August 24th, 2011 by karami
Setelah membaca postingan teman di milis kantor tentang kebiasaan Presiden Iran: Ahmadinejad, saya berkesimpulan bahwa beliau adalah presiden yang bisa dan sanggup hidup dalam kesederhanaan! Layak saya sebut bahwa beliau termasuk orang yang berhasil mengambil jarak dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Ia sadar betul posisinya yang harus memberi contoh konkrit kepada masyarakat yang dipimpinnya. Pasti orang semacam itu hidupnya tidak akan ‘kemrungsung’. Ia iklhas menerima apa saja yang terkait dengan masa depan rizqi dan nasib yang sudah digariskan untuknya,. Berangkat dari hal ini, saya yakin sosok orang yang seperti itu pasti akan menjauhi sikap-sikap koruptif dan manipulatif. Oleh Karena itu ia selalu dalam posisi yang nyaman dan tidak tersandera oleh hal-hal yang bersifat ‘balas budi’ dan ‘maju kena mundur kena’. Dan pada gilirannya saya yakin dengan posisi yang demikian orang tersebut selalu mudah untuk memutuskan suatu perkara. Pendek kata orang tersebut pasti bisa mengambil keputusan/bersikap ‘TEGAS’, Inilah yang sulit dilakukan oleh pemimpin di Indonesia pada level manapun.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
July 19th, 2011 by karami
Ada dua golongan kelompok manusia ………
Yang pertama, mereka tidak terlalu berpendidikan (formal). Mereka rata-rata lulus SMA atau di bawahnya, tetapi mereka belajar dari alam tentang kapan saatnya menanam padi, kapan harus melaut, kapan harus mengungsi ketika gunung berapi mulai terbatuk-batuk. Mereka menuntut ilmu tiap hari, tiap jam, tiap detik dari alam yang telah di anugerahkan oleh sang Pencipta.
Orang-orang ini selalu berkumpul bergotong royong dan saling tolong menolong guna menyelesaikan permasalahan individu atau masyarakat tanpa upah sepersenpun. Hati mereka bersih tanpa motif apapun ketika menyingsingkan lengan untuk bekerja. Saling tenggang rasa antar mereka menjadi nilai yang sudah tertanam sejak lahir. Kepentingan pribadi dinomor terakhirkan, karena dia sudah diajarkan oleh pendahulu-pendahulunya untuk mengangkat derajat masyarakat dengan menomor satukan kebutuhan orang banyak (bersama).
Dan jangan lupa, orang-orang golongan ini sangat tinggi tingkat ibadahnya. Tak hanya ibadah fisik, mereka sadar bahwa setiap apa yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab adalah bernilai ibadah. Sehingga tak khayal……..apabila mereka pedagang, mereka tidak akan pernah mengurangi timbangan, apabila mereka guru, mereka selalu penuh semangat menularkan ilmu, apabila mereka penjual kacang, mereka dalami betul masalah ‘perkacangan’ sampai tuntas.
Itulah gambaran kelompok yang pertama……….
Adapun kelompok yang kedua, adalah mereka yang berpendidikan (formal) tinggi, bergelar banyak….bahkan mungkin tak sedikit diantara mereka yang Professor Doktor. Pastinya mereka ini telah ‘menelan’ buku yang tebal-tebal dalam jumlah sangat banyak. Ilmu mereka ada di ujung pohon yang sangat tinggi. Apabila mereka pakar kemiskinan…pasti telah lahir teori-teori kemiskinan yang bejibun, tanpa harus menjiwainya (menjadi miskin).
Mereka ini sering berkumpul, selalu membicarakan ‘strategi’ untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak melalui teori-teori yang ada dalam buku, tanpa peduli apakah teori yang mereka gunakan sesuai dengan kondisi riil yang melingkupinya. Mereka dipanggil menjadi nara sumber di berbagai tempat dan berbagai media massa. Banyak uang masuk kekantongnya, karena mereka ‘pandai’ mencari uang.
