jump to navigation

Negeri Banjir April 4, 2010

Posted by mohiqbal in : kisah telapak , 2comments

Negeri banjir
TuanSUFI

Dulu banjir tidak punya banyak arti ;

Di daerah muara dapat banjir kiriman dari daerah dataran lebih tinggi.
Di daerah hulu dapat banjir karena pepohonan sudah di tebang.
Di perumahan orang kampung dekat bendungan kena banjir tumpahan bendungan yang penuh.
Di pinggir laut, banjir gelombang pasang badai el nino.

Tapi kini banjir telah bertransformasi ;

Di jalan raya, banjir kendaraan roda dua.
Di pasar-pasar tua, banjir kebakaran karena listrik yang terhubung singkat.
Di mall terkenal, banjir pembeli sendal karet.
Di pasar tradisional, banjir barang-barang murah dari cina.
Di situs jejaring sosial, banjir personal ‘narsis’ serta cela-celaan antara grup yang pro dan kontra.
Di forum-forum diskusi internet, banjir ‘thread’ sampah tak jelas lagi mana yang benar, mana yang dusta.
Di media massa, banjir fitnah dan opini.

Kini banjir juga mengisi setiap kejadian ;

Setiap ada keburukan, banjir kecaman.
Setiap ada kebaikan, banjir publikasi untuk pencitraan.
Setiap ada tudingan, para pejabat banjir ‘curhatan’.
Setiap pemilihan pemimpin, banjir poster dan serangan fajar.
Setiap rakyat kesusahan, banjir kunjungan dari penguasa.
Setiap hampir akhir tahun anggaran, banjir pejabat studi banding.

Dan banjir pun menjadi gaya hidup ;

Di rekening pegawai rendah, banjir uang hasil korupsi pajak.
Di wajah dua janda pahlawan, banjir air mata saat dituntut pidana.
Di kejuaraan piala Asia, wakil negara banjir gol tak diterbendung.
Di stadion tanah air, banjir batu dan senjata tajam para pendukung kesebelasan.
Di depan universitas terkemuka, banjir amukan mahasiswa yang berkelahi.
Di gunadarma, banjir handphone dan notebook terkini….

Banjir menyisakan pertanyaan sangat besar. Mengapa dari sekian banyak banjir yang menimpa negara tercinta ini, tidak banyak yang bermakna positif ?

Nb. kecuali yang digunadarma :))

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.