan-bahan pewarna untuk makanan, sepritus menjadi minuman yang menghangatkan plus olesan obat nyamuk.

Gado-gado adalah makanan ciri khas masyarakat kita sejak dulu kala dan hampir semua daerah di Indonesia mengembangkan budaya makanan ini secara turun-menurun. Gado-gado adalah jenis makanan yang terbuat dari sekumpulan sayur-sayuran, rempah-rempah, kacang dan bumbu-bumbu lainnya dengan selera daerah masing-masing. Kita punya jenis-jenis makanan gado-gado, seperti gado-gado Parahiyangan Bandung; gado-gado Maleber Kuningan, gado-gado atau lotek madiun, gado-gado Surabaya, gado-gado Tegalan, gado-gado Banyuwangi, lotek Yogyakarta, lotek Solo, gado-gado semarang, gado-gado Betawi, gado-gado Cirebonan dan masih banyak lagi jenis gado-gado yang pada dasar dan intinya sama, tapi ditambah dengan kreasi masing-masing daerah.

Jangan kita berpikir tidak bisa dan mustahil dapat diterima di dunia internasional, lahirnya suatu ide atau gagasan harus dilandasi rasa optimism yang kuat. Seperti apa yang tertulis bahwa cita-cita adalah soal sederhana, tetapi sebagian besar penduduk bumi paling malas memastikan cita-citanya (Philip E Humebert).

Bambang Suharno dalam bukunya Langkah jitu memulai bisnis dari nol menuliskan bahwa

a. Kecil adalah modal untuk menjadi besar.

b. Kalah adalah modal untuk menjadi menang

c. Gagal adalah modal untuk menjadi sukses

Calvin Coolidge mengatakan bahwa keuntungan yang besar dari bisnis kecil adalah bisning bangsa Amerika. Yang penting bagi Indonesia adalah ada keyakinan bahwa ini bisa terwujud, karena dibalik resiko pasti ada opportunity yang bisa diraih, asalkan kita optimis belajar dari apa yang kita lakukan sekarang.

Yang perlu dicermati adalah tantangan perekonomian yang kini terjadi di level global serta pemahaman yang baik mengenai berbagai aspek konsumen global. Jika konsumen global sudah dipahami dengan baik, maka bukan tidak mungkin dalam kurun waktu beberapa tahun lagi kita akan melihat semakin banyak merek-merek Indonesia yang populer di seluruh dunia (http://andrewiwanto.wordpress.com/2009/05/28/merek-asli-indonesia-yang-go-international/).

Tiap daerah dapat menampilkan keunikan masing-masing dan harus percaya diri untuk dapat berkarya dengan bebas, tapi tetap harus memiliki konsep yang kuat. Konsep kuat dari gado-gado bahwa semuanya berbahan dasar dari hayati dan ini sesuai dengan prinsip orang luar negeri yang back to nature. “Menjadi diri sendiri menjadi penting. Terlihat beda dan unik dalam menghasilkan sebuah karya modifikasi merupakan keharusan, seperti apa yang dilakukan oleh franchiser MC.Donall dengan mengganti daging sapi dengan daging ayam untuk bisa masuk ke India. Gado-gado sangat mungkin untuk menyesuaikan dengan budaya, selera dan rasa dari tiap-tiap daerah yang dituju. Ini tidak menutup kemungkinan ini bisa terwujudkan.

Makanan Indonesia gado-gado - yang disajikan Paula Astrid Unu, juru masak Indonesia berhasil meraih juara satu pada kategori tampilan sajian estetika pada Lomba Masak Internasional (Liotorale Flegreo Nel Mondo) 2010, yang digelar di Napoli, Italia, Rabu (28/7).

Penilaian dilakukan dua kali yaitu pada sesi pagi oleh dewan juri yang dipimpin Ketua Asosiasi Juru Masak wilayah Campagnia, Italia Gaetano Riccio, guna menilai proses pembuatan makanan dari berbagai negara peserta mulai dari rasa, teknik dan tampilannya.

Menurut Musurifun Lajawa, adapun penilaian kedua dilakukan pada sesi malam oleh sedikitnya 300 tamu undangan, yang memberikan penilaian (voting) sambil menikmati makanan eksotis dari berbagai negara peserta dalam suasana santai dan akrab.

Sebelumnya Indonesia memperoleh penghargaan Litorale Flegreo Nel Mondo 2010, yang diterima Dubes RI untuk Italia, Mohamad Oemar pada acara resepsi dihadiri kalangan diplomatik, pejabat pemerintah dan dunia usaha di Napoli.