Sangat sedikit diantara mereka yang punya rumah bukan di komplek, sehingga sangat tidak mungkin bagi mereka untuk berkumpul dengan masyarakat/para tetangganya. Tetapi jangan salah, nilai kebersamaan diantara mereka tetap tinggi, utamanya kebersamaan dengan kelompoknya. Bahkan antar mereka saling bersinergi untuk meningkatkan derajat individu ataupun kelompoknya. Mereka menggunakan peralatan canggih, internet, laptop, ipad dan sejenisnya. Tingkat ibadah golongan ini juga sangat tinggi, mereka ini sudah beberapa kali ke tanah suci, baik Haji maupun Umroh karena mereka tahu betul bahwa hal itu adalah cara yang efektif untuk meningkatkan gengsi dan derajatnya. Ini tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang masuk golongan pertama.
Sekarang masalahnya…..siapakah diantara mereka yang patut kita jadikan pemimpin baik dari tingkat RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, bahkan Presiden?. Dan pertanyaan berikutnya siapakah sebenarnya pemimpin kita sekarang?
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
June 7th, 2011 by karami
Maaf…diluar kebiasaan saya. Sehubungan dengan kesibukan yang terkait dengan masalah domestik (Keluarga) yang cukup membuat repot, maka saya mengumumkan Nilai UTS mahasiswa melalui Blog. Berikut ini adalah nilai UTS mahasiswa kelas 2DD04 dan 2DD03, mata kuliah: Akuntansi keuangan 2, Dosen: Budi Prijanto. Nilai ini sudah diolah dengan menggunakan rumus: 60% Nilai murni UTS dan 40% nilai perbaikan.
Amira Wulandari 65.8
Asep Maulana 61
Benedicta Inelza 39.6
Dendi Setiawan 59.8
Deni Dwi Lestari 48.2
Desy Permata Sari 58
Diah Ayu N. S. 46
Feni Oktaviani 61.8
Fina Mardiah Haq 67.4
Flawereda R. 46.6
Heni Hendrayani 45.8
Jacob salim 29
Lastika Febriyanti 57.4
Lena Yuliatun 52
Lucky Sam 71
M. Heriyadi 88.4
Muhammad Rizky G. 0
Novi Wulandari 42.6
Poery Sagita 62.6
Puji Rahayu 68.8
Rizky Febrianty 39.4
Tika Apsari F. 37.2
Wenny Octora 54.6
Christine Louise 47.8
Daniel Roberto 35
Dwipo Ari Anggoro 50.6
Edwin Sentosa A. 24
Generous Christine 43.8
Gina Aisyah P. S. 28
Guntur Achmad D. 42
Indri Pratiwi 77.6
Jeanet Vina Claudia 56.6
Marsudi 42.6
Melasari Dwita S. 46.4
Mustafa 47
Nuerhayati 43
Nur Syahid 47.4
Nurul Kartika P. 45.2
Pranata Meliala 56
Rahadi Sidharta P. 45
Rizki Febri A. 55.6
Tania Arum 50
Wandi Prima S. 45.4
Posted in Uncategorized | No Comments »
May 28th, 2011 by karami
Apakah yang paling ditakuti orang Indonesia saat ini? satu pertanyaan yang terlontar dari seorang mahasiswa kepadaku, pada saat ngobrol dengan beberapa mahasiswa pada suatu kesempatan. Sejenak tertegun dan mencoba memikirkan jawabannya. Tetapi alhamdulilah saya disadarkan, dengan melihat situasi dan kondisi saat itu rasanya sebaiknya saya tidak menjawab dan harus menjadi pendengar yang baik, mengapa ? karena saya mencium gelagat (dari roman mukanya) si mahasiswa ini akan menjawab dan menguraikan jalan pemikirannya sendiri. Dan betul dugaan saya…..
