karami Blog

APAKAH HAL YANG PALING DITAKUTI ORANG INDONESIA?

May 28th, 2011 by karami


Apakah yang paling ditakuti orang Indonesia saat ini? satu pertanyaan yang terlontar dari seorang mahasiswa kepadaku, pada saat ngobrol dengan beberapa mahasiswa pada suatu kesempatan. Sejenak tertegun dan mencoba memikirkan jawabannya. Tetapi alhamdulilah saya disadarkan, dengan melihat situasi dan kondisi saat itu rasanya sebaiknya saya tidak menjawab dan harus menjadi pendengar yang baik, mengapa ? karena saya mencium gelagat (dari roman mukanya) si mahasiswa ini akan menjawab dan menguraikan jalan pemikirannya sendiri. Dan betul dugaan saya…..

Sejurus kemudian mahasiswa itu mengemukakan jawaban. Menurut saya, hal yang paling ditakuti oleh orang Indonesia saat ini adalah: “TAKUT JATUH MISKIN”. Mendengar jawaban ini reaksi spontan saya adalah menanyakan argumentasi atas jawaban itu. Si mahasiswa melanjutkan penjelasannya. Kata dia: begini Pak …… saat ini negara kita dihempas badai ‘Korupsi’. Sangat banyak contoh tindakan koruptif di negeri ini yang dilakukan oleh para petinggi negara. Mahasiswa itu memberikan banyak contoh, yang tidak perlu saya tulis disini.

Saya selalu berpikir, dan sampai pada kesimpulan bahwa: tujuan utama orang-orang korupsi sebagian besar adalah untuk memperkaya diri……betul ga Pak? kata si mahasiswa itu kepadaku…tanpa jawaban apapun dariku si mahasiswa itu meneruskan ocehannya. Ujung dari semua ujung korupsi adalah agar orang itu menjadi kaya, hidup serba enak, banyak uang, punya rumah dan mobil mewah dan lain sebagainya. Orang rela melakukan apa saja yang penting dapat uang banyak.

Saat itu saya menyela, sebenarnya: menurut saya untuk menjadi kaya dengan cara yang salah seperti yang kamu sebutkan itu tidak cuma korupsi, tapi ……belum selesai saya bicara, si anak itu langsung menimpali: ‘Cari Muka’ ya kan Pak….seperti anggota DPR yang ahli hukum dan pengacara itu lho…kata dia. Dengan cari muka posisi dia akan aman dan dilindungi, disamping itu juga akan sering ketiban proyek….

Saat itu, saya tidak lagi mencoba memancing-mancing dengan memperpanjang obrolan mengenai hal ini. Saya langsung menutup dan mencoba mengalihkan ke pembicaraan lain. Kata penutup yang saya sampaikan saat itu adalah: Seharusnya yang paling ditakuti itu adalah siksa ‘Allah’. Si mahasiswa itu spontan bereaksi…ahh itu mah jawaban jadul, jawaban yang sudah ‘out of date’ katanya, tapi wajar bapak kan dosen……

Kata terakhir mahasiswa inilah yang mengakhiri perbincangan kami tentang topik ini. Walaupun sudah berakhir, sampai saat ini saya masih terpikirkan cara pandang mahasiswaku ini….dari kacamata realitas, mungkin saja saya ikut setuju. Salahkah pemikiran saya ini…. kalau salah terus bagaimana sebaiknya membaca situasi negara kita saat ini? mohon pencerahan!

Kampus Cengkareng, 28 Mei 2011


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Pengalaman pribadi: Satu Kunci Menghadapi ‘NII’

May 4th, 2011 by karami


Maraknya pemberitaan NII di media seharusnya dibaca sebagai suatu keadaan yang sudah sangat mengkhawatirkan, bukan sebaliknya dianggap sebagai sesuatu yang seolah-olah baru saja mengemuka. Saya punya pengalaman pribadi tentang bagaimana mencegah penyebaran NII yang waktu itu salah satu calon korbannya adalah saudara saya sendiri.

Beberapa tahun lalu,  ponakan yang tinggalnya di rumah saya hampir terjerumus. Dia sempat diajak berdiskusi (didekati) beberapa kali oleh orang-orang  yang sangat aktif, yang tujuannya adalah mengajak masuk ke kelompoknya. Bahkan suatu saat ponakan minta ijin, bahwa teman-teman itu akan datang ke rumah, saya dengan senang hati mempersilakan.

Pas kelompok mereka mau datang, saya sudah siapkan langkah-langkah yang tujuannya untuk ‘ngemove’ mereka. Kebetulan di komplek saya setiap tamu yg datang harus lapor ke SATPAM, maka kondisi ini saya manfaatkan untuk bekerjasama. Saya pesan sama SATPAM, bahwa sebentar lagi ada tamu yang mau datang ke rumah, tolong tamu-tamu tersebut ditahan KTP nya, dan KTP tersebut secepatnya diantar ke rumah saya. Berbekal KTP yang dikirim oleh SATPAM ke rumah itulah saya bisa melakukan ‘ancaman’ kepada mereka, saya bilang saja: data kalian sudah ada di tangan saya….kalau ada apa-apa dengan ponakan saya kamu harus bertanggung jawab…..dan dilanjutkan dgn petatah - petitih ala dosenlah…hehe. Setelah saya selesai ngomong panjang lebar, eh ternyata dia langsung pamit pulang dan tidak lagi menghubungi ponakan saya apalagi datang ke rumah.

Pengalaman lain adalah ketika menangani mahasiswa yang sudah sadar dan akan
keluar dari kelompok mereka. Mahasiswa ini selalu merasa sulit untuk keluar dari kelompok itu, karena setiap saat selalu dimonitor dan didampingi oleh ornag-orang dari kelompok mereka. Kelompok ini piawai untuk membatasi akses bergaul dengan kelompok lain selain dengan kelompoknya. Sehingga saya selalu pesan ke mahasiswa ini untuk meminta bantuan teman-temannya, atau ROHIS atau BEM untuk menemaninya kemanapun mahasiswa itu beraktivitas dilingkungan kampus. Sedangkan diluar kampus saya pesan ke mahasiswa ini untuk selalu di temani keluarganya kemanapun dia beraktivitas/bepergian. Dengan begitu alhamdulilah mahasiswa ini bisa keluar dari kelompok ‘NII’.

Berdasarkan pengalaman ini, menurut pendapat saya, yang terpenting adalah keberanian untuk berkata tidak pada mereka. Kata kuncinya adalah keberanian. Ini yang susah, karena dalam beberapa kesempatan calon korban dibuat selalu kalah banyak dengan mereka, kalau calon korbannya satu maka mereka akan berdua atau lebih, kalau calon korban berdua mereka pasti akan bertiga atau lebih, begitu seterusnya…ini kondisi yg tidak berimbang. Dengan kondisi seperti ini, saat berdiskusipun selalu saja calon korban kalah suara, walaupun sebenarnya sadar dan tidak kosong jiwanya. Si calon korban di ‘pressure’ terus menerus sehingga mereka takut dan selalu saja menuruti kemauan kelompok mereka.


Posted in Uncategorized | 2 Comments »


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.