Dicuplik dari

http://www.forumkami.com/forum/berita/53136-gado-gado-juara-1-lomba-internasional.html

Presiden AS Barack Obama yang akan berkunjung ke Indonesia pada bulan Maret

disebut-sebut akan menyempatkan diri ke tempat masa kecilnya, termasuk mengunjungi tempatnya bersekolah di SDN Menteng 1 Jakarta Pusat atau yang biasa disebut SD Basuki. Barry, panggilan akrab Obama kecil, mungkin juga akan melampiaskan kangennya kepada masakan khas Indonesia, salah satunya gado-gado.

Soal Obama yang kangen “gado-gado” tersebut dikemukakan Dr Farid Husain, salah seorang warga Indonesia yang pernah mengobrol dengan Obama. Dr. Farid bertemu Obama ketika masih menjadi senator Illinois, Amerika Serikat (AS) di pertemuan National Prayer Breakfast di Washingthon D.C. pada Minggu 1 Januari 2007. Saat itu Farid diundang mantan Presiden AS George W Bush. National Prayer Breakfast adalah acara jamuan makan setiap tahun yang dihadiri Presiden dan Kabinet, Senat, Gubernur, Wartawan dan pemerhati perdamaian.

Farid diundang karena perhatian seriusnya dalam perdamaian seperti ikut andil dalam perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dan (GAM) dan pemerintah, konflik Poso dan Thailand Selatan.Menurut Farid, saat itu seseorang berbicara kepadanya sambil menunjuk Obama. “Dia calon Presiden AS yang akan datang dan juga pernah tinggal di Indonesia.”

Farid lalu menyapa Obama dalam bahasa Indonesia dan Obama menjawab pula dengan bahasa Indonesia. “Saya Farid dari Indonesia” yang dijawab Obama dengan “Apa Kabar”.

“Saya jawab, baik, Anda tidak rindu dengan Indonesia? dan dia menjawab ‘jelas’, Saya kangen dengan Gado-gado,” kata Farid yang kini menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI.Pertemuan itu memberi kesan pada Farid bahwa Obama sosok yang bersahaja dan santun dalam percakapan dan perbuatan. “Kesan pertama saya dia biasa menerima sapaan orang, terbuka dan walaupun tidak lancar ia masih bisa berbicara bahasa Indonesia,” katanya.Farid juga menilai Obama bisa membuat orang mengedepankan budi pekerti dan tidak bertindak “bagai kacang lupa kulit”. “Obama juga adalah sosok negarawan, dan negarawan adalah seseorang yang bisa mendengarkan orang lain dan bisa menempatkan pembicaraan pada tempatnya,” katanya.

Dr. Farid Husain adalah seorang dokter bedah, dia bukan diplomat tetapi banyak berkiprah dalam perdamaian. Farid menjadi kepercayaan wakil presiden (saat itu) Jusuf Kalla sebagai penengah beberapa konflik, seperti proses perdamaian Aceh di Helsinki, Finlandia. Dr. Farid Husain juga meluncurkan buku berjudul To See The Unseen - Kisah di Balik Damai di Aceh pada Rabu, 18 April 200, di Jakarta. (http://www.forumkami.com/forum/berita/36669-obama-kangen-gado-gado-indonesia.html)

Oleh Drs. Iing Suhari Wirjasondjaja dan M.A. Mukhyi

November 13th, 2010

Obama dan Ekonomi Indonesia

Posted in Uncategorized by mukhyi

Mendengar dan melihat gaya bicara Obama di kampus UI Depok beberapa waktu yang lalu membuat terkesima semua orang termasuk mahasiswa yang hadir di situ dan dengan gemuruhnya sorak-sorai ama yang diucapkan oleh Obama. Tapi semuanya jadi lupa dan mahasiswa jadi adem, kok gayung yang sebelumnya gegap gempita menolak kedatangannya jadi terlupakan karena mendengar kata sate, baso, emping, pulang kampung dan sebagainya.

Butir-butir kerjasama ekonomi Indonesia dengan Amerika kayaknya susah untuk ditembus Indonesia masuk ke pasaran Amerika, dan omongan Obama hanya menguntungkan buat mereka (Amerika) karena memandang bahwa Indonesia adalah pasar potensial mereka untuk jualan mereka di sini. untuk kita jualan disana kayaknya agak susah, karena :

1. ekonom dan industri Indonesia masih high cost dan belum efisien.

2. adanya peraturan tak tertulis dari Amerika, bahwa masalash ham dan penggunaan bahan-bahan berbahaya dengan standar ganda.

3. masalah politik dan hukum yang masih di bawa-bawa.

4. masalah langit biru yang harus dipenuhi produk kita, sedang mereka yang merusak langit biru (program kerusakan alam).

5. serta peraturan-peratuan lain yang mereka berusaha untuk melindungi industri dalam negerinya.

Semuanya ini adalah retorika dan saya setuju beberapa pakar komunikasi dan diskusi yang diadakan di TVone bahwa yang diucapkan Obama tidak tulus.