Sejurus kemudian mahasiswa itu mengemukakan jawaban. Menurut saya, hal yang paling ditakuti oleh orang Indonesia saat ini adalah: “TAKUT JATUH MISKIN”. Mendengar jawaban ini reaksi spontan saya adalah menanyakan argumentasi atas jawaban itu. Si mahasiswa melanjutkan penjelasannya. Kata dia: begini Pak …… saat ini negara kita dihempas badai ‘Korupsi’. Sangat banyak contoh tindakan koruptif di negeri ini yang dilakukan oleh para petinggi negara. Mahasiswa itu memberikan banyak contoh, yang tidak perlu saya tulis disini.
Saya selalu berpikir, dan sampai pada kesimpulan bahwa: tujuan utama orang-orang korupsi sebagian besar adalah untuk memperkaya diri……betul ga Pak? kata si mahasiswa itu kepadaku…tanpa jawaban apapun dariku si mahasiswa itu meneruskan ocehannya. Ujung dari semua ujung korupsi adalah agar orang itu menjadi kaya, hidup serba enak, banyak uang, punya rumah dan mobil mewah dan lain sebagainya. Orang rela melakukan apa saja yang penting dapat uang banyak.
Saat itu saya menyela, sebenarnya: menurut saya untuk menjadi kaya dengan cara yang salah seperti yang kamu sebutkan itu tidak cuma korupsi, tapi ……belum selesai saya bicara, si anak itu langsung menimpali: ‘Cari Muka’ ya kan Pak….seperti anggota DPR yang ahli hukum dan pengacara itu lho…kata dia. Dengan cari muka posisi dia akan aman dan dilindungi, disamping itu juga akan sering ketiban proyek….
Saat itu, saya tidak lagi mencoba memancing-mancing dengan memperpanjang obrolan mengenai hal ini. Saya langsung menutup dan mencoba mengalihkan ke pembicaraan lain. Kata penutup yang saya sampaikan saat itu adalah: Seharusnya yang paling ditakuti itu adalah siksa ‘Allah’. Si mahasiswa itu spontan bereaksi…ahh itu mah jawaban jadul, jawaban yang sudah ‘out of date’ katanya, tapi wajar bapak kan dosen……
Kata terakhir mahasiswa inilah yang mengakhiri perbincangan kami tentang topik ini. Walaupun sudah berakhir, sampai saat ini saya masih terpikirkan cara pandang mahasiswaku ini….dari kacamata realitas, mungkin saja saya ikut setuju. Salahkah pemikiran saya ini…. kalau salah terus bagaimana sebaiknya membaca situasi negara kita saat ini? mohon pencerahan!
Kampus Cengkareng, 28 Mei 2011
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
May 4th, 2011 by karami
Maraknya pemberitaan NII di media seharusnya dibaca sebagai suatu keadaan yang sudah sangat mengkhawatirkan, bukan sebaliknya dianggap sebagai sesuatu yang seolah-olah baru saja mengemuka. Saya punya pengalaman pribadi tentang bagaimana mencegah penyebaran NII yang waktu itu salah satu calon korbannya adalah saudara saya sendiri.
Beberapa tahun lalu, ponakan yang tinggalnya di rumah saya hampir terjerumus. Dia sempat diajak berdiskusi (didekati) beberapa kali oleh orang-orang yang sangat aktif, yang tujuannya adalah mengajak masuk ke kelompoknya. Bahkan suatu saat ponakan minta ijin, bahwa teman-teman itu akan datang ke rumah, saya dengan senang hati mempersilakan.
