karami Blog

Prinsip Mbah Marijan

October 28th, 2010 by karami


Merapi tidak bisa dipungkiri telah memberikan berjuta manfaat bagi lingkungan disekitarnya. sebuah gunung elok yang terletak di utara Jogja. Ia telah memberikan keteduhan, kesejukan, kesuburan, keindahan dan lain-lain, pada Selasa, 26 Oktober 2010 sekitar pikul 17.00 Wib, telah menampakkan sisi wajahnya yang lain. Dari kepundannya mengeluarkan awan panas (wedhus gembel) yang terbawa angin menyebar ke daerah sekitarnya. Awan yang konon bersuhu 600 derajat celsius itu,  tak pelak membuat seluruh makhluk hidup tak bisa bertahan, termasuk manusia….

Korban berjatuhan, hewan ternak, hasil kebun dan juga manusia. Salah satu yang menjadi korban bencana ini adalah sosok yang sangat terkenal: ‘Mbah. Marijan’. Beliau adalah  juru kunci gunung merapi yang oleh Keraton Jogja diberi gelar Panewu Suraksuhargo. Beliau termasuk orang yang ‘keukeuh’ tidak mau turun untuk mengungsi walaupun oleh yang berwenang sudah diidentifikasi bahwa gunung tersebut akan sangat berbahaya jika meletus/erupsi. Dan ini terbukti!

Mbah Marijan dari dulu sampai akhir hayatnya selalu tidak mau turun untuk menyelamatkan diri, beliau tetap bertahan di rumah sederhananya, walapun merapi sudah menampakkan tanda-tanda akan meletus. Mbah Marijan berprinsip: “Apa kata orang-orang nanti, maunya kok enaknya saja, giliran gak enak pada rame-rame menghindarinya”, itu kira-kira terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia sehari-hari . Peryataan ini pernah dia sampaikan dalam suatu kesempatan, yang tentunya dalam bahasa Jawa. Kalau diterjemahkan mungkin beliau punya pemikiran bahwa merapi telah membawa banyak keenakan/kenikmatan (walupun ini sessungguhnya dari Tuhan), dan ketika itu manusia beramai-ramai menikmatinya, dan sebaliknya ketika merapi menjelma menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, manusia berbondong-bondong meninggalkannya.

Walaupun memegang prinsip tadi, bukan berarti Mbah Marijan menyarankan seluruh warga tetap tinggal di rumah masing-masing, Beliau pernah menuturkan bahwa: “Jangan ikuti orang bodoh seperti saya ini….”.

Sungguh suatu prinsip yang paradoks dan susah diterima oleh akal sehat orang-orang modern jaman sekarang ini. Sebagian dari kita pasti berpendapat bahwa tetap berada di atas dan tidak mau turun ke pengungsian dalam kondisi bahaya seperti erupsi merapi adalah hal konyol., karena nyawa taruhannya……,

Tapi Mbah Marijan telah memilih jalan hidupnya sendiri: teguh pada prinsip, apapun kata orang. Tinggal kita sekarang merenung,  hikmah apa yang bisa didapat dibalik semua ini. Saya berandai-andai jika prinsip itu penerapannya digeser sedikit saja,  bukan untuk melandasi soal merapi tadi, tapi dalam kontek kehidupan sehari-hari kita, utamanya dalam mencari rejeki (bekerja) untuk menghidupi anak istri. Rasanya  alangkah sangat elok. Kita diajarkan untuk tidak hanya cari enaknya saja tapi juga siap menerima gak enaknya dari sebuah pekerjaan. Jangan giliran ga enak kita tinggal…terus kita cari keenakan yang lainnya. Sungguh suatu hal yang tidak terpuji……Dan prinsip ini juga bisa diterapkan ke hal-hal yang lebih luas lagi, yaitu dalam kehidupan bermasyarakat guna menjalin ukhuwah dan juga hidup berumah tangga, saya rasa semua sepakat bahwa ini adalah prinsip yang sangat baik.

Dan akhirnya saya ucapkan selamat jalan Mbah Marijan dan saya doakan semoga tidak terjadi banyak korban yang lain, dan secepatnya merapi kembali bersahabat  sehingga saudara-saudara kita bisa hidup berdampingan seperti sediakala: “tenteram dan damai !”


Posted in Uncategorized | 1 Comment »


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.