Saya sayangkan kepada bangsa kita yang besar dan mempunyai nilai strategis serta punya bergaining yang kuat, kok masih mengecilkan dan mengkerdilkan diri, dengan mengucapkan yang MULIA padahal kita sama dan sederajat, sayang sekali dan sungguh sangat disesalkan penghambaan kita kepada Amerika. Disebelah mata bahwa telah datang terlebih dahulu Presiden Austria dan jajarannya, penyambutan dan gempitanya kalah padahal Austria bawa misi yang perlu ditanggapi.

Banyak orang mengatakan bahwa Obama datang ke Indonesia hanya ingin menikmati baso dan nasi goreng aja sebelum melanjutkan ke Korea, kalau di ibaratkan kita istirahat di rest area jalan tol. sangat kecil keuntungannya buat Indonesia.

November 11th, 2010

Dosa lan Pangapura

Posted in Uncategorized by mukhyi

DOSA iku sakabehing tumindak lan pamikir kang cengkah karo angger-angger, utamane angger-anggering agama. Tindak kriminal kayadene nyolong, korupsi, milara wong liya, iku uga kalebu dosa. Sakabehing tindak kang ora becik: gawe sengsarane wong liya, ngrekasakake wong liya, gawe susah lan nglarakake atine wong liya, iku klebu dosa.

Keh-kehane dosa sing ora arupa pelanggaran hukum, ora dadi urusane hukum. Selingkuh, ngenyek utawa nyepelekake wong liya, ngrasani alane wong liya, kawi asring ora dadi urusane hukum. Dosa kang arupa tindak kriminal iku klebu dosa kang gedhe sing satemene sanksine ora mung awujud sanksi hukum,ananging uga sanksi karohanen.

Narapidana wis nindakake paukumane lan wis metu saka pakunjaran, durung mesthi sing resik utawa kalis saka dosa-dosane. Sanksi agama iku ora mung ditampa ana donya, nanging uga ana akhirat, manungsa percaya menawa sakabehing tidak ala iku senajan ora konangan utawa kasumurupan wong liya, mesthi ana undhuh-undhuhane. Sapa sing nandur bakal ngunduh.

Ana tetembungan: Gusti Allah iku ora sare, dadi tumindak lan osiking pikire manungsa iku tansah kapirsan. Dadi sanajan ora kena sanksi hukum, sakabehing tumindak iku ana akibate. Mula ana unen-unen: ngunduh wohing pakarti. Sakabehing pakarti ala lan becik iku ana undhuh-unduhane, bisa ana donya, bisa ana akhirat, bisa uga ditamapa atawa disandang dening anak putune.

Nanging kapercayan ngano mau ana sing nganggep mung kayadene mitos, mula ya akeh sing padha ara percaya. Tindak culika ya banjur ngambra-ambra, perkara, ukuman ana ndonya lan ana akhirat wis ora digubris.

Gusti Allah iku Maha Pengampun, mulane yen manungsa wis ngakoni sakabehing dosa lan kaluputane sarta wis mertobat ora bakal gawe dosa maneh, mesthine ya pinaringan pangapura. Pangapura saka lembaga yudikatif awujud pembebasan saka lapas, sawise nglakoni paukuaman lan mbayar dendha kaya kang kasebutake ing vonise hakim.

Yen dosa mau magepokan karo sesambungan ing antarane wong siji lan sijine, pangapura iku kudu kawenehake kanthi eklas de¨ning wong sing ketaman tindak kang era becik mau. Gusti Allah ora kersa paring pangapura menawa wong sing ketaman mau durung aweh pangapura. Mula wong sing rumangsa wis tumindak era becik kudu ngakoni kaluputane lan wani njaluk pangapura. Yen wis oleh pangapura, sesambungan ing antarane sing tumindak luput lan sing ketaman wis bali resik maneh.

Apura-ingapura iku perlu murih hubungan silaturahmi ing antaraning warga masyarakat tansah becik. Njaluk pangapura lan aweh pangapura iku perlu dikantheni kesadharan lan ketulusan. Kanthi mangkono, apura-ingapura iku ora mung dhapur “upacara”, nanging uga bisa kanggo nglatih kadiwasaning batin lan gawe salaras utawa harmonising masyarakat, satemah bisa nyambut gawe bebarengan kanthi becik.
(Dening Soedjarwo/CN27)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2010/09/11/509/Dosa-lan-Pangapura

November 11th, 2010

Dosa lan Pangapura

Posted in Uncategorized by mukhyi

DOSA iku sakabehing tumindak lan pamikir kang cengkah karo angger-angger, utamane angger-anggering agama. Tindak kriminal kayadene nyolong, korupsi, milara wong liya, iku uga kalebu dosa. Sakabehing tindak kang ora becik: gawe sengsarane wong liya, ngrekasakake wong liya, gawe susah lan nglarakake atine wong liya, iku klebu dosa.