Pas kelompok mereka mau datang, saya sudah siapkan langkah-langkah yang tujuannya untuk ‘ngemove’ mereka. Kebetulan di komplek saya setiap tamu yg datang harus lapor ke SATPAM, maka kondisi ini saya manfaatkan untuk bekerjasama. Saya pesan sama SATPAM, bahwa sebentar lagi ada tamu yang mau datang ke rumah, tolong tamu-tamu tersebut ditahan KTP nya, dan KTP tersebut secepatnya diantar ke rumah saya. Berbekal KTP yang dikirim oleh SATPAM ke rumah itulah saya bisa melakukan ‘ancaman’ kepada mereka, saya bilang saja: data kalian sudah ada di tangan saya….kalau ada apa-apa dengan ponakan saya kamu harus bertanggung jawab…..dan dilanjutkan dgn petatah - petitih ala dosenlah…hehe. Setelah saya selesai ngomong panjang lebar, eh ternyata dia langsung pamit pulang dan tidak lagi menghubungi ponakan saya apalagi datang ke rumah.
Pengalaman lain adalah ketika menangani mahasiswa yang sudah sadar dan akan
keluar dari kelompok mereka. Mahasiswa ini selalu merasa sulit untuk keluar dari kelompok itu, karena setiap saat selalu dimonitor dan didampingi oleh ornag-orang dari kelompok mereka. Kelompok ini piawai untuk membatasi akses bergaul dengan kelompok lain selain dengan kelompoknya. Sehingga saya selalu pesan ke mahasiswa ini untuk meminta bantuan teman-temannya, atau ROHIS atau BEM untuk menemaninya kemanapun mahasiswa itu beraktivitas dilingkungan kampus. Sedangkan diluar kampus saya pesan ke mahasiswa ini untuk selalu di temani keluarganya kemanapun dia beraktivitas/bepergian. Dengan begitu alhamdulilah mahasiswa ini bisa keluar dari kelompok ‘NII’.
Berdasarkan pengalaman ini, menurut pendapat saya, yang terpenting adalah keberanian untuk berkata tidak pada mereka. Kata kuncinya adalah keberanian. Ini yang susah, karena dalam beberapa kesempatan calon korban dibuat selalu kalah banyak dengan mereka, kalau calon korbannya satu maka mereka akan berdua atau lebih, kalau calon korban berdua mereka pasti akan bertiga atau lebih, begitu seterusnya…ini kondisi yg tidak berimbang. Dengan kondisi seperti ini, saat berdiskusipun selalu saja calon korban kalah suara, walaupun sebenarnya sadar dan tidak kosong jiwanya. Si calon korban di ‘pressure’ terus menerus sehingga mereka takut dan selalu saja menuruti kemauan kelompok mereka.
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
February 12th, 2011 by karami
Beberapa waktu terakhir ini, negeri tercinta dirundung banyak masalah. Sebut saja, sejak dari kasus naiknya Miranda Goeltom sebagai Deputy Gubernur BI, Century, Gayus, sampai kekerasan bernuansa agama (Cikeusik dan Temanggung) dan seterusnya-dan seterunya. Siaran TV dan media masa lain, bagai air bah, menggelontor masuk ke ruang keluarga dengan memberitakan, membeberkan, dan mengulasnya secara terus menerus. Anehnya apa yang dilakukan media massa tidak berbanding lurus/berpengaruh langsung terhadap penyelesaian masalah itu sendiri. Penegak hukum rasanya masih ‘jalan ditempat’. Salah satu faktor penyebabnya adalah, bahwa tidak sedikit kasus tersebut sangat kentara nuansa politisnya.
Keadaan yang kisruh ini, bisa saja menyebabkan kondisi ‘keterlenaan’. Maksud saya adalah, para pemimpin kita mau tidak mau jadi sibuk meyelesaikan bayak kasus, yang akibatnya, sangat sedikit memproduksi hal-hal yang maslahat bagi warga negaranya. Banyak hal yang harus diurus menjadi tak terurus. Kondisi bangsa bukan semakin mambaik justru semakin memburuk.
Saya jadi teringat, jaman dulu ada anekdot yang mengatakan bahwa kita adalah bangsa tempe. Tempe adalah makanan yang tidak banyak vitamin (bukan tidak ada) yang terkandung di dalamnya. bangsa kita dianalogikan bangsa tempe, mungkin karena memang seperti tempe yang kandungan vitaminnya sedikit.
