karami Blog

Pengalaman pribadi: Satu Kunci Menghadapi ‘NII’

May 4th, 2011 by karami


Maraknya pemberitaan NII di media seharusnya dibaca sebagai suatu keadaan yang sudah sangat mengkhawatirkan, bukan sebaliknya dianggap sebagai sesuatu yang seolah-olah baru saja mengemuka. Saya punya pengalaman pribadi tentang bagaimana mencegah penyebaran NII yang waktu itu salah satu calon korbannya adalah saudara saya sendiri.

Beberapa tahun lalu,  ponakan yang tinggalnya di rumah saya hampir terjerumus. Dia sempat diajak berdiskusi (didekati) beberapa kali oleh orang-orang  yang sangat aktif, yang tujuannya adalah mengajak masuk ke kelompoknya. Bahkan suatu saat ponakan minta ijin, bahwa teman-teman itu akan datang ke rumah, saya dengan senang hati mempersilakan.

Pas kelompok mereka mau datang, saya sudah siapkan langkah-langkah yang tujuannya untuk ‘ngemove’ mereka. Kebetulan di komplek saya setiap tamu yg datang harus lapor ke SATPAM, maka kondisi ini saya manfaatkan untuk bekerjasama. Saya pesan sama SATPAM, bahwa sebentar lagi ada tamu yang mau datang ke rumah, tolong tamu-tamu tersebut ditahan KTP nya, dan KTP tersebut secepatnya diantar ke rumah saya. Berbekal KTP yang dikirim oleh SATPAM ke rumah itulah saya bisa melakukan ‘ancaman’ kepada mereka, saya bilang saja: data kalian sudah ada di tangan saya….kalau ada apa-apa dengan ponakan saya kamu harus bertanggung jawab…..dan dilanjutkan dgn petatah - petitih ala dosenlah…hehe. Setelah saya selesai ngomong panjang lebar, eh ternyata dia langsung pamit pulang dan tidak lagi menghubungi ponakan saya apalagi datang ke rumah.

Pengalaman lain adalah ketika menangani mahasiswa yang sudah sadar dan akan
keluar dari kelompok mereka. Mahasiswa ini selalu merasa sulit untuk keluar dari kelompok itu, karena setiap saat selalu dimonitor dan didampingi oleh ornag-orang dari kelompok mereka. Kelompok ini piawai untuk membatasi akses bergaul dengan kelompok lain selain dengan kelompoknya. Sehingga saya selalu pesan ke mahasiswa ini untuk meminta bantuan teman-temannya, atau ROHIS atau BEM untuk menemaninya kemanapun mahasiswa itu beraktivitas dilingkungan kampus. Sedangkan diluar kampus saya pesan ke mahasiswa ini untuk selalu di temani keluarganya kemanapun dia beraktivitas/bepergian. Dengan begitu alhamdulilah mahasiswa ini bisa keluar dari kelompok ‘NII’.

Berdasarkan pengalaman ini, menurut pendapat saya, yang terpenting adalah keberanian untuk berkata tidak pada mereka. Kata kuncinya adalah keberanian. Ini yang susah, karena dalam beberapa kesempatan calon korban dibuat selalu kalah banyak dengan mereka, kalau calon korbannya satu maka mereka akan berdua atau lebih, kalau calon korban berdua mereka pasti akan bertiga atau lebih, begitu seterusnya…ini kondisi yg tidak berimbang. Dengan kondisi seperti ini, saat berdiskusipun selalu saja calon korban kalah suara, walaupun sebenarnya sadar dan tidak kosong jiwanya. Si calon korban di ‘pressure’ terus menerus sehingga mereka takut dan selalu saja menuruti kemauan kelompok mereka.


Posted in Uncategorized |

2 Responses

  1. rakhma Says:

    Dengan progresifnya waktu, maka pengalaman masa lalu akan usang pada hari ini, hari ini ditentukan hari ini, dan esok hari perubahan siap menanti. Begitu pula taktik dan strategi NII. Saatnya kita membangun fondasi diri, mencari ketangguhan hidup sejati yang tiada henti, dan jangan takut bayang-bayang NII. Yang benar pasti akan tegak mengantar diri.


  2. Bambang Wahyudi Says:

    Ini contoh perekrutan ‘kelas bawah’, kalau yang ‘kelas atas’ tidak demikian, melainkan dengan permainan ‘adu argumen yang logis’ yang jika menyerah, maka ia akan ‘ditarik’ masuk ke kelompoknya.


Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.