Keh-kehane dosa sing ora arupa pelanggaran hukum, ora dadi urusane hukum. Selingkuh, ngenyek utawa nyepelekake wong liya, ngrasani alane wong liya, kawi asring ora dadi urusane hukum. Dosa kang arupa tindak kriminal iku klebu dosa kang gedhe sing satemene sanksine ora mung awujud sanksi hukum,ananging uga sanksi karohanen.

Narapidana wis nindakake paukumane lan wis metu saka pakunjaran, durung mesthi sing resik utawa kalis saka dosa-dosane. Sanksi agama iku ora mung ditampa ana donya, nanging uga ana akhirat, manungsa percaya menawa sakabehing tidak ala iku senajan ora konangan utawa kasumurupan wong liya, mesthi ana undhuh-undhuhane. Sapa sing nandur bakal ngunduh.

Ana tetembungan: Gusti Allah iku ora sare, dadi tumindak lan osiking pikire manungsa iku tansah kapirsan. Dadi sanajan ora kena sanksi hukum, sakabehing tumindak iku ana akibate. Mula ana unen-unen: ngunduh wohing pakarti. Sakabehing pakarti ala lan becik iku ana undhuh-unduhane, bisa ana donya, bisa ana akhirat, bisa uga ditamapa atawa disandang dening anak putune.

Nanging kapercayan ngano mau ana sing nganggep mung kayadene mitos, mula ya akeh sing padha ara percaya. Tindak culika ya banjur ngambra-ambra, perkara, ukuman ana ndonya lan ana akhirat wis ora digubris.

Gusti Allah iku Maha Pengampun, mulane yen manungsa wis ngakoni sakabehing dosa lan kaluputane sarta wis mertobat ora bakal gawe dosa maneh, mesthine ya pinaringan pangapura. Pangapura saka lembaga yudikatif awujud pembebasan saka lapas, sawise nglakoni paukuaman lan mbayar dendha kaya kang kasebutake ing vonise hakim.

Yen dosa mau magepokan karo sesambungan ing antarane wong siji lan sijine, pangapura iku kudu kawenehake kanthi eklas de¨ning wong sing ketaman tindak kang era becik mau. Gusti Allah ora kersa paring pangapura menawa wong sing ketaman mau durung aweh pangapura. Mula wong sing rumangsa wis tumindak era becik kudu ngakoni kaluputane lan wani njaluk pangapura. Yen wis oleh pangapura, sesambungan ing antarane sing tumindak luput lan sing ketaman wis bali resik maneh.

Apura-ingapura iku perlu murih hubungan silaturahmi ing antaraning warga masyarakat tansah becik. Njaluk pangapura lan aweh pangapura iku perlu dikantheni kesadharan lan ketulusan. Kanthi mangkono, apura-ingapura iku ora mung dhapur “upacara”, nanging uga bisa kanggo nglatih kadiwasaning batin lan gawe salaras utawa harmonising masyarakat, satemah bisa nyambut gawe bebarengan kanthi becik.
(Dening Soedjarwo/CN27)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2010/09/11/509/Dosa-lan-Pangapura

April 9th, 2010

Jaka Tingkir dan Mitos Kuasa Jawa

Posted in Uncategorized by mukhyi

Pamomong
29 Nopember 2009 | 20:35 wib
Oleh Munawir Aziz

image

DALAM historiografi kuasa Jawa, kisah Jaka Tingkir jadi gerbang untuk memandang relasi dan perselingkuhan politik Jawa zaman keraton. Jaka Tingkir merupakan simpul kuasa dalam ruang imajinasi manusia Jawa. Kisah Jaka Tingkir tak bisa lepas dari kecerdikan politik, strategi perang, dan relasi diplomatik.

