Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara


Beberapa waktu lalu kutemukan sebuah novel tergeletak di atas meja teman kerjaku. Negeri 5 Menara judul dari novel tersebut. Judul novel tersebut ibarat magis yang menarikku untuk mengetahui isinya. Ternyata benar kata para ahli di bidang tulis-menulis bahwa judul dari sebuah tulisan harus “eye catching”. Menurutku judulnya tidak saja eye caching tapi juga “heart catching”. Aku memang penggemar berat novel. Aku ingat sapaan temanku beberapa waktu lalu saat aku sedang membaca novel “New Moon” (novel best seller dunia karangan Stephenie Meyer yang akhirnya disajikan dalam layar lebar sebagai sekuel dari twilight), dia katakan “kok betah membaca cerita yang tidak ada gambarnya?”. Lalu aku menjawab “oh membaca buku cerita merupakan salah satu cara aku refreshing (disamping nonton film dan mendengarkan musik), sekalipun tanpa gambar Aku penasaran ingin membaca novel tersebut walaupun yang empunya tidak ada. Tiga bab pertama aku baca, yang punya akhirnya muncul lalu aku katakan sepertinya novel yang dia punya bagus. Dia katakana bahwa dia belum membacanya. Lalu dia bilang kalau aku tertarik untuk membacanya, maka dia akan pinjamkan setelah dia membaca.

Hari Jumat minggu lalu, sahabatku memintaku untuk mengantar ke Gramedia. Tanpa pikir panjang aku setuju untuk mengantarnya. Buku yang dicari sahabatku ternyata tidak ada di Gramedia, maka kami putuskan untuk mencarinya di toko buku di Detos. Tanpa sengaja aku temukan novel yang ingin aku baca, Negeri 5 Menara, sementara sahabatku mencari buku yang diinginkan. Rasa penasaranku mengalahkan rasa kesabaranku (karena sampai minggu lalu temanku belum meminjamkan, mungkin karena kami juga jarang bertemu walaupun satu ruangan), akhirnya aku beli juga novel tersebut. Harganya tidak mahal hanya 50.000 rupiah dipotong diskon 20% jadi aku hanya membayar 40.000 rupiah. Lumayan untuk membayar rasa kangenku untuk membaca novel yang akhir-akhir ini sudah tidak aku lakukan lagi.

Cukup 4 jam saja aku selesaikan membaca novel tersebut. Wah ternyata tidak rugi membeli novel tersebut. Ceritanya bagus membangkitkan semangat untuk maju. Novel tersebut menceritakan bagaimana kehidupan murid setingkat SMA kelas 1 hingga lulus (4 tahun) di Pondok pesantren, yang setelah aku baca pada halaman depan ternyata Pondok Modern Gontor (karena aku biasa melewatkan bagian depan langsung ke bab 1). Novel itu bercerita secara detil mengenai kehidupan hari perhari muridnya mulai dari jam 4.00 - 22.00. Aku terkesima dengan moto “man jadda wajada” yang menjadi magis dari novel tersebut. Lagi-lagi aku dapat pelajaran berharga dari membaca novel karangan A. Fuadi, pria kelahiran Bayur, Danau Maninjau. Menilik latar belakang penulis novel ternyata beliau lulusan hubungan internasional, UNPAD, yang pada tahun 1982 mendapat beasiswa Fullbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Tahun 2004, beliau mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film documenter.

Alur ceritanya enak dibaca. Gambaran suuasana dilukiskan dengan detil, sehingga saat membaca novel tersebut seolah-olah aku ikut ada di dalamnya. Pada bab satu sudah bisa aku tebak kalau beliau dapat melukiskan dengan detil setiap adegan dalam hidup beliau (karena novel ini sebenarnya adalah kisah hidup beliau dengan para sahabatnya). Terbukti dalam bab 1 beliau menggambarkan bagaimana suasana musim dingin di Washington DC pada sore hari. Satu hal lagi yang mungkin aku bisa buktikan dalam pekerjaanku sehari-hari yakni ikhlas. Ikhlas untuk mengajar dan diajar, ikhlas untuk dipimpin dan memimpin. (tembus langsung ke otak dan hatiku). “Dua ibu jariku aku angkat” sebagai apresiasi dari novel ini setelah membacanya.

Leave a reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.