Sekarang, masihkan itu berlaku? menurut saya kok tidak ya…….kondisi bangsa yang relatif tidak produktif seperti saat ini tidak bisa diidentikan dengan tempe. Tempe masih lebih baik, masih mengandung vitamin. Jadi bangsa kita bukan bangsa tempe dong?….terus kita jadi bangsa apa sekarang? ‘BANGSA KUWAH …….kaleeee…’
Kok kuwah..tanya saja ke Ibu-Ibu, saat-saat sekarang ini kalau memasak sudah tidak pakai tempe lagi, karena tempe mahal. Jadi masakannya tinggal kuwah doank……hehe.
*) Tulisan ini terinspirasi dari karikatur kompas hari: Jum’at, Tgl. 11 Februari 2011
Posted in Uncategorized | 3 Comments »
January 12th, 2011 by karami
Beberapa waktu lalu bangsa kita ‘diserang’ oleh gelombang terorisme. Bom meledak dimana-mana. Belum terungkap secara tuntas siapa dalang pengeboman yang satu, sudah muncul ledakan berikutnya. Kondisi ini tak pelak membuat perasaan takut dan tidak aman menghinggapi masyarakat secara luas.
Hal ini memancing reaksi Presiden (saya yakin pembaca masih ingat), kala itu beliau dengan lantang berkata: ‘Negara tidak boleh kalah lawan terorisme’. Sejurus dengan itu, Badan anti teror kepolisian (Densus 88) langsung bergerak cepat memburu para pelaku dan dalang pengeboman disejumlah wiayah di tanah air. Berita-berita di TV Nasional sering melakukan up date atas kegiatan penyergapan yang dilakukan oleh badan tersebut dalam melumpuhkan para teroris. Dan akhirnya banyak ‘teroris’ berhasil dijinakkan, baik dalam keadaan meninggal atau masih hidup.
Karenanya, saat ini bisa saya katakan bahwa kita telah berhasil mengalahkan terorisme walaupun belum sepenuhnya. Kata belum sepenuhnya ini mengandung arti bahwa kita tetap harus waspada, karena bisa jadi ketika kita lengah teror itu akan marak kembali.
Bagaimana dengan sekarang……
Sekarang musuh kita yang menonjol bukan lagi terorisme, tapi persekongkolan untuk berbuat jahat. Bangsa kita dilanda banyak kasus yang terkait dengan persekongkolan seperti layaknya mafia. Sebut saja kasus century dan kasus Gayus yang dua-duanya saya yakin dilakukan oleh suatu jaringan. Contoh lain, di bidang olah raga: PSSI dengan Nurdin Halid dan Nugraha Besusnya, yang menguasai PSSI sedemikian lama. Sampai-sampai ketika Nurdin Halid Jadi terdakwapun masih tetap ‘bisa’ dipertahankan memimpin PSSI. Padahal kita tahu PSSI tak sedikitpun memberikan prestasi yang memadai yang menjadi dambaan masyarakat luas. Ditambah dengan produk kompetisi yang dilahirkan oleh PSSI yaitu LSI yang sarat dengan masalah. Kita tahu sebagian pesertanya menggunakan dana APBD yang seharusnya bukan untuk membiayai klub tapi untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
Menurut KBBI On Line, Mafia bisa diartikan (salah satunya) sebagai perkumpulan rahasia yg bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Dari definisi ini jelas dapat dikatakan bahwa kasus century dan Gayus adalah mafia karena ada perkumpulan/persekongkolan yang bersifat kejahatan. Dan untuk dua kasus ini saya golongkan sebagai mafia ekonomi (pajak) dan mafia hukum sekaligus. Bagaimana dengan PSSI ? Apakah juga ‘idem dito’? Bisa jadi sebagian pembaca akan menjawab: Ya!