Kisah penguasa Pajang ini juga jadi refleksi untuk membaca Indonesia masa kini. Pada masa kehadiran Jaka Tingkir dalam ruang kuasa Jawa, banyak hal yang mencerminkan Indonesia kini. Konflik, sengketa, genealogi korupsi, praktik rekayasa dan kompetisi antar elite menjadi lambaran untuk mengeja Indonesia di tengah kemelut hukum dan skandal politik.
Ruang kuasa Jaka Tingkir jadi patokan untuk melihat wajah kuasa Jawa pada masa sekarang. Kisah raja Pajang ini hadir untuk terus memberi pernyataan dan pertanyaan terhadap mitos penguasa Jawa. Jejak kepemimpinan Jaka Tingkir juga dihadirkan untuk memberi pentahbisan kuasa formal raja dan presiden di tanah Jawa.
Beberapa penguasa, elite politik hingga presiden, menganggap Jaka Tingkir adalah cermin model kuasa Jawa yang pernah moncer. Nasab Jaka Tingkir juga memberi arah untuk melahirkan pemimpin di ruang politik, agama dan budaya. Darah kepemimpinan Jaka Tingkir menyebar ke pelbagai penjuru melalui keturunan yang sah dan elite yang mengaku sebagai pewarisnya. Legitimasi sebagai keturunan Jaka Tingkir masih ampuh untuk memperkuat benteng kepemimpinan dalam ruang imajinasi dan kesadaran manusia Jawa. Kharisma Jaka Tingkir masih bersemayam dalam ilmu dan laku manusia Jawa, meski telah mangkat berabad-abad lamanya.
Relasi Kuasa
Telah banyak ulasan tentang nasab Jaka Tingkir, namun terkesan sumir. Model kepemimpinan politik Jaka Tingkir membuka ruang penghambaan yang bersandar pada kepercayaan manusia Jawa. Ketika telah mencintai, wong Jawa rela mati untuk mendukung pemimpinnya. Jaka Tingkir berjejak dalam historiografi kerajaan Jawa-Dwipa, namun ia terus dihidupkan dalam ruang imajinasi manusia Jawa.
Dalam studi Slamet Muljana (2005) yang melacak jejak kuasa Hindu dan Islam di Jawa, Jaka Tingkir jadi bab penting yang membuka pembahasan terhadap silsilah, perselingkuhan politik dan hasrat kuasa raja Jawa. Slamet Muljana lewat Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara mengungkap, Jaka Tingkir adalah putra Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging, cucu bupati Jayaningrat di Pengging. Jayaningrat adalah bupati bekas wilayah kerajaan Majapahit di Pengging di daerah Surakarta dan menantu raja Majapahit prabu Wikramawardhana.
Jaka Tingkir diberinama Mas Karebet, karena ia lahir pada saat Ki Ageng Pengging sedang menanggap wayang Beber, dipungut oleh Nyi Janda Tingkir, bekas istri Ki Ageng Tingkir. Sebagai saudara sepupu Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir punya ikatan emosional kuat. Keduanya adalah murid Syeh Siti Jenar (2005: 245).
Karier politik Jaka Tingkir bermula di Kerajaan Demak. Ia jadi pembesar bawahan yang penting dalam jejak kuasa Islam Demak. Slamet Muljana dalam studi Babad Tanah Jawi, Jaka Tingkir juga berperan menyingkirkan Arya Penangsang. Ketika Arya Penangsang membunuh Sunan Prawoto dan Pangeran Kalinyamat, dendam mengendap dalam diri Ratu Kalinyamat. Jaka Tingkir menyanggupi tawaran Ratu Kalinyamat untuk membalas dendam terhadap Arya Penangsang. Namun tak semata dendam, Jaka Tingkir juga tak rela dengan kesewenangan Arya Penangsang. Dengan bantuan Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Martani dan Sutawijaya (Ngabehi Loring Pasar), Arya Penangsang Jipang dapat disingkirkan.
Atas keberhasilan itu, Jaka Tingkir mendapat hadiah wilayah Pajang dan beberapa titik lain. Jaka Tingkir memberi tanah Mataram pada Ki Ageng Pemanahan, yang dibantu Ki Juru Martani dan Sutawijaya. Sedangkan Ki Ageng Penjawi berhak mengelola wilayah Pati sebagai tanah perdikan.
Setelah Demak runtuh, Jaka Tingkir menjadi penguasa kerajaan Pajang. Ia mendapat legitimasi dari kiai Jawa dan relasi elite dari ayahnya, Ki Ageng Pengging. Jaka Tingkir menjadikan Pajang sebagai kerajaan disegani di tanah Jawa. Namun, posisi di pedalaman menjadikan ruang kuasa Pajang terbatas. Kerajaan Pajang merupakan titik terbenamnya pesona maritim dan turunnya legitimasi kuasa Jawa di pesisiran. Pajang jadi penanda kerajaan Jawa dengan dominasi pertanian, karena tak punya bandar dagang untuk membuka akses dengan wilayah lain melalui laut Jawa.
Periode kuasa Jaka Tingkir juga mengabarkan tentang jejaring kuasa Mataram pimpinan Sutawijaya, pengganti Ki Ageng Pemanahan. Mataram dan Pajang era Jaka Tingkir mengalami ketegangan, meski tak pecah perang. Jaka Tingkir mangkat setelah wurung (tak jadi) menyerbu Mataram pada 1582. Pajang jadi wilayah kuasa Sutawiya, setelah memuaskan dendam Pangeran Banawa atas Adipati Demak. Jejak Pajang-Mataram sampai dengan ekspansi ke Madiun, Surabaya, wilayah Kedu, Pekalongan dan pesisir timur.
Titisan Pengging
Nama besar Jaka Tingkir dan kerajaan Pajang merupakan refleksi terhadap relasi Islam-kuasa Jawa. Legitimasi sebagai keturunan Jaka Tingkir sering dipakai untuk menuntaskan diri sebagai pewaris sah trah pemimpin Jawa. Jejak legitimasi ini jadi pusaka untuk menempatkan diri dengan model kepemimpinan kuasa elite Jawa.
Namun, yang sering luput dari imajinasi manusia Jawa adalah jejak Ki Ageng Pengging (Kebo Kenanga) dalam diri Jaka Tingkir. Ki Ageng Pengging tak hanya mengalirkan darah, namun juga membekas dalam visi dan laku Jaka Tingkir.
Nancy K Florida, dalam studi terhadap Babad Jaka Tingkir, mengungkapkan peran Kebo Kenanga sebagai penting dalam pembangkitan kekuatan pinggiran. Dalam Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang (2003: 424-429), Nancy menganggit: ‘’Ki Ageng Pengging sebagai sosok ‘ketidakdapatditentukan’, berada di luar kategori pilihan antar alternatif-alternatif seperti: luar versus dalam, jiwa versus raga, kuasa duniawi/ politis versus kuasa spiritual. Ki Ageng Pengging adalah sosok pinggiran yang melawan keterpinggiran. Dalam Babad Jaka Tingkir, Ki Ageng Pengging adalah seorang kiai pesantren yang juga, di bawah permukaan, seorang pangeran. Namun, dia adalah pangeran yang menolak cara hidup, busana dan bahasa istana,’’ tulis Nancy.
Pembahasan Jaka Tingkir sering melalui Demak, Pajang dan Mataram, namun melupakan Pengging. Ki Ageng Pengging punya peran substansial dalam diri Pangeran Adiwijaya. Jaka Tingkir jadi titisan Kebo Kenanga yang menjadi simpul kebangkitan kekuatan piggiran dalam stratifikasi kuasa Jawa. Jaka Tingkir terus menghidupi dan dihidupi oleh imaji manusia Jawa. Jejak kuasa Jaka Tingkir disepuh sebagai legitimasi kepemimpinan Jawa modern. Namun, legitimasi ini sering mereduksi model kepemimpinan Jaka Tingkir. Goenawan Mohamad (2003) dalam ‘’Paradigma Pengging’’, berujar: ‘’dari gambaran Babad Jaka Tingkir, takhta tak sendirinya berkaitan dengan, atau mencerminkan, tata’’. Sudahkah relasi takhta dan tata berjalan linier dalam ruang kuasa dewasa ini? (35)
(Munawir Aziz, esais dan peneliti, lahir di Pati, Jawa Tengah/)

