karami Blog

MANUSIA WAJIB atau HARAMKAH SAYA?

November 15th, 2008 by karami


Bagi orang Muslim, pada waktu belajar agama di kelas, sang guru sering melontarkan pertanyaan: Sholat lima waktu, puasa bulan ramadhan, itu hukumnya apa? Sang murid serempak menjawab: Wajib……….!!! Berbohong, berbuat jahat kepada orang lain, hukumnya apa? Dijawab lagi: Haram……..!!!

Orang Islam sangat mengenal hukum semacam itu. Kalau dilengkapi, antara halal dan haram itu  ada Sunah, Mubah dan Makruh.  Penulis yakin, pembaca tahu betul apa arti dari masing-masing hukum tadi. Berikut saya tulis ulang secara singkat:

  1. Wajib adalah apabila suatu aktivitas dilakukan, maka pelaku akan diberikan ganjaran kebaikan (pahala), sedang bila ditinggalkan maka akan menjadikan yang meninggalkannya berdosa.
  2.  Sunnah adalah apabila suatu aktivitas dilakukan, maka pelakunya mendapatkan kebaikan (pahala), namun bila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa.
  3. Mubah adalah aktivitas yang boleh untuk dilakukan, bahkan lebih condong kepada dianjurkan (bersifat perintah), namun tidak ada janji berupa pahala terhadapnya.
  4. Makruh adalah suatu aktivitas yang dilarang namun tidak terdapat konsekuensi bila melakukannya. Atau dengan kata lain perbuatan makruh dapat diartikan sebagai perbuatan yang sebaiknya tidak dilakukan.
  5. Haram adalah sebuah status hukum terhadap suatu aktivitas atau keadaan suatu benda (misalnya makanan). Aktivitas yang berstatus hukum haram atau makanan yang dianggap haram adalah dilarang secara keras. Orang yang melakukan tindakan haram atau makan binatang haram ini akan mendapatkan konsekuensi berupa dosa.

Terinspirasi dari ke lima hukum tadi, saya jadi teringat bahwa saya harus introspeksi karena saya ultah di saat tulisan ini dibuat.

Materi introspeksi saya kali ini adalah mengenai: keberadaan saya sebagai individu di dunia ini.  Menurut saya keberadaan saya di dunia inipun juga bisa ’dihukumi’  seperti  di atas……..maksudnya begini:

  • Kalau keberadaan saya di dunia ini memberi manfaat bagi orang banyak, dan sebaliknya ketiadaan saya membuat orang banyak jadi sulit/merugi/merasa kehilangan, dst, maka ….wajiblah saya hadir di dunia ini.
  • Tetapi kalau keberadaan saya di dunia ini banyak merugikan  orang lain dan sebaliknya ketiadaan saya menjadikan dunia tenteram dan damai, maka haramlah saya ……ada di antara kalian
  • Apabila saya hadir di dunia bisa memberi manfaat, dan tidak hadirnya saya di dunia ini menjadikan orang lain tidak merasa kehilangan apapun, maka …..Sunnahlah saya.
  • Dan jika ada atau tidaknya saya tidak ’ngaruh’, bisa jadi saya ini mubah atau makruh.
  • Dan seterusnyalah………..

Untuk itu bantulah saya,  berikanlah jawaban, tergolong manusia macam manakah saya : Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh atau haram?

Budi Pri


Posted in Uncategorized | 3 Comments »

Berani…,maka sukses !

November 11th, 2008 by karami


Setiap orang mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Namun tidak semua orang dapat mencapainya. Ada orang yang sukses dan sebaliknya, tidak sedikit yang gagal. Ternyata ada faktor penting yang menjadikan seseorang menjadi gagal atau sukses. Faktor itu adalah ‘Keberaian’. Ada 5 jenis keberanian yang harus kita miliki jika kita mendambakan kesuksesan dalam hidup.

 

Pertama, berani bercita-cita. Orang sukses mempunyai cita-cita yang tinggi, harapan masa depan yang lebih baik. Sementara orang yang gagal biasanya tidak memiliki cita-cita yang tinggi, atau bahkan tidak memilikinya sama sekali. Penetapan cita-cita oleh seseorang, berarti orang tersebut memiliki panduan dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Fungsi cita-cita disini adalah sebagai ‘goal’ atau tujuan. Dengan demikian cita-cita akan memacu ikhtiar dan pola hidup yang terencana dan teratur.

 

Kedua, berani memulai. Perjalanan ribuan kilometer dimulai dari satu langkah awal. Ini sangat penting, karena banyak orang yang memiliki cita-cita tinggi namun tidak mempunyai keberanian untuk memulainya.

 

Ketiga, berani berproses. Tak ada kesuksesan yang datang dalam sekejap mata. Adalah Sunatullah bahwa segala sesuatu di dunia ini bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Berproses berarti rela menjalani keras dan pahitnya perjuangan untuk menggapai sukses.

 

Keempat, berani berkorban. Tak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. Keberhasilan yang kita raih akan berbanding lurus dengan pengorbanan yang telah dilakukan. Pengorbanan tidak hanya dalam bentuk materi seperti harta atau uang. Ketika mengisi waktu luang, anda memilih melakukan kegiatan pengembangan diri, misal: belajar, mengikuti pelatihan, training dll daripada kegiatan bersenang-senang seperti nonton tv/bioskop, nongkrong, dugem dan kegiatan lain yang sejenis, berarti anda telah mengorbankan potensi untuk mendapatkan kesenangan. Tetapi yakinlah: bahwa hal demikian adalah merupakan investasi masa depan.

 

Kelima, Berani evaluasi diri. Setiap kesuksesan yang kita raih harus menjadi alat bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur. Rajin-rajinlah kita merenung, mengevaluasi diri dan bertanya kepada orang-orang terdekat tentang sikap dan perilaku kita, agar keberhasilan yang kita raih tidak menjadikan kita sombong dan angkuh.

 

Mulyadi

Budi Pri


Posted in Uncategorized | 5 Comments »


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.