Tidaklah sulit rasanya untuk menambah panjang daftar mafia di level Negara maupun dalam kehidupan sehari-hari…. Bukankah kita sering dengar, ada sebutan mafia tanah, mafia jabatan dst-dst. Satu hal yang bisa saya simpulkan terkait dengan hal ini adalah: apabila bangsa kita dikuasai oleh mafia, maka hancurlah negara kita. Oleh karenanya saya rindu Presiden kita lantang berteriak: “Negara tidak boleh kalah dengan mafia”. Dengan harapan seluruh penegak hukum kita langsung bereaksi dan bekerja untuk mengalahkan ‘mafia-mafia’ itu, walaupun memang lawan yang dihadapi kali ini sangat tangguh…..Jangan sampai rakyatlah yang akhirnya bereaksi , Ini bahaya tentunya…..!!!
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
January 6th, 2011 by karami
Berikut bunyi status facebook temen:”..Sekamar.. Sekasur..Sebelahan..dan sibuk dengan BB masing2.. ck ck ck..What a life..:D.”
Tanpa disadari BB telah menjadi trend saat ini. Barangkali sebagian anak muda perkotaan merasa ketinggalan jaman kalau tidak punya gadget yang satu ini. Terbukti dengan seringnya saya melihat diberbagai kesempatan, entah di angkot, di taman kampus, di pertokoan/mal dll, anak-anak muda kita tengah asyik memainkan jari jemarinya di hamparan keypad BBnya.
Gelombang teknologi canggih telah merasuk dan menyatu dalam denyut nadi kehidupan kita. Teknologi banyak membawa manfaat untuk manusia, ini tidak terbantahkan. Bahkan teknologi terkadang dijadikan salah satu kriteria untuk minilai tingkat peradaban suatu kaum. Semakin canggih teknologi yang digunakan, maka kaum itu akan dinilai lebih tinggi peradabannya dari yg lain, dan sebaliknya.
Tetapi kita harus ingat bahwa apapun itu, pasti akan ada positif negatifnya.
Kembali ke status facebook teman yang saya kutip di awal tulisan ini, saya melihat inilah salah satu sisi negatif dari penggunaan BB. Yang lainnya, tentu tidak sedikit. Contoh: saya sering melihat ada penumpang angkot keasyikan BBan, akhirnya dia turun kelewatan dari tujuan. Atau ketika disapa oleh orang sering tidak ‘ngeh’ dst..dst. Hal inilah yang menjadi keprihatinan saya…..penggunaan BB dan teknologi yang lain sepatutnya digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi dalam segala bidang, bukan malah sebaliknya. Saya setuju dengan kekhawatiran banyak pihak yang mengatakan bahwa BB cenderung telah melahirkan ‘generasi autis’.
Bagaimana hal ini bisa dicegah? inilah PR kita bersama
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
January 4th, 2011 by karami
Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana hingar bingarnya pujian dan dengan segala acara yang menyertai, ketika masyarakat kita ‘berpesta’ atas kehebatan tim nasisonal sepak bola Indonesia yang mampu lolos ke babak final piala AFF 2010. Bagaimana tidak Tim Garuda mampu sapu bersih semua partai penyisihan dan semifinal dengan 100% kemenangan. Dengan pelatih jenius ‘Alfred Riedl’ yang bisa merubah permainan menjadi atraktif dan menggairahkan, sangat wajar jika banyak pengamat, baik dalam negeri maupun pengamat dari luar memprediksi bahwa kita akan berhasil meraih tropi AFF ini. Namun….kenyataan sangat bertolak belakang: Tim Garuda gagal meraih tropi.