March 25th, 2010

Ironis

Posted in Uncategorized by mukhyi

sungguh ironis dan dunia kayaknya tidak adil seorang gayus dengan lulusan dari stan dan golongan IIIA bergaji 12,1 juta rupiah per bulan, seorang profesor dengan sekolah yang susah dan harus memberikan laporan yang menjlimet serta berbagai aturan hanya menerima kuran dari 15 juta rupiah per bulan?
pertanyaannya apasih keunggulan dari gayus dengan seorang profesor?
mari kita renungi bersama, dimana keadilan buat kita-kita yang menyandang sebagai seorang guru dan dosen?
saya tidak protes hanya berguman kok bisa?

March 25th, 2010

Mobil Murah dari GM

Posted in Uncategorized by mukhyi

pada suatu berita bahwa GM akan mengeluarkan mobil murah untuk negara-negara ketiga (berkembang dan miskin) yang harganya hemat…..saya tidak tahun hematnya dimana?
sesandainya ini bisa terjual tentunya laku untuk Indonesia, makin tambah parahlah jalan-jalan kita, mobil mahalpun ke beli apalagi mobil murah dan hemat…..
tentunya ini akan baik lagi kalau dibuat jalan tol yang murah dan hemat juga sehingga tidak memenuhi jalan-jalan non tol……

March 23rd, 2010

Diuji Pintere, Ditaker Jujure

Posted in Uncategorized by mukhyi

UJIAN iku mung srana kanggo mapanake dhiri lan nggayuh tataran tinamtu. Dudu tujuan. Sebab, yen mung dadi tujuan, sakabehing rekadaya bakal ditempuh, anggere bisa dianggep pinter utawa prigel. Banjur, apa sing paling penting jroning pendadaran?

Ing jagad pakeliran, ana lakon Pendadaran Siswa Sokalima. Iki lakon sing nyritakake pendadaran tumrap para Kurawa lan Pandhawa, murid-muride Pandhita Drona ing Paguron Sokalima.

Tumrap murid-muride, malah tumrap sapa wae, Drona kondhang minangka gurune sok sing kepingin nggayuh jaya kawijayan guna kasantikan. Klebu guru ing bab menthang langkap utawa manah.

Beda karo guru-guru liyane, Drona kepetung guru spesialis ing bab murid. Muride mung para satriya, mung anak ratu. Kurawa anak ratu, Dhestarata. Pandhawa uga anak ratu, Pandhu, sing wis murud ing kasidan jati. Saliyane kuwi, ora bisa ditampa minangka putra siswane.

Wektu-wektu tinamtu, Drona nganakake pendadaran. Pendadaran kuwi kanggo nodhi, nganti tekan sepira temene ngelmu sing wis diparingake marang muride bisa kajiwa-kasarira, uga nganti tekan sepira keprigelane murid-muride anggone ngudi ngelmu.

Pendadaran mau, sing kaprah diarani Pendadaran Siswa Sokalima, ora mung narik kawigatene murid-murid lan kulawargane, nanging nganti tumeka para kawula salaladan Ngastina. Saben-saben dianakake pendadaran, ora sethithik sing padha teka lan nonton.

Njajagi Kekuwatan

Mesthi wae, tumrap murid-muride Drona, pendadaran mau mujudake ajang kanggo nuduhake marang sapa wae manawa anggone ngudi ngelmu ing Sokalima mau temen-temen. Kejaba iku, amarga Pandhawa lan Kurawa mujudake pihak loro sing padha memungsuhan, sisan gawe pendadaran bisa kanggo ngukur sepira kekuwatane lawan.

Saliyane kuwi, senajan ora kegolong satriya Pandhawa lan Kurawa, tetep wae ana sing kepingin melu nyecep ngalmu lan pendadaran ing Sokalima. Contone Palgunadi lan Basukarna.

Ing bab keprigelan, kurang apa Basukarna. Ing bab menthang gendhewa, kejaba Arjuna, sapa sing bisa nandhingi ketitisane Suryaputra. Nanging amarga dudu klebu Pandhawa, apa maneh Kurawa, ditampik pasuwitane minangka siswa ing Sokalima. Kepara tekane ing Pendadaran Siswa Sokalima rada diece dening Pandhawa, luwih-luwih Arjuna sing rumangsa meri merga ana wong sing bisa nandhingi kabisane.

Duryudana, meruhi keprigelane Basukarna, ngerti manawa mau mujudake dununge pengarep-arep kanggo nandhingi Arjuna, mengkone yen campuh Baratayuda. Didhaku, direngkuh Basukarna minangka kadang pribadi dening Duryudana. Kanthi mangkono, putrane Dewi Kunthi mau bisa lungguh padha endheke lan ngadeg padha dhuwure karo Pandhawa lan Kurawa.

Yen ditandhingake karo Karna, Palgunadi bisa diarani kurang ”mujur”. Ora bisa manjing siswa ing Sokalima, dheweke banjur yasa pepethan rupa Pandhita Drona. Esuk, awan, sore, prasasat ora eling wayah, Palgunadi tansah gladhen olah kridhaning perang, luwih-liwih njemparing, kanthi ditunggoni pepethan mau.

***

Pranyata sing ditindakake Palgunadi dudu tanpa asil. Keprigalene menthang langkap adoh sungsate yen ditandhinge para Pandhawa sing prasasat bisane mung tura-turu lan mblendhukake weteng amarga olehe padha mogel ilate. Ditandhingake karo Pandhawa wae, Palgunadi isih pilih tandhing, klebu karo Arjuna pisan.

Iku bola-bali sing marakake Arjuna meri lan gething keburu sengit. Ngerti kabisane Palgunadi, marang Drona, panengahe Pandhawa  mau banjur protes. Dheweke ora trima yen Palgunadi diweleg ngelmu manah nganti bisa ngluwihi dheweke.

Senajan Drona selak, Arjuna tetep ngangseg. Mula Drona uga ora bisa endha. Marang Palgunadi, Pandita Drona banjur mundhut supaya diulungake ali-ali sing wis nunggal raga karo ragane. Rumangsa minangka ìsiswaî sing tuhu bekti marang gurune, Palgunadi sendika wae. Ali-ali dicopot, bareng karo tugel drijine Palgunadi, pecat uga nyawane.

Temen Tinemu

”Sapa temen, bakal tinemu.” Yen diwerdeni gegeyutan karo ujian lan ngudi ngelmu, sok sapa sing temen-temen nggegulang marang kawruh, mesthi bakal sugih ngelmu. Sok sapa sregep anggone gladhen, mesthi bakal nduwe keprigelan. Sok sapa wani ngengurangi, ngringkihake laire, mesthi bakal sentosa batine.

Iki uga laras karo tetembungan kang ana ing tembang pocung: ngelmu iku kelakone kanthi laku. Tanpa laku, sengara bakal kelakon ngregem ngelmu. Lan maneh, lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.

***

Beda karo Kurawa umume, Pandhawa relatif luwih sregep lan luwih kuwat laku prihatine. Wulang wuruke guru digatekake. Kabeh dhawuhe Drona disendikani.
Dene Kurawa, ora mung kurang nggatekake marang wuruke guru. Sing kudune wong nggayuh ngelmu iku tansah diuji ing bab kesabaran, luwih-luwih ing bab ”dhahar lan guling”.