Tulisan ini tidak akan membahas mengenai mengapa Tim Garuda gagal dalam even ini, karena saya yakin sudah sangat banyak yang mengupasnya. Tulisan ini lebih menyoroti pada satu hal, yaitu: ’sering melesetnya ramalan orang-orang atau lembaga manapun (baik dalam maupun luar negeri) ketika harus memprediksi sesuatu yang terkait dengan Indonesia’. Contoh lain: bahwa jaman orba dulu saya masih ingat bahwa Indonesia akan diramalkan menjadi ‘macan asia’ bidang ekonomi, tapi rasanya kita sepakat….bahwa hal ini juga tidak terwujud, dan rasanya pembaca bisa menyebut contoh-contoh lain.
Jadi tidak salah bila saya menyimpulkan bahwa dalam bidang apapun ‘trend positif’ yang sering terjadi pada bangsa kita, tidak serta merta akan berubah menjadi sebuah capaian yang gemilang. Karena saya berkeyakinan bahwa negeri kita ini adalah negeri yang anomali, negeri roller coaster…..semoga keyakinan saya salah.
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 24th, 2010 by karami
Di tengah hari yang cukup panas, tepatnya hari selasa 23 Nov 2010 seperti biasanya aku harus menunaikan tugas mengajar di Kampus G. Saat jarum jam menunjukkan kurang lebih pukul 12.00, aku bergegas dari ruangan menuju ke halte depan kampus untuk menaiki angkot yang dapat mengantarku ke tempat tujuan.
Saat itu kondisi angkot tidak begitu penuh, sekitar 4 -5 orang sudah berada di dalam, dan aku memilih bangku depan di samping pak supir. Tak lama kemudian pak supir menjalankan kendaraannya sambil memperhatikan sisi sebelah kiri siapa tahu ada penumpang yang akan menggunakan jasanya.
Tak seperti biasanya, angkot kali ini benar-benar membuat saya nyaman walau keadaan cuaca saat itu sangat panas. Bagiku….suasana nyaman tercipta bisa jadi karena angkot tersebut sesuai dengan harapanku yaitu: angkot tersebut berhenti tidak berada percis di mulut gang kampus D, tapi agak ke depan, sehingga tidak menghambat laju kendaraan yang mau masuk keluar kampus. Ini sangat jarang terjadi……dan hal inilah yang membuat saya harus angkat jempol pada angkot ini. Yang kedua, ternyata pak supirpun dalam menjalankan angkotnya juga sangat membuat hati lega…dengan kecepatan yang pas dan tidak terkesan buru-buru mengejar setoran, sehingga rasa nyaman pun muncul.
Betapa terkejutnya aku….!
Ketika angkot itu sampai di halte UI/Kober….seorang gadis (sangat mungkin dia mahasiswi karena penampilannya yang rapi, membawa tas dan buku) turun sambil menyodorkan uang sebagai ongkos. Gadis itu tidak hanya menyodorkan uangnya tapi seraya mengucapkan sesuatu: TERIMAKASIH..!! ya aku terkejut….sangat jarang aku menemui seorang penumpang menyebutkan kata itu kepada supir angkot.
Ini bisa jadi karena si supir telah menjalankan angkot sesuai dengan harapan hati si gadis itu (juga sesuai dengan keinginanku juga) atau karena memang sudah menjadi habit gadis itu untuk dengan ringan mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah membantu walau sekecil apapun. Ini menjadi pejaran yang sangat berharga bagiku…
Aku menyesal….!
Ketika aku sudah sampai ke tempat tujuanku, aku turun dan menyodorkan uang sebagai ongkos, aku tidak mengucapkan terima kasih kepada si supir…seperti gadis itu. Ternyata mengucapkan terima kasih itu tidak mudah…bahkan sulit bagi sebagian orang yang memang tidak terbiasa, seperti diriku….padahal seharusnya si supir angkot itu sangat pantas menerima ucapan terima kasih dari setiap penumpang.
Ya Allah … ringankan diriku untuk bisa berucap terima kasih kepada siapapun yang telah membantu.
Posted in Uncategorized | 3 Comments »
« Previous Entries