Ujian pancen ngemu godha. Nalika tapa ing Gunung Indrakila, tekane widadari cacah patang puluh ora kanggo nguja Arjanu. Nanging tekane widadari ayu-ayu iku kanggo nggodha sang abagus supaya cabar wigar tapane. Jebul Arjuna tan mingkuh salwiring kewuh, ora gampang kegiwang dening lambe abang nalika lagi nggenturaker tapani. Kabeh mau dianggep minangka uji, dudu uja; minangka panodhi, dudu bebungah sing lagi teka. Mula pantes yen banjur keparengan kanugrahan arupa Pasopati saka kadewatan.

Ing Sokalima, bisa wae Arjuna ingaranan ora kasil kanthi wutuh. Sebab, ing kana, ngadhepi Basukarna lan luwih-luwih Palgunadi, dheweke pancen bisa nuduhake pintere lan prigele, nanging dudu jujure. Pancen, ujian ora mujudake tujuan. Ujian mung dadi srana lan cara kanggo tujuan sing luwih mulya. Jroning ujian, bisa wae bakal ditaker onjone kepinteran lan keprigelan. Nanging luwih saka iku, ora mung kandheg ing kepinteran lan keprigelan wae. Sebab yen mung kanggo mburu perkara loro mau, mesthine cara apa wae bisa ditempuh, dalan apa wae bakal diliwati.

Hakikate ujian pancen mujudake coba. Coba tumrap sing duji lan sing nguji, malah klebu sing ana ing omah. Mulane uga banjur melu prihatin, melu-melu ngengurangi.

Diuji kuwi ditodhi. Diuji kuwi dicoba, sepira kekuwatane, ditaker sepira kasantosane. Ya sentosa laire, ya sentosa batine. Lire prigel, pikere pinter, nanging jiwane uga tansah kesinungan kejujuran.(35)

—Sucipto Hadi Purnomo, dosen Basa lan Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang(Unnes)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2010/03/21/489/Diuji-Pintere-Ditaker-Jujure

August 24th, 2009

Paten……

Posted in Uncategorized by mukhyi

sudah sering kita dengar bahwa milik kita sering diambil oleh tetangga negara kita yang notabene masih satu rumpun… mulai dari lagu, tari sampai rendang bahkan bukan itu saja, sewaktu saya berkunjung ke negara jiran, bahkan permainan-permainan pada waktu saya kecil sudah diberi label malaysia….. itu baru yang kecil-kecil dan banyak lagi…. terus gimana?

Saya kira kita harus arif dan mulai berbenah diri….. kenapa kita punya kekayaan kebudayaan, adat, kuliner dan sebagainya kok tidak kita pelihara dan kita bikinkan patennya, sehingga kita tidak kecolongan lagi…. pemerintahlah yang seharusnya bertanggung jawab baik pusat maupun daerah yang punya gawe…..daripada duit dibuang-buang untuk acara seremonial yang begitu besar kan lebih berfaedah untuk mematenkan kekayaan kita. dan ini harus dilakukan secara bertahap… kita sudah kalah dan sudah kasep… coba ukiran, batik, itu sudah milik siapa???? (barang kali ada yang tahu patennya). kasihlah diskon buat warga kita yang punya keunikan dan aset yang perlu dilindungi dengan paten. masak kita mau mematenkan milik kita kok mahal… sehingga orang malas… giliran diambil orang kita marah-marah…

cobalah pemerintah memberikan peluang dan kelonggoran untuk kekayaan-kekayaan yang kita miliki dengan biaya yang murahlah kalau bisa gratis……

August 24th, 2009

tantangan buat teman-teman di ekonomi

Posted in Uncategorized by mukhyi

memang pelatihan yang diadakan oleh program PHK-3 sudah selesai, tapi harapan-dan harapan untuk kemajuan penelitian di fakultas ekonomi lebih khususon di program studi manajemen belum nampak bahkan kayaknya pelatihan is pelatihan, hasil nol… karena tugas yang dimintakan oleh Ketua Pelaksana Program PHK-A3 tidak berjalan…. gimana bos… kayaknya stimulusnya kurang kali?

Harapannya sih dari pelatihan yang diadakan kemarin baik yang diberikan oleh Dr. Asep Juarna dan Dr. Lana Sularto bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda….. tapi memang hasilnya berbeda dari yang diharapkan…  alias masak harus tak gendong-gendong…..

OK saya tidak bosan-bosannya mengajak teman-teman untuk memperdalam keahlian dibidang penelitian, kata Pak Dr. Eri Prasetyo kalau dosen gak melakukan penelitian maka belum jadi dosen….. (maaf pak pernyataannya saya ambil).

sekali lagi ku tunggu karya-karyamu